Penerjemah : Rusmaxyz
Proofreader : Jeffery Liu


Tidak ada gunanya menjadi cemas. Selama masa kecilnya, Chen Xing paling suka pergi ke festival. Sayangnya, dia dibawa ke pegunungan terpencil selama masa kecilnya. Terisolasi selama bertahun-tahun, meskipun dia ingin bersenang-senang.

“Baiklah,” kata Chen Xing, “Apa kau ingat pernah mengatakan bahwa selama aku menyembuhkan Che Luofeng, kau akan melakukan apa saja?”

“Akhirnya membahas ini?” Xiang Shu berkata, “Kau sudah sering menyebutkan ini, tapi kau ingin aku menjadi Pelindungmu, kan? Karena aku sudah berjanji, tentu saja, aku akan menepati janjiku.”

Chen Xing tidak berpikir Xiang Shu akan setuju begitu saja, itu sangat mengejutkan.

Xiang Shu: “Akhir-akhir ini, aku sudah memikirkan tentang perkataanmu.”

Chen Xing: “Hei, sadarlah, itu bukan permintaanku. Kau pikir aku ini siapa? Apa ada artinya memaksamu menjadi Pelindungku ketika hatimu tidak mau?”

Giliran Xiang Shu yang terkejut. Dia menatap Chen Xing dengan curiga, lalu mengerutkan kening.

Chen Xing tersenyum dan berbicara: “Besok adalah Festival penutupan Musim Gugur; bawa aku ke sana dan bersenang-senang, oke?”

Xiang Shu menatap Chen Xing dengan penuh perhatian, tidak menjawab untuk waktu yang lama, sebelum akhirnya menjawab: “Baiklah.”

Pada hari Festival penutupan Musim Gugur, sebuah acara besar yang fantastis diadakan di Chi Le Chuan. Semua suku menumpuk anggur, daging sapi, dan daging kambing di tempat yang kosong, kemudian menyiapkan meja sepanjang 1 li 1 untuk orang makan dan minum. Enam belas suku Hu menjadi tuan rumah menyiapkan sepuluh tempat, dengan pacuan kuda, panahan berkuda, gulat, menjinakkan banteng, dan sebagainya … singkatnya, itu adalah pesta yang meriah!

Chen Xing bersorak begitu dia melihat pemandangan yang begitu hidup. Dia pergi ke sisi tempat yang penuh dengan orang-orang ketika Xiang Shu sedang mempersiapkan upacara ‘mempersembahkan korban ke surga dengan panah’. Chen Xing berkeliling untuk waktu yang lama; dia bersorak keras di tempat gulat yang ramai, dia berjudi dengan beberapa orang- orang Hu dengan uang yang dihasilkannya menjadi dokter dan memenangkan banyak uang, lalu dia membeli kuda poni berwarna anggur dari orang Xiongnu dan berkuda ke mana-mana.

“Dokter Ilahi!” Seorang pemuda Tiele yang sudah mencarinya selama setengah hari dengan tergesa-gesa berseru, “Chanyu yang Agung sedang mencarimu! Cepat pergi ke platform tinggi!”

“Xiang Shu!” Chen Xing berteriak, “Apa pendapatmu tentang kuda yang kubeli?”

Banyak orang berkumpul di depan panggung pada saat itu. Chen Xing memimpin kudanya dan berjalan mendekat. Xiang Shu berada di platform tinggi dan mengenakan satu set baju besi Tiele yang terbuat dari emas murni yang membungkus dan mempertegas dadanya yang indah dan juga otot perutnya yang menarik dan rata, dan di tangannya, dia memegang busur giok. Dia berkata dengan wajah yang menunjukkan kemarahan: “Kau bilang kau ingin aku mengajakmu bermain, tapi kau kabur dan menghilang di pagi hari!”

Chen Xing menatapnya sambil tersenyum, melihat Xiang Shu berdiri tegak di paltform, bersandar sedikit ke samping, seperti ‘pohon giok menghadap angin’ 2. Dia memeras otaknya sebentar, tapi dari semua ‘puisi buku’ 3 dan tulisan-tulisan yang dia pelajari sepanjang hidupnya, tidak ada yang memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya.

“‘Putra dari yang lain, seindah bunga’,” 4 Kata Chen Xing sambil mendekati Xiang Shu dan merasakan jantungnya berdetak kencang, membuatnya sedikit terengah engah. Meskipun hatinya seperti lautan yang mengamuk, di permukaan, dia masih memiliki ekspresi yang tenang dan tersenyum.

“Apa?” Xiang Shu mengangkat alisnya dengan bingung dan bertanya padanya.

Chen Xing melompat ke atas panggung untuk membantu Xiang Shu memperbaiki baju besinya.

“Aku memuji kecantikanmu!” Chen Xing berkata, “Kalian orang Hu benar-benar tidak romantis!”

Ketika Chen Xing mencapai tepi platform, orang-orang di bawah mulai berbisik. Xiang Shu menunjuk ke belakangnya dan memberi isyarat padanya untuk bergerak sedikit, lalu melirik ke belakangnya.

Che Luofeng juga datang ke platform, berteriak: “Haruskah kita mulai?”

Xiang Shu memberi isyarat setuju. Che Luofeng mulai memerintah orang-orang, dan tidak lama kemudian, pemain terompet Rouran di sekitar platform tinggi meniup alat musik mereka satu demi satu. Semua orang-orang Hu di seluruh Perjanjian Chi Le segera menghentikan apa yang mereka lakukan dan maju ke platform tinggi sambil mencoba saling mengalahkan, bergegas masuk.

Che Luofeng membawa sepasang angsa liar. Mereka diikat dengan tali merah di leher mereka. Di tengah tali digantung sebuah gong emas seukuran telapak tangan.

Chen Xing berkata, “Apa ini?”

Xiang Shu, memegang busur giok, berkata dengan suara yang dalam: “Buka matamu lebar- lebar.”

Chen Xing: “‘Satu panah, dua burung’ 5? Jangan ba, apa kau benar bisa memanahnya? Bagaimana jika kau gagal?”

Xiang Shu: “Jika aku gagal, aku akan kehilangan muka 6.”

Chen Xing: “Tidak… bahkan jika itu kena, kesalahan apa yang dilakukan angsa? Angsa itu tidak bersalah!”

Menggunakan suara yang jelas dan nyaring dalam bahasa Tiele, Xiang Shu mengumumkan dimulainya Festival Penutupan Musim Gugur, namun tidak ada orang di bawah yang bersorak. Beberapa ratus ribu orang di sekitar platform tinggi semuanya dikelilingi oleh tekanan yang begitu gelap sehingga tidak ada setetes pun air yang bisa menetes.

Che Luofeng berteriak “Pergi!” dan melepaskan tangannya untuk membebaskan angsa itu.

Angsa itu menangis secara bersamaan, melebarkan sayapnya, dan terbang menuju horizon 7.

Dalam sekejap mata, masing-masing angsa mulai menarik satu sama lain, berputar-putar sebentar sebelum akhirnya bisa menyelaraskan gerakan mereka. Setelah berhasil, mereka dengan cepat menjadi titik hitam kecil.

Xiang Shu perlahan menarik busurnya, dan 300.000 orang menahan napas. Chen Xing tercengang, apakah kau benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukannya?!

Setelah itu, Xiang Shu berbalik dalam lingkaran penuh, lalu menarik busur itu menjadi lengkungan bulan purnama. Memanfaatkan gaya sentrifugal, busur besar dimiringkan, mengarah ke langit, lalu wusss, wusss, wusss, tiga anak panah ditembakkan secara berturut-turut!

Hari itu di Kota Chang’an, Xiang Shu mampu menembak Cermin Yin Yang di tangan Feng Qianyi dari jarak ‘ratusan langkah’ 8 yang sudah bisa dianggap ajaib. Chen Xing tidak pernah berpikir dia akan menembakkan gong emas di udara dengan anak panah!

Anak panah pertama berhasil tepat sasaran, memutuskan tali merah dan membuat gong emas jatuh dari langit.

Panah kedua mengenai, dan suara “bang” bergema. Terdengar ledakan lainnya, dan panah ketiga juga berhasil mengenainya!

Panah terakhir menyusul. Panah itubmenembus gong dengan kekuatan yang mengguncang sekitarnya!

Tiba-tiba, sorakan yang menghancurkan bumi, datang dari enam belas suku Hu, bergema di lapangan dan mengguncang langit. Xiang Shu meletakkan busurnya. Acara itu segera mencapai klimaksnya, dengan suasana semakin tak terkendali. Tidak peduli pria atau wanita, tua atau muda, mereka semua bernyanyi dan menari seperti air pasang, bergerak ke segala arah. Che Luofeng tertawa dan meraih tangan Xiang Shu. Xiang Shu melempar busur giok, memberi isyarat agar Chen Xing datang, meraih pergelangan tangannya, dan ketiga pria itu turun dari platform tinggi.

Anggur dan makanan ada di mana-mana. Orang-orang mulai memperebutkan anggur, dan tubuh Chen Xing didorong-dorong. Dia sudah banyak minum, dan kekuatan anggur membuatnya sedikit pusing. Che Luofeng meneriakkan sesuatu, dan Xiang Shu berkata, “Jangan minum terus! Aku tidak ingin menggendongmu saat pulang nanti!”

“Tidak apa-apa!” Chen Xing berteriak.

Xiang Shu menyingkirkan kerumunan. Che Luofeng memberi Chen Xing semangkuk anggur lagi, tapi Xiang Shu meminum mangkuk itu sendiri. Chen Xing berkata: “Che Luofeng, lihat dirimu, jangan minum lagi.”

Seseorang memberi Che Luofeng sebotol anggur lagi. Xiang Shu bersandar di meja panjang, mengambilnya, mengangkat lehernya, dan meminum semuanya. Orang-orang Hu sangat berisik, Che Luofeng tertawa keras, menekan Xiang Shu di atas meja panjang, menundukkan kepala, dan menciumnya.

Chen Xing: “…”

Saat itu, penonton semakin heboh, dan mereka semua tertawa satu per satu. Xiang Shu mengangkat tangannya untuk melawan sebelum Che Luofeng berhasil mencium bibirnya. Dia mengangkat kakinya, menendang Che Luofeng ke samping, dan meraung: “Keluar dari sini!”

Chen Xing juga ikut tertawa, tapi kemudian, tanpa mengetahui alasannya, dia merasakan sedikit sakit di hatinya, seolah-olah diremas, perasaan saat dia mabuk membuatnya tidak bisa bernapas.

Che Luofeng berbaring di tanah, berteriak “Aduh!”, “Aduh!”. Xiang Shu takut menendang lukanya, jadi dia bergegas ke depan, ingin memeriksanya. Chen Xing buru-buru berkata: “Coba kulihat?”

Che Luofeng tersenyum dan mendorong Chen Xing menjauh, berteriak dalam bahasa Rouran bahwa dia ingin bergulat dengan Xiang Shu. Dia bangkit dengan cepat dan berdiri di belakang Xiang Shu tapi ditolak oleh Xiang Shu. Dia tidak suka melakukan hal-hal sampah dan menolak berhubungan dengannya. Dia melambaikan tangannya, meminta untuk pergi, tapi dihentikan oleh Che Luofeng.

“Shulü Kong!” Che Luofeng tersenyum dan berteriak, “Aku ingin menantangmu! Jika aku menang, aku akan menjadi Chanyu yang Agung! Beri aku kesempatan!”

Semua pemuda Rouran berteriak serempak: “Lawan! Lawan! Lawan!”

Xiang Shu tersenyum sinis dan hanya meletakkan satu tangan di belakang punggungnya.

Lapangan itu segera dikelilingi oleh orang-orang, menghalangi pandangan Chen Xing.

Chen Xing meletakkan mangkuknya. Mendengar sorak-sorai yang datang dari dalam lingkaran, dia tiba-tiba merasakan rasa kesepian yang seolah mengikutinya tanpa henti. Dia meninggalkan meja panjang, keluar dari kerumunan, dan pergi ke ujung selatan Chi Le Chuan.

Apa yang salah denganku? Chen Xing merasa bingung karena perasaan berat tiba-tiba mencengkeramnya. Warna gelap menutupi langit yang dulu biru, seolah menandakan bahwa badai salju akan datang.

Dia memanjat tumpukan jerami dan duduk dengan tenang. Dia belum pernah merasakan melankolis seperti ini sebelumnya. ‘Apa ini perasaan rindu rumah ma? Tapi, dimana rumahku?’ Chen Xing, mabuk, berbaring dengan jerami di mulutnya. Tenggelam di tumpukan jerami, dia melihat ke langit kelabu dan mendengar teriakan orang orang Hu yang begitu keras.

Chen Xing merasa sedikit kesal. Adegan yang semula semarak tiba-tiba menjadi membosankan. Dia teringat saat melihat penampilan Xiang Shu yang gagah berani. Dia menjadi sedikit tidak bahagia seolah-olah harta miliknya dirampok. Hatinya dalam kekacauan, semua perasaannya menjadi kacau balau.

Saat suara itu terdengar semakin keras, Chen Xing menjadi semakin kesal. Dia duduk dan berteriak: “Berisik! Apa yang kalian semua lakukan?!”

Sekelompok penjaga yang bertugas terlihat berlari menuju padang rumput terdekat. Mereka membuat bentuk melingkar dan berteriak dengan keras. Pikiran Chen Xing terganggu oleh peristiwa yang tidak terduga ini. Dia melihat sekeliling dengan hampa, melompat ke bawah tumpukan jerami, lalu menaiki dan mengendarai kudanya ke tengah pengepungan.

Lusinan kavaleri Rouran mengepung seorang pria. Mengenakan jubah hitam, wajahnya ditutupi dengan beberapa linen, dan dia memegang gada Shaolin yang panjang. Dia menatap kavaleri dengan waspada.

Chen Xing, dengan bahasa Rouran yang masih berantakan, bertanya: “Siapa itu?”

Hampir semua orang di Chi Le Chuan mengenalnya. Ketika orang-orang Rouran melihat Chen Xing datang, mereka sedikit santai. Begitu pengunjung yang tidak terduga melihat Chen Xing, dia berkata: “Tianchi!”

Pengunjung melepas topeng dan kerudung mereka, menunjukkan mata cerah, bibir merah, dan gigi putih. Dia berkata sambil tersenyum, “Akhirnya aku menemukanmu!”

“Tuoba Yan?” Chen Xing tidak menyangka dia akan bisa bertemu Tuoba Yan di sini. Dia segera turun dari kudanya dan berlari dengan cepat. Tuoba Yan juga turun dari kudanya, tertawa terbahak-bahak, dan memeluk Chen Xing.

“Aku mendengar bahwa Chanyu yang Agung membawamu kembali ke sini ke Chi Le Chuan,” kata Tuoba Yan, “Aku meminta izin Yang Mulia untuk datang ke sini dan mencarimu.”

Chen Xing buru-buru memberi isyarat pada kerumunan bahwa ini adalah temannya. Wajah kavaleri Rouran dengan cepat berubah ketika mereka mendengar kata-kata itu. Mereka memberi hormat dan pergi satu demi satu.

“Merayakan Festival Penutupan Musim Gugur?” Tuoba Yan melihat sekeliling.

Ketidakpuasan kecil di hati Chen Xing sekarang tersapu oleh kedatangan Tuoba Yan. Sekali lagi melihat seorang teman, dia sekarang dipenuhi dengan kegembiraan. Dia tertawa dan berkata: “Ya, kenapa kau melakukan perjalanan sejauh ini tanpa mengirim surat terlebih dahulu? Apa kau sendirian?”

Tuoba Yan mengangguk, dan meletakkan tangannya di bahu Chen Xing, dia memimpin kudanya perlahan menuju Chi Le Chuan sambil bertanya, “Bagaimana kabarmu? Mereka sangat menghormatimu, apakah itu karena Chanyu yang Agung?”

“Dia?” Chen Xing mencibir, memberinya gambaran kasar tentang apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini, lalu bertanya, “Haruskah aku meminta seseorang memanggil Xiang Shu?”

Tuoba Yan merasa sedikit khawatir. Dia melihat ke kejauhan, lalu kembali ke Chen Xing. “Bagaimana pengadilannya?” Chen Xing bertanya lagi, “Apa ada yang bisa aku bantu?”

Tuoba Yan membawa berita tentang Dataran Tengah. Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Setelah Xiang Shu dan Chen Xing pergi, Fu Jian kembali ke Istana Weiyang, dan iblis kekeringan bergegas pergi dalam kebingungan. Istana Weiyang yang hampir hancur hampir membuat Fu Jian muntah darah. Dia harus membangunnya kembali secepat mungkin. Murong Chong bermalam di istana, dan pada akhirnya, dia dibujuk oleh Fu Jian untuk tidak datang dan membuat masalah dengan Xiang Shu untuk sementara waktu.

Dengan satu syarat: Tangkap Feng Qianjun dan serahkan dia ke keluarga Murong untuk diurus.

Dari apa yang Fu Jian dan para pejabat sipil dan militer lainnya pahami, cukup jelas bahwa keluarga Murong sekarang menyimpan dendam besar terhadap Xiang Shu. Satu-satunya alasan mereka tidak mempermasalahkan Xiang Shu hanya karena mereka takut akan Perjanjian Kuno di belakangnya. Bagaimanapun, setiap Hu telah berada dalam mode ‘kau-bunuh-aku-aku-bunuh-kau’ selama bertahun-tahun, berkelahi dan membunuh satu sama lain dalam siklus yang tidak pernah berakhir. Setelah memasuki jalur, mereka masih menyimpan banyak permusuhan dan kebencian yang dalam. Mengetahui bahwa Xiang Shu memiliki kekuatan besar di belakangnya, satu-satunya harapan Fu Jian hanyalah mencoba menenangkan segalanya untuk saat ini. Mereka akan mendapat kesempatan untuk memperbaiki keadaan nanti.

Tapi tetap saja, untuk menjaga wajah Murong Chong, dan karena kematian Putri Qinghe tidak jelas dan tidak bisa dijelaskan ke seluruh dunia, Fu Jian mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk memburu Feng Qianjun.

“Dia sudah pergi,” kata Chen Xing.

“Aku tahu,” jawab Tuoba Yan, “Kemudian, aku meminta surat amnesti kepada Yang Mulia. Pada saat itu, orang yang melakukannya adalah Chanyu yang Agung, dan orang yang merencanakannya adalah keluarga Feng, tapi itu tidak ada hubungannya denganmu … Aku juga sudah memberi tahu pihak Murong Chong, kamu bisa yakin.”

Chen Xing sedikit bingung dan hanya menganggukkan kepalanya, berterima kasih padanya.

Tuoba Yan berbicara: “Aku bilang bahwa aku ingin membawamu kembali, dan Yang Mulia menyuruhku untuk datang dan berbicara denganmu sendiri.”

“Kemana?” Chen Xing bertanya.

“Kembali ke Chang’an.” Tuoba Yan berkata, “Apa kamu tidak ingin kembali? Denganku, tidak ada yang berani mengganggumu.”

Chen Xing tiba-tiba mengerti, dan dia tertawa. Tuoba Yan sedikit menundukkan kepalanya dan menatapnya dengan serius. Dengan jarak antara alisnya yang menunjukkan semangat mudanya, Chen Xing merasa dia sangat imut.

“Mau minum?” Chen Xing berkata, “Mereka merayakan hari libur. Anggurnya enak.”

“Baik!” Tuoba Yan dengan cepat berbicara, “Aku sudah lama tidak pergi ke Festival Penutupan Musim Gugur!”

Chen Xing membawa Tuoba Yan kembali ke tempat tersebut. Setelah minum, semua suku mulai tersandung dan jatuh, berbicara tentang cinta dan berbicara dalam rasa sayang. Selain panen musim gugur, Festival Penutupan Musim Gugur juga berfungsi sebagai sarana bagi para pemuda dan pemudi yang berani untuk ‘saling mencintai’. Para pria Hu mulai mengejar para wanita, melakukan hal-hal yang tidak berani mereka lakukan secara normal dan mengatakan hal-hal yang tidak berani mereka ucapkan secara normal. Suasananya terkadang sangat menawan. Berdiri di depan meja yang penuh dengan anggur, sepuluh ribu perasaan genit di bawah Chi Le Chuan benar-benar bisa dirasakannya.

Chen Xing mengambil anggur dan memberikannya pada Tuoba Yan untuk diminum. Bertentangan dengan harapannya, Tuoba Yan memiliki toleransi yang baik. Membawa sebotol anggur, dia pergi ke tepi sungai, dan di bawah pohon, pertama-tama dia minum setengah botol, lalu menatap Chen Xing. Wajahnya merah.

Tianchi,” kata Tuoba Yan, “Ada yang ingin kukatakan padamu. Sejak hari itu di ruang belajar kerajaan, ketika Yang Mulia menyebutkan padamu … menyebutkan bahwa … setelah acara itu, aku sudah berpikir lama.”

Chen Xing secara alami memahami apa sebenarnya yang maksud Tuoba Yan. Kalau tidak, kenapa dia masih mengejarnya sampai ke Chi Le Chuan bahkan setelah mereka meninggalkan Chang’an? Tidak apa-apa jika dia hanya ingin mengirim kabar dari Fu Jian, tapi kalimat pertama yang dia katakan setelah bertemu dengannya adalah “Aku datang untuk mencarimu,” dan bukan yang lainnya. Ini benar-benar menyentuh hati Chen Xing.

“Aku tahu apa yang ingin kau katakan,” Chen Xing tertawa, “Ayo, katakan.”

Chen Xing berinisiatif mengambil botol anggur Tuoba Yan dan meminumnya. Tuoba Yan tertegun oleh tindakan Chen Xing.

“Kamu benar-benar cantik,” kata Tuoba Yan sambil tersenyum. “Tianchi, pulanglah denganku, ba. Aku selalu ingin menikah dengan orang sepertimu. Katakan saja, dan aku akan menjanjikan apa pun. Apa pun yang kamu minta aku lakukan, aku akan melakukannya.”

“Saudara Tuoba,” Chen Xing menghela napas dan menatap langsung ke mata Tuoba Yan, “Terima kasih sudah datang dari ribuan mil jauhnya untukku. Saat meninggalkan Chang’an, ada satu hal yang aku lupa kembalikan kepadamu.”

Kemudian, Chen Xing menuangkan sedikit anggur madu di atas tangannya, melepas cincin yang diberikan padanya oleh Tuoba Yan, dan kemudian menyerahkannya padanya.

Tuoba Yan diam. Chen Xing meraih tangannya dan meletakkan cincin itu di telapak tangannya.

“Baiklah,” kata Tuoba Yan.

“Berikan kepada orang lain ba,” kata Chen Xing, “Berikan kepada seseorang yang, segera setelah kau melihatnya, membuatmu berpikir bahwa sepanjang hidupmu, jika bukan mereka, tidak akan ada orang lain.”

“Kamu adalah orang itu,” kata Tuoba Yan.

“Tidak,” kata Chen Xing sambil tersenyum, “Tidak. Kebetulan aku adalah seorang individu yang sejalan dengan apa yang ada di dalam pikiranmu, orang yang kau cari, orang yang kau rasa pantas dan harus dinikahi, tidak lebih.”

Tuoba Yan bingung dan menatap ChennXing, alisnya sedikit berkerut. Chen Xing, dengan Sedikit melankolis, melanjutkan: “Kau tidak mengerti. Kau harus memberikan cincin ini pada satu orang yang … setiap kali kau melihatnya, membuat jantungmu berdebar kencang, dan kau akan selalu berusaha mencari lebih banyak alasan untuk berbicara dengan mereka. Saat kau melihatnya bersama orang lain, kau akan merasa tidak nyaman. Ketika kau melihat mereka sedih, kau tidak akan bisa menahannya. Saat mereka tersenyum padamu, kau akan merasa sangat bahagia dan sangat ceria.”

“Alih-alih bersama orang lain, semua orang berpikir kau dan mereka harus menikah. Mereka juga akan cocok dengan semua karakteristik orang yang kau inginkan untuk menghabiskan seluruh hidupmu. Oleh karena itu, kau harus bersama dengan mereka, karena yang ditakdirkan untuk bersamamu, adalah mereka.”

Chen Xing mengangkat alisnya dan tersenyum. Pada saat itu, dia tiba-tiba mengerti perasaan aneh yang menekan hatinya.

“Aku tidak mengerti,” Tuoba Yan sedikit sedih, alisnya sekarang berkerut erat.

Chen Xing menjelaskan: “Tidak apa-apa. Berjanjilah bahwa kau akan selalu mengingat apa yang aku katakan. Suatu hari, kau mungkin akan mengerti.”

Tuoba Yan tidak melampaui batasnya. Di antara kedua pria itu, hanya ada suara embusan napas, dan tidak ada yang berbicara lagi.

Akhirnya, Tuoba Yan berkata, “Baiklah.”

“Haruskah aku mengantarmu kembali?” Chen Xing berbicara lagi. “Untuk saat ini, aku belum ingin kembali. Xiang Shu sudah berjanji padaku …”

“Akan lebih baik jika kau tidak membiarkan orang-orang Rouran melihatnya karena jika tidak, akan ada kasus pembunuhan.” Tiba-tiba, suara Xiang Shu terdengar dari balik pohon.

Chen Xing terkejut dan marah: “Kau menguping pembicaraan kami!”

Sebagai seorang yang berlatih seni bela diri, Tuoba Yan sepertinya sudah lama mengetahui bahwa Xiang Shu bersembunyi di balik pohon, menyatakan: “Chanyu yang Agung, maaf telah mengganggumu.”

“Sekarang apa?” Chen Xing berkata, “Kau memperlakukan tamumu dengan membuat mereka membersihkan kamar atau membunuh mereka, apakah Perjanjian Chi Le masih memiliki etiket yang tersisa?”

“Klan Tuoba, atas nama negara, pernah menangkap beberapa ribu orang-orang Rouran, menjadikan mereka budak,” Xiang Shu keluar dari balik pohon. Dia sudah berganti kembali ke jubah rajanya. Dia memberi tahu Chen Xing, “Para Rouran sudah mabuk. Jika mereka tahu siapa dia, aku tidak bisa memastikannya, tapi mereka mungkin akan menusuk pacarmu dengan pisau. Maafkan jika aku tidak bisa menghentikan mereka.”

“Tidak masalah,” Tuoba Yan mengenakan cincin itu dan berkata pada Chen Xing, “Mengetahui bahwa kamu aman dan sehat, aku akan pergi sekarang.”

“Tunggu.” Chen Xing berkata, “Tinggallah di sini selama beberapa hari ba, kau sudah menempuh perjalanan jauh …”

“Kembalilah dan beri tahu Jian Tou,” Xiang Shu memberi tahu Tuoba Yan, “Guwang tidak punya waktu untuk mengirim apa pun kepadanya hari ini, dan juga katakan padanya untuk bersikap baik. Jika aku pernah mendengar ada kekacauan yang terjadi di Dataran Tengah lagi, siapa tahu, jika dia bahkan tidak bisa menjaga ibu kotanya sendiri, aku tidak akan keberatan menempatkan Xianbei itu untuknya.”

Tuoba Yan menjawab: “Aku pasti akan menyampaikan kabar itu kepadanya.”

Dengan itu, dia menaiki kudanya dan berlari pergi. Chen Xing berlari keluar beberapa langkah, bermaksud untuk menghentikannya, tapi Xiang Shu menangkap tangannya.

“Xiang Shu, biarkan aku pergi … Tuoba Yan!” teriak Chen Xing.

Tuoba Yan kembali menatap Chen Xing, dan dia tiba-tiba tersenyum. Ada sedikit kepahitan dalam senyuman itu, tapi itu tertutup dengan sangat baik, dan lagi, dia berteriak padanya.

Tianchi!” Tuoba Yan berteriak, “Sampai bertemu lagi!”

Chen Xing hanya bisa menghela napas. Dia melepaskan lengan Xiang Shu dan memelototinya.

Xiang Shu mengerutkan alisnya: “Aku hanya kembali untuk mengganti pakaianku. Mau lari kemana kau?”

Chen Xing: “Bagaimana kau bisa menguping pembicaraan kami?!”

Xiang Shu: “Aku hanya lewat dan mendengar kalian berdua minum di bawah pohon … Chi Le Chuan adalah wilayahku, aku bisa berada di mana saja yang aku inginkan. Siapa yang memberimu nyali untuk menanyakan itu?”

Chen Xing: “Kau …”

Chen Xing berjalan ke depan sambil meludahkan amarah, dan Xiang Shu segera mengikutinya, menjaga jarak yang tepat. Dengan itu, kedua pria itu kembali ke tempat Festival Penutupan Musim Gugur. Xiang Shu menggeram: “Kau berani melampiaskan amarahmu pada Chanyu yang Agung ini?!”

Chen Xing: “Apa? Ingin memukulku lagi? Lakukan saja!”

Tanpa diduga, Xiang Shu berhenti, mengamati Chen Xing, dan mengerutkan kening: “Ada apa denganmu? Kenapa kau semarah ini? Jika kau tidak ingin tinggal, pergilah! Ikuti Tuoba Yan kembali ke Chang’an!”

Chen Xing menarik napas dalam-dalam; dia kehabisan akal. Dia mendorong Xiang Shu ke depan. Xiang Shu bahkan tidak bergeming. Chen Xing marah, berteriak: “Bajingan! Dasar brengsek!” Dia berbicara sambil bersandar di satu sisi, membenturkan bahunya ke Xiang Shu. Xiang Shu masih seperti batu yang tertanam jauh di dalam tanah. Dia menatapnya dengan wajah sarkastik dan mendorongnya ke samping tanpa usaha keras. Chen Xing, yang didorong ke samping, tersandung, dan hampir jatuh ke tanah.

Xiang Shu meraih pergelangan tangannya sekali lagi, Chen Xing segera merasakan sakit dan berteriak: “Aiya, aiya!” Tepat pada saat Xiang Shu hendak memukulnya, teriakan datang dari dekat.

Itu adalah Che Luofeng. Dia mabuk, tapi matanya merah, tersulut amarah. Di belakangnya ada ratusan kavaleri Rouran, masing-masing berpakaian rapi dalam baju besi.

“Di mana klan Tuoba Xianbei?!” Che Luofeng berkata, “Dokter Ilahi! Serahkan temanmu!”


Catatan Penerjemah:

Jeff : Aaaaahhhhhhh aku nangis TAT

Kei: Puk puk touba yan.. 😢😢


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. 1 li = 500 m
  2. Sebuah idiom, 玉树临风, yang pada dasarnya mengatakan dia tampan (giok) dan orang kuat (mampu menahan angin).
  3. Merujuk ke Book of Songs
  4. ‘Putra dari yang lain, seindah bunga'[ 彼其之子, 美如英] adalah paragraf puisi dari Book of Songs, di bagian yang disebut Airs of the States (國風). Puisi ini digunakan oleh wanita kuno untuk memuji kekasih mereka.
  5. 一箭双雕 adalah sebuah idiom yang berarti ‘membunuh dua burung denganbsatu batu’, tapi dalam kasus ini, anggap saja secara harfiah, karena … yah, itu hanya Chen Xing dan pilihan kata-katanya
  6. Malu
  7. 天际 berarti ‘batas langit’ (heaven’s boundary), tempat dimana langit dan bumi bertemu. Ini adalah cara orang kuno menyebut ‘langit’ (sky), jadi sisanya, aku akan menyebutnya sebagai ‘langit’.
  8. 百步穿杨, ‘Seratus langkah untuk menusuk daun willow’, yang berarti ‘memotret dengan sangat presisi’ dan jika ada yang bertanya-tanya, 1 langkah = 1,4m di zaman kuno.
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
evel
evel
8 months ago

Aaaaaa tuoba yan