Penerjemah: San
Proofreader: Rusma


Chen Lan memiliki wajah yang sangat menipu dan sering disebut Penggoda Abadi oleh Xiao Pian’er keluarganya.

“Tebak berapa umurnya, dan kamu akan mendapatkan minuman gratis dariku.” Membuat orang menebak usia Chen Lan selalu menjadi permainan kesukaan Meng Chuan, dia menggunakan trik ini untuk meraup banyak uang. Meng Chuan adalah pemilik Queen’s Bar dan dia adalah seorang pemarah sejati serta secantik anggrek.

“Ini petunjuknya.” Chen Lan mengenakan kemeja dan rompi. Dua jarinya melonggarkan dasi kupu-kupunya, memperlihatkan lehernya yang seksi. Dia mencondongkan tubuh ke depan, menekan ke bar dan menggoda pelanggan hingga mereka tidak kuasa menahan diri untuk menelan ludah.

Chen Lan tersenyum sambil berkata, “Tahun ini adalah tahun hidupku1Tahun kehidupan di sini mengacu pada tahun zodiak. Jadi, jika dia dianggap sebagai Monyet, Kuda, dll., tahun-tahun ini terjadi setiap 12 tahun. Jadi, dia bisa berusia 24 atau 36 tahun..” Lesung pipit kecil muncul di sudut bibirnya. Dia punya wajah imut seperti bayi, kulitnya putih halus, dan poni yang dipotong rapi sehingga wajah mudanya semakin terlihat. Penampilannya benar-benar mirip seperti bintang muda di televisi.

Pelanggan itu melebarkan matanya dan berkata, “Dua puluh empat? Aku tidak bisa melihatnya. Kamu terlihat seperti berusia enam belas atau tujuh belas tahun.”

Meng Chuan terkekeh, sampai-sampai air liurnya muncrat ke minumannya. Chen Lan mendorongnya ke samping dengan kesal, lalu melengkungkan jarinya ke arah pelanggan, menyuruhnya mendekat. Dengan suara rendah di telinganya, dia berbisik, “Bayi ini sudah berusia dua belas tahun.”

“Chen Lan, kamu benar-benar tidak tahu malu!” Penyanyi di panggung tidak tahan lagi dan langsung memarahinya, “Siapa di sini yang tidak tahu kalau umurmu tiga puluh enam!”

Chen Lan hanya memutar tubuhnya, melambaikan tangan, dan berkata, “Kamu terlalu banyak bicara.”

Rahang pelanggan hampir jatuh ke lantai karena kaget.

“Hei, paman ini memang paman, tapi emosinya benar-benar buruk.” Fang Meng ikut menimpali. Ia sudah tiga tahun bermain di bar yang sama, berambut panjang, dan selalu berkoar-koar bahwa ia akan menyelamatkan dunia dengan gitarnya.

Di seluruh bar, Chen Lan memiliki potensi untuk menjadi pria paling lurus, tetapi dia adalah homoseksual yang sebenarnya.

“Chen Lan, kamu benar-benar menyebalkan. Xiao Pian’er-mu tidak akan memarahimu ketika kamu pulang dengan bau asap rokok?”

Chen Lan mendengus dan berkata, “Siapa pun yang merokok di sini bukan urusannya.”

Xiao Pian’er, nama asli Li PanEn, adalah pacar Chen Lan dan seorang mahasiswa pascasarjana Universitas B. Mereka telah hidup bersama selama lebih dari enam tahun

Ketika menyangkut julukan Xiao Pian’er,’2Nama Li PanEn dalam bahasa Mandarin adalah 李爿恩, kata 爿 terlihat seperti pantulan dari 片. Karena Chen Lan tidak tahu kata tersebut, dia hanya menganggapnya sebagai 片, yang diucapkan sebagai Pian. Karena itu, dia memanggilnya Xiao Pian. itu adalah lelucon yang berasal dari buta huruf Chen Lan.

Pada usia delapan belas tahun, Li PanEn masih seorang pemuda pemberontak. Chen Lan tidak tahu tentang masalah dalam keluarganya tetapi Li PanEn telah meninggalkan sekolah dan mabuk di bar setiap hari. Chen Lan adalah seorang bartender di bar pada waktu itu. Ketika dia melihat anak seperti itu, dia pikir itu lucu, jadi dia pergi untuk menggoda pemuda itu.

“Nak, kamu seharusnya hanya minum setelah kamu dewasa.”

Tatapan mata Li PanEn begitu dingin sehingga ia bisa membekukan orang. Ia tidak berbicara setelah mendengar kata-kata itu, dan sebagai gantinya, ia meletakkan kartu identitasnya di meja bar.

Chen Lan tidak bisa membaca karakter di tengah, tetapi dia tidak peduli. Setelah bertahun-tahun buta huruf, dia secara alami melihat kata itu dan membaliknya.

“Oh, Li Pian, itu nama yang bagus. Aku akan memanggilmu Xiao Pian’er.”

Wajah Li PanEn pucat saat itu. Butuh waktu lama sebelum ia mendesah pelan dan mengucapkan kalimat, “Karakter itu dibaca sebagai ‘Pan’…”

Chen Lan tidak mendengarkannya. Dia menganggap penampilan serius anak laki-laki itu sangat lucu. Dia menepuk bahunya dan memberinya segelas minuman dan beberapa kacang untuk dimakan. “Lihat betapa kesepiannya kamu. Gege ini akan membantumu menemukan seorang gadis.”

Li PanEn tinggi dan besar, setidaknya setengah kepala lebih tinggi dari Chen Lan. Dengan Tangan Chen Lan di bahunya, hampir tampak seperti dia bergantung padanya. Li PanEn tidak suka dekat dengan orang-orang, tetapi yang mengejutkan, aroma Chen Lan tidak mengganggunya. Pada akhirnya, mereka tidak pergi untuk mendapatkan seorang gadis, sebaliknya, mereka bermain video game di kamar pribadi sepanjang malam.

Selama periode ini, Chen Lan menemukan alasan mengapa Li PanEn tidak pernah ingin pulang. Li PanEn menyukai komputer dan ingin belajar pemrograman. Namun, keluarganya berpikir bahwa belajar pemrograman bukanlah bisnis. Mereka ingin ia belajar hukum. Kedua belah pihak tidak menyerah dan konflik pun berkembang, hingga Li PanEn akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah. Ia tidak pergi ke sekolah dan berkeliaran di luar sepanjang hari.

Chen Lan tidak tahan mendengar ini. Anak ini berada di tahun ketiga sekolah menengahnya dan hanya ada beberapa bulan sebelum ia harus mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Apa yang akan ia lakukan jika ia tidak bisa mengejar ketinggalan belajarnya untuk ujian karena ia membolos? Chen Lan marah karena Li PanEn tidak menganggap serius hal seperti itu!

Li PanEn sudah cukup dewasa, tetapi pemikirannya sangat berat. Ketika ia datang untuk minum, ia tidak pergi ke tempat lain dan akan berbicara tentang bunuh diri dan membolos, itu menghancurkan hati Chen Lan.

Setelah Festival Musim Semi, jalanan sekitar bar makin berbahaya karena semua gangster mulai aktif. Chen Lan tidak mau Li PanEn berkeliaran sendirian. Setiap kali ia mabuk, Chen Lan akan menggendongnya pulang ke apartemen kecilnya.

Rumahnya hanyalah sebuah apartemen kecil yang rusak yang luasnya hanya 30 meter persegi, dengan satu kamar, toilet, dan balkon kecil tempat dia menyimpan kompornya. Dan saat cuaca bagus, Chen Lan akan memasak untuk Li PanEn.

Li PanEn merasa aneh bagaimana ia sering bermasalah dengan orang tuanya ketika di rumah. Tapi di tempat Chen Lan, ia merasakan kehangatan kamar kecil itu. Ia akan membantu membeli sayuran dan bahkan mencucinya. Kadang-kadang ia juga membantu Chen Lan dengan mencuci kaus kakinya juga. Secara keseluruhan, ia adalah anak yang baik.

Chen Lan tidak menganggap serius perubahan ini pada awalnya atau tidak memikirkannya sama sekali. Kesadaran dirinya selama tiga puluh tahun terakhir adalah sebagai orang yang lurus. Setiap malam, dia tidur di tempat tidur di sebelah Li PanEn, tetapi dia tidak menganggapnya salah. Dan kadang-kadang setelah mandi, dia bahkan berjalan di sekitar apartemen tanpa pakaian dalamnya (apartemen itu tidak besar).

Sampai suatu malam, ketika Li PanEn demam dan terus-menerus mengerang saat ia mencoba untuk tertidur. Chen Lan menggendong pemuda berusia delapan belas tahun itu di lengannya dan menepuk punggungnya untuk membujuknya tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Akibatnya, Li PanEn menjadi keras.

Chen Lan merasa sangat kebingungan. Dia telah menggoda begitu banyak gadis sebelumnya sehingga itu sebanding dengan jumlah rambut yang dia miliki di kakinya, bahkan dia tidak pernah bisa mendapatkan pacar. Sebaliknya, anak laki-laki yang dia bantu secara acak tertarik padanya. Ada apa? Apakah Dewa begitu cemburu dengan kecantikannya sehingga Dia ingin dia menjadi gay.

Chen Lan sudah berusia tiga puluh tahun saat itu. Dia tahu bahwa dia tidak bisa membiarkan anak itu terus terjerumus ke jalan seperti itu. Dia mampu memutuskan hal ini dengan tegas dalam pikirannya, tetapi anak itu belum tentu sependapat dengannya. Pada akhirnya, Li PanEn terlalu muda. Suatu hari, ia akan mengerti apa yang perlu dia lakukan dan dia tidak bisa menunda orang lain.

Malam itu, Chen Lan mengirim Li PanEn kembali ke asrama sekolah. Dia berpura-pura menjadi wali sahnya dan memberikan banyak hadiah kepada guru-gurunya dan menundukkan kepalanya sementara Li PanEn menatapnya dengan dingin di kejauhan, matanya penuh dengan kebencian. Chen Lan merasakan getaran di tulang punggungnya ketika melihatnya. Dia merasa bersalah saat itu juga dan bersumpah bahwa dia tidak boleh jatuh ke tangan anak ini di masa depan, atau dia akan dimakan hidup-hidup.

Apa yang dia katakan seperti ramalan. Kemudian, Li PanEn tidak hanya memakannya hidup-hidup, tetapi ia memakannya sampai tidak ada tulang yang tersisa.

Namun, Li PanEn juga cukup penurut. Chen Lan ingin ia belajar dengan giat, jadi ia benar-benar mulai belajar dengan tekun. Tapi ia membuat syarat, mengatakan bahwa jika ia diterima di universitas ternama, ia akan belajar jurusan favoritnya, dan Chen Lan harus bersamanya.

Siapa Chen Lan? Dia, yang telah berada di dalam masyarakat selama lebih dari sepuluh tahun, menganggukkan kepalanya segera. Bagaimanapun, dia harus menstabilkan orang ini terlebih dahulu, apakah dia akan melakukan apa yang telah dijanjikan, mereka dapat membicarakannya nanti.

Universitas terbaik yang dibicarakan Li PanEn ada di Kota B. Chen Lan tidak tahu bagaimana prestasi akademis Li PanEn, tetapi bahkan dirinya yang buta huruf telah mendengar tentang persyaratan penerimaan yang ketat untuk sekolah itu, jadi dia tidak menganggap serius persyaratan itu. Hal ini terjadi sampai Li PanEn datang kepadanya dengan pemberitahuan penerimaan dan memintanya untuk pergi ke Kota B bersamanya.

Chen Lan kembali bingung. Dia membaca pemberitahuan penerimaan berulang-ulang beberapa kali. Dia senang bahwa anak ini benar-benar menjanjikan tetapi khawatir pada saat yang sama.

“Xiao Pian’er, orang tuamu… apakah mereka setuju?” tanya Chen Lan.

“Aku sudah memutuskan hubungan dengan mereka,” kata Li PanEn dengan acuh.

“Apa?!”

Wajah Li PanEn dingin, “Mereka mendiskriminasi kaum homoseksual dan tidak menyukai profesiku. Di mata mereka, aku hanyalah alat untuk memperebutkan kekuasaan..” Berbicara tentang ini, Li PanEn tiba-tiba berhenti berbicara, tidak peduli bagaimana Chen Lan bertanya kepadanya, ia tetap menolak untuk berbicara lebih banyak.

Chen Lan kaget. Ternyata masalahnya lebih dari sekadar jurusan atau sekolah, tapi juga pekerjaan orang tua Li PanEn. Singkatnya, dia tidak pernah bertanya apa pekerjaan keluarga Li PanEn. Dia teringat saat dia bertemu Li PanEn untuk pertama kalinya. Saat itu, anak itu menunjukkan bahwa ia memiliki sumber keuangan yang luar biasa. Alkohol di bar tidak murah dan beberapa cangkir bisa berharga ribuan31000 yuan sama dengan 141 dolar AS. Jadi, satu cangkirnya sekitar 300 hingga 400 dolar AS..

Namun, Li PanEn bahkan tidak berkedip ketika membayar. Dan semua pakaiannya adalah merek mewah yang sederhana, ia tampak seperti model kelas atas di depan umum. Tasnya untuk buku-bukunya juga harganya sama dengan gaji Chen Lan selama setengah tahun.

“Kamu… kamu biarkan aku berpikir.” Kata Chen Lan

Dia tidak mau langsung setuju, tapi Li PanEn malah terburu-buru. Di hadapan banyak orang, dia berteriak, “Kamu sudah berjanji padaku!”

Dengan suaranya, semua pelanggan di bar menoleh kepadanya, dan Li PanEn berteriak berulang kali, “Chen Lan, aku menyukaimu! Aku serius!”

Yah, bagaimanapun juga, dia tidak bisa tinggal di bar lebih lama lagi sekarang.

Keesokan harinya, Chen Lan menghilang.

Li PanEn sudah mencari ke semua tempat yang bisa ia pikirkan. Chen Lan ternyata sudah berhenti dari pekerjaannya. Apartemennya kosong, Bahkan toko-toko yang biasanya ia kunjungi mengatakan sudah lama tidak melihatnya. Awalnya, Li PanEn masih penuh harapan. Ia mengira pengakuannya pada Chen Lan terlalu berlebihan, dan mungkin Chen Lan hanya ingin bersembunyi sebentar. Namun, seiring waktu, harapan itu berubah menjadi keputusasaan. Perlahan-lahan, Li PanEn jatuh ke dalam kemurungan.

Sehari sebelum ia berangkat ke universitas, Chen Lan masih hilang. Li PanEn hanya bisa berkemas dan pergi ke Kota B sendirian.

Namun, tanpa diduga, kurang dari sebulan setelah ia datang ke Kota B, ia melihat Chen Lan lagi di sebuah bar. Chen Lan juga jelas melihatnya, dan keduanya tercengang.

“Xiao Pian’er….” Begitu Chen Lan membuka mulutnya, dia dipukul oleh Li PanEn, dan hidungnya mulai berdarah.

“Kamu berbohong padaku!” Li PanEn memelototinya. “Aku sudah mencarimu selama lebih dari dua bulan!” Ia meraung dan tak bisa menahan tangis, seperti anak kecil yang permennya dirampas. Wajahnya ditutupi dengan ekspresi sedih.

Tinju ini penuh dengan kebenciannya yang kuat. Namun Chen Lan tidak peduli dengan mimisannya karena ketika dia melihat Xiao Pian’er mabuk dan meneteskan air mata, hatinya sangat sakit sehingga dia menggertakkan gigi dan memeluknya.

“Um, ini salahku, aku salah, jangan menangis, jangan menangis…”

“Jangan tinggalkan aku lagi…”

“Um, aku tidak akan pergi. Selama kamu tidak mengusirku, aku tidak akan pernah pergi.”

“Kalau begitu, kamu harus tinggal bersamaku.”

“Hah? Oke! Kita akan bersama.”

Malam itu, Li PanEn tidak kembali ke sekolah. Ia menyewa kamar di sebuah hotel kecil dekat bar dan tidur dengan Chen Lan.

Chen Lan, yang telah perjaka selama tiga puluh tahun, tidak menyangka bahwa dia akan jatuh ke tangan orang yang lebih muda. Lebih buruk lagi, bahwa anak muda ini membuatnya tidak dapat meluruskan pinggangnya setelah malam pertama mereka.

“Setelah tiga puluh tahun…” Keesokan harinya, Chen Lan mendesiskan napas dan menatap wajah Xiao Pian’er dan merasa bersalah. Dia tidak dapat menahan desahan.

Segera setelah itu, Chen Lan menyewa rumah antara sekolah dan bar, dan mereka resmi tinggal bersama. Dia ingin menyewa dekat sekolah sehingga Xiao Pian’er bisa sampai ke sekolah lebih awal di pagi hari, tetapi dia takut itu akan terlalu dekat dan siswa lain akan tahu bahwa mereka berdua bersama. Lagipula, bukanlah hal yang mulia untuk tinggal bersama paman berusia 30 tahun.

Bar itu berada di kawasan pusat bisnis, tetapi ada jalur kereta bawah tanah langsung ke sana. Dia takut Xiao Pian’er tidak akan aman pulang sekolah di malam hari. Selain itu, bar itu berada di kawasan triad4“Distrik triad” biasanya merujuk pada wilayah atau daerah yang dikuasai oleh kelompok triad, yaitu organisasi kriminal asal Tiongkok. Triad ini semacam jaringan mafia/kelompok rahasia yang punya struktur, aturan, dan simbol tertentu.. Tidak baik bagi seorang mahasiswa untuk tinggal di daerah yang gaduh seperti itu.

Xiao Pian’er adalah seorang mahasiswa berprestasi dari universitas ternama, dan Chen Lan tidak ingin anak ini tinggal di daerah yang akan membahayakan statusnya. Jadi dia memilih tempat di samping taman, tempat yang tenang dan nyaman.

Hanya hati keibuannya yang akan memikirkan masalah sekecil ini untuk waktu yang lama.

Li PanEn tidak suka pekerjaan Chen Lan, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia belum pernah keluar berbaur dengan masyarakat. Biaya kuliahnya ditanggung dari pekerjaan Chen Lan dan ia tidak berhak mencampuri urusannya.

Keluarganya memang punya uang, tetapi tak lama setelah keputusannya, kartu kreditnya terputus. Ia dimanja sejak usia muda, tidak punya rasa krisis, dan tidak punya kebiasaan menabung. Untungnya, Chen Lan bersedia membayar uang kuliahnya, dan bahkan mengisi kartu makannya dan membelikannya pakaian.

Li PanEn akhirnya lulus sarjana. Profesor menyukainya dan menawarinya proyek riset untuk S2, tetapi ia menolak.

Saat itu, Li PanEn sadar bahwa mencari uang bukanlah hal yang mudah. Biaya hidup di Kota B sangat tinggi. Chen Lan memang bisa menghasilkan banyak uang, tetapi tetap saja terasa sulit. Dia baru pulang pagi setelah shift malam, sementara jam kerja dan jam istirahat mereka berlawanan. Karena itu, mereka jarang bisa bertemu, apalagi saling menyentuh. Hal itu membuat Li PanEn merasa sangat tidak senang.

Li PanEn sama sekali tidak menyangka Chen Lan akan mengetahui hal itu dari seorang teman sekelas yang cerewet. Saat mendengar kabar itu, Chen Lan justru tampak gembira. “Ini kabar baik. Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal?” katanya dengan penuh semangat.

“Mahasiswa pascasarjana! Xiao Pian’er-ku akan lulus sekolah pascasarjana!”

Chen Lan tidak memasak hari itu. Dia membawa Xiao Pian’er ke profesor dan mengundangnya untuk minum-minum di restoran mewah. Profesor itu masih sedikit bingung. Dia tidak tahu siapa Chen Lan, dan karena dia tidak terlihat seperti orang tua, dia tidak bisa memutuskan untuk memanggilnya apa untuk sementara waktu. Wajah Chen Lan terlalu menipu dan dia tampak seperti adik laki-laki Li PanEn.

“Yah, aku pamannya. Umurku tiga puluh empat tahun, meskipun wajahku masih terlihat muda,” kata Chen Lan sambil meneguk sedikit minumannya. Lidahnya mulai kelu karena mabuk, lalu dia menepuk bahu Li PanEn yang duduk di sampingnya dengan penuh sukacita. “Xiao Pan’er-ku ini anak baik, Profesor. Nanti aku akan menitipkannya padamu. Tolong ajari dia dengan baik. Jangan sampai bibit yang bagus begini menjadi rusak!”

Profesor itu mengangguk berulang kali, meski dalam hati merasa ada yang janggal. Sebelum sempat berpikir lebih jauh, Chen Lan sudah menarik tangannya, menyelipkan sebuah amplop merah ke dalam genggaman, dan jelas terasa berat isinya. “Xiao Pan’erku akan berada di bawah bimbinganmu untuk proyek penelitian,” ucap Chen Lan.

Li PanEn terkejut. Ia tahu betul berapa penghasilan Chen Lan setiap bulan. Selama ini, dia harus membayar sewa rumah, tagihan air dan listrik, biaya kuliah Li PanEn, sekaligus kebutuhan hidup mereka berdua. Chen Lan bahkan enggan membeli ikat pinggang yang lebih mahal untuk dirinya sendiri, seringkali hanya meminjam atau bercanda dengan Meng Chuan. Dengan kondisi seperti itu, berapa banyak uang yang mungkin bisa dia sisihkan?

Ia meraih tangan Chen Lan dan didorong kembali oleh pria itu. Chen Lan mendekati telinganya dalam keadaan mabuk dan menjilati daun telinganya. Panas menyapu wajah Li PanEn dan Chen Lan tersenyum, “Tidak apa-apa, tenang saja. Paman punya uang…”

Li PanEn hampir mengeras.

Setelah melalui ini, ia harus mengirim profesor itu pulang. Setelah itu, Li PanEn menggendong Chen Lan yang mabuk kembali. Dalam perjalanan, ketika mereka melewati patung batu berukir di taman, Chen Lan tiba-tiba melompat dari punggungnya dan memegang patung batu itu.

Li PanEn menariknya, tetapi Chen Lan menepisnya, mengusap wajahnya ke patung batu, dan tiba-tiba air mata mengalir di pipinya. Li PanEn belum pernah melihat Chen Lan menangis seumur hidupnya. Ia langsung tertegun.

Sambil memegang patung itu, Chen Lan menangis dan tertawa, “Xiao Pian’er… Kukatakan padamu… Xiao Pian’er keluargaku telah diterima di sekolah pascasarjana. Beraninya kamu meremehkanku…”

Melihat itu, Li PanEn sadar ia tidak akan pernah bisa menolak Chen Lan. Ia bukan hanya mahasiswa pascasarjana, tapi juga semakin bertekad memiliki Chen Lan sepenuhnya.

Malam harinya, Chen Lan mematikan lampu, melingkarkan lengannya di leher Li PanEn, dan menciumnya berulang-ulang, seolah memujinya dengan segel bunga merah kecil. “Xiao Pian’er… mmn… aku sangat menyukaimu…”

Li PanEn menggigit bahunya, “Paman hanya menyukaiku? Apa kamu tidak mencintaiku?”

“Mnn… Paman… mencintaimu…”

Li PanEn memeluknya erat dan melepaskannya ke tempat terdalamnya. “Aku juga mencintaimu.”


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

San

Leave a Reply