English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 1 , Chapter 3 Part 4

Duan Ling sudah berguling-guling di dipannya saat dia tidur; pada saat cahaya matahari yang terang melewati langsung ke dalam kamarnya, dia akhirnya kehabisan ruang untuk bersembunyi dari panasnya cahaya matahari dan akhirnya bangun dari tidurnya.

“Lang Junxia!” Panggil Duan Ling.

Di luar kisi jendela, Lang Junxia bangkit, tetapi Li Jianhong mengulurkan jari-jarinya krpada Lang Junxia, dan saat dia melakukannya, dia mengambil surat kelahiran Duan Ling. Tanpa melihatnya, dia melipatnya dengan benar dan menyerahkannya kembali kepada Lang Junxia, ​​menunjukkan bahwa dia harus menyimpannya.

Di dalam kamar, Duan Ling ingat bahwa di pagi hari Lang Junxia memberitahunya bahwa dia harus keluar untuk melakukan beberapa tugas. Setelah itu dia turun dari dipannya sendirian, berpakaian, membungkus dirinya dengan gaun luar dengan benar, membasuh wajahnya, dan mendorong pintu hingga terbuka, lalu dia keluar dari kamar, dan menguap saat dia berjalan melewati halaman.

“Seperti yang Anda instruksikan,” Lang Junxia menjelaskan. “Saya mengirimnya ke Aula Kemasyhuran. Dia cukup banyak belajar. Yang Mulia Pangeran Muda sangat cerdas dan sudah dapat menulis esai.”

Li Jianhong tidak menjawab, dia bergegas melewati koridor untuk mengejar jejak Duan Ling. Dia berhenti di balik pintu untuk melihat sosok Duan Ling saat Duan Ling pergi mencari sesuatu untuk dimakan di dapur, dan segera keluar setelah membawa kotak makanan yang sudah disiapkan oleh Lang Junxia untuknya.

“Apa dia mempelajari seni bela diri?” Tanya Li Jianhong.

“Dia selalu memintaku untuk mengajarinya bertarung, tetapi saya tidak berani mengajarinya karena takut hal itu mengganggu pembelajarannya.”

Untuk waktu yang lama, Li Jianghong tidak mengucapkan sepatah kata apapun, matanya entah bagaimana dipenuhi dengan kobaran. Dia memperhatikan Duan Ling di sepanjang waktu, tatapan matanya tidak pernah lepas darinya.

Lang Junxia bertanya, “Yang Mulia?”

Li Jianhong mengambil satu langkah, tapi dia merasakan sedikit dorongan untuk mundur lagi; di sana, di balik pintu, untuk sesaat dia tidak memiliki keberanian untuk maju ke depan. Dia sebelumnya tidak pernah merasa takut, bahkan saat seluruh pasukan ada di hadapannya, tetapi sekarang, tiba-tiba dia tidak bisa bergerak di hadapan putranya sendiri.

“Apa dia membenciku?” Tanya Li Jianhong.

“Dia tidak pernah membenci Anda,” jawab Lang Junxia. “Dia telah menunggu Anda selama ini. Saya mengatakan kepadanya bahwa Yang Mulia akan kembali saat pohon persik bermekaran.”

Li Jianhong gemetaran sampai napasnya terdengar. Dengan pintu sebagai batas di antara mereka, dia mengangkat satu tangannya, tetapi untuk waktu yang lama dia tidak berani mendorong pintunya sampai terbuka dan masuk ke dalam.

Perhatian Duan Ling tertuju pada makan siangnya. Seekor burung mendatanginya; dia mengambil beberapa butir nasi dengan jarinya dan menyuapinya. Melihat semua ini di balik pintu, Li Jianhong mulai tersenyum.

“Dia sebelumnya sudah membaca beberapa buku dari empat buku dan lima karya klasik, tetapi dia mengambil informasi tanpa mencernanya dengan banyak analisis, jadi seorang guru akan dibutuhkan untuk mengajarinya tentang buku-buku itu begitu dia masuk ke Akademi Biyong. Kaligrafinya sangat bagus — dia berlatih dengan menyalin dari buku menyalin1 milik Nyonya Wei2  Dia membaca Seni Perang Sun Tzu, Wuzi, dan Metode Sima untuk bersenang-senang; dia juga menyukai puisi klasik di Buku Lagu.3

“Putri Duanping pasti akan menyukai putraku.” Li Jianhong berkata dengan pelan, “Astrologi, ramalan, mempelajari setiap aliran pemikiran, dan membaca sekilas berbagai mata pelajaran.”

Setelah Duan Ling selesai makan, dia meletakkan kotak makanan itu sendiri, meregangkan tubuhnya, dan duduk di halaman sambil melamun. Cahaya matahari menyinari wajahnya, menyinari fiturnya remajanya yang rapi dan tampak menyegarkan seperti tanaman di musim semi yang tumbuh subur dan dipenuhi dengan kehidupan.

Namun, meskipun dia membiarkan pikirannya berkelana ke manapun, benak Duan Ling masih sibuk dengan banyak pikirannya yang tidak terhitung jumlahnya; satu saat pikirannya tertuju pada membaca dan menulis, di saat lain dia memikirkan tentang tamannya — dunia kecilnya sendiri.

“Dia menyukai makanan pedas.” Lang Junxia menambahkan, “Seperti Anda. Dia juga suka menanam bunga dan semacamnya, keterampilan yang dia pelajari dari Keluarga Duan di Runan. Minatnya benar-benar sangat luas. Saya tidak berani mengajarkan semua padanya, dan mengambil beberapa dari pengetahuan saya untuk dibagikan padanya. Sebagian besar waktu saya digunakan untuk mendorongnya agar fokus pada pembelajarannya.”

“Apa anakku memiliki seorang gadis yang dia sukai di sini, di Shangjing?” Tanya Li Jianhong.

Lang Junxia menggelengkan kepalanya.

Jarang sekali Lang Junxia keluar rumah sepanjang hari, sehingga tidak ada seorang pun di sini yang memberitahunya apa yang harus dia lakukan. Duan Ling memutuskan untuk merawat tamannya terlebih dulu.

Di halaman, pohon persik sudah bermekaran.

“Wow!” Duan Ling berseru, dan seruannya terdengar gembira. Tahun ini, pohon persik sudah bermekaran dengan mengagumkan, dengan lebih banyak cabang dari tahun sebelumnya; beberapa kelopak bahkan sudah jatuh ke tanah. Duan Ling bergegas masuk untuk menemukan kotak kayu, dan mengumpulkan kelopak bunga yang jatuh ke dalam kotak sebelum dia menyirami tanaman obatnya.

Ketika dia meletakkan penyiram tanamannya, tiba-tiba Duan Ling merasakan hawa kehadiran seseorang di belakangnya.

“Apa kau tidak jadi pergi?” Duan Ling berbalik dan menemukan orang asing. Dia langsung terkejut, tetapi tidak merasa takut pada orang asing itu. Dia berpikir, apa ini tukang kebun baru kami? Apa Lang Junxia benar-benar menyewa seorang tukang kebun? Tetaapi dia tidak terlihat seperti tukang kebun.

Dia lebih tinggi dari Lang Junxia, ​​dan juga tampak lebih kuat; kontur wajahnya tajam dan keras, dan warna kulitnya sedikit lebih gelap daripada orang-orang di Shangjing. Dia memiliki mata yang dalam seperti bintang yang berkelap-kelip, mulutnya tampak lembut, hidungnya mancung, pupilnya hitam legam dan bersinar terang seperti pernis. Meskipun dia tampak tidak terawat, dia lebih tampan daripada pria mana pun yang pernah dilihat oleh Duan Ling di Shangjing, dengan sosoknya yang tegap memancarkan aura yang membuat orang merasa aman.

Pria itu melepas topi bambunya yang berbentuk kerucut. Matanya seperti genangan tinta dalam yang dipenuhi dengan kilauan semangatnya, tetapi ada sedikit semburat merah saat dia menatap tajam ke arah Duan Ling.

Tetapi Duan Ling hanya berpikir bahwa pria ini cukup akrab di matanya, seperti seseorang yang dia temui dalam mimpinya.

“Apa kau yang merawat semua ini?” Tanya Li Jianhong.

Duan Ling mengangguk, dan Li Jianhong perlahan berjalan ke arahnya. Duan Ling sedang duduk di bangku kecil, memandangi tanaman di petak bunga dan melihat kembali ke arah Li Jianhong. Li Jianhong berlutut di samping Duan Ling agar mata mereka sejajar. Dia mengalihkan perhatiannya ke petak bunga, tapi hanya beberapa saat sebelum dia mengalihkan pandangannya kembali ke wajah Duan Ling.

“Jenis bunga apa ini?” Tanya Li Jianhong.

“Ini peony, ini chicken blood vine, rumput bulan, basil…”

Duan Ling memperkenalkan sudut kecil dunianya kepada Li Jianhong, tetapi mata Li Jianhong tidak pernah lepas dari wajah Duan Ling. Segera dia mulai tersenyum kepada Duan Ling. Duan Ling tidak tahu mengapa, tetapi dia balas tersenyum padanya.

“Kenapa kau menangis?” Tanya Duan Ling.

Li Jianhong menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa mengatakan apapun. Duan Ling menyeka air matanya dengan lengan bajunya dan menyisakan ruang baginya untuk duduk. Li Jianghong duduk bersila di belakang Duan Ling.

Duan Ling terus menggali tanah dengan sekopnya. “Apa kau memiliki cacing tanah? Sekarang musim semi, jadi aku ingin mendapatkan cacing tanah dan memeliharanya di sini.”

“Aku akan pergi menangkap cacing tanah untukmu besok,” jawab Li Jianhong.

“Aku sekarang harus belajar.”

Duan Ling kembali ke dalam untuk belajar, tetapi Li Jianhong mengikutinya. Awalnya Duan Ling mengira bahwa dia adalah tukang kebun baru mereka, tetapi sekarang dia merasa bahwa orang itu tidak seperti tukang kebun.

“Apa kau adalah teman Lang Junxia? Dia belum kembali. Dia pergi keluar untuk mengerjakan beberapa pekerjaan hari ini.”

Li Jianhong mengangguk, jadi Duan Ling mempersilahkannya ke ruang belajarnya dan menghidangkan secangkir teh untuknya. “Tepi Laut Burgeen.”4

“Kau bisa mengetahuinya?” Duan Ling berkata sambil tersenyum, “Aku membelinya di kota. Ini, bersihkan dulu wajahmu.”

Duan Ling memberinya handuk basah, dan Li Jianhong bertanya padanya, “Apa yang kau baca akhir-akhir ini?”

“Tiga Komentar tentang Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur.”

“Kau saat ini membaca yang mana?”

“Aku melewati Tradisi Zuo.” Duan Ling membuka sebuah buku, dan menjawab, “Sekarang aku sedang membaca Komentar Gongyang. Kepala sekolah mengatakan kepadaku bahwa aku tidak menggali cukup dalam untuk mendapatkan pemahaman yang tepat.”

Li Jianhong tersenyum kepadanya. “Kau bisa membacanya berdampingan dengan Catatan Penjelasan dari Tiga Belas Karya Klasik.”

Duan Ling mengobrak-abrik tumpukannya, menemukan sebuah buku di bawahnya, dan menunjukkannya kepada Li Jianhong. “Aku meminjamnya dari Toko Chengkeng. Apa kau juga belajar?”

Li Jianhong menyesap tehnya. “Tidak banyak. Aku tidak berhasil menyelesaikan empat buku dan lima karya klasik, dan tidak bisa menulis esai dengan baik. Seseorang tidak boleh mengabaikan pengetahuan leluhurnya. Kau belajar dengan cukup baik.”

“Apa kau seorang Han?” Tanya Duan Ling ingin tahu.

Li Jianhong sedang duduk di bawah matahari; cahaya memancar di atasnya. Meskipun pakaiannya compang-camping, ada sesuatu yang sangat bermartabat dan mulia tentang dirinya. Dia menatap Duan Ling dengan serius. “Iya. Keluargaku bahkan sudah menghasilkan seorang yang bijak di masa lalu.”

Duan Ling kaget. “Yang mana?”

“Coba tebak?”

“Siapa nama keluargamu, Tuan?”

Li Linghong mulai tersenyum. “Nama keluargaku adalah Li.”

Angin tidak berlangsung di sepanjang hari, hujan tidak berlangsung di sepanjang pagi,” kata Duan Ling.

Li Jianhong mengangguk. “Tidak ada keabadian bahkan pada alam, jadi apalagi pada manusia? Betul sekali. Aku adalah Li Er.”5

Duan Ling menatapnya dengan sangat heran. Li Jianhong berkata, “Aku memiliki tiga saudara laki-laki, dan dari kami berempat aku-lah yang paling sedikit belajar. Aku sering merasa bahwa aku sudah mengecewakan leluhur.”

Duan Ling tersenyum. “Kau pasti sangat hebat dalam hal yang lain. Apa yang kau bawa di punggungmu itu adalah pedang?”

Duan Ling mengalihkan perhatiannya ke kotak panjang yang ada di sebelah Li Jianhong, lalu Li Jianhong mengambilnya dan meletakkannya di atas meja, membukanya untuk menunjukkan hal itu kepada Duan Ling. Duan Ling tidak pernah begitu terpesona akan suatu hal. “Ini pedang milikmu?”

“Apa kau menyukainya?”

Ada pedang berat di dalam kotak. Semuanya hitam, hampir setinggi Duan Ling, dengan ukiran yin-yang terukir di gagangnya. Bilahnya sendiri diukir dengan hieroglif yang aneh seolah-olah pedang itu sudah sangat tua, namun ujungnya berkilau dan tajam karena sering digunakan. Duan Ling ingin menyentuhnya, tetapi Li Jinghong mencengkeram pergelangan tangannya dengan dua jarinya agar dia tidak dapat bergerak, lalu dia mengubah cengkeramannya menjadi mengenggam jari Duan Ling dan meraih tangannya. Dia memperingatkannya, “Ini adalah pedang besi meteorik yang beratnya empat puluh kati6, tetapi begitu tajam, rambut yang dilemparkan ke pedang itu akan terbagi menjadi dua. Pedang ini dapat menembus besi seperti besi itu terbuat dari lumpur. Hanya salah satu gerakan saja dan kau akan kehilangan satu jari.”

Duan Ling tertawa. Li Jianhong meraih tangan Duan Ling dan menekankan telapak tangannya ke gagang pedangnya. Pedang itu mengeluarkan getaran seolah-olah pedang itu hidup.

“Apa nama pedang ini?”

“Beberapa orang menyebutnya ‘Zhenshanhe’. Tapi aku menyebutnya ‘Tanpa Nama’, karena inkarnasi sebelumnya dari pedang ini adalah sabre yang disebut ‘Saber Tanpa Nama’.7 Saat kekaisaran jatuh, maka pedang itu juga jatuh ke tangan orang asing. Pandai besi dari Ruoran Khaganate menempanya kembali menjadi lima senjata dan mengirimkan mereka ke masing-masing suku mereka.

Duan Ling benar-benar terpesona akan kisah itu.

“Kemudian, Chen yang Agung menerobos ke Kerajaan Loulan dan mengambil mereka semua kembali, meleburkannya dan menempanya kembali menjadi pedang ini. Pedang ini mewakili mandat surga, memotong garis melewati pegunungan dan sungai. Pedang ini dibuat dari logam terbaik di barat, sudah melewati seratus kali peleburan dan seribu kali penempaan. Ini adalah pedang pusaka alam orang Han.”

Duan Ling mengangguk, lalu menutup kotak pedang itu. “Lang Junxia juga memiliki sebuah pedang. Dan pedang itu juga sangat tajam.”

“Nama pedang miliknya adalah Qingfenjian.” Li Jianhong menjelaskan, “Qinfengjian milik Lang Junxia, ​​Liguangjian milik Wu Du8, Baihongjian milik Chang Liujun9, Zidianjinmang milik Zheng Yan10, Zhanshanhai milik Xunchun11  dan Duanchenyuan milik Master Buddha Kongming12  semuanya adalah pedang terkenal yang diturunkan dari dinasti sebelumnya. Dan di antara orang-orang ini, Zheng Yan, Chang Liujun, Wu Du, dan Lang Junxia, mereka adalah pembunuh.”13

“Lalu bagaimana dengan dirimu? Dari mana kau berasal?” Duan Ling sangat ingin tahu tentang pendekar pedang pengembara ini. “Apa kau seorang pembunuh?”

Li Jianhong menggelengkan kepalanya. “Aku datang dari Selatan. Bagaimana denganmu?”

“Aku hanya pernah tinggal di Kota Runan sebelumnya, dan setelah datang ke Shangjing, aku belum pernah pergi ke tempat lain.”

“Ini semua sekarang adalah mantan tanah airku. Aku pernah tinggal di Xichuan. Jalan-jalan makmur di Xichuan berjarak bermil-mil, dengan sungai hijau giok yang berkelok-kelok seperti pita. Puncak berawan Gunung Yucheng yang selalu dikelilingi oleh kabut, dan Jiangzhou yang luar biasa dan dekaden yang tidak pernah tidur.”

Mulut Duan Ling ternganga. Li Jianhong melanjutkan, “Jiangnan sama sekali tidak seperti Shangjing. Pepohonan di sana berwarna hijau tua, bukan warna tunas segar seperti yang kau miliki di sini. Ketika musim semi tiba, bunga persik ada di mana-mana. Ada lautan juga; lautan berada di sana untuk selamanya.”

“Apa kau pernah pergi ke semua tempat itu?”

Li Jianhong mengangguk, memberinya sebuah senyuman. “Ada juga Diannan14 — Diannan sangat indah seperti surga; musim semi terjadi di sepanjang tahun dan tidak pernah turun salju. Danau di sana seperti cermin, dan airnya jernih, dingin, dan terus-menerus diberi makan oleh salju yang mencair dari Gunung Xue. Lalu ada Yubiguan. Ketika musim gugur di Yubiguan tiba, sejauh mata memandang, semuanya adalah daun maple berwarna merah darah.”

Ekspresi Duan Ling penuh dengan dambaan. “Aku penasaran, apa suatu hari nanti aku bisa melihat semua tempat itu.”

Li Jianhong berkata, “Jika kau ingin pergi, aku akan membawamu besok.”

Terkejut, Duan Ling terdiam sejenak. “Benarkah?” Kata Duan Ling dengan tidak percaya.

“Tentu saja.” Li Jianhong memberi tahu Duan Ling, sangat serius. “Dengan langit sebagai selimut dan tanah sebagai tempat tidurnya, kau bisa pergi ke mana pun yang kau inginkan.”

“Tetapi aku harus bersekolah.” Duan Ling tidak tahu harus merasakan apa dan berkata dengan canggung, “Aku harus… berada di peringkat tinggi dalam ujian kekaisaran. Lang Junxia tidak akan membiarkanku pergi.”

“Dia tidak bisa mengendalikanmu. Aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan di bumi.” Li Jianhong berkata, “Aku bisa memberitahunya malam ini dan kemanapun kau ingin pergi, kita bisa pergi besok. Kau ingin belajar seni bela diri, kan? Aku bisa mengajarimu bela diri juga jika kau menginginkannya. Jika kau tidak ingin pergi ke sekolah maka kau tidak perlu melakukannya lagi.”

Duan Ling tercengang — naluri pertamanya mengatakan bahwa pria ini hanya bermain-main dengannya, namun cara dia mengatakannya dengan sangat serius membuatnya tidak mungkin untuk meragukannya. Meskipun dia sudah berumur tiga belas tahun, Duan Ling masih muda, dan keinginan untuk bersenang-senang hanyalah sifat seorang pemuda, jadi bagaimana dia bisa hanya duduk diam?

“Um… oh lupakan saja.” Duan Ling mengakhiri keinginannya. Dia tahu bahwa dia tidak mungkin bisa pergi.

“Kenapa?” Li Jianhong menatap Duan Ling.

Duan Ling berkata, “Aku masih harus menunggu seseorang. Lang Junxia memberitahuku bahwa dia akan datang.”

“Siapa yang kau tunggu?” Tanya Li Jianhong.

Duan Ling berpikir sejenak. “Aku sedang menunggu ayahku. Lang Junxia mengatakan kepadaku bahwa ayahku adalah pria yang luar biasa.”

Matahari melintasi langit saat dia bergerak ke barat, tetapi pada saat ini sepertinya waktu tengah membeku. Di luar jendela, sekuntum bunga persik meninggalkan dahannya, berputar-putar saat melayang menuju kolam. Airnya mengeluarkan suara. Itu adalah suara ikan yang memecah permukaan.

Dari buntelan yang diikat di pinggangnya, Li Jianhong mengeluarkan sesuatu dengan sangat perlahan, meletakkannya di atas meja, dan membuat suara dentingan batu giok di atas kayu. Kemudian dia dengan lembut mendorongnya ke arah Duan Ling.

“Apa kau sudah menunggu untuk itu?” Ada sedikit air mata di suara Li Jianhong.

Duan Ling menahan napas. Itu adalah lengkungan giok berbentuk setengah cincin, bening dan tembus cahaya seperti es, dan diukir dengan dua kata.

Dengan gemetaran, Duan Ling melepas tali merah dengan kantong bersulam dari lehernya dan dengan hati-hati mengeluarkan setengah dari batu giok lainnya, menggabungkannya menjadi satu giok torus yang sempurna dengan relief bulu elang, naga melingkar di atas awan, dan menggabungkan empat kata menjadi satu kesatuan.

Alam (yang) makmur (subur); Kekaisaran (yang) Mulia.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Buku yang digunakan dalam pendidikan yang berisi contoh tulisan tangan dan ruang kosong untuk ditiru para murid.
  2. Nyonya Wei mengacu pada Wei Shuo.  https://en.m.wikipedia.org/wiki/Wei_Shuo.
  3. http://classics.mit.edu/Tzu/artwar.html (seni perang Sun Tzu), http://changingminds.org/disciplines/warfare/wu_zi/wu_zi.htm (Wuzi), https://books.google.ca/books/about/The_Methods_of_the_Sima.html?id=uvtfDwAAQBAJ&redir_esc=y (Metode Sima), dan http://wengu.tartarie.com/wg/wengu.php?l=Shijing (Buku Lagu).
  4. (Seaside Burgeen) Burgeen adalah teh hijau yang langka, Bianhai bisa berarti tepi laut atau tempat yang sebenarnya.
  5. Li Er adalah nama asli Laozi. Ini adalah kalimat dari Tao Te Ching, meskipun yang ada di sini adalah kutipan yang sering salah. Yang asli sebenarnya adalah ‘pagi’ dan ‘siang’ terbalik.
  6. Jika ini adalah Dinasti Song, pedang itu beratnya sekitar 25kg. (Ini secara teknis adalah dinasti imajiner)
  7. Untuk keseluruhan cerita tentang Saber Tanpa Nama dan pemiliknya yang bernama Zhang Mu, baca aja Yingnu oleh Fei Tian Ye Xiang.
  8. Secara harfiah berarti “pedang cahaya yang membara”.
  9. Secara harfiah berarti “Pedang Lingkaran Cahaya”.
  10. Secara harfiah berarti “petir ungu, titik emas”, tapi seharusnya mewakili jubah ungu milik para pejabat tinggi dan pita sutra emas yang dipakai di pinggang.
  11. Secara harfiah berarti “memotong-pegunungan-lautan”.
  12. Secara harfiah berarti “memutuskan hubungan dengan samsara”.
  13. Lebih jelasnya bisa dilihat di tumblrnya foxghost
  14. Diannan berada di Provinsi Yunnan tepat di perbatasan Vietnam modern, barat daya Tiongkok.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments