Penerjemah : rusmaxyz
Proofreader : Jeffery Liu


“Ini benar-benar… benar-benar terlalu berat bagiku untuk menerimanya,” kata Chen Xing saat dia akhirnya menenangkan diri. “Mereka awalnya ada di pihak kita?! Xiang Shu! Xiang Shu!”

Xiang Shu berdiri di atas tembok kota, mengejar jiao biru di sekitar pinggiran kota saat ia berjuang terbang di udara, memuntahkan darah hitam busuk ke bumi di bawah. Langit berangsur-angsur menjadi lebih cerah, dan secercah fajar muncul di cakrawala, membentang ke arah kota.

“Apa?!” Xiang Shu mengangkat pedang panjangnya, berputar ke atas kubah sambil berteriak dari kejauhan, “Jangan gunakan Cahaya Hati lagi! Itu terlalu berbahaya bagimu!”

“Itu Xin Yuanping!” Chen Xing berteriak. “Jiao biru itu adalah Xin Yuanping!”

“Siapa Xin Yuanping?” Feng Qianjun mendekati jiao itu ketika dia mendengar teriakan Chen Xing, dan dia mengangkat kepalanya untuk membalas sebagai tanggapan.

“Dia pengusir setan!” Chen Xing berdiri di pelataran di lantai tiga rumah pejabat saat dia memanggil orang-orang di bawah.

Xiang Shu berteriak, “Bagaimana kita menyingkirkannya? Apakah kau punya ide?”

Chen Xing: “Ah! Aku tidak punya! Aku baru saja memberitahumu asal-usulnya!”

“Lalu apa gunanya?!” Xiang Shu bertanya, muak. Tepat ketika dia akan menyusulnya, dia diganggu oleh Chen Xing, jadi dia hanya bisa berbalik sekali lagi dan terus mengejarnya saat dia berlari di sepanjang dinding.

Jiao biru itu sepertinya merasakan bahwa Xiang Shu tidak akan menjadi lawan yang mudah, jadi dia terus menghindari petarung utama mereka. Chen Xing mengamati dengan penuh perhatian, dan dia memperhatikan bahwa naga jiao  yaitu Xin Yuanping sudah berubah menjadi tidak bisa mengendalikan gerakannya sendiri dengan baik dan meronta-ronta kesakitan. Wen Zhe mengendarai kepalanya dengan satu tangan, yang terus memberikan kebencian, dengan kuat menekan kepala jiao biru itu, mengarahkan jalur penerbangannya melalui kota.

Pasukan Jin datang dan mengatur diri mereka sendiri di tembok kota, masing-masing dari mereka memasang panah kuat yang mengarah langsung ke jiao biru yang menari di udara. Bi Hun, pejabat militer, memanjat tempat yang terlalu tinggi dengan stik genderang di tangannya, matanya mengamati dengan cermat jalan yang diambil jiao biru. Tak lama kemudian, Xiang Shu bersiul.

Bi Hun mengumpulkan energinya, dan dia mengayunkan satu stik genderang ke arah genderang besar di atas dinding, yang bergema dengan suara “dong” yang mengguncang bumi.

Pasukan Jin melepaskan apa yang tampak seperti puluhan ribu anak panah sekaligus, semuanya mengikuti rantai di belakang mereka, terbang menuju jiao biru di langit!

Chen Xing segera mengalihkan semua perhatiannya ke tempat kejadian, menyalakan Cahaya Hati-nya. Saat Xiang Shu merasakan kekuatan Cahaya Hati, dia berteriak, “Jangan gunakan!”

Chen Xing: “Cepat! Aku masih bisa melakukannya sebentar lagi!”

Xiang Shu menggertakkan giginya dan menjentikkan pedang panjang di tangannya, mengubahnya menjadi busur besar. Dengan kilatan cahaya, meteor panah yang bersinar terbang menuju ke kepala jiao. Setelah melihatnya, ekspresi Wen Zhe berubah, dan jiao biru terbalik di udara untuk menghindari pukulan penting pada sisik terbaliknya. Tapi panah itu melewati bangkai jiao  dalam sekejap, terbang ke langit di luar.

Ada raungan liar dan serak, dan darah busuk di tubuh jiao biru meledak menjadi kabut beracun di langit. Segera setelah itu, Feng Qianjun melompat ke atap di dalam kota, menyapu pedangnya secara horizontal. Xiao Shan melompat beberapa kali, melompat ke bagian datar pedang, dan Feng Qianjun berteriak dengan marah, “Pergi!”

Xiao Shan berubah menjadi bayangan cepat, terbang menuju kepala jiao, membalik tepat di atas kepala Wen Zhe dengan serangan cakar dari Cangqiong Yilie. Dalam sekejap, tanduk jiao yang patah muncul di tangan Wen Zhe, menusuk ke arah Xiao Shan saat dia dengan marah berteriak, “Bahkan jika aku mati, aku harus …..”

Tapi pada saat itu juga, telunjuk dan jari tengah di tangan kiri dan kanan Xiang Shu bersatu, menarik ke belakang dalam gerakan ‘Returning Wind Landing Geese’ 1, dan panah cahaya yang terbang menjauh ke kejauhan berbalik, kembali dengan “shua“, langsung mematahkan lengan Wen Zhe dengan kekuatan tumbukannya!

Wen Zhe menjerit sedih saat cakar Xiao Shan tanpa ampun menusuk bahunya, menariknya dari jiao biru, dan dia jatuh ke tanah di bawah.  Jiao biru melepaskan diri dari ikatan kebenciannya, dan dengan teriakan panjang, ia dengan keras menghancurkan rumah-rumah di bawahnya berkeping-keping sebelum terbang, menghilang ke kejauhan.

Chen Xing menyingkirkan Cahaya Hati-nya, hanya untuk merasakan rasa sakit di dadanya seperti dia tidak bisa bernapas dengan benar. Sial, pikirnya; dia sudah menggunakan semua mana di Cahaya Hati saat dia memurnikan Lonceng Luohun sebelumnya.

“Jangan gunakan lagi!” Xiang Shu berteriak ke atas.

Xiang Shu, Feng Qianjun, dan Xiao Shan mendarat di jalan utama kota.

Wen Zhe jatuh dengan keras. Saat berjuang untuk bangkit, bagian atas dari jubah brokat merah panjangnya robek, memperlihatkan dada datar dan pucat.

Feng Qianjun: “Laki-laki… laki-laki?! Kau laki-laki?!”

Feng Qianjun sama sekali tidak mengharapkannya; Pemilik Bank Dongzhe yang sudah berpuluh-puluh tahun sebenarnya adalah seorang pria yang menyamar sebagai seorang wanita!

Lengan Wen Zhe patah, tapi tidak ada darah yang keluar dari tunggulnya. Dia tertawa dingin saat dia perlahan berdiri, mencibir, “Jika tidak seperti ini, lalu kenapa, dalam sekian dekade, aku tidak akan membiarkan siapa pun berada cukup dekat untuk melihat tubuhku?”

Xiang Shu menjawab dengan marah, “Cukup! Aku tidak peduli siapa kau! Tepatnya berapa banyak orang yang sudah kau bunuh?!”

“Orang-orang biasa di Tanah Suci sudah diselamatkan nyawanya oleh kami!” Wen Zhe tiba-tiba mengangkat suaranya dan dengan keras berteriak, “Dan bagaimana orang-orang biasa yang bodoh itu menghadiahi kami?! Mereka tidak melakukannya! Liu Heng 2, bajingan yang tidak tahu terima kasih itu, setelah dia mengetahui bahwa Xin Yuanping diracuni oleh jiao, dia menenggelamkannya ke dasar sungai! Aku ingin balas dendam! aku ingin—“

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, sisa lengan Wen Zhe berubah menjadi cakar tulang yang aneh saat dia melompat dengan suara “shua” – ke arah Xiang Shu, berteriak dengan liar, “Balas dendam pada bajingan tidak tahu berterima kasih ini!”

Feng Qianjun dan Xiao Shan tidak bisa memblokir Wen Zhe tepat waktu, dan Wen Zhe mendarat di depan Xiang Shu. Tapi kecepatan Xiang Shu lebih cepat dari Wen Zhe, dan dengan ayunan pedangnya, dia mematahkan tulang rusuk Wen Zhe. Seperti layang-layang dengan tali yang putus, tubuh Wen Zhe terbang menuju dinding sebuah rumah, menabraknya dan mengirimkan batu bata dan ubin ke segala arah.

Dengan tawa dingin, Wen Zhe keluar dari reruntuhan.

“Aku juga dulu… Dewa Pelindung dari Pengusir Setan yang Agung.” Seluruh tubuh Wen Zhe dengan cepat pulih, dan bahkan lengan yang sudah dipatahkan oleh panah cahaya itu secara bertahap tumbuh lagi. Dia berkata perlahan, “Dengan Keheningan yang menimpa semua Sihir, kau pada akhirnya dibatasi oleh daging dan darahmu, tapi Shi Hai telah memberiku kekuatan Dewa Iblis …”

Xiang Shu tidak menunggu sampai Wen Zhe selesai saat dia mengiris lagi, berkata, “Kenapa kau tidak menyerang dengan itu?!”

Xiang Shu tidak mendapatkan bantuan Cahaya Hati, tapi hanya dengan pedangnya sendiri, dia berhasil menghancurkan Wen Zhe dan rumah-rumah di belakangnya menjadi beberapa bagian! Wen Zhe dengan liar berteriak saat kedua tangannya berubah menjadi cakar tulang yang bergegas menuju Xiang Shu. Tapi dalam amarahnya, Xiang Shu seperti badai, dan keganasannya membuatnya mendapatkan keuntungan mutlak. Dia begitu kuat sehingga dia dengan mudah menekan keterampilan Wen Zhe saat mereka bertarung.

Wen Zhe adalah Dewa Bela Diri Pelindung dari ratusan tahun yang lalu, namun di depan Xiang Shu dia tidak memiliki kemampuan untuk membalas pukulan itu. Dia dengan marah berteriak, “Kenapa kau  …”

Wen Zhe akhirnya mulai merasa takut, dan dia melepaskan diri untuk melarikan diri, tapi pada saat ini Feng Qianjun dan Xiao Shan mengapitnya di kiri dan di kanan, mengelilingi Wen Zhe sepenuhnya. Akhirnya, dia tidak tahan lagi dan melepaskan kebencian di tubuhnya saat dia berbalik dan berteriak dengan marah, “Kalau begitu ayo kita binasa bersama!”

Dengan kata-kata itu, Wen Zhe berputar udara, tubuhnya dipenuhi dengan kebencian hitam pekat, dan dia melompat ke arah Xiang Shu! Tapi saat mereka bertukar pandang, Xiang Shu mencabut pedangnya, dan kepala WenZhe dihancurkan oleh pukulan Xiang Shu saat tubuhnya menabrak beberapa dinding.

“Kita tidak bisa terus seperti ini!” Kata Feng Qianjun. “Orang ini tidak bisa dibunuh! Kita membutuhkan bantuan Chen Xing!”

Xiang Shu melihat ke arah pelataran, di mana Chen Xing memperhatikan seluruh pertarungan. Dia menyandarkan seluruh tubuhnya di pagar, dengan gemetar mengulurkan tangan, dan menggunakan sisa energinya untuk menyalakan Cahaya Hati.

“Jangan khawatirkan aku!” Chen Xing berteriak. “Murnikan dia!”

Pedang itu meledak dengan cahaya terang. Alis Xiang Shu berkerut dalam. Dengan raungan yang menyakitkan dan menggelegar, Wen Zhe bangkit kembali dan mengangkat tangannya, matanya dipenuhi kebingungan saat dia berbalik ke arah tontonan ini.

“Kalian… juga tidak akan mendapat… akhir yang bagus,” Wen Zhe bergumam. “Cepat atau lambat, akan ada hari di mana kau menemukan bahwa semua yang kau padamkan dalam hidupmu hanyalah … lelucon.”

“Enyahlah!” Xiang Shu berkata dengan dingin.

Pedang itu jatuh, dan area itu meledak dengan cahaya putih yang menyilaukan. Dengan teriakan, Wen Zhe berubah menjadi abu di bawah cahaya yang menyala-nyala itu.

Chen Xing berpegangan pada pagar pada pelataran itu; dia tidak memiliki energi yang tersisa, dan dia berlutut. Tiba-tiba, suara sepatu bot logam yang menginjak kayu terdengar dari belakang. Wu Qi dan Zheng Lun berbalik sebagai tanggapan.

Zheng Lun bertanya, “Chen-daren, apakah mereka juga temanmu?”

Chen Xing menahan gejolak darah dan qi di dadanya saat dia perlahan berbalik. Dia menekan punggungnya ke pagar, dan kakinya tergelincir di lantai ketika dia melihat tiga raja iblis kekeringan, mengenakan setelan lengkap baju besi hitam, berjalan ke lantai tiga rumah pejabat itu.

“Kalian… cepat… pergi.” Tetesan darah segar mengalir dari sudut mulut Chen Xing saat dia bergumam, “Xiang Shu, Xiang Shu…”

Ketiga raja iblis kekeringan itu secara bersamaan menarik pedang mereka, tapi Wu Qi dan Zheng Lun memposisikan diri di depan Chen Xing, tidak mau melarikan diri. Wu Qi dengan marah menegur, “Kejahatan yao tanpa kehormatan, dunia tidak akan membiarkan kejahatan menang melawan kebaikan! Enyahlah!”

Saat Wen Zhe berubah menjadi abu, Xiang Shu menghela napas lega, tapi saat dia mengangkat kepalanya dan mengangkat tangannya untuk melambai ke arah pelatara , dia melihat darah segar menyembur keluar dari pelataran di lantai tiga rumah pejabat itu, dan dia membeku beberapa saat.

Punggung Chen Xing berada di pagar, dan di atasnya siluet raja iblis kekeringan menjulang.

Chen Xing sudah tidak tahan lagi, jadi dia menggertakkan giginya saat dia bersandar ke pagar dan menutup matanya dengan erat. Detik berikutnya, teriakan keras Xiang Shu datang dari belakang, dan tanpa disadari, meridian Chen Xing mulai mengirimkan kekuatan tak terkendali ke Cahaya Hati.

Perasaan itu sangat aneh. Sebelumnya, setiap Chen Xing menggunakan Cahaya Hati, dia sengaja melakukannya, dan Cahaya menyala sebagai tanggapan atas niatnya. Tapi sekarang, pada saat ini, melayang di tebing kehidupan dan kematian, Xiang Shu seolah-olah memaksanya untuk mencabut cahaya dari Cahaya Hati. Cahaya terang itu lebih kuat dari sebelumnya!

Segera setelah itu, di jalan panjang lebih dari seratus langkah jauhnya, Xiang Shu sedikit melengkungkan tubuhnya dengan Pedang Acala di tangan saat dia berubah menjadi dewa perang yang mengenakan jubah bela diri emas seputih salju dan berlapis emas. Pedang Acala mengeluarkan suara “weng” saat itu berubah menjadi siluet samar dari keenam senjata sihir.

Dengan suara keras, Xiang Shu terbang di udara seperti komet emas dengan ekor yang cemerlang, meratakan semua rintangan saat dia melesat ke arah titik tertinggi dari istana pejabat.

Chen Xing hanya merasa seluruh tubuhnya bermandikan gelombang kecerahan hangat, dan perjalanan waktu sepertinya melambat. Raja iblis kekeringan mencabut pedang mereka, tapi mereka melambat saat bergerak untuk menebasnya, sampai gerakan mereka terhenti.

Dengan cahaya seterang matahari, Xiang Shu bergegas ke pelataran itu, enam senjata magisnya muncul sekaligus untuk membombardir tiga raja iblis kekeringan. Helm Sima Yi terlepas, Sima Liang memblokir dengan putus asa, dan lengan baju besi Sima Ying patah.

Chen Xing membuka matanya lebar-lebar, dan di matanya terpantul siluet emas yang bersinar di punggung Xiang Shu – itu persis sama dengan hari ketika mereka melawan Feng Qianyi di Aula Bantalan Cahaya! Kekuatan Dewa Bela Diri Pelindung tampaknya diaktifkan dalam kondisi misterius tertentu, Chen Xing tidak memiliki waktu untuk memikirkan secara detail saat Xiang Shu melangkah ke pelataran, menempatkan dirinya di depan Chen Xing. Mengangkat tangannya, dia memanggil senjatanya, dan enam senjata magis yang berasal dari Pedang Acala berputar di sekitar tubuhnya dalam putaran lambat.

“Aku sudah muak dengan kalian semua,” kata Xiang Shu dingin.

Raja-raja iblis kekeringan menyadari bahwa orang di depan mereka pasti bukan musuh yang bisa mereka kalahkan, jadi mereka semua berubah menjadi api hitam, terbang untuk melarikan diri, tapi Xiang Shu dengan marah berteriak, “Pengecut! Kau masih ingin melarikan diri?!”

Setelah itu, senjata melebur menjadi cincin emas, yang terbang dengan “weng”, menghalangi jalan keluar dari api hitam. Xiang Shu kemudian menarik tangannya kembali, dan cahaya keemasan menghilang saat senjata kembali ke tangannya, sekali lagi berubah menjadi busur besar, dan satu panah yang terbuat dari cahaya menembus bola api hitam.

Api hitam sekali lagi berubah menjadi raja iblis kekeringan, jatuh ke tanah, dan busur di tangan Xiang Shu menjadi pedang, menyapu busur ke arah mereka!

Api emas meledak, menelan tiga raja iblis kekeringan dalam sekejap dan menghancurkan setengah dari kediaman pejabat saat itu berubah menjadi badai yang meledak keluar. Cahaya keemasan berkumpul di tubuh Xiang Shu sebelum menghilang.

“Ah … bagus.”

“Chen Xing? Chen Xing! Xing’er! Xing’er–!”

Kegelapan berenang di depan mata Chen Xing, dan dia tidak tahu lagi apa-apa lagi.

Dini hari, Chang’an, saat para pejabat memasuki pengadilan.

Wang Ziye berjalan di depan semua pejabat, tersenyum dengan tenang dan berbasa-basi, dan dia menoleh ke samping untuk melirik Murong Chong yang baru saja kembali ke pengadilan. Dia tersenyum pada Murong Chong dan menganggukkan kepalanya.

Wajah Murong Chong tetap dingin dan masam, jelas tidak ingin membalas salam Wang Ziye.

Tiba-tiba, Wang Ziye menghentikan langkahnya, senyumnya membeku di wajahnya saat dia berbalik untuk melihat ke selatan.

“Wang-daren?” seorang pejabat sipil bertanya dari belakang.

Wajah Wang Ziye pucat pasi, dan tatapan bingung muncul di matanya.

Murong Chong berjalan ke arah kepala pejabat militer, dan dia melirik ke arah Wang Ziye dengan rasa ingin tahu sebelum membuat isyarat “silakan”, menunjukkan bahwa dia harus pergi dulu.

Wang Ziye tiba-tiba tampak khawatir, dan saat dia mengangkat kakinya untuk menaiki tangga ke aula, dia benar-benar terpeleset dan tersandung di tangga.

“Wang-daren!”

“Wang-daren, hati-hati!”

Wang Ziye menyeka keringatnya dan nyaris tidak bisa mengangguk sebagai jawaban.

Saat itu siang hari, dan di dalam istana kekaisaran Qin diskusi berlanjut tentang proposal untuk memulai ekspedisi selatan. Saat dia duduk di atas takhta, Fu Jian hampir tertidur, tapi anggota pengadilan tiba-tiba menyadari sesuatu – gagasan ekspedisi selatan tidak lain dipelopori oleh Wang Ziye, tapi kenapa pikirannya tampaknya di tempat lain hari ini?

Tidak hanya Wang Ziye, tapi baru-baru ini, bahkan ekspresi Fu Jian pun tidak terlihat benar. Murong Chong, bagaimanapun, menentang ekspedisi selatan, dan justru karena masalah inilah dia bergegas kembali dari Luoyang ke Chang’an 3. Hari itu, berbagai pejabat mengemukakan beberapa alasan untuk tidak memulai ekspedisi selatan, dan Fu Jian tidak merasa kesal melainkan hanya melambaikan tangannya, berkata, “Zhen mengerti. Sesi pengadilan ini sudah selesai.”

“Pejabat ini memiliki peninjauan,” Murong Chong tidak membiarkan Fu Jian membubarkan pengadilan dan berkata, “Apakah Yang Mulia ingin mendengarkan?”

Wang Ziye akhirnya menyadari bahwa dia memiliki lawan, dan dia mengangkat kepalanya dari kekacauan pengadilan ini untuk menemui tatapan Murong Chong.

Fu Jian dengan santai berkata, “Jika kamu ingin mengatakannya, maka Zhen akan mendengarkan.”

Tapi Murong Chong menjawab, “Saya hanya akan mengatakannya jika Anda Yang Mulia bersedia mendengarkan.”

Salah satu senyuman langka Fu Jian muncul, mengubah suasana pengadilan menjadi sedikit lebih bersahabat. “Katakan.” Fu Jian akhirnya berkata.

Murong Chong berkata, “Yang Mulia telah bekerja keras akhir-akhir ini, dan saya membayangkan banyak dari kita telah menyaksikan ini. Karena mereka telah mengusulkan ekspedisi selatan ini untuk memusnahkan Jin, maka mereka pasti telah mempertimbangkannya dengan hati-hati. Sebagai gantinya, mereka telah ragu-ragu dalam keputusan mereka dan harus menerima hak mereka di masa depan.”

Suara Murong Chong terdengar jelas melalui lingkaran yang sunyi. “Sebelum kembali ke Chang’an, pejabat ini percaya bahwa Yang Mulia telah mengambil keputusan, tetapi hari ini, tampaknya masih ada jarak yang harus ditempuh sebelum sebuah konsensus. Apa yang telah didiskusikan oleh para pejabat terhormat ini, apakah pasukan harus dikirim, saya membayangkan bahwa Yang Mulia telah lama memutuskan …”

“Tidak.” Fu Jian melambaikan tangannya, akhirnya membiarkan pandangannya menyapu para pejabat yang berkumpul sebelum kembali ke Murong Chong, dan akhirnya pandangannya mendarat pada wajah Wang Ziye. “Zhen telah ragu-ragu, bukan tentang masalah pengiriman pasukan; sangat penting bahwa ekspedisi selatan merebut kembali wilayah Zhen yang hilang, dan tidak ada yang perlu diragukan di sini. Zhen sedang mempertimbangkan apakah ada metode berbeda untuk mengumpulkan prajurit untuk ekspedisi selatan.”

Murong Chong mengangkat alisnya dan bertanya, “Metode apa?”

Fu Jian berkata, “Kesempatannya belum matang. Ketika waktunya tepat, Wang Ziye secara alami akan memberi tahu semua orang. Pengadilan dibubarkan. Chong’er, sebentar lagi kamu harus datang ke istana untuk melihat Yan’er, dia hampir seperti adik laki-laki sejati bagi adik perempuanmu ketika dia masih hidup.”

Dahi Murong Chong berkerut.

Bawah tanah yang suram, di Istana Huanmo.

“Apa yang kau lindungi,” suara itu berkata dengan dingin, “Akan selalu ada yang mengkhianatimu suatu hari nanti. Hari ini, tanganmu sendiri baru saja menggali kuburmu sendiri …”

Chen Xing sekali lagi melihat pemandangan di Istana Huanmo, dari hati raksasa yang tergantung di tengah istana bawah tanah, arteri dan vena memanjang ke Vena Bumi di sekelilingnya, menghisap energi.

Tiba-tiba, Chen Xing bangun, terengah-engah di kamar yang diterangi matahari.

Xiang Shu, yang sudah mengawasinya dari samping, segera mengangkat kepalanya dan menatap Chen Xing. Chen Xing diam-diam balas menatapnya sebelum menundukkan kepalanya untuk melihat dulu tubuhnya, lalu ke sekelilingnya.

Dia tidak tahu kapan, tapi pakaiannya sudah berubah menjadi jubah satin yang sederhana, dan seseorang sudah menyelipkannya di bawah selimut. Ruangan itu dipenuhi dengan bau obat-obatan 4, dan ada kompor kecil di samping tempat tidur, di mana aroma beberapa tanaman obat keluar.

“Dimana ini?” Chen Xing bertanya dengan lemah. “Ay, sudah berapa lama aku tidur? Ini benar-benar nyaman.”

Xiang Shu menatap tertegun pada Chen Xing, sebelum berbalik beberapa saat kemudian dan menyapu keluar ruangan. “Dia bangun!” Suara Xiang Shu terdengar sedikit gemetar. “Dia bangun!”

Segera setelah itu, Xiao Shan masuk terlebih dulu, dan dengan teriakan nyaring, dia menerkam Chen Xing.

Chen Xing: “Xiao Shan?”

Xie Daoyun dan Gu Qing juga dengan cepat datang, dan Gu Qing berkata, “Aku akan memberitahu Feng-dage.”

Xie Daoyun duduk untuk memeriksa denyut nadi Chen Xing, dan Chen Xing berkata, “Aku merasa ketika aku menggunakan Cahaya Hati, aku mungkin terlalu sering menggunakannya secara berlebihan dan merusak meridianku … Aku sudah tidur beberapa hari, huh?”

Semua orang di ruangan itu memperhatikan Chen Xing tanpa berbicara. Xiang Shu menatapnya sebentar sebelum dia menoleh dan mondar-mandir sedikit di dalam ruangan, sebelum melihat lagi ke arah Chen Xing. Bibirnya terus bergetar, dan sudut matanya agak merah.

“Baiklah” kata Xie Daoyun. “Selama kau terjaga maka tidak ada masalah. Kau harus istirahat sebentar dulu.”

Chen Xing dengan lembut menyentuh perutnya dan menjawab, “Aku sedikit lapar.”

Xie Daoyun melirik Xiang Shu, berkata, “Aku sudah selesai, sekarang giliranmu.”

Xiao Shan bergegas mencari makanan, dan dia menyerahkannya pada Chen Xing, yang mengeluh, “Tidak bisakah kau membiarkan pasien makan sesuatu yang lebih mudah untuk ditelan? Xiang Shu? Ada apa?”

Xiang Shu menghela napas, sedikit kewalahan. Dia tersenyum lemah dan berkata, “Bangun … selama kau bangun, itu bagus, terima kasih kepada langit dan bumi…”

“Berapa lama aku tidur?” Chen Xing hanya merasa kepalanya sakit.

“Tiga bulan,” kata Xiao Shan.

Chen Xing: “…”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Sebuah gerakan seni bela diri dari novel wuxia
  2. Juga dikenal sebagai Kaisar Wen dari Han, yang memerintah dari tahun 203 hingga 157 SM.
  3. Hampir 400km; seekor kuda bisa berjalan antara 50-100 km sehari.
  4. Jika kalian tidak tahu seperti apa baunya, itu seperti bagian dalam salah satu toko obat/apotek Cina dengan semua bahan kering.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments