Penerjemah : Keiyuki17
Editor : Jeffery Liu


Pertempuran ini dengan mudah bisa disebut puncak dari kehidupan Xiang Shu. Seorang pria, sendirian, menantang 60.000 pria; itu sebanding dengan Dewa Bela Diri yang tidak terkalahkan yang sudah menyerang sendiri sebanyak tujuh kali melewati barisan musuh1 di medan perang kuno Dangyang hampir dua ratus tahun yang lalu. Tidak peduli berapa banyak yang sudah dia bunuh, kavaleri Rouran terus berdatangan, dan Xiang Shu, yang sudah bertempur sendirian, kehilangan kekuatannya. Saat dia mendengar kata-kata Chen Xing “Kau tidak bisa mengalahkan semuanya, lari saja!” dia merasa seperti ada seteguk darah di dalam dadanya. Bertentangan dari maksud asli kata–kata itu, dia justru merasa lebih bersemangat. Dia tidak takut mati dan sekali lagi pergi ke dasar tebing!

Chen Xing memanjat dengan kedua tangan dan kakinya, dan dari bawah, dia bisa melihat Xiao Shan mencoba membongkar pilar batu; seluruh tubuhnya melompat-lompat di atas cakarnya, dan dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menginjaknya. Tapi kemudian, Che Luofeng mengambil pedangnya dan mengarahkannya langsung ke arah Chen Xing yang masih memanjat! Chen Xing tidak berani untuk berteriak, karena khawatir hal itu akan mengganggu Xiang Shu, jadi dia tidak punya pilihan selain menggertakkan gigi dan berayun di tebing.

Che Luofeng menggerutu karena marah: “Anjing Han, waktunya kematianmu…”

Kemudian pilar batu di pelataran jatuh dan menghantam pinggang Che Luofeng.

Sebelum Chen Xing bisa melihat dengan jelas apa yang sudah terjadi, dia merasa sesuatu muncul di depan matanya. Dia melihat Che Luofeng dengan lengan terbuka dan pilar batu yang mengikuti di belakangnya langsung terbang menuju ke arahnya. Wajah Che Luofeng tampak ganas saat dia melewati Chen Xing.

Chen Xing: “???”

Chen Xing segera mendongak dan berteriak: “Xiao ——”

Dia belum menyelesaikan perkataannya saat ribuan jin pilar batu menyeret rantai besi itu ke bawah dan woosh! —— Chen Xing juga ditarik ke bawah dan terbang langsung ke dasar tebing! Chen Xing merasa tarikan yang tiba-tiba itu pasti sudah mengubah ekspresi wajahnya.

Chen Xing: “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA——”

Tangan kanan Xiang Shu gemetaran karena kelelahan, jadi dia memindahkan pedangnya ke tangan kirinya. Saat dia baru akan mendesak kudanya untuk pergi ke atas gunung, dia melihat pilar batu berguling dari belakang prajurit Rouran. Tanah bergetar saat pilar itu menyeret Chen Xing yang dirantai menuruni tebing!

“Berhati-hatilah terhadap batu yang jatuh…” Chen Xing, yang terseret oleh rantai seperti layang-layang yang melayang tertiup angin, berteriak dari kejauhan.

Zhou Zhen, yang memimpin prajurit, tiba-tiba menoleh hanya untuk melihat batu besar berguling dan menghancurkan hampir sepuluh ribu kavaleri Rouran. Pergantian kejadian ini sama sekali tidak bagus, jadi dia dengan cepat mengelak untuk menghindari pilar besar yang jatuh dari puncak gunung. Xiao Shan segera mengejarnya, dan Sima Wei, dengan baju besi hitam menutupi seluruh tubuhnya, bergegas turun dari atas untuk mengejarnya. Putus asa, Sima Wei melepaskan dan melemparkan perisai hitamnya. Perisai itu tampak berputar-putar saat terbang, sejajar sempurna dengan kaki Chen Xing.2

“AAAAAAAAAA——” Lidah Chen Xing hampir terbang tertiup angin.3 Dengan pilar yang masih menyeretnya menuruni bukit, dia menginjak perisai dan mulai bermain ski, meluncur ke bawah: geser ke kiri, hindari ke kanan —— semua tubuhnya masih diborgol. Pilar itu menghancurkan apa pun yang ditemuinya, dan tidak ada cukup waktu bagi kavaleri Rouran untuk menghindarinya. Persis seperti penggilas adonan, pilar itu meratakan para penunggang dan kuda mereka berubah menjadi pancake daging.

Xiang Shu: “…”

Chen Xing merasa pusing untuk sesaat dan terus berganti arah sementara Xiao Shan terus berusaha menjatuhkan dirinya padanya beberapa kali. Untungnya, tidak hanya dia tidak jatuh, dia bahkan berhasil menstabilkan dirinya. Disibukkan dengan menghindar, Zhou Zhen tiba-tiba sejenak lupa bahwa Xiang Shu masih ada di sana. Karena panik, dia bergegas ke ngarai. Xiang Shu sekali lagi menaiki kudanya dan mengejar Zhou Zhen.

Zhou Zhen mengubah arah kudanya dan bertatap muka dengan Xiang Shu.

“Cahaya Hati!” Xiang Shu meraung.

Chen Xing linglung karena semua penyeretan ini, dan dia terus melihat bintang-bintang di depan matanya. Saat dia mendengar teriakan Xiang Shu, dia secara naluriah menyalakan Cahaya Hati.

Cahaya terang dari Cahaya Hati menyala di dalam ngarai yang gelap. Xiang Shu mengangkat pedangnya dan menunjuk ke arah cakrawala. Dari situ, cahaya putih meledak dan menyapu sekelilingnya; bilah pedang bersinar terang, setiap karakter dari Sembilan Suku Kata Tao muncul di atasnya secara berurutan——

——Mata Zhou Zhen terbuka lebar. Saat dia bertemu dengan silau pedang Xiang Shu, dia mengangkat tangannya untuk menghalangi cahaya.

“Kembalilah ke mana pun kau berasal,” suara Xiang Shu terdengar di telinganya. Kemudian, pedang itu membelahnya. Di tengah jeritan nyaringnya, Zhou Zhen tiba-tiba meledak menjadi debu yang berkilauan sebelum tersebar ke segala arah.

Sementara itu, pilar batu yang menyeret Chen Xing berguling ke dalam hutan sebelum menabrak batu besar —— pilar itu segera hancur menjadi hampir sepuluh bagian.

Sepanjang jalan, setiap kali Chen Xing tidak terhalang oleh cabang, dia meluncur di salju. Dia hampir jatuh ke samping tapi berhasil menginjak perisai lagi dan menghindari bahaya, tiba-tiba berhenti tanpa cedera sedikit pun. Kemudian, dia menendang perisai itu dan menangkapnya dengan tangannya.4 Tangannya masih terikat oleh rantai besi dan sekarang dia terikat pada sebuah pilar batu besar yang beratnya masih sekitar 60 atau 70 jin; seluruh wajahnya menjadi pucat, dan dia terengah-engah.

Saat akhirnya Xiang Shu menyusul Chen Xing, dia tiba-tiba meraih tangannya. Dia berlumuran darah hitam dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mereka berdua tidak mengatakan apa pun.

“Kau… kau…” Chen Xing melihat Xiang Shu dan tidak tahu harus mengatakan apa.

“Aku, aku apa?” Xiang Shu meraih pergelangan tangan Chen Xing dan tidak melepaskannya —— tanpa sadar sedikit menyakitinya. Melihat sekelilingnya, dia hanya bisa melihat kekacauan di mana-mana. Sebagian besar kavaleri Rouran sudah diurus oleh Iuppiter Chen Xing dan sekarang berkumpul kembali dengan panik. Dia dengan cepat berkata: “Sekarang bukan waktunya untuk bicara, ayo pergi!”

Chen Xing: “Xiao Shan…”

Xiang Shu: “Dia bisa melindungi dirinya sendiri.”

Chen Xing juga berpikir bahwa kecepatan Xiao Shan memang sangat luar biasa. Karena Sima Wei tidak bisa menangkapnya, Xiao Shan seharusnya bisa melindungi hidupnya sendiri tanpa banyak kesulitan. Sekarang, yang paling penting adalah dia tidak boleh jatuh ke tangan musuh dan menjadi sandera lagi, atau itu hanya akan membuat Xiao Shan dan Xiang Shu lebih dirugikan.

Chen Xing berlari sampai kehabisan napas. Di kedalaman hutan, sebuah gua muncul.

“Ah!” Chen Xing baru akan mengatakan “Bagus!” saat Xiang Shu menekan kepalanya ke bawah dan memberi isyarat agar dia tidak berbicara. Keduanya masuk ke dalam.

Gua itu hitam pekat, dan tertutup oleh embun beku. Chen Xing menerangi area kecil dengan Cahaya Hati.

“Kenapa hanya kalian berdua?” Tanya Chen Xing.

Xiang Shu: “Aku tidak membiarkan Xiao Shan datang! Dia mengikutiku! Apa aku sendiri tidak cukup untuk menyelamatkanmu?”

Xiang Shu sangat marah pada Xiao Shan. Saat itu, dia sudah siap untuk menyelamatkan Chen Xing, tapi Xiao Shan terus mengikutinya. Jadi, Xiang Shu harus mengubah rencana. Dia menantang musuh secara langsung untuk mengalihkan perhatian mereka sementara Xiao Shan mendaki puncak untuk menyelamatkan Chen Xing dengan tenang. Hasil akhirnya: Xiao Shan naik, menjadi liar, dan pada akhirnya membuat kekacauan besar.

“Bagaimana dengan Karakorum?” Tanya Chen Xing.

“Tempat itu dijaga.” Xiang Shu berjalan ke depan, satu tangan membawa batu besar dan menarik rantai di sepanjang jalan. Dia dengan waspada melihat sekeliling, mengawasi penyerangan yang tiba-tiba.

Chen Xing akhirnya tenang. Dia mengerutkan kening dan berkata: “Kau mengambil terlalu banyak risiko. Kau datang ke sini sendirian?”

Xiang Shu: “Aku tidak ingin orang-orangku mengambil risiko atau bahkan kehilangan nyawa mereka hanya karena mereka mengikutiku untuk menyelamatkanmu. Kau punya masalah dengan itu?”

Chen Xing merasa sedikit bersalah saat mendengar hal ini, dan dia tidak tahu kenapa, tapi dia merasa sangat sesak saat melihat Xiang Shu. Jika sejak awal aku tidak membantu mempertahankan kota untuk orang-orangmu, apa aku akan ditangkap? Tapi ini hanyalah pemikiran yang lewat. Melihat baju besi Xiang Shu yang berlumuran dengan darah hitam dan rambutnya yang acak-acakan, dia lebih terlihat seperti hantu yang merangkak langsung dari dunia bawah —— itu membuat Chen Xing sedikit tidak nyaman.

Dia ingin menjawabnya dengan: “Lalu kenapa kau masih datang?”, tapi dia dengan samar memilih sesuatu yang lain dari kata-kata Xiang Shu. Perasaan itu sama seperti saat seseorang memetik senar; itu mengeluarkan vibrato yang nyaris tidak terdengar dan sulit dibedakan. Dia ingin mendengarkan dengan penuh perhatian, hanya untuk menemukan bahwa suara guqin sudah lama hilang dan yang tersisa hanyalah gema —— perasaan yang mirip dengan perasaan yang muncul saat seseorang merasakan ilusi dari cinta yang timbal balik.

Mereka bedua terdiam selama beberapa saat.

“Apa kau merasa lebih baik?” Tanya Xiang Shu dengan kasar.

“Apa?” Chen Xing bingung. “Aku selalu baik-baik saja.”

“Omong kosong!” Xiang Shu berbalik dan berkata dengan marah, “Kau muntah darah!”

Chen Xing kemudian menyadari bahwa Xiang Shu sedang berbicara tentang saat dimana dia pingsan karena dia sudah menghabiskan kekuatan jantungnya untuk Cahaya Hati. Dia merasa seolah-olah sudah ditampar dengan keras, jadi dia buru-buru berkata, “Bukan apa-apa. Itu hanya karena saat itu, aku sudah menggunakan kekuatan Cahaya Hati secara berlebihan, itu membuatku tidak bisa bernapas untuk sementara waktu… Ayo pergi ah! Atau kau akan memukulku sekarang?”

Xiang Shu membawa batu besar itu dan menyeret rantainya. Dua orang itu berjalan menuju ke bagian gua yang berangin dan dalam waktu kurang dari seperempat jam, mereka melihat cahaya. Mereka tiba-tiba memasuki jurang yang luas di jantung Pegunungan Yin.

Jurang ini memiliki senjata dan baju besi yang tersebar di mana-mana. Chen Xing bergumam, “Di mana ini?”

“Lubang para pendosa.” Xiang Shu melihat ke sekeliling. Dia melihat bahwa jurang itu berbentuk bulan setengah; dikelilingi oleh beberapa puncak dan di kejauhan, ada hutan lebat yang tertutupi salju. Dia berkata: “Di dalam Perjanjian Chi Le, orang-orang yang telah melakukan kejahatan tidak diberikan penguburan langit dan sebagai gantinya harus dikuburkan. Di sinilah mereka semua dimakamkan.”

Chen Xing melihat ke arah langit. Langit begitu mendung sehingga dia bahkan tidak bisa membedakan antara timur, barat, selatan, dan utara. Bagaimana mereka bisa meninggalkan gunung? Sementara dia merenungkannya, suara batu yang jatuh ke tanah tiba-tiba datang dari samping. Xiang Shu mendukung dirinya sendiri dengan pedangnya saat dia sedikit terengah-engah. Jelas bahwa pertempuran sudah merugikannya, dan dia tidak bisa berjalan lagi.

Chen Xing buru-buru menyuruh Xiang Shu duduk dan melepaskan baju besinya. Ada noda darah di dalam dan di luar, dan bahkan pakaian di dalam baju besi kulit sudah dibasahi oleh darah ungu dan hitam.

“Berapa banyak yang kau kalahkan?” Chen Xing mengingat pemandangan yang menakjubkan itu.

“Aku tidak tahu.” Xiang Shu bersandar di pohon besar dengan mata tertutup saat dia menjawab dengan dingin, “Tidak ada waktu untuk menghitungnya. Bantu aku melepaskan baju besiku.”

Xiang Shu mengenakan baju besi Tiele yang berat. Tidak lama setelah dia memasuki ngarai, kuda perang itu tidak bisa menahan lebih banyak anak panah. Baju besi ini terbuat dari baja yang diperkeras oleh pengrajin Tiele dan Rouran. Baju besi itu berubah bentuk karena semua panah dan pedang, tapi masih melindungi tubuhnya dengan baik.

Chen Xing membuka baju besi di bagian dada Xiang Shu. Xiang Shu menarik napas dalam-dalam dan terengah-engah.

“Istirahatlah,” Xiang Shu duduk di bawah pohon dan dengan punggung bersandar di batangnya, dia menutup matanya lalu berkata, “Guwang terlalu lelah, terlalu lelah…”

Chen Xing masih dirantai, dan dengan susah payah, dia melepaskan jubahnya untuk menutupi tubuh bagian atas Xiang Shu. Melihat wajah Xiang Shu yang lelah dan berlumuran darah, dia pikir bahwa Xiang Shu masih sangat tampan. Dia tidak bisa membantunya tapi ingin menjangkau dan menyentuh wajah Xiang Shu. Pada saat itulah, pikirannya melahirkan sebuah ide, seakan-akan mendesaknya melakukan sesuatu untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya pada Xiang Shu.

“Seberapa jauh dari Karakorum ke sini?” Kata Chen Xing.

“Sehari semalam,” jawab Xiang Shu.

Chen Xing berpikir: Apa kau datang untuk menyelamatkanku segera setelah aku tertangkap?

“Kau ingin sesuatu untuk dimakan ma?” Chen Xing bertanya sekali lagi, “Apa kau lapar?”

“Memakan apa?” Xiang Shu dengan acuh tak acuh berkata, “Bisakah kau mencarikan sesuatu untuk kumakan? Memakan apa? Kau pikir berapa banyak liang5 daging yang kau miliki?”

Chen Xing harus menghentikan topik pembicaraan ini.

Napas Xiang Shu menjadi stabil, dan dia tidak lagi berbicara, jelas sedang tertidur. Chen Xing duduk di sampingnya, sedikit bersandar padanya. Sekelilingnya tenang; satu-satunya suara yang bisa dia dengar adalah desiran angin yang melewati pegunungan dan hutan. Pada saat itu, seolah-olah semua bahaya sudah menjauhkan diri dari mereka, dan di seluruh dunia, hanya ada salju yang tenang dan pegunungan yang tinggi.

Maafkan aku, kata Chen Xing di dalam hatinya.

Jika aku tidak secara sepihak menjadikanmu Pelindungku, aku tidak akan membuatmu menanggung begitu banyak masalah ba. Chen Xing menghela napas dalam hatinya, tapi mengenai masalah ini, dia sangat bingung. Sesekali, Chen Xing memperlakukan Xiang Shu sebagai harapan terakhirnya, karena saat dia diculik, Xiang Shu sudah berjuang keras dan mempertaruhkan nyawanya untuknya.

Chen Xing hanya bersandar sedikit padanya, tapi Xiang Shu, dengan mata yang masih tertutup, mengangkat lengannya dan melingkarkannya di bahu Chen Xing, menariknya sedikit lebih dekat ke dirinya sendiri. Tindakan ini sepertinya membuat Chen Xing dipenuhi dengan keberanian tanpa akhir, sesaat rasa frustrasinya menghilang seperti asap di udara yang tipis.

Chen Xing perlahan bersandar. Mengistirahatkan kepalanya di tubuh Xiang Shu, dia melihat ke kuburan terpencil di depannya.

“Apa?” Kata Xiang Shu tiba-tiba.

“Apa?” Tanya Chen Xing dengan kosong.

“Cahaya Hati,” kata Xiang Shu dengan singkat.

Chen Xing berkata, “Cahaya Hati? Tapi aku tidak menggunakannya.”

Xiang Shu membuka matanya dan berkata dengan ragu: “Aku merasakannya. Ini seperti seluruh tubuhmu bersinar.”

“Aku?” Chen Xing mengangkat kepalanya, tapi Xiang Shu menekannya sehingga kepalanya masih menempel di tubuhnya. Bersandar padanya, Chen Xing merasa lebih baik, tapi dia tidak tahu kenapa.

“Apa kau melihat Che Luofeng?” Xiang Shu mengubah topik pembicaraan dan bertanya.

En,” Chen Xing memberi gambaran kasar tentang kejadian itu. Xiang Shu mengerutkan keningnya dan berkata, “Zhou Zhen menjadi mayat hidup tidak lama setelah kematiannya dan begitu pula Youduo. Di mana mereka bersembunyi selama ini?”

Ini juga adalah poin yang paling membuat Chen Xing bingung. Jika qi spiritual dunia masih ada, mereka mungkin bisa bertanya pada para yao yang bisa ditemukan di mana-mana di pegunungan atau wilayah lain.

“Apa yang akan kau lakukan pada Che Luofeng?” Tanya Chen Xing.

“Aku akan membawanya kembali,” kata Xiang Shu dengan suara rendah, “atau menghabisinya di sini. Ini adalah salahku.”

Chen Xing awalnya ingin mengatakan bahwa kau tidak boleh menyerahkan tanggung jawab menjaga Chi Le Chuan pada Che Luofeng, tapi apa gunanya mengatakan itu sekarang? Selain itu, memikirkan keadaan pada saat itu, bahkan jika Xiang Shu tidak menyerahkan tanggung jawab pada Anda-nya, jika Che Luofeng mengambil alih Chi Le Chuan dan membunuh orang, tetap tidak akan ada seorang pun yang bisa menaklukkannya. Keputusan Xiang Shu untuk meninggalkan Chi Le Chuan adalah kesalahan, dan kesalahan ini disebabkan oleh Chen Xing sendiri.

“Sebelum aku pergi, dia berjanji padaku,” gumam Xiang Shu, “bahwa dia tidak akan membalas dendam pada Akele dan bahwa dia akan melindungi Chi Le Chuan untukku. Malam itu, dikelilingi oleh kepala klan, kami berdua mencapai sebuah kesepakatan.”

Chen Xing tiba-tiba teringat pada malam saat Raja Akele menunggu di luar tendanya dan menawarkan untuk membawanya ke utara. Raja Akele pasti juga merasa bahwa pertengkaran antara Xiang Shu dan Che Luofeng tidak ada habisnya. Dia tidak ingin menyeret seluruh Chi Le Chuan ke dalam bahaya karena dirinya sendiri, dan juga tidak ingin Chanyu yang Agung meninggalkan seluruh Chi Le Chuan demi Akele, jadi dia pergi tanpa izin di tengah perdebatan dan datang untuk membantu Chen Xing sendiri.

“Che Luofeng bukan orang seperti itu. Beberapa kata yang diucapkan olehnya hanya karena dia membiarkan emosinya menguasai dirinya di tengah panasnya suasana saat itu. Begitu dia tenang, dia akhirnya akan mendapatkan gambaran besarnya. Itu Zhou Zhen dan Shi Hai…” Xiang Shu bergumam, “Itu adalah obat yang diberikan Shi Hai yang mengubah temperamennya.”

“Lupakan,” kata Chen Xing, merasa sedikit tidak nyaman.

Xiang Shu berkata, “Apa kau bisa menyelamatkannya lagi?”

Chen Xing menjawab, “Itu sulit untuk dikatakan. Jika qi spiritual dari langit dan bumi masih ada, aku bisa mencoba untuk menghilangkan pengaruh dari darah Dewa Iblis.”

Xiang Shu: “Tidak mungkin baginya untuk dimaafkan. Aku hanya ingin dia mendapatkan kembali martabatnya dan kemudian mati.”

“Untuk kejahatan apa?” Sebuah suara serak berkata, “Shulü Kong, orang yang harus meminta maaf adalah kau.”

Chen Xing tiba-tiba mendongak. Xiang Shu bagaimanapun, sepertinya tahu bahwa Che Luofeng akan datang. Dia dengan santai menepuk Chen Xing, mengisyaratkan agar dia bangun, sebelum dia sendiri berdiri, menggunakan pedangnya untuk mendapat dukungan. “Jatuhkan, jelaskan dirimu.”

Che Luofeng sudah dipukul hingga tidak bisa dikenali. Saat dia jatuh dari tebing, kepalanya terbentur hingga penyok, baju besi dan pakaian di sekujur tubuhnya robek menjadi compang-camping, dan salah satu tangannya patah dan tergantung bebas di sisinya.

Mata Che Luofeng terbuka lebar, menatap Xiang Shu. “Anda-ku, kau harus ingat konsekuensi dari menarik kembali kata-katamu.”

“Jangan menjauh satu zhang pun dari pohon ini.” Xiang Shu mengangkat pedangnya dan perlahan menjauh dari Chen Xing. Bagian atas tubuhnya telanjang, menunjukkan bekas luka yang tertinggal pada waktu itu di Chang’an belum lama ini di mana dia sudah memblokir anak panah untuk Chen Xing. Tubuh bagian bawahnya masih ditutupi dengan baju besi. Dia memegang pedang secara horizontal, menghalangi jalan Che Luofeng.

Ada suara kecil datang dari segala arah —— kebencian yang kuat menyebar dengan tenang di kuburan kuno ini.

Sima Yue muncul dari dalam hutan. Memegang tongkat tanduk, dia berdiri di tempat tinggi, menghadap ke tiga orang pria yang ada di pemakaman.

Chen Xing mengangkat kepalanya untuk melihat Sima Yue, memperhatikan bahwa tongkat tanduk itu menimbulkan kebencian di sekitarnya. Setelah beberapa saat, kebencian itu tumbuh dengan cepat, dan semua kebencian di luar Tembok Besar bergegas ke dalam pemakaman, mengalir ke jurang seperti air mengalir!

“Sima Yue!” Chen Xing berkata dengan suara yang dalam, “Biarkan tuanmu keluar dan berbicara!”

“Pengusir setan,” Sima Yue, berdiri di atas mereka, berkata dengan suara yang acuh tak acuh dan dingin. “Kau akan segera bertemu dengannya. Aku akan memberimu kesempatan: Menyerahlah pada perlawananmu dan ikut denganku. Dengan begitu, secara alami kau akan memiliki kesempatan untuk menanyakan segalanya.”

Saat itu, Chen Xing memiliki sebuah ide: Jika aku berpura-pura kalah dan tertangkap, apa yang akan terjadi? Jelas bahwa kedua mayat hidup yang dibangkitkan ini yang disebut dengan “Raja Iblis Kekeringan” sudah menerima perintah dari atasan mereka untuk menangkapnya hidup-hidup.

Tapi Chen Xing segera menyerah pada ide itu. Shi Hai ingin bertemu dengannya, jadi mereka akan membuatnya tetap hidup, tapi hal yang sama tidak berlaku untuk Xiang Shu. Itu terlalu berisiko untuk dicoba, dan itu benar-benar tidak sepadan.

“Aku tidak tertarik untuk bernegosiasi dengannya.” Chen Xing mengangkat rantainya dan behadapan dengan musuh di tempat yang tinggi. Tidak menunjukkan emosi, bahkan ketakutan sedikit pun, dia berkata, “Kembalilah dan katakan padanya: Misiku adalah memusnahkannya dan mengirimnya kembali ke samsara, ke tempat di mana orang mati seharusnya pergi.”

Sima Yue tertawa serak dan gila. “Kau sendiri? Aku ingin melihat, dengan Keheningan Semua Sihir, apa yang bisa dilakukan pengusir setan yang lemah dan tidak berdaya!”

Saat suaranya jatuh, Sima Yue menancapkan tongkat sihir yang ada di tangannya ke tanah, dan kebencian yang meluap berubah menjadi hiruk-pikuk! Angin dingin menderu di kuburan kuno, seolah-olah sekeliling mereka sudah berubah menjadi dunia bawah!

Saat dia melihat ini, Chen Xing bergumam: “Tidak bagus.” Seperti Cermin Yin Yang dan Genderang Zheng, senjata ajaib ini pernah dimurnikan dengan kebencian! Kebencian pada artefak sihir, ditambah dengan yang disebabkan oleh perang dan pembantaian di Chi Le Chuan, mulai mengaduk vena bumi di tempat yang suram ini. Situasi ini bahkan lebih berbahaya dari yang di Kota Chang’an!

Pada awalnya, dia tidak terlalu memikirkannya karena tidak banyak orang yang tinggal di Chi Le Chuan, dan tidak ada perang berskala besar selama bertahun-tahun. Jadi, meski ada kebencian melayang di sekitarnya, kebencian itu akan menghilang dengan sangat cepat. Namun, apa yang tidak  dia sangka adalah bahwa apa yang paling kurang di Chi Le Chuan jika dibandingkan dengan Kota Chang’an adalah faktor yang paling penting: Orang-orang.

Semakin sedikit jumlah orang yang hidup, yang qi akan menjadi semakin lemah, yang memperlambat pemurnian kebencian yang ditanggung oleh kematian. Sima Yue sudah membawa senjata ajaib ini yang berisi kebencian yang kuat entah dari mana dan sekarang dengan paksa mendesaknya keluar dan melepaskan kekuatannya. Dalam sekejap, awan gelap melonjak di langit, petir berwarna merah darah juga samar-samar terlihat.

Banyak bayangan muncul dari dalam pegunungan, mengelilingi pohon tinggi dan pemakaman kuno.

“Shulü Kong…” Che Luofeng meraung dari dalam awan yang gelap. “Aku sudah memberimu hampir semua yang kumiliki, dan selama ini, aku tidak pernah berhutang apa pun padamu…”

Che Luofeng perlahan muncul dari kebencian yang pekat. Chen Xing melihat sekeliling pemakaman dan menemukan bahwa banyak hewan yang sudah rusak —— rusa, serigala, anjing liar, rubah, burung bangkai… Sekelompok hewan mati dengan tulang putih yang terlihat menakutkan dan mata berlumpur yang menatap mereka saat mereka tertatih-tatih menuju ke pemakaman.

Anda-ku sudah mati,” kata Xiang Shu sambil memegang pedang besarnya. “Monster yang berdiri di depanku bukanlah siapa-siapa.”

Chen Xing memaksa dirinya untuk tenang. Dia bisa melihat bahwa tubuh Che Luofeng yang hancur dan robek, yang mengejutkannya, perlahan-lahan diperbaiki di dalam kebencian yang pekat. Menatap langit yang gelap, dia kemudian mengaktifkan Cahaya Hatinya. Aura yang kental ini mengganggu cahaya di pedang Xiang Shu, meredupkannya.

Kebencian itu begitu berat sehingga menggerogoti kekuatan dari Cahaya Hati setiap menitnya.

“Shulü Kong,” kata Che Luofeng dengan gemetar. “Kau pria yang egois, tidak tahu berterima kasih, dan keji. Aku sudah melihat semua akan dirimu, mati saja kau! Kembalikan semua yang sudah kuberikan padamu!”

Chen Xing berteriak: “Xiang Shu! Jangan terlalu jauh dariku! Mana dari Cahaya Hati sudah melemah!”

Chen Xing bergegas masuk ke dalam medan perang, dan Xiang Shu begerak mundur. Kebencian yang tidak tertandingi menyelimuti Che Luofeng; dia bahkan lebih tidak terekonsiliasi daripada Feng Qianyi. Dia menampakkan cambuk tulang dari tangan kirinya dan menyambar Xiang Shu!


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

Footnotes

  1. Mengacu pada Zhao Zilong selama Pertempuran Changban di Dangyang pada Oktober tahun 208. Itu adalah peristiwa terkenal selama Era Tiga Kerajaan, di mana dia menyerang tujuh kali ke arah kamp Cao Cao untuk menyelamatkan putra Liu Bei.
  2. Bayangkan seorang pria dari anime jatuh, mulutnya membuat bentuk huruf O sambil berteriak… ya, seperti itu.
  3. Seperti bagaimana orang menginjak skateboard mereka sehingga skateboard itu melompat dan kemudian mereka meraihnya di udara dengan tangan mereka.
  4. 1 liang = 1/16 jin = 31.25gr
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments