English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 2, Chapter 12 Part 3

Saat malam tiba, Wu Du datang untuk memeriksa kotak kecil dan pedangnya. Duan Ling sedang berbaring di sudut rumah, tidur di dekat dinding, dan ketika dia mendengar suara itu, dia mengintip. Dia menemukan Wu Du berdiri dengan punggung menghadapnya, membuka kotak dan mengambil sesuatu sebelum pergi keluar untuk duduk di depan pintu.

Segera, suara seruling yang terputus-putus mulai terdengar seolah-olah sedang dimainkan. Telinga Duan Ling menjadi bersemangat, lalu nada-nada yang melayang di udara datang satu demi satu terangkai menjadi sebuah melodi.

Reuni Kebahagiaan!

Lagu itu adalah Reuni Kebahagiaan!

Duan Ling telah mendengarnya berkali-kali sebelumnya; di Shangjing, di atas dinding halaman Aula Kemasyhuran, Xunchun yang sedang bermain di dalam Viburnum, lagu seruling ayahnya yang agak goyah… Dia terkejut saat mengetahui bahwa Wu Du juga dapat memainkannya. Saat dia menangkap nada pertama seruling, Duan Ling menjadi linglung.

Pada awalnya, suara yang keluar dari seruling Wu Du tampaknya memiliki aura kemarahan, tetapi setelah pembukaan, nada-nada itu menyembur keluar seperti air terjun; dalam keheningan malam seolah-olah musik membujuk ladang yang penuh pohon persik menjadi mekar, setiap nada mengalir tanpa batas, tanpa akhir, dipenuhi dengan harapan, berdering dengan keyakinan yang riang.

Ketika dia mendengarnya di Aula Kemasyhuran untuk pertama kalinya, itu diam dan tertutup, seolah-olah ada begitu banyak hal untuk dikatakan tetapi tidak ada cara untuk mengungkapkannya; lagu yang dimainkan Xunchun di sisi lain terdengar pahit dan patah hati, dengan sentuhan putus asa; begitu Li Jianhong berhasil belajar bagaimana cara memainkannya, bahkan lagu serulingnya pun penuh dengan kekuatan yang nyaring. Ketika Wu Du memainkan lagu ini, itu tidak membangkitkan perasaan yang sama yang pernah didengar Duan Ling sebelumnya — itu kaya dan lembut tanpa menjadi agresif, pedih tanpa kesedihan, murah hati dan bebas seperti air yang mengalir melalui Sungai Feng Xichuan, mengalir deras ke laut.

Masih mengenakan pakaian bagian dalam dan celana pendek untuk tidur, Duan Ling dicekam oleh dorongan yang tak tertahankan untuk keluar dari sudut rumah, dan dia berhenti di depan ambang pintu untuk melihat ke luar. Dia menemukan Wu Du duduk di tangga di halaman, profilnya terlihat sangat tampan dengan ketegangan akan ketidakpedulian dan frustrasi dalam tatapannya. Lagu itu berangsur-angsur berhenti dan Wu Du meletakkan serulingnya. Ada bulan purnama yang cerah di atas, memicu keluasan dan kejernihan malam. Duan Ling masih terpikat dengan musiknya.

“Apa itu?” Duan Ling bertanya.

Wu Du menoleh dan melihat Duan Ling dari atas kepala sampai ke jari-jari kakinya, dan sudut mulutnya menunjukkan keanehan singkat.

“Belum pernah melihat seruling sebelumnya?”

Duan Ling tidak bisa berkata-kata; dia mengira Wu Du akan memberinya penjelasan, mungkin membicarakan lagu itu, tetapi Wu Du tidak mau repot-repot mengatakan hal yang berlebihan kepadanya. Dia meletakkan seruling itu dan berbaring di luar pintu, menatap bulan.

“Ketika aku seusiamu yang sekarang, aku sudah tahu bagaimana caranya membunuh orang.”

Duan Ling melangkah keluar saat dia mendengar Wu Du berbicara kepadanya, lalu dia duduk di bawah atap dengan lengan melingkari lututnya.

Dalam kesunyian, Wu Du menyesap anggur dan berpikir keras, “Aku berumur lima belas tahun pada saat itu. Istri masterku memberiku salinan Buku Kedokteran, seruling, pedang Lieguangjian, dan menyuruhku meninggalkan gunung untuk mencari rekan.”

Duan Ling mengingat Xunchun, yang juga tahu cara memainkan lagu ini, tetapi dia tidak mengatakan apapun untuk menyela Wu Du.

“Istri masterku adalah seorang wanita dengan keyakinan. Dia mengatakan kepadaku bahwa, ada beberapa hal di dunia ini yang tidak boleh kau lakukan, bahkan jika hidupmu tergantung pada seutas benang, bahkan jika kau terpojok. Integritas… lebih penting daripada hidup itu sendiri.”

“Dan semoga keberuntungan menyertai, orang lain juga memberitahuku,” Wu Du melanjutkan tanpa tergesa-gesa, “bahwa ada beberapa hal di dunia yang harus dilakukan seseorang, bahkan jika ada gunung pedang dan lautan api di jalan, bahwa tidak ada yang peduli betapa sulitnya itu, seseorang tetap harus melakukannya…”

Anggur telah melesat ke matanya dan Wu Du menatap ke angkasa dengan tenang untuk beberapa saat sebelum bertanya, “Kau pernah bersekolah sebelumnya?”

Duan Ling mengangguk dan Wu Du melanjutkan, “Apa yang ingin kau lakukan setelah dewasa? Jangan pernah menjadi pembunuh sepertiku.”

Duan Ling menatap Wu Du, dan setelah sekejap, mengatakan kepadanya, “Ketika ayahku masih hidup, dia ingin aku pergi ke sekolah, dan mendapat peringkat tinggi dalam ujian.”

Wu Du menghela napas. “Peringkat tinggi dalam ujian.”

Wu Du mulai tertawa, menggelengkan kepalanya; apakah dia menertawakan Duan Ling atau dirinya sendiri adalah sebuah misteri. “Berapa banyak yang telah kau pelajari? Pilih beberapa kalimat dan katakan kepadaku.”

“Langit hitam bumi kuning, alam semesta yang luas dengan semua kekacauan…” Duan Ling melafalkannya.

“Coba lagi,” kata Wu Du, “Siapa yang tidak tahu yang itu?”

Untuk meninjau dan mempraktikkan apa yang telah dipelajari, bukankah itu menyenangkan…1

“Coba lagi,” mata Wu Du terpejam saat dia bergumam, “Aku sudah sering mendengarnya,  telingaku sudah kapalan.”

Tujuan dari pendidikan tinggi adalah untuk meningkatkan bagian terhormat dari karakter seseorang…”

“Tidak tahu apa artinya, coba lagi.”

Kapan siklus tak berujung bunga musiman dan tampilan bulan ini berakhir? Oh, masa lalu menyedihkan untuk dilihat.2

Wu Du meminum seteguk anggur dan kali ini tidak mengganggu Duan Ling. Mengingat puisi yang diajarkan oleh Kepala Sekolah, Duan Ling membacakan beberapa untuk Wu Du; ada pantulan sedih rambut putih di cermin ruang utama; sutra hitam fajar telah menjadi seputih salju ketika senja,3 dan kamu berbaris dan kamu berbaris, betapa jarak memisahkan kita,4 sedangkan Wu Du mendengarkannya, meminum anggurnya dari waktu ke waktu hingga akhirnya setengah kati anggur sudah habis dan Wu Du bersandar di sisi tempat tidur, matanya tertutup, tidak bergerak sama sekali.

Khawatir dia akan masuk angin karena tidur di luar, Duan Ling menyeretnya dengan susah payah ke tempat tidur. Wu Du belum tertidur, dia membuka matanya untuk menatap Duan Ling dengan mabuk seolah ingin mengatakan sesuatu. Dalam sekejap, jantung Duan Ling mulai berdetak kencang di dalam dadanya.

“Mulutmu ini terlihat seperti milik Yao Zheng.” Wu Du mengejeknya, “setiap kali aku melihatnya, aku ingin membelengu wajahmu.”

Duan Ling buru-buru berkata, “Siapa… siapa Yao Zheng?”

Wu Du mengabaikannya, dan Duan Ling menyelimutinya sebelum kembali ke sudut untuk mengatur tempat tidurnya, dan berbaring. Tetapi Wu Du tetap membuka matanya, menatap punggung Duan Ling dengan lekat-lekat.

“Kenapa aku terus merasa bahwa aku pernah melihatmu di suatu tempat sebelumnya?”

“Pernah?”

Wu Du menggosok ruang di antara alisnya, tetapi dia benar-benar tidak ingat. Duan Ling merapikan tempat tidurnya, dan dengan punggung menghadap ke Wu Du, dia berkata, “Kau ada di bintangku.”

“Bagaimana bisa?” Wu Du menutup matanya, terdengar tidak tertarik.

“Kau telah menyelamatkan hidupku dua kali. Aku sangat berhutang budi padamu, tetapi aku benar-benar tidak memiliki apa-apa untuk membalasnya.”

“Aku bukan orang yang baik,” Wu Du mengutarakan pikirannya, “Aku bisa menyelamatkanmu karena ingin, tetapi aku juga bisa membunuhmu karena keinginan yang sama. Kau jangan senang dengan begitu cepat.”

Duan Ling tahu Wu Du hanya menggertak; tentu saja dia tidak akan membunuhnya tanpa alasan yang jelas. Tetapi begitu Wu Du selesai mengatakan ini, dia tertidur.


Keesokan harinya, Duan Ling memutuskan untuk menjalankan rencananya — mencari cara untuk mendekati Mu Qing, dan memenangkan kepercayaannya. Setidaknya dia harus meninggalkan kesan pada Mu Qing. Namun, rencananya ke Mu Qing tidak boleh membuat Wu Du menjadi waspada dan menjauhkan diri. Jika tanpa perlindungan Wu Du, jika Lang Junxia menemukannya, dia akan dapat membunuhnya kapan saja dia mau.

Wu Du sedang berlatih untuk memperkuat qi-nya, dan Duan Ling meliriknya dari waktu ke waktu; metodenya sama seperti cara Li Jianhong meningkatkan qi, menggunakan gerakan kaki dan gerakan telapak tangan untuk memandu aliran kekuatan di sekitar titik meridian tubuh. Ketika Wu Du selesai, dia berkeringat, dan Duan Ling mengambil seember air untuk mencuci rambutnya di halaman.

“Mu Qing memintaku untuk melakukan sesuatu,” kata Duan Ling.

“Sesuatu apa?”

Duan Ling mengisi baskom dengan air dan menuangkannya ke atas kepala Wu Du.

“Dia memintaku untuk membuat resepnya.” Dan dia memberi tahu Wu Du apa yang terjadi.

“Kenapa kau tidak memberitahuku terakhir kali?”

Duan Ling tidak menjawabnya. Dia bertanya, “Apa yang harus aku lakukan?”

Melalui pengamatannya, Duan Ling tahu bahwa selama dia menjelaskan seluruh situasi secara rinci, Wu Du pasti tidak akan marah kepadanya. Dan benar saja, dia membuat asumsi yang benar.

“Apa yang akan kau lakukan?” Wu Du berkata dengan dingin, “Setidaknya kau tahu apa yang baik untukmu.”

Jadi Duan Ling tetap menutup mulutnya, dan begitu dia selesai mencuci rambut Wu Du, dia mengeringkannya. Jelas sekali bahwa Wu Du tidak benar-benar memiliki pilihan; ini tidak seperti dia memiliki uang.

Dia berkata kepada Duan Ling, “Dia memintamu untuk membuatnya, jadi buatkan saja.”

Duan Ling diam-diam menghela napas lega, berpikir dalam hati, rencananya telah berhasil setengahnya. Dia membuat ulang paket obat untuk Mu Qing, tetapi bukannya bergegas untuk mengirimkannya, dia meletakkannya di atas meja di depan Wu Du. Wu Du tidak mengatakan apa-apa, terus membolak-balik buku-bukunya.

Lewat tengah hari, Wu Du memberitahunya, “Kirim saja kepadanya.”

Duan Ling pergi dengan paketnya. Kali ini, perjalanannya ke kediaman kanselir berjalan jauh lebih lancar. Mu Qing sedang belajar di kamarnya, kejengkelan tertulis di seluruh wajahnya. Saat dia melihat Duan Ling, dia memanggilnya dan berkata, “Masuklah ke sini. Apakah kau sudah selesai membuatnya?”

Duan Ling mengeluarkan bungkusan itu dan duduk di samping Mu Qing, menyerahkannya. “Ambil setengah berat tembaga sekaligus. Kamu tidak dapat mengambil lebih dari itu.”

Mu Qing menyimpannya seolah-olah itu adalah harta yang paling berharga. Dia mengeluarkan beberapa perak dan bertanya, “Siapa namamu?”

“Wang Shan.”

Mu Qing mengangguk. Karena tidak setiap hari Duan Ling datang ke sini, dia ingin mencari alasan untuk berbicara dengan Mu Qing dan mendapatkan bantuannya, memastikan bahwa Mu Qing mengingatnya, karena itulah satu-satunya kesempatan yang dia memiliki untuk mendekati Mu Qing di masa depan. Namun kenyataan telah membuktikan bahwa Duan Ling benar-benar khawatir; Mu Qing telah ditahan di halaman rumahnya selama berhari-hari untuk belajar, dan orang yang biasa dia sebut teman-teman itu tidak lagi datang untuk mencarinya karena takut Mu Kuangda akan menginjak mereka sampai mati seperti yang dia lakukan pada jangkrik itu. Satu-satunya orang yang ada di sekitarnya adalah beberapa pelayan. Mu Qing sudah sangat marah karena demam kabin.5

“Apa kau memiliki obat tidur?” Mu Qing berbisik, “Lebih baik jika itu adalah jenis di mana setelah mereka memakannya, mereka tidak akan ingat apa pun, dan hanya berpikir bahwa mereka sedang bermimpi atau sesuatu. Kita bisa melumpuhkan penjaga dan menyelinap keluar untuk bermain.”

Duan Ling memikirkannya dan menjawab dengan sungguh-sungguh, “Aku tidak memilikinya, tuan muda.”

“Lalu apakah kau memiliki obat tidur yang biasa? Wu Du pasti memilikinya, kan?”

“Tidak,” jawab Duan Ling, “dia tidak menggunakan obat tidur.”

Mu Qing menghadap ke selembar kertas, mengerutkan keningnya dengan menyedihkan. Hanya ada beberapa baris di halaman itu. Duan Ling sudah menyadarinya.

“Dari mana kau berasal? Apakah kau mengetahui hal-hal yang menarik? Aku akan memberimu uang. Pergi ke pasar dan belikan aku barang-barang menyenangkan.”

“Master akan mengulitiku, tuan muda.”

Mu Qing terdiam sejenak sebelum bertanya, “Bisakah kau menulis esai? Jawab pertanyaan ini. Tahu bagaimana caranya?”

Duan Ling menatap topik yang tertulis di sampingnya: Zi Lu, Zeng Xi, Ran You, Gongxi Hua duduk untuk hadir,6 yang berasal dari Analek Konfusius, dan kertas-kertas yang digulung oleh Mu Qing telah disebar ke seluruh meja; seketika sebuah ide muncul dibenaknya.

Mu Qing benar-benar kehabisan energi, dan dia berbaring terlentang di tempat tidur. Melihat ke bawah ke meja, Duan Ling mengambil kuas, mencelupkannya ke dalam tinta, dan mulai menulis.

Sementara itu, Mu Qing bangkit dan mondar-mandir di sekitar ruangan, meregangkan tubuhnya, tetapi dia juga tidak mengusir Duan Ling dari rumahnya. Dia berdiri di halaman, membungkuk ke sana kemari, berolahraga. “Tahu beberapa seni bela diri?”

“Tidak,” jawab Duan Ling, sudah mulai menulis di atas kertas.

Mu Qing tidak repot-repot untuk melihat ke belakang, hanya meregangkan pinggangnya dan bertanya kepada Duan Ling, terdengar bingung, “Bukankah Wu Du hidup sendiri? Apakah kau baru saja mulai tinggal di rumahnya akhir-akhir ini? Untuk apa dia menginginkanmu?”

Kesan Mu Qing tentang Wu Du adalah seorang pria dengan temperamen yang aneh. Meskipun demikian, dengan julukan “budak dengan tiga nama keluarga”, dia tampaknya tidak tahu bahwa dia harus berusaha memenangkan hati ayahnya, dan dia diintimidasi oleh Chang Liujun sepanjang hari. Jika itu adalah orang lain, dia pasti sudah pergi, tetapi entah kenapa pembunuh bayaran ini masih menyeringai dan menahannya, tinggal di rumah halaman yang terpencil itu.

Duan Ling terus memikirkan pertanyaan ini, tetapi dia tidak menjawabnya secara langsung. “Aku dari Xunbei, tuan muda.”

“Oh? Xunbei.” Meskipun Mu Qing lahir dengan sendok perak7, dia tidak terlalu sombong. Dia dibesarkan dalam keluarga sastrawan sehingga setidaknya dia memiliki perilaku dasar sebagai seorang terpelajar. “Xunbei… Xunyang utara. Apa yang menyenangkan untuk dilakukan di sekitar sana?”

“Itu berada di tepi barat Shangzi. Ada banyak hewan liar di pegunungan.”

“Aku berharap suatu saat nanti aku bisa pergi berburu. Aku akan memberimu uang. Pergilah ke pasar menggantikanku dan belikan seekor kuda untukku. Tidak harus yang besar; seekor kuda Yunnan tidak masalah8. Simpanlah di halamanmu itu dan aku akan melihatnya ketika aku memiliki waktu… apa yang kau lakukan?”

“Melakukan pekerjaan rumah untukmu, tuan muda.” Duan Ling telah menyelesaikan seluruh esai saat mereka berbicara, meletakkan kuas, dia bangkit dan membungkuk pada Mu Qing.

Mu Qing terperangah. “Kau bahkan pernah bersekolah sebelumnya?”

Duan Ling berdiri di dekatnya tetapi tidak mengatakan apa-apa, terus menatap dirinya. Mu Qing membaca semuanya dari atas ke bawah. “Ini… ini akan berhasil — ini hebat!”

“Tuan muda, kamu tidak dapat hanya menyalinnya secara keseluruhan dan menyerahkannya seperti itu. Kamu perlu mengubah paragraf pertama dan terakhir dan mengganti beberapa kosakata yang ada di tengah.”

“Hebat! Hebat!” Mu Qing tertawa. “Terima kasih banyak!”

Mu Qing duduk, dan Duan Ling menggilingkan tinta untuknya. Lalu Mu Qing menyalinnya, mengubah beberapa hal di sana-sini. Duan Ling bangkit begitu Mu Qing selesai menulis. Mu Qing mengeluarkan sejumlah uang dari kantong uangnya, tetapi setelah memikirkannya, dia memutuskan untuk tidak memberikan hadiah kepada Duan Ling. “Datanglah keesokan paginya. Untuk saat ini, pulanglah.”

Duan Ling menjawab tentu saja, sedangkan Mu Qing berseri-seri ketika dia melihat-lihat esai yang dia salin. Setelah ditahan selama dua minggu, dia akhirnya bisa menyerahkan pekerjaannya.


Bawakan Anggur
Karya Li Bai

Tidakkah kau melihat,
air di Sungai Kuning datang dari langit atas,
lari mengalir sampai lautan tak kembali lagi?

Tidakkah kau melihat,
cermin di balai tinggi meratapi uban rambut,
pagi seperti hijau serat petang menjadi salju?

Hidup selagi di atas tuntaskan bahagia sepuasnya,
jangan biarkan cawan kosong menatap rembulan!

Langit melahirkanku pasti ada gunanya,
seribu emas habis tersebar raihlah kembali.

Domba direbus Sapi dipotong untuk gembira,
sekali minum tiga ratus cawan harus disanggupi!

Tuan Chen, saudara Danqiu,
minumlah segera, jangan kau berhenti!

Untukmu kulantunkan sebuah nyanyian,
untukku pasanglah telingamu mendengarkan!

Tambur lonceng hidangan lezat tiada berharga,
semoga bermabok panjang tak bangun lagi.

Sejak dulu insan bijak selalu menanggung sepi,
tinggal pemaboklah yang meninggalkan nama!

Kala itu di Wisma Damai raja Chen berpesta,
seliter arak sepuluh ribu lepas bercanda riang.

Mana boleh tuan rumah bilang uang kurang?
jangan ragu pergi membeli menyuguhi anda!

Kuda panca warna, busana sejuta perak,
panggillah anak pesuruh keluar menukarkan arak!

Bersama kalian leburkanlah duka sepanjang masa!


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Dari Konfusius. Untuk memparafrasekan, seluruh paragraf seperti “bukankah menyenangkan untuk mempraktikkan apa yang dipelajari? Bukankah senang melihat seorang teman yang melakukan perjalanan jauh datang berkunjung? Bukankah sopan untuk tidak marah ketika seseorang tidak mengerti tentangmu?” Kata kuno terdengar sangat bijaksana, tetapi seluruh paragraf ini sejujurnya paling dekat dengan bahasa Inggris “Apakah beruang buang kotoran di hutan?” atau dengan kata lain, “Apakah aku gagap?”
  2. Puisi lain oleh Li Yu. Ini dikutip dari puisi terkenal yang membuatnya terbunuh. Dia diracuni oleh Kaisar Song Taizong pada tahun 978, setelah dia menulis puisi yang secara terselubung, menyesali kehancuran kerajaannya dan pemerkosaan istri keduanya, Permaisuri Zhou yang Lebih Muda oleh Kaisar Song. Setelah kematiannya, dia secara anumerta menciptakan “Pangeran Wu” (吳王).
  3. Dari Li Bai “Qiang Jin Jiu” / “Bring in the Wine” (Bawakan Anggur-nya), itu adalah puisi yang sangat panjang.
  4. Ini adalah puisi klasik oleh seorang penulis anonim, tentang seorang prajurit yang pergi berperang, yang meninggalkan istrinya selama bertahun-tahun.
  5. Cabin fever adalah istilah untuk menggambarkan berbagai perasaan-perasaan negatif akibat terlalu lama terisolasi di dalam rumah atau tempat tertentu.
  6. Kalian bisa membacanya secara lengkap disini. (https://stonechimes.com/book-11/11-26/)
  7. Seseorang yang lahir dari keluarga kaya.
  8. Berkaki pendek, pekerja keras yang tangguh untuk mengangkut barang.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments