Penerjemah: Keiyuki
Proofreader: Rusma
Note: Li Yuan dan Peng Xiaoman adalah tokoh utama Wild Raspberry, novel kedua Ashitaka yang diterbitkan di Changpei (Four O’Clock Flower adalah yang pertama).
[SPOILER untuk Wild Raspberry] Dalam ekstra ini, Li Yuan adalah mahasiswa di Universitas Linan (tapi bukan di Humaniora) sementara Peng Xiaoman mendaftar di sana untuk pascasarjananya (di Humaniora). Peng Xiaoman membutuhkan penasihat akademis dan tampaknya ada asisten profesor yang baik dan sangat toleran terhadap mahasiswanya, yang mahasiswanya dapat belajar sambil lulus tanpa usaha ekstra, yang sangat populer setiap tahun…
(Kutipan 1)
Zheng Siqi juga tidak tahu tahun ajaran berapa ketenarannya mulai menyebar. Jelas terlihat bahwa dia hanyalah seorang asisten profesor, tapi begitu tolak ukur nasional dirilis, surel dari mahasiswa pascasarjana yang dia terima lebih banyak daripada dekan fakultas itu sendiri. Siapa yang membocorkan berita tentang ketampanan dan kebaikanku? Naikkan gajiku, oke? Tetaplah rendah hati. Sambil merenungkan masalah itu tanpa sedikit pun rasa malu, dia pasrah pada nasibnya dan bangun pagi-pagi sekali untuk membalas surel-surel itu. Jantungnya berdebar kencang dan napasnya tertahan, menggerakkan anggota tubuhnya dengan hati-hati, tidak ingin menganggu Qiao Fengtian dan membangunkannya. Tapi siapa yang tahu aliran seni bela diri apa yang dipraktikkan pria ini; saat ranjang Simmons berderit, ia langsung membuka matanya. Zheng Siqi tidak dapat menahan tawa dan berjalan kembali ke ranjang untuk menciumnya. “Aku curiga kamu sudah bangun sejak lama.”
Ada sisa saus zhajiang buatan sendiri di lemari es, cocok untuk membuat mie di pagi hari. Kacang panjang acar di balkon juga kebetulan diasinkan dengan sangat baik. Zheng Siqi duduk di meja bar, mengetik di papan tik-nya. Dia memilih siswa berdasarkan apakah dia merasa cocok pada pandangan pertama. Dia memiliki banyak kebiasaan buruk dan juga sadar diri, tapi meskipun benar bahwa dia bisa menutup mata dan bertahan, juga benar bahwa jika dia bertemu dengan seorang anak muda bodoh yang pandangan dunianya tidak selaras, selama tiga tahun dia harus membimbing mereka, siswa itu akan tidak bahagia dan Zheng Siqi sendiri akan merasa tidak nyaman. Itu akan mengurangi tahun-tahun dari kehidupan mereka berdua. Jika dia melihat seseorang yang dia rasa cocok, setelah membalas surel, dia juga akan menelepon mereka dan mengobrol sebentar dengan mereka. Dia kemudian akan memiliki sekitar tujuh puluh persen membaca tentang mereka. Mintalah pertemuan pribadi dan dia akan tahu keputusannya.
Zheng Siqi harus mengakui bahwa nama “Peng Xiaoman” ini lucu. Itu sederhana, mewujudkan musim dan menarik perhatian. Dia juga seorang anak laki-laki yang tampak lembut. Sekilas melihat hasil akademis sarjananya–tidak buruk; sekilas melihat nilai ujian masuk pascasarjananya–juga cukup bagus; sekilas melihat daftar penghargaan yang diraihnya–ada beberapa yang cukup berbobot; sekilas melihat teks utama surelnya–gayanya halus, ringkas, dan tegas tanpa kesan tidak sopan, lebih baik daripada esai panjang yang memuji penulisnya setinggi langit dan terjatuh kembali. Inilah yang disebut kedekatan pada pandangan pertama.
Zheng Siqi melirik jam dinding. Saat itu tidak terlalu pagi atau terlalu malam, jadi dia menyalin nomor telepon dan menelepon.
Jarang sekali penasihat akademik yang menelepon. Sembilan dari sepuluh mahasiswa akan merasa takut. Zheng Siqi berharap orang ini bukan salah satu dari mereka.
Panggilan itu baru tersambung setelah beberapa nada dering. Sebuah suara yang rendah dan serak, seperti baru bangun tidur, berkata, “Halo?”
“Ah, selamat pagi.” Zheng Siqi mengangkat kacamatanya dan tersenyum. Dia menggulirkan tetikus dan melihat resume Peng Xiaoman. “Aku Zheng Siqi dari Fakultas Humaniora Universitas Linan. Aku baru saja melihat surel yang kamu kirim kepadaku. Apakah tidak masalah bagi kita untuk berbicara sekarang?”
Li Yuan terkejut. Dia menyisir rambutnya dengan tangan dan duduk di tempat tidur, mencubit alisnya dan menjawab dengan sopan. “Maaf, Guru Zheng. Aku bukan dia. Mohon tunggu sebentar.”
Zheng Siqi juga terdiam. “Baiklah.”
Pagi-pagi sekali, siapa?
Seolah mengupas pisang, Li Yuan membuka selimut Peng Xiaoman yang sedang tidur, yang meringkuk di sampingnya seperti udang dan menghisap panas tubuhnya. Hatinya langsung melunak saat melihatnya. Li Yuan menjilat bibirnya, menjepit telepon di tulang selangkanya, dan membungkuk, mendekati Peng Xiaoman. Karena dia bangun pagi-pagi dan otaknya belum terhubung dan tidak banyak berpikir, dia merendahkan suaranya lebih jauh untuk membangunkannya, punggung tangannya menyentuh pipinya yang memerah. “Bangun, sayang.”
“Waktunya makan, orang sibuk.” Qiao Fengtian meletakkan cangkir dan piring di atas meja makan dan berjalan mengitarinya untuk mencapai meja bar. Tangannya mengait di bawah dagu Zheng Siqi. “Buka mulutmu dan biarkan aku melihat.”
Zheng Siqi dengan sangat patuh memiringkan kepalanya ke belakang dan membuka mulutnya, membiarkan Qiao Fengtian memeriksanya dengan cemberut seolah-olah dia sedang menjelajahi sebuah gua. Qiao Fengtian mendorong bibir bawah Zheng Siqi ke bawah untuk melihat frenulumnya dan menarik sudut mulutnya ke belakang untuk melihat lapisan dalam mulutnya. Setelah pemeriksaan yang cermat, dia masih mengerutkan kening. “Belum sembuh sama sekali. Masih sakit? Teruskan minum obatnya, jangan berpikir untuk melewatkan setiap dosis.”
“Sakit.” Zheng Siqi memiliki ekspresi sedih di wajahnya. Dia memeluk Qiao Fengtian dan merengek, sedih seperti dia berada di pemakaman, “Sakit sekali. Setiap kali aku terkena tukak, aku bahkan tidak ingin mengajar kelas. Bahkan berbicara saja sudah melelahkan.”
Sebuah tangan menyisir rambutnya dan membelai, membelai kulit kepalanya dengan lembut. Qiao Fengtian merasa geli. “Kamu seharusnya tidak mengajak Zao’er makan di tempat hotpot itu beberapa kali berturut-turut. Aku tidak percaya bos tidak memasukkan biji poppy ke dalam bahan dasarnya, jika tidak, aku akan mengambil marganya.”
“Mereka berdua sangat menginginkannya dan memohon padaku. Bagaimana mungkin aku tidak berani membawa mereka ke sana? Kalau tidak, mereka akan datang menangis kepadamu dan kamu akan memarahiku.” Zheng Siqi mengancam, “Dan juga, dalam kehidupan ini, jika margamu bukan Qiao, maka hanya Zheng yang boleh. Jangan pernah bermimpi mengambil marga bos, aku akan menghajarnya.”
Qiao Fengtian tertawa. “Kamu punya masalah.”
“Sayang.”
Setelah sekian lama saling mencintai, mereka tidak lagi saling mesra. Sudah lama sejak istilah sayang yang melekat dan sentimental ini digunakan. Sebuah jari menusuk bagian hati Qiao Fengtian itu, tanpa peringatan apa pun, dan dia merasakan kesemutan dan mati rasa. Tangan Qiao Fengtian meluncur ke tengkuk Zheng Siqi dan mencubitnya. Dia mengangkat alisnya, “Tiba-tiba menggoda, mau sesuatu?”
“Tidak, hanya berpikir bahwa aku harus lebih sering memanggilmu ‘sayang’. Rasanya menyenangkan.” Zheng Siqi mendongak, memfokuskan matanya padanya dan tersenyum. “Ayo makan. Aku akan mengambil acar kacang panjang.”
(Kutipan 2)
“Kesan pertama?” Qiao Fengtian memeras handuk.
“Bagus sekali. Dia tidak terlalu tegang atau terlalu santai. Saat kami belum saling mengenal dengan baik, dia menahan diri. Setelah kami mengobrol dan saling mengenal, aku dapat melihat bahwa dia memiliki ide-idenya sendiri. Dia memiliki dasar yang sangat kuat dalam sastra tapi dia sebenarnya seorang pelawak dan lucu. Dia mudah menertawakan segalanya.” Zheng Siqi bersandar di kursi putar, melipat celemek setengah Qiao Fengtian dan membantunya mengatur gunting, menunggunya selesai menyapu ujung-ujung rambut yang terpotong di lantai dan menunggu Du Dong berganti giliran bersamanya. “Anak yang sangat imut. Setelah ujian putaran kedua, aku berencana untuk membawanya.”
“Imut?” Qiao Fengtian mendongak dan menatapnya, geli.
“Tidak seimut kamu.”
Qiao Fengtian berkata dengan pasrah, “Bukan itu yang kumaksud. Jangan terlalu putus asa untuk bertahan hidup.”
“Tapi kamu imut.” Zheng Siqi melirik ke pintu, lalu menarik Qiao Fengtian ke dalam pelukannya. “Lucu sekali, kamu bisa mengakhiri hidupku.”
“Aku tidak berani mengakhiri hidupmu.” Qiao Fengtian mengecup bibirnya, lalu bersandar padanya beberapa saat. “Kamu adalah hidupku, oke?”
Musim dingin di Linan, kelembapannya tinggi, rasa manisnya juga tinggi. Angin dari utara bertiup kencang; berdiri terlalu lama di sana bisa membuat orang mabuk.
-Tamat-
Anak ayam memiliki sesuatu untuk dikatakan:
Keiyuki: Kembali lagi dengan Keiyuki.. halo haloo.. akhirnya Four O’Clock Flower selesai, kek mau mati ngetlnya weyy, panjang sangatt🤣 kirain karena jumlah ch-nya dibawah 40 bakal cepet kelar ternyata jumlah wordnya mematikan, sehari 1 ch itu gak akan kelar jadi butuh beberapa hari buat nerjemahin 1 ch, mantap bukan🤣 Makasih juga buat Kak Meowzai, ada gila-gilanya rekomendasi kakak, tertipu aku.. tapi walau jumlah wordnya sangat tidak ngotak dan hampir membuat gila, ceritanya bagus bangett, masuk top 3 dari judul-judul yang pernah aku terjemahin, jadi semoga readers Hiyoko juga suka ya.. Terlebih lagi semua karakter-karakternya juga dapet proporsi cerita mereka sendiri, dan yakk CP kita bisa bahagia setelah banyak hal-hal memalukan dan menyedihkan terlaluii.. buat yang suka duda juga bisa berkumpul, apalagi dah punya anak🤣 sekali lagi makasih semuanya udah mau baca FOF yang 1 ch aja bacanya bisa 1 jam lebih, wkwkwk.. baibai, dan tunggu judul baru yang akan kuterjemahkan nantii..
Rusma: Hai ini Meowzai, akhirnya terjemahan yang bikin aku stres setiap ngedit selesai juga hahahaha jujur aja kemarin ambil judul ini karena yepss babnya hanya 30-an sekian tapi ternyata wordnya mematikan ( ;´ – `;) aku yang cuma edit aja sampe siwer dan mual gimana Keiyuki yang teelin wkwk mana ceritanya kadang bikin kesel, bikin malu, emosi, sedih dan bahagia jadi satu, makin akhir gulanya makin banyak, gigiku sampe sakit. Kalau bukan karena plotnya bagus mungkin aku sudah minta drop aja. Semakin di baca semakin suka, mungkin 70-80% ceritanya realistis seperti dunia nyata gak sih untuk orang-orang homoseksualitas dan lavender marriage?
Btw, kalian tahu tidak Bai Changyi dari danmei Your Distance? Nah dia adalah tipe idealku di dunia nyata hahahaha tapi setelah baca Four O’Clock Flower ini, tipe idealku pindah haluan ke duda anak satu, aku obsesi banget sama duda (๑>•̀๑) jadi jangan tanya lagi karakter kesukaanku siapa karena jelas itu Zheng Siqi dan kedua adalah Du Dong si kepala botak tapi hati Hello Kitty, love sekebon.
Wow panjang juga ocehanku wkwkwk yang jelasnya aku suka banget novel Four O’Clock Flower ini, terima kasih Keiyuki atas kerja kerasnya dan sudah mau terjemahkan sampai titik darah penghabisan, love love banget. Terima kasih juga teman-teman Hiyoko sudah baca terjemahan ini dan sampai jumpa di projek selanjutnya yaaa ₍₍⚞(˶˃ ꒳ ˂˶)⚟⁾⁾

thank you rusma jiejie yang sudah merekomendasikan cerita ini. walaupun bacanya juga sampe mau mampus. tapi tak pee. semua terbayarkan setelah melihat bebeb siqi hahaha.
terima kasih untuk jiejie jiejie yang sudah berkerja keras untuk men-tl novel ini. sayang kalian semuaa muahh muahh lovee sekebon untuk kalian wkwkwk
Wahh ada gilanya ni novel, awal-awal agak ragu mau lanjut tapi setelah beberapa chapter malah kecanduan:”
Btw duda memang menggoda ya kak╮(. ❛ ᴗ ❛.)╭
Thankyouu Keiyuki dan Rusma jie yg udah translate novel ini( ◜‿◝ )♡
gw bener2 ngelarin buku ini 3 hari doang. buset rasanya kayak ditonjok kiri kanan depan belakang. jadi tau kalo segala kesulitan dan ketidakadilan yg diterima fengtian tuh CUMA UNTUK dapetin siqi di akhir. i think they speak a lot about what love is. when you love someone, you’ll give yourself. the way siqi loves fengtian is simple, yet endearing. kadang kita lupa kalau mencintai tuh cuma soal satu jiwa yang rela melakukan apapun demi jiwa lain. i love how the author portrayed their dynamic and the way they love each other. rasanya ga berlebihan, ngalir, sejuk, dan ga maksa. if only zheng siqi is a real person, i want hik to keep loving fengtian and being his husband even in another lifetime. thank you buat kak kei dan kak rusma yang udah menyampaikan cinta mereka secantik dan sesederhana ini. semoga kebaikan selalu mengelilingi kalian berdua <3