English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 2, Chapter 12 Chapter 5

Tidak perlu keluar dan membeli shaobing hari ini; kediaman kanselir telah mengirimkan makanan untuk mereka, dan makanan itu bahkan lebih banyak dari yang biasanya mereka dapatkan. Ada sebotol kecil anggur yang dikirim bersama makanannya, dan Wu Du dengan kesombongnya tidak membalikkan meja kali ini. Duan Ling mengatur piring dengan rapi di sekeliling meja. Mereka berdua merasa sedikit canggung, dan Duan Ling menunggu Wu Du mengambil sumpitnya sebelum dia mulai makan.

“Sepertinya langit adalah batasmu, bocah,” Wu Du tiba-tiba berkata.

Duan Ling bersiap untuk penolakan lebih lanjut dan menuangkan secangkir anggur untuk Wu Du. Wu Du meminumnya, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Malam itu, dia masuk ke dalam kamar untuk tidur seperti biasa tanpa menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan pergi sama sekali, dan Wu Du juga tidak mencoba mengusirnya. Keesokan harinya, ketika dia melihat Wu Du berlatih gerakannya di halaman, dia berdiri dan menghabiskan waktu untuk belajar dengan menirunya. Wu Du mengerutkan kening padanya. “Bukankah seharusnya kau sudah pergi?”

Saat itulah Duan Ling berkata, “Um… Kalau begitu aku akan pergi sekarang.”

Setelah dia pergi dari kediaman Wu Du, Duan Ling menuju ke kediaman kanselir untuk secara resmi memulai karirnya sebagai teman belajar. Dia tidak benar-benar memiliki pemahaman yang baik tentang Mu Qing sebelumnya, jadi Duan Ling hanya menganggapnya sebagai Batu yang lain. Dia selalu percaya diri dalam berurusan dengan tipe orang seperti Batu, karena tidak peduli apa bentuk metodenya dalam berurusan dengan orang seperti itu, sebagian besar esensinya tetap sama. Sebagian besar itu sudah cukup untuk tetap tenang, tidak peduli apa yang orang lain coba lontarkan padanya.

Namun, Duan Ling salah menduganya — Mu Qing dan Batu adalah orang yang sama sekali berbeda. Batu selalu menyembunyikan perasaannya, sementara Mu Qing, di sisi lain menjadi bersih secepat kacang polong yang keluar dari tabung bambu1. Dia secara terbuka menunjukkan perasaannya daripada menyembunyikannya, dan tidak memiliki penyaring antara otak dan mulutnya.

“Wang sesuatu atau lainnya… Siapa namamu lagi?” Mu Qing bertanya pada Duan Ling.

“Tuan muda, namaku adalah Wang Shan,” kata Duan Ling kepada Mu Qing.

Guru itu batuk, tetapi Mu Qing benar-benar mengabaikannya dan bertanya pada Duan Ling, “Mengapa namamu Wang Shan? Apakah itu memiliki makna yang lebih dalam?”

Guru itu melirik Duan Ling. Duan Ling berpikir, kita berada di sekolah sekarang. Kenapa kau banyak bicara? Tetapi kemudian guru itu berkata kepadanya, “Karena tuan muda mengajukan pertanyaan kepadamu, silahkan dan jawab dia.”

Supaya guru itu tidak meremehkannya, Duan Ling menjawab, “Wang adalah heksagram ‘Kun’ dalam studi Kitab Perubahan, satu garis vertikal dan tiga garis horizontal, yang merupakan enam ‘yin’; Shan terdiri dari tiga garis vertikal, yang merupakan tiga ‘yang’, atau heksagram ‘Qian’. Arti dari ‘Wang Shan’ adalah ‘yin dan yang’.”2

Baik Mu Qing dan guru itu terdiam sejenak.

“Um, kenapa kau tidak diberi nama Wang Chuan3?” Mu Qing bertanya.

“Tidak ada alasan sama sekali.” Duan Ling menjawab, “Jika itu yang kamu inginkan, tuan muda, aku tidak keberatan mengubah namaku menjadi Wang Chuan.”

Mu Qing mengabaikan gagasan itu, dan mereka kembali belajar seperti sebelumnya. Guru itu sedang setengah jalan saat memberikan pelajaran ketika Mu Qing sekali lagi mengabaikan dirinya untuk bertanya kepada Duan Ling, “Apakah Wu Du kehilangan kesabarannya padamu ketika kau pulang kemarin?”

Duan Ling berpikir, tidak lagi tanpa suara dan guru itu tidak memiliki pilihan selain berhenti. Agaknya dia selalu diganggu oleh Mu Qing jadi dia sudah terbiasa dengan ini sekarang, dan menggunakan jeda ini untuk minum secangkir teh.

Maka Duan Ling menoleh ke Mu Qing. “Dia tidak melakukannya, tuan muda.”

“Apakah mereka mengirimimu sesuatu untuk dimakan?” Mu Qing bertanya.

Kali ini, Duan Ling telah berhasil mengetahui apa yang dipikirkan Mu Qing. “Mereka mengirimnya. Aku belum pernah memakan makanan yang begitu enak sebelumnya.”

Mu Qing mengedipkan mata pada Duan Ling. Dia pasti merasa agak senang dengan dirinya sendiri.

Guru itu terus menjelaskan buku klasik, dan belum sesaat berlalu sebelum Mu Qing mulai berbicara dengan Duan Ling lagi seolah-olah mereka adalah satu-satunya orang di sini. “Apakah ada racun yang menarik di kamar Wu Du?”

Duan Ling berpikir dalam hati, bekerja sebagai guru di kediaman kanselir bukanlah pekerjaan yang mudah, dan dia memberikan beberapa kalimat singkat untuk Mu Qing. Meskipun Mu Qing biasanya memiliki banyak teman bermain, dia belum pernah bertemu orang seperti Duan Ling sebelumnya; kebanyakan adalah antek-antek biasa yang selalu menjilatnya, dan mereka bergabung dalam kejahatannya atau mereka tunduk pada keinginannya dengan penuh hormat. Dia hampir tidak bisa mendapatkan jawaban akan pertanyaannya ini dari mereka, karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman mereka. Orang-orang itu hanya bagus sebagai kaki tangan, dan itu membosankan.

Di sisi lain, Duan Ling seperti kolam yang tak terukur: sungguh-sungguh, pendiam, dan menilai dari sikapnya, dia tampak dapat membaca dengan baik dan pasti berpengetahuan luas. Mu Qing tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, dan seolah-olah dia baru saja membeli mainan baru, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan semua hal tentang Duan Ling dari dalam dan luar.

Dengan pagi di belakang mereka, minatnya pada Duan Ling semakin dalam. Di sore hari, Duan Ling bermain cuju4 dengannya sejenak. Saat dia pergi ke sekolah di Shangjing, waktu luang semua orang diisi dengan bermain cuju atau gulat sehingga pada dasarnya mereka menyempurnakan kedua keterampilan ini. Dari semua orang, Helian Bo adalah salah satu yang terbaik, dan dia sering memenangkan tepuk tangan meriah untuk dirinya sendiri. Helian Bo telah mengajari Duan Ling semua yang dia tahu, dan dengan seni bela diri sebagai dasar, beberapa tendangan santai di sekitar halaman membuat Mu Qing memberi  sanjungan tanpa henti untuknya.

“Kamu harus melakukannya seperti ini. Seperti itu.”

Duan Ling mengajari Mu Qing kunci cara bermain cuju. Mu Qing tidak pernah bisa membayangkan bahwa anak ini benar-benar akan menjadi Master Cuju. Sebelum ini, pelayan mudanya hanya bisa menendang bola tanpa teknik sama sekali, bagaimana bisa mereka mencapai keterampilan seperti itu? Dan di atas itu, Duan Ling bersedia berbagi dengannya. Mereka menendang bola bolak-balik untuk sementara waktu, dan di siang hari Mu Qing berbaring untuk tidur siang. Dia bangun agar Duan Ling mengipasinya dengan kipas tangan dan membaca buku pada saat yang sama.

“Kau sangat rajin,” kata Mu Qing, setengah tertidur.

“Keluargaku miskin. Rajin adalah satu-satunya pilihan.”

Mu Qing berbalik dan lanjut untuk tidur, tetapi tidak lama kemudian dia bangun lagi. Dia duduk dan menguap, kemudian melirik Duan Ling. Ketika guru itu kembali di sore hari, mereka berdua terus belajar.

Ketika malam tiba, Duan Ling telah selesai melayani Mu Qing, dan dia bersiap-siap untuk pergi. Yang mengejutkannya, Mu Qing sebenarnya merasa agak sulit untuk berpisah dengannya. Sejak Mu Kuangda kehilangan kesabarannya, tidak ada teman buruk Mu Qing yang kembali untuk menemuinya, dan para pelayan muda tidak berani mendorongnya untuk melakukan apa pun, jangan sampai kabar itu sampai ke Mu Kuangda atau dia akan memerintahkan mereka untuk dipukuli sampai mati menurut hukum rumah tangga.

Dan Mu Qing yang malang harus tinggal di sana sendirian, terlihat sedih, menunggu Duan Ling kembali keesokan paginya untuk berbicara dengannya. Saat Duan Ling hendak pergi, dia menemukan Mu Qing melamun di bawah atap, dan itu membuatnya merasa sangat bersalah, tetapi kemudian menyadari bahwa Wu Du telah berada di rumah sepanjang hari sendirian dan melakukan entah apa, itu mungkin juga akan memberinya banyak alasan untuk merasa bersalah. Jadi dia tetap membungkuk kepada Mu Qing dan berkata, “Aku pergi, tuan muda.”

Mu Qing menatap dengan kosong di depannya, memikirkan sesuatu atau yang lainnya, dia melambaikan lengan bajunya ke arah Duan Ling, yang artinya pergilah.

Kembali ke halaman rumah, hidangan makanan sudah diletakkan di atas meja di depan Wu Du, dan ketika Duan Ling kembali dia membawa beberapa makanan lagi. Setelah dia mencuci tangannya, Duan Ling bertanya, “Mengapa kau tidak makan?”

“Ini adalah jatah tuan muda Wang. Wu Du berkata, “Apakah saya berani melampaui batas saya begitu saja?”

Duan Ling bahkan tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi, dia menunggu Wu Du dengan sangat hormat, dan baru kemudian Wu Du mulai makan, sambil memasang wajah tidak puas. Dia kemudian menginterogasi Duan Ling tentang apa yang berhasil dipelajari Mu Qing melalui pembelajarannya, dan Duan Ling menjelaskan semua pelajaran satu demi satu. Setelah makan malam dia mencuci piring dan mencuci baju seperti biasa, dan tidak tidur sampai malam tiba.

Selama setengah bulan semua ini berlangsung dengan baik; Mu Qing hanya memperlakukan Duan Ling seperti teman bermain pada awalnya, tetapi sikap serius Duan Ling telah mendorongnya, jadi dia tampaknya secara bertahap menyerap beberapa ceramah. Apa yang berada di dekat cinnabar akan berubah merah dan apa yang berada di dekat tinta akan menjadi hitam, seperti yang mereka katakan. Duan Ling sangat jujur dan sopan, seperti pisau giok upacara.5 Memanggil dirinya sama sekali tidak berbahaya, tapi dia terkadang terkesan samar seperti mata pisau; memanggil dirinya seseorang yang memiliki keberanian, tetapi dia terus-menerus menahan diri — membuatnya sulit untuk melihat siapa dia sebenarnya.

“Ada beberapa kemajuan,” kata Mu Kuangda. “Tuan muda telah membuat beberapa kemajuan, sementara Wang Shan menulis esai seperti seorang seniman bela diri yang memperoleh beasiswa.”

Guru itu berkata kepada Mu Kuangda, “Dia berbakat.”

Mu Kuangda meminum tehnya sambil dengan santai membolak-balik esai yang ditulis oleh putranya dan teman belajar putranya, dan menuliskan evaluasinya.

“Seperti seorang terpelajar yang mempelajari seni bela diri.” Mu Kuangda berkata, “Tetap saja, seorang terpelajar pada intinya.”

Orang yang berbudi sering datang dari kelas rendah, sedangkan terpelajar selalu menjadi orang yang berkhianat.6 Jika ada kelas orang-orang yang Mu Kuangda tidak suka, itu adalah kelas rendahan yang berbudi — selalu menggunakan hati mereka daripada kepala mereka, membawa variabel ke dalam rencananya yang disusun dengan baik, akhirnya membuat semuanya berantakan. Cendekiawan mungkin berkhianat, tetapi ada juga pepatah yang mengatakan bahwa semua pekerjaan adalah dasar kecuali untuk mempelajari buku. Sangat disesalkan bahwa terlalu sedikit orang di klannya yang ingin mengejar kesarjanaan, dan di atas itu, putranya benar-benar tidak berharga. Dia benar-benar tidak memiliki cara untuk mendorongnya.

“Berikan dia uang sebagai hadiah,” kata Mu Kuangda. “Karena kau harus pulang, beri anakku libur beberapa hari. Dan seperti yang kau katakan kepada Qing’er, biarkan mereka berdua bermain, dan beri tahu Wu Du untuk menjaga mereka. Bagaimanapun, dia adalah seorang pembunuh, hanya akan sia-sia untuk meninggalkannya di rumah itu.”

Sementara guru itu pergi menemui Kanselir Mu untuk membahas tentang esai, Mu Qing dan Duan Ling berada di ruang belajar, menunggu untuk dipanggil. Mu Qing tampak gugup dan gelisah, tetapi Duan Ling terlihat tidak terganggu, dia berjalan-jalan di sekitar ruangan sekali sebelum dia mulai melihat-lihat rak buku, berencana untuk meminjam beberapa buku untuk dibaca ketika guru mereka pulang ke rumah untuk hari liburnya.

Mu Qing terus mendapatkan perasaan bahwa dia mungkin pernah melihat aura ini di suatu tempat sebelumnya: santai, anggun, seolah-olah semuanya ada dalam genggamannya, seperti seseorang itu… tetapi untuk saat ini dia tidak bisa mengingat siapa itu.

“Jangan khawatir.” Duan Ling berkata, “Kamu melakukannya dengan sangat baik. Ketika orang lain menunjukkan bahwa kamu memiliki kesalahan, bergembiralah,7 kamu tahu? Jika guru itu kembali, memberimu kuliah dan menunjukkan kesalahanmu, kamu seharusnya senang.”

Duduk di depan meja, Mu Qing menggambar sosok kecil dengan dua kumis, dan mulai tertawa. Duan Ling sering kali menemukan kesenangan dalam keadaannya yang buruk, jadi belajar pun lebih santai daripada sebelumnya.

“Aku paling takut dengan ‘Pertanyaan Pemerintahan’.” Mu Qing berkata, “Jika itu adalah aku, aku akan mengambil beberapa perak dari orang kaya dan membagikannya kepada orang miskin. Maka semua orang akan hidup lebih nyaman.”

“Tetapi apa yang harus kita lakukan setelah mereka menghabiskan uangnya?” Duan Ling berkata pada Mu Qing. “Kalau soal itu akar masalahnya ada di distribusi tanah.”

“Katakan pada mereka untuk membeli tanah,” jawab Mu Qing.

Pertanyaan yang mereka ajukan hari ini untuk ujian bulanan adalah bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikan masalah pengungsi yang melarikan diri ke selatan. Perang berturut-turut dari tahun lalu membuat hingga satu juta orang dari Liao dan Chen mengalir ke dataran tengah dan Jiangnan. Mereka telah kehilangan tanah mereka, mengalami kehancuran karena prajurit Mongol, dan banyak dari mereka yamg mati kedinginan dalam perjalanan ke selatan; mereka telah melarikan diri ke Jiangzhou, dan beberapa dari mereka bahkan telah menyeberangi Sungai Yangtze untuk pergi lebih jauh ke selatan.

Jadi pertanyaan yang diajukan Mu Kuangda adalah Kebijakan Mencius harus dimulai dari perbatasan,8 sampai ke inti masalah hak tanah yang meluas yang ada di Chen Selatan saat ini. Tanpa bantuan Duan Ling, Mu Qing berhasil memahami apa yang dimaksud oleh Mu Kuangda — karena Duan Ling pernah mengatakan kepadanya bahwa dia harus memikirkan apa yang secara tidak langsung diucapkan oleh pertanyaan itu.

“Dan begitu mereka membeli tanah, beberapa orang akan selalu rajin sementara yang lain akan malas; beberapa orang akan beruntung sementara yang lain mengalami kemalangan. Uang dan tanah secara bertahap akan terkonsentrasi di tangan segelintir orang yang terpilih. Pada akhirnya, beberapa orang masih akan berakhir tanpa apa pun sementara yang lain akan kaya dengan kepemilikan tanah yang luas dan subur.”

“Kalau begitu bagikan saja kembali, kan?”

Mu Qing menjawab. “Dan siklus itu akan dimulai lagi, berulang-ulang tanpa akhir.” Duan Ling tertawa. “Tetapi jika aku memintamu untuk memberikan semua uangmu kepada orang miskin, apakah kamu akan dengan senang hati melakukannya?”

“Aku akan dengan senang hati melakukannya.”

Duan Ling menatap Mu Qing, tidak bisa berkata-kata. Mengetahui tentang Mu Qing, dia mungkin sangat senang melakukannya. Jika semua orang di dunia seperti Mu Qing, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mu Kuangda menjadi Mu Kuangda, sungguh ironis baginya untuk memiliki seorang putra seperti Mu Qing.

Guru itu kembali, dan memberi tahu mereka berdua bahwa mereka telah mengerjakan esai mereka dengan baik. Mu Qing segera meledak dalam sorak-sorai, dan guru itu memberi mereka berdua hari libur. Duan Ling mengemasi barang-barangnya sehingga dia bisa pulang untuk menemani Wu Du, dan begitu Mu Qing selesai bersorak dia tiba-tiba merasa sedikit kecewa karena Duan Ling tidak akan datang saat mereka libur, sedemikian rupa sehingga dia menemukan bahwa dirinya merasa kehilangan…

Jika dia diminta untuk mencari hiburan dengan sampah yang biasa dia sebut teman, dia juga tidak akan mau untuk pergi. Sebaliknya Duan Ling ternyata menjadi teman bermain yang sangat baik; dia sering mendengarkannya, sedikit berbicara, dan dia bahkan ahli dalam semua bidang — dia bisa menangkap belalang atau menjebak burung, menulis esai, atau menembakkan panah. Dia bisa membuat teka-teki untuk ditebak oleh Mu Qing, mengetahui buku klasik dengan cukup baik untuk mengutipnya dengan santai, kadang-kadang dia bahkan membuat lelucon tentang filsuf tua yang bijak. Perbedaan usia mereka berdua mungkin tidak jauh, tetapi Duan Ling jauh lebih dewasa, dan jauh lebih tenang.

“Apa yang akan kau lakukan di hari liburmu?” Mu Qing bertanya.

“Aku harus kembali terlebih dulu. Kalau tidak, Wu Du akan menghajarku.”

Mu Qing ingin membuat Duan Ling tinggal untuk makan malam, tetapi begitu dia mendengar alasannya, dia tidak memiliki pilihan selain melambaikan tangannya dan membiarkannya pergi. Teman yang cocok sulit ditemukan untuk saat ini; baik mereka adalah penjilat yang berbicara manis atau orang bodoh yang sederhana dan tidak jelas. Dengan demikian jelas bahwa bahkan jika kamu tidak menilai seseorang dari penampilan mereka, orang-orang diurutkan ke dalam kasta dan kelas — semua orang ingin berteman dengan mereka yang mempesona, anggun dengan selera yang baik, dan memiliki sikap yang sungguh-sungguh.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Ceplas-ceplos.
  2. Kitab Perubahan, atau I Ching, adalah teks ramalan. (https://en.m.wikipedia.org/wiki/I_Ching) Atau kalian bisa mencari di google “I Ching”.
  3. Chuan 川 juga memiliki tiga garis vertikal. Sedangkan Shan 山 memiliki garis tambahan di bagian bawah, Chuan akan menjadi representasi yang lebih baik dari heksagram Qian
  4. Cuju secara luas diakui oleh FIFA sebagai bentuk sepak bola paling awal. Cuju adalah permainan bola Tiongkok kuno. (https://en.m.wikipedia.org/wiki/Cuju)
  5. Mereka terlihat seperti ini. Mereka kemungkinan digunakan sebagai bagian dari pengorbanan kepada leluhur.
  6. Sebuah bait berima yang ditulis oleh penyair Dinasti Ming, Cao Xuequan.
    (Pendapatku (yunda) nih, Kek orang menengah ke bawah pada berlomba-lomba biar bisa sekolah tinggi tapi orang yg dah kaya pada males lanjutin sekolahnya ke perguruan, di mana mereka dengan mudah harusnya bisa sekolah karena finansial mereka terpenuhi.)
  7. Ini dari Mencius. (https://ctext.org/mengzi/gong-sun-chou-i#n1636)
  8. Kebijakan yang baik harus dimulai dari perbatasan; ketika batas-batas itu ditarik dengan tidak tepat, tanah tidak akan dibagi secara merata, dan gandum dan upah akan didistribusikan secara tidak adil.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments