Penerjemah: Keiyuki17
Proofreader: Jeffery Liu


Chang’an dari dunia cermin.

Setelah pertempuran besar terakhir, dunia cermin telah direduksi menjadi kepingan; rumah-rumah telah runtuh dengan sendirinya, dan istana telah hangus oleh nyala api. Seluruh dunia tampak seperti kumpulan reruntuhan raksasa.

Chen Xing, memegang cermin di dalam dunia cermin, telah membalikkan perannya, dan kali ini dia telah menjadi satu-satunya jalan keluar dari dunia ini.

Di depan Istana Taichu, Xiang Shu, Feng Qianjun, dan Xiao Shan mengasah tiga posisi lainnya. Xiang Shu menggerakkan tubuhnya di depan Chen Xing untuk melindunginya saat dia berkata dengan muram, “Bertukar pukulan di sini berarti hunpo-mu tidak akan bisa meloloskan diri.”

Wang Ziye akhirnya menyadari, tujuan kelompok pengusir setan ini adalah untuk sepenuhnya menyingkirkannya hari ini.

“Sudah sangat, sangat lama, sejak aku mulai berharap bahwa suatu hari aku akan mati sepenuhnya,” kata Wang Ziye dengan ringan. “Betapa disayangkan bahwa surga tidak pernah mendengarkan keinginan manusia. Hari ini, jika kalian semua bisa membuatku benar-benar mati di sini, maka itu masih dapat dianggap memenuhi salah satu keinginanku.”

Chen Xing bertanya, “Pintu di Yique itu, apa sebenarnya yang ada di dalamnya?”

Wang Ziye tersenyum. “Akan datang suatu hari dimana kau akan tahu. Aku tidak pernah menyangka bahwa, hanya dengan satu cahaya di hatimu, kau akan dapat mencapai banyak hal. Memang, tanpa kusadari, kau telah memaksaku ke jalan buntu seperti itu. Untuk Cermin Yin Yang yang kuambil dari genggaman Zhang Liu dan kalian gunakan dengan cara seperti itu, kalian semua benar-benar sangat pintar.”

“Xiang Shu… ” Chen Xing tiba-tiba menemukan bahwa ada sesuatu yang aneh pada dirinya.

Xiang Shu menggelengkan kepalanya, sebelum dengan satu jentikan dari Pedang Acala, dia memasang posisi bertarung, matanya tertuju pada gerakan Wang Ziye.

Kipas itu telah diambil oleh mereka, dan pasukan iblis kekeringan telah pergi. Keempat keprajuritan telah mengepung sarang mereka, dan segera sekarang, mereka akan dapat menangkap Fu Jian dan Yuwen Xin yang melarikan diri, jadi sekarang Wang Ziye benar-benar tidak memiliki jalan yang tersisa untuk diambil.

“Wang Ziye,” kata Chen Xing. “Hilangkan kebencianmu yang terakhir, dan biarkan hun-mu kembali ke vena ilahi. Justru karena surga ingin mengirimmu pergi, mereka telah mengatur agar kami tiba di bumi ini. Ini adalah keinginan surga yang sebenarnya.”

“Ini belum berakhir,” gumam Wang Ziye. “Jauh dari selesai. Ayo, aku ingin melihat berapa lama kau bisa bertahan, menyalakan hunpomu sendiri seperti ini. Aku membayangkan bahwa aku tidak akan menjadi yang pertama tumbang. Apa yang terjadi di luar sekarang? Aku sangat penasaran.”

Ketika dia selesai berbicara, Wang Ziye sekali lagi naik ke udara. Kebencian meledak keluar dari dirinya, menyelimuti keseluruhan kota Chang’an seperti angin topan, mengumpulkan semua papan yang hancur, ubin yang pecah, dan batu bata, berubah menjadi semburan dahsyat yang menyapu di atas kepala mereka!

Tingkat kebencian itu bahkan lebih kuat dari apa Chen Xing telah bayangkan, dan saat angin topan naik, ilusi Chang’an seperti sedang mengalami kiamat. Xiang Shu berteriak, “Jaga cahaya itu tetap aman!”

Chen Xing meletakkan tangannya di dadanya, menyalakan Cahaya Hati tepat di depannya. Dalam badai dendam yang gelap dan liar, titik tunggal dari Cahaya Hati itu bersinar tanpa henti, dan tidak peduli seberapa besar gelombang kebencian itu, mereka tidak dapat menghilangkan cahaya itu.

Feng Qianjun dan Xiao Shan mengeluarkan senjata mereka, mereka berdua bergegas ke depan saat mereka meraung secara bersamaan.

Feng Qianjun, “Untuk Qing’er, aku akan memastikan kau–“

Pedangnya menebas.

Xiang Shu mengangkat Pedang Acala secara horizontal, mengumpulkan cahaya dari Cahaya Hati. Tapi dia tidak berani mengambil energi Chen Xing dengan paksa, hanya cukup untuk mengumpulkan agar pedang mulai bersinar dengan cahaya redup. Begitu Wang Ziye mendarat, dia akan bergegas dengan pedangnya di belakangnya.

“Pertama adalah tubuh fisik!” Panggil Xiang Shu.

Tubuh fisik Wang Ziye langsung tertusuk, berubah menjadi gumpalan daging dan darah yang berantakan, sebelum hunpo hitamnya berkumpul, mengeluarkan suara yang menusuk telinga saat dia mencemooh, “Jadi sekarang apa? Apa lagi yang bisa kalian lakukan padaku?”

“Mundur!” Teriak Chen Xing.

Feng Qianjun dan Xiao Shan segera mundur, dan Xiang Shu mundur ke belakang Chen Xing. Chen Xing mendorong Cahaya Hati dengan kedua tangannya, dan cahayanya meledak, berputar saat itu bergegas menuju Wang Ziye.

Wang Ziye melayang di udara, tertawa dengan aneh dan ganas, sebelum mengumpulkan kebencian dan mendorongnya ke arah Chen Xing.

Cahaya di tangan Chen Xing bersinar terang, berubah menjadi pilar cahaya, dan kebencian di tangan Wang Ziye dibakar dengan api gelap saat itu terkondensasi menjadi pilar energi. Kedua sinar energi itu melintas di udara, dan saat gelombang kebencian tampak mengancam, segera setelah mereka menyentuh cahaya dari Cahaya Hati, mereka menekannya, mendorong titik persimpangan menuju Chen Xing.

“Kekuatan hunpo pengusir setan yang bahkan belum berumur dua puluh tahun,” Wang Ziye mulai tersenyum, “mencoba untuk mengalahkan kultivasi tiga ribu tahunku…”

Xiang Shu berdiri di belakang Chen Xing, lengannya melingkari bahu Chen Xing, memeluknya dengan ringan dari belakang. Tangannya yang besar membuat segel yin yang saat mereka membungkus bagian luar tubuh Chen Xing, yang masih memancarkan cahaya dari Cahaya Hati. Empat tangan melemparkan sihir pada saat yang sama, dan cahaya dari Cahaya Hati meningkat dengan cepat, memancarkan cahaya sejauh ribuan zhang di depan tubuh Chen Xing.

Pada saat itu, Chen Xing merasa bahwa sepetak cahaya terang di bumi ini sedang diselimuti oleh api emas kuno yang luas, dan dia serta Xiang Shu yang berdiri di belakangnya tampaknya terhubung secara misterius. Hunpo mereka berubah menjadi dua lingkaran cahaya yang saling terkait, mulai berputar saat mereka mengeluarkan gelombang resonansi!

Cahaya itu langsung memblokir kebencian, yang memiliki kekuatan yang sama dengan api hitam Wang Ziye, dan mereka menemui jalan buntu di udara.

Wang Ziye berseru, “Kau… Shulü Kong?!”

Xiang Shu tidak berbicara. Dia hanya membuka matanya, mengangkat pandangannya menuju Wang Ziye yang berdiri dengan tinggi. Alis, rambut, dan seluruh tubuhnya terbungkus oleh api emas yang berkilauan. Tubuh Chen Xing perlahan berubah menjadi siluet bersinar saat dia dipeluk dalam pelukan Xiang Shu.

“Serang,” kata Xiang Shu dengan suara yang dalam. “Lindungi titik cahaya di hatimu itu.”

Wang Ziye tiba-tiba menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak benar, tapi di saat berikutnya, Feng Qianjun membalik pedang di tangannya, berkonsentrasi dengan keras.

Xiao Shan mengangkat satu cakarnya, dan dia serta Feng Qianjun mulai menyerap kebencian pada saat yang sama.

Wang Ziye meraung marah saat kebencian yang menyelimutinya langsung terserap, mengalir ke dalam aliran yang tak berujung ke Senluo Wanxiang dan Cangqiong Yilie. Saat kebenciannya melemah, cahaya dari Cahaya Hati bergegas masuk untuk mengisi celah-celah, menahan api hitam, mendorong dengan cepat ke tempat Wang Ziye berada!

Wang Ziye berjuang, “Kalian semua… kalian semua… “

Ekspresi Feng Qianjun dan Xiao Shan terpelintir dalam kesakitan, seluruh tubuh mereka terbungkus api hitam.

“Selamatkan aku… ” Wang Ziye memanggil semua kekuatannya, mengambar sebuah segel yang terbuat dari api hitam ketika dia meraung kesakitkan, “Fu Jian… selamatkan aku!”

Saat ini, dataran di tepi sungai utara yique.

Kemarahan Fu Jian mencapai puncaknya saat Tuoba Yan memimpin sisa penjaga kekaisaran untuk mengejar ke tepi sungai. Pihak lain yang terlibat sadar bahwa ini adalah situasi yang sulit, dan mereka mundur hampir sejauh satu li, menghormati perintah Xiang Shu bahwa orang Qin harus mengurus urusan keluarga mereka sendiri.

Tuoba Yan terbatuk beberapa kali, mengeluarkan sedikit darah.

Seluruh kepala Yuwen Xin berlumuran darah, sangat menyedihkan. Fu Jian memegang pedangnya di sisinya, menghadapi Tuoba Yan.

Murong Chong juga bergegas ke tempat kejadian, menerobos formasi pertempuran luar, tapi dia tidak bisa masuk. Awalnya, mungkin dia bisa membunuh Fu Jian di tengah kekacauan, tapi Xiang Shu telah mengantisipasi dirinya untuk melakukannya sejak awal, jadi dia menyuruh faksi Tuoba Yan dari penjaga kekaisaran tiba tepat waktu. Dengan ini, Murong Chong tidak memiliki cara untuk melakukan pukulan mematikan.

“Yan’er, apakah kamu datang ke sini untuk membunuhku, atau untuk menyelamatkanku?” Tanya Fu Jian dengan muram. “Kamu juga mengkhianati Zhen?”

Tuoba Yan terengah-engah. “Tuoba Yan tidak pernah berani melupakan kebaikan Yang Mulia, dan para penjaga kekaisaran… tidak akan pernah berani mengkhianati Yang Mulia! Tindakan kita hari ini semata-mata untuk melindungi Qin yang Agung! Wang Ziye yang jahat telah membawa malapetaka atas Qin yang Agung-ku dan menyihir Yang Mulia. Penjaga kekaisaran, dengarkan perintahku! Lindungi Yang Mulia dengan segala cara!”

“Bodoh!” Teriak Fu Jian tiba-tiba. “Apakah kalian tahu apa yang telah kalian semua hancurkan?!”

Di belakang Fu Jian dan Yuwen Xin adalah hampir seratus penjaga kekaisaran terakhir, dan di depan mereka ada 10.000 pasukan yang dipimpin oleh Tuoba Yan. Pada saat ini, Xie An keluar dari barisan dan berbicara. “Yang Mulia, ikutlah dengan kami ba. Dengan reputasi Dewa Bela Diri Shulü Kong, kami jamin kamu tidak akan diperlakukan sewenang-wenang. Sebentar lagi, saat Wang Ziye dibuang, kami akan membebaskanmu.”

Yuwen Xin terhuyung-huyung. Melihat bahwa Fu Jian tidak dapat lepas dari cakupan jebakan yang rumit ini, segera setelah mereka dikalahkan dan ditawan, Fu Jian terikat untuk menjadi penguasa negara yang jatuh dan dikenang sebagai pahlawan selama berabad-abad. Bawahannya, bagaimanapun juga, akan melakukan sesuatu tanpa mengkhawatirkan resikonya, dan itu semua tergantung jika mereka meletakkan senjata dan menyerah. Tapi Tuoba Yan berkata dengan sungguh-sungguh, “Orang-orang dari penjaga kekaisaran, akankah kalian akan terus saling membantai satu sama lain dengan kejam?!”

Anggota dari penjaga kekaisaran sejak awal tidak senang dengan Yuwen Xin, dan hari ini, setelah secara pribadi menyaksikan sihir jahat Wang Ziye dan pertempuran dengan iblis kekeringan, mereka mengerti bahwa orang yang telah menghancurkan Chang’an pada saat itu adalah orang itu. Perlahan, pikiran untuk meninggalkan sisi itu tumbuh di hati mereka, dan mereka semua mundur, ingin kembali ke sisi Tuoba Yan.

Pada akhirnya, Tuoba Yan membungkuk ke arah Fu Jian, berkata, “Yang Mulia, ikutlah dengan kami ba.”

Tapi pada saat itu, Fu Jian tertawa terbahak-bahak.

“Kamu benar-benar berpikir bahwa Zhen tidak memiliki cara untuk berurusan dengan kalian semua?” Kata Fu Jian dengan kejam.

Dan tepat setelah itu, embusan kebencian yang mengerikan mengepul dari pohon di belakangnya, dan serigala besar bergegas keluar!

“Bunuh para pengkhianat ini untuk Zhen!” Fu Jian meraung marah, melompat ke belakang serigala besar.

Tapi serigala besar itu sama sekali tidak mendengarkan perintah Fu Jian. Matanya tertuju pada Xie An, dan dalam sekejap, Xie An memiliki sekilas kesadaran: tujuan serigala besar itu adalah mendapatkan Cermin Yin Yang!

Sebelum dia bisa menghindar, serigala busuk itu bergerak secepat kilat, ke depan Xie An. Di belakangnya, Murong Chong berteriak, “Hati-hati!”

Tepat setelah itu, Murong Chong berlari ke depan, menggunakan baju besi logamnya untuk memblokir gigi tajam serigala besar itu. Xie An mengambil kesempatan ini untuk menunduk dan lari, sementara ekspresi Tuoba Yan berubah, dan dia berteriak, “Lindungi Yang Mulia! Lindungi orang Han itu!”

Saat itu, Xie An nyaris kehilangan kepalanya karena hampir digigit oleh serigala besar itu, dan pada akhirnya, sebenarnya Murong Chong yang menyelamatkannya; mereka berdua bertingkah tak terduga. Para penjaga kekaisaran yang bergegas telah terlempar oleh serigala busuk yang menerkam ke depan, dan ruangnya sempit dan tidak cocok untuk menembakkan anak panah. Murong Chong berteriak, “Jangan pedulikan dia! Pertama-tama awasi Yang Mulia!”

Xie An berteriak, “Tidak mungkin! Cermin Yin Yang masih ada padaku!”

Tuoba Yan berlari mengejar, tapi dia tidak mengira serigala besar itu akan secepat itu. Tepat ketika para penjaga kekaisara menyusul, mereka sekali lagi ditinggalkan dalam debu, dan dalam momen hidup dan mati ini, Xie An memanggil kekuatan tersembunyi yang bahkan dia sendiri tidak tahu jika dia memilikinya, merunduk dan menghindar terus menerus. Murong Chong dan Tuoba Yan akhirnya berhasil mengepung mereka. Melihat bahwa jika dia tidak lari sekarang, dia akan ditangkap lagi, Fu Jian akhirnya meraung dengan marah, “Pergilah!”

Xie An telah diamankan dalam lingkaran penjaga kekaisaran, dia masih sangat terkejut saat melihat Fu Jian, dan tepat setelah itu, serigala besar itu melengkungkan tubuhnya. Tuoba Yan melirik ke arahnya, menyadari bahwa semuanya tidak berjalan dengan baik, dia kemudian menginjak perisai penjaga kekaisaran saat dia dan Murong Chong melompat ke udara menuju Xie An, meluncurkan upaya penyelamatan mereka.

Seperti yang diharapkan, serigala besar itu melompat dari tanah, terbang sejauh sepuluh zhang, di atas kepala penjaga kekaisaran saat menerkam Xie An. Ia membuka mulutnya, tapi saat ia hendak menggigit Xie An dengan rahangnya, Murong Chong melemparkan pedang panjangnya ke udara. Itu menembus bahu Fu Jian saat dia naik ke punggung serigala itu, menyebabkan dia jatuh.

Tuoba Yan, dengan tombak panjang di tangannya, bergegas menyerang dari samping. Dengan dorongan, dia memblokir kepala serigala besar itu, menusukkan ujungnya ke dalam lehernya, tapi serigala besar itu menggigit dengan keras lengan Tuoba Yan, merobek setengah dari lengan kirinya.

Tapi Tuoba Yan bahkan tidak berteriak, dia juga tidak merasakan sakit; dia mengangkat tangan kanannya, dan dengan kekuatan yang mengejutkan, dia membantingnya dengan paksa ke kepala serigala itu. Pukulan itu membuat serigala berguling-guling di tanah, sebelum dengan cepat bangkit, meninggalkan Fu Jian saat ia melompat ke udara lagi, menabrak barisan penjaga kekaisaran saat melarikan diri.

“Lindungi Xie An-daren!” Tuoba Yan menekan bagian lengannya yang patah, dan dia berkata, “Kita harus berhati-hati, itu mungkin akan kembali!”

Xie An tahu itu karena dia memegang Cermin Yin Yang, dia telah menjadi target utama musuh, dan dia langsung berkata, “Aku perlu menemukan tempat untuk bersembunyi…”

“Yang Mulia.” Tuoba Yan berjalan dengan cepat. Baju besi di bahu Fu Jian telah tertembus, dan dia duduk dengan susah payah, lukanya berlumuran dengan darah hitam.

“Chong’er… ” Fu Jian menarik napas. “Yan’er…”

“Yang Mulia!” Tuoba Yan berkata dengan cemas, tapi tepat saat dia akan membantu Fu Jian berdiri, dia tiba-tiba menghentikan gerakannya.

Bilah pedang kaisar yang bersinar menusuk dada Tuoba Yan, menembus keluar dari punggungnya. Seluruh tubuh Tuoba Yan merosot ke Fu Jian saat dia menatapnya dengan diam. Mulutnya berlumuran darah, dan dia tidak bisa lagi berbicara; tusukan itu telah menembus tepat ke dalam jantungnya, menyebabkan sedikit cahaya terakhir di matanya perlahan meredup dan menghilang, berubah menjadi ketiadaan saat pupilnya perlahan membesar.

Darah merah cerah memenuhi mata Fu Jian, dan dia dengan erat mencengkeram pedang kaisar di tangannya saat dia berkata dengan muram, “Siapa lagi yang ingin menggunakan tubuh mereka untuk menguji pedang kaisar Zhen?”

Para penjaga kekaisaran perlahan mundur. Xie An bergumam, “Fu Jian, apa kamu tahu apa yang kamu lakukan?”

Fu Jian berkata dengan muram, “Seorang anak yang aku besarkan mengkhianatiku seperti ini, hidup mereka diberikan kepada mereka oleh diriku, jadi tentu saja aku harus menjadi orang yang mengambil hidup mereka.”

Para penjaga kekaisaran membuat ruang kosong, dan di tengah adalah Fu Jian, memancarkan kebencian tanpa henti saat dia berdiri di sana. Yang berlutut di depannya adalah Tuoba Yan, yang jantungnya telah ditusuk oleh pedang kaisar.

Murong Chong perlahan berjalan, berhenti sepuluh langkah jauhnya dan menatap tajam ke arah Tuoba Yan, sebelum mengangkat pandangannya ke Fu Jian. Tidak peduli apa yang terjadi, dia tidak percaya bahwa Tuoba Yan akan menemui akhir yang seperti itu.

“Dari semua orang di Qin yang Agung,  Murong Chong berkata, “Tuoba Yan adalah orang yang paling setia kepadamu. Yang Mulia, kamu gila.”

Fu Jian mencabut pedang kaisar, berbalik dan berjalan menuju Murong Chong, yang berkata, “Tangkap dia, buat Yang Mulia sadar!”

Para penjaga kekaisaran, semuanya berteriak dengan keras saat mereka bergegas maju. Fu Jian mengayunkan pedang kaisar menjadi lengkungan, dan kebencian memenuhi udara, tapi ada lebih banyak pasukan, dan pada akhirnya, setelah gelombang demi gelombang, mereka berhasil menangkapnya. Tali dan jaring baja yang tak terhitung jumlahnya terbang, menjepitnya ke tanah.

“Di dunia ini… Zhen adalah… satu-satunya penguasa sejati!” Fu Jian meraung liar.

Dunia cermin, reruntuhan Chang’an.

Gemuruh raungan itu bergema di cakrawala, dan mata Chen Xing segera melebar.

“Sekarang juga!” Xiang Shu, bagaimanapun, tidak menunggu dia untuk merenungkannya. Dia mengaktifkan Cahaya Hati, dan Chen Xing langsung mendorong kekuatan  hunpo-nya ke batasnya ketika dia menyalakannya. Wang Ziye melolong dengan putus asa; pasukan pendukung terakhirnya belum datang, dan semua kebencian miliknya telah menghilang, memperlihatkan hunpo-nya yang bersinar dengan cahaya merah.

Wang Ziye menjerit dengan tajam, berbalik dan terbang ke udara. Namun, dia kemudian menyadari bahwa dia tidak bisa melarikan diri, karena satu-satunya jalan keluar, sisi yin dari cermin, ada di Chen Xing.

Wang Ziye berteriak, “Ini tidak mungkin takdirku–“

Tepat setelah itu, dia berbalik dan bergegas maju, sepasang cakar tumbuh dari jiwanya saat dia menjatuhkannya dengan keras ke arah Chen Xing!

Tapi Chen Xing mengangkat tangannya, dan cahaya di tangannya berkedip, menampakkan Lonceng Luohun.

Mata merah darah Wang Ziye membelalak pada detik itu, menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Chen Xing menyuntikkan semua mana ke dalam Lonceng Luohun, dan tubuh perunggu dari lonceng itu berubah menjadi emas cerah, cahayanya menyebar ke segala arah.

Dang–“

Lonceng Luohun berbunyi, dan meskipun Wang Ziye berusaha keras untuk melarikan diri lebih tinggi, hunpo-nya dengan paksa ditarik kembali oleh kekuatan Lonceng Luohun, berubah menjadi pita cahaya yang terhubung ke lonceng.

“Aku belum siap–” suara Wang Ziye melolong.

Mana Chen Xing sudah hampir habis, dan dia mengerahkan semua usahanya untuk mengendalikan Lonceng Luohun saat dia dan Wang Ziye mulai berjuang. Xiang Shu berteriak, “Tahan!”

“Kekuatan hunpo-nya… terlalu kuat…” Chen Xing meraung. “Wang Ziye! Ini sudah berakhir!”

Di bawah kekuatan Lonceng Luohun, Wang Ziye, yang pada saat itu hanyalah hunpo murni, mulai melengkung dan berubah bentuk. Kekuatan hun-nya mengalir seperti air saat ditarik ke Lonceng Luohun, yang mengeluarkan bunyi yang mengguncang bumi! Tapi dalam sekejap, di dada Wang Ziye, setetes darah merah tua seperti permata muncul.

Dalam sekejap, penglihatan Chen Xing menjadi hitam, dan dia sekali lagi melihat pemandangan Istana Huanmo.

Hati besar itu mengeluarkan cahaya yang kuat saat memasuki vena bumi, dan vena bumi segera tercemar menjadi bercak merah darah!

“Manusia?” sebuah suara bergema di telinga Chen Xing. “Kamu benar-benar bisa untuk mencapai titik ini.”

Tetesan darah pecah, menyebar melalui hunpo Wang Ziye ketika mereka diseret ke Lonceng Luohun, memberikannya satu momen terakhir.

“Ya,” Chen Xing mengangkat alisnya saat dia menjawab. “Kamu tidak akan bisa menyelamatkan bawahanmu, Chiyou.”

Lonceng Luohun menarik hun bumi milik Wang Ziye, sebelum Chen Xing menjentikkan pergelangan tangannya lagi.

Dang!” Dengan bunyi lonceng kedua, hantu hun Wang Ziye meninggalkan tubuhnya, dan tanpa kedua hun ini, dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berjuang, jatuh lemah. Dia sudah tidak memiliki cara untuk mencegah kekuatan Lonceng Luohun dan Cahaya Hati agar tidak berfungsi.

Tapi tepat pada saat itu, setitik cahaya merah mulai bersinar di tubuh Feng Qianjun, dan setitik lain muncul samar-samar di hati Xiao Shan, berkedip-kedip di dalam dan di luar kehidupan.

“Kau berbicara terlalu cepat,” suara Chiyou bergema. “Mari kita lihat apakah Cahaya Hatimu yang menerangi dunia, atau apakah darah iblisku yang menjerat hati manusia…”

Hun kedua Wang Ziye belum sepenuhnya terlepas, tapi Xiang Shu telah berganti posisi, membawa Chen Xing dalam pelukannya saat dia berbalik, berputar, dan melompat menuruni tangga! Tepat setelah itu, Feng Qianjun dan Xiao Shan, yang masih diselimuti kebencian, menyerang dari kedua sisi. Senluo Wanxiang dan Cangqiong Yilie menebas pada saat yang bersamaan, benar-benar menghancurkan Istana Taichu!

Dengan ledakan itu, seolah-olah angin topan kembali naik. Wang Ziye, masih melolong, berubah menjadi bayangan samar dari dirinya yang dulu saat dia merangkak di sepanjang tanah. Chen Xing, yang masih dipeluk oleh Xiang Shu, keluar dari reruntuhan. Dia telah terputus di tengah-tengah ketika merapal sihirnya, dan Chen Xing tidak bisa mengumpulkan napas saat dia bersandar di sisi pilar.

“Tinggal sedikit lagi… ” kata Chen Xing, “Tinggal…”

Tapi Feng Qianjun sudah bergegas lebih dulu, matanya bersinar dengan cahaya merah darah saat bilahnya menebas Xiang Shu. Xiang Shu mengangkat Pedang Acala secara horizontal, dan dengan raungan marah, dia memblokir tebasan Feng Qianjun.

“Untuk mengaktifkan artefakmu,” suara Chiyou bergema, “Kalian semua menggunakan kebencian untuk menggantikan qi spiritual dari langit dan bumi.”

Feng Qianjun dan Xiao Shan melompat ke depan pada saat yang sama, tubuh mereka terbungkus dengan kebencian ketika mereka berubah menjadi bayangan cepat yang dengan liar menyerang Xiang Shu seperti badai yang dahsyat. Xiang Shu harus melindungi Chen Xing di belakangnya, sambil mengalahkan teman pengusir setan yang telah diambil alih oleh Darah Dewa Iblis, dan untuk sementara dia bekerja dengan keras.

“Tapi kau tidak tahu, mereka yang mencoba untuk mengendalikan secara paksa kekuatan kegelapan, akan selalu memiliki kebencian pada akhirnya. Raja ini sudah lama memberitahumu bahwa akan datang suatu hari di mana setiap orang yang mempercayaimu akan mengkhianatimu…”

“Su… Sucikan.” Mulut Chen Xing penuh dengan darah ketika dia menopang dirinya di tanah dengan susah payah, mengangkat tangan. Telapak tangannya bersinar dengan satu cahaya terakhir, dan dia mendorongnya ke arah Xiao Shan. Dengan raungan liar, Xiao Shan mengayunkan Cangqiong Yilie.

Xiang Shu sibuk dengan Feng Qianjun, tapi dia berbalik, mengabaikan Feng Qianjun, untuk menyelamatkannya. Dia melompat ke arah Chen Xing, mencoba merangkulnya, tapi cakar Xiao Shan telah mencapai dada Chen Xing.

“Mati,” suara Chiyou berbicara. “Era pengusir setan telah berakhir.”

“Ini belum waktunya,” suara pemuda lain tiba-tiba berbicara. “Terimalah, Dewa Senjata.”

Pukulan cakar Xiao Shan menyapu dada Chen Xing, tapi tepat pada saat itu baru akan membelahnya, dengan suara ding ringan, cakar Cangqiong Yilie diblokir oleh artefak yang Chen Xing tempatkan di dadanya.

Jubah luarnya terbelah, dan Cermin Yin Yang yang ada di dalamnya retak. Dengan banyak sentakkan, retakan bertambah, dan permukaan cermin pecah menjadi beberapa bagian.

Saat ini, dataran Yique.

Semua orang berkumpul, menatap Fu Jian yang telah diikat dengan aman di tengah. Para prajurit memegang kain di tangan mereka, tapi tidak ada dari mereka yang berani memasukkannya ke dalam mulut Fu Jian.

“Itu… ” Seorang asisten jenderal melihat sekeliling, tapi dia tidak bisa menemukan satu orang pun yang berani menutup mulut Fu Jian. Murong Chong adalah seorang bawahan, Shi Mokun berada di level yang sama dengannya, Raja Onobayashi adalah sekutu, tapi dia tidak bisa dianggap sebagai musuh. Satu-satunya orang dengan kekuatan yang dapat memasukkan kain ke dalam mulut Fu Jian adalah Xiang Shu, tapi dia tidak ada di sini.

“Aku yang akan melakukannya,” kata Xie An pada yang lain. “Dalam Jin yang Agung kami, hal-hal yang orang lain tidak ingin lakukan semuanya dilakukan olehku, Xie Anshi.”

Xie An sama sekali tidak peduli apakah dia raja surgawi atau bukan, dia segera menutup mulut Fu Jian.

Di dataran Sungai Huai, 300.000 iblis kekeringan telah dimusnahkan, dan bahaya akhirnya berlalu; sekarang, yang mereka tunggu hanyalah berita tentang bagaimana nasib kelompok yang ada di cermin, Chen Xing dan yang lainnya. Murong Chong berbicara. “Sekarang apa? Apakah kamu akan membawanya pergi?”

Awalnya, mereka bermaksud menyerahkan Fu Jian pada Tuoba Yan, yang akan membawanya ke Kota Shou atau Luoyang untuk dijadikan tahanan rumah, tapi Tuoba Yan sekarang sudah tiada. Xie An hanya bisa berkata, “Ayo jalankan sesuai rencana awal? Tidak pantas bagi kami untuk menangkapnya, pasti ada seseorang dari negaramu yang pergi bersamanya.”

“Xie-daren,” Murong Chong bergumam.

Xie An segera merasakan ada yang tidak beres. Dia menundukkan kepalanya untuk melihat dadanya sendiri, mengeluarkan Cermin Yin Yang, hanya untuk melihat retakan menyebar dengan cepat di permukaan cermin. Semua orang mundur.

Xie An menjadi gugup. Memegang cermin di tangannya tidak akan berhasil, tapi meletakkannya di tanah juga tidak akan berhasil. Murong Chong berkata, “Apakah kamu ingin mencari tempat untuk bersembunyi?”

Dengan retakan di cermin, gambar di dalamnya juga mulai pecah, sebelum dengan suara peng, seluruh permukaan hancur. Xie An berteriak keras. Shi Mokun adalah yang pertama bereaksi, berteriak, “Hati-hati! Mundur!”

Di cermin, kebencian yang telah terserap dari Wang Ziye tiba-tiba meledak. Xie An membuat keputusan dalam sekejap dan mengarahkan permukaan cermin ke langit, dan di menit terakhir ini, keputusan penting ini menyelamatkan nyawa semua orang yang hadir. Dengan kehancuran cermin, kebencian dikeluarkan ke segala arah dari permukaan Cermin Yin Yang saat badai api hitam meledak. Hal pertama yang keluar dari cermin adalah seberkas jiwa berwarna merah darah, diikuti bayangan Feng Qianjun dan Xiao Shan, sebelum akhirnya Xiang Shu yang memeluk Chen Xing.

Kebencian meledak keluar, hampir meratakan dataran di sekitarnya sejauh satu li. Ketika kabut hitam menghilang, tawa mengerikan Chiyou bisa terdengar dari dalam.

Ketika Feng Qianjun mendarat, dia membawa Fu Jian, dan bersama dengan Xiao Shan mereka berubah menjadi api hitam yang terbang menuju cakrawala.

Xiang Shu memeluk Chen Xing yang tidak sadarkan diri ketika mereka berdiri di tengah dataran. Kebencian perlahan menghilang, merambat di atas tanah, dan tanaman layu saat tanah menjadi hitam pekat.

Xie An bertanya, “Dewa Bela Diri?”

Xiang Shu mengamati sekelilingnya, berlumuran darah. Dia bernapas sejenak, menatap Chen Xing yang berada dalam pelukannya.

“Sialan,” kata Xiang Shu.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments