English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 14 Part 4

Duan Ling dapat mengetahui bahwa Wu Du sedang menahan sesuatu, namun masih ada lagi yang ingin dirinya ketahui; ragu-ragu, dia mencoba bertanya secara tidak langsung. “Bagaimana Jenderal Zhao meninggal?”

Wu Du bersandar ke bangku, tampak tidak tertarik sama sekali, dirinya hanya menatap keluar melihat matahari terbenam. “Dia gagal menggulingkan pemerintahan dan dikalahkan oleh mendiang kaisar. Pada akhirnya, Chang Liujun-lah yang membunuhnya.”

“Lalu… bagaimana dengan mendiang kaisar?” Duan Ling sudah mengatakan banyak hal, hanya agar dia dapat mengajukan pertanyaan ini.

“Semua orang mengatakan bahwa dia meninggal karena dia kalah dalam pertempuran.” Wu Du menggelengkan kepalanya. “Tapi aku tidak berpikir bahwa orang seperti dirinya bisa dikalahkan. Dia pertama kali disergap oleh sekelompok pembunuh…”

Hati Duan Ling diserang oleh rasa sakit yang tiba-tiba.

“…kemudian dia dilukai oleh pembunuh Helan Jie, dan diracuni dengan racun mematikan Benang Emas…”

Dan Duan Ling sekali lagi merasakan hatinya diremas kuat.

“Aku sudah mengatakan kepadanya bahwa dia tidak boleh pergi berperang, namun tidak ada lagi waktu untuk menunda. Aku melakukan perjalanan jauh ke Altyn-Tagh untuk mencari bahan-bahan, dan membuat penawar racun di Kuil Utara di mana Master Kongming dulunya adalah kepala biara, tapi pada saat aku kembali, sudah terlambat baginya — dia diserang oleh bawahan Helan Jie…”

“Siapa itu Helan Jie?” Duan Ling dengan cepat mengajukan pertanyaan lanjutan. “Racun macam apa itu? Dan apa itu Benang Emas?”

“Benang Emas adalah sejenis racun ular. Seperti diriku, Helan Jie adalah seorang pembuat racun, tapi caranya kejam dan bengis. Dalam beberapa hal dia mirip dengan Wuluohou Mu — mereka berdua sudah mengkhianati sekte mereka.”

Duan Ling tahu bahwa sekte seniman bela diri sangat penting bagi mereka yang mengikuti kode kehormatan, dan membunuh masternya atau mempermalukan sektenya adalah hal yang sangat tabu. Dan siapa Helan Jie ini? Wu Du dapat mengetahui apa yang Duan Ling tanyakan, dan berkata, “Pada akhirnya, Helan Jie berhasil lolos.”

“Mengapa dia ingin membunuh a…” Duan Ling sangat terguncang sehingga dia hampir mengatakan “mengapa dia ingin membunuh ayahku”, tapi untungnya dia berhasil mengubahnya dengan paksa menjadi “kaisarku.”

Wu Du melirik Duan Ling; dia menemukan sikap bertanya Duan Ling yang terang-terangan agak membingungkan. Tapi kebanyakan orang suka mendiskusikan peristiwa penting seperti itu dan menggunakannya sebagai gosip untuk dihabiskan di meja makan, jadi itu tidak terlalu aneh.

Dengan gelengan kepalanya, Wu Du berhenti berbicara. Mendapat cerita yang berakhir di tengah jalan, Duan Ling tidak pernah merasa lebih tidak sabar, namun dia tidak berani untuk terlihat terlalu bersemangat. Setelah beberapa saat, dia menepuk Wu Du lagi dengan ringan dan bertanya, “Mengapa kau berhenti?”

Kesal, Wu Du berkata, “Aku tidak ingin membicarakannya lagi.”

“Ayo, katakan padaku.”

Wu Du tiba-tiba merasa kesal, dan menekankan setiap kata yang dia katakan, “Aku tidak ingin membicarakannya!”

Duan Ling menatapnya, terkejut. Dia tidak menyangka Wu Du akan semarah itu. Pada saat itu, suasana di dalam kereta menjadi sangat tegang, dan yang bisa dilakukan Duan Ling hanyalah berhenti bertanya. Dia bergeser ke sisi lain bangku, dan ketika dia mengingat ayahnya, matanya mulai merah lagi.

Wu Du tidak yakin bagaimana harus bereaksi; pikirannya sedikit campur aduk sekarang dan dia bahkan berteriak pada Duan Ling, tapi dirinya tidak pernah membayangkan bahwa dia akan bereaksi seburuk ini.

“Oh, lupakan. Aku berkata bahwa aku tidak ingin membicarakannya lagi, tapi kau terus bertanya.”

Duan Ling melirik Wu Du, matanya merah, menahan air mata.

Saat itu menyangkut Duan Ling, Wu Du pada dasarnya akan menyerah. Dia hanya menaikkan suaranya sedikit, bukan? Apa itu benar-benar buruk? Dia membuatnya terlihat seperti diperlakukan dengan sangat buruk. Di satu sisi, Wu Du berpikir anak itu terlalu merepotkan, dan di sisi lain dia merasa sedikit bersalah. Ketika dia melihat ekspresi itu di wajah Duan Ling, dia merasa tidak nyaman, seolah-olah seekor kucing baru saja menggoreskan cakarnya di jantungnya.

“Baiklah baiklah, aku akan memberitahumu.” Menyerah, Wu Du menutup matanya dan menghela napas panjang dan lambat. Ada sedikit kepahitan dalam nada suaranya. “Semua orang terus menanyakan pertanyaan itu padaku — menanyakan bagaimana mendiang kaisar meninggal. Aku harus menjelaskannya berulang kali. Saat mereka melihatku, ekspresi di wajah mereka hanya…”

Duan Ling mengerti sekarang; Wu Du sudah mengulangi cerita ini terlalu sering, dan ketika dia kembali, dia pasti sudah diinterogasi oleh Li Yanqiu, putra mahkota palsu, Mu Kuangda… oleh semua orang. Masing-masing dari mereka memiliki rencana mereka sendiri karena mereka tidak berusaha untuk membuktikan fakta dengan Wu Du berulang kali, untuk…  Tunggu sebentar. Apa?

Dari apa yang baru saja dikatakan Wu Du, Duan Ling tiba-tiba menemukan masalah yang sangat penting.

“Siapa orang-orang yang menanyakan ini padamu?” Dengan susah payah, Duan Ling berjuang untuk melepaskan diri dari emosinya.

Mata Wu Du mengerjap, dan dia melihat Duan Ling dengan hati-hati, sedikit merasa bingung. Kemudian dia mengatakan nama-nama itu dengan santai, “Kanselir, Markuis Huaiyin, Putri Duanping, Yang Mulia, putra mahkota, dan Xie You.”

“Siapa itu Xie You?”

“Panglima Zirah Hitam. Pasukan pribadi kaisar Han. Loyalitasnya terletak pada siapa pun yang menjadi kaisar.”

“Dan siapa Markuis Huaiyin?”

“Pangeran pendamping. Suami Putri Duanping.”

Subjeknya sudah menyimpang, namun, Duan Ling dengan cepat mengatur ulang pemikirannya dan bertanya, “Siapa yang bisa mengirim pembunuh itu?”

“Tidak tahu. Setelah Helan Jie mengkhianati sektenya, dia membawa Duanchenyuan bersamanya, dan dengan sangat hati-hati, dia menyimpan sekelompok pembunuh dan meninggalkan negara itu untuk tinggal di luar Tembok Besar. Dia hanya membunuh untuk siapa saja yang memberinya uang. Namun dia benar-benar khawatir bahwa Kongming akan mengejarnya, jadi dia hanya memiliki sedikit kontak dengan Han. Aku pikir Kanselir Mu-lah yang menemukannya, tapi satu-satunya saluran Kanselir Mu dapat berhubungan dengan bawah tanah tanpa hukum adalah Chang Liujun, dan mungkin dia benar-benar takut mati, jadi dia tidak akan membiarkan Chang Liujun pergi terlalu jauh — membiarkan dirinya pergi jauh melampaui Tembok Besar untuk mengejar seseorang yang bahkan mungkin tidak berbisnis dengannya.”

“Adapun Zhao Kui…” Wu Du memikirkan ini lagi, dan melanjutkan, “Dia juga tidak bisa menghubungi Helan Jie, jadi sampai sekarang kita tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian mendiang kaisar.”

“Bagaimana jika Kanselir Mu yang melakukannya?”

“Kalau begitu tentu saja kita harus mengejarnya. Tapi selama ini Kanselir Mu sudah mencari keberadaan Zhenshanhe, dan dia juga sudah memberiku penjelasan. Aku pikir itu mungkin bukan dia. Dia mungkin memiliki kecenderungan untuk membunuh mendiang kaisar, tapi itu bukanlah waktu yang akan dia pilih untuk melakukannya.”

“Kalau begitu, dari semua orang yang berulang kali membuktikan penyebab kematian mendiang kaisar denganmu, salah satunya pasti pembunuhnya.”

Wu Du menatapnya, terdiam.

Kata-kata Duan Ling sudah membuat Wu Du terjaga seperti ada palu yang memukul kepalanya.

Wu Du bergumam pada dirinya sendiri, “Kau benar. Kenapa aku tidak memikirkan itu?”

Mengapa ada orang yang ingin menginterogasi Wu Du berulang kali tentang seluruh rangkaian peristiwa yang mengarah pada kematian Li Jianhong? Apakah mereka hanya menanyainya untuk memastikan bahwa tidak ada bagian dari rencana yang terungkap, atau apakah Wu Du tahu siapa yang mengirim Helan Jie untuk membunuh mendiang kaisar? Ini adalah garis merah tua di buku besar, dan harus benar-benar dihapuskan. Jika tidak, jika itu diajukan lagi ke pengadilan, itu akan melibatkan lebih banyak orang, terutama setelah putra mahkota kembali ke istana kekaisaran…

“Siapa itu?” Wu Du bergumam.

Markuis Huaiyin, Putri Duanping, Mu Kuangda, Li Yanqiu, putra mahkota, Xie You…

“Itu mungkin bukan Xie You,” kata Wu Du. “Jika dia ingin membunuh mendiang kaisar, dia bisa saja membunuhnya sejak lama. Kita bisa mengecualikannya.”

“Tapi bagaimana jika dia disuap? Dia bisa dihitung sebagai bagian dari faksi orang lain. Misalnya, dia bisa… berada di kamp yang sama dengan pangeran keempat.”

Bahkan Duan Ling sendiri menganggap itu pemikiran yang mengerikan. Meskipun dia belum memasuki istana kekaisaran, dalam putaran takdir Lang Junxia sudah pernah mencoba untuk membunuhnya, dan pada saat yang sama, satu tindakan itu telah mengubah banyak hal. Jika dia yang duduk di posisi putra mahkota sekarang, dia pasti harus menghadapi lebih dari ini — setiap saat bisa terbukti berbahaya bagi hidupnya.

“Pangeran Keempat?” Wu Du berkata, “Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Markuis Huaiyin juga memungkinan. Lagipula…”

Wu Du menggelengkan kepalanya; dia benar-benar tidak bisa menebaknya. Sebaliknya, entah bagaimana Mu Kuangda memiliki kemungkinan yang paling kecil menjadi pelakunya.

“Apakah Zhenshanhe adalah pedang mendiang kaisar?” Tanya Duan Ling.

Bukankah dia terlihat terlalu pintar? Terkejut bahwa Duan Ling telah berhasil menganalisis dan menyimpulkan begitu banyak informasi substantif dari petunjuk terbatas yang diberikan padanya, Wu Du tidak bisa tidak meliriknya.

“Ada apa?” Duan Ling masih tenggelam dalam pikirannya.

“Kau sangat pintar. Tapi aku benar-benar harus mengingatkanmu bahwa ada beberapa hal yang tidak boleh kau katakan begitu saja di depan Kanselir Mu. “

“Ba-baiklah.” Duan Ling sudah menyadari bahwa dia terlalu banyak bicara pada Wu Du; untungnya itu tidak membangkitkan kecurigaannya.

“Yang harus kita lakukan adalah mencari tahu siapa yang memiliki Zhenshanhe dan kita akan tahu siapa yang bersekongkol untuk membunuh mendiang kaisar.” Wu Du berkata, “Ada satu kemungkinan lagi — bukan dari salah satu dari yang tadi, Helan Jie mungkin dikirim oleh Kubilai Khan.”

Kemungkinan lain sudah ditambahkan ke dalamnya, dan Duan Ling mulai merasakan sakit kepala. Yang bisa dia lakukan adalah mengesampingkan masalah untuk saat ini.

Senja telah membakar cakrawala; mereka tiba di rumah pos pada malam hari dan memutuskan untuk bermalam di sana. Duan Ling menghabiskan sepanjang malam dengan berguling-guling, tidak bisa tertidur. Suara permainan seruling Wu Du sampai padanya dari halaman luar, setiap nada tampaknya diwarnai dengan kesedihan.

Wu Du adalah orang yang bersungguh-sungguh, pikir Duan Ling; baik kemalasan dan kesombongan antisosialnya hanya berfungsi sebagai semacam bukti akan kesungguhannya. Mungkin dia bahkan tidak pernah berpikir untuk berkolusi dengan siapa pun dalam skema keji mereka, dan selama ini dia tetap menjadi pisau tajam yang tersembunyi di sarungnya. Setelah semua yang dia dengar dari Wu Du hari ini, sebuah gagasan mulai terbentuk di benak Duan Ling — Wu Du adalah seseorang yang bisa dia percaya.


Xichuan sangat panas malam ini; itu adalah keheningan akan panas gerah yang datang sebelum badai dahsyat.

Cai Yan melewati koridor yang berliku dengan cepat, dengan ekspresinya yang tidak nyaman, dia ditutupi oleh keringat yang lengket dari kepala sampai kaki. Dia memasuki kamar tidur kaisar dan membungkuk pada Li Yanqiu. Li Yanqiu meminum obatnya, dan ada catatan peringatan terlipat di atas meja di depannya.

“Begitu kami memindahkan ibu kota, semuanya akan membutuhkan perhatian penuh darimu,” kata Li Yanqiu.

“Tentu saja.” Cai Yan terlihat agak gelisah.

Setengah dari obatnya sudah habis, Li Yanqiu memperhatikan ekspresi Cai Yan dan bertanya, “Di mana Wuluohou Mu?”

“Dia meninggalkan kota.”

“Apakah kau tidak tidur dengan nyenyak, putraku?”

Cai Yan memaksakan senyumnya, dan Li Yanqiu memanggilnya untuk lebih dekat. Li Yanqiu menyebut Cai Yan sebagai putraku dan memperlakukannya sebagai miliknya; dia juga cenderung sangat sayang padanya, membuatnya duduk di meja yang terletak tepat di depannya untuk minum sarang walet rebus,1 bahkan memperhatikannya saat dia meminumnya.

Kerutan Cai Yan begitu dalam sehingga kerutan di antara alisnya menyerupai simpul mati.

Li Yanqiu melanjutkan, “Aku sudah memberitahumu pada hari saat kau kembali bahwa Wuluohou Mu tidak akan memikirkan siapa pun. Ketika semuanya sudah dikatakan dan terjadi, aku merasa tidak nyaman karena dia menjagamu. Kenapa dia pergi kali ini?”

Cai Yan memikirkan hal ini sejenak sebelum berkata, “Dia pulang ke rumah untuk membuat pengorbanan pada leluhurnya.”

Li Yanqiu menghela napas, dan setelah berhenti sejenak, dia berkata, “Kalau begitu, mari kita panggil Zheng Yan. Bibimu juga membicarakannya tempo hari.”

Cai Yan menggelengkan kepalanya, dan mengalihkan perhatiannya ke catatan peringatan yang terlipat di atas meja. Dia sepertinya akan mengatakan sesuatu, tapi kemudian dia menahan lidahnya. Li Yanqiu memperhatikan ini dan menyuruh semua orang di sekitar mereka untuk pergi.

“Jiangzhou terlalu dekat dengan Huaiyin.” Cai Yan berbicara lagi hanya setelah mereka pergi, “Itu membuatku merasa agak tidak nyaman untuk membiarkan Zheng Yan masuk ke istana.”

Li Yanqiu tidak menjawab. Dia hanya memberikannya anggukan.

Setelah lama terdiam, Li Yanqiu berkata, “Pada akhirnya, kau harus berurusan dengan Yao Fu. Untungnya kau masih muda, dan aku ada di sini, Yao Fu masih harus bersaing dengan keluarga Mu, dan Xie You juga mengawasi berbagai hal. Memindahkan ibu kota di akhir tahun seharusnya menjadi hal yang aman untuk dilakukan. Tidak mungkin akan ada banyak kesalahan selama beberapa tahun ke depan.”

“Jika ayahmu masih ada,” Li Yanqiu tersenyum lembut, “dia mungkin akan berkata, kita seharusnya sudah pindah, mengapa kita harus takut padanya? Yao Fu yang seharusnya takut padaku. Pada titik ini kau sama sekali tidak seperti dirinya.”

Ekspresi Cai Yan sedikit gelap. “Kamu benar, paman. Pada akhirnya kita harus bergerak.”

Li Yanqiu melambaikan tangannya dengan acuh. “Pertimbangan yang cermat adalah hal yang baik, tapi kau juga tidak perlu takut. Untuk saat ini, pelajari apa yang dapat kau pelajari. Dan sedikit demi sedikit, kau akan tahu apa yang harus dilakukan di masa depan.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Sup sarang burung. Sedikit trivia: sejauh yang foxghost tahu, tidak ada apa pun sebelum dinasti Ming, jadi agak ketinggalan zaman untuk garis waktu ini.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments