English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 7 Part 5

Benar saja jalan menuju ke sana sepi, dan ketika mereka semakin jauh dari bagian utara kota, kebisingan juga secara bertahap mulai berkurang. Karena mereka tidak tahu bagaimana pertempuran itu akan terjadi serta mereka dekat dengan kediaman milik keluarga Cai, Cai Yan berkata kepada mereka, “Ayo bersembunyi di rumahku untuk sebentar.”

Para anak muda itu kelelahan dan kelaparan. Mereka semua mengangguk pada saran ini dan memasuki rumah Cai Yan.

Berharap dapat menemukan makanan, Cai Yan memanggil para pelayan beberapa kali, tetapi tidak ada yang menjawabnya. Barang-barang di dalam rumahnya ada di mana-mana; jelas rumah itu dirampok. Duan Ling pergi keluar untuk memeriksa halaman belakang dan menemukan seorang prajurit Mongolia tewas di sudut dengan panah menonjol dari punggungnya. Sepertinya dia melarikan diri ke sini setelah tertembak; tubuhnya belum sepenuhnya dingin.

“Ada seorang pria mati di sini.” Duan Ling berkata dengan tenang sambil meminum air.

“Jangan mengkhawatirkannya.” Cai Yan berkata, “Semuanya, datanglah ke aula depan.”

Helian Bo mengacak-acak dapur kediaman keluarga Cai hanya untuk mengetahui bahwa tidak ada apa-apa di dalamnya — apinya tidak menyala selama berhari-hari dan kompornya sedingin es. Yang bisa mereka lakukan hanyalah mengambil air dari sumur untuk diminum, dan seseorang telah memetik daun dari pohon untuk dikunyah.

“Minum lebih banyak air.” Duan Ling berkata, “Air akan membuatmu kenyang, dan jika kau memotong kulit kayu dari pohon, itu juga dapat menghilangkan rasa laparmu.”

Duan Ling memeriksa dahi Cai Yan lagi — dia masih demam, dan mereka semua telah kelaparan untuk waktu yang lama, jadi semua orang saling bersandar satu sama lain. Helian Bo mendengkur dengan air liur mengalir di dagunya. Duan Ling mendapatkan bantal, berbaring di sampingnya, dan dengan tangan di atas pedangnya, Duan Ling tertidur.

Adapun Cai Yan, dia tertidur di atas meja. Satu di sini dan satu di sana, masing-masing menemukan tempat untuk tidur di dalam aula depan. Dia tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu sebelum ada tapak kaki kuda lagi di luar. Sekarang, mereka semua gelisah karena apa yang telah mereka alami di malam sebelumnya, dan bangkit dari mana pun mereka berbaring. Duan Ling berdiri di belakang gerbang, mengintip ke luar, dan melihat bahwa itu adalah seorang prajurit berlumuran darah berseragam penjaga kota yang datang ke arah mereka.

“Apakah ada orang di sini?” Prajurit itu berseru.

Helian Bo membuka pintu, tetapi Duan Ling tidak menunjukkan dirinya karena takut ada pembelot yang datang untuk merampok mereka. Untungnya, prajurit itu memberi tahu mereka, “Pertempuran sudah berakhir. Datanglah ke tempat latihan di luar markas besar penjaga kota. Ada makanan yang bisa didapatkan.”

Semua orang terimakasih surga, dan Helian Bo mengejarnya. “Mon… Mon… Orang Mongolia per…  sudah pergi…”

Prajurit itu sama sekali tidak ingin repot-repot  untuk menghadapinya, dan dalam beberapa saat dia sudah pergi. Semua anak muda tertawa terbahak-bahak, masing-masing masih mengenakan pakaian bagian dalam dan celana pendek. Mereka melihat sekeliling, saling bertatapan, merasa seolah-olah mereka telah dilahirkan kembali.

Meskipun Duan Ling mendapatkan makan tambahan tadi malam, dia sangat lapar sekarang ketika dia melihat bintang. Sayangnya, mereka adalah sekelompok besar orang, mereka harus melewati hampir setengah dari Shangjing untuk sampai ke sana, dan saat itu juga hujan — perjalanan ini benar-benar melelahkan dan ekstrim. Ketika mereka sampai ke markas penjaga kota, matahari sudah terbenam.

Tanah di luar markas besar penjaga kota dipenuhi dengan orang-orang yang terluka, terbaring di sana sambil merintih kesakitan. Potongan zirah tersebar di seluruh tanah.

Api di dalam gerbang utara telah padam; sepertinya Shangjing telah dijarah. Hati Duan Ling hancur saat melihatnya. Dia melihat sekeliling, mencoba menemukan Li Jianhong, dan di lautan orang yang datang dan pergi, itu hampir seperti ada hubungan yang tak terlukiskan di antara mereka yang mengarahkan tatapan mereka, sehingga dia berhasil menemukan ayahnya dengan sekilas.

Zirah Li Jianhong berlumuran darah merah tua. Dia berdiri di luar pintu utama bangunan penjaga kota, berbicara dengan Yelü Dashi yang terluka.

Duan Ling hendak berlari ke arahnya tetapi melihat ekspresi parah di wajah Li Jianhong. Meskipun matanya tidak beralih dari Yelü Dashi, salah satu jari tangan kirinya bergerak-gerak ringan ke arah Duan Ling.

Daun Ling mengerti bahwa Li Jianhong tidak ingin Yelü Dashi melihatnya. Jadi dia berbalik untuk bergabung dengan kerumunan, mengejar Cai Yan yang sudah berlarian ke mana-mana.

Tandu dibawa satu demi satu ke dalam tenda. Cai Yan bertanya dengan cemas, “Di mana kakakku?”

“Tuan Cai,” seseorang berkata kepadanya.

Itu adalah seorang prajurit. Duan Ling pergi bersama Cai Yan, dan prajurit itu memberi Cai Yan roti pipih. “Makanlah ini untuk sekarang.”

Cai Yan mengambilnya dan menyerahkannya kepada Duan Ling tanpa berpikir panjang. Duan Ling menyelipkannya di bawah gaun luarnya dan mengikuti Cai Yan ke dalam tenda besar yang terbuat dari kain putih; tenda itu diisi dengan orang-orang yang terluka. Cai Yan berhenti berjalan, tetapi prajurit itu terus bergerak maju sampai dia mencapai titik paling akhir. Hanya ada satu orang terbaring di sana. Seluruh tubuhnya ditutupi kain putih.

Cai Yan diam-diam berlutut di depan tubuh itu. Dia membuka kain putih itu, memperlihatkan wajah Cai Wen yang berlumuran darah dan kotoran. Setengah anak panah menonjol dari dadanya. Tangannya melingkari setengah anak panah lainnya.

“Keterampilan bela dirinya tidak sebanding. Yelü Dashi hanya mempromosikannya karena ayahku.” Cai Yan berkata kepada Duan Ling, “Alasan pertama diriku meminta ayahmu untuk mengajariku gaya pedangnya adalah karena aku ingin mengajarkannya kepadanya agar dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri.”

Ketika dia selesai berbicara, Cai Yan, yang kelelahan, jatuh pusing ke pelukan Duan Ling.

Duan Ling menyeka air matanya, dan jangan sampai Cai Yan bangun dan merasa sedih ketika melihat tubuh kakaknya, dia dengan susah payah membawanya keluar dari tenda di mana para prajurit menjadi khawatir ketika mereka melihatnya. Mereka datang untuk memeriksakan suhunya — demam yang tinggi. Bagaimanapun, dia adalah anggota keluarganya, kakaknya bahkan telah mengorbankan dirinya untuk negara, jadi mereka menyuruh dokter militer untuk datang memeriksa Cai Yan.

Dokter menulis resep untuk menurunkan demam, dan Duan Ling meminjam kuali untuk merebus obat di atas kompor militer besar tempat para prajurit menyalakan api, lalu memberikannya kepada Cai Yan dengan pipa buluh. Ini adalah malam yang sibuk sebelum seseorang mendatangi mereka dan berkata kepada Duan Ling, “Hei, kalian berdua harus pergi ke Aula Kemasyhuran. Kepala sekolah Akademi Biyong sedang menunggu di sana.”

Seorang prajurit dari penjaga kota meminjam gerobak datar dan menempatkan Duan Ling dan Cai Yan di atasnya. Pada saat mereka tiba di Aula Kemasyhuran, hari sudah tengah malam. Cai Yan tampaknya sedikit lebih baik, tetapi demamnya sudah menurun, sering dia berbicara dalam tidurnya dari waktu ke waktu. Helian Bo yang hilang di suatu tempat di luar tempat pelatihan juga telah pergi ke sini, bersama dengan banyak anak muda dari Akademi Biyong. Ketika pasukan Mongol memasuki kota, beberapa dari mereka yang tidak berlari cukup cepat, cukup banyak yang meninggal. Untungnya, semua orang dievakuasi tepat waktu, dan Ketua Tang masih hidup.

Duan Ling melihat kepala sekolah; dia merawat sekelompok anak dari Aula Kemasyhuran, menceritakan sebuah kisah kepada mereka.

“Kemudian setelah itu, Guan Zhong menembak putra Duke Wu, Bai.” Kepala sekolah memberi tahu anak-anak, “Bai memanggil dengan keras dan jatuh ke dalam gerbong.”1

Duke Wu dari Qin adalah dari penguasa kesepuluh dari negara Dinasti Zhou Qin yang akhirnya menyatukan Tiongkok menjadi Dinasti Qin. Nama leluhurnya adalah Ying, dan Duke Wu adalah gelar anumerta.

Duan Ling duduk bersandar di ujung barisan anak-anak. Ketika dia mendongak, dia melihat sebuah lentera di samping Kepala sekolah, cahayanya menyinari lukisan “Seribu Mil Sungai dan Pegunungan”2, dan tidak bisa tidak mengingat hari ketika dia berpisah dengan Batu. Hidup dari buaian sampai liang kubur; itu semua menyerupai mimpi yang sangat halus.


Keesokan harinya, Cai Yan akhirnya bangun, tetapi Duan Ling sangat lelah sehingga dia jatuh tertidur.

“Hei,” kata Cai Yan, “waktunya makan.”

Pada hari ketiga setelah pasukan Mongol pergi, Shangjing akhirnya mulai kembali seperti biasa. Para guru membagikan makanan, dan porsinya sangat kecil. Seorang sesama murid bernama Huyan Na berjalan dengan cepat ke arah mereka. “Ketua ada di sini. Dia menyuruh semua orang turun.”

Duan Ling membantu Cai Yan menuruni tangga. Ketua telah menyiapkan ruangan lain di Aula Kemasyhuran.

“Absen,” kata Ketua Tang. “Keluarlah dari kamar saat namamu dipanggil, dan mereka yang telah keluar harus menunggu di aula depan. Xiao Rong…”

Setiap murid yang namanya dipanggil maju dan berkata di sini, dan Ketua Tang membuat tanda di buku daftar.

“… Di sini?” Ketua Tang memanggil sebuah nama tetapi tidak ada yang menjawab.

Seseorang berkata, “Dia tidak di sini lagi.”

“Kapan terakhir kali kamu melihatnya?”

“Dia ditembak mati oleh prajurit Mongol,” jawab orang yang sama.

Ketua Tang berdengung rendah di tenggorokannya, “Dia sudah mati,” dan menggambar lingkaran di buku daftar. Dia terdiam sangat lama sebelum melanjutkan, memanggil nama berikutnya.

“Helian Bo.”

“Di sini.” Helian Bo melangkah maju.

Ketua Tang mengangguk, dan menunjuk ke luar. “Ibumu datang untuk menjemputmu. Pergilah kalau begitu. Adapun ketika sekolah dilanjutkan, tunggu pengumumannya.”

Helian Bo melirik Duan Ling dengan penuh tanda tanya. Duan Ling melambai padanya, mengetahui bahwa Li Jianhong akan datang.

“Cai Yan.” Ketua Tang bertanya, “Apakah kamu di sini?”

Cai Yan tidak menjawab, jadi Duan Ling berkata, “Dia ada di sini.”

Ketua Tang memperhatikan Cai Yan. “Tunggulah di taman. Keluargamu akan ada di sini untuk menjemputmu sebentar lagi.”

“Aku tidak memiliki keluarga lagi. Kakakku sudah tiada.”

“Kalau begitu pulanglah sendiri untuk saat ini. Tunggulah pengumuman lanjutan dari sekolah.”

Cai Yan berbalik dan pergi keluar. Duan Ling ingin mengikutinya, tetapi Ketua Tang telah mengenalinya. “Duan Ling?”

“Ya.”

“Kamu pergilah juga. Bawa pulang Cai Yan.”

Duan Ling mengangguk. Dia membuntuti Cai Yan keluar dari aula dan mereka menunggu di bawah sinar matahari fajar bersama. Dia telah menunggu di sini, di tempat ini berkali-kali; dia pernah menunggu di sini dengan penuh kerinduan untuk Lang Junxia, ​​dan Cai Wen akan datang dengan menunggangi seekor kuda yang tinggi, bersiul kepada mereka dari luar gerbang. Saat itu, Batu belum pergi, dan tidak peduli berapa lama dia menunggu, tidak ada yang datang menjemputnya. Ketika kerumunan itu akhirnya bubar, dia akan berkeliaran sebentar sebelum kembali ke kamarnya untuk mengambil tempat tidurnya, lalu dia akan tidur di paviliun buku.

Gang itu dipenuhi dengan banyak aktivitas, para orang tua murid dari Akademi Biyong dan Aula Kemasyhuran ada di sini untuk menjemput anak-anak mereka, tiba-tiba memenuhi pintu. Wajah mereka semua kotor dan pakaian mereka acak-acakan, bahkan ada yang berlumuran darah.

“Ibu—”

“Ayahmu telah pergi…”

Suara tangisan terus berlanjut. Ada juga orang yang berteriak minggir, minggir ketika mereka buru-buru melemparkan plakat kayu mereka ke penjaga gerbang, pergi begitu mereka menemukan anak-anak mereka.

Cai Yan bersandar ke pilar, dan tertidur.

“Cai Yan?” Duan Ling akan berkata, datanglah ke rumahku.

Tapi Cai Yan berkata, “Kau pergilah. Biarkan aku tidur sebentar.”

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Duan Ling adalah melepas gaun luarnya sendiri dan menutupi Cai Yan dengan itu.

Li Jianhong tiba. Dia mengenakan pakaian katun kasar yang sama seperti biasanya, dengan topi bambu di atas kepalanya. Berdiri tepat di luar pagar, bermandikan fajar yang menyingsing, dia tersenyum kepada Duan Ling.

Duan Ling bangkit diam-diam, dan berlari ke pagar. “Kau sudah selesai dengan urusanmu?”

Li Jianhong berkata kepadanya, “Kenapa kau tidak mengenakan jubah? Bagaimana jika kau sakit? Ayo pergi sekarang.”

“Aku tidak memiliki plakat. Aku harus mencari Ketua dulu agar dia bisa mengeluarkanku.”

“Aku datang untuk membawa pulang putraku sendiri dan orang lain yang harus mengeluarkanmu? Alasan macam apa itu? Tunggu aku, aku akan masuk.”

Li Jianhong hendak memanjat tembok saat dia berbicara, tetapi Duan Ling menghentikannya.

“Shh.” Duan Ling berbalik untuk melihat Cai Yan, dan saat dia akan kembali untuk mengatakan sesuatu, Li Jianhong mengangkat tangan untuk menunjukkan bahwa dia mengerti. Dia memberi isyarat, memberi tahunya bahwa mereka harus pergi bersama dan berbicara nanti.

Duan Ling kembali ke dalam, menemukan Ketua, dan mendapatkan sebuah slip tertulis. Dia mengguncang Cai Yan. Cai Yan membuka matanya tetapi tatapannya tampak kosong, menatap Duan Ling seolah dia tidak mengenalinya. Duan Ling memeriksa dahinya lagi; Cai Yan masih demam rendah.

“Datanglah ke tempatku,” kata Duan Ling, “ayo pergi.”

“Apa?” Cai Yan bertanya dengan lembut.

Hatinya hancur hanya karena melihatnya, tetapi Duan Ling tidak tahu harus berkata apa. Li Jianhong telah datang pada saat yang tepat; dia melihat ke arah Cai Yan, dan Cai Yan menutup matanya lagi. Duan Ling hanya dapat mencoba mengangkat Cai Yan yang kelelahan dengan tangannya. Li Jianhong membungkuk, membawa Cai Yan, dan pulang dengan Duan Ling.


Malam itu, ada lebih banyak makanan di rumah mereka. Setelah Duan Ling menemukan tempat untuk Cai Yan beristirahat, dia mengambil air dari sumur untuk Li Jianhong mandi dan mencuci rambutnya. Li Jianhong duduk di bangku kecil di depan pagar sumur sebelum telanjang, sinar bulan menyinari kulitnya; dia terlihat seperti macan tutul yang baru saja membawa buruannya kembali ke sarang.3

Ketika Duan Ling menggosok punggungnya dan dadanya, bau darah berkarat berhembus ke udara. Li Jianhong kemudian memasukkan tangannya yang berlumuran darah, merah tua karena darah, ke dalam ember untuk membersihkannya.

“Ayah.” Duan Ling mengambil ember dan menuangkan air ke atas kepala Li Jianhong.

“Hei, putraku.” Li Jianhong memberitahunya, “Selalu ada beberapa hal yang tidak peduli betapa berbahayanya dan sulitnya ketika kau mengetahuinya, bahkan jika kau mengetahui hal itu hanya dapat berakhir dengan kematian, kau tetap harus melakukannya. Jangan merasa kasihan kepadanya.”

Duan Ling menjawab dengan hmm rendah.

Dia berlutut di belakang Li Jianhong, berbalik untuk melingkarkan lengannya di pinggangnya, dan meletakkan sisi wajahnya di punggungnya, menghela napas.

“Kita akan dapat segera kembali.”

Ketika mereka pergi tidur malam itu, Li Jianhong menarik selimut untuk menutupi mereka berdua.

Duan Ling menatap kanopi tempat tidur di atasnya. “Akan menjadi sangat indahnya jika tidak ada lagi yang pergi berperang.”

“Paman keempatmu juga sering mengatakan hal itu. Setiap kali aku kembali dengan kemenangan, aku akan mengingat kata-kata yang dia ucapkan.”

Duan Ling berbalik, dan bersandar di sisi lengan Li Jianhong, dia menutup matanya dan tertidur.


Keesokan harinya, Cai Yan bangun sekali lagi, dan demamnya juga sudah hilang, tetapi dia sangat lemah. Ketika dia akan turun dari tempat tidur, dia tidak sengaja mendengar percakapan Duan Ling dan Li Jianhong di halaman.

“Beginilah caramu melompat. Dari pot bunga ke pagar, lalu naik ke tembok. Ayolah.”

Ketika Li Jianhong menunjukkan kepada Duan Ling cara melompat ke tembok, dia selalu sampai di sana dengan mudah dalam satu lompatan, tetapi Duan Ling melemparkan dirinya ke tembok setiap saat. Li Jianhong kemudian akan mengolok-oloknya.

“Aku tidak bisa melompat ke sana! Ini tidak seperti aku adalah dirimu!”

Duan Ling telah mencapai usia di mana suaranya mulai berubah, serak seperti suara bebek. Dengan wajah datar, Li Jianhong meniru caranya berbicara, “Aku tidak bisa melompat ke sana! Ayah! Tarik aku!”

Duan Ling marah tetapi dia juga menganggapnya lucu — dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Li Jianhong. Li Jianhong menopangnya di bawah tulang rusuk sehingga dia bisa mencobanya lagi dengan kekuatan yang lebih sedikit. Ketika Cai Yan turun dari tempat tidur, Li Jianhong langsung mendengarnya.

“Kau sudah merasa lebih baik?” Li Jianhong bertanya.

Cai Yan mengangguk, dan Li Jianhong menunjukkan bahwa Duan Ling harus menjaganya. Mereka bertiga mulai sarapan di meja, dan Cai Yan tetap diam sepanjang waktu. Setelah selesai, dia meletakkan sumpitnya. “Terima kasih atas keramahan Anda. Aku akan pergi.”

Duan Ling memulai, “Mengapa tidak…”

Tapi Li Jianhong memotongnya, “Pulang ke rumah?”

Cai Yan mengangguk. “Aku harus mengambil kakakku. Seseorang harus ada di rumah, jadi aku harus kembali dan memeriksa semuanya.”

Li Jianhong mengangguk dan melakukan kontak mata dengan Duan Ling. Duan Ling ingat apa yang diperintahkan ayahnya untuk dilakukannya di pagi hari, dan berkata, “Kalau begitu… jaga dirimu baik-baik. Aku akan datang menemuimu dalam beberapa hari.”

Cai Yan berkata, “Terima kasih.”

Cai Yan membungkuk dalam-dalam, dan Duan Ling buru-buru bangkit untuk menegakkannya kembali. Dan kemudian Cai Yan dengan cepat berjalan melewati koridor dan pergi sendiri; tidak lupa untuk menutup gerbang ketika dia melangkah keluar.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Guan Zhong adalah seorang filsuf dan politikus Tiongkok. Dia menjabat sebagai kanselir dan merupakan pembaharu Negara Qi selama periode Musim Semi dan Musim Gugur dalam sejarah Tiongkok. Nama aslinya adalah Yiwu, Zhong adalah nama kesopanannya. Dia terutama dikenang karena reformasinya sebagai kanselir di bawah Duke Huan dari Qi, serta persahabatannya dengan rekannya Bao Shuya, meskipun reputasinya tetap kontroversial di kalangan Konfusius, seperti yang dijelaskan di bagian Filsafat dan penilaian.
  2. Lukisan (gulungan) ini memang ada. Kalian dapat melihat gambar resolusi tinggi di halaman wikipedia Wang Ximeng. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Wang_Ximeng
  3. Jika kalian bertanya-tanya ke mana mereka pergi sepanjang hari, karena saat itu fajar ketika mereka meninggalkan Aula Kemasyhuran, rumah mereka lebih dekat ke Akademi Biyong (dekat gerbang utara) daripada Aula Kemasyhuran (praktis di sebelah gerbang barat), dan mereka berjalan — Lang Junxia dulu selalu berpergian di antara Aula Kemasyhuran dan rumah mereka dengan menunggang kuda. Seharusnya memakan lebih sedikit waktu; katakanlah Feitian hanya ingin menulis tentang Li Jianhong telanjang di bawah sinar bulan…
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments