English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Me_524
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 6 Part 3

Yelü Dashi pada awalnya tidak mengenali siapa yang ada di sana, tetapi segera setelah dia mendengar suara orang itu dia sepenuhnya tersadar dari mabuknya. Dia mundur selangkah ke belakang kemudian berteriak, “Pengawal!”

Beberapa pengawal bergegas keluar untuk membuat pertahanan di sekitar Yelü Dashi, tetapi Li Jianhong hanya meletakkan cangkir tehnya, berkata, “Aku memilikinya bahkan kini lebih buruk daripada anjing liar. Apa yang membuatmu begitu gugup, Yelüxiong?”

Saat kehilangan ketenangannya, Yelü Dashi tidak berbalik untuk menyadari keberadaan Xunchun sampai dia tersadar dan menyadari bahwa Li Jianhong adalah satu-satunya orang di ruang tamu itu. “Kau… Viburnummu, sebenarnya….”

“Saya tidak mengenal tamu ini.” Xunchun menjawab, terdengar tidak peduli, “Tegapi ketika dia datang, tidak mungkin untuk membuatnya pergi, dan satu-satunya cara agar dia pergi adalah jika dia bertemu dengan Yang Mulia lebih dulu. Tolong, Anda tidak boleh meragukan kami.”

“Masuklah dan minum. Apakah itu persahabatan atau permusuhan, apa yang dulu terletak di sebelah timur sungai tiga puluh tahun yang lalu sekarang berada di pantai barat — banyak hal berubah. Apakah masih perlu memikirkannya lagi sekarang?”

‌Yelü Dashi memberinya tawa yang mencemooh, tetapi dia juga merupakan seseorang yang sombong, kemudian dia melangkah masuk. Xunchun dengan cepat menutup pintu dibelakangnya. Para pengawal ingin mengikutinya masuk, tetapi Xunchun mengangkat tangan di depan mereka, melambaikan tangan mereka sebagai tanda bahwa mereka tidak boleh masuk tanpa izin.

“Tunggu di luar.” Yelü Dashi berkata, “Tanpa perintah yang jelas dariku, tidak ada yang diizinkan masuk.”


Xichuan.

“Terkadang, aku berpikir…”

Pada malam yang gelap gulita, hujan rintik-rintik turun di trotoar, dan jauh di dalam gang berdirilah Lang Junxia.

Lang Junxia telah didorong ke jalan buntu, tanpa henti terengah-engah sementara prajurit mengelilinginya, memblokir jalan keluar gang. Jubah Zhao Kui berkibar di belakangnya saat dia melangkah melewati air hujan menuju Lang Junxia, ​​dengan genangan air yang memercik di bawah kakinya. Di tengah gang, Lang Junxia bersandar ke dinding; setengah dari lengan dengan jari kelingingnya yang hilang telah berubah menjadi abu-abu tua, tangannya bengkak, kulit berkilau.

“Apa yang telah dilakukan Li Jianhong hingga membuatmu begitu setia kepadanya.” Zhao Kui berdiri dengan penuh kemenangan dengan tangan terlipat di belakang punggungnya saat cahaya menyinari wajah Lang Junxia.

“Seseorang harus berlindung dengan seseorang.” Kata Lang Junxia dengan tenang. “Jika bukan Anda, maka itu adalah dia, aku adalah tamu entah di sini atau di sana — apa bedanya?”

Busur mekanik ada di mana-mana: di rumah-rumah sekelilingnya, di atas atap, di belakang Lang Junxia. Untuk menangkapnya, Zhao Kui telah mengerahkan hampir seribu orang di Xichuan, benar-benar sesuai dengan kata pepatah “jaring di atas dan jerat di bawah”, sehingga tidak ada satu pun jalan untuk melarikan diri.

“Kematian Li Jianhong sudah dekat. Tinggalkan kegelapan dan datanglah ke cahaya yang terang. Kau adalah seorang pria, aku menghormatimu. Tidak ada lagi alasan untuk berbicara lebih jauh.”

Lang Junxia mengambil sebuah napas yang dalam. Dia menutup matanya, dan perlahan, dia mengeluarkannya.

“Aku pikir dengan kemampuan yang dimiliki Chang Liujun, dia tidak akan menggunakan racun,” Lang Junxia berkata dengan pelan.

Zhao Kui berbalik untuk pergi. Para bawahannya maju ke depan, dan memapah Lang Junxia, kemudian mereka meninggalkan gang itu.


Shangjing.

“Silahkan minum,” Li Jianhong mengatakannya begitu saja. “Maafkan aku karena tidak bisa begitu saja menunjukkan wajah asliku.”

Li Jianhong mengambil teko dan menuangkan anggur untuk keduanya, kemudian meminumnya sebagai tanda penghormatan.

Tetapi Yelü Dashi tidak meminum anggurnya. Dia mengetukkan kuku jarinya di atas meja.

Li Jianhong berkata, “Yang duduk di balik tabir adalah putraku.”

Yelü Dashi terus menatap ke arah tabir. Duan Ling tidak mengerti apakah dia harus keluar atau tidak. Akhirnya siluetnya terlihat membungkuk memberi salam penghormatan kepada Yelü Dashi.

Hanya kemudian Yelü Dashi meminum anggur di cangkirnya, dan ketika dia menghabiskannya, dia meletakkannya kembali ke meja dengan membaliknya.1

“Mereka berkata bahwa di antara para orang-orang Han, kaulah yang paling berani di antara semuanya.” Yelü Dashi telah cukup mabuk sebelum dia datang ke Viburnum, dan kini anggur itu menghilang ke pipinya bersamaan dengan gumamannya, “Apa yang kau coba lakukan dengan datang ke Shangjing di waktu seperti ini?”

“Dunia mungkin besar,” kata Li Jianhong dengan santainya, “tetapi dengan rumah yang tidak bisa aku datangi dan tanpa adanya keinginan untuk menjalin persahabatan dengan para Mongolian, pilihan satu-satunya adalah menetap di Shangjing.”

“Menetap?” Yelü Dashi merasa cukup curiga — musuh bebuyutannya ini entah bagaimana telah berhasil masuk ke wilayahnya tanpa melakukan banyak hal. Dia kemudian berkata dengan sembarangan, “Dimana, dimana kau tinggal?”

Yelü Dashi menyipitkan matanya, menatap Li Jianhong dari atas hingga kebawah. Dia tiba-tiba teringat akan pembunuh setahun yang lalu.

“Waktu itu di Aula Kemasyhuran!” Yelü Dashi berkata, tersambar petir.

“Benar. Salah satu di antara mereka adalah anak buahku, dan yang satunya adalah pembunuh yang dikirim Zhao Kui untuk membunuh putraku.”

Yelü Dashi bangkit, dan melangkah beberapa langkah di dalam ruang tamu itu, tetapi Li Jianhong tetap tenang. Dia membalik cangkir yang ada di meja. “Bagaimana dengan secangkir minuman lainnya?”

Yelü Dashi berbalik untuk menatap Li Jianhong. Dia berkata dengan dingin, “Apa yang sebenarnya ingin kau capai?”

“Tahukah kau seperti apa Chen Selatan. Zhao Kui menguliti otoritas militerku, ayahku memberikan dekrit untuk mengawalku kembai ke Xichuan untuk mempermalukanku. Terkadang beberapa hal sesuatunya persis seperti yang terlihat. Mari, minumlah.”

Yelü Dashi masih ragu. Dia menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Kau harus pergi. Tidak ada tempat bagimu di Shangjing.”

“Kalau begitu beritahukan kepada para pengawalmu untuk masuk, ikat aku, dan antarkan aku kembali ke Xichuan?” Li Jianhong melontarkan kalimat itu dengan sederhana.

“Aku juga tidak akan menahanmu,” Yelü Dashi memikirkan hal ini, dan mengakui hal yang menjengkelkan ini. “Di Kota Shangjing ini, kau dapat keluar masuk sesukamu seakan dinding dan para penjaganya tidak pernah ada. Apalagi yang kau inginkan?”

“Aku datang untuk menyelamatkanmu.” Li Jianhong berkata dengan lesu, “Hanya karena kematianmu sudah dekat.”

Yelü Dashi langsung berbalik dan menatap Li Jianhong.

“Para orang-orang Mongol mencapai selatan dan mereka telah menguasai Huchang. Mereka menyusun kembali rencana mereka di gunung sebagaimana yang kita lakukan dan mereka akan bertarung di sepanjang perjalanan untuk menguasai Shangjing dengan segera. Shulü Jin menjaga jalan di sisi utara, Wang Ping menjaga di jalan sisi selatan. Tidak satupun di antara kedua jenderal yang sanggup menahan kavaleri baja milik keluarga Borjigin. Kini Jochi telah kabur, dia akan benar-benar membalaskan dendamnya kepadamu.”

Berbanding terbalik dengan yang di harapkan, Yelü Dashi mulai tertawa. “Li Jianhong, kau benar-benar berlebihan seperti biasanya.”

“Han Weiyong telah sejak lama menunggu saat-saat semacam ini.” kata Li Jianhong tampa ambil pusing, “Jika tebakanku benar, putranya mungkin meninggalkan Zhongjing untuk melanjutkan pendidikannya di akademi.”

Yelü Dashi terdiam.

“Jika tebakanku benar, setelah para pasukan Mongol menerobos jalan selatan dan utara, dan mengeksekusi semua orang di kota, bala bantuan yang kau tunggu-tunggu mungkin tidak akan pernah datang.” Li Jianhong sekali lagi menunjuk dengan telapak tanganya untuk memintanya minum. “Kesabaranku terbatas Yelüxiong, cangkir anggur ini. Apakah kau akan meminumnya atau tidak?”

Setelah keheningan yang panjang, akhirnya Yelü Dashi duduk.

“Aku telah bertanggung jawab untuk administrasi bagian utara selama dua puluh dua tahun. Saat itu aku menawarkan nasihatku kepada kaisar terdahulu — dimanapun kalian Han menginjakkan kaki kalian, atau saling bersekongkol satu sama lain dan kami tidak akan pernah mendapatkan hari yang damai.”

Yelü Dashi mengakhiri perkataannya, mengucapkan semua kata, menutup matanya, dan meneguk habis anggur yang dituangkan Li Jianhong untuknya.

“Jalan selatan Yubiguan dijaga oleh Jochi. Sepertinya tidak perlu mengomel tentang apa yang akan terjadi mengenai hal itu. Minum cangkir anggur ketiga ini, dan pinjami aku sepuluh ribu pasukan kavaleri besok. Aku akan mengamankan pasukan Mongol untukmu, dan kemudian aku akan terus bergerak ke selatan, dan mengambil kembali Xichuan.”

Li Jinhong mengisi cangkir anggur, mengambilnya dengan tiga jari, dan meletakkannya di depan Yelü Dashi.

“Sama seperti sebelumnya, aku akan meminumnya terlebih dahulu untukmu.” Li Jianhong bahkan sama sekali tidak melirik Yelü Dashi. Dia dengan santainya memberi isyarat menggunakan telapak tangannya, “Yelüxiong, silahkan.”

Yelü Dashi, dia tidak meminum anggur itu. Dia duduk di sisi lain dipan, sikunya berada di atas meja di antara mereka. Bersandar mendekat, dia menatap Li Jianhong.

“Tahukah kau mengapa Zhao Kui ingin membunuhmu?”

“Aku tidak membenci Zhao Kui. Itu kebenarannya. Dia dan aku tidak memiliki dendam apapun antara satu sama lain. Kami memiliki jalan masing-masing untuk melangkah, dan ini tidak lebih dari pertarungan yang adil. Meskipun wajar jika yang dia inginkan adalah mengkhianati Li, itu cerita yang sepenuhnya berbeda.”

Tiba-tiba terjadi keributan di luar. Wajah Yelü Dashi tampak menggelap, Li Jianhong mengalihkan perhatiannya ke luar pintu.

“Kau tidak boleh masuk ke dalam.” Itu adalah suara Xunchun. “Yang Mulia sedang bertemu dengan tamunya.”

“Yang Mulia,” Kata Cai Wen, terengah-engah. “Tolong segera kembali ke Administrasi Utara, pembawa pesan telah datang baik dari utara dan selatan.”

Ekspresi Yelü Dashi berubah seketika menjadi panik, tetapi Li Jianhong tidak mengatakan apapun lagi.

Cai Wen selesai memberikan laporan kemudian berbalik untuk pergi.

“Keluarkan kuda Yang Mulia,” diluar, Xunchun berbicara dengan pelan.

Xunchun membuka pintu ruang tamu. Yelü Dashi berdiri tanpa basa-basi.

“Sudah berapa lama sejak terakhir kali kita saling bertemu di medan pertempuran?”

“Lima tahun.” Yelü Dashi memiliki ekspresi yang masam di wajahnya saat dia pergi dengan langkah besar. Pada akhirnya dia tidak meminum cangkir terakhir anggur itu.

“Selamat tinggal. Hati-hati, aku tidak akan mengantarmu keluar.”

Yelü Dashi yang mendengar ini tiba-tiba berhenti, kemudian dia berbalik dan berjalan ke arah Li Jianhong. Li Jianhong telah bangkit dari kursinya, dan dengan cepat merapikan lipatan di pakaiannya, dia menggenggam tangannya di belakang, menatap Yelü Dashi.

Yelü Dashi berhenti berjalan kemudian berbalik untuk pergi, tetapi ketika dia berada di ambang pintu dia berbalik kembali. Li Jianhong mulai tertawa, memperhatikannya. Duan Ling menjulurkan kepalanya keluar dengan penasaran dari balik tabir untuk melihat Yelü Dashi, tetapi Li Jianhong mendorongnya kembali.

“Hari ini kau dan putramu telah terlihat di Shangjing.”

“Tepat.” Li Jianhong memberitahunya dengan sungguh-sungguh, “Tetapi aku tentu saja tidak akan pernah menyerahkannya kepadamu. Cukup bagimu untuk tahu bahwa dia ada di kota ini. Jangan melakukan apa yang sia-sia untuk menguji batas toleransiku, Yelüxiong.”2

Yelü Dashi untuk sesaat mengamati Li Jianhong, dia mendekat ke meja, mengambil cangkir anggur itu, melemparnya ke lantai tanpa memperhatikan ke mana cangkir itu mendarat. Li Jianhong mengulurkan telapak tangan ‘silahkan’, dan melihat Yelü Dashi keluar dari ruang tamu itu.

Baru kemudian Duan Ling merangkak keluar dari balik tabir.

“Apakah kau mengerti semua itu?” tanya Li Jianhong.

“Tidak semua.” Duan Ling menggelengkan kepalanya.

“Sudah kenyang?”

Duan Ling mengangguk. Li Jianhong berkata, “Mari kita pulang.”

Malam ini sepertinya Li Jianhong tidak dapat tidur; dia hanya menggenggam lengan Duan Ling dan berbicara kepadanya terus menerus. Duan Ling mengerti beberapa hal — ada tiga keadaan dari Liao, Cen, dan Yuan yang saling memeriksa dan menjaga keseimbangan satu sama lain. Ketika satu bagian menjadi terlalu kuat, kedua bagian lainnya secara diam-diam akan saling bersatu untuk mengendalikan sisi yang lebih kuat. Pertempuran di Sungai Huai persis seperti itu, dengan Liao dan Chen di perang itu dan para orang-orang Mongol di sela-sela menjaga keseimbangan. Dan ketika Liao makmur, para Han akan meminjam kekuatan para Mongol untuk melucuti kekuatan militer Liao.

Dan kini dengan kembalinya para orang-orang Mongol, sikap Chen menjadi sesuatu yang penting. Penghinaan terhadap Sangzi belum bisa dilupakan; mengetahui bahwa Zhao Kui, dia mungkin membiarkan Yuan dan Liao saling melukai satu sama lain, dan bahkan kemungkinan besar dia akan memilih untuk membiarkan Yuan bersekutu dengan Chen Selatan. Jika Chen selatan dan para orang-orang Mongolia saling bersekutu, Liao benar-benar ditekan. Yelü Dashi menghadapi perang yang hampir tidak mungkin dimenangkan, dan dia akan menanggung beban kesalahannya.

Duan Ling ingat hal terakhir yang dia katakan sebelum tertidur adalah, “Dan bagaimana jika kau mengingkari perjanjiannya?”

“Jika aku adalah seorang yang ingkar, Xunchun tidak akan ada di luar untuk memainkan lagu itu “

Saat itu, Duan Ling telah tertidur. Dia belum mengetahui bahwa hanya orang Han-lah yang mengetahui nada itu, dan ketika dimainkan, melodi itu terdengar menyayat hati dan manis, bergema di dalam jiwa seolah-olah menyebarkan kata; jangan lupakan penghinaan terhadap Shangzi.


Xichuan.

“Aku tidak membenci Li Jianhong.” kata Zhao Kui, “Justru sebaliknya. Aku sangat menghargainya. Chen yang Agung telah pergi empat ratus tahun yang lalu sebelum menghasilkan seorang pria yang menggunakan taktik di medan perang sebaik dewa, layaknya yang dilakukan Li Jianhong.”

Beberapa luka telah digoreskan di tangan Lang Junxia, mengeluarkan aliran darah yang beracun. Zhao Kui dan Wu Du keduanya berdiri di sampan, memperhatikannya. Sejak dia dibawa kembali ke kediaman jenderal, Lang Junxia tetap diam seperti sebelumnya. Wu Du memperhatikannya dengan jijik dan dengan kerutan di antara kedua alisnya, seakan sedang melihat pengujian obat.3

“Lepaskan besi di kakinya,” perintah Zhao Kui.

Salah seorang anak buahnya maju untuk membuka kunci besi yang ada di kakinya.

Zhao Kui duduk dan menyesap tehnya. “Tahukah kau mengapa aku ingin membunuh Li Jianhong?”

Lang Junxia tetap diam seperti sebelumnya.

“Tahun ke tujuh belas dari Qingyuan, daratan tengah dan Sizhou menarik dua ratus dan tujuh ribu pasukan, membayar empat ratus empat ribu tael perak sebagai upeti.”

“Tahun sembilan belas dari Qingyuan, Shizou menarik tiga ratus dan tiga puluh ribu pasukan dan membayar tiga ratus dan enam puluh tael perak.”

“Tahun dua puluh tujuh dari Qingyuan, pasukan tiga ratus enam puluh ribu. Sebagian dari mereka, para pria dari Jiangzhou yang mendaftar paling banyak, selanjutnya dari Yizhou, yang ketiga dari Yangzhou, Jiaozhou.”

“Kami terus menerus merekrut para prajurit tiap tahunnya, tetapi mendapatkan pajak makin sedikit tiap tahunnya. Selama sepuluh tahun terakhir, hampir satu juta orang dikirim ke utara. Mereka bertempur tahun demi tahun dalam cuaca dingin yang menusuk; banyak orang yang nyaris tidak berhasil menginjak usia enam belas sebelum akhirnya mati di bawah Yubiguan, dan tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat tanah air mereka lagi.”

Lang Junxia menatap baskom dengan air yang berlumuran darah. Dalam pantulannya dia bisa melihat langit yang biru di luar jendela.

“Dan dengan itu, lahan pertanian tetap kosong selama berahun-tahun setelahnya; ada pemberontakan bersenjata si seluruh selatan. Li Jianhong langsung mengerahkan pasukannya dengan keterampilannya yang memukau, benar-benar hebat, tetapi kami telah kehabisan jatah rasum dan makanan, dan kami juga kehabisan prajurit yang dapat dikirim ke garis depan.”

Zhao Kui bangkit, dan berkata kepada Lang Junxia, “Dia telah lahir di zaman yang salah, dan karenanya dia harus mati.”

“Kau tidak perlu memberitahuku semua ini untuk memulainya,” Lang Junxia terdengar tidak peduli. “Sebagai seorang pembunuh bayaran, hanya ada perintah, bukan orang. Bahkan jika kau menyembuhkanku, aku tidak akan merasakan sedikitpun rasa terimakasih.”

Zhao Kui berkata “Aku tidak memiliki niatan untuk merekrutmu. Setelah luka-lukamu sembuh, kau bisa melanjutkan perjalananmu dan pergi.”

Wu Du menambahkan tanpa berpikir panjang, “Kalau kau ingin kembali dan membunuh jenderal, kau dipersilahkan melakukannya. Kami mengandalkan keterampilan kami sendiri. “

Lang Junxia terdiam.

“Tetapi sebelum kau pergi,” kata Zhao Kui, “Aku ingin kau bertemu dengan seseorang terlebih dahulu.”

Sedikit kerutan muncul di antara kedua alis Lang Junxia.

“Lewat sini.” Zhao Kui membawa Lang Junxia ke halaman utama kediaman jenderal. Seorang wanita tua duduk di sana, tengah meminum teh mentega.4

Lang Junxia menatap tanpa berkata-kata.

“Aku dengar kau dan keluarga nona muda keluarga Feilian5 pernah bertunangan,” kata Zhao Kui.

Lang Junxia tidak menjawabnya. Justru dia mengatakan sesuatu ke arah kamar di Xianbei. Mata wanita tua itu telah berubah menjadi seputih susu seiring dengan bertambahnya usia, dan di buru-buru meletakkan cangkir gelasnya untuk meraihnya. Lang Junxia mengambil langkah cepat ke dalam dan meraih tangannya dengan tangan kirinya, menyembunyikan tangan kanannya yang telah kehilangan jarinya di belakangnya. Dia berlutut dengan satu kaki dan menyentuh dahinya dengan punggung tangannya.

Wanita tua itu mulai tertawa, dan mengatakan beberapa hal kepada Lang Junxia. Lang Junxia menarik napas dalam-dalam dan tidak mengatakan sepatah katapun.

Zhao Kui berkata, “Kau boleh menghabiskan waktu bernostalgia bersamanya.”

Bawahannya menutup pintu, dan Zhao Kui berjalan keluar tanpa mengkhawatirkan Lang Junxia lagi. Dengan lengan bersilang, Wu Du berjalan di belakangnya, menyamakan langkahnya.

“Berapa lama dia6 pergi?” Tanya Zhao Kui.

“Bahkan tidak ada seperempat jam. Pada saat kita kembali pria itu akan menikam wanita tua itu sampai mati, dan dia pun akan pergi,” jawab Wu Du.

Zhao Kui tertawa, menggelengkan kepalanya, “Mungkin juga tidak.”

“Seseorang yang bahkan telah membantai sekolahnya sendiri pasti tidak akan terpengaruh dengan ketertarikan lama ini.”

“Berdasarkan apa yang penjaga bayangan katakan kepadaku,” Zhao Kui menjawab sembari menatap langit di depan terasnya, “Aku mengirim seseorang ke gunung Xianbei untuk mengejarnya dan mencari informasi di berbagai desa. Pada akhirnya, mereka menemukan bahwa di depan nisan gadis yang dulu menjadi tunangannya, seseorang telah meletakkan sebuket bunga yang hanya tumbuh di atas tebing yang tinggi.”

“Wuluohou Mu7 siapa yang mengira bahwa dia akan berubah menjadi keturunan kerajaan,” Zhao Kui menyelesaikan kalimatnya, mengangguk, dan cukup sulit untuk mengatakan apakah nadanya seperti keheranan atau sebuah ratapan saat dia berbalik untuk pergi.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Merupakan sebuah bahasa yang umum digunakan untuk menyatakan “aku tidak ingin minum lagi”. Ini adalah sebuah balasan yang cukup kasar.
  2. Pada terjemahan ini menggunakan piyin standar, tapi saya akan memberikan catatan ketika itu menjadi cukup membingungkan. Notasi standar menggabungkan nama piyin, itu imbuhan di awal dan di akhir, kecuali pengucapannya menjadi dipertanyakan, dalam kasus ini dipisahkan dengan (‘). Xiong di sini secara harfiah berarti kakak tertua dan secara sederhana sebuah imbuhan di akhir sebagai wujud penghormatan. 
  3. Pengujian / pencicipan obat sebenarnya merupakan seseorang yang entah itu dibesarkan dengan obat-obatan dan racun dan darah mereka juga menjadi beracun, atau mereka yang terbiasa mencoba racun dan obat baru. Mungkin saja, karena tidak ada bukti yang nyata bahwa mereka benar-benar ada.
  4. Teh yogurt.
  5. Felian adalah cabang dari Tuoba, keluarga kerajaan dari dinasti Wei Utara, dan di antara Feilian dan Tuoba awalnya memiliki nama panggilan Xianbei.
  6. Menjurus ke dia sebagai wanita. Yaitu wanita tua yang bertemu dengan Lang Junxia.
  7. Wuluohou, kebetulan sama dengan yang ada pada buku terakhir dari seri [Let go that snow], dan sebagian lainnya dari arc giok jatuh kepada pangeran Xianbei.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments