English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 2, Chapter 12 Part 4

Dengan uang yang diberikan untuk membuat obat, Duan Ling pergi ke pasar untuk membeli makanan dan anggur, dan membeli potongan daging rebus. Ketika dia kembali ke rumah, Wu Du bertanya padanya, “Apa yang membuatmu begitu lama?”

“Aku mendengarkan pendongeng dan lupa waktu,” jawab Duan Ling, menata makanan di atas meja, piring demi piring. Dia menyerahkan sisa uangnya kepada Wu Du.

Wu Du memperhatikan Duan Ling dengan tatapan mata yang sangat rumit.

“Kau pasti sangat senang karena dibayar,” kata Wu Du, “Ada anggur untuk diminum, dan daging untuk dimakan.”

Duan Ling tahu bahwa Wu Du sedang marah, tetapi sepertinya itu bukan karena dia terlambat untuk kembali. Terlebih, dia tidak membutuhkan waktu yang lama; menulis esai hanya membutuhkan waktu yang lebih singkat dari satu jam. Dia tidak dapat memahami apa yang sedang dipikirkan Wu Du, dan dia baru akan mulai menjelaskan ketika dia mendengar ledakan keras tepat di depan wajahnya saat Wu Du menendang seluruh meja keluar ruangan, makanan di atas meja terbang bersamaan. Terkejut, ketakutan muncul di mata Duan Ling.

“Aku berlatih sangat keras untuk menguasai seni bela diri,” kata Wu Du, nadanya dingin, “dan aku harus hidup seperti anjing — hanya dengan membuat afrodisiak untuk tuan muda dari kediaman kanselir dan mengeluarkan beberapa koin dari apa yang kubuat untuk mendapatkan anggur dan makanan untuk dimakan. Oh, aku sangat senang, aku tidak tahu harus berbuat apa dengan diriku sendiri.”

Duan Ling tahu apa yang membuatnya kesal sekarang, tetapi dia tidak tahu bagaimana dia harus menghibur Wu Du. Dia melihat saat Wu Du perlahan bangkit dan berjalan ke koridor, di mana dia menghela napas panjang.

Dengan hati-hati, Duan Ling mengambil makanannya, mengeluarkan pecahan porselennya. Menempatkan meja kembali ke tempatnya, dia meletakkan makanannya kembali dengan rapi di atas meja seperti sebelumnya. “Ayo makan.”

Dan keduanya mulai memakan makanan yang kotor. Setelah selesai, Duan Ling mengambil piring untuk dicuci seolah-olah tidak ada hal luar biasa yang pernah terjadi, sedangkan Wu Du pergi tidur dengan masih mengenakan pakaiannya.


Keesokan harinya, Duan Ling berpikir kapan saja sekarang, dan ketika Wu Du berlatih seni bela diri di halaman di pagi hari, Duan Ling membuntutinya di belakangnya, mengikuti gerakannya.

“Aku tidak mengambil murid,” kata Wu Du, tidak benar-benar memperhatikannya. Profilnya terlihat tegas saat dia berbalik, mengambil satu langkah ke depan, mendorong telapak tangannya ke depannya dalam sebuah gerakan yang disebut “membelah gunung”. Tetapi Duan Ling mengabaikan kata-katanya untuk fokus pada gerakannya, meniru setiap gerakannya.

Wu Du tiba-tiba berhenti bergerak, dan mengangkat kakinya untuk menendang bagian belakang lutut Duan Ling. Karena tidak sadar, Duan Ling tersandung, dan Wu Du menjulurkan kaki untuk menjebaknya lagi. Duan Ling jatuh ke depan; ketika dia tersandung kembali, Wu Du menjebaknya sekali lagi. Duan Ling terjatuh. Ini berlangsung empat, sampai lima kali lagi. Wu Du tidak bisa menahan tawanya.

“Fondasimu ini dilatih seperti sebuah gasing,” Wu Du mengolok-oloknya.

Duan Ling juga menganggapnya lucu, dan bangkit dari tanah yang tertutupi dengan debu.

“Kau bukan ahli bela diri. Simpan itu,” Wu Du memberitahunya.

Setelah Wu Du menjauh, Duan Ling melakukan seluruh rangkaian gerakan yang ditunjukkan Wu Du sebelumnya dari ingatannya, dan dia diejek lagi, dengan Wu Du yang berjongkok di ambang pintu, membuat komentar sarkastik kepadanya sepanjang waktu. Segera, seorang pelayan muncul di rumah dan mengatakan bahwa Kanselir Agung ingin bertemu dengannya, dan sementara dia berada di sana, dia juga harus membawa pelayan mudanya.

Ekspresi Wu Du sedikit menggelap saat dia mengingat Duan Ling menyebutkan perselisihannya dengan Mu Kuangda beberapa hari yang lalu, jadi dia tidak terlalu curiga.

“Jika Kanselir Agung bertanya dari mana asalku…” Duan Ling berkata kepada Wu Du, merasa khawatir.

Wu Du tahu bahwa apa yang dia lakukan tidak pantas; bukan masalah besar baginya untuk menerima pelayan muda entah dari mana dan menahannya di komplek Kanselir Agung, tetapi itu juga bukan masalah yang sepele. Jika dia tidak menjelaskan semuanya dengan jelas, Mu Kuangda mungkin membiarkan Wu Du menahan bocah itu untuk menghormati Wu Du, tetapi jika Mu Kuangda ingin dia diseret dan diasingkan untuk bertugas di keprajuritan di perbatasan, atau untuk menjualnya, Wu Du tidak akan bisa berbuat apa-apa.

“Jangan mengucapkan sepatah kata pun saat kanselir menanyakan apa pun, apa pun yang terjadi.” Wu Du berkata kepada Duan Ling, “Aku akan menjawabnya untukmu.”

Duan Ling mengangguk, dan memasuki taman bagian dalam kediaman kanselir di belakang Wu Du. Seorang pelayan datang untuk menemui dan mengantar mereka ke rumah utama.

Mereka menemukan Mu Kuangda duduk di belakang meja, dengan Mu Qing berdiri dengan gelisah di sisinya, Chang Liujun yang mengenakan topeng berada di belakangnya. Ada juga seorang lelaki tua bersama mereka yang pasti adalah seorang guru.

Mata Wu Du sedikit menyipit, sementara Mu Kuangda meminum tehnya tanpa menyadarinya sama sekali. Tersebar di meja di depannya adalah esai Mu Qing yang disalin dari Duan Ling.

“Siapa namamu?” Mu Kuangda bertanya pada Duan Ling.

Duan Ling tidak mengatakan apa-apa. Wu Du mengerutkan kening padanya. “Kanselir mengajukan pertanyaan. Apa kau sudah tuli?”

Duan Ling berpikir, kaulah yang menyuruhku untuk tidak mengatakan sepatah kata pun. Kita hanya berjalan sekali melalui serambi dan kau sudah melupakan semuanya.

“Wang Shan,” jawab Duan Ling, tidak berani untuk menatap Mu Kuangda.

Mu Kuangda meliriknya dan mengingatnya. “Kau yang datang untuk mengantarkan obat. Aku melihatmu beberapa hari yang lalu, dan obat yang kau bawa adalah untuk jangkrik. Sungguh hal yang membuka mata untuk mempelajarinya. Aku sudah hidup selama ini dan aku tidak tahu bahwa obat untuk jangkrik itu ada. Wu Du, kenapa kau meluangkan waktu untuk meneliti hal semacam ini sepanjang hari.”

Wu Du tidak berbicara. Dalam kesunyian, Mu Kuangda mengangkat kertas milik putranya dan berkata kepada Duan Ling, “Wang Shan, apakah kau yang membantu tuan muda menulis esai ini?”

“Dia yang mengajariku cara menulisnya…” Mu Qing menjelaskan.

“Tutup mulutmu!” Kata Mu Kuangda, terdengar marah. Mu Qing seketika ketakutan dalam keheningan.

Wu Du menatap Duan Ling dengan aneh.

Duan Ling menjawab, “Saya menambahkan beberapa di akhir untuk tuan muda.”

Mu Kuangda memberitahunya, “Guru akan memberimu pertanyaan, dan kau akan menjawabnya di sini. Tulis di sana.”

Duan Ling melirik Mu Qing dengan sembunyi-sembunyi, yang terlihat cukup bersalah, dan mengangguk pada Duan Ling sebagai tanda penyemangat, sehingga Duan Ling menundukkan kepalanya dan duduk di depan meja. Guru mengambil kuas dan menulis dua baris pertanyaan sebelum menyerahkan kuas kepada Duan Ling. Duan Ling mengambil kuas itu darinya, dan setelah beberapa saat merenung, dia mulai menulis.

“Duduklah,” baru sekarang Mu Kuangda mengatakan ini kepada Wu Du.

Wu Du duduk di dekatnya tetapi matanya tetap tertuju pada Duan Ling seperti selama ini, emosi yang melekat di dalamnya sangat rumit.

“Yah, aku tidak tahu dari mana kau membeli pelayan muda ini,” kata Mu Kuangda kepada Wu Du.

Ada sedikit getaran di tangan Duan Ling yang sedang menulis. Untuk waktu yang lama, Wu Du mengawasi Duan Ling, sementara Mu Kuangda terus meminum tehnya. Duan Ling akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Wu Du, tatapan memohon.

Itu mungkin adalah tatapan kerinduan Duan Ling dan cahaya matahari yang terbenam saat dia berdiri di luar Akademi Kekaisaran beberapa hari yang lalu yang menggerakkan Wu Du, atau mungkin tatapan matanya dalam sekejap saat dia menoleh yang menyebabkan Wu Du merasakan simpati yang baru ditemukan padanya.

Pada akhirnya, Wu Du tidak tega meninggalkannya, dan membuat beberapa kebohongan untuk Duan Ling dengan cepat untuk menjelaskan kepada Mu Kuangda bahwa, “Ayahnya adalah seorang pedagang obat, seorang teman lamaku, dan sebagai seorang anak, dia tinggal di Xunbei. Ibunya meninggal ketika dia masih sangat muda, dan setelah Xunbei jatuh dia membantu ayahnya menjalankan bisnis di luar negara. Kemudian, ayahnya meninggal dan dia tidak memiliki tempat tujuan, jadi dia mendatangiku untuk mencari tempat tinggal. Karena ayahnya dan saya berteman, saya mengizinkan dia tinggal bersamaku di halaman rumah terpencil untuk saat ini. Saya baru saja berpikir untuk mencarikannya cara untuk mencari pendapatan sendiri di sini, tetapi sekarang sepertinya saya sedang ikut campur dalam hal-hal yang bukan urusanku.”

Setelah Wu Du selesai berbicara, dia melihat ke arah Mu Kuangda, tetapi Mu Kuangda bahkan tidak repot-repot untuk melirik Wu Du. Dia bertanya kepada Duan Ling, “Kau pergi ke sekolah swasta?”

Duan Ling tidak mengatakan apa-apa dan Wu Du menjawab untuknya sekali lagi, “Ayahnya bermaksud mengirimnya ke sekolah agar dia bisa mengikuti ujian sipil, tetapi siapa yang tahu berapa tahun dia ditahan dengan perang dan segalanya.”

Mu Qing menjulurkan lehernya, mencoba untuk mengintip esai Duan Ling. Mu Kuangda batuk, dan leher Mu Qing ditarik kembali seperti kura-kura.

Ketika kau hampir tidak dapat mempertahankan percakapan dengan seseorang, setengah kalimat terlalu banyak, jadi Mu Kuangda tidak berbicara lagi kepada Wu Du.1 Suasana sunyi di sekelilingnya dan satu-satunya suara di ruangan itu adalah sapuan kuas Duan Ling yang nyaris tak terlihat saat meluncur di sepanjang kertas mahal.

Namun Wu Du-lah yang memecah keheningan terlebih dahulu.

“Para pelayan tidak mengantarkan makanan ke rumah dalam beberapa hari,” kata Wu Du, “karena kediaman kanselir tidak akan terus menahan seseorang yang tidak bekerja sama sekali, saya hanya berpikir untuk datang untuk mengucapkan selamat tinggal, Kanselir Mu.”

Mu Kuangda hampir memuntahkan seteguk teh. Untuk sesaat dia hanya menatapnya, terkejut, kemudian dia menyadari apa yang telah terjadi.

Ketika sampai pada hal seperti ini, kanselir benar-benar peduli tentang menjaga penampilan; jika kabar tentang dirimya yang menerima punggawa tetapi tidak memberinya makan tiga kali sehari tersebar, dia akan ditertawakan oleh seluruh kota. Tidak perlu banyak berpikir baginya untuk menyadari bahwa itu pasti perbuatan Chang Liujun, yang berusaha keras untuk mempermalukan Wu Du, tetapi Mu Kuangda tidak secara terang-terangan memanggilnya, dan sebaliknya dia menoleh ke seorang pelayan. “Kirim pesanan ke dapur — sekarang — dan beri tahu mereka bahwa jika ada satu makanan pun yang terlewat di rumah Wu Du, pegawai dapur akan dipukuli sampai mati sesuai dengan hukum rumah tangga ini.”

Wu Du terlihat sedikit lebih suram setelah itu, karena, pastinya, bukan Mu Kuangda yang sengaja membuat hidupnya sulit. Sementara suasana hatinya masih berfluktuasi, suara denting ringan dibuat saat Duan Ling meletakkan kuas di rak kuas, dan guru membawa esainya, meletakkannya di depan Mu Kuangda dengan membungkuk.

Mu Kuangda hanya melihatnya sekilas sebelum dia beralih ke Duan Ling. “Mulai besok, mampirlah di pagi hari untuk belajar dengan tuan muda. Pulanglah pada sore hari untuk menjaga ayah angkatmu seperti biasanya.”

Begitu dia selesai berbicara dengan Duan Ling, Mu Kuangda beralih ke Wu Du. “Hanya membutuhkan satu potong pedang untuk membunuh seseorang, tetapi membesarkan seseorang membutuhkan waktu seumur hidup. Ini adalah tindakan kebajikan untuk karmamu.”

Chang Liujun mengambil utas percakapan dan menambahkan, “Perubahan dalam karir menjadi guru juga cukup bagus.”

Mu Qing terkekeh. Dalam keheningan di aula, tawa ini terdengar sangat tidak pada tempatnya.

Hati Duan Ling telah bergantung pada seutas benang, dan akhirnya menemukan tempat untuk mendarat. Dia masih terlihat berada di sepuluh ribu mil jauhnya dari tujuannya, tetapi setidaknya untuk saat ini, meskipun jalannya sejauh ini berbahaya, semuanya tampak bergerak ke arah yang paling menguntungkan baginya.

“Bawa dia kembali bersamamu.” Mu Kuangda berkata, “Bagaimana kemajuanmu dalam pengobatan?”

Wu Du menjawab, “Aku masih mengerjakannya.”

Duan Ling buru-buru bangkit dan mengikuti Wu Du keluar dari ruangan.

Begitu Wu Du pergi, Mu Kuangda menyesap lagi tehnya. “Seorang terpelajar lebih suka dibunuh daripada dipermalukan.2 Chang Liujun, bisakah kau sedikit lebih murah hati? Apa yang kau dapatkan dari bermain-main sepanjang hari seperti yang kau lakukan?”

Chang Liujun hanya bisa membungkuk, meminta maaf.

“Pergilah, kalau begitu,” kata Mu Kuangda kepada Chang Liujun, sebelum beralih ke Mu Qing. “Kau memiliki waktu satu bulan untuk menyelesaikan esai ini. Jika kau berani mencoba mengacaukannya lagi, kau dapat mengambil bangku kecil dan ikut denganku ke sidang pengadilan setiap pagi, duduk di belakang Kepala Pemeriksa dan aku, dan menulis esai tidak masuk akalmu di sana.”

Mu Qing tidak bisa mengangguk dengan cukup cepat; dia berhasil lolos sekali lagi.


Duan Ling bertanya-tanya bagaimana Wu Du akan meledak saat mereka kembali. Dia tahu bahwa selama ini, itulah reaksi yang akan dia dapatkan, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain. Dia hanya bisa membuat sendiri jalan keluarnya dengan mempertaruhkan ketidaksenangan Wu Du. Memikirkan tentang masa lalu dan semua langkah yang diambilnya untuk sampai ke sini, dia merasa sangat bersalah. Dia tidak pernah berbohong sebelumnya; hanya setelah Lang Junxia membawanya ke Shangjing, dia mengatakan kebohongan pertamanya.

Namaku adalah Duan Ling, nama ayahku adalah Duan Sheng…

Untuk bertahan hidup, dia harus berbohong. Dan perlahan, dia mulai mengerti apa arti kebohongan ini; dia mulai mengarang lebih banyak kebohongan untuk membodohi lebih banyak orang, untuk melindungi dirinya sendiri. Tetapi tidak peduli berapa banyak orang yang harus dia tipu, itu tidak pernah membuatnya merasa lebih bersalah daripada menipu Wu Du.

Wu Du terlihat sangat marah, dan dia tidak mengatakan apa pun sepanjang waktu.

Mereka kembali ke rumah, dan begitu Duan Ling berbalik, dia diseret di kerahnya ke tengah halaman dan dilemparkan ke tanah. Duan Ling baru saja tersandung kembali dari jatuhnya ketika pita besar Wu Du melilit tenggorokannya, mendorongnya ke pilar.

“Aku tidak bisa mengatakannya sebelumnya, tapi sepertinya kau cukup licik.” Mata Wu Du dipenuhi dengan permusuhan. “Apakah kau sangat ingin menjadi yang terdepan?”

Dengan lehernya yang tercekik, mata Duan Ling mulai berair karena kehabisan udara. Dia benar-benar merasa sangat menyesal, dan dia menatap Wu Du, dengan penuh penyesalan. Tanpa bergerak, Wu Du memegangi lehernya begitu saja, sampai perlahan amarahnya mereda di tatapan Duan Ling dan dia melepaskannya.

Duan Ling jatuh berlutut, terbatuk tanpa henti dan terengah-engah. Wu Du berdiri di depannya dengan ekspresi gelap, tetapi dia tidak lagi marah seperti sebelumnya.

“Maafkan aku,” jawab Duan Ling.

Dia tidak mencoba untuk menyangkalnya dari semua tanggung jawab. Dia bisa dengan mudah mendorong semuanya pada Mu Qing — misalnya, dia dapat mengatakan bahwa Mu Qing menahannya ketika dia mengantarkan afrodisiak, dan memintanya untuk membantu menulis esai, berjanji untuk memberinya uang untuk itu… sebenarnya dialah yang merencanakan semuanya, termasuk penjelasan ini.

Tetapi dia tidak ingin berbohong kepada Wu Du, dan memutuskan untuk mengatakannya dengan sederhana, “Kau benar. Aku ingin maju.”

“Pergi layani master barumu,” jawab Wu Du, sebelum kembali ke kamarnya dan membanting pintu.

Duan Ling duduk sejenak di beranda. Tampaknya jelas bahwa Wu Du sedikit terkejut, karena ketika Duan Ling tidak repot-repot ingin menjelaskannya sendiri, dia justru mengatakan kepadanya dengan sangat jelas “Aku ingin maju”, tidak ada alasan lagi baginya untuk menjadi marah.

Tidak lama kemudian Wu Du membuka pintunya lagi untuk berkata kepada Duan Ling, “Mengapa kau belum pergi?!”

Wu Du selalu marah, tetapi amarahnya datang dengan cepat dan pergi dengan cepat; kemarahannya sejelas guntur yang diikuti oleh hujan. Kali kedua dia membanting pintu, itu sudah berkurang sepenuhnya dan beresonansi seolah itu sebuah lagu — sebaliknya, kali ini, itu terdengar seperti pertunjukan.

“Aku sudah terbiasa dengan kemiskinan.” Duan Ling duduk di beranda dengan lengan melingkari lututnya, dan nadanya tampak cukup santai. “Dan aku sudah terbiasa menjadi seorang gelandangan. Aku tidak ingin dipandang rendah. Aku tidak ingin dikhianati. Aku ingin memutuskan nasibku sendiri.”

Di dalam rumah, Wu Du tidak mengatakan apa-apa.

Duan Ling melanjutkan, “Aku tidak ingin membiarkan orang lain memutuskan kapan aku mati, kapan aku hidup, bagaimana aku mati, bagaimana aku hidup. Aku tidak bisa menerima lebih dari itu. Aku ingin terus hidup.”

Duan Ling berbalik untuk melihat ke dalam rumah. Ketika Wu Du membanting pintu sebelumnya, pintu itu memantul dari bingkainya dan meninggalkan celah kecil.

“Itulah kenapa aku ingin maju. Maafkan aku, Wu Du.”

Duan Ling mendekati pintu dan melihat ke dalam melalui celah. Melihat Wu Du duduk di ruang gelap tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mendorong pintu sampai terbuka dan membiarkan matahari yang bersinar masuk, dan cahaya itu tumpah ke tubuh Wu Du. Duan Ling tidak mengatakan apa-apa lagi sebelum berbalik untuk mengambil air untuk menyiram bunga, untuk merawat tanaman di halaman.

Sepanjang hidupmu, kau akan memutuskan nasib banyak orang.

Kata-kata yang sudah lama dia dengar muncul kembali di benak Wu Du; itu sudah begitu lama, dia bahkan lupa seperti apa suara lembut itu.

Untuk setiap orang yang mati di tanganmu, bahkan jika ada sepuluh ribu alasan mengapa mereka harus mati, segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup mereka akan lenyap seperti asap sejak kau menusukkan pedang ke mereka. Tapi bagaimana denganmu? Kau memegang kekuasaan tertinggi atas hidup dan mati orang-orang ini, tetapi pernahkah kau memikirkan dirimu sendiri?


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Ketika seseorang bertemu dengan seorang teman sejati, seribu cangkir anggur terlalu sedikit; ketika kau hampir tidak dapat mempertahankan percakapan, setengah kalimat terlalu banyak. Itu adalah idiom panjang dari Ouyang Xiu.
  2. Dari Adat Istiadat Klasik. Seorang Konfusianisme mungkin digerakkan oleh perasaan atau alasan tetapi tidak dengan paksaan; lebih baik mati daripada ditertawakan. Atau, seorang pria Konghucu akan jatuh cinta kepada wortel tetapi tidak pada tongkatnya.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments