English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 14 Part 6

Ketika mereka melewati pohon di mana kereta telah dihentikan sebelumnya, Duan Ling mengulurkan tangan untuk memeriksa nadi karotis kusir itu. Untungnya, dia masih bernapas, dan hanya kehilangan kesadarannya. Duan Ling menarik kusir ke posisi duduk di belakang pohon, sedangkan Wu Du sudah pergi untuk mengintai di depan.

“Tunggu… tunggu sebentar!” Duan Ling mengejar Wu Du, setengah terengah-engah saat dia mencoba mengejarnya. Dalam beberapa langkah Wu Du membuat jalur lompatan ke sebuah pohon; Duan Ling berlari dan melompat ke sisi sebuah pohon, lalu menggunakannya sebagai batu loncatan, dan dia melompat ke atas pohon lain.

Wu Du melihat dengan hati-hati ke dataran yang jauh, mencoba menemukan tanda-tanda musuh mereka, tapi dalam rentang waktu yang singkat antara pelarian mereka sebelumnya dan sekarang, para bandit sudah pergi tanpa jejak.

“Sial.” Wu Du berkata, “Semuanya telah dicuri.”

Duan Ling menatapnya, tidak yakin apa yang harus dilakukan.

Wu Du menoleh untuk melihat Duan Ling, dan tiba-tiba terpikir olehnya betapa anehnya ini.

“Bagaimana kau sampai di sini?” Dia bertanya.

Duan Ling hampir jatuh, dan Wu Du buru-buru meraihnya. Dia harus mengatakannya pada Wu Du karena telah ingat sekarang.

“Peta dan suratnya ada di kereta,” kata Duan Ling.

Ini akan membutuhkan banyak usaha untuk mengurusnya. Duan Ling kembali ke tempat terbuka dan mengambil satu set busur dan anak panah yang ditinggalkan para bandit, dan mencobanya. Busur Tangut dibuat terlalu kasar dan keras di kulitnya, tapi dia bisa menggunakannya dalam keadaan darurat. Wu Du berkata dengan heran, “Kau juga tahu bagaimana cara menggunakan busur?”

“Aku sudah menjalani beberapa latihan,” kata Duan Ling, berpikir dalam hati jika kau mengetahui dari siapa aku belajar melompati dinding, aku pikir kau akan mati karena serangan jantung.

Wu Du terlihat sangat khawatir, jadi Duan Ling membuat kebohongan samar untuk menipunya.

“Bagaimana kau bisa melompat ke sana?” Tapi Wu Du masih tidak akan menyerah, menekan Duan Ling untuk lebih jelasnya.

“Aku memanjat ke sana! Apa kau harus dijelaskan secara rinci bagaimana aku sampai di sana saat ini? Ayo cari keretanya!”

Cahaya api berkedip di kejauhan, dan Wu Du mendongak lagi untuk menemukan beberapa burung hantu terbang ke arah timur laut.

“Mereka mungkin ada di sana.” Wu Du berhenti sejenak untuk berpikir, lalu berkata pada Duan Ling, “Kenapa aku tidak membawamu dulu ke…”

Ke mana dia akan membawanya? Wu Du benar-benar tidak bisa meninggalkan Duan Ling di antah berantah, dan mereka juga memiliki kusir yang tidak sadar untuk dirawat juga. Sementara mereka berdua masih bingung, mereka mendengar seseorang berteriak dari jauh, “Tolong—”

“Tolong!”

Wu Du sedikit mengerutkan keningnya, dan mata mereka bertemu. Tidak ada yang percaya bahwa itu mungkin jebakan, jadi Wu Du menuju ke sana melalui hutan belantara dengan berjalan kaki. Mereka menemukan seorang pria paruh baya berteriak, “Seseorang tolong! Tolong!”

Duan Ling mengambil panah dan mengarahkannya ke arahnya, tapi pria itu jatuh ke tanah di depan mereka, terengah-engah.

“Ampun! Ampun!”

Pria itu berkeringat dengan deras dan sedikit linglung; Wu Du mengamatinya sejenak, dan menggoyangkan pemantiknya1 untuk menyalakannya, dia menyalakan cabang pohon dan menyorotkan cahayanya ke wajah pria itu.

“Nona-ku… telah diculik oleh bandit berkuda! Siapa kalian? Tolong lakukan perbuatan baik dan selamatkan dia!”

Segalanya mulai masuk akal sekarang bagi Duan Ling — para bandit pasti salah mengambil kereta!

“Dan siapa nona-mu sebenarnya?” Wu Du mengerutkan kening, melihat pria itu dari atas ke bawah. Tiba-tiba merasakan bahaya, pria itu tidak berani berkata apa-apa lagi.

“Dia… dia… nona-ku yang datang untuk mengunjungi kerabatnya,” pria itu berbohong.

“Kau jaga pria tua ini.” Duan Ling menunjuk ke kusir yang tidak sadarkan diri di bawah pohon. “Kami akan pergi mencarinya.”

“Kalian berdua adalah…”

Duan Ling mengabaikan pertanyaan lain dan berbalik untuk pergi. Wu Du berkata, “Hei! Tunggu!”

“Aku mengerti sekarang,” kata Duan Ling, “yang ingin disergap oleh para bandit itu bukanlah kita.”

Sekarang Duan Ling telah mengingatkannya, dan akhirnya menjadi jelas bagi Wu Du juga. “Terlalu banyak kebetulan.”

Bandit-bandit ini pasti telah menunggu untuk mengalahkan mereka tanpa peringatan seperti itu, jadi mereka pasti telah merencanakan serangan untuk sementara waktu. Ketika mereka mengatakan sesuatu dalam Bahasa Tangut, mereka mungkin menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres karena mereka tidak melihat yang mereka cari, tapi mereka juga curiga bahwa itu mungkin tipuan dan itulah sebabnya mereka melanjutkan serangan pada Duan Ling dan Wu Du dengan begitu agresif. Tapi kenapa mereka juga mengambil keretanya?

Ini benar-benar klise untuk bertemu bandit di jalan dan akhirnya menyelamatkan gadis-gadis yang dalam kesulitan, tapi sepertinya itu nasib mereka. Wu Du dan Duan Ling menelusuri para bandit di sepanjang jalan dan menemukan jejak kereta yang memanjang hingga ke ladang gandum. Saat ini hampir fajar, dan Duan Ling tidak pernah berhasil mengejar Wu Du; dia selalu sedikit di belakangnya, bergantian antara berlari dan beristirahat.

Akhirnya, Wu Du tidak tahan lagi. “Kembalilah saja!”

“Aku tidak bisa lagi menemukan jalan kembali!” Duan Ling berkata, terengah-engah.

Wu Du menatapnya, terdiam.

Tidak ada apa-apa selain pegunungan dan dataran di sekitar area ini. Ketika mereka mulai berlari, hari masih gelap, dan saat fajar menyingsing, seluruh dunia praktis telah berubah. Setelah berlari selama dua jam penuh, jika dia berpikir Duan Ling dapat menemukan jalan kembali, dia akan dapat terus melanjutkan!

Wu Du tidak memiliki pilihan selain memperlambat jalannya. Dia melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa jejak kereta berakhir di sini. Ada untaian bebatuan di seberang jalan dan dataran tertutup kabut tebal tepat sebelum fajar, dan orang hampir tidak bisa melihat apa pun di luar jangkauan lengan.

“Seseorang yang ingin diculik oleh bandit Tangut itu adalah seorang wanita muda yang kaya.” Duan Ling berjalan ke sungai, dan bersandar di batu untuk beristirahat sebentar. “Mereka baru saja mendapatkan orang yang salah, dan mengira kereta kita adalah target mereka.”

Wu Du masih belum mengenakan pakaian. Pakaian mereka ada di kereta, dan yang dia miliki hanyalah handuk yang dia pegang dan ikat pinggang yang tergantung di pinggangnya. Dia menegakkan tubuhnya untuk melihat ke sungai, dan suara percikan air datang dari kejauhan. Duan Ling akan mengatakan sesuatu lagi, tapi Wu Du telah menjatuhkan dirinya ke tanah, mengarahkan telinganya mendengarkan suara-suara yang dikirimkan melalui tanah. “Ssst,” katanya, menyuruh Duan Ling untuk tidak mengatakan apa-apa. Kemudian dia dengan hati-hati menyeberangi sungai sebelum berbalik untuk memberi isyarat pada Duan Ling untuk melihatnya.

Kereta mereka berhenti di sana di tempat terbuka di bawah air terjun, dengan beberapa bandit berjaga di luar, mengerang saat mereka mengoleskan salep di leher masing-masing. Ada sebuah gua gunung yang sedikit lebih jauh.

Langit samar-samar bersinar dengan cahaya pertama; gua gunung tampak seperti perkemahan darurat yang disatukan pada menit terakhir, dengan lentera tergantung di dalamnya, dan tampaknya ada beberapa orang yang duduk di tanah.

“Bisakah kau mengalahkan mereka semua sekaligus?” Tanya Duan Ling pada Wu Du.

“Yang ada di luar, tentu. Bukan orang-orang yang ada di dalam gua. Aku harus menggunakan racun dua kali. Tapi aku tidak memiliki apa-apa pada diriku sekarang, hanya sabuk ini, dan bubuk di dalamnya hampir habis. Ini hanya bagus untuk sekali pakai. Adapun yang tersisa… yang bisa aku lakukan hanyalah membunuh mereka.”

“Kalau begitu mari kita pancing mereka keluar terlebih dulu.”

Di belakang pohon, Duan Ling menggambar peta kasar di tanah dan merumuskan rencana dengan Wu Du.

“Kalau begitu kau… ambil barang-barangnya, dan aku akan menyerahkan sisanya di tanganmu.” Duan Ling menatap Wu Du, menunggu persetujuan.

Wu Du memikirkannya, mengangguk sekali, tapi kemudian dia berbalik untuk menatap Duan Ling.

“Apa?” Duan Ling bertanya.

“Kau memiliki banyak nyali. Siapa yang mengajarimu semua hal ini?”

Duan Ling baru akan mulai mengulur waktu, tapi Wu Du berkata padanya, “Tidak ada waktu untuk kalah. Ayo pergi.”

Mereka berpisah. Duan Ling menarik napas dalam-dalam, menarik busur, dan melakukan tembakan percobaan. Dia tidak stabil seperti dulu, tapi dia juga tidak sepenuhnya tidak berlatih. Busur besi Tangut mungkin kuat dan melelahkan untuk digunakan, tapi dia bisa menembak cukup jauh dengan itu.

Di hutan, Wu Du menyatu ke dalam bayang-bayang dengan tangan di lutut, tetap rendah ke tanah, menunggu. Dia menoleh untuk melirik Duan Ling.

Di dalam gua gunung, lentera memancarkan cahaya yang redup; siulan ringan anak panah menembus udara dan terbang hampir lima puluh langkah ke dalam gua, lalu sebuah panah menembus tali yang melekat pada lentera. Sebelum para bandit dapat bereaksi, semangkuk lampu minyak telah jatuh ke tanah, dan nyala api menyalakan lemak yang menyebar, menyalakan api yang mengamuk di tanah.

Orang-orang yang berada di dalam gua segera berteriak, dan pada kebisingan itu para penjaga di luar menyerbu masuk untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mereka yang menyerbu keluar dan mereka yang menyerbu masuk saling menabrak, dengan bandit di dalam yang mendorong penjaga ke samping saat mereka bergegas keluar. Duan Ling dengan cepat menembakkan panah lain. Kepala bandit yang waspada menghindar dan panah itu mengenai kakinya.

Menyadari bahwa mereka sedang diserang, kepala bandit melolong dengan marah, dan dengan demikian memulai pertempuran yang benar-benar kacau di mana musuh tidak dapat ditemukan. Selama ini, Wu Du tetap melawan angin di hutan, menunggu, dan sekarang dia dengan anggun mengipasi korek apinya, menyalakan beberapa daun kering yang sarat dengan bubuk obat untuk menghasilkan asap biru ringan yang hampir tak terlihat yang menggulung di udara saat mereka melayang menuju tempat terbuka.

Bandit yang ada di depan kelompok penyerang jatuh ke tanah; Duan Ling menembakkan lebih banyak panah saat dia mundur, menyaksikan para bandit keluar dari gua dan jatuh dengan wajah mereka terlebih dulu begitu mereka keluar. Sekarang Wu Du sudah menghindar di depan kereta dan melompat ke dalam.

Duan Ling telah meremehkan berapa banyak bandit yang ada; yang mengejutkannya, hampir empat puluh orang telah keluar dari gua gunung kecil ini. Sama seperti pihak lain yang menemukan tempat persembunyiannya, Wu Du bersiul, dan dengan Lieguangjian di tangan, dan masih bertelanjang dada, dia tidak membawa apa-apa selain kotak pedang di punggungnya, berlari keluar dari bagian belakang kereta.

Segera setelah Wu Du memberi tahu Duan Ling bahwa dia mendapatkan barang-barangnya, dia dengan cepat merentangkan tangannya dan serangkaian anak panah terbang dari jari-jarinya, menjatuhkan para bandit ke tanah.

Duan Ling buru-buru meletakkan busurnya, dan membungkuk untuk tetap berada di balik semak-semak, dia mendekati gua di bawah air terjun. Dia melihat Wu Du melompat ke atap kereta sekali lagi, meniup peluit panjang yang berliku seolah-olah dia menantang para bandit. Para bandit langsung marah, dan mereka memasang panah untuk menembaknya. Tapi alih-alih menemui mereka secara langsung, Wu Du mundur ke belakang kereta, dan dengan tendangan berputar, poros kereta terbang keluar — poros kereta yang berat, seberat dua puluh kati sekaligus meratakan para bandit yang berlari ke arahnya.

Menutupi hidung dan mulutnya dengan kain basah, Duan Ling berlari ke dalam gua. Cukup luas di dalam sana, dan dia bisa mendengar seseorang terbatuk-batuk jauh di dalam — batuk seorang gadis. Asap hitam beterbangan di wajah Duan Ling sehingga dia tidak tahu jalan mana yang harus dia ambil. Dia meraih tangan gadis itu, memotong tali yang diikatkan di sekelilingnya dengan belati, dan menariknya ke atas bersamanya.

“Lari!” Duan Ling menutupi wajahnya dengan kain basah, dan keluar dari gua secepat mungkin.

Mereka meninggalkan gua itu. Pedang Wu Du naik dan turun saat itu bergelombang ke para bandit, dan segera dia melumpuhkan banyak dari mereka.

Duan Ling berhasil mencuri seekor kuda, dan dia membantu gadis itu menaikinya.

“Pergilah terlebih dulu!” Wu Du berteriak.

Duan Ling pergi bersama gadis itu dan memacu kudanya, membubung melewati sungai untuk berlari lebih dalam ke hutan.

“Siapa kau?” Gadis itu bertanya.

Duan Ling berbalik untuk bertanya, “Siapa kau?!”

Dia hanya menarik kendali untuk menghentikan kudanya setelah mereka menempuh jarak yang cukup jauh, dan mereka mencapai bagian hutan yang lebih dalam. Duan Ling melihat ke belakang, ragu-ragu apakah dia harus kembali untuk menjemput Wu Du, tapi karena Wu Du telah menyuruhnya pergi terlebih dulu, dia mungkin akan baik-baik saja.

“Siapa kau?” Gadis itu bertanya lagi. “Siapa nama keluargamu? Kau Han, kan? Bukan Tangut?”

Baru sekarang Duan Ling memperhatikan gadis itu. Kedua wajah mereka berasap hitam dan tidak rata seperti sepasang kucing belacu, dan ketika Duan Ling melihat wajahnya, dia tidak bisa menahan tawa. Gadis itu menatapnya dengan canggung, tidak yakin apa yang harus dilakukan ketika dia tidak mendapatkan jawaban.

“Biarkan aku berpikir, jalan yang mana…” Duan Ling berkata, “Kita harus bertemu dengannya terlebih dulu.”

Saat dia selesai berbicara ada suara dari jauh seolah-olah seseorang mendekat. Duan Ling berkata, “Wu Du?”

“Wu Du?” Gadis itu bertanya.

“Ssst.” Merasakan ada bahaya, Duan Ling merogoh tempat anak panah dan menemukan bahwa dia hanya memiliki satu anak panah terakhir. Dia membidik ke kedalaman hutan; tiba-tiba, jeritan keluar dari hutan, mengejutkan mereka berdua.

Tepat setelah teriakan itu, langkah kaki itu berangsur-angsur surut sampai menghilang.

Duan Ling menatap diam-diam, bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi.

Dia meletakkan panahnya perlahan, dan menyadari bahwa ini adalah pintu masuk yang sebenarnya ke kamp bandit! Tepat di mana suara itu berasal sebelumnya, ada pos penjaga. Jalur yang dia ambil dengan Wu Du sebelumnya sebenarnya berada di belakang kamp.

Duan Ling memutar kudanya pada saat itu, dan menyerbu ke bagian terdalam hutan sampai mereka melewati sisi lain, dan dia hanya memacu kudanya untuk berlari dengan kencang ke ladang gandum begitu mereka berada di tempat terbuka. Matahari sudah menampakkan dirinya untuk sejenak sekarang, dan di ladang tanpa batas dia bisa melihat jalan raya tempat langit bertemu dengan bumi, di depan.

“Tunggu di sini.” Duan Ling tiba di tempat pertemuan yang telah disepakati, di bawah pohon tempat di mana kereta itu dibawa. Dia membantu gadis itu turun dari kuda.

“Jangan berkeliaran sekarang.” Duan Ling melihat ke sekeliling area dan untuk beberapa saat hanya terengah-engah. Dia bertanya pada gadis itu, “Kau haus?”

Dari belakangnya sebuah telapak tangan datang ke sampingnya, dan embusan angin yang tiba-tiba dari gerakan itu memperingatkan Duan Ling akan bahaya. Dia secara naluriah berbalik untuk memblokirnya, tapi pergelangan tangan pihak lain tampak sekeras baja — tidak, itu adalah baja! Duan Ling hampir mematahkan lengannya, dan berteriak kesakitan.

Pembunuh yang datang entah dari mana telah menyerang tanpa peringatan apa pun; dia bahkan tidak repot-repot mengumumkan dirinya, dan hal berikutnya yang dia tahu si pembunuh bergerak untuk menendangnya. Duan Ling berbalik ke samping untuk melawan dengan kakinya, tapi si pembunuh melakukan gerakan lain dan Duan Ling tersapu ke tanah.

“Biarkan dia pergi!” Gadis itu berteriak, berlari ke depan untuk menarik pembunuh dari Duan Ling. Pembunuh itu dengan mudah meraih kerahnya dan melemparkannya ke samping.

Pembunuh itu maju selangkah dan menundukkan kepalanya untuk menatap Duan Ling. Duan Ling mundur sedikit.

Siapa ini? Duan Ling memeriksa mata si pembunuh; salah satu matanya buta, pupilnya berwarna abu-abu keruh, dan dia melihat Duan Ling dengan satu matanya yang baik. Duan Ling sadar bahwa dia takut. Ini adalah pembunuh sejati dalam segala hal — seorang pembunuh yang sama sekali tidak memiliki hati nurani.

Bahkan sebelum dia bisa berkedip, Wu Du telah muncul dari ladang gandum dalam sekejap, begitu cepat hingga kau hampir bisa melihat jejak gerakan di belakangnya, memenuhi udara dengan tangkai gandum yang dicabik saat pedangnya mengarah langsung ke tenggorokan si pembunuh bertopeng! Dengan bunyi dentang, pembunuh bertopeng itu memblokir Lieguangjian Wu Du dengan lengannya.

Ini membuat Duan Ling cukup terkejut, karena dia sudah bisa membayangkan lengannya akan langsung terpotong. Tapi di tengah suara kain robek saat pedang itu bertemu dengan lengannya, di mana lengan si pembunuh akan muncul justru menampakkan kait besi hitam. Kait itu melingkari Lieguangjian dan si pembunuh menariknya ke belakang.

“Itu kau?!” Wu Du berkata, sangat terkejut, meninggalkan pedang tanpa ragu-ragu. Saat dia melakukannya, dia membalikkan telapak tangannya ke samping, menyebarkan bubuk obat ke arah pembunuh bertopeng dengan suara mendesing, membawa embusan angin yang terbang ke arah pembunuh.

Duan Ling tidak bisa tidak bersorak dalam hatinya — gerakan Wu Du pada dasarnya tidak mungkin untuk diblokir; Jika kau memilih untuk melawannya, maka kau harus menarik napas dan menggerakkan qi-mu melalui telapak tangan untuk menghadapinya, tapi ada racun di udara sehingga segera setelah kau menarik napas itu, kau akan terkena racun. Sementara pikiran itu melintas di benak Duan Ling, pembunuh bertopeng itu telah memilih untuk mundur. Wu Du dengan cepat mengikuti langkah terakhirnya dengan mendorong telapak tangannya yang lain ke depan tanpa repot-repot melihat, mendorong pembunuh itu tepat ke ladang. Kemudian menjangkau hampir tanpa sadar, dia mengambil kembali Lieguangjian.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Pemantik api di wuxia adalah gulungan kertas kasar yang dibuat rapat, dinyalakan dengan api kemudian disimpan dalam silinder bambu yang tertutup (tapi tidak disegel). Di bawah area oksigen rendah, api membakar menjadi bara dan dapat menyala untuk waktu yang lama. Saat kalian ingin menyalakannya kembali, buka saja dan tiup atau goyangkan untuk mendapatkan udara.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments