Penerjemah: Keiyuki
Proofreader: Rusma
1.
Saat tersibuk di bank adalah dari bulan Januari hingga April, selama periode “pembukaan tahun yang gemilang” setiap tahunnya. Pada masa ini, pekerjaan begitu padat hingga membuat orang merasa kewalahan dan sulit keluar dari tumpukan pekerjaan.
Ketika Xia Yiyang akhirnya mengangkat kepalanya dari tumpukan kontrak, dia bahkan tidak tahu sudah pukul berapa sekarang. Secara refleks, dia mengambil ponselnya untuk mengecek pesan dan baru teringat bahwa Shen Luo saat ini sedang melakukan pemeriksaan di cabang Wujiang. Pasti keadaannya tidak jauh berbeda darinya—sama-sama sibuk.
Cai Cai masuk dengan wajah lelah tanpa semangat sambil membawa kontrak untuk diberi label. Xia Yiyang bertanya padanya, “Apakah masih banyak orang di luar?”
Dengan lemas, Cai Cai menjawab, “Sudah setengahnya pulang. Kamu juga ingin pulang?”
Xia Yiyang berpikir sejenak lalu berkata, “Ayo kita pulang bersama. Jangan lanjutkan lagi, kita bereskan besok saja.”
Cai Cai mengangguk. Saat mereka bersiap untuk turun ke lantai bawah, mereka bertemu dengan Chen Hui yang baru keluar dari lift.
Ketiga orang itu menunjukkan wajah lelah dan lesu, seolah dunia ini tidak lagi memiliki harapan…
Chen Hui bahkan sudah kehabisan tenaga untuk berteriak seperti biasanya. “Kalian mau pulang?”
Xia Yiyang mengangguk. “Kenapa kamu juga baru turun sekarang?”
Chen Hui memandangnya dengan wajah letih. “Orang-orang di kantor pusat cabang berbuat ulah lagi, ada proyek baru yang diperdebatkan setengah hari tadi.”
Xia Yiyang menghela napas. “Kali ini apa? Apakah ada target baru lagi?”
Chen Hui menjawab dengan lesu, “Kredit tanpa agunan dalam jumlah kecil, maksimal 300 ribu.”
“…” Xia Yiyang memegangi kepalanya, merasa pusing. “Kredit semacam ini, jaminan rendah, limitnya juga tidak seberapa. Siapa yang coba mereka tipu?”
Chen Hui dengan wajah masam berkata, “Siapa lagi? Tentu saja kita.”
Xia Yiyang memutar mata, benar-benar merasa betapa susahnya mencari uang di zaman sekarang.
Setelah pulang dan mandi, jam sudah lewat pukul 11 malam. Sebelum naik ke tempat tidur, Xia Yiyang mengirim pesan ke Shen Luo. Balasan datang dengan cepat, [Sudah sampai rumah?]
Salah satu keuntungan memiliki pasangan yang kerja di bidang yang sama adalah mereka saling memahami betapa sibuknya satu sama lain. Mereka tahu kapan sedang sibuk, jadi tidak akan saling mengganggu atau merasa diabaikan.
Mendengar suara Shen Luo, Xia Yiyang langsung tersenyum, merasa ada kehangatan yang memenuhi hatinya. Dia membalas dengan [Hmm] lalu mengetik, [Apakah kamu sudah sampai di hotel?]
Shen Luo langsung mengirim beberapa foto.
Xia Yiyang tertegun sejenak. [Wah, tempat kalian cukup bagus juga.]
Shen Luo membalas, [Bagaimanapun juga, kami diawasi oleh Komisi Regulasi Perbankan.]
Xia Yiyang tertawa terbahak-bahak. Mereka lanjut mengobrol tentang pekerjaan, lalu tiba-tiba Shen Luo berkata, [Kirim juga fotomu.]
Xia Yiyang merasa geli. [Aku sedang berada di rumah, tidak ada yang menarik untuk difoto.]
Shen Luo membalas, [Kalau begitu, ayo kita lakukan panggilan video.]
Xia Yiyang berpikir sejenak, lalu merasa melakukam panggilan video juga tidak masalah. Dia bahkan sempat ke kamar mandi untuk merapikan rambutnya sebelum akhirnya mengirim undangan panggilan video.
Begitu Shen Luo mengangkatnya, Xia Yiyang baru sadar jika Shen Luo baru saja selesai mandi.
Sejak pulang ke Tiongkok dua tahun lalu, Shen Luo belum pernah potong rambut. Kini rambutnya sudah cukup panjang, dan Xia Yiyang baru sadar kalau rambut Shen Luo ternyata agak bergelombang alami. Biasanya hal itu tidak terlihat karena Shen Luo selalu menggunakan gel untuk merapikan rambutnya ke belakang.
Shen Luo belum mengeringkan rambutnya, poni bergelombangnya terbelah ke dua sisi menempel di dahinya. Dia duduk bersila di atas tempat tidur dan tersenyum ke arah Xia Yiyang.
“Kamu sudah berganti baju tidur?” tanyanya pada Xia Yiyang.
Xia Yiyang menunduk melihat dirinya. Piyama warna sampanye yang biasa ia pakai sudah usang, jadi bulan lalu Shen Luo membelikannya piyama baru berwarna putih polos. Masih berbahan satin, tapi jauh lebih tipis, sampai-sampai sedikit tembus pandang saat dipakai.
Shen Luo berkomentar, “Kelihatan bagus.”
Xia Yiyang membalas dengan nada ganda, “Kamu juga kelihatan bagus.”
Shen Luo tertawa lagi. Tatapannya pada Xia Yiyang seolah dipenuhi kehangatan yang lembut, manis, dan penuh rasa sayang.
Meski tidak banyak bicara, Xia Yiyang enggan menutup panggilan video. Akhirnya Shen Luo yang lebih dulu mengingatkan, “Sudah malam, ayo tidur.”
Xia Yiyang pun mengucapkan “Selamat malam” dengan enggan.
Setelah masuk ke dalam selimut, Xia Yiyang masih sempat membuka Instagram dan melihat Shen Luo baru saja mengunggah tangkapan layar dari panggilan video mereka tadi.
Tentu saja wajah mereka sudah diberi efek mozaik.
Xia Yiyang tersenyum sambil memeluk ponselnya, lalu menekan tombol hati di bawah foto itu untuk memberi tanda suka.
Sejak setahun lalu, Xia Yiyang mulai berani memberi “like” pada unggahan Shen Luo. Apalagi akun Instagram Shen Luo semakin populer, dengan jumlah suka yang terus bertambah. Di antara ribuan like itu, miliknya pun nyaris tidak terlihat dan mudah diabaikan.
Jadi, saat Xia Yiyang baru saja memberi like dan bersiap tidur, tiba-tiba sistem mengirimkan notifikasi, membuatnya hampir melempar ponselnya karena kaget.
Di Instagram, Xia Yiyang menggunakan akun privat. Jadi, setiap ada yang ingin mengikutinya, sistem akan mengirim notifikasi agar dia bisa memutuskan untuk menerima atau menolak permintaan tersebut.
Kali ini, permintaan mengikuti itu datang dari Shen Luo.
Saat pertama kali membuat akun Instagram ini, Xia Yiyang sama sekali tidak serius. Ia menggunakan foto profil domba menjulurkan lidah, dan memberi nama akunnya “Mie…”. Jadi, dia benar-benar tidak mengerti kenapa Shen Luo bisa menemukan akunnya dan bahkan mengirimkan permintaan pertemanan.
Logikanya, Xia Yiyang hanya diam-diam memberikan like saja. Bagaimana mungkin Shen Luo sehebat itu sampai bisa tahu siapa dirinya hanya dari sebuah tombol hati?
Lagipula, berdasarkan selera Shen Luo selama ini, akun-akun yang dia ikuti kebanyakan bertema seni atau teman-temannya di Amerika. Sedangkan tentang mantan pacar atau mantan-mantan lainnya yang dicurigai Xia Yiyang, Shen Luo memang mengikutinya, tapi sama sekali tidak pernah berinteraksi.
Jadi, begitu menerima permintaan pertemanan itu, Xia Yiyang langsung menolaknya tanpa ragu.
Namun setelah menolak, dia malah menjadi galau sendiri, merasa tindakannya itu malah jadi mencurigakan, seperti pepatah “semakin ditutupi, semakin terlihat.”
Akibatnya, malam itu Xia Yiyang sulit tidur, gelisah memikirkan hal tersebut. Esok paginya, dia pun pergi kerja dengan mata panda besar menghiasi wajahnya.
Cai Cai melihatnya dan terkejut, “Apakah kamu tidak tidur semalaman?”
Xia Yiyang menghela napas, “Hampir.”
Cai Cai berkata, “Kamu masih dua tahun lagi menuju umur 40. Berhati-hatilah dengan krisis paruh baya, jaga kesehatanmu.”
“…” Xia Yiyang mengerutkan kening, “Bisakah kamu mengatakan sesuatu yang bagus?”
Sepanjang pagi dia sibuk tanpa henti memproses pinjaman, memeriksa kontrak, dan mengejar bagian risk control. Saat akhirnya punya waktu istirahat makan siang, Xia Yiyang duduk di ruang teh sambil minum, lalu mengaktifkan VPN untuk membuka Instagram dan melihat update terbaru.
Meski Shen Luo tidak lagi mengirim permintaan pertemanan, Xia Yiyang masih merasa tidak nyaman.
Perasaan itu mirip seperti ingin tetap tersembunyi tapi diam-diam berharap Shen Luo bisa merasakannya dan menemukan dirinya di tengah keramaian dunia maya.
— Tapi kalau dipikir-pikir, setelah bertahun-tahun diam-diam mengawasi Shen Luo, kalau dia sampai tahu… bukankah itu terdengar agak menyeramkan?
Terlebih ia sering diam-diam mengawasi mantan-mantan pacar Shen Luo…
Xia Yiyang menutup mulutnya, merasa wajahnya makin kusut saat memikirkannya.
Dia berencana log out dari Instagram agar tidak semakin terganggu, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Panik, Xia Yiyang menekan tombol speaker. Suara Shen Luo langsung terdengar jelas dari ponsel.
“Apakah kamu sudah makan?” tanya Shen Luo.
Xia Yiyang berdeham, “Baru saja makan.”
Shen Luo bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?”
Xia Yiyang menjawab, “Duduk minum teh.”
Shen Luo tertawa, “Apakah tehnya enak?”
“…” Xia Yiyang merasa obrolan ini benar-benar tidak bermutu.
Setelah mematikan speaker, Xia Yiyang merasa lebih santai. Mereka mengobrol tentang pekerjaan pagi itu, lalu Shen Luo tiba-tiba teringat sesuatu dan berkata, “Aku membeli kursi Herman Miller.”
Xia Yiyang agak terkejut, “Kenapa tiba-tiba membeli kursi?”
“Bukankah kamu akhir-akhir ini sering membawa pekerjaan pulang saat musim pembukaan target penjualan,” jelas Shen Luo. “Kalau duduk lama di depan komputer membutuhkan kursi yang bagus, agar pinggangmu tidak terkena masalah.”
Xia Yiyang merasa canggung, “Aku tidak selemah itu.”
Shen Luo terdiam sebentar, lalu berkata santai, “Terakhir kali kita bercinta, kamu sudah mengeluh bahwa pinggangmu sakit sebelum ejakulasi.”
Xia Yiyang: “…”
Shen Luo menggoda, “Apakah kamu teringat?”
Xia Yiyang menjawab dengan kesal, “Tentu saja tidak!”
Shen Luo tertawa pelan, “Aku pulang Jumat ini. Nanti aku akan menjemputmu, aku yang menyetir.”
Xia Yiyang menghela napas lega, merasa senang karena kekasihnya akan segera pulang. “Kali ini cukup cepat.”
“Hmm,” jawab Shen Luo, lalu tiba-tiba bertanya, “Apakah kamu merindukanku?”
Xia Yiyang melirik ke luar memastikan tidak ada orang, lalu menunduk dan berbisik ke mic, “Iya, aku merindukanmu.”
Di seberang sana, Shen Luo langsung tertawa.
“Kenapa kamu lucu sekali,” ujarnya sambil tertawa. “Semakin tua semakin menggemaskan.”
2.
Kursi yang dibeli Shen Luo dikirim lewat FedEx, dibungkus dalam peti kayu besar. Meski ada lift, Xia Yiyang tetap hampir mematahkan pinggangnya saat mengangkat kotak itu masuk dan keluar lift.
Membuka peti kayunya juga bukan hal mudah. Saat Xia Yiyang sedang sibuk membongkar kotak, tiba-tiba muncul undangan panggilan video dari Shen Luo.
Shen Luo muncul di layar dan langsung melihat Xia Yiyang sedang memegang palu.
“Sudah dibuka?” tanya Shen Luo.
Xia Yiyang masih sibuk membongkar sambil menjawab, “Masih berjuang.”
“Jangan lupa membaca buku panduan saat kamu memasang kursinya,” kata Shen Luo.
Xia Yiyang tertawa, “Seberapa rumit kursi yang kamu beli?”
“Lumayan rumit,” jawab Shen Luo sambil mengarahkan, “Coba fotokan tampilan keseluruhan, biar aku lihat.”
“…” Xia Yiyang berpikir, Aku juga tidak mengerti bagaimana sudut tampilan penuh itu, tapi tetap memutar kamera ponselnya untuk menunjukkan keseluruhan isi kotak kepada Shen Luo.
Shen Luo, yang sudah terbiasa menadi pemimpin dalam dua tahun terakhir, melihat-lihat lalu memberi semangat, “Lumayan, teruskan saja.”
Xia Yiyang tidak tahan dan membalas, “Terima kasih banyak, Direktur Shen!”
Setelah menutup panggilan video, Xia Yiyang melanjutkan membongkar peti kayu. Begitu akhirnya melihat kursinya, dia langsung paham kenapa Shen Luo mengatakan harus membaca buku panduan.
Xia Yiyang berdiri sambil bertolak pinggang menatap kursi itu sejenak, lalu memutuskan memindahkannya ke ruang kerja. Tapi saat melewati pintu, dia salah mengukur jarak, dan kaki kursi menabrak lemari di dekat dinding. Karena punggung kursi menutupi pandangannya, dia baru sadar setelah terdengar suara benturan keras—dan saat itu sudah terlambat.
“…” Xia Yiyang menatap lemari yang tergeletak di lantai, menghela napas panjang sambil menatap langit-langit, wajahnya penuh keputusasaan. Ia meletakkan kursi ke samping dan mulai mengangkat lemari itu. Saat itulah ia menyadari kunci lemari ternyata patah akibat benturan.
Baru kemudian Xia Yiyang ingat bahwa lemari ini adalah tempat Shen Luo menyimpan foto-foto. Karena kuncinya rusak, banyak foto yang berserakan di lantai. Xia Yiyang pun berhenti memindahkan kursi dan mulai membereskan foto-foto itu terlebih dahulu. Terlebih, di antara tumpukan itu ada cukup banyak foto telanjang yang terpampang jelas di lantai, membuat wajahnya memerah saat melihatnya.
Selama dua tahun ini, semangat Shen Luo untuk memotret Xia Yiyang tanpa busana sama sekali tidak berkurang. Awalnya Xia Yiyang mengira itu hanya minat sementara, dan seiring waktu Shen Luo pasti akan bosan. Namun kenyataannya, setelah sekian lama, Shen Luo masih menikmati hal itu tanpa sedikit pun kehilangan antusiasme.
Xia Yiyang bahkan punya satu set foto telanjang artistik yang diambil bersama bunga-bunga yang dibeli Shen Luo. Saat itu, di suatu sore akhir pekan, Shen Luo mengganti tirai jendela dengan kain tipis yang tetap membiarkan cahaya masuk tapi menjaga privasi. Ia lalu meminta Xia Yiyang memegang berbagai macam bunga sambil mengarahkan pose yang diinginkannya.
Totalnya hanya ada belasan foto, tapi semuanya dicetak oleh Shen Luo dan dimasukkan ke dalam bingkai foto. Salah satu fotonya bahkan dicetak besar dan digantung di dinding ruang kerja — tentu saja itu adalah foto yang paling “aman” untuk dilihat orang lain.
Namun, setiap kali Xia Yiyang melihat foto itu, ia tetap merasa sangat malu.
Dalam foto tersebut, ia terlihat berpose setengah jongkok di atas sofa, memegang setangkai mawar di tangannya. Ia menoleh ke arah kamera, menggigit kelopak bunga sambil menatap lensa dengan tatapan lembut.
Shen Luo mencetak foto itu dalam warna hitam-putih.
Saat membereskan foto-foto telanjang lainnya, wajah Xia Yiyang semakin memerah setiap kali melihat satu foto. Sebenarnya, ia tidak terlalu malu dengan tubuh telanjangnya di foto itu — yang membuatnya gelisah adalah sosok di balik kamera.
Shen Luo sendiri adalah tipe orang yang pendiam dan tenang. Ia jarang banyak bicara dan lebih suka bertindak daripada menjelaskan sesuatu, apalagi di usia mereka yang sudah dewasa. Dalam keseharian, baik saat berbicara, makan bersama, atau bahkan saat di ranjang, hubungan mereka tidak lagi dipenuhi hal-hal yang menggebu-gebu.
Namun, ada satu pengecualian — saat Shen Luo memotret dirinya.
Meski bukan fotografer profesional, Xia Yiyang bisa merasakan emosi dalam setiap bidikan Shen Luo. Ada rasa mendalam yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata.
Perasaan berat, tapi penuh cinta.
Setiap emosi itu terekam jelas dan membekas di hati Xia Yiyang.
Setelah selesai membereskan foto, Xia Yiyang memasukkannya kembali ke dalam lemari. Saat hendak menutupnya, matanya tertuju ke rak bagian bawah di mana ada beberapa amplop cokelat yang terbuka. Ia penasaran dan mengambil beberapa isinya, ternyata isinya juga foto-foto.
Namun, ada yang berbeda — beberapa foto terlihat aneh, dengan sudut pengambilan yang tidak biasa. Ada yang kabur, dan sebagian tampak seperti hasil jepretan gagal.
“!” Xia Yiyang tiba-tiba menggenggam erat sebuah foto, mendekatkannya begitu dekat hingga hampir menempel ke wajahnya.
Ia menatap foto itu lama sekali, baru akhirnya yakin bahwa wanita yang berjalan di samping dirinya dalam foto itu adalah salah satu pasangan kencan buta dari tahun 2013 atau 2014…
Xia Yiyang: “…”
Ia segera mengambil semua amplop cokelat itu dan menghitungnya — total ada sembilan amplop.
Dari tahun 2008 hingga 2016.
Xia Yiyang merasa seolah-olah ada pusaran raksasa muncul di dalam otaknya, seperti arus besar di Samudra Pasifik yang membawa ikan-ikan dan ombak putih, lalu perlahan muncul sebuah pulau hijau dari dalam laut, disinari cahaya matahari keemasan, penuh bunga bermekaran.
Ia menutup mulutnya, terdiam lama dengan pikiran yang melayang terlalu jauh, membayangkan semua itu dengan sangat jelas. Setelah lama tenggelam dalam pikirannya, ia akhirnya berhenti, lalu memotret tumpukan foto itu dan mengirimkannya ke Shen Luo.
Namun, Shen Luo tidak langsung membalas.
Xia Yiyang kemudian mengirim pesan lagi, [Apa ini?]
Masih tidak ada balasan.
Ia pun melanjutkan dengan mengetik sembilan kotak teks seolah-olah menyusun teka-teki, [Kamu memotretku diam-diam selama ini, kenapa tidak mengatakannya?]
Di atas layar, status berubah menjadi “sedang mengetik”, tapi Xia Yiyang menunggu cukup lama tanpa menerima satu kata pun.
Dalam waktu singkat, Xia Yiyang sudah membolak-balik semua foto itu. Hatinya terasa hangat hingga hampir meleleh — campuran antara haru dan manis yang membuat dadanya sesak. Akhirnya, ia tidak tahan lagi dan mengirim pesan ke Shen Luo.
“Kamu benar-benar lucu,” kata Xia Yiyang.
Tidak lama kemudian, Shen Luo membalas, “Kamu lebih lucu.”
Shen Luo lalu mengirim undangan panggilan video. Saat tersambung, ia bertanya, “Apakah kursinya sudah selesai dirakit?”
Xia Yiyang memperhatikan layar sebentar dan menyadari telinga Shen Luo tampak sedikit merah, tapi ia memilih untuk tidak mengomentarinya. “Sudah. Tapi ketika aku membawanya masuk ke kamar, kursinya menabrak lemarimu.”
“Hmm,” sahut Shen Luo santai tanpa menyinggung soal foto. “Ganti saja kuncinya, tidak masalah.”
Xia Yiyang tertawa lama, sementara Shen Luo hanya diam saja di seberang.
Setelah puas tertawa, Xia Yiyang bertanya, “Apakah mahal untuk menyewa seseorang untuk mengambil foto?”
Shen Luo menjawab tenang, “Tidak terlalu. Mereka orang baik dan tidak banyak menaikkan harga dalam delapan tahun terakhir.”
“…” Xia Yiyang terdiam sejenak. “Bagaimana bisa kamu berbicara setenang itu?”
Shen Luo tertawa kekanak-kanakan, “Kalau tentang dirimu, aku memang selalu seperti ini.”
Malamnya, sebelum tidur, Xia Yiyang kembali masuk ke akun Instagram-nya. Tidak lama kemudian, sistem mengirimkan notifikasi permintaan pertemanan dari Shen Luo.
Xia Yiyang meringkuk di bawah selimut, menggigit jarinya sebentar, lalu akhirnya menekan tombol setuju.
Akun Instagram-nya benar-benar bersih, tanpa foto atau informasi yang bisa mengungkapkan identitasnya. Setelah berpikir sejenak, ia memotret tangannya yang membentuk simbol hati dan mengunggahnya sebagai postingan pertamanya.
Tidak lama kemudian, Shen Luo langsung memberikan like.
Lalu muncul komentar di bawahnya.
“Aku mencintaimu. Lick lick.”
Xia Yiyang langsung menutupi wajahnya dengan selimut dan menggulingkan badan, wajahnya merah padam. Malam itu pun dia kembali sulit tidur.
3.
Keesokan harinya saat bekerja, Xia Yiyang masih memikirkan soal foto-foto tersembunyi yang ditemukan kemarin. Saat jam istirahat siang, ia mengirim pesan ke Shen Luo, [Apakah sampai sekarang kamu masih menyuruh orang untuk mengikutiku?]
Shen Luo langsung membalas, [Aku sudah kembali, untuk apa masih menyuruh orang lagi?]
Xia Yiyang merasa jawaban itu masuk akal dan mengusap dahinya, merasa dirinya baru saja mengajukan pertanyaan paling bodoh.
Setelah beberapa saat, Shen Luo malah bertanya, [Sejak kapan kamu mengikuti akun Instagram-ku?]
Xia Yiyang dengan bangga mengetik balasan, [Tidak akan kuberitahu.]
Setelah berpikir sebentar, dia menambahkan, [Sejak kapan kamu tahu bahwa itu adalah akunku?]
Shen Luo membalas, [Kita sudah tinggal bersama selama dua tahun, juga memakai komputer yang sama selama itu. Aku jelas mengetahui kamu menggunakan VPN atau tidak.]
Xia Yiyang membalas dengan serangkaian titik-titik.
Shen Luo menambahkan, [Tapi ternyata kamu juga penakut, menyukai postinganku dengan setengah-setengah.]
Xia Yiyang merasa malu, [Menyukai postingan dengan foto diri sendiri itu terlalu narsis.]
Shen Luo tidak membalas dengan kata-kata, malah mengirim gambar Pikachu yang tertawa terpingkal-pingkal di lantai.
Sore di hari Jumat, Shen Luo datang ke kantor bank lebih awal dari jadwal. Tapi Xia Yiyang masih sibuk mengoreksi tumpukan berkas kontrak, jadi tidakk sempat menyapanya. Shen Luo pun duduk di area lounge, menunggu dengan tenang. Tak lama kemudian, Cai Cai masuk dan membawakan secangkir teh untuknya.
“Terima kasih,” kata Shen Luo.
Cai Cai memperhatikan pria itu. Meski usianya sudah 38 tahun, Shen Luo tetap terlihat tampan. Apalagi sekarang rambutnya agak panjang, membuatnya tidak tampak seperti pekerja di dunia finansial, melainkan lebih mirip penyair pengembara yang seksi dan penuh aura melankolis.
Cai Cai tidak bisa menahan diri untuk mengobrol, “Hubunganmu dengan Tuan Xia sangat baik. Apakah kalian masih tinggal di kompleks yang sama?'”
Shen Luo tersenyum sambil mengangguk, “Iya.”
Cai Cai melanjutkan, “Akhir tahun lalu, Tuan Xia sempat membeli rumah di Dongshan, bukan?”
“Mm.” Shen Luo menyesap tehnya. “Untuk masa pensiun nanti.”
Cai Cai tidak tahan untuk berkomentar, “Tapi kalian masih begitu muda, mengapa sudah memikirkan hal sejauh itu?”
Shen Luo mengangkat alis, sepertinya tampak senang mendengar bahwa dirinya disebut “masih muda”, lalu tertawa puas.
Xia Yiyang baru selesai bekerja pukul 10 malam. Walaupun sempat dipaksa Shen Luo untuk makan malam bersama, begitu sampai di rumah mereka tetap memutuskan untuk makan camilan tengah malam.
Setelah makan, Xia Yiyang tidak merasa mengantuk. Ia duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Tapi tak lama kemudian, pandangannya mulai mengalir ke arah Shen Luo tanpa disadari.
Tidak tahu sudah berapa lama dia menatap, Shen Luo yang sedang sibuk pun tersenyum tanpa mengangkat kepala dan bertanya, “Kamu ingin menatapku sampai kapan?”
Xia Yiyang terkejut, buru-buru berpura-pura membalik halaman koran untuk menutupi rasa malunya.
Karena kejadian seperti ini sering terjadi, Shen Luo lama-lama malas membongkar kepura-puraannya. Tatapan Xia Yiyang selalu terasa lengket dan hangat, sama seperti bertahun-tahun lalu.
Tatapan itu tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata. Cukup melihatnya saja sudah bisa merasakan—ada cinta, ada sayang, semuanya tertuang di dalamnya.
Shen Luo mengangkat kepala untuk terakhir kalinya, tampak sedikit tidak berdaya tapi juga tidak tahan lagi. Ia mengulurkan tangan ke arah Xia Yiyang sambil tersenyum, “Kemarilah, Kecilku.”
Dia berkata, “Peluk aku sebentar.”
4.
Hari kerja yang dimulai dengan baik tentu tidak selalu bisa bertahan sampai akhir. Shen Luo memeluk Xia Yiyang cukup lama, menciuminya berkali-kali tanpa ada gerakan lebih lanjut. Ia lalu mengangkat tangannya, jemarinya menyisir pelan rambut di pelipis Xia Yiyang sambil bergumam, “Apakah kamu habis potong rambut lagi?”
Xia Yiyang menarik lembut rambut Shen Luo, “Sudah waktunya juga kamu potong rambut.”
Shen Luo menjawab santai, “Besok saja.”
Xia Yiyang menatapnya sejenak, lalu menghela napas, “Tapi seperti ini bagus juga, agak disayangkan untuk dipotong.”
Shen Luo langsung menimpali, “Kalau begitu tidak perlu dipotong.”
Xia Yiyang tertawa, “Tapi kamu sendiri ingin memotongnya atau tidak?”
Shen Luo mengangguk, “Perusahaan juga tidak mengizinkan memanjangkan rambut, jadi aku akan memotongnya besok.”
Xia Yiyang setuju, dan mereka pun kembali berbincang santai sambil berpelukan. Karena sekarang semua sudah terbuka di antara mereka, Xia Yiyang pun tidak lagi menyembunyikan apapun saat bermain Instagram malam itu.
Setelah beberapa saat menggulir ponselnya, Xia Yiyang menyadari Shen Luo sedang memperhatikannya. Ia pun penasaran dan bertanya, “Sebenarnya, bagaimana kamu bisa tahu bahwa itu adalah akunku?”
Shen Luo berkata, “Setiap malam kamu duduk di sebelahku sambil menggulirkan layar, aku tinggal mengintipnya saja sudah kelihatan. Hanya saja aku perlu berusaha lebih untuk menemukannya.”
Xia Yiyang bertanya, “Lalu, bagaimana kamu menemukannya?”
Shen Luo menjawab, “Aku buka satu per satu semua ID asing yang muncul, bahkan Aku mengirim permintaan mengikuti kepada semua akun yang dikunci.”
Wajah Shen Luo tampak sedikit kesal, “Aku orang terkenal, tapi kamu malah jadi satu-satunya yang tidak menerima permintaanku pertama kali.”
Xia Yiyang hanya bisa terdiam, “…”
Menjelang tidur, Shen Luo masih penasaran dan terus membujuk Xia Yiyang, “Ayolah, katakan kapan kamu mulai mengikutiku?”
Xia Yiyang berusaha mengalihkan, “Sudah lama dan aku lupa. Apakah sepenting itu?”
Shen Luo bertanya lagi, “Lalu kamu mengikuti siapa aja?”
Mendengar ini, Xia Yiyang malah cemberut, “Mantan pacarmu, mantan mantan pacarmu, dan mantan mantan mantan pacarmu.”
Shen Luo tertawa, “Bagaimana bisa aku punya mantan sebanyak itu? Kamu mendengarnya dari mana?”
Xia Yiyang masih tampak curiga, “Kalian saling mengikuti.”
Shen Luo berpikir sejenak lalu mengerti. Ia hanya bisa tertawa geli, merasa gemas sekaligus terharu. Sikap Xia Yiyang yang diam-diam cemburu tapi tidak mau mengakuinya benar-benar membuatnya senang sekaligus merasa hangat di hati.
“Kenapa kamu tidak bertanya langsung kepadaku?” tanya Shen Luo.
Xia Yiyang berpikir sejenak sebelum menjawab serius, “Aku sedikit sungkan, terlebih laki-laki seharusnya lebih santai jika menyangkut hal seperti itu.”
Shen Luo berbaring menghadap Xia Yiyang, mendengar jawaban itu membuatnya terdiam sejenak. Ia menatap wajah Xia Yiyang, lalu mengangkat tangannya dan dengan lembut membelai pipinya sambil berkata pelan, “Aku tidak punya mantan pacar yang aneh, tenang saja.”
Xia Yiyang mengedipkan mata, sedikit terkejut.
Shen Luo melanjutkan, “Ketika aku di Amerika, semua orang mengatakan bahwa aku seperti orang depresi. Jadi agar terlihat normal, aku mengikuti orang-orang yang biasanya banyak diikuti di sosial media.”
Begitu mendengar kata “depresi”, mata Xia Yiyang langsung memerah.
Shen Luo menghela napas, setengah bercanda, “Aduh, si kecilku akan menangis lagi.”
Xia Yiyang tertawa pelan sambil mengusap matanya yang mulai basah. Melihat itu, Shen Luo mendekat dan menyentuhkan hidungnya ke hidung Xia Yiyang dengan manja.
“Masa-masa itu memang begitu berat,” kata Shen Luo dengan senyum tipis, sorot matanya penuh kasih saat menatap Xia Yiyang. “Tapi saat aku pulang dan melihatmu lagi, aku langsung mengerti bagaimana aku bisa bertahan selama ini.”
Lima belas tahun itu, bagi Shen Luo terasa sangat panjang tapi juga singkat. Saat tidak sibuk, ia sering menghitung perbedaan waktu, membayangkan apa yang Xia Yiyang makan untuk makan malam ketika ia sendiri sedang sarapan. Saat makan siang, ia berpikir apakah Xia Yiyang sedang tidur dan bermimpi tentang dirinya. Dan saat makan malam, ia membayangkan Xia Yiyang baru bangun tidur — mengenakan pakaian apa, berangkat kerja kemana, atau apakah dia dimarahi atasannya hari itu.
Shen Luo terus-menerus memikirkan hal-hal seperti itu, berulang kali.
Mereka dipisahkan oleh samudra luas, tapi setelah sekian lama memikirkan satu sama lain, jaraknya terasa seperti tidak lebih dari selisih waktu 12 jam saja.
Rahasia itu bukan tentang delapan tahun penuh foto-foto tersembunyi.
Bukan tentang mengintip akun di Instagram.
Dan bukan juga tentang pengakuan cinta di masa muda yang tak pernah terucap.
Tapi tentang semua kerinduan yang tidak terhitung jumlahnya, yang selama bertahun-tahun terus disimpan, terus dipendam, jauh di dalam hati.
-Bab Ekstra “Rahasia” Tamat-
