Penerjemah : Keiyuki17
Editor: _yunda


Semua orang tercengang.

“Ini sudah berakhir!” Ikan mas yao berkata, “Yang ada di dalam itu bos kalian! Dia Zhangshi kalian!”

“Apa yang harus kita lakukan?” Semua orang saling bertatapan dengan penuh kecemasan. Hong Jun berkata, “Aku akan membangunkannya dan meminta maaf atas kesalahan yang sudah kubuat.”

Hong Jun mengumpulkan keberaniannya dan berjalan ke depan ketika ketiga orang lainnya menatapnya. Pada akhirnya, tidak baik membiarkan Hong Jun mengambil tanggungjawab itu sendiri, jadi mereka mengikuti di belakang Hong Jun. Hong Jun menepuk-nepuk wajah Li Jinglong dengan perlahan dan berbisik, “Hey, bangun.”

Ikan mas yao berkata, “Apa begitu caramu membangunkan orang? Tampar saja dia.”

Hong Jun membalas dengan panik, “Dia itu bos kita! Kau memerintahku?!”

Tanpa pikir panjang, ikan mas yao berjalan ke depan dan menampar Li Jinglong dengan kedua tangannya secara spontan, disertai bunyi ‘pa pa‘ yang terdengar jelas. Semua orang ketakutan hingga hampir terkencing dicelana. Mereka dengan cepat berteriak, “Berhenti!”

Li Jinglong gemetar dan bangun dalam sekejap. Tidak lama setelah itu, A-Tai dengan lihai memukul kepala bagian belakang Li Jinglong dengan kuat menggunakan sitarnya. Dengan suara yang terendam, Li Jinglong tak sadarkan diri lagi.

“Zhao Zhilong, tolong berhentilah membuat masalah lagi.” Kata Hong Jun hampir menangis.

Qiu Yongsi tiba-tiba terpikirkan sebuah ide, “Kenapa kita tidak mengangkatnya ke kursi panjang, lalu melonggarkan ikatannya, dan menunggu mereka sadar dengan sendirinya. Setelah itu, semua akan berpura-pura bahwa kejadian ini tidak pernah terjadi. Tidak peduli apa yang dia tanyakan, kita semua akan mengatakan hal yang sama, bahwa mereka pingsan karena serangan panas.”

“Ide bagus!” Kata semua orang serempak.

Karena itu, A-Tai menarik tangannya dari senar. Mereka melepaskan tali Feng Changqing dan Li Jinglong dan membawa mereka ke kursi panjang dan membaringkan mereka bersebelahan.

“Itu akan bekerja!” Qiu Yongsi berkata, “Saudaraku, ayo kita pergi ke halaman depan dan melanjutkan apa yang seharusnya kita lakukan. Kita tunggu mereka bangun. Ketika mereka mendatangi kita, kita harus menghadapi mereka dengan wajah senang dan bertanya, ‘Zhangshi, kau sudah bangun?‘ Jika kita menolak untuk mengakui apapun. Mereka tidak akan punya cara untuk memeriksa kita. Bukankah itu masuk akal?”

Mereka menjawab dengan serentak, “Bagus”. Jadi, mereka berbalik untuk berjalan keluar, saat mereka mengambil langkah, Li Jinglong berkata dengan dingin di belakang punggung mereka, “Aku sudah mendengar semuanya.”

Semua orang, “…”

Rentang waktu sebatang dupa berlalu. Kepala Li Jinglong sudah dibalut perban sementara Feng Changqing sudah sadar saat mereka duduk di aula utama. Empat orang sisanya berlutut di kursi panjang, dan tersenyum canggung.

Zhangshi,” Mo Rigen dengan sungguh-sungguh berkata, “Yang terjadi hari ini adalah kesalahpahaman. Setelah semua ini, tidak peduli apa yang akan kau katakan, kau seharusnya tidak tiba-tiba menyerang sebelum bertanya terlebih dulu. Kau melukai adik kecil kami…”

“Bagaimana aku bisa tahu?!” Li Jinglong berteriak. “Orang ini membuatku kehilangan posisi resmiku dan menjadikanku bahan tertawaan orang-orang di Chang’an. Siapa yang akan menjelaskan ketidakadilan yang kuterima sekarang?”

“Ah? Kenapa?” Hong Jun bersembunyi di belakang Mo Rigen dan Qiu Yongsi dan menjulurkan kepalanya saat bertanya.

Mo Rigen seketika langsung menariknya kembali ke belakangnya dan menghalanginya dari Li Jinglong. A-Tai berkata, “Semua orang disini ada untuk melakukan bagian mereka demi perdamaian di Chang’an. Bagaimana kau bisa semarah itu kepada seseorang yang hatinya murni dan polos seperti bayi yang baru lahir hanya karena sebuah kesalahpahaman? Adik kecil yang cantik ini sangat polos… “

“Cukup!” Li Jinglong hampir pingsan karena marah.

“Aku akan memainkan sebuah lagu untukmu, Lord Zhangshi“. A-Tai berkata sambil tersenyum, “Semoga suara nyanyian ini bisa melenyapkan amarahmu dan semoga yang ada di dunia…”

“Ambil kembali sitarmu!” Li Jinglong geram.

Semua orang terdiam. A-Tai mengoceh tentang sesuatu dan sekali lagi membuat suasananya semakin mencekam. Li Jinglong dipenuhi oleh kesedihan dan kemarahan, yang kemudian berubah menjadi ketiadaan. Untuk beberapa saat, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Feng Changqing tiba-tiba berkata, “Dengan kata lain, memang ada yao aneh di Chang’an. Kau kau kau… jenis yao macam apa kau?”

Feng Changqing menunjuk ikan mas yao dengan jari yang gemetaran, ikan mas yao menjawab, “Apa kau buta?! Apa kau tidak bisa mengenali seekor ikan mas…” tapi sebelum kalimat itu selesai, Hong Jun dengan segera menutup mulutnya.

“Kau, keluar.” Li Jinglong menunjuk ke arah Hong Jun, dan berkata, “Jangan sembunyi di belakang mereka. Aku akan bertanya tiga hal padamu, dan aku akan membiarkan masa lalu dihapuskan dengan satu pukulan1.”

Hong Jun menunduk saat dia melangkah keluar dari belakang Mo Rigen, dan duduk bersila di depan Li Jinglong.

“Apa kita bertarung satu lawan satu denganku di gang dekat Pingkang malam itu?” Tanya Li Jinglong.

“Ya.” jawab Hong Jun.

Li Jinglong melihat ke arah Feng Changqing yang tidak mengatakan apapun.

“Kemana kau membawaku setelah kau menjatuhkanku?” Tanya Li Jinglong lagi.

Hong Jun berpikir dan memberikan gambaran singkat pada malam itu dan menambahkan, “…tapi jujur saja, itu bukan aku yang menjatuhkanmu, itu kau…”

Li Jinglong mengangkat tangannya untuk menghentikan penjelasan Hong Jun dan melihat ke arah Feng Changqing, yang tetap diam dan mengangguk.

“Apa aku melakukan sesuatu kepada Sang-er?” Tanya Li Jinglong sekali lagi.

“Tidak.” Hong Jun mengamati rupa Li Jinglong, dan tidak tahu kenapa dia bertanya tentang hal itu.

Kali ini, Li Jinglong mengubah posisinya ke arah Feng Changqing, dan berkata, “Semua orang diluar mengatakan bahwa aku…”

Feng Changqing dengan segera berkata, “Kalian berempat, keluar.”

Keempat pemuda itu pergi dan Mo Rigen berbalik untuk menutup pintu. Amarah Li Jinglong tidak hanya datang dari satu tempat2 saat dia melanjutkan perkataannya, “…Mereka berkata bahwa aku adalah anak boros dari keluarga Li. Aku menghabiskan kekayaan keluargaku untuk memenuhi keinginan terakhir Lord Di. Aku melayani Tang yang Agung! Aku melayani dinasti ini! Hanya untuk menderita (dari) ketidakadilan ini! Sekarang, yao yang aneh telah muncul di hadapanmu! Apa kau lihat?!”

Saat membicarakan tentang hal itu, Li Jinglong menunjuk ikan mas yao yang ada di aula. Ikan mas yao membuka dan menutup mulutnya, kedua kakinya setengah jongkok di tanah saat dia menatap Li Jinglong dan Feng Changqing.

Ikan mas yao, “…”

Feng Changqing, “Kenapa kau masih tetap di sini?! Kau juga, keluar!”

Ikan mas yao juga diusir keluar. Keempat pemuda itu menunggu di aula depan. Hong Jun tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir. Semua orang mulai berdiskusi ketika ikan mas yao berlari ke arah mereka dan berkata, “Mereka bertengkar.”

Hong Jun bertanya, “Apa yang mereka pertengkarkan?”

“Itu pasti masalah soal berkeliaran di rumah bordil,” kata Mo Rigen.

A-Tai merangkak. Ketiga orang lainnya juga ikut menguping. Di dalam ruangan, hanya terdengar suara marah Li Jinglong sedangkan Feng Changqing hanya terdiam.

“…Prajurit Longwu menertawakanku hari ini! Yang Guozhong bahkan menulis tentang pengalaman hidupku! Tak ada seorangpun yang berdiri di sampingku untuk membelaku dari tuduhan-tuduhan itu, apa yang bisa aku katakan?! Aku bertahan! Orang di seluruh belahan dunia telah menghinaku sedemikian rupa sampai aku telah melihat semua tatapan angkuh mereka di sepanjang jalan, tapi di dalam hatiku, aku mencemooh mereka3, mereka semua benar-benar bodoh! Dan kau?! Sekarang kau menemukan bahwa kau sudah salah karena menuduhku! Apa ini akan berakhir dengan tidak ada yang pasti lagi?”

“Aku telah salah.” Dengan napas yang panjang, Feng Changqing berkata, “Apa yang akan kau lakukan? Membawa bocah itu ke Kanselir Yang untuk meluruskan segalanya?”

Aula itu menjadi hening.

Diluar, ketiga pemuda itu melihat ke arah Hong Jun. Hong Jun samar-samar menebak dari percakapan keduanya yang ada di dalam, bahwa pria itu telah terluka sangat parah… Dia merasa seperti dia berada dalam masalah atau sedang berada di jalan menuju masalah. Dan dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Itu saja,” kata Li Jinglong dingin. “Suatu hari nanti, kalian semua akan melihat.”


Pada saat ini, suara genderang malam terdengar. Li Jinglong sekali lagi berkata, “Kau dapat kembali.”

Feng Changqing dengan sungguh-sungguh berkata, “Pria hebat, kenapa kau takut dengan rumor-rumor duniawi? Jinglong, aku telah menyalahkanmu kemarin, tapi itu bukan aku yang…”

Li Jinglong mendorong pintu hingga terbuka. Keempat pemuda yang ada di luar dengan segera menyebar seperti angin. A-Tai duduk di depan hamparan bunga di bawah pohon wutong sambil mengusap-usap senar sitarnya, Qiu Yongsi menatap pilar bercat merah yang telah pudar dengan tangan yang tergenggam dibelakang punggungnya, Mo Rigen mulai memindahkan jendela yang hancur, dan Hong Jun jongkok di dekat sumur sambil menyodok mulut ikan mas yao dengan ranting.

Pada saat suara (gedebuk) genderang malam, Li Jinglong berdiri di halaman, menatap ke samping ke arah Feng Changqing.

Feng Changqing keluar menyangga tongkat berjalannya, sesekali memalingkan kepalanya kepada yang lain ketika melewatinya.

“Jika ada kesempatan, Kanselir Yang pasti akan datang, kau harus menyembunyikan ikan mas itu dengan baik.” Feng Chongqing memperingatkan. “Kalau tidak, itu akan diberikan kepada Yang Mulia untuk bermain dengan Permaisuri.”

“Dia tidak akan datang,” Li Jinglong berkata dengan dingin. “Bahkan jika itu adalah yao, aku tidak akan memberikan itu padanya sebagai mainan.”

Hong Jun dan ikan mas yao tenganga keheranan. Ikan mas yao tidak bisa berhenti melihat Li Jinglong. Dengan suara genderang malam, Feng Changqing pergi.

“Sini, kalian semua,” Li Jinglong berkata dengan mencolok, nadanya mengagumkan.

Ketika mereka memasuki aula utama, Li Jinglong pertama kali mengambil air untuk membiarkan mereka mencuci tangannya satu per satu dan menggeledah laci untuk menemukan dupa.

“Siapa yang punya pemantik api?” Li Jinglong bertanya dengan tenang.

A-Tai mengacungkan jarinya. Tak lama kemudian, gumpalan asap naik dari cincin rubynya saat nyala api tersulut.

Li Jinglong membelalakkan matanya, sedikit takjub. A-Tai sedikit tersenyum dan menaikkan alisnya seolah-olah dia telah menemukan beberapa rahasia.

Li Jinglong tidak mengatakan apapun. Dia menyalakan batang dupa diatas api dan membaginya (kepada) keempat yang lain. Dia memegang tiga batang dupa, berjalan ke arah mural, dan membungkuk sebanyak tiga kali untuk memberi penghormatan ke potret Di Renjie.

“Tuan Di, Departemen Exorcist akan dibuka kembali hari ini. Semoga roh dan jiwamu memberkati kami dan Tang yang Agung.”

Setelah Li Jinglong memberikan penghormatan, dia memberi isyarat kepada semua orang untuk mendekat dan secara bersamaan memasukan dupa ke pedupaan. Akhirnya, dia menatap ke pria berbintik-bintik di mural sebelum berbalik dan meninggalkan aula utama dan berkata, “bubar.”

Suara genderang malam masih terdengar dari jauh. Semua orang harus bubar.

Mo Rigen berjongkok di halaman. Tiga yang tersisa mulai mengobrol, melihat ke arah sayap timur dari waktu ke waktu. Mereka tidak tahu apa yang telah Hong Jun perbuat sampai Li Jinglong sangat marah. Mereka menduga bahwa Hong Jun membawa Li Jinglong ke rumah bordil dan itu menghancurkan reputasinya. Namun, Hong Jun tidak tahu apa itu rumah bordil. Sejauh ini, mereka hanya dapat tetap bingung.

Mereka semua menyimpulkan bahwa Li Jinglong mulai menyerah dan mengabaikan alasan apapun tanpa memahami pihak lain dan menjadi impulsive4.

Namun, hal yang paling penting bukanlah tentang siapa yang menyinggung siapa ataupun tentang perangai Li Jinglong, melainkan… Semua orang tertekan, tertekan karena Li Jinglong hanyalah manusia biasa.

Seharusnya, seorang exorcist5 yang datang untuk bertugas, kurang lebih memiliki kemampuan dan sanggup untuk menangkap yao, tapi Li Jinglong benar-benar hanya manusia biasa.

“Pedangnya sangat kuat,” kata Hong Jun. “Pedang itu dapat menerobos Cahaya Suci Lima Warnaku.”

“Tidak peduli seberapa kuatnya pedang itu, itu hanyalah senjata sihir,” kata A-Tai. “Bagaimana kamu bisa melakukan itu jika kamu tidak memiliki kemampuan dalam dirimu? Ai…”

Hong Jun tidak ingin mengatakan bahwa Li Jinglong menyerap Cahaya Hati. Selain itu, belum dibuktikan apakah Cahaya Hati ada di dalam dirinya. Setelah banyak pertimbangan, semua orang cukup gundah. Mo Rigen pada dasarnya berpikir bahwa seseorang yang memerintah Departemen Exorcism haruslah orang yang ahli. A-Tai melihat Li Jinglong sebagai orang yang sangat membosankan. Qiu Yongsi berfikir bahwa Zhangshi dari Departemen Exorcism bagaimanapun juga harus memiliki kemampuan untuk melindungi bawahannya.

Namun, melihat kemampuan Li Jinglong, terlepas dari seni bela dirinya yang ada di tingkat tinggi dan senjata sihir di tangannya, dia tidak punya kelebihan dan minat sedikitpun.

Ditengah obrolan mereka, Li Jinglong keluar dari sayap timur dan pergi ke halaman depan untuk mengambil kasurnya, menutup mata (pura pura tidak melihat) ke arah mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi, tampaknya tidak yakin dengan Zhangshi ini.

“Lalu… apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” Tanya Hong Jun.

“Kita tunggu perintahnya,” kata A-Tai sambil tersenyum. “Dia melakukan apa yang dia inginkan.. Ayo kembali.”

Ketika A-Tai pergi, Qiu Yongsi berkata, “Aku tidak ingin mengikutinya untuk menangkap yao, tapi aku tetap harus berusaha untuk melindunginya meskipun aku takut mati.”

Qiu Yongsi lalu pergi. Mo Rigen mengangkat bahunya dan hendak bertanya kepada Hong Jun dikamar mana dia akan tinggal, tetapi Hong Jun memberitahunya bahwa dia akan menemui Li Jinglong dulu. Karena itu, dia diam-diam pergi.

Ketika bulan berada di puncaknya, dan sepenuhnya mendinginkan tempat ini pada saat musim gugur. Berdiri di luar sayap timur, Hong Jun melihat sekelilingnya. Dia melihat Li Jinglong membawa kasurnya. Bayang-bayang yang tinggi membuat kasurnya berada di bawah cahaya.

Zhangshi, apa kau butuh bantuan?” tanya Hong Jun.

“Jangan katakan apapun,” kata ikan mas yao dari samping. “Jika kau tulus untuk membantu, pergilah, ah.”

Hong Jun, “Kau, diam!”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Melupakan semua yang terjadi di masa lalu.
  2. Menurut teori pengobatan tradisional Tiongkok kemarahan berasal dari hati. Pada kasus ini kemarahan tidak hanya berasal dari hati tetapi juga banyak bagian lainnya.
  3. Kumpulan orang-orang itu.
  4. Bertindak secara tiba-tiba mengikuti susana hati.
  5. Pengusir setan.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments