“Dalam hidupku, kau adalah seseorang yang sangat penting bagiku.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Tapi tepat pada saat ini, sebuah suara datang dari luar. “Yang Mulia Kaisar memanggil Li Jinglong—”

Saat dia mendengar suara ini, Li Jinglong tahu bahwa dia sudah menang.

“Para Tuan yang agung, Yang Mulia Pangeran, subjek ini akan pergi terlebih dahulu.”

Semua orang: “…”

Yang Guozhong dan Gao Lishi awalnya bersiap untuk mencela Li Jinglong di depan umum, tapi mereka tidak menyangka bahwa pada akhirnya, Putra Langit sendirilah yang akan menyelamatkan Li Jinglong! Li Heng juga terkejut. Saat Li Jinglong melihat ekspresi Li Heng, dia tahu bahwa masalah kali ini adalah masalah yang mungkin tidak diketahui oleh Li Longji; itu semua sudah dirahasiakan darinya oleh putra mahkota.

Masalah ini memiliki implikasi yang luas, dan lebih pada perebutan kekuasaan antara Geshu Han, Yang Guozhong, dan Li Heng. Li Heng yang tidak ingin melaporkannya, itu bisa dimengerti. Jika hanya hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran, Li Jinglong mungkin akan membiarkannya, tapi itu juga menyentuh Mara, di mana satu langkah salah bisa menyebabkan runtuhnya seluruh papan catur. Li Jinglong tidak berani bertindak ceroboh, jadi dia hanya bisa melaporkannya kembali ke Li Longji sesegera mungkin.

Dengan langsung melewati atasannya ini, putra mahkota secara alami membencinya, tapi Li Jinglong tidak bisa memikirkan hal itu lagi. Dia segera menuju ke Jinhua Luo.

“Hongjun,” kata Li Jinglong pada Hongjun, tiba-tiba berhenti di koridor. “Apa kau percaya padaku?”

Hongjun berhenti sejenak, sebelum mengangguk. Li Jinglong berkata, “Tidak peduli apa yang aku lakukan atau katakan, kau harus percaya padaku.”

“Tentu saja. Apa ada yang salah?” tanya Hongjun.

Li Jinglong berpikir dalam-dalam untuk sementara waktu, sebelum berkata, “Sebentar lagi, tidak peduli apa yang aku katakan di depan Yang Mulia, kau harus mengingat ini, Hongjun…”

Hongjun: “???”

Hongjun memperhatikan Li Jinglong dengan rasa ingin tahu, tapi Li Jinglong hanya menatapnya dengan tenang, sebelum akhirnya berkata, “Kau hanya perlu mengingat itu untukku, kau adalah seseorang yang paling penting…”

“Ayo pergi ba.” Ada rona merah di wajah Li Jinglong, dan dia tidak terus bicara melainkan menyuruh Hongjun untuk bergegas. Pada saat itu, Hongjun jelas merasakan bahwa Li Jinglong merasa sedikit malu.

Jantungnya mulai berdebar kencang saat dia mengejar Li Jinglong, mereka berdua pergi ke Jinhua Luo.

Musim dingin sudah berlalu, dan musim semi sudah tiba. Daun baru sudah tumbuh dari cabang-cabang gingko penjaga negara, dan di sekelilingnya dipenuhi dengan pohon persik yang sudah dipindahkan ke sini, mekar dengan cemerlang.

Li Longji dan Yang Yuhuan sedang duduk di kursi santai seperti biasanya, namun saat Li Jinglong dan Hongjun muncul, musik seketika berhenti. Li Longji mengirim seseorang untuk memanggil Li Heng ke mari. Li Jinglong baru saja akan melapor, tapi Li Longji berkata dengan ringan seperti awan dan angin, “Mari kita bicarakan setelah putra mahkota ada di sini ba.”

Yang Yuhuan mengenakan pakaian putih, dan dia tersenyum bahagia saat dia melihat Hongjun, bertanya, “Apakah kau berhasil menemukan pamanmu?”

“Kami menemukannya,” Hongjun balas tersenyum, mengambil kue-kue dan teh yang diberikan oleh seorang kasim padanya. “Sayang sekali kami tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya, karena kami harus kembali dengan terburu-buru.”

Yang Yuhuan berkata, “Akan selalu ada kesempatan untuk bertemu lagi, jangan khawatir.”

Li Longji berkata, “Jika bukan karena surat yang kau kirim ini, Zhen bahkan tidak akan tahu bahwa kau melakukan perjalanan ke Liangzhou. Zhen bertanya-tanya kenapa tidak ada kabar tentangmu yang terdengar selama beberapa hari terakhir ini.”

Li Jinglong tersipu malu. “Petugas ini cukup beruntung untuk melakukan hal-hal atas nama putra mahkota.”

Li Jinglong awalnya ingin melanjutkan membahas mengenai kasusnya, tapi kaisar hanya menanyakan beberapa hal tentang kebiasaan dan praktik setempat, jadi Li Jinglong hanya bisa memberikan beberapa tanggapan biasa. Saat Li Heng tiba, Li Longji melirik Yang Yuhuan. Saat itu, dia bangkit dan pergi, dan suasana di Jinhua Luo seketika menyesakkan.

“Li Jinglong,” kata Li Longji dengan dingin, setelah mengusir semua orang. “Apa yang kau sebutkan dalam surat itu sangat dibesar-besarkan untuk menakuti orang.”

Hongjun tidak menyangka bahwa begitu Yang Yuhuan pergi, Li Longji akan berubah sepenuhnya, dan dia seketika menjadi gugup. Dengan kata-kata itu, Li Longji melemparkan tugu peringatan yang ada di takhta ke tanah, di mana itu terbentang. Hongjun berhasil melihat sekilas “Mara telah turun ke bumi ini dan menjerumuskan orang-orang ke dalam penderitaan dan keputusasaan“, dan dia segera tersentak dan melihat ke arah Li Jinglong.

“Tidak ada satu kata pun yang salah,” kata Li Jinglong. “Untuk spesifikasinya…”

Saat mereka berbicara, Li Jinglong menyesap tehnya. Dimulai dari Mara bertahun-tahun yang lalu, dia berbicara tentang siklus reinkarnasi seribu tahun, kemudian ke periode waktu ini, saat mereka pergi ke Hexi, bagaimana mereka mengetahui secara spesifik dari raja hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran. Dia hanya melompati bagian yang ada hubungannya dengan Hongjun, dan pada akhirnya, dia berkata, “Dan sampai hari ini, benih Mara masih ada di dunia ini, dan kelahiran kembalinya sudah tidak dapat dihindari.”

Saat Hongjun mendengar kata-kata ini, jantungnya berdetak dengan kencang. Dia tidak menyangka Li Jinglong tidak akan menyembunyikannya sedikit pun!

“Maksudmu,” gumam Li Longji, “ada ‘benih Mara’, dan saat waktu sudah tepat, itu akan tumbuh menjadi Mara?”

“Benar.” Li Jinglong jelas sudah bersiap hari ini, dan dia tidak berencana untuk menyembunyikan itu dari kaisar.

“Di mana benih iblis itu?” Li Longji kemudian bertanya.

“Itu sedang diselidiki,” jawab Li Jinglong dengan tenang. “Saya sudah memahami jejaknya, tetapi saya tidak bisa mengatakan di mana itu sekarang.”

Suara Li Heng bergetar saat dia berkata, “Li Jinglong, sebaiknya kau tidak berbicara omong kosong untuk menyebarkan bahaya palsu!”

“Yang Mulia,” jawab Li Jinglong, sama sekali tidak sopan, “dalam kejadian ini, apakah ada bagian yang tidak masuk akal?”

Terkadang, kata-kata yang paling kuat untuk meyakinkan adalah kebenaran. Hongjun harus mengakui bahwa Li Jinglong sangat pintar, karena begitu dia mengungkapkan kebenaran, tidak peduli seberapa berbelitnya proses ini dan betapa mustahilnya cerita ini, mata rantai kebenaran ini memiliki kekuatannya sendiri untuk membuat orang percaya.

“Saya akan menyingkirkan benih Mara,” lanjut Li Jinglong. “Namun dalam proses ini, Chang’an akan mengalami kekacauan besar, dan dukungan Yang Mulia akan diperlukan.”

Menyingkirkan benih Mara juga menyiratkan bahwa Li Jinglong akan membunuhnya. Pada saat itu, dunia berputar di sekitar Hongjun, dan saat dia mendengar kata-kata ini, seolah-olah dia sudah melihat masa depan di mana dia akan mati di tangan Li Jinglong sendiri.

Tapi Li Jinglong hanya menatapnya. Itu adalah tatapan yang paling sering dia gunakan pada Hongjun dulu: tenang, serahkan semuanya padaku.

Hongjun memikirkan kata-kata Li Jinglong, dan dia akhirnya berhasil menekan ketidaknyamanan di hatinya. Dia mengangguk.

“Bagaimana kau akan menyingkirkannya?” Li Longji bertanya.

Li Jinglong menjawab, “Benih Mara adalah apa yang sedang dicari oleh raja yao. Selama itu dapat ditemukan, jika kita berjaga-jaga, maka raja yao akan mengungkapkan dirinya cepat atau lambat, karena dia akan datang untuk mencarinya, tanpa mengindahkan hal yang lain. Saat itu, saya akan menggunakan semua kekuatan Departemen Eksorsisme untuk sepenuhnya melenyapkan ‘Xie Yu’, sebelum kemudian menggunakan Cahaya Hati untuk memurnikan benih iblis dan membakarnya menjadi abu.”

“Kau mungkin tidak bisa mencapai hal ini,” kata Li Longji.

“Jika saya tidak dapat mencapainya,” kata Li Jinglong, “yang lain bahkan memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melakukannya.”

“Untuk menghadapi suku yao, seluruh Departemen Eksorsisme bersedia mengerahkan semua upaya mereka ke dalam pertempuran seperti itu, seperti Hongjun, yang berada di sisiku sekarang, merupakan seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Mereka telah menyerahkan hidup mereka kepada saya, tetapi ketika kita menghadapi pengadilan, Yang Mulia Kaisar, dan Yang Mulia Pangeran, ketika bahaya datang dari orang-orang kita sendiri, kami tidak memiliki cara untuk menentang perintah Yang Mulia Kaisar, dan kami tidak dapat mengabaikan celaan para pejabat pengadilan.”

“Inilah mengapa saya perlu melaporkan ini secara keseluruhan kepada Yang Mulia Kaisar. Ketika kita meninggalkan Jinhua Luo, tidak ada orang kelima yang tahu tentang masalah ini. Saya membutuhkan kepercayaan Yang Mulia Kaisar tanpa pamrih.”

Setelah mengatakan ini, Li Jinglong meletakkan tangannya di atas tangan Hongjun, menutupi lututnya. Dia mengangkat kepalanya dan mempelajari ekspresi Li Longji.

Li Longji hanya memperhatikan mereka berdua dalam diam. Tatapan Hongjun menunjukkan sedikit kesedihan. Meskipun dia sudah lama tahu, saat dia mendengar ini, dia masih merasakan kesedihan di hatinya. Tapi dia tidak melepaskan diri dari genggaman Li Jinglong, karena sekarang, dia hanya memiliki Li Jinglong untuk bersandar.

“Li Jinglong,” kata Li Longji, “apakah kau mengerti apa yang kau lakukan?”

Li Jinglong menjawab, “Subjek ini mengerti.”

“Dengan itu, Zhen akan memenuhi permintaanmu.”

“Subjek ini sangat menghormati Yang Mulia,” kata Li Jinglong pada akhirnya.

Di kegelapan malam, Li Jinglong dan Hongjun berjalan melewati gang kecil, satu di depan, satu di belakang, bergerak perlahan. Hongjun berjalan di depan, sementara Li Jinglong mengikutinya di belakang. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, dan mereka tidak berbicara untuk waktu yang lama.

“Hongjun,” Li Jinglong akhirnya membuka mulutnya. “Ada yang ingin kukatakan padamu.”

Tapi Hongjun menjawab, “Aku sangat lelah, aku tidak ingin bicara.”

Li Jinglong berlari beberapa langkah ke depan dan menjelaskan, “Hari ini, panggilan dari putra mahkota terjadi secara tiba-tiba. Ada banyak hal yang awalnya ingin aku jelaskan padamu tadi malam, atau malam ini…”

“Aku akan kembali,” jawab Hongjun.

Dia masih mempercayai Li Jinglong, tapi kata-kata di Jinhua Luo itu terlalu memukulnya, dan dia sedikit bingung. Bebatuan di luar pintu utama Departemen Eksorsisme terbuka, dan Hongjun bergegas masuk. Li Jinglong mengikuti di belakangnya, berkata,

“Kau berjanji padaku bahwa apa pun yang terjadi, kau akan mempercayaiku!”

Hongjun berbalik dan melirik Li Jinglong, ada kesepian dan kesedihan di dalam tatapannya. Dia mengerti alasannya, tapi pada saat ini, dia merasa sangat tidak nyaman di dalam hatinya sendiri.

“Kalian berdua sudah kembali?” tanya ikan mas yao dari halaman. “Apa kau sudah makan? Kemana kau pergi?”

Hongjun melewatinya dengan langkah cepat. Lu Xu menjulurkan kepalanya keluar dari kamar Mo Rigen, berteriak, “Hongjun!”

Hongjun masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Li Jinglong berlari untuk mengejarnya, dan dia berdiri di luar pintu, berkata, “Hongjun, biarkan aku menjelaskan…”

Tapi Hongjun tidak membuka pintu. Saat menghadapi satu pintu yang tipis itu, Li Jinglong juga tidak menerobos masuk; dia hanya berdiri di sana. Tidak ada lentera yang dinyalakan di dalam kamar, dan bayangannya yang besar terbayang di pintu kertas.

Hongjun menatap siluet itu, tidak mengatakan satu hal pun.

A-Tai, Mo Rigen, dan yang lainnya semua menjulurkan kepala mereka keluar ruangan untuk melihat Li Jinglong, tapi dia melambai ke arah A-Tai, memberi isyarat agar dia datang sebelum mengucapkan beberapa kata dengan pelan ke telinganya. A-Tai tidak tahu harus tertawa atau menangis, dan dia kembali ke kamarnya dengan satu tangan menempel di dahinya.

“Dia baik-baik saja ba?” Kata Mo Rigen.

Li Jinglong mengangguk. Lu Xu baru saja akan memanggil di depan pintu, tapi Li Jinglong buru-buru menghentikannya. Dia memberi isyarat ke Mo Rigen, membuat gerakan “kurungan” dengan jari-jarinya.

Lu Xu: “?”

Mo Rigen mengerti, dan dia bergegas meraih Lu Xu, menjelaskan dengan tenang ke telinganya. Lu Xu tidak terus berjuang untuk melepaskan diri dari genggaman Mo Rigen, tapi justru melihat Li Jinglong dengan ragu.

Hongjun berbaring di tempat tidur, dan saat dia melihat bahwa Li Jinglong sudah pergi, dia mulai berguling-guling. Dia memikirkan kata-kata yang Li Jinglong katakan hari ini. Dia mengerti di dalam hatinya bahwa Li Jinglong melindunginya, dan begitulah kata-kata hari ini muncul.

“Aku tahu bahwa kata-kata yang kuucapkan hari ini pasti tidak mudah untuk didengar.” Suara Li Jinglong terdengar lagi dari luar pintu.

Hati Hongjun kusut seperti gulungan tali. “Berhentilah berbicara! Pergilah ba!”

“… tapi kau hanya mendengar kata-kata yang ada hubungannya dengan Mara,” kata Li Jinglong, tidak mengindahkan perintah Hongjun untuk pergi. “Ada satu kalimat lain yang aku katakan pada Yang Mulia, dan itu adalah: Dalam hidupku, kau adalah seseorang yang sangat penting bagiku.”

Mo Rigen, Lu Xu, ikan mas yao, A-Tai, Ashina Qiong, saat kelompok itu mendengar kata-kata ini, mereka menunjukkan ekspresi takjub. Mo Rigen bahkan tersenyum, dan dia mengepalkan tangannya dan melambaikannya ke Li Jinglong. Meskipun dia tidak tahu apa yang sudah terjadi, dia tetap menyemangatinya.

Mulut ikan mas yao melebar. Semua orang bertindak seolah-olah mereka sedang menonton sesuatu yang menarik, dan Li Jinglong seketika menjadi canggung, melambaikan tangannya agar mereka bergegas pergi.

Di dalam kamar, Hongjun masih tidak menjawab.

Li Jinglong datang, memegang kecapi barbat di tangannya. Dia duduk, kakinya disilangkan, di luar kamar Hongjun dan berkata, “Hongjun, apa kau tahu kenapa aku mengagumi Yang Mulia?”

Kamar itu adalah sepetak keheningan, dan cahaya bulan menyinari kertas jendela, mengubah tanah menjadi seputih salju. Li Jinglong terus berbicara.

“Sepuluh tahun yang lalu, Selir Kekaisaran Wu1 meninggal karena sakit. Yang Mulia jatuh cinta dengan Selir Kekaisaran Yang pada pandangan pertama, jadi dia memanggilnya ke istana. Selir kekaisaran pernah menjadi istri putranya. Tindakan ini tidak berbeda dengan memicu gelombang besar di dalam istana kekaisaran.”

“Tapi dia tetap pada pendiriannya meskipun ada keberatan, hanya karena dia percaya bahwa mereka berdua akan bersama,” lanjut Li Jinglong. “Selain itu, jika langit runtuh atau tanah terbelah, jika lautan luas membanjiri dataran sutra, itu tidak ada hubungannya dengannya.”

Hongjun duduk di tempat tidur, menyilangkan kakinya, dan dengan bingung memperhatikan siluet Li Jinglong di luar, sama sekali tidak mengerti kenapa dia mengatakan ini. Li Jinglong sama sekali tidak hanya memiliki keinginan untuk meminta maaf, dia benar-benar menarik napas setelah dia selesai menjelaskan.

“Biarkan aku memainkan lagu untukmu, Hongjun,” kata Li Jinglong.

Hongjun: “???”

Kemarahan Hongjun sudah mereda, dan saat dia memikirkan bagaimana yang lain mungkin belum tidur dan Li Jinglong sedang duduk di luar seperti ini, yang lain mungkin berpikir bahwa mereka sudah berdebat, jadi dia menjadi malu. Tepat saat dia akan pergi ke depan dan membuka pintu untuknya, dia mendengar suara barbat, seperti air yang mengalir.

Gunung memiliki pohon dan pohon memiliki cabang…

Suara Li Jinglong dalam dan kaya2, tidak seperti kejernihan suara A-Tai, tapi saat suara nyanyian terdengar, ada kekuatan aneh di dalamnya yang langsung menuju hati Hongjun!

Hatiku berbahagia untuk tuanku, namun tuanku tidak mengetahuinya…” Wajah Li Jinglong merona merah saat dia memetik senarnya. Jari-jarinya bersinar dalam cahaya, dan mereka menari di antara senar tanpa henti. Hongjun berhenti bernapas. Ini adalah… sebuah… lagu tentang kekasih!

Hongjun tidak percaya, dan dia melihat ke sekelilingnya, merasa sedikit pusing. Dia kemudian memusatkan pandangannya kembali pada siluet Li Jinglong yang terbayang di pintu.

Li Jinglong terus bernyanyi. “Malam apa ini, aku membawa perahuku ke sungai — Hari apa ini, aku kebetulan berbagi perahu ini dengan pangeranku? — Malu, aku rasakan, karena tertarik kepadamu, tetapi aku tidak takut akan rasa malu karena dicela.

Kerinduanku sangat kuat, namun tanpa istirahat, dan pikiranku hanya tentang pangeranku. Gunung memiliki pohon, dan pohon memiliki cabang!

Hatiku berbagia untuk tuanku, namun! Tuanku tidak mengetahuinya!

Hongjun: “…”

“Lagu Penjaga Perahu Yue” ini awalnya adalah lagu yang bijaksana dan anggun oleh seorang wanita Yue, dan dimaksudkan untuk dinyanyikan secara perlahan. Li Jinglong, bagaimanapun, bermain dengan sangat cepat, dan dia menyanyikan lirik secara berurutan dengan anggun. Ada semacam pendekatan konstan yang tak terhindarkan, yang hampir tidak bisa dilawan oleh Hongjun.

Pada saat itu, semua orang di halaman menjadi bisu, dan mereka menatap Li Jinglong dari jauh. Li Jinglong, bagaimanapun, mengubah nada sekali lagi, dan dia mulai untuk bermain, “Surga! Aku rindu untuk mencintai dan menyayangimu, tuanku, seperti yang kau inginkan dariku! Kehidupan yang begitu panjang adalah satu hal tanpa penyesalan — Kecuali jika gunung-gunung lenyap, sungai-sungai mengering, dan guntur mengaum di langit musim dingin… kecuali jika salju terbang selama musim panas yang terik serta langit dan bumi bertabrakan… tidak ada yang akan…

“… membuatku melepaskan cintaku pada tuanku.”3

Musik perlahan berhenti, dan Li Jinglong melihat ke pintu itu. Senyumnya tampan, dan dia tampak seperti anak kecil saat dia berkata, “Hongjun, kau menyukai gege, bukan?”

Hongjun: “…”

Hongjun sedang duduk di lantai, dan dia tidak bisa menahan diri untuk mundur sedikit. Di luar ruangan, Li Jinglong tidak memberinya bahkan sedikit waktu untuk mempertimbangkannya saat dia berkata,

“Aku tahu kau menyukaiku, Hongjun. Katakan, katakan bahwa kau menyukaiku. Kau sudah mengatakannya sebelumnya, kau paling menyukaiku. Katakan sekali lagi, Hongjun.”

Hongjun tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak keras, “Kau… kau terlalu pengecut! Zhangshi! Kau tidak bisa melakukan ini!”

“Katakan bahwa kau menyukaiku.” Li Jinglong meletakkan kecapinya, dan dia berlutut di luar pintu Hongjun. Tangannya ditekan ke lututnya, dan dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Jika kau mengatakan bahwa kau menyukaiku, Hongjun, maka aku akan masuk.”

“Aku…” Hongjun tidak bisa mengendalikan dirinya dan terengah-engah dengan cepat. Apa yang dia rasakan saat ini sama seperti apa yang dia rasakan hari itu ketika Li Jinglong memeluknya dan melompat dari Istana Yaojin ke dalam kehampaan yang luas.

Li Jinglong seperti seorang jenderal besar yang mengepung sebuah kota. Meskipun dia sendirian, seolah-olah dia memiliki pasukan besar di belakangnya yang menyerang semua dewa dunia, baik yang tidak bernama maupun bernama, menuju langit yang tak berujung, tanah yang luas, pegunungan dan dataran, lautan yang luas, dan seluruh makhluk hidup di Tanah Suci. Dalam rentang satu napas, dia akan menerobos ke kota.

“Katakan bahwa kau menyukaiku,” Li Jinglong tersenyum. “Kalau begitu, Hongjun, kita akan bersama. Maka sejak saat itu, kau tidak akan meninggalkanku, dan aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Aku… aku…” kata Hongjun. “Aku….”

Darah panas sepertinya sudah mengacaukan pikiran Hongjun, dan dia tidak bisa berhenti gemetar saat kalimat itu menyumbat tenggorokannya. Segala sesuatu yang dia dambakan ada di sisi lain pintu. Suaranya semakin jauh, namun sepertinya terdengar jujur ​​dari lubuk hatinya.

“Aku… aku… menyukaimu.” Hongjun hampir tidak bisa bernapas sekarang.

“Siapa yang kau suka?” Li Jinglong bertanya dari luar pintu.

“Kau bajingan!” Seluruh wajah Hongjun merah padam saat dia meraung marah ke pintu, “Li Jinglong—!”

Li Jinglong mengeluarkan kata “ay” saat dia tersenyum, sebelum dia membuka pintu kertas dan masuk dengan langkah besar. Hongjun segera menjadi gugup, dan saat Li Jinglong maju, Hongjun berteriak, “Apa yang kau lakukan?!”

Li Jinglong berhenti di depan Hongjun, yang terus tersudut. Seluruh tubuhnya menjadi kacau, tapi Li Jinglong berlutut dengan satu lutut, sebelum lututnya yang lain juga berada di lantai saat dia memblokir Hongjun ke sudut.

Hongjun merasa sangat canggung, tapi Li Jinglong mengulurkan tangannya dan mengangkat dagunya, mengamatinya dengan sungguh-sungguh. Dia berkata dengan suara pelan, “Jangan bergerak, jadilah baik.”

Tepat setelah itu, Li Jinglong memiringkan kepalanya dan menciumnya.

Seketika, ada ledakan keras di benak Hongjun, dan semuanya benar-benar menjadi putih. Bibir Li Jinglong terasa panas tapi juga lembut, dan saat bibirnya menyentuh bibir Hongjun, malam musim semi tiba-tiba menjadi sunyi. Hongjun merasakan seberkas cahaya putih membelah malam gelap yang luas, menyinari tepat ke dalam jiwanya.

Saat bibir mereka terpisah, mereka berdua saling memperhatikan dengan bodohnya. Li Jinglong masih duduk dalam posisi berlutut seperti sebelumnya, dan dia mengamati Hongjun. Dengan senyum di matanya, dia bertanya, “Apa aku ini?”

“Kau bajingan,” kata Hongjun.

“Katakan itu sekali lagi?” Tanya Li Jinglong.

“Kau… wu…” Sebelum Hongjun bisa mengucapkan kata-kata itu, dia sekali lagi dicium dengan penuh gairah oleh Li Jinglong. Matanya melebar, memperhatikan Li Jinglong, sebelum kemudian tatapannya melompat melewati bahunya ke luar pintu. Seluruh wajahnya menjadi merah padam saat dia mencoba mendorong Li Jinglong menjauh.

“Fokus,” kata Li Jinglong, mengerutkan keningnya.

“Berhenti menonton!” Hongjun hampir mati karena malu; sekelompok besar orang berdiri di luar pintu.

“Selamat, selamat!” Mo Rigen buru-buru berkata.

Zhangshi, bagikan uang ba!” kata A-Tai. “Saat peristiwa bahagia terjadi, kau harus memberikan amplop merah.”

Ashina Qiong menambahkan, “Itu benar, beri kami masing-masing dua puluh tael ba.”

Lu Xu berkata, “Aku merasa kau benar-benar bajingan, Zhangshi.”

Li Jinglong mengeluarkan raungan marah. “Jika kalian terus berbicara, aku akan memotong gaji kalian!”

Dengan itu, seluruh kelompok bubar, meninggalkan ikan mas yao, yang menyaksikan Hongjun dengan bodohnya, seolah sangat kecewa.

“Tutup pintunya untukku,” Hongjun buru-buru berkata, “Zhao Zilong.”

Ikan mas yao berkata, “Hongjun…”

Hongjun buru-buru menambahkan, “Biarkan aku sendiri sebentar!”

Ikan mas yao hanya bisa menutup pintu dan kabur.

Saat Hongjun melihat kembali ke arah Li Jinglong, dia sangat gugup sehingga dia hampir muntah, dia bangkit, mencoba berlari keluar. Li Jinglong, bagaimanapun, bertanya, “Ke mana kau akan pergi?”

Hongjun berkata, “Aku… aku akan mencari udara segar.”

Hongjun mengenakan ji kayunya dan berlari keluar hanya dengan jubah dalamnya. Li Jinglong terus mengikuti di belakangnya. Hongjun berputar di sekitar halaman, wajahnya terlihat bingung, tapi Li Jinglong hanya mengikuti, pergi kemana pun Hongjun pergi.

“Kau…” Saat Hongjun berbalik, dia hampir menabrak dada Li Jinglong, dan Li Jinglong bertanya, “Mau aku memelukmu?”

Hongjun: “Tidak!”

Li Jinglong berkata, “Mereka semua mendengar.”

Hongjun: “…”

“Ikut denganku,” kata Li Jinglong, meraih tangan Hongjun. Saat ini, segera setelah Hongjun merasakan sentuhan itu, dia menjadi gugup dan ingin melepaskannya, tapi Li Jinglong memegangnya dengan erat dan melompat ke atas atap. Pikiran Hongjun sibuk di tempat lain dan dia hampir terpeleset dan jatuh, jadi Li Jinglong melingkarkan lengannya di pinggangnya dan membawanya melompat melintasi atap. Mereka melewati beberapa atap, naik ke Pagoda Dayan.

Hongjun merasa seperti tenggelam dalam mimpi. Dia tidak memiliki cara untuk mencerna perubahan yang terjadi secara tiba-tiba di dalam hidupnya ini, dan dia hanya ingin meninggalkan Li Jinglong dengan cepat agar dia bisa pergi dengan tenang sendirian. Li Jinglong, bagaimanapun, mengikuti tepat di belakangnya, bahkan tidak memberinya kesempatan untuk bernapas, seolah-olah dia takut saat dia berbalik, dia akan kehilangan Hongjun.

“Aku…”

Hongjun menoleh untuk melihat Li Jinglong, emosi di hatinya membengkak seperti gelombang besar mengancam yang akan menelan langit. Dia memiliki semburan kata-kata, tapi dia tidak tahu bagaimana mengatakannya.

“Lihat,” kata Li Jinglong. “Chang’an malam ini sangat indah.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya 

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Pangkatnya secara teknis adalah Huifei, pangkat tertinggi dari selir sampai terciptanya peringkat Gufei (yang merupakan selir Yang).
  2. Rich, suaranya penuh dan lembut dari segi nada maupun kualitas.
  3. Sebuah lagu rakyat dari zaman Han, yang disebut “Surga”. Artinya sudah cukup jelas. Dan sorry aku gak cukup puitis untuk nge tl lagunya.. 
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments