“Napas yang menderu dan bergemuruh itu sudah berhenti.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Noda darah mengalir di jalan yang meliuk, mengarah ke tanah yang ditutupi dengan rumput layu, menetes dari atas atap. Tangan Hongjun terlipat saat dia bersandar di dinding. Memberi isyarat agar Lu Xu datang, jadi dengan satu lompatan, Lu Xu melangkah di atas tangan Hongjun dan melompat ke atas atap. Hongjun kemudian berjungkir balik juga.

“Semakin aku melihat, semakin aku merasa itu bukan hantu,” gumam Lu Xu pada dirinya sendiri. “Apa kau pernah mendengar hantu yang memakan manusia?”

Hongjun menjawab, “Aku bahkan belum pernah melihat seperti apa hantu itu.”

Meskipun hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran disebut “hantu”, mereka tidak benar-benar adalah hantu dalam arti kata; mereka hanya nyaris tidak dihitung sebagai bagian dari suku yao. Sejak dia kecil, Hongjun juga tidak pernah mendengar Chong Ming menyebut hantu, dan satu-satunya sumber pengetahuannya tentang mereka adalah buku-buku yang dibawakan Qing Xiong padanya tentang legenda rakyat biasa. Lu Xu, juga, belum pernah melihat hantu sebelumnya sampai saat ini, apalagi hantu yang memakan manusia.

“Mungkin Kaisar Taizong lapar, jadi dia keluar di tengah malam untuk mencari camilan tengah malam?” Hongjun dan Lu Xu berdiri di atap, menatap ke arah pintu masuk Mausoleum Zhao.

Lu Xu menjawab, “Seharusnya tidak begitu ba, apa yang dia lakukan dengan berkeliaran di sini daripada terlahir kembali? Aku terus merasa seperti tidak ada hantu mayat di sini.”

Saat mereka berbicara, Lu Xu menekan satu tangan dengan ringan ke pelipisnya, dan dia melihat ke depan dengan penuh perhatian. Hongjun dengan cepat mengangkat kepalanya. Dengan senja yang semakin larut ini, tubuh Lu Xu memancarkan kekuatan aneh. Mungkin karena setelah patah, tanduknya menjadi jauh lebih lemah dan tidak bisa mengambil wujud fisiknya, tapi tanduk tak berbentuk itu sebenarnya bersinar dengan cahaya yang lemah. Mereka tampak seperti dua anak sungai, tapi juga seperti sungut yang terhubung ke vena langit di atas.

Dan di bawah kakinya, kekuatan itu untuk sementara juga terhubung dengan vena bumi!

“Wow, sihir apa ini?!” Tanya Hongjun dengan rasa ingin tahu.

Mata Lu Xu tertutup, dan dahinya berkerut dalam. Cahaya putih suci bersinar di sekelilingnya. Profil samping wajahnya terlihat sangat tampan, seolah-olah pada saat itu, dia sudah menjadi dewa yang lahir untuk menopang langit dan melindungi semua makhluk hidup di dunia ini.

“Alam mimpi adalah kekuatan yang menghubungkan ke jalan yang mengarah ke vena spiritual langit dan bumi, dan siklus reinkarnasi.”

Mata Lu Xu masih tertutup saat dia menambahkan dengan tenang, “Setelah manusia mati, jika mereka tidak mau kembali ke siklus reinkarnasi untuk dilahirkan kembali, mereka akan berlama-lama di dunia ini. Manusia hidup akan bisa melihat mereka sesekali dalam mimpi mereka, tapi tidak ada jiwa yang berlama-lama di sini, yang tidak mau pergi. Hanya ada jejak jiwa-jiwa yang mati di sini beberapa hari yang lalu, lihat.”

Setelah mengatakan ini, Lu Xu meletakkan tangannya yang lain di tengkuk Hongjun. Di depan mata Hongjun, pemandangan segera berubah. Langit dan bumi, lembah dan dataran ditutupi dengan selubung cahaya seperti sutra yang bergerak. Di dalam selubung itu, vena langit dan bumi bersinar dengan warna cemerlang, yang berputar-putar dengan indah.

Di luar mausoleum kerajaan, beberapa gumpalan cahaya putih seperti asap perlahan-lahan naik ke langit. Ini adalah jiwa dari orang-orang yang sudah meninggal beberapa hari yang lalu.

Lu Xu menarik tangannya kembali, dan semuanya kembali seperti semula.

“Bisakah kita bertanya pada jiwa-jiwa itu?” Tanya Hongjun.

Lu Xu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Aku tidak tahu bagaimana berbicara dengan jiwa, tapi seperti yang kau lihat, tidak ada jiwa hantu yang kuat di Mausoleum Zhao.”

Dengan itu, setelah diskusi sederhana, mereka berdua pada dasarnya bisa memastikan bahwa Mausoleum Zhao tidak berhantu. Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa ada yao, dan itu adalah salah satu yang bisa terbang, karena noda darah menetes di atas atap rumah.

Hongjun mengikuti jalur noda darah ke pintu masuk Mausoleum Zhao, yang tertutup rapat oleh pintu batu besar. Darah segar menutupi tanah di luar, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa pintu itu pernah dibuka. Melihat pemandangan itu, seperti ada sesuatu yang menarik orang mati itu, menabrak dinding batu, dan melewatinya.

Hongjun mendorong pintu dengan sekuat tenaga, dan Lu Xu juga maju. Mereka berdua mendorong pintu, yang dengan keras kepala menolak untuk terbuka. Hongjun kemudian menggabungkan keempat pisau lemparnya menjadi satu, mengangkatnya, dan berkata, “Haruskah aku membukanya?”

Lu Xu berkomentar dari sampingnya, “Pintu ini sepertinya terbuka dengan cara naik dan turun. Lihatlah kedua sisinya, sepertinya mekanisme aktivasi.”

Hongjun: “…”

Ini adalah batu pemecah naga1 di pintu masuk Mausoleum Zhao, dan di kedua sisinya adalah mekanisme besi setinggi manusia. Saat kaisar Tang yang Agung memasuki makam untuk memberi hormat, akan ada dua regu yang masing-masing terdiri dari empat puluh orang yang akan memasukkan batang besi khusus ke dalam mekanisme, dan saat mereka mendorongnya bersama, itu akan memungkinkan batu pemecah naga ini untuk perlahan naik.

Hongjun membiarkan Cahaya Suci Lima Warnanya mengembang dan masuk ke dalam makam, sebelum kemudian dia menariknya kembali dengan kekuatan besar. Batu pemecah naga kemudian naik dengan serangkaian dentuman.

Tepat setelah itu, dia kemudian mengirim Cahaya Suci Lima Warna keluar dan kembali, menyeret kembali batu besar yang menahan batu pemecah naga ke atas.

Mereka berdua bertiarap dan kemudian berguling masuk melewatinya.

Batu-batu di luar mausoleum adalah granit yang paling keras dan kebetulan meninggalkan celah yang cukup untuk satu orang keluar nantinya. Setelah masuk, Hongjun menjentikkan jarinya, dan nyala api kecil muncul dari ujung jarinya, menyinari sekeliling mereka. Di depan mereka muncul jalan beraspal yang begitu dalam, ujungnya tak terlihat, dan lampu minyak tergantung di kedua sisinya. Percikan api keluar dari mereka, dan saat menyalakan lampu minyak itu, seperti ada udara bergerak di dalam makam, seketika cahaya lampu minyak memenuhi ruang yang luas itu.

Jalan menuju makam sudah dijaga dengan sangat bersih, dan jejak noda darah mengarah ke kedalaman. Lu Xu memberi isyarat agar Hongjun melihat ke bawah, Hongjun mengangguk dan mendorong Lu Xu ke belakangnya untuk melindunginya.

Napas yang dalam dan berat keluar dari kedalaman makam, seolah-olah ada angin yang lewat, atau seolah-olah ada yaoguai yang terengah-engah dalam kegelapan. Di kedua sisi lorong, lampu minyak perlahan meredup, sebelum padam tanpa suara.

Hongjun terkejut, dan pisau lemparnya hampir terlepas dari tangannya.

Lu Xu: “Jangan gugup … tidak ada cukup minyak yang tersisa di lampu ini.”

Hongjun beralih menggunakan Cahaya Suci Lima Warna, seketika cahayanya menyinari wajah mereka.

“Tempat ini terlalu aneh,” kata Hongjun.

Lu Xu juga bisa merasakan bulu di lehernya sedikit bergidik, dan dia berkata, “Aku juga tidak suka tempat ini.”

Hongjun bertanya, “Bagaimana kalau kita kembali terlebih dulu?”

Lu Xu tidak berbicara. Hongjun berdiri di depannya, tapi dia terus merasa seperti ada sesuatu yang mengawasi mereka berdua tanpa berkedip dari ujung lorong. Mereka maju beberapa langkah, dan Lu Xu mengulurkan tangannya untuk meraih lengan baju Hongjun. Hongjun hampir berteriak pada saat itu, dan dia buru-buru berbalik untuk melihat Lu Xu. Sikap percaya diri yang dimiliki Lu Xu saat mereka berada di luar sudah menghilang, dan dia juga sedikit takut.

Hongjun, dengan Lu Xu di belakangnya, beringsut ke depan, dan Lu Xu berkata, “Jika kita bertarung di sini, kita bahkan tidak bisa berpencar…”

Hongjun berkata pelan, “Mari kita lihat apa yang ada di sana … setelah itu kita akan kembali.”

Bagian dalam mausoleum kerajaan dipenuhi dengan suasana yang membuat orang sangat tidak nyaman. Begitu mereka menginjakkan kaki di dalam, Hongjun merasa ada angin dingin bertiup di punggung mereka, dan semakin dekat dia ke ujung lorong, semakin jelas bahwa napas yang terdengar seperti mengi2.

“Ada yaoguai yang bersembunyi di dalam,” bisik Hongjun. “Sepertinya sedang tidur?”

“Singkirkan Cahaya Suci Lima Warnanya,” kata Lu Xu pelan sebagai tanggapan.

Mata Lu Xu menunjukkan kegugupan di dalamnya saat dia mengintip dari belakang Hongjun. Hongjun berbalik, bersiap kapan saja untuk menghadapi yaoguai yang bergegas ke arah mereka, dan tulang punggungnya menempel di dinding lorong.

Sebuah suara tiba-tiba berbicara dalam kegelapan:

“Bagaimana bisa gelap seperti ini?!”

“Waaah—!” Hongjun sangat terkejut, dan dia mulai berteriak keras.

“Siapa di sana?!” Lu Xu juga takut akan hal itu.

“Di mana ini?!” suara ikan mas yao terdengar dengan gugup. “Hantu, aaaah!”

Hongjun sudah benar-benar melupakan ikan mas yao yang berada di punggungnya, dan Lu Xu bahkan lebih melupakan penahan pintu itu lebih dari yang Hongjun lakukan. Ikan mas yao tidur di sepanjang jalan, tapi sekarang dia sudah bangun, dan mereka bertiga hanya menakut-nakuti diri mereka hingga jiwa mereka terbang menjauh. Lu Xu melangkah ke udara yang tipis dan hampir terjatuh, jadi dia buru-buru meraih Hongjun, yang terhuyung-huyung dan tergelincir di tangga, berteriak, “Lu Xu! Kau ada di mana?”

Lu Xu: “Di sini, di sini!”

Mereka berdua mengambil beberapa langkah cepat dan tergesa-gesa, sebelum Hongjun bergegas mengatakan, “Ini Zhao Zilong! Zhao Zilong!”

“Dimana ini?!” teriak ikan mas yao dengan keras. “Kenapa aku menjadi buta?! Hongjun! Hongjun, kau ada di mana?!”

Lu Xu buru-buru berkata, “Diam! Diam!”

Baru setelah cukup lama, Hongjun berhasil menjelaskannya dengan jelas pada ikan mas yao. Lingkungan mereka terlalu gelap, dia tidak menjadi buta, dan ikan mas yao merasa seolah-olah beban berat sudah diangkat darinya. Hongjun kemudian berkata, “Haruskah aku menurunkanmu ke tanah?”

“Jangan!” ikan mas yao bergegas berteriak.

“Dan di mana ini sekarang?” Tanya Lu Xu.

Napas yang menderu dan bergemuruh itu sudah berhenti, tapi masih ada gema yang terdengar jelas, seolah-olah mereka berada di aula yang luas. Saat lingkungan mereka menjadi sunyi, suasana menakutkan sekali lagi menyerbu masuk dan mengelilingi mereka.

Di ketinggian aula besar, ada dua batu hijau bercahaya yang tampak seperti hiasan di langit-langit. Karena jarak mereka, bagaimanapun, cahaya itu tidak menyinari sekeliling mereka.

“Aku merasa kita harus pergi,” kata Lu Xu pelan.

Hongjun juga merasakan bahayanya. Napas yaoguai sudah berhenti, yang membuktikan bahwa mereka tampaknya telah menemukan penyusup. Langkah selanjutnya sangat mungkin adalah untuk melancarkan serangan.

“Aku akan menyalakan lentera, dan begitu sekeliling kita bercahaya, kita akan mundur segera,” kata Hongjun. “Kita tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.” Dengan itu, api menyembur dari telapak tangannya, dan dengan bunyi shua api itu terbang ke segala arah. Api berkobar seperti meteor yang mencari ke semua tempat, mencari benda-benda yang mudah terbakar, dan langsung membakar enam belas anglo di aula besar.

Pada saat itu, aula utama pusat istana bawah tanah, tempat mausoleum Zhao berakhir, diterangi dengan cahaya terang. Baru pada saat itulah Hongjun mengetahui bahwa dia benar-benar berjalan melewati lorong dan tangga ke aula tempat di mana kaisar yang sudah tiada disembah! Api di anglo bermunculan, dan seluruh istana bawah tanah bersinar dengan kemegahan. Ada pelataran pemakaman hampir setinggi tiga zhang di tengah, di atasnya ditempatkan peti mati batu giok. Di sekitar peti mati batu giok itu melingkar seekor ular hitam besar.

Mata ular besar itu adalah batu neon hijau seukuran roda gerobak yang pernah dilihat Hongjun sebelumnya!

“Kita bertemu lagi, Kong Hongjun—”

Ular besar itu mengangkat kepalanya, memperlihatkan tanduk yang terbuat dari qi iblis yang tumbuh dari atas kepalanya. Tiba-tiba ia melihat ke arah Hongjun dan membuka rahang berdarahnya yang dipenuhi dengan gigi tajam, lidahnya menjulur di udara.

Mata Hongjun segera melebar, memantulkan aula besar mausoleum yang dipenuhi dengan qi iblis. Karena qi iblis sudah memenuhi aula, dengan tanduk ular besar sebagai pusatnya, ia mengepul, menyebar dengan liar ke seluruh ruang, dan itu sudah benar-benar mengepung mereka berdua!

“Xie Yu?!” Saat Hongjun mendengar suara ular besar itu, dia tiba-tiba teringat jiao hitam yang muncul malam itu di Gua Mogao, dari dalam iblis hati!

“Lari, cepat!” Lu Xu langsung meraung.

“Sudah terlambat.” Xie Yu mengeluarkan tawa yang terbahak-bahak, liar, dan serak, sebelum membuka rahangnya ke arah Hongjun. Tiba-tiba, kabut hitam mulai menyembur rapat, dan Lu Xu berteriak, “Hongjun!”

Hongjun tanpa sadar mengirimkan Cahaya Suci Lima Warnanya, tapi tidak ada cara untuk bertahan melawan invasi qi iblis. Dalam sekejap, itu ditelan oleh api hitam yang menyembur keluar dari mulut Xie Yu. Lu Xu menyerbu ke depan dengan kecepatan tinggi untuk mendorong Hongjun ke samping, tapi dengan memutar tubuhnya, ekor ular besar Xie Yu berayun horizontal menuju ke arah Lu Xu pergi, lalu ke atas, menabraknya dan mengirimnya terbang!

Semuanya terjadi seperti pengulangan mimpi buruk di Dunhuang. Kesedihan, rasa sakit, dan kemarahan yang tak terhitung jumlahnya datang menerjangnya dengan liar; orang tuanya yang sudah meninggal di depan prajurit yang mengenakan zirah emas, rasa sakit di seluruh tubuhnya, berdarah dengan daging yang terlihat, karena dilalap oleh api emas. Rasa sakit yang asing dan akrab dari kehidupan orang-orang langsung membangkitkan benih iblis di dadanya!

Xie Yu mengeluarkan raungan liar dan serak. Tanduk di kepalanya terus memuntahkan pasokan qi hitam yang tak berujung, yang berubah menjadi garis api hitam yang terlihat, menghubungkan ke benih iblis di dada Hongjun. Tapi pada saat itu, pupil Hongjun tiba-tiba berkontraksi.

“Katakan bahwa kau menyukaiku, Hongjun.”

Suara yang akrab terdengar di telinganya, dengan kesedihan, rasa sakit … semua ingatannya hancur dengan itu, dan seolah-olah Hongjun sedang bermandikan cahaya putih. Di depannya muncul pelukan hangat Li Jinglong, dan ciumannya yang hangat tapi membara.

Dalam sekejap mata, dada Hongjun bersinar dengan kilatan cahaya, yang membuat api hitam Xie Yu memantul.

“Persetan—!” Kata Hongjun, melepaskan amarahnya. Dia kemudian mengirimkan empat pisau lemparnya, yang melesat seperti meteor!

Xie Yu berteriak, menggeliat di pelataran sebelum bergegas turun. Dalam sekejap, Lu Xu muncul dan meraih Hongjun, berteriak,

“Kau baik-baik saja ba!”

Hongjun berteriak sebagai balasan, “Tinggalkan tempat ini! Jangan pedulikan aku!”

Mereka berdua mundur ke lorong, tapi dengan satu lompatan, Xie Yu memanjat ke langkan aula yang kosong. Matanya tertuju pada Hongjun, dan dia mendesis, “Ini adalah — takdirmu, yang sudah berulang selama ribuan tahun – kenapa kau masih tidak membangunkannya?!”

Qi iblis menyapu ke arah mereka, dan Hongjun serta Lu Xu berbalik dan berlari ke tangga. Saat dia berlari, Hongjun berbalik dan memanggil kembali pisau lemparnya, menggabungkan mereka menjadi sebuah glaive, tapi ikan mas yao berteriak dengan liar, “Jangan menebasnya! Mausoleum Zhao akan runtuh!”

Hongjun tiba-tiba teringat bahwa mereka berada di bawah tanah, jadi dia tidak berani menggunakan glaive-nya. Dia segera memanggil Cahaya Suci Lima Warna tepat saat tubuh jiao Xie Yu datang menyapunya dengan gemuruh, hanya untuk bertabrakan dengan cahaya itu, mengirim Hongjun terbang mundur. Lu Xu berlari ke dinding, berhasil meraih Hongjun menuju ke lorong.

“Menjauhlah!” sebuah suara meraung marah.

Sebuah panah, secemerlang hari yang cerah, menembus kegelapan dengan bunyi shua, membawa serta jejak cahaya putih yang menyilaukan saat berdesir. Hongjun dengan keras berteriak, “Jinglong!”

Li Jinglong sudah tiba!

Hongjun meraih Lu Xu sebagai balasannya, dan dengan satu lompatan, dia melangkah ke langit-langit lorong, berbalik. Dengan lompatan salto, mereka berhasil menghindari panah itu. Tepat setelah itu, beberapa suara sou sou lagi berdesir, itu adalah Tujuh Panah Paku milik Mo Rigen!

Dalam kegelapan, panah yang dilepaskan Li Jinglong, yang berisi kekuatan dari Cahaya Hati, mengenai pusat qi iblis yang bergolak itu. Raungan liar keluar dari kedalaman makam. Hongjun baru saja mendarat saat Li Jinglong terhuyung-huyung dan meluncur ke sisinya, menyampirkan lengan Hongjun ke bahunya, dan berteriak, “Pergi!”

Mo Rigen juga berlari mendekat, meraih pergelangan tangan Lu Xu, dan mulai menyeretnya keluar, tapi kecepatan Lu Xu bahkan lebih cepat darinya, dan dengan sekejap dia sudah berlari ke depan. Untuk sesaat, Mo Rigen tidak bisa mengejar, dan dia hampir tersandung karena Lu Xu, jadi dia berteriak, “Tunggu!”

Mereka berempat berlari ke pintu masuk lorong, dan mereka langsung berbalik, berdesakan di bawah batu pemecah naga. Begitu mereka meninggalkan Mausoleum Zhao, bagian luarnya dipenuhi air; hujan sudah mulai turun lagi. Hongjun terpeleset, namun Li Jinglong dengan cepat menangkapnya dan menahannya. Bersamaan dengan itu, Li Jinglong seketika berbalik memutar. Memegang Pedang Kebijaksanaan, dia mengarahkan pedangnya ke ruang di belakang batu pemecah naga, siap menyerang kapan saja.

Keheningan menyelimuti kelompok itu, tapi Xie Yu benar-benar tidak mengeluarkan suara lain.

Hongjun berkata, “Baru saja, aku …”

Li Jinglong segera membuat gerakan hush, mengisyaratkan agar dia tetap diam. Dia kemudian menunggu sebentar lagi, tapi bagian dalam Mausoleum Zhao sama sekali tidak ada gerakan seperti sebelumnya. Xie Yu tidak mengejar mereka, dan tidak ada qi iblis menyebar dari bawah batu pemecah naga.

“Haruskah kita kembali ke dalam untuk melihatnya?” Mo Rigen bertanya.

Li Jinglong menunjuk ke tempat mereka berdiri, yang berarti Hongjun dan Lu Xu tidak boleh masuk. Dia kemudian mengangkat tangannya dengan isyarat memukul Hongjun, artinya Hongjun akan melunasi hutang ini setelah dia keluar.

“Kalian berdua berhati-hatilah,” kata Lu Xu.

Li Jinglong dan Mo Rigen pergi ke dalam Mausoleum Zhao, sementara Hongjun dan Lu Xu mendengarkan dengan gugup dari depan batu pemecah naga. Tidak lama kemudian, mereka berdua keluar lagi. Mo Rigen memegang panahnya di tangannya, dan dia bertukar pandang dengan Li Jinglong.

“Itu sudah hilang?” Tanya Hongjun, heran.

Li Jinglong mengangkat bahunya. Dia kemudian mengerutkan kening pada Hongjun dan berkata, “Kenapa kau pergi keluar begitu saja?! Kau membuatku sangat khawatir!”

Seolah-olah Hongjun sudah menyebabkan masalah, dia dipanggil ke satu sisi agar Li Jinglong bisa menegurnya. Mo Rigen berjongkok di pagar Mausoleum Zhao, dan dia berkata pada Lu Xu, “Hongjun suka bermain-main, tapi kau membantunya dalam omong kosong ini.”

Lu Xu menjawab dengan kesal, “Kami bisa bekerja! Kami bukan belatung nasi, dan kau bahkan tidak bisa lari secepat diriku!”

Hongjun merinci apa yang terjadi, dan saat Li Jinglong mendengar kata-kata itu, dia terkejut, berkata, “Kau berhasil memblokir qi iblis?!”

“En… hm,” jawab Hongjun. “Sepertinya begitu, tapi aku tidak tahu…”

“Kau tidak bisa keluar sendiri lagi di masa depan!” Li Jinglong memarahinya.

“Aku membawa Lu Xu dan Zhao Zilong bersamaku!” kata Hongjun. “Aku tidak keluar sendirian.”

“Itu benar,” tambah ikan mas yao dari tempatnya di punggung Hongjun. “Apa kau bertanggung jawab atas kami?”

Li Jinglong awalnya ingin mengatakan bahwa tidak peduli dengan siapa itu, itu tidak baik-baik saja, tapi jika dia mengatakan itu, tidak peduli orang mana dari Departemen Eksorsisme yang pergi bersama dengan Hongjun, dia tidak bisa sepenuhnya tenang. Tidak peduli bagaimana dia mengatakannya, dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena tidak menjaganya dengan baik hari ini, jadi dia tidak lagi memarahinya. Li Jinglong menepuk kepalanya, menenangkan pikirannya sejenak. Setelah melihat bahwa ekspresi Hongjun menunjukkan kebingungan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menganggapnya lucu.

“Saat kita kembali malam ini, aku akan menyelesaikan perhitungan di antara kita,” Li Jinglong menjawab dengan mudah.

“Itu… kau tidak bisa lari membabi buta seperti ini di masa depan,” Mo Rigen memarahi Lu Xu. “Meskipun kau berlari dengan cepat…”

Lu Xu memelototi Mo Rigen, dan mereka berdua melihat ke arah Li Jinglong dan Hongjun pada saat yang bersamaan, tepat ketika Li Jinglong mencium Hongjun.

Mo Rigen: “…”

Mo Rigen tidak berani meniru itu, kalau tidak, dia berpikir mungkin Lu Xu akan memberinya tendangan dan membuatnya terhuyung-huyung hingga berhenti di bawah batu pemecah naga di Mausoleum Zhao.

Saat Hongjun mendengar kata-kata itu, dia tahu bahwa Li Jinglong tidak marah, tapi dia terus bertanya, “Tapi kenapa Xie Yu menghilang?”

Mo Rigen berkata pada mereka dari kejauhan, “Aku pikir itu jebakan.”

Li Jinglong menjawab, “Mari kita periksa sekali lagi. Jika ada sesuatu, kita bisa membicarakannya saat kita kembali.”

Dengan itu, Mo Rigen dan Lu Xu kembali lagi, tapi saat mereka sampai di bagian terdalam dari Mausoleum Zhao, anglo masih menyala, tapi qi iblis sudah menghilang tanpa jejak.

“Itu tidak akan ada di peti mati, kan?” Tanya Mo Rigen.

Lu Xu menjawab, “Tidak mungkin. Ular sebesar itu, bagaimana bisa masuk ke dalam sana untuk bersembunyi?”

Mereka berdua mencari di sekitar, ke beberapa mekanisme yang ada, tapi mereka tidak menemukannya. Qi iblis juga benar-benar menghilang, dan saat mereka keluar, mereka memberi tahu Li Jinglong bahwa memang tidak ada yang tersisa di dalam.

Ikan mas yao berkata, “Itu tampak seperti kita melihat hantu, bagaimana bisa itu menghilang begitu saja?”

Semalam, Li Jinglong belum tidur sepanjang malam karena dia terlalu bersemangat, dan dia sudah menghabiskan sepanjang hari ini dengan terburu-buru, jadi dia kelelahan. Dia memberi isyarat agar mereka kembali dan membicarakannya nanti, dan dia menyuruh Hongjun memindahkan granit yang menahan batu pemecah naga. Mo Rigen kemudian berubah menjadi Serigala Abu-abu dan membawa mereka bertiga pergi dari Gunung Jiugu, kembali ke Kota Chang’an.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya 

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Ini pada dasarnya adalah batu raksasa yang berdiri di depan pintu masuk yang sempit, dan itu dimaksudkan untuk memisahkan dunia orang hidup dari dunia orang mati.
  2. Wheezing, suara siulan bernada tinggi yang muncul saat bernapas.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments