“Begitu Li Jinglong melihat Hongjun, dia berhenti, membeku di tempat.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Peringatan: Penelantaran anak.


Cahaya putih melintas sekali lagi, dan pada bulan ketiga, dengan angin bertiup dan rerumputan yang tumbuh, mereka tiba di Jiangnan1. Hongjun dan Lu Xu melayang-layang di atas tepian yang ditumbuhi dengan pohon willow, menyaksikan ayah Hongjun mengemudikan perahu kecil, sementara Hongjun kecil tengkurap di tepi perahu, melihat ikan di danau.

Ibunya tiba-tiba melambaikan tangan gioknya yang ramping dan memercikkannya ke wajah Hongjun kecil. Hongjun kecil terkejut, sementara ibunya tertawa keras.

Baik Hongjun maupun Lu Xu tidak bisa menahan tawa akan hal itu.

Di tengah guntur dan hujan lebat, di kuil di puncak gunung, jiao hitam terbang, mengambil bentuk Yang Guozhong.

Hongjun dan Lu Xu melihat ke halaman. Yang Guozhong dan Kong Xuan berdiri bersampingan di bawah atap lorong, kepala mereka mendongak untuk melihat hujan.

“Dia bukanlah orang yang memaksa kami untuk pindah.” Hongjun berkomentar.

“Omong-omong, itu aneh,” kata Lu Xu penasaran, mengamati Kong Xuan dan Yang Guozhong. “Kenapa terkadang, ayahmu sepertinya menaruh dendam pada Xie Yu, tapi di lain waktu, mereka tampak seperti teman?”

Hongjun mengerutkan keningnya. “Sudah beberapa tahun sejak itu, mungkin mereka sudah menyelesaikan masalah di antara mereka. Atau dia ditipu oleh Xie Yu … apa kau membencinya?”

Lu Xu menjawab, “Tidak ada ketetapan yang abadi dalam hidup. Kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, semuanya sudah ditentukan sebelumnya, jadi apa gunanya kebencian? Jika aku tidak dikendalikan, orang tuaku tidak akan mati. Sama seperti kau, aku juga membunuh ibu dan ayahku.”

“Tapi orang yang menyebabkan ini semua adalah Xie Yu.” Hongjun berkata dengan sungguh-sungguh.

“Kayu sudah dibangun menjadi perahu. Apa gunanya kebencian?” Lu Xu bertanya. “Tidak masalah, cepat atau lambat, Xie Yu akan mati.”

“Kau sudah melihat masa depan?” tanya Hongjun.

“Aku memiliki keyakinan,” jawab Lu Xu.

Musim semi pergi dan musim gugur tiba. Daun kuning melayang tertiup angin, dan saat pemandangan berubah, Hongjun dengan cepat kembali ke Chang’an bertahun-tahun yang lalu. Dia pada waktu itu sudah bertambah lebih tua, dan dia dengan cepat berlari keluar dari halaman, sambil menoleh ke belakang untuk sesekali melihat.

“Kong Hongjun!” suara ibunya sesekali memanggil dengan keras.

Hongjun kecil mengatakan “ay” sebagai tanggapan untuk itu, sebelum membuat gerakan tangan pada Li Jinglong kecil yang berada di atas dinding. Li Jinglong kecil segera bersembunyi di balik dinding, sementara Hongjun kecil buru-buru melangkah ke petak bunga, menundukkan kepalanya dan berpura-pura memperhatikan cacing tanah.

“Ibu akan keluar sebentar,” kata ibunya sambil merapikan tas bordir di tangannya. “Aku akan menuju ke Pasar Barat untuk menjual barang, apa yang ingin kau makan malam ini?”

“Apa pun tidak masalah,” kata Hongjun kecil, bosan.

“Kenapa kau tidak merengek untuk makan daging baru-baru ini?” Jia Yuze bertanya dengan rasa ingin tahu, bahkan saat dia sendiri berjalan keluar.

“Bagaimana keluargaku begitu miskin saat aku masih kecil?” tanya Hongjun.

Lu Xu menjawab, “Saat aku masih kecil, keluargaku bahkan lebih miskin dari keluargamu.”

Hongjun terbagi antara tawa dan tangis. Sebelumnya, ibunya bahkan harus menyulam barang untuk dijual agar mereka bisa mencari penghasilan, sementara bayangan ayahnya tidak terlihat — dia mungkin pergi bekerja sebagai dokter demi mendapatkan uang untuk mereka.

Gege! Gege!” teriak Hongjun kecil ke arah sisi lain dinding.

Li Jinglong muda menjulurkan kepalanya lagi, bertanya, “Ibumu sudah pergi?”

Sembari mengatakan itu, dia menurunkan tangga tali tak berbentuk. Hongjun kecil memanjat, dan setelahnya mereka bersamaan menyingkirkan tangga itu.

Hongjun dan Lu Xu terbang melewati dinding. Li Jinglong pada waktu itu belum berusia sepuluh tahun, dia membuka kotak makanan dan menyerahkannya pada Hongjun kecil.

“Lihat betapa laparnya dirimu,” kata Lu Xu tanpa ekspresi.

Setelah melihat ini, Hongjun tidak ingin apa pun selain menggali lubang di tanah untuk mengubur dirinya. Dia sungguh terlalu memalukan sebagai seorang anak kecil, tapi Lu Xu menghiburnya, “Saat aku masih kecil, aku juga makan apa pun yang aku bisa. Kami terlalu miskin, jadi aku tidak pernah bisa makan sampai kenyang.”

Hongjun juga tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Dia melihat dirinya yang lebih muda, merasakan sakit hati yang luar biasa.

Setelah mereka makan, Li Jinglong kecil dan Hongjun kecil bermain catur di koridor. Beberapa saat kemudian, Li Jinglong kecil membuka sebuah buku, dan Hongjun kecil mengajarinya meditasi dan beberapa teknik bela diri dasar.

“Kenapa kau selalu bersedih?”

“Karena aku memiliki yaoguai di hatiku.”

“Apa yaoguai di hatimu adalah yao yang pemurung?”

“….”

“Kau bisa sembuh. Yakinlah, andalkan saja gege.”

“Aku tidak bisa sembuh, dan ayah serta ibuku juga tidak bisa menyembuhkannya. Mereka berdebat setiap hari.”

“Apa kau membencinya?” Lu Xu bertanya.

“Aku mencintainya terlalu awal,” kata Hongjun tak berdaya. “Pilihan apa yang kumiliki?”

Hongjun dan Lu Xu duduk bersampingan di atas dinding. Waktu berlalu dalam sekejap, dan sinar matahari mengalir dengan cemerlang. Hongjun perlahan mulai merasakan seutas keakraban, seolah-olah ingatan miliknya perlahan kembali sedikit demi sedikit.

Li Jinglong kecil berada di halaman mengajari Hongjun kecil bagaimana menari pusaran Sogdiana, mereka berdua tertawa dengan apa yang mereka lakukan. Keduanya mendorong dan menarik satu sama lain, bermandikan sinar matahari.

“Apa yang salah sekarang?” tanya Li Jinglong kecil.

Seseorang berteriak memanggil Li Jinglong dari luar, dan Hongjun kecil mundur selangkah, berkata, “Seseorang memanggilmu, pergilah ba.”

“Aku tidak akan pergi.” Li Jinglong kecil menjawab dengan sungguh-sungguh, dan dia tersenyum sambil memandang ke arah Hongjun kecil.

Hongjun kecil sekali lagi terdiam.

Gege akan mengajarimu bermain chuiwan2.” Li Jinglong kecil memegang tongkat kayu, dan dia menendang bola menggunakan tongkat itu hingga bergerak. Di tengah permainan mereka, Jia Yuze kembali, mencarinya ke mana-mana. Hongjun kecil buru-buru memanjat dinding, dan saat mereka mengucapkan selamat tinggal satu sama lain, masing-masing dari mereka bergelantungan di kedua sisi dinding, dengan penuh perhatian memperhatikan pihak lain. Kata-kata Hongjun kecil sekali lagi tak mampu terucap, sebelum dia akhirnya berbalik dan melompat turun, melarikan diri.

Hongjun bertanya tanpa sadar, “Jika ada anak berusia tujuh tahun yang berkata padamu, ada yaoguai di tubuhnya, apa kau akan percaya padanya?”

Lu Xu membeku sesaat. Hongjun sedikit mengernyit dan melanjutkan, “Banyak anak kecil suka mengarang fantasi liar, dan tidak peduli pada siapa mereka menceritakannya, tidak ada yang akan mempercayai mereka, bukan?”

Lu Xu berpikir dalam-dalam sejenak, sebelum menjawab, “Kau pikir dia sudah lama menjadi pion Di Renjie?”

Di sisi lain dinding, Li Jinglong meletakkan tongkat kayu untuk chuiwan, dan berhenti di bawah atap koridor. Dia mengambil sebuah buku, menundukkan kepalanya, dan mulai membacanya.

“Tidak,” kata Hongjun, menggelengkan kepalanya ringan. “Lihat tatapan matanya. Tatapannya bahkan tidak memiliki sedikit pun kepalsuan di dalamnya.”

Lu Xu juga memperhatikan itu. Li Jinglong kecil pada saat itu, ketika dia berbicara dengan Hongjun kecil, selalu tersenyum. Begitu dia melihat Hongjun kecil, dia akan tersenyum, seolah-olah segenap dirinya telah berubah. Tapi setelah Hongjun kecil pergi, Li Jinglong kecil tampaknya masih dalam suasana gembira yang sama, dan begitu dia mendengar suara percakapan dari sisi tetangganya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke atas.

Hongjun tiba-tiba bertanya, “Bisakah kau menemukan kenangan saat aku dan dia pertama kali bertemu?”

“Biarkan aku mencoba,” kata Lu Xu pelan, sebelum menutup matanya dan mengeratkan genggamannya pada tangan Hongjun.

Waktu mengalir melewati mereka. Itu adalah hari di akhir musim gugur; Keluarga Kong Xuan pindah ke rumah baru mereka. Hongjun kecil baru saja turun dari kereta kuda saat Li Jinglong yang berusia sembilan tahun melewati gang belakang, membawa tabung bambu. Di dalam tabung bambu ada suara nyaring serangga, dan sebelum dia berjalan melewati pintu rumahnya, dia tanpa sadar menoleh dan melirik.

Dan Hongjun kecil berdiri di luar kereta kuda, menatap Li Jinglong dengan bodohnya pada saat itu.

Begitu Li Jinglong melihat Hongjun, dia berhenti, membeku di tempat.

Hongjun kecil melihat tabung bambu yang dipegang oleh Li Jinglong, dengan sangat penasaran. Tapi tak satu pun dari mereka membuka mulut untuk berbicara satu sama lain, seolah waktu itu sendiri tampak telah membeku.

Kong Xuan memanggil dari dalam halaman, “Hongjun!”

Hongjun kecil bergegas masuk pada saat itu. Wajah Li Jinglong kecil masih menunjukkan ekspresi terkejut. Hongjun berpikir dalam hati, apa yang membuatmu terkejut?

“Dia terkejut melihat betapa cantiknya dirimu,” kata Lu Xu.

Ini adalah kesadaran Hongjun, dan begitu dia memikirkan hal itu, Lu Xu merasakannya.

Lu Xu menambahkan, “Lihatlah betapa kotor dan berantakannya dia. Biasanya teman-temannya pasti tidak lebih baik darinya.”

“Keluarga Jinglong kaya” Hongjun tersenyum. “Sahabat dan teman bermainnya seharusnya baik-baik saja.”

Meskipun dia mengatakan itu, penampilan dan sikap Hongjun saat dia masih muda pada akhirnya berbeda dari manusia biasa. Dia sendiri juga bisa melihatnya. Dibandingkan dengan Li Jinglong saat ini, Li Jinglong muda sama sekali tidak memiliki ketampanan yang dimilikinya pada waktu sekarang,  penampilannya juga tidak rapi. Dia tampak sedikit nakal, dan terlihat seperti anak yang suka menimbulkan masalah ke mana pun dia pergi.

Ibu Li Jinglong meninggal sangat awal dalam hidupnya, sehingga tidak ada yang mengurus makanan dan pakaiannya. Tidak sampai dia berusia sepuluh tahun lebih dia perlahan-lahan mulai mempelajari cara-cara para pesolek itu, dan kemudian, saat dia memasuki Keprajuritan Longwu untuk menjadi seorang prajurit, dia akhirnya mendapatkan aura heroik dan pesona pengendalian diri yang serius. Saat dia masih muda, dirinya tampak licik, sama sekali tidak tampak seperti anak yang menyenangkan.

“Ini adalah saat kalian berdua pertama kali bertemu,” kata Lu Xu.

“Cukup biasa,” jawab Hongjun pelan. “Tapi karena kita tidak berbicara satu sama lain, itu tidak masuk hitungan.”

“Biarkan aku membantumu mencari lebih banyak lagi,” Lu Xu menawarkan.

Lu Xu memejamkan matanya, dan cahaya itu menyebar. Udara musim gugur segar dan kering, dan itu tidak lama setelah keluarga Kong pindah. Kotak dan benda-benda acak masih saja menumpuk di halaman, tapi Hongjun kecil jelas menjadi bosan, karena dia menggali melalui tumpukan, mencari sesuatu. Dia berhasil menemukan sebuah buku; itu adalah ringkasan yaoguai yang sama yang pernah dia berikan pada Li Jinglong.

Dia berbaring di sana di antara tumpukan pakaian, dan setelah membalik-balik ringkasan untuk sementara waktu, dia tertidur. Saat itulah Li Jinglong kecil memanjat pohon kamper3 di halamannya untuk mengambil sarang burung, dan dia menoleh tanpa sadar hanya untuk melihat Hongjun kecil tengah tertidur lelap di bawah sinar matahari pada musim gugur. Dia lupa semua hal tentang sarang burung, berpegangan pada cabang, dan menjulurkan tubuhnya untuk melihat ke bawah.

Hongjun kecil tertidur lelap. Li Jinglong kecil memperhatikan sebentar, sebelum memanggilnya, “Hei.”

Karena dia tidak mendapatkan jawaban, Li Jinglong kecil melemparkan kerikil ke arahnya, membangunkannya, tapi dia masih tidak mendapat jawaban — Hongjun kecil mengamatinya dengan waspada, sebelum berbalik dan kembali ke dalam.

“Berbicara seperti ini untuk pertama kalinya,” kata Lu Xu, “itu juga sangat biasa.”

Hongjun awalnya percaya bahwa pertemuan pertama mereka di masa muda akan memiliki semacam perasaan takdir, namun dia tidak menyangka bahwa itu akan menjadi biasa saja seperti salah satu hal sepele yang tak terhitung jumlahnya yang terjadi dalam puluhan ribu hari dan malam normal, yang berlalu di salah satu dari banyak dunia ini.

“Bagaimana dengan pertama kali aku berbicara dengannya?” tanya Hongjun.

Lu Xu menjawab, “Tebakanku adalah bahwa itu akan menjadi…”

“Baiklah,” kata Hongjun tanpa daya. “Meskipun itu pasti akan sangat biasa, aku masih ingin melihatnya.”

Cahaya putih melintas, dan itu masih dinding yang sama.

Hongjun kecil mengangkat kepalanya, melihat langit biru di sisi lain dinding — sebuah kunci berat tergantung di pintu masuk kayu menuju halaman.

Hongjun kecil menempelkan telinganya ke pintu, mendengarkan keriuhan di luar. Ekspresinya muram dan sedih, seperti burung yang dikurung.

Dia mendengarkan sebentar, sebelum menarik seutas tali dengan pengait di salah satu ujungnya.

Lu Xu: “…”

Hongjun meletakkan satu tangan di dahinya.

Lu Xu: “Kau belajar memanjat tembok di usia yang begitu muda, ketika aku sendiri bahkan masih menggali cacing tanah di tanah bersalju…”

Hongjun: “Jangan mengatakan apa pun lagi…”

Hongjun kecil melemparkan kaitnya beberapa kali, tapi dia tidak berhasil mengait apa pun, dan kait itu jatuh kembali. Dengan dorongan ide tiba-tiba, dia berbalik untuk melemparkan kait itu ke dinding tetangga. Ada ubin di atap dinding di sekitar pintu, jadi sulit untuk mengaitkannya, tapi dinding yang berdampingan dengan halaman tetangganya mudah untuk dikaitkan.

Hongjun kecil menendang dan memanjat tembok, meminjam tembok di sekitar halaman tetangganya untuk menyelinap keluar; ini benar-benar ide yang brilian. Dia memanjat, terengah-engah, ke atas dinding, hanya pada akhirnya seseorang tiba-tiba entah dari mana muncul di seberangnya. Hongjun kecil segera berteriak keras, dan Li Jinglong kecil juga berteriak sebagai tanggapan. Hongjun kecil tidak pernah menyangka bahwa akan ada seseorang di sisi lain yang juga tengah memanjat dinding, tapi Li Jinglong kecil bereaksi dalam sekejap, dan dia mengulurkan tangan dan meraihnya dengan erat.

“Apa yang kau lakukan?!” teriak Hongjun kecil.

“Aku akan melepaskannya,” Li Jinglong kecil berkata tanpa ekspresi.

“Jangan!” Hongjun kecil buru-buru berteriak. “Jangan lepaskan!”

“Panggil aku gege” kata Li Jinglong kecil. “Mulutmu sangat lembut.”

Wajah Hongjun kecil seketika memerah. Baru saja, saat dia memanjat dinding, dia ingat bahwa dia tidak menyentuhnya, jadi dia berteriak, “Tidak!”

“Aku menciummu.”

“Kau tidak!”

“Kalau begitu akan aku lepaskan!”

Hongjun kecil tidak pernah diganggu seperti ini oleh siapa pun, karenanya dia segera mulai menangis. Li Jinglong kecil, dengan satu tangan tergantung di dinding, buru-buru berkata, “Baiklah! Aku tidak akan melakukannya! Aku tidak akan melakukannya!”

Gege…”

Tepat saat Li Jinglong menyerah, Hongjun kecil mengaku kalah. Wajahnya berlinang air mata, dan mulutnya cemberut4 saat dia memanggil Li Jinglong dengan sebutan gege.

Wajah Li Jinglong kecil segera dipenuhi dengan kejutan yang menyenangkan. Dia tidak menyangka bahwa Hongjun kecil benar-benar akan menyerah, jadi dia segera melompat ke dinding, mengangkanginya, menarik Hongjun kecil ke atas sehingga dia bisa memeluknya. Setelah mendapatkan hadiahnya, dia berteriak lagi, sebelum Li Jinglong kecil mengangkat Hongjun kecil secara horizontal dan melompat dari dinding seperti ini, melompat ke bawah!

Di udara, Hongjun dan Lu Xu sama-sama menjulurkan kepala untuk melihat, mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu.

“Ini, makanlah sesuatu, jangan menangis lagi.”

“Aku akan memberimu ciuman, jangan menangis….”

“Ay, ay, baiklah, berhenti menangis!”

“Aku ingin pulang…”

“Cicipi ini dulu, lalu aku akan mengirimmu kembali.”

Tangisan di sisi lain dinding tiba-tiba berhenti. Hongjun kecil sedang mengunyah sesuatu, bahkan saat dia mendorong Li Jinglong kecil yang terus menjejalinya. Mereka berdua memunggungi dinding saat mereka mendorong dan menyenggol satu sama lain. Li Jinglong kecil menganggap ini sangat lucu, dan dia tertawa.

“Siapa namamu?”

“Kau dipanggil Hongjun, kan? Kau adalah anaknya Dokter Kong..”

“Jangan pergi. Aku masih memiliki lebih banyak di sini, lihat, ini bahkan lebih enak.. Itu benar, kembali, kembali, sekarang, itu baru benar.”

Daun pohon kamper berdesir, dan sinar matahari musim panas menyinari. Siluet Li Jinglong kecil dan siluet Hongjun kecil melintas masuk dan keluar, muncul di setiap sudut halaman belakang keluarga Li. Kadang-kadang, kedua anak itu bermain chuiwan, kadang-kadang mereka memancing udang di kolam ikan di halaman belakang, dan saat salju turun, mereka bahkan membuat manusia salju.

Dinding antara keluarga Li dan pekarangan keluarga Kong juga roboh karena itu, dan berubah menjadi rimbunan pohon. Saat senja, Kong Xuan berdiri di depan semak-semak memanggil Hongjun kecil untuk pulang, jadi Hongjun kecil melambai ke Li Jinglong kecil, sebelum dia berbalik dan pulang untuk makan malam.

Begitu Hongjun kecil pergi, halaman perlahan menjadi suram. Tidak ada seorang pun di kediaman keluarga Li.

“Di mana ayahnya?” Lu Xu bertanya.

“Dia mungkin pergi berperang,” jawab Hongjun. “Atau mungkin yamen sangat sibuk. Dia sepertinya sudah menyebutkan sebelumnya bahwa ayahnya adalah seorang pejabat bela diri.”

Li Jinglong kecil kembali ke dalam dan makan beberapa potong kue. Dia berbaring di koridor terbuka, menatap langit. Dari sebelah terdengar suara tawa ibu Hongjun, dan jika dia mendengarkan dengan saksama, Kong Xuan juga membuat lelucon. Dia mengatakan bahwa Hongjun tampak seperti ayam yang kehilangan bulunya, dan itu menggelitik Li Jinglong kecil sehingga dia tidak bisa menahan tawa juga.

Cahaya perlahan meredup, dan Li Jinglong kecil berbaring di tempat tidurnya, sakit. Dahinya dipenuhi keringat, dan dia tidak bisa berhenti terengah-engah. Di ruangan gelap, Hongjun kecil perlahan berjalan menuju Li Jinglong yang sakit.

Li Jinglong kecil tidak bisa berhenti terengah-engah, dan dia menoleh untuk melihat Hongjun kecil, diam-diam bergumam, “Ayah … Ibu ..”

Hongjun kecil memiringkan kepalanya saat dia menatapnya. Dada Li Jinglong kecil naik turun, dan terengah-engah begitu hebatnya.

Hongjun kecil memeluk Li Jinglong kecil, menekan dirinya ke tubuhnya. Dia hanya memeluknya dengan tenang seperti ini, mendengarkan detak jantungnya.

“Aku sangat kedinginan…” kata Li Jinglong kecil. “Di mana… ayahmu?”

“Dia melakukan perjalanan jauh,” kata Hongjun kecil pelan, memeluknya seperti ini. “Dia sudah pergi begitu lama. Gege, ada apa?”

“Aku akan mati” jawab Li Jinglong kecil. Saat dia berbicara, dadanya naik turun seperti puputan. “Tetaplah bersamaku sebentar… jangan pergi…”

Hongjun kecil melompat dari tempat tidur dan berlari keluar. Saat dia kembali, dia memegang seikat ramuan obat di tangannya, dan dia mulai merebus obat untuk pasien yang sakit di tempat tidur. Li Jinglong kecil membuka matanya, pandangannya perlahan menjadi kabur. Satu tangan terulur tanpa tujuan, menggantung di sana, sebelum akhirnya Hongjun kecil naik ke tempat tidur dan memberinya obat.

Wajah Li Jinglong kecil memutih, dan seluruh tubuhnya gemetar. Dia menggertakkan giginya, jadi obatnya tidak turun memasuki tenggorokannya, dan itu menetes ke sudut mulutnya, menetes ke tempat tidur. Hongjun kecil mencoba beberapa kali, tapi setiap kali itu juga, dia gagal pada akhirnya. Li Jinglong kecil hanya menghela napas; dia tidak menarik napas lagi.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Mungkin diambil dari puisi “Kediaman Desa” milik Gao Ding, meskipun Feitian sedikit ketinggalan zaman untuk melakukannya, karena Gao Ding adalah penyair Dinasti Qing. Baris aslinya berbunyi “草长莺飞二月天” yang berarti “Rerumputan tumbuh dan burung pengicau terbang di Bulan Februari”, sedangkan baris di dalam novelnya adalah “风吹草长三月天” seperti yang diartikan di atas.
  2. Olahraga kuno yang dalam beberapa hal mirip dengan golf modern. Kalian menggali lubang di tanah dan menggunakan tongkat untuk memukul bola ke dalam lubang.
  3.  Li Jinglong kecil hanya menghela napas; dia tidak menarik napas lagi
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments