English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 14 Part 5

Guntur bergemuruh dengan samar di kejauhan. Wu Du kembali ke kamar mereka dan menemukan bahwa Duan Ling berbaring di tempat tidur dengan mata yang masih terbuka, melirik ke arahnya saat dia masuk.

“Belum tidur?” Kata Wu Du.

Duan Ling menggelengkan kepalanya, hendak bangun sehingga dia bisa memberikan tempatnya pada Wu Du.

“Tidur saja di bagian dalam tempat tidur. Lantainya kotor. Aku melihat pelayan mengepel lantai sebelumnya dan ember air yang dia gunakan sangat kotor sampai aku bertanya-tanya sudah berapa tahun dia mengepelnya dengan itu. Bahkan sumur mati kuno lebih bersih dari itu.”

Duan Ling tertawa. Karena mereka berada dalam perjalanan bersama, mereka bisa masuk ke satu-satunya ruangan yang bagus di rumah pos; tempat tidurnya, terlihat cukup besar.

“Pada saat kita kembali, mereka mungkin sudah memindahkan ibu kota.” Wu Du berkata begitu saja, “Kita harus menyelesaikan pekerjaan dengan baik di sini, Mu Kuangda mungkin akan memberi kita rumah yang lebih luas.”

Duan Ling masih memikirkan percakapan mereka dari sore tadi. “Apakah Xie You ada di Jiangzhou?”

Wu Du menjawabnya dengan hmm sebagai tanda mengiyakan. Duan Ling membiarkan pikirannya mengembara, berputar kembali ke semua hal yang dikatakan Wu Du sebelumnya. Dia ingin belajar lebih banyak lagi, tapi Wu Du adalah salah satu tipe masyarakat, yang tidak terbiasa dengan intrik politik Mu Kuangda dan sejenisnya. Sejak awal waktu kekuasaan antara kaisar dan kanselir, dan antara pemerintah daerah dan pusat, selalu menjadi serangkaian ketelitian dan keseimbangan1, sebuah tes kekuatan dalam tarik tambang.

Chen yang Agung telah mengalami banyak konflik perang dan akhirnya selamat dari periode yang paling berbahaya, tapi Duan Ling secara bertahap menyadari bahwa di bawah permukaan yang tenang ada arus bawah yang saling bersilangan; satu langkah salah dan pemerintah akan terbalik sepenuhnya, tenggelam ke kedalaman bawah. Di barat laut Jiangzhou berdiri Huaiyin, yang telah menjadi lokasi yang semakin penting bagi Jiangbei2 sejak pendudukan Liao di Shangzi, dan sekarang penguasa lokalnya telah tumbuh begitu kuat sehingga tampaknya cukup kuat untuk bertindak menentang kekuatan kekaisaran. Aliansi pernikahan Putri Duanping dengan Markuis Huaiyin Yao Fu adalah salah satu cara untuk memenangkannya ke pihak keluarga kekaisaran.

Memindahkan ibu kota pada saat seperti ini setara dengan menghadapi Markuis, dan itu juga menunjukkan resolusi keluarga Li untuk memulihkan utara dengan dataran tengah sebagai pijakan. Sekilas, Mu Kuangda terlihat seperti orang yang mendorong rencana ini dari bayang-bayang, tapi dalam praktiknya keputusan akhir ada di tangan Li Yanqiu. Namun, tidak ada yang tahu apakah putra mahkota palsu itu memiliki keberanian dan wawasan seperti itu atau tidak.

“Seperti apa putra mahkota?” Tanya Duan Ling tiba-tiba.

Wu Du berbalik, mengabaikannya. Duan Ling mengguncangnya, tapi dia hanya bisa membiarkannya ketika Wu Du tidak memberinya jawaban. Dengan mata yang terbuka lebar, dia terus berpikir. Jika yang dia miliki hanyalah dirinya sendiri dan paman keempatnya, apakah dia akan takut? Mereka harus memindahkan ibu kota cepat atau lambat; ketika dia memikirkan hal itu, dia mendapati dirinya diliputi oleh rasa kegembiraan yang samar-samar alih-alih ketakutan. Ini adalah kegembiraan yang dirasakan seseorang dalam menghadapi bahaya yang akan segera terjadi…


“Kenapa kau selalu terlihat seperti masih setengah tidur?”

Keesokan harinya saat Wu Du bersiap untuk kembali melakukan perjalanan, dia bahkan tidak bisa marah ketika dia melihat Duan Ling tertidur lagi; Duan Ling mengantuk saat dia melangkah keluar dari pintu, sangat mengantuk sehingga dia mungkin akan tersesat jika tidak ada orang di sana untuk mengawasinya. Gerimis ringan mulai turun hari ini, terus menerus; sekarang hampir musim gugur, dan saat mereka bergerak ke utara di sepanjang perbatasan Xichuan, itu juga secara bertahap menjadi lebih dingin.

Pada saat mereka sampai di Sungai Min, matahari terbenam di balik langit kelabu yang menunjukkan bahwa hujan tidak akan berhenti. Wu Du berkata pada Duan Ling, “Saat ini kau adalah tuan muda dan aku adalah pelayanmu.”

“Baiklah.” Duan Ling mengangguk, dan mengikat ikat pinggang di jubahnya dengan benar. Dengan kesabaran dan penuh kehati-hatian, Wu Du menginstruksikannya tentang bagaimana dia seharusnya berbicara tergantung pada siapa dia berbicara, apa yang seharusnya dia katakan, bagaimana agar dia tidak membiarkan identitas aslinya terbongkar. Duan Ling terus mengangguk dengan ekspresi rendah hati dan tidak menonjolkan diri di wajahnya, sambil memikirkan hal-hal lain.

Wu Du mulai menyadari bahwa Duan Ling memang bukanlah orang biasa — atau dengan kata lain, bukan orang biasa yang dulu dia kira. Anak ini banyak berpikir, sedikit berbicara, dan tidak pernah mengatakan apa pun sebelum mempertimbangkan dengan cermat. Pada pandangan pertama, dia tampak lalai, tapi sebenarnya dia memiliki wawasan yang mendalam, memperhatikan detail yang bahkan Wu Du dapat dengan mudah mengabaikannya.

Hujan berhari-hari telah membuat jalur gunung menjadi basah dan licin, dan begitu mereka berada di luar perbatasan Xichuan, banyak tempat di depan mereka mengalami tanah longsor, membuat kusir mereka tidak memiliki pilihan lain selain mengambil jalan memutar. Malam ini kusir mereka membuat mereka tersesat, dan dia memanggil Wu Du dengan tidak jelas. Wu Du hanya bisa keluar dari kereta dan melompat di atas atap dalam upaya untuk mengamati medan jalan.

“Apa yang akan kita lakukan?” Duan Ling ingin keluar, tapi Wu Du memberi isyarat agar dia tetap berada di kereta.

“Kau baru saja berlatih… tentang bagaimana menjadi tuan muda,” gumam Wu Du pada dirinya sendiri, sambil membuka peta. Lingkungan mereka gelap gulita, dan tidak ada yang bisa dilihat; rintik hujan yang terbungkus angin dingin terjalin melalui udara di sekitar mereka.

“Orang-orang di rumah pos mengatakan ini adalah jalan yang benar,” kata Duan Ling. “Kita telah memeriksanya.”

“Aku menduga kita salah jalan di dua persimpangan yang sebelumnya.” Wu Du benar-benar frustrasi. Mereka memiliki kusir bisu dan tuli yang tidak ada gunanya untuk diteriaki, jadi dia hanya bisa menggunakan isyarat tangan. Berbeda halnya saat berpergian di jalan Xichuan, tapi segera setelah mereka memasuki wilayah Hanzhong, mereka kehilangan arah.

“Atau kita bisa kembali,” kata Duan Ling.

“Terlalu banyak persimpangan di jalan,” jawab Wu Du. “Siapa yang tahu di alam liar mana kita akan berakhir jika kita terus bergerak? Ayo kita tinggal di sini untuk malam ini.”

Kusir mengemudikan kereta ke sisi jalan dan memasang tenda di belakangnya. Duan Ling sedang duduk di kereta saat Wu Du berkata, “Aku akan memeriksa area di sekitar sini.”

“Aku akan pergi juga.” Duan Ling turun dari kereta dengan belati yang diberikan Mu Kuangda untuk membela diri.

Wu Du menatapnya dari atas ke bawah, sedikit terkejut.

“Kenapa kau begitu berani sekarang?” Wu Du terlihat agak bingung.

Duan Ling tidak yakin bagaimana menjawabnya; begitu mereka keluar dari Xichuan dan hidupnya tidak lagi dalam bahaya, tampaknya keberaniannya telah tumbuh seiring dengan jarak yang ada. Lagi pula, tidak ada orang lain selain Lang Junxia yang akan datang membunuhnya tanpa alasan yang jelas, dan sementara dia mengabaikan seni bela dirinya selama setahun, dia telah berlatih secara teratur sehingga dia mungkin masih bisa bertarung.

“Aku… hanya ingin jalan-jalan,” jawab Duan Ling.

“Tunggu saja di sini.” Wu Du berbalik untuk pergi, tapi ketika dia memikirkannya, dia tidak merasa cukup yakin. Dia berbalik dan memberi Duan Ling sebuah pil. “Telanlah.”

“Apa ini?” Itu sangat pahit, tapi Wu Du terlihat tidak sabar sehingga Duan Ling hanya bisa menelannya. Itu masuk ke dalam perutnya dengan sensasi dingin sebelum mulai menyebar dengan kehangatan. Dan kemudian Wu Du memberinya manik-manik emas.

Duan Ling mengingat manik-manik emas itu — itu adalah kelabang!

Dia tidak berani menerimanya, dan terlebih lagi dia tidak berani melihat Wu Du. Wu Du berkata, “Ambillah!”

Wu Du melemparkan kelabang itu ke arahnya, dan karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, Duan Ling menangkapnya. Intinya, jika dia digigit, Wu Du hanya harus memberinya obat penawar. Namun, manik-manik emas tidak meregang menjadi kelabang — hanya tetap tergulung dengan tenang.

“Selipkan di bawah bajumu dan simpan dengan aman.” Wu Du memberi isyarat di dadanya. “Aku akan pergi mencarikanmu air. Aku akan segera kembali.”

Wu Du sudah pergi, namun Duan Ling masih tidak berani memindahkan manik-manik emas itu, dan membuatnya semakin tidak ingin memegangnya. Dia meletakkannya di dekatnya dan mengamatinya cukup lama sebelum dia mengingat pil yang diberikan Wu Du padanya. Itu mungkin berisi realgar3 atau obat lain sejenis itu, dan jika begitu, kelabang itu tidak akan menggigitnya. Dia tidak yakin mengapa Wu Du memintanya untuk melakukannya, tapi dia tetap mengikuti perintahnya, dan dengan hati-hati menyelipkan manik-manik itu di bawah bajunya.


Di kegelapan, kusir mendorong pembersih pipa chung feng-nya4 dan berjongkok di bawah pohon untuk merokok. Duan Ling mengambil sepotong roti pipih dan turun dari kereta, memberikan setengahnya pada kusir, dan membuat beberapa gerakan acak mencoba berterima kasih padanya atas kerja kerasnya. Karena mereka tidak dapat berkomunikasi, mereka masing-masing kembali ke apa yang mereka lakukan sebelumnya. Dari jauh terdengar pekikan binatang. Seketika kaget, Duan Ling membuka tirai kereta untuk melihat keluar.

Hujan telah berhenti, dan malam menyelimuti mereka; dalam kegelapan malam yang gelap gulita, satu-satunya sumber cahaya adalah ujung pipa chung feng kusir yang sesekali redup dan terang, menyebarkan cahaya merah remang-remang. Duan Ling meninggalkan kereta dan menatap ke ujung jalan.

Awan hujan berangsur-angsur memudar, dan hujan yang telah terkumpul menjadi genangan air besar dan kecil sekarang, mencerminkan langit berbintang di atas. Duan Ling memperhatikan sesuatu yang terbang menjauh dari pohon dan mengambil beberapa langkah lebih dekat, dan tiba-tiba dia menemukan sepasang mata yang bersinar memelototinya, membuatnya berteriak kaget. Suaranya menyebar jauh di dataran yang tenang.

“Ada apa?!” Wu Du sangat ketakutan, dan dia muncul di jalan raya dalam satu lompatan.

“Ada… seekor burung.” Duan Ling menunjuk ke pohon. Dia melihat seekor burung hantu — atau “elang berkepala kucing”5 dalam bahasa umumnya. Wajah Wu Du berkedut, dan berbalik dia pergi sekali lagi ke kolam untuk mengambil air.

Duan Ling mengejarnya, menjaga langkah di belakangnya. Begitu langit malam menjadi cerah, udara menjadi lebih bersih dan segar, mencerahkan suasana hatinya sekaligus.

“Seseorang pernah berada di area ini.” Duan Ling berkata, “Lihatlah ke sana. Haruskah kita pergi memeriksanya?”

“Ketika kau jauh dari rumah, jangan berkeliling untuk menyapa sembarang orang. Tidak semua orang senang menerima tamu.”

Wu Du telah menyeka bagian atas tubuhnya dan melepas bajunya. Sambil memegang tas bahu dengan longgar di satu tangan, dia berjalan berdampingan dengan Duan Ling dengan hanya mengenakan celana.

“Kau lapar?” Tanya Wu Du.

Duan Ling baru saja makan sedikit roti pipih, dan dia menyimpan sisanya untuk Wu Du. Wu Du memakannya dari tangannya dan berkata, “Begitu kita sampai di Tongguan, aku akan memberimu sesuatu yang lebih baik…”

Dia baru saja selesai mengatakan itu ketika mereka mendengar seekor kuda meringkik di kejauhan seolah-olah sesuatu telah terjadi; Duan Ling dan Wu Du keduanya terkejut pada saat yang sama.

“Oh tidak!”

Dengan suara gemuruh keras, kereta mulai bergerak. Kusir berteriak sekuat tenaga, tapi suaranya tiba-tiba terpotong. Naluri bertahan hidup yang telah menemani Duan Ling melewati banyak rintangan dengan kematian membawanya kembali ke akal sehatnya.

“Lari!” Duan Ling segera berteriak, dan menarik Wu Du bersamanya, dia mulai berlari menuju sepetak rumput setinggi bahu di hutan belantara.

“Semuanya ada di kereta!” kata Wu Du.

Pemikiran sepersekian detik kemudian membuat Wu Du menerima keputusan Duan Ling, dan keduanya menyembunyikan diri di rerumputan yang tinggi. Saat mereka selesai melakukannya, panah terbang di udara, mengarah ke tempat persembunyian mereka. Duan Ling berbalik sekali, menghindari jalur panah, dan melarikan diri menuju kolam bersama Wu Du.

Seorang penunggang kuda menyerbu ke tempat terbuka. Ada tumpukan jerami yang tinggi di mana-mana, dan tak satu pun dari mereka terjaga dari serangan; semua yang Duan Ling miliki adalah belati, dan dia baru saja akan memberikannya pada Wu Du bahkan tanpa melihat belati itu, Wu Du menekan tangan dengan santai di bahunya untuk memberi tahunya bahwa dia harus menunggu di balik tumpukan jerami. Kemudian dia menutupi mulut dan hidung Duan Ling dengan kain basah sebelum membuang segenggam bubuk bercahaya yang menyebar seperti kunang-kunang ke rumput di dekatnya.

Ada banyak orang yang berjalan ke arah mereka dari segala arah, meneriakkan hal-hal dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Duan Ling segera menyadari bahwa mereka telah bertemu dengan sekelompok orang Tangut! Tempat ini tidak jauh dari Xiliang, jadi mereka pasti telah mencapai perbatasan antara Chen dan Xiliang. Bandit berkuda adalah pemandangan yang tidak asing lagi di wilayah Tangut — sepertinya mereka telah menjadi sasaran!

Saat kesadaran ini muncul, Tangut yang berpakaian seperti bandit berkuda dan mengacungkan panah mereka, mengarahkan panah mereka ke tengah setengah lingkaran yang mereka bentuk sambil berteriak dengan keras.

Perlahan, Wu Du mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa dia tidak bersenjata.

“Jangan keluar.” Wu Du berkata, “Tahan napasmu.”

Duan Ling bersembunyi di balik tumpukan jerami. Namun, dia sama sekali tidak khawatir tentang kemampuan Wu Du — dia hanya ingin tahu dan ingin melihat bagaimana Wu Du akan menghadapinya.

Para bandit datang sedikit lebih dekat, dan saat itulah Wu Du membungkuk; setiap bandit bereaksi pada saat yang sama, namun ketika mereka mengambil napas dan akan menembakkan panah mereka, mereka semua justru mulai berteriak, terbukti dari rasa sakit yang tajam di hati mereka, dan beberapa anak panah terbang secara sembarangan tanpa kekuatan sama sekali di belakang mereka. Beberapa bandit berteriak, mungkin menyadari bahwa mereka telah diracuni, dan kelompok mereka jatuh ke dalam kekacauan total. Sementara itu, Wu Du kembali berbalik dari tempatnya berdiri di atas tumpukan jerami dan dengan santai meraih salah satu helai terpanjang dari tumpukan itu.

“Jangan keluar!” Jikalau Duan Ling akan memberinya masalah lagi, dia memerintahkannya sekali lagi. Kemudian seperti angin topan, dia berputar ke tengah para bandit berkuda.

Di antara jari-jarinya, jerami itu berbalik dan berputar, setiap gerakan santai membawa semburan darah dari leher seorang bandit, dan baru kemudian bandit lainnya menyadari bahwa Wu Du bukanlah seseorang yang bisa dianggap enteng. Dengan lolongan ketakutan, mereka mundur darinya. Yang ada di tangan Wu Du hanyalah setengah jerami yang panjangnya bahkan tidak sampai dua kaki, tapi saat menyentuhnya, benda itu tampak setajam pisau.

Mereka semua sangat ketakutan, dan berlari sambil berteriak dengan tangan di leher.

Wu Du melemparkan jerami itu ke samping.

Mulutnya sedikit ternganga melihat tempat kejadian, Duan Ling baru saja menyadari ada sesuatu yang salah.

Tanah ditutupi dengan senjata, semua kuda telah melarikan diri, ada darah yang berceceran di seluruh rumput, tapi… dia sama sekalian tidak membunuh satu orang pun.

“Mereka semua kabur? Tapi… Tapi bukankah kau memotong leher mereka?”

“Semua yang aku lakukan hanyalah menggores leher mereka untuk sedikit menakuti mereka. Siapa yang memiliki nyali untuk terus berjuang ketika lehernya menyemburkan darah? Tentu saja mereka semua akan kabur.”

Duan Ling tidak bisa berkata-kata.

Setelah percakapan mereka selesai, mata mereka sekali lagi melihat ke kejauhan. Saat itulah Wu Du tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oh tidak! Semua barang kita ada di dalam kereta!”

Segera setelah Wu Du mengingatnya, dia dengan cepat tersandung-sandung ke jalan raya, dan memulai mengejar ke arah para bandit yang kabur.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Checks and balances.
  2. Jiangbei secara harfiah berarti “utara sungai”, Jiangnan “selatan sungai”. Sungai yang dimaksud adalah Yangtze.
  3. Orang-orang biasa meminum anggur realgar untuk mengusir roh jahat, racun, dan serangga, karena realgar adalah pengusir serangga yang ditaburkan pada barang-barang untuk mengusir serangga. Itu mengandung senyawa arsenik, tapi tidak cukup untuk membunuhmu.
  4. Mungkin seperti ini.
  5. Secara literalnya.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments