Penerjemah : Jeffery Liu
Editor : Keiyuki17


Malapetaka memang datang dengan ganas dan tanpa peringatan. Menurut penduduk Chi Le Chuan, tiga hari setelah kepergian Xiang Shu, pasukan mayat hidup muncul entah dari mana dan menerobos Chi Le Chuan.

Awalnya, seperti yang diperintahkan Chanyu yang Agung, semua orang sudah memperkuat penjagaan mereka. Mereka berpatroli di semua tempat, membuat sekeliling menjadi terang benderang, dan juga melepaskan banyak elang untuk menyelidiki pergerakan di sekitar area tersebut.

Namun, peristiwa yang tidak terduga masih terjadi, dan terlebih lagi, itu dimulai dari dalam Chi Le Chuan. Petunjuk informasi pertama datang dari sudut timur laut Gunung Yin. Awalnya setiap kepala klan masih menganggap itu hanya perkelahian antar suku, namun gangguan semakin membesar. Keributan itu menjadi di luar kendali, dan seluruh Chi Le Chuan berada dalam kekacauan. Mayat hidup muncul di malam hari dan dengan gila menggerogoti semua tempat.

Di malam yang gelap gulita, orang-orang bahkan tidak bisa melihat jari mereka ketika mereka mencoba mengulurkan tangan. Semua kepala klan takut melukai rakyatnya sendiri, jadi mereka tidak punya pilihan selain mundur lagi dan lagi. Mereka mengatur garis pertahanan, tapi mereka dengan sangat cepat dijatuhkan. Tapi kemudian, sekelompok mayat hidup lainnya, yang sebelumnya menunjukkan permusuhan pada mereka, menyerbu ke dalam kamp. Dipimpin oleh Youduo, mereka meninggalkan orang-orang yang masih hidup dan malah bertarung dengan kelompok mayat hidup pertama, yang pertama kali muncul di malam hari.

“Youduo…” gumam Chen Xing, “Ya, Youduo di sini untuk balas dendam.”

Chen Xing gemetar ketakutan ketika mendengar keseluruhan cerita itu, dan dari kata-kata pembicara, dia bisa menebak betapa kacau dan putus asanya situasi saat itu.

Tiele, Gaoche, Xiongnu, Lushui, Jie Utara1, Wuheng, dan para pemimpin Hu lainnya berkumpul bersama di samping api unggun di ruang terbuka, masing-masing tampak serius. Lingkungan mereka gelap, dan semua orang berjaga-jaga seperti pembela yang berani, tidak mengatakan sepatah kata pun, menunggu Xiang Shu membuat keputusan.

“Apa yang ada di sudut timur laut?” Chen Xing memiliki firasat bahwa sejak kekacauan dimulai dari kamp di dalam Chi Le Chuan, pasti ada hubungannya dengan Hu yang tinggal di sana.

“Perkemahan Rouran,” bisik Xiang Shu.

Sebelum Xiang Shu pergi, dia sudah meminta Che Luofeng untuk bertindak atas namanya sebagai Chanyu yang Agung, namun mayat hidup pertama kali muncul di kamp Rouran. Selama seluruh proses jatuhnya Chi Le Chuan, Che Luofeng tidak pernah muncul. Setelah malam yang mengguncang semua orang sampai ke puncaknya, semua kepala Hu akhirnya mengumpulkan para prajurit yang kalah, mundur dari dataran rendah Gunung Yin, dan membakar rumah mereka sendiri, tidak mempedulikan perbekalan dan harta benda sama sekali.

Jadi, api membakar Chi Le Chuan sampai habis ke tanah, dan hampir 240.000 Hu dari berbagai ras dievakuasi dengan tergesa-gesa dan melarikan diri lebih dalam ke Gunung Yin. Beberapa hari kemudian, mayat hidup kembali, kali ini menghalangi pintu masuk ke ngarai dalam upaya untuk menjebak mereka di dalam.

“Pemimpin mereka adalah Youduo?” Chen Xing bertanya.

Berdasarkan informasi yang terfragmentasi, dia menyimpulkan bahwa klan Rouran Youduo dan Che Luofeng memiliki perseteruan darah di masa lalu. Kerusuhan dimulai di wilayah Rouran, dan sangat mungkin Youduo menerobos ke sana lebih dulu.

Kepala Wuheng berkata pada Chen Xing dalam bahasa Xianbei: “Tidak, permaisuri Akele berkata bahwa dia melihat Che Luofeng dan Zhou Zhen, dan juga Youduo. Dia ingin tetap tinggal sehingga dia bisa membalas dendam untuk putra tertuanya.”

Chen Xing: “…”

Xiang Shu: “!!!”

Xiang Shu mengangkat kepalanya dari api unggun dan memberikan pandangan yang menyiratkan betapa mustahilnya hal itu pada kepala suku Wuheng. Dia langsung ditegur oleh seseorang dan disuruh untuk tidak berbicara omong kosong. Para kepala suku duduk di sekitar api unggun, dan Chen Xing jelas melihat ketidakpercayaan di wajah mereka. Kepercayaan mereka pada Chanyu yang Agung, Xiang Shu, melemah, dan dari sikap mereka, jelaslah bahwa mereka mengira jika semua ini ada hubungannya dengan Chen Xing. Pertama, Xiang Shu, setelah menjadi Chanyu yang Agung, hilang beberapa kali. Selanjutnya, dia sudah menyerahkan tanggung jawab yang begitu penting pada Che Luofeng, yang jelas tidak mampu melayani rakyat, dan kemudian bergegas ke Utara tanpa memberi penjelasan apapun.

Bahkan jika itu tidak ada hubungannya dengan Chen Xing, Che Luofeng adalah saudara angkat Xiang Shu. Fakta bahwa dia tidak muncul selama seluruh kejadian sudah menyebabkan ketidakpuasan besar di Chi Le Chuan.

“Chanyu yang Agung!” Kepala suku Wuheng berkata, “Apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak punya makanan, dan orang-orang hanya bisa menggali salju untuk menekan rasa lapar mereka.”

“Rumah kami hancur,” kata kepala suku Gaoche, “dan kita bahkan tidak tahu lokasi pelakunya. Bagaimana kita bisa membalas dendam?!”

“Ini tidak masuk akal!” seseorang berkata.

Dan kemudian, kerumunan menjadi gempar. Xiang Shu menarik napas dalam-dalam, alisnya berkerut, dan dia tiba-tiba bangkit. Chen Xing merasa bahwa saat ini satu-satunya perhatian Xiang Shu adalah memimpin sekelompok orang keluar dari ngarai untuk menemukan Che Luofeng.

“Semuanya, tolong kembali dan beristirahatlah,” Chen Xing melihat sekeliling. Dia tahu bahwa dia harus mengatakan sesuatu dan membiarkan Xiang Shu tenang dulu, jadi dia dengan cepat menjelaskan, “Besok pagi, Chanyu yang Agung akan memberikan penjelasan kepada semua orang.”

“Apa posisimu?” Kepala suku Lushui dengan kasar berkata, “Apa kualifikasi yang kau miliki untuk berbicara untuk Chanyu yang Agung?”

Semua orang tiba-tiba menatapnya dengan penuh arti, dan ketua Tiele berkata: “Dia adalah Dokter Ilahi! Apa kau tidak mengenalinya?”

Saat itu suasana sangat gelap di malam hari, dan seluruh tubuh Chen Xing tertutup debu, jadi kepala suku Lushui tidak mengenalinya pada awalnya. Setelah menyadari siapa Chen Xing, dia tidak terus bertanya. Bagaimanapun, Chen Xing sudah merawat pasien dan menyelamatkan nyawa di Chi Le Chuan selama beberapa bulan dan cukup terkenal. Martabat Xiang Shu juga masih ada, dan setelah menunggu selama berhari-hari, tidak perlu bagi mereka untuk terburu-buru.

Semua orang segera bubar, Xiang Shu dan Chen Xing kembali ke kamp Tiele. Sepanjang jalan, mereka melewati banyak pasang mata Hu yang mencari jawaban. Xiang Shu tidak berani melihat mereka. Sejak dia menjadi Chanyu yang Agung, ini adalah pertama kalinya dia menghadapi insiden yang begitu serius.

“Kenapa Cahaya Hati tidak berfungsi?” Xiang Shu bertanya pada Chen Xing.

Chen Xing berkata: “Tanyakan pada dirimu sendiri! Lepaskan tanganku! Shulü Kong!”

Chen Xing berjuang beberapa kali mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari pegangan Xiang Shu. Xiang Shu berkata dengan sikap mengancam: “Jelaskan padaku!”

Chen Xing tidak menyerah dan malah menatap Xiang Shu. Matanya memberikan perasaan yang bermartabat; itu tiba-tiba mengejutkan Xiang Shu dan membuatnya melepaskan tangannya.

“Hanya ada balas dendam di hatimu,” kata Chen Xing, “Karena hatimu diliputi oleh kebencian, kau tidak bisa merasakan Cahaya Hatiku.”

Kata-kata Chen Xing seperti tamparan di wajahnya yang membuatnya tiba-tiba terbangun. Sejak kembali ke Chi Le Chuan, dia hanya melihat kehancuran di depan matanya. Lokasi klannya tidak diketahui, dan hidup atau mati mereka semua juga tidak diketahui. Dia sangat terperangkap dalam rasa bersalah dan kebencian. Dengan amarah yang memenuhi pikirannya, dia tidak bisa bernalar sama sekali dan hanya ingin memotong-motong siapa pun yang sudah menyerang Chi Le Chuan.

Matanya penuh dengan kesedihan dan kemarahan, dan dia dibutakan oleh niat membunuh. Tentu saja, dengan cara itu, dia tidak akan bisa beresonansi dengan Cahaya Hati milik Chen Xing.

“Ketika kau melihat kemalangan yang menimpa orang-orangmu, kebencian memenuhi seluruh pikiranmu,” Chen Xing mengerutkan kening sangat dalam dan menegurnya. “Aku juga sudah melihat mayat orang-orangku tergeletak di mana-mana, tapi pernahkah kau melihatku mencoba membalas dendam pada siapa pun? Orang yang mati akan tetap mati, hal terpenting yang harus kau khawatirkan sekarang adalah bagaimana melindungi yang hidup! Masa kini adalah yang paling penting!”

“Aku tahu,” Xiang Shu menarik napas dalam dan menutup matanya.

Chen Xing berkata: “Sekarang adalah waktu paling berbahaya bagi Chi Le Chuan .. Kalau kau membiarkan emosi menguasai dirimu lagi, kau tidak perlu memberikan penjelasan apa pun besok pagi karena aku khawatir semua orang akan dimakamkan di sini.”

Xiang Shu mengangkat tangannya yang sedikit gemetar, memberi isyarat pada Chen Xing bahwa dia tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.

Sesaat kemudian, Xiang Shu akhirnya kembali tenang.

Chen Xing: “Adapun rencana hari ini, kita harus …”

Xiang Shu berkata: “Ini benar-benar bukan ide yang bagus untuk mengirim pengintai untuk menemukan cara lain untuk meninggalkan gunung. Saat fajar, ikut denganku; kita akan memimpin regu dan mencoba menemukan jalan yang berbeda.”

Chen Xing mengangguk setuju. Lebih dari 200.000 orang bersembunyi di sini dan harus dipindahkan secepat mungkin. Hal terpenting untuk saat ini adalah nyawa anggota klan.

Kepala suku Tiele datang, dia adalah seorang pria bernama Shimokun, namanya berarti ‘Suara Anak Panah’. Dia adalah seorang pejuang yang dibesarkan oleh Chanyu yang Agung sebelumnya, ayah Xiang Shu. Dia berusia 40-an; dia sangat bisa diandalkan dan juga dihormati oleh seluruh klan. Keluarga Shulü adalah bagian dari klan Tiele, tapi sejak dia menjadi Chanyu yang Agung, Xiang Shu tidak lagi mengatur urusan klannya sendiri dan menyerahkan semuanya pada Shimokun.

Shimokun tidak menyembunyikan appaun dari Chen Xing saat dia memberi tahu Xiang Shu: “Shulü Kong, Anda, Che Luofeng, membantai semua orang Akele; muda, tua, dan bahkan bayi tidak dilepaskan. Bawahannya dan prajurit, Zhou Zhen, dibangkitkan dan menjadi mayat hidup yao. Kerusuhan ini semuanya disebabkan oleh Che Luofeng. Hari ini, semua kepala suku ada di sini; aku tidak bisa untuk tidak mengatakan bahwa kau harus memberi kami penjelasan.”

Chen Xing: “!!!”

Tangan Xiang Shu sedikit gemetar, dan dia memberi isyarat agar Chen Xing tidak menyela. Terlalu banyak yang telah terjadi hari ini, dan kabar buruk datang satu demi satu.

“Apa kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri?” Alis Xiang Shu berkerut kencang. Dibandingkan dengan pemandangan menyedihkan yang dia lihat ketika dia pertama kali kembali ke Chi Le Chuan, informasi ini memukulnya lebih keras, secara tak terduga membuatnya sedikit goyah.

“Aku mendengarnya,” kata Shimokun, “Saat kami mengevakuasi Chi Le Chuan, klan kami dan Akele bergerak di belakang. Ada banyak orang yang melihat Che Luofeng dan Zhou Zhen, berdampingan mengejar dan membunuh Akele. Mereka menangkap dan membawa pergi pangeran kecil Akele, dan Permaisuri memimpin orang-orang untuk menyerang mereka kembali.”

Pada saat ini, sebuah tangan terulur dari samping dan menarik Chen Xing ke bawah. Chen Xing menoleh dan melihat bahwa itu adalah Xiao Shan.

Xiao Shan sedang berjongkok di tanah. Dia tiba-tiba mengeluarkan sepotong kue yang datang entah dari mana dan menyerahkannya pada Chen Xing, memintanya untuk memakannya.

Xiang Shu menarik napas dalam-dalam dan menatap Chen Xing. Chen Xing mengangguk, tahu bahwa dia bermaksud untuk membawa Xiao Shan pergi. Dia segera membawa Xiao Shan bersamanya ke tepi kamp Tiele. Xiao Shan melompat-lompat dan segera melemparkan dirinya ke punggung Chen Xing, seolah anak itu ingin dia menggendongnya. Chen Xing tidak punya pilihan selain menggendongnya.

Che Luofeng, Zhou Zhen… Apa yang harus dilakukan sekarang? Chen Xing melihat ke arah kamp Tiele yang tidak jauh dari situ. Dia melihat Xiang Shu mengikuti Shimokun di dalam kamp utama dan mulai mendiskusikan masalah itu dengan orang-orang Tiele, mencari solusi.

“Siapa yang memberimu makanan?” Chen Xing bertanya pada Xiao Shan, “Bagaimana dengan serigala-serigalanya?”

Xiao Shan menunjuk ke tempat orang orang Xiongnu berkumpul, dan Chen Xing mengerti bahwa makanan itu datang dari sana.

Semua serigala menyebar; masing-masing duduk di bebatuan di puncak Gunung Yin, menempati titik tinggi dan menatap ke kejauhan. Chen Xing mendaki lereng bukit, dan dia melihat bahwa di kejauhan, sekelompok mayat hidup masih belum bubar, dan sebaliknya, mereka membentuk kelompok tiga sampai empat orang di tengah-tengah padang salju, perlahan lahan bergerak masuk. Mereka berada di dekat pintu masuk ngarai tapi tidak terburu-buru menyerang.

“Apa yang mereka tunggu?” Chen Xing mengerutkan kening.

Xiao Shan, duduk di sebelah Chen Xing, baru saja selesai makan kue ketika seekor serigala bermata satu datang. Serigala itu membawa binatang aneh di punggungnya. Binatang itu memiliki kaki belakang yang panjang dan kaki depan yang pendek; seluruh tubuhnya ditutupi rambut berwarna khaki, dan memiliki wajah konyol.

“Apa ini?” Chen Xing memandang dengan rasa ingin tahu pada hewan aneh di punggung serigala itu. Hewan itu mengeluarkan suara nafas beberapa kali, dan Xiao Shan menepuk kepalanya. Chen Xing berkata, “Apakah ini bei2 ma? Di Gunung Yin ada bei?”

Seperti pepatah lama, ‘Serigala dan Bei berkolusi bersama-sama’3,” ada desas-desus bahwa bei adalah binatang yang sangat cerdas, sering memberi nasihat pada serigala tentang cara menyakiti orang-orang; ini adalah pertama kalinya Chen Xing melihat bei hidup.

Bei itu tampak mengeluarkan suara di tanah, seakan ingin mengatakan sesuatu. Xiao Shan mendorong Chen Xing, memberi isyarat padanya untuk mengikutinya.

“Kau menemukan sesuatu, ma?” Chen Xing bertanya.

Ma?” Xiao Shan menjawab.

Xiao Shan kadang-kadang meniru kata-kata Chen Xing, tapi dia tidak tahu apa artinya. Ketika Chen Xing memiliki waktu luang, dia menggunakannya untuk mengajar Xiao Shan. Bagaimanapun, dia harus kembali ke dunia manusia cepat atau lambat.

“Berdiri dan berjalanlah dengan berjalan kaki,” kata Chen Xing, “Berdiri, dan berdiri tegak.”

Xiao Shan selalu suka berjalan menggunakan keempat anggota tubuhnya, dan dengan dua cakar ekstra, dia bisa berlari seperti angin. Dia sedikit tidak mau ketika Chen Xing memintanya untuk berdiri dan berjalan dengan kedua kakinya, tapi karena melalui beberapa pengamatan, dia melihat bahwa semua Hu berjalan tegak, dia dengan enggan berjalan sesuai dengan apa yang diminta Chen Xing.

Chen Xing awalnya ingin kembali ke Chi Le Chuan, memberi Xiao Shan beberapa pakaian, dan kemudian memandikannya, tapi karena situasi saat ini, tidak ada kesempatan seperti itu.

“Apa yang ada di sini?” Chen Xing dibawa oleh Xiao Shan ke sebuah gua; hanya sedikit embusan angin yang bisa dirasakan di dalam gua ini.

Xiao Shan menggambar beberapa gunung di tanah. Dia pertama kali menunjuk ke sekeliling sebelum menunjuk ke gua dan menggambar stickman ramping di luar pegunungan. Kemudian, dia menggambar garis yang melewati pegunungan dan menuju ke arah stickman itu. Dia mengakhiri baris dengan simbol panah.

“Bagus! Sebuah gua! Gua gunung ini mungkin bisa mengarah keluar!” Chen Xing berseru, “Hebat! Kau sangat pintar!”

Serigala yang membawa bei di punggungnya berjalan keluar dari gua. Xiao Shan melambaikan cakarnya lagi, dan Chen Xing segera mengerti bahwa dia ingin melancarkan serangan diam-diam ke Sima Yue, salah satu jenderal bayangan hitam. Bukan hanya karena sekelompok mayat hidup menyerbu Gunung Carosha di masa lalu, tapi karena itu juga menyebabkan memburuknya kondisi Lu Ying. Meskipun Xiao Shan tidak tahu alasannya, dia bisa merasakan bahwa mayat hidup, para prajurit, dan banyak hal terkait dengan kematian Lu Ying, dan dia ingin balas dendam.

“Tunggu,” kata Chen Xing tegas, “Ayo kita keluarkan semua orang dulu. Ayo pergi.”

Xiao Shan mencoba menerobos gua, tapi Chen Xing berkata: “Jangan membuat masalah! Ikuti aku!”

Maka, dia dengan paksa menyeret Xiao Shan kembali ke kamp Tiele. Chen Xing tiba-tiba menemukan bahwa trik ini sangat nyaman. Pantas saja Xiang Shu suka menyeret atau bahkan langsung membawanya setiap kali dia tidak mau repot-repot menjelaskan.

Suasana di kamp Tiele cukup berat. Ketika Chen Xing bergegas masuk, kerumunan itu seperti tengah membuat keputusan yang sangat sulit. Ekspresi wajah Xiang Shu bahkan lebih jelek.

“Apa yang akan kamu lakukan?” Chen Xing melihat ada makanan di kamp; dia mengambilnya dan memberikannya pada Xiao Shan. Begitu Xiao Shan melihat sesuatu untuk dimakan, dia untuk sementara waktu lupa tentang balas dendam, duduk, dan mulai makan dan minum.

Xiang Shu berkata: “Pada periode kelima jaga malam4, Tiele akan memimpin dan membimbing 16 Hu dari Chi Le Chuan untuk menerobos pengepungan. Kemudian, kami akan menghitung berapa banyak orang yang berhasil melarikan diri. Setelah itu, kami akan mencari tempat untuk orang tua dan muda untuk menetap sebelum mencari Che Luofeng.”

Chen Xing berkata: “Xiao Shan menemukan tempat… Ai! Jangan minum! Itu anggur!”

Xiao Shan sedang memegang kendi tanah liat dan sudah meminum lebih dari setengah anggurnya.

Pada periode kedua jaga malam5, lebih dari 200.000 orang Chi Le Chuan mundur diam-diam melalui gua, tidak membuat suara apapun. Xiang Shu dan Chen Xing berdiri di pintu masuk gua, menutupi bagian belakang. Masing-masing kepala klan menghitung jumlah orang dan mengikuti mereka untuk pergi.

“Setelah meninggalkan Gunung Yin, kita akan pergi ke mana?” Chen Xing berkata, “Melintasi celah?”

“Pergi ke barat laut,” kata Xiang Shu, “Karakorum.”

Chen Xing mengira Xiang Shu akan tetap tinggal sampai orang-orang dievakuasi, lalu menyerbu ke dalam pasukan mayat hidup sendirian dan melacak Che Luofeng, tapi dia tidak melakukannya.

“Ayo pergi,” Xiang Shu menyerahkan Xiao Shan yang mabuk pada Chen Xing.

Chen Xing sedikit terkejut. Xiang Shu menarik napas dalam-dalam, mengerutkan kening, dan berkata: “Kau benar; aku harus bersama orang-orangku sekarang. Aku tidak bisa meninggalkan mereka lagi.”

Saat mereka bergerak menuju kuda, Xiang Shu tiba-tiba berkata: “Siapa yang mengajarimu ini?”

“Apa?” Chen Xing, yang masih memikirkan musuh, berkata begitu saja.

Xiang Shu berkata: “Kau berpikir lebih jernih daripada aku. Daripada bertindak berdasarkan dorongan hati, lebih baik menghargai orang-orang di depanmu.”

Chen Xing tidak bisa menahan senyumannya, berpikir mungkin itu karena dia tidak punya banyak waktu yang tersisa. Selama seseorang tahu bahwa hidup mereka akan segera berakhir, secara alami dia akan lebih memperhatikan masalah di depan mereka.

Tapi dia tidak mengatakan itu dan malah menjawab: “Aku juga tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi kau tahu, mereka semua menaruh harapan padamu. Mereka hanya menderita serangan dari iblis kekeringan dan belum tenang. Jika kita melakukan serangan balik secara gegabah, itu hanya akan lebih berbahaya. Semua orang perlu mengatur napas mereka dulu.”

Semua kuda selesai dibagikan. Chen Xing, Xiang Shu, dan Xiao Shan, ketiganya hanya mendapat satu kuda.

“Aneh,” kata Chen Xing, “Di mana kuda yang ditinggalkan ibumu?”

Sebelumnya di Carosha, setelah kuda itu kabur, Ia tidak pernah kembali. Chen Xing selalu merasa seolah-olah kuda itu ingin membawa mereka ke suatu tempat. Tidak hanya itu, dia cukup terkejut dengan bei yang mengerti sifat manusia itu. Setelah Keheningan dari Semua Sihir, ada banyak suku yao di dunia ini sudah kehilangan kemampuan mereka untuk berbicara, apalagi mengolah tubuh mereka. Meskipun tidak dikatakan bahwa Gunung Yin memiliki banyak yao, pasti masih ada beberapa di antaranya. Mungkin kuda dan bei itu juga adalah yao, dan mereka tahu lebih banyak tentang apa yang sedang terjadi.

Tapi karena situasinya sangat mendesak, mereka tidak punya waktu untuk melacaknya. Xiang Shu, bersama Chen Xing yang menggendong Xiao Shan, menunggangi satu kuda bersama dan mengikuti prajurit. 16 Hu tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk hidup, jadi mereka semua mulai berbaris dengan tergesa-gesa. Kuda dan kereta diberikan pada orang tua, lemah, wanita, dan anak-anak. Mereka mencapai Sungai Xarusgol dalam sehari.

Mereka tiba di Longcheng setelah tiga hari tiga malam, dan Chen Xing sangat kelelahan. Lebih dari 200.000 orang menyerbu ke Karakorum, membuat seluruh kota kuno yang ditinggalkan itu hidup kembali. Hal pertama yang dilakukan Xiang Shu adalah mengirim semua klan, memperkuat tembok kota, mengirim lebih banyak patroli, dan membakar obor sepanjang malam, mengubah Longcheng menjadi benteng militer yang besar.

Para pemburu tersebar di seluruh dataran, mengintai sambil mencoba menyiapkan persediaan untuk musim dingin dan berburu daging hewan untuk memberi makan suku mereka. Xiang Shu tidak banyak bicara selama beberapa hari, yang membuat Chen Xing sedikit khawatir. Pada hari pertama kedatangan mereka di Longcheng, ada sedikit gangguan.

Serigala benar-benar mengepung tembok Longcheng, membuat suku-suku itu sedikit ketakutan. Sepanjang jalan, Chen Xing menjelaskan kepada Hu bahwa serigala-serigala itu adalah penjaga Xiongnu, meyakinkan seluruh suku. Tapi, pada tanggal 22 bulan kedua belas, serigala-serigala itu mulai melolong satu demi satu.

Chen Xing mengikuti Xiao Shan sampai ke tembok kota. Xiao Shan berjongkok di dinding dan berteriak beberapa kali.

Xiang Shu juga datang dan melihat Surai Putih keluar dari kelompok; Surai Putih menatap Xiao Shan, dan mereka saling melolong beberapa kali. Chen Xing tiba-tiba melihat air mata di mata Xiao Shan.

“Mereka akan pergi, bukan?” Chen Xing bertanya pada Xiao Shan.

Xiao Shan tidak tahu kenapa, tapi dia terus mendengar kata ‘pergi’ akhir-akhir ini. Dia mengerti dan mengangguk.

Jadi Surai Putih memimpin para serigala ke utara dan menghilang ke dalam salju.

Xiang Shu berkata: “Serigala juga tahu bahwa dengan tinggal di sini, mereka hanya akan bersaing dengan orang lain untuk mendapatkan makanan, dan tidak ada yang akan bertahan hidup di musim dingin ini.”

Xiongnu keluar satu demi satu untuk mengucapkan selamat tinggal pada serigala bersurai putih yang dianggap sebagai “Dewa Serigala”. Chen Xing berpikir: Xiao Shan, mulai sekarang, kau hanya akan memiliki dirimu sendiri.

“Oke ba, kalau begitu…” Chen Xing berkata, “Xiao Shan, karena semua temanmu sudah pergi, uh … kenapa kita tidak…”

Xiao Shan: “?”

“Mandi?” Chen Xing tidak tahan dengan penampilan Xiao Shan.

“Tidak!” Xiao Shan berteriak, “Tidak! Tidak! Tidak! Pergi! Pergi!”

Kalimat pertama yang dipelajari Xiao Shan adalah “Chen Xing”, yang kedua adalah “Tidak!” Dan yang ketiga adalah “Pergi!”. Setelah itu, Chen Xing berkeliling di seluruh kota dan akhirnya, dengan bantuan keluarga Xiongnu, Tiele, dan Gaoche, dia berhasil menangkap Xiao Shan dan memasukkannya ke dalam pemandian umum yang berisi air panas.

Xiao Shan berteriak, “Tidak! Tidak! Tidak!”, Dan ketika Chen Xing akhirnya menggosoknya, dia mulai berteriak lebih keras.

“Lihat, aku perlu mandi juga!” Chen Xing berkata, “Kau manusia! Bukan binatang! Bahkan hewan pun harus mandi!”

Seluruh tubuh Chen Xing dibasahi oleh Xiao Shan yang berjuang sehingga dia harus masuk sendiri untuk membuatnya lebih mudah untuk mengendalikannya. Pemandian di dalam kediaman sementara Raja Xiongnu di Karakorum berukuran enam chi6 dengan bentuk persegi. Ada kayu bakar yang dibakar di dalam pemandian itu, membuat salju di dalam reservoir yang beku berubah menjadi air panas, yang kemudian bisa digunakan untuk mencuci orang.

Chen Xing mandi bersama Xiao Shan, dan Xiao Shan akhirnya basah kuyup. Dia memecahkan sebuah botol sebelum akhirnya tenang.

“Lihat dirimu!” Chen Xing mengambil pergelangan tangan Xiao Shan, menggosoknya untuk waktu yang lama, lalu berkata: “Sangat kotor!”

Xiao Shan mencondongkan kepalanya ke arah Chen Xing.

Chen Xing: “??”

Rambut Xiao Shan sangat berantakan, lalu suara Xiang Shu terdengar: “Dia ingin kau menjilatnya.”

Tidak peduli apa yang terjadi, Chen Xing tidak ingin menjilat menggunakan mulutnya. Dia ingat bahwa ketika seekor serigala memandikan anaknya, sepertinya dia akan menjilat rambut anaknya; inilah yang dimaksud binatang dengan “jilatan anak sapi”. Chen Xing tidak punya pilihan selain membungkuk dan mengendusnya, menciptakan ilusi seolah-olah dia sudah menjilatnya.

Xiang Shu masuk ke dalam kamar mandi, melepaskan jubah Chanyu yang Agung miliknya, dan memasuki bak mandi, bernapas dengan kelelahan.

“Bagaimana situasinya?” Chen Xing bertanya.

“Para pengintai mendeteksi bahwa mayat hidup sudah dalam perjalanan,” jawab Xiang Shu, “Mereka baru saja menyeberangi Sungai Xarusgol.”

Karena membeku, pasukan mayat hidup akan bergerak lebih lambat, Chen Xing sudah mendengarnya beberapa hari yang lalu dari Tiele. Xiang Shu membuat rencana dan menunda balas dendam; yang paling penting adalah menjaga kehidupan seluruh suku. Bagaimanapun, jika Che Luofeng sudah menjadi anggota pasukan mayat hidup, dia pasti akan kembali.

Chen Xing bisa merasakan suasana hati Xiang Shu sangat tertekan akhir-akhir ini. Jika itu sesuai dengan keinginannya sendiri, dia pasti sudah pergi mencari Che Luofeng sekarang. Tapi sebagai Chanyu yang Agung, adalah tanggung jawab terbesarnya untuk melindungi seluruh Chi Le Chuan.

Chen Xing tidak berani bertanya lebih banyak tentang Che Luofeng. Dia dengan sungguh-sungguh meluruskan rambut Xiao Shan dan hanya berkata: “Kita harus menyingkirkan orang-orang ini sekaligus di luar Longcheng.”

“Ya,” jawab Xiang Shu, “Sejak berdirinya Perjanjian Chi Le, ini adalah bahaya terbesar yang pernah kami hadapi, tapi aku yakin kami bisa melakukannya, karena untungnya, kami memilikimu.”

Chen Xing cukup terkejut mendengar ini dan melirik Xiang Shu.

Xiang Shu membungkuk sedikit dan memberi isyarat pada Chen Xing untuk menggosok bahunya. Chen Xing berkata, “Apa?! Aku?”

“Kau memandikan Xiao Shan, tapi aku tidak?” Xiang Shu bertanya dengan santai dengan mata tertutup.

Chen Xing tidak punya pilihan selain menurunkan Xiao Shan dan membantu Xiang Shu mencuci rambutnya. Xiao Shan membungkus dirinya di punggung Chen Xing, seluruh tubuhnya menempel padanya. Xiang Shu tiba-tiba berbalik dan mendorong Xiao Shan ke dalam air, membuat Chen Xing dan Xiao Shan langsung berteriak bersama.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Untuk klarifikasi, ini berbeda dari Jie yang merupakan salah satu dari Lima Barbarian.
  2. Hewan legendaris yang dikatakan memiliki kaki depan yang pendek dan kaki belakang yang panjang. Perlu merangkak hanya untuk berjalan, karena itu, binatang itu selalu mengendarai serigala.
  3. 狼狈为奸 juga merupakan idiom yang berarti ‘untuk bekerja bergandengan tangan dengan seseorang untuk akhir yang jahat’.
  4. Orang-orang jaman dahulu membagi waktu malam menjadi lima periode, mulai dari pukul 19.00 – 05.00, 五更adalah periode kelima dan periode terakhir, berlangsung dari pukul 03.00 – 05.00.
  5. 二 更 adalah periode kedua, terjadi dari pukul 21.00 – 23.00. Pada periode ketiga [三更merupakan periode ketiga, berlangsung dari pukul 23.00 – 01.00], keempat [四 更 merupakan periode keempat, terjadi pukul 01.00 – 03.00.], dan sampai jam lima dini hari, burung gagak bisa terdengar di sekitar ngarai. Keluarga Tiele adalah yang terakhir pergi.
  6. 1 chi = 23,12 cm.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments