Penerjemah: Keiyuki
Proofreader: Rusma


Saat kuliah, Xia Yiyang dan Shen Luo hampir tidak pernah bertengkar atau marah sampai kehilangan kendali.

Shen Luo bukan orang yang berkepribadian terlalu baik—dia punya sedikit kebiasaan usil seperti anak laki-laki di usianya. Banyak gadis menyukainya, jumlahnya seperti jamur setelah hujan, dan Bai Fang sering kesal karena hal itu.

Tapi tidak peduli seberapa marah Bai Fang, Shen Luo sepertinya memang bukan tipe orang yang suka bertengkar.

Dia hanya duduk, dengan sikap dingin, merokok sebatang, seolah semua emosinya hancur berantakan seperti abu rokok.

Xia Yiyang sebenarnya bisa marah. Saat pertama mengenal Shen Luo, dia sering menjadi sasaran keusilannya. Tapi waktu itu, karena dia menyukai Shen Luo, bahkan kemarahannya pun terasa manis.

Tidak seperti sekarang. Mereka sudah lebih tua, sudah bersama, dan kemarahan justru menjadi sesuatu yang paling melelahkan dan menyakitkan di dalam hati. Xia Yiyang berharap separuh hidup mereka yang tersisa bisa berjalan lancar dan penuh kebahagiaan.

Dalam kegelapan, Shen Luo meraba bahu Xia Yiyang. Butuh beberapa saat sebelum Xia Yiyang berbalik, lalu Shen Luo mendengar dia menghela napas.

“Orang tuamu…” Xia Yiyang mencari kata yang tepat, lalu bertanya dengan suara pelan, “Mereka tahu soal ini?”

Shen Luo menggumamkan jawaban singkat, “Hmm.”

Xia Yiyang bertanya, “Jadi itu alasan kamu ke luar negeri?”

Setelah waktu lama, Shen Luo kembali bergumam, “Hmm.”

Xia Yiyang tidak tahu harus berkata apa. Lima belas tahun berpisah, sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tapi bagaimanapun juga, sebagai pria dewasa yang sudah matang, ia paham bahwa jika mencintai seseorang, seharusnya tidak ada keraguan; jika ragu, maka itu bukan cinta. Apa pun yang terjadi di masa lalu, mantan kekasih atau apa pun, ia toh selalu mengawasi akun Instagram Shen Luo.

Hanya saja, kebiasaan Shen Luo yang selalu memilih diam dan mengunci diri saat enggan membicarakan sesuatu benar-benar membuatnya pusing.

“Bertahun-tahun di Amerika,” Xia Yiyang bertanya, “apakah kamu tidak pernah terpikir untuk diam-diam pulang?”

“Pernah,” Shen Luo tertawa kecil. “Tapi rasanya tidak ada gunanya. Pulang pun untuk apa? Mungkin uang yang kuhasilkan masih belum cukup, bahkan untuk membangun karier pun belum bisa. Lalu bagaimana aku bisa mencarimu dan membangun rumah tangga? Ditambah lagi dengan orang tuaku… Urusan berbakti kepada keluarga bukan hanya soal berkata ‘Aku akan menjalani hidupku sendiri, dan tidak peduli dengam orang tua.’ Itu tidak sesederhana itu. Aku mungkin bisa, tapi kamu? Kamu juga tidak bisa, bukan?”

Xia Yiyang tidak menjawab. Tenggorokannya terasa semakin getir, dadanya bergemuruh seolah jantungnya berdetak terlalu keras hingga menyakitkan telinganya. Butuh waktu lama sebelum ia bisa mengeluarkan satu pertanyaan dengan suara lirih, “Apakah kamu tidak takut… bahwa setelah bertahun-tahun, aku sudah menikah saat kamu kembali?”

Shen Luo dengan tenang berkata, “Bukan tidak pernah terpikirkan, tapi sebenarnya tidak masalah. Jika kamu sudah menikah dan hidup bahagia, aku tidak akan berkata apa-apa. Aku akan tetap menjadi sahabatmu, memberi angpao saat acara keluarga, bahkan jika kamu punya anak, aku bisa jadi ayah baptisnya.”

“Kalau hidupmu tidak bahagia…” Shen Luo tidak melanjutkan, lalu tiba-tiba tersenyum kecil. “Tapi kamu sangat baik, orang yang kamu temui pasti tidak akan tega memperlakukanmu dengan buruk.”

Dalam kegelapan, ia menatap Xia Yiyang—tatapan yang menyerupai pegunungan jauh, danau tenang, atau salju putih yang membentang luas. “Aku akan selalu ada di sampingmu. Rabu kita bisa pergi gym, Sabtu kita memancing. Kita bisa ngobrol soal pasar saham, investasi, kredit rumah, membahas sekolah terbaik untuk anak-anak. Kalau kamu sibuk bekerja, aku bisa menjemput mereka, mengajak mereka makan di KFC.”

Xia Yiyang bergumam dengan suara serak, “Anak-anak zaman sekarang sudah tidak makan KFC lagi.”

“Kalau begitu, apa pun yang mereka mau makan, kita ajak ke sana.” Shen Luo menjawab santai. Ia mengusap wajah Xia Yiyang dengan lembut, tampak benar-benar puas. “Selama bisa melihat dan menemanimu, itu sudah cukup. Saat nanti kita benar-benar tua, memiliki seseorang yang bisa merawatmu tetaplah hal yang baik.”

Saat masih muda, manusia selalu merasa segalanya tidak cukup. Tapi begitu usia bertambah, mereka mulai merasa bahwa begini pun sudah cukup baik.

Sekarang, bagi Shen Luo, hasil ini bukan sekadar cukup baik, tapi terlalu baik.

Begitu baik hingga ia tidak bisa menoleransi sedikit pun kemungkinan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Itu adalah Xia Yiyang-nya, seluruh sisa hidupnya.

Sejak itu, Xia Yiyang tidak lagi menyebut soal menemui orang tuanya dan akhirnya resmi pindah ke tempat Shen Luo.

Suatu hari, mereka menyempatkan diri pergi ke supermarket sepulang kerja. Shen Luo tampaknya punya antusiasme luar biasa terhadap berbelanja, ingin membeli segala macam barang kecil yang ia lihat. Awalnya, Xia Yiyang masih menegurnya, tapi kemudian berpikir, karena kita punya uang, beli saja apa pun yang kamu mau.

Di luar, mereka mendorong troli belanja sambil mengobrol, membahas pekerjaan, saham, kebijakan, dan nilai tukar. Shen Luo berkata bahwa dalam beberapa bulan ke depan, Bank Sentral mungkin akan menyesuaikan suku bunga lagi. Xia Yiyang mengeluh dengan wajah putus asa, Setiap kali kalian mengambil kebijakan, kami yang harus menanggung dampaknya.

Shen Luo berkata, “Baguslah, setidaknya kamu mendapat informasi dari orang dalam terlebih dulu dan bisa bersiap-siap.”

Xia Yiyang menjawab, “Kalau begitu, lain kali saat kamu datang untuk inspeksi, kurangi potongan nilai kami sedikit.”

“Masih merasa nilai yang dipotong terlalu banyak?” Shen Luo mendorong troli ke kasir. “Kamu sudah dapat perlakuan setara dengan keluarga.”

Xia Yiyang menghela napas, “Kalau potongannya lebih sedikit, bonus akhir tahunku juga lebih tinggi.”

Shen Luo berkata, “Gajimu sekarang sudah lima kali lipat dariku, beri aku sedikit muka.”

Xia Yiyang tertawa, “Bukankah sebelumnya kamu mengatakan ingin aku yang menanggung biaya hidupmu?”

Shen Luo menjawab, “Aku tidak hidup mewah, kamu pasti sanggup.”

Keluar dari supermarket, mereka mampir ke toko perabotan mewah. Begitu masuk, Xia Yiyang langsung melihat sebuket bunga baby’s breath kering berwarna merah muda. Karena bungkusnya sangat cantik, ia memperhatikannya cukup lama, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Ketika mereka sudah berkeliling dan bersiap pulang, Shen Luo tiba-tiba mengambil buket itu dan menyelipkannya ke dalam pelukan Xia Yiyang.

“…” Xia Yiyang terkejut. “Kapan kamu membelinya?”

Shen Luo tersenyum, “Kalau kuberitahu, tidak akan jadi kejutan.”

Xia Yiyang merasa hatinya benar-benar meleleh oleh manisnya momen ini.

Sesampainya di rumah, mereka mulai merapikan barang belanjaan. Xia Yiyang memegang buket bunga kering itu dengan sedikit kebingungan. Mawar yang mereka beli sebelumnya bahkan belum layu sepenuhnya, dan semua vas yang ada di rumah sudah terpakai.

Shen Luo menyarankan, “Bagaimana kalau kamu gantung di dinding saja?”

Akhirnya, Xia Yiyang duduk di atas karpet, perlahan membongkar buket itu menjadi beberapa bagian kecil dan mulai menggantungnya satu per satu.

Foto-foto di dinding kembali berganti, kali ini dengan gambar yang diambil saat Xia Yiyang menyusun mawar.

Shen Luo memang sangat antusias memotret Xia Yiyang kapan saja, lalu mencetaknya dan menggantungnya di dinding.

Sekarang, Xia Yiyang sesekali masih diam-diam membuka Instagram untuk mengintip. Shen Luo hampir setiap hari mengunggah foto bagian tubuhnya—hari ini jari, besok telapak kaki, lusa bayangan punggung yang samar—tapi tidak pernah sekali pun mengunggah wajahnya yang jelas dan utuh.

Shen Luo seperti orang gila pamer yang mati-matian memamerkan kasih sayangnya, tapi dengan gaya yang tertutup dan penuh rahasia. Anehnya, tidak ada satu pun komentar yang mengkritiknya, sesuatu yang Xia Yiyang benar-benar tak habis pikir.

Saat selesai mandi dan bersiap naik ke tempat tidur, Shen Luo tidak membiarkan Xia Yiyang mengenakan pakaian.

Maka Xia Yiyang hanya bisa membungkus dirinya dengan selimut, bahkan rambutnya belum sempat dikeringkan, helaian basah masih menempel di dahinya.

“Kamu mau memotretku?” Xia Yiyang bertanya, sudah terbiasa.

Shen Luo memang mengambil kameranya, tapi tidak langsung memotret. Ia terlebih dulu membantu mengeringkan rambut Xia Yiyang, lalu menunduk dan menciumnya.

“Bolehkah aku memotretmu saat bercinta?” Shen Luo bertanya serius, bibirnya masih menempel di bibir Xia Yiyang.

Xia Yiyang berpikir sejenak, tapi tetap merasa tidak bisa menerima. “Tidak.”

Shen Luo menatapnya, lalu mencium Xia Yiyang cukup lama melalui selimut yang membungkusnya. “Kalau begitu, untuk sekarang tidak usah memotret.”

Xia Yiyang tidak merasa lega, malah semakin tegang. “Kalau memotretnya, apakah kamu juga akan mencetaknya?”

Shen Luo menjawab, “Kalau bagus, tentu saja.”

Xia Yiyang merasa malu sampai sedikit terbata-bata. “A-apa yang bagus?”

“Semuanya.” Shen Luo perlahan menarik selimut yang digenggam Xia Yiyang, menatap lekat tubuh bagian atasnya yang telanjang, lalu menunduk menciumi bahu dan tulang selangkanya.

Akhirnya, Xia Yiyang tetap tidak membiarkan Shen Luo memotret, tapi mereka tetap bercinta.

Agar tidak terus-terusan menghabiskan cuti tahunan dengan sia-sia, kali ini Shen Luo melakukannya jauh lebih lembut dibandingkan pertama kali.

Pemanasan yang cukup memastikan Xia Yiyang merasa nyaman. Begitu Shen Luo masuk, Xia Yiyang bahkan langsung klimaks sekali.

Dengan posisi menyamping, Shen Luo menggigit pelan cuping telinga Xia Yiyang dari belakang, suaranya penuh tawa. “Cepat sekali.”

Wajah Xia Yiyang memerah hingga ke leher, hanya bisa mengeluarkan gumaman tanpa sempat membantah.

Shen Luo bergerak perlahan, tapi masuk sangat dalam. Tidak butuh waktu lama, Xia Yiyang kembali tak tahan, tubuhnya bergetar saat mengeluarkan cairan putih dalam jumlah banyak.

Shen Luo tetap diam di dalam, menunggu Xia Yiyang selesai, lalu meraih dagunya dan menciumnya lama.

Setelah benar-benar bersih, Shen Luo memeluk Xia Yiyang erat dalam posisi berhadapan. Lalu, dengan suara pelan, dia bertanya, “Apakah kamu mencintaiku?”

Xia Yiyang, yang setengah sadar, entah menjawab apa.

Tapi Shen Luo tampak sangat senang. Dia tertawa kecil seperti anak-anak, lalu menunduk dan menggesekkan hidungnya dengan lembut ke hidung Xia Yiyang.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply