Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma


Jiang Wang sedang tidur nyenyak ketika tiba-tiba dibangunkan oleh seorang anak kecil yang mengguncangnya. Begitu menyalakan lampu malam, ia melihat bocah itu menangis tersedu-sedu dengan air mata dan ingus bercucuran. Melihat bocah itu hendak langsung menempel padanya, ia segera mengangkat anak itu dan berkata, “Lap dulu wajahmu!”

“Aku tidak mau!” Peng Xingwang menangis sampai terbatuk. “Kakak bertengkar dengannya, ‘kan? Kakak sudah tidak menginginkannya lagi, ya?!!”

Jiang Wang menarik dua lembar tisu dan menyerahkannya, tapi bocah itu keras kepala, langsung membuang muka, membuat ingusnya ikut terlempar. “Aku tidak mau lap! Aku mau Kak Linqiu! Aku mau Guru Ji!!!”

Padahal, sewaktu disangka korban perdagangan manusia, bocah ini tidak segigih ini.

Jiang Wang merasa kepalanya berdenyut mendengar bocah itu menangis. Ia menggendongnya dan membantu mengelap hidungnya sambil membantah, “Mana mungkin aku bertengkar dengannya? Menurutmu itu mungkin?”

“Kalau begitu, ada apa dengan kalian?!”

“Ada masalah di keluarganya.”

“Omong kosong! Aku tidak percaya! Kakak coba saja membujuk Guru Fu dan yang lainnya!”

Jiang Wang menyesuaikan pencahayaan lampu meja, lalu menatap bocah kecil yang rambutnya acak-acakan, wajahnya penuh bekas air mata, dan kini sedang menatapnya dengan mata melotot. “Hebat sekali kamu ini, membangunkanku jam satu malam hanya untuk menyuruhku melakukan sulap?”

Peng Xingwang merasa sedikit bersalah, tapi tetap ingin memperjuangkan Guru Ji agar kembali. Ia terus bimbang apakah harus bersikap dewasa atau tidak, sampai akhirnya tetap duduk tegak dengan mata berkaca-kaca, seolah siap menangis jika Jiang Wang sedikit saja memarahinya.

Jiang Wang merasa pusing menghadapi dirinya sendiri dalam versi kecil. Ia menarik tisu dan mengusap mata bocah itu dengan suara yang jauh lebih lembut.

“Katakan, apa maumu?”

Saat mengatakannya, ia merasa seperti sedang bertanya pada dirinya sendiri. Sekarang, kamu ingin bagaimana?

Peng Xingwang mengambil tisu, lalu membuang ingus dengan suara keras. Melihat Jiang Wang masih menatapnya, ia berseru, “Kakak itu orang dewasa! Bukankah seharusnya kakak yang memutuskan harus bagaimana?!!”

Jiang Wang tidak menyangka bahwa di tengah malam, ia harus mendiskusikan strategi dengan dirinya sendiri dalam wujud anak kecil.

“Aku… ini sedang mencari cara agar bisa membawa Guru Ji kembali dengan selamat dan bahagia. Atau kalau perlu, menyelundupkannya kembali.”

“Kakak sudah menemukan caranya?”

“Pasti ada cara, tapi risikonya besar. Kakek Ji dan Nenek Chen sudah tua, mereka tidak bisa menerima guncangan besar. Tidak bisa sembarangan bertindak.”

Peng Xingwang menjadi panik. “Sudah empat puluh sembilan hari aku tidak melihat Guru Ji! Kakak masih mau berpikir lagi? Kita harus pergi melihatnya terlebih dulu! Kalau dia dikunci di dalam rumah, kita harus menyelamatkannya!”

Jiang Wang terdiam dua detik. “Keluarga mereka semua orang berpendidikan, seharusnya tidak mungkin mengikatnya dengan rantai besi.”

Peng Xingwang langsung menggulung diri dalam selimut seperti anak beruang yang sedang merajuk. “Aku tidak peduli! Kita harus menjemputnya! Besok kita pergi menjemputnya!!!”

Jiang Wang melihat jam, dan entah kenapa, kali ini ia sangat sabar. “Peng Xingwang, meskipun besok kita pergi menjemputnya, hanya aku yang bisa pergi, karena besok hari Selasa. Kamu harus sekolah.”

Peng Xingwang langsung duduk tegak dan mengucapkan kata-kata paling memberontak dalam hidupnya. “Kalau begitu, aku tidak akan sekolah!! Aku akan izin hanya untuk menemui Guru Ji!!”

Jiang Wang menatapnya lama, mencoba menilai apakah bocah ini lebih mirip dirinya atau tidak.

Setelah ribut sebentar, akhirnya mereka berdua tetap tidur. Keesokan harinya, tepat pukul tujuh tiga puluh pagi, saat waktunya berangkat sekolah, Peng Xingwang sudah berpakaian rapi dengan tas sekolah di punggungnya. Isinya penuh dengan buku bacaan yang bisa dibaca di perjalanan.

Jiang Wang yang sedang menggosok gigi melihat bocah itu mondar-mandir mencari barang-barang untuk dibawa. Dengan mulut penuh busa pasta gigi, ia bertanya, “Kamu benar-benar ingin membolos sekolah demi menjemput Guru Ji?”

Bocah itu langsung gemetar. Ketika menoleh kembali, matanya sudah penuh air mata, seolah siap menangis kapan saja.

“Baik, baik, baik, kita pergi sekarang. Aku akan izinkan kamu.”

Jiang Wang memasak mie seadanya. Sambil menunggu mie matang, ia menelepon Tao Yingqi.

Tao Yingqi sudah mengajukan pengunduran diri sejak lama, dan mulai semester depan ia akan benar-benar bebas tugas. Namun, saat ini, ia masih bertanggung jawab di posisinya.

Saat menerima telepon dari calon bosnya, perasaannya sedikit campur aduk. “Halo—bos, ada apa?”

“Aku ingin izin untuk Xingwang. Aku harus membawanya ke luar kota dua atau tiga hari.”

Jiang Wang memecahkan sebutir telur ke dalam panci, lalu berpikir sejenak sebelum menambahkan satu lagi untuk dirinya sendiri. “Menurutmu… lebih baik izin karena sakit atau karena urusan keluarga?”

Jika orang tua lain bertanya seperti itu, mereka pasti sudah dimarahi habis-habisan.

Tao Yingqi tersenyum kaku sambil melihat anak-anak yang sudah mulai membaca pagi di kelas. Ia berdeham pelan. “Baik, aku mengerti. Aku akan mengurus izin sakit. Nanti kamu tinggal datang untuk tanda tangan.”

Setelah telepon ditutup, Peng Xingwang mendekat dengan hati-hati. “Apakah Guru Tao marah padaku?”

Jiang Wang menunduk menatapnya. “Kamu gentar sekarang? Padahal semalam, waktu membangunkanku, kamu sangat berani.”

Tanpa membawa barang apa pun, mereka langsung pergi setelah mengisi penuh tangki bensin.

Dari Yuhan ke Zhouxiang, perjalanan memakan waktu enam jam.

Meskipun ada tiket kereta, mengemudi sendiri terasa seperti memberikan kendali lebih atas situasi. Seakan-akan, semakin cepat mereka melaju, semakin cepat mereka bisa bertemu dengannya.

Peng Xingwang duduk di kursi belakang, mengenakan sabuk pengaman, memeluk tas sekolahnya, dan menatap jendela dengan penuh perhatian, seolah hendak maju ke medan perang.

Jiang Wang pertama kali melewati jalur ini dan tidak menggunakan navigasi ponsel, jadi ia berkendara dengan hati-hati, mengikuti peta di layar mobil.

Dari kursi belakang, suara Peng Xingwang terdengar. “Kak, kita tidak perlu takut! Kalau mereka ingin mengusirmu, aku akan menerobos masuk!”

“Kalau benar-benar tidak berhasil, aku akan menangis! Kakek Ji sangat menyukaiku, pasti dia tidak tega mengusirku!”

Jiang Wang hampir tertawa, lalu akhirnya menggumam pelan, “Baiklah, kamu bebas bertindak. Kakak akan mengandalkanmu.”


Zhouxiang.

Ji Linqiu duduk di ruang kerjanya.

Ia merasa, semakin ia melamun, semakin cepat waktu berlalu.

Saat masalah ini meledak, ia sendiri tidak menyangka akan begitu patuh. Seolah-olah, ia sama sekali tidak memiliki perlawanan.

Reaksinya ini bukan sekadar karena norma kesopanan atau kecerdasan emosional, melainkan sesuatu yang lebih mendalam—sebuah insting yang bahkan belum pernah ia sadari sebelumnya.

Semua kegelisahan yang selama ini Jiang Wang rawat dengan hati-hati, semua pertahanan yang sempat ia lupakan saat bersama Xingwang—dalam sekejap, saat ibunya menangis, semuanya kembali berdiri tegak.

Seolah-olah, semuanya memang tidak pernah benar-benar hilang. Setelah kembali ke rumah, Ji Linqiu tidak membicarakan soal mencari pekerjaan. Dia juga tahu bahwa di Zhuxiang, desa kecil yang mengalami penuaan populasi ini, pekerjaan yang tersedia bagi anak muda tidak memiliki banyak prospek.

Dia merasa bahwa setelah berpisah dengan Jiang Wang, pikirannya menjadi lebih tumpul—seolah daya pikirnya melambat, reaksinya menurun, bahkan emosinya pun tidak lagi meluap-luap.

Bagaimana bisa, begitu aku berpisah denganmu, apakah aku mulai menua?

Kepergian mereka memang terlalu mendadak.

Bukan hanya karena mereka mengemas barang semalaman, membawa semua benda pribadi yang bisa dibawa, meninggalkan barang-barang berharga di rumah, bahkan kartu gaji miliknya dan ayahnya juga ditinggalkan, diselipkan di bawah lembaran surat.

Ji Changxia yang bekerja dan berkeluarga di Yuhan, hanya bisa mengambil cuti beberapa hari untuk menemaninya sebelum akhirnya kembali ke sana. Namun, sebelum pergi, dia berulang kali diingatkan untuk tidak lagi berhubungan dengan orang itu—untuk menjauhi semuanya.

Saat melihat ibunya melakukan semua ini, Ji Linqiu merasa sangat aneh.

Dia tidak bisa menahan diri untuk berpikir: Apakah jika aku dan adik perempuanku sudah menurutinya, dia akan merasa lebih lega dan bahagia?

Setidaknya, Ji Guoshen tampak sangat kecewa.

Perasaan itu bukan karena mengetahui bahwa putranya adalah seorang homoseksual, tapi lebih seperti keterkejutan saat tiba-tiba ditarik keluar dari kehidupan idealnya. Di desa ini, tidak banyak yang mengenyam pendidikan tinggi, apalagi yang menjadi pengajar. Ketika dia tiba-tiba kembali dan mengatakan ingin pensiun, orang-orang membicarakannya selama beberapa hari, lalu melupakannya begitu saja. Mereka tetap datang untuk bermain catur dengannya.

Namun, setelah bermain beberapa kali, Ji Guoshen tidak mau lagi.

Kadang-kadang, orang tua itu tidak bisa menahan diri untuk membuka kembali kumpulan soal yang belum selesai disusunnya atau mengambil ponselnya, berniat menelepon beberapa guru muda yang akrab dengannya. Tapi setelah ragu-ragu sejenak, dia pun meletakkan kembali ponselnya tanpa menelepon.

Ji Linqiu tahu, sebenarnya ayahnya tidak menyukai uang, juga tidak peduli dengan status dan kedudukan di kota besar. Mereka hanya mencintai dunia pendidikan, sesederhana itu. Tapi di Zhuxiang, anak-anak sudah lama pergi untuk melanjutkan sekolah. Kalau begitu, siapa lagi yang bisa dia ajar?

Chen Danhong seharusnya menjadi orang yang mengalami gejolak emosi paling besar.

Malam itu, dia menangis tersedu-sedu, seolah baru saja mengetahui bahwa putranya mengidap penyakit mematikan—seakan dunia runtuh dan segalanya hancur. Sepulangnya ke rumah, dia tetap merasa sedih. Kadang-kadang dia akan menggumamkan beberapa kata sebelum akhirnya terdiam, lalu menyeka air matanya sambil merapikan tanaman merambat dan kacang di pagar, atau menghela napas saat memberi makan ayam dan menyapu halaman. Tapi manusia tidak mungkin menangis setiap hari.

Setelah beberapa waktu, dia mulai sering melamun, bahkan bisa melamun kapan saja.

Saat menonton berita CCTV dan mendengar reporter mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Inggris, dia akan mendekat untuk mendengarkan. Jika memahami satu atau dua kata, dia akan tersenyum, tapi segera menarik kembali senyumnya, seolah merasa tidak seharusnya tertawa.

Saat mencuci piring dengan air yang sangat dingin, Ji Linqiu yang kebetulan lewat akan menawarkan bantuan, tapi dia langsung ditolak.

Sambil bergumam bahwa tangan orang berpendidikan tidak boleh terkena dingin, Chen Danhong sendiri yang memutar keran air dan melanjutkan pekerjaannya. Namun, tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu dan kembali melamun.

Ji Linqiu memperhatikannya dengan saksama saat itu. Wajah ibunya menampilkan ekspresi yang ganjil—seperti campuran antara mimpi dan tekanan batin, seolah ada dua kepribadian yang sedang bertarung dalam dirinya. Saat itu, Ji Linqiu tiba-tiba menyadari bahwa ternyata dia dan ibunya sangat mirip.

Ketika seseorang mulai sering melamun, waktu terasa berjalan sangat lambat tapi juga sangat cepat, seakan kesadarannya telah larut bersama konsep waktu.

Rumah lama mereka hampir tidak memiliki koleksi buku. Buku-buku yang ada adalah edisi lama dengan cetakan timbul yang tebal, penuh debu, dan terkadang ada laba-laba kecil berwarna krem yang merayap di antara halaman-halamannya.

Saat membolak-balik novel lama itu, Ji Linqiu akan teringat pada Jiang Wang setiap hari. Jika merindukannya, seharusnya dia merasa sedih, tertekan, dan menderita. Tapi anehnya, dia tidak merasa seperti itu.

Merindukan Jiang Wang baginya seperti mencari mercusuar di tengah samudra luas. Setiap kali mengingat suatu momen bersama, dia seakan menemukan seberkas cahaya dari mercusuar itu, memberinya arah.

Kadang-kadang, dia seperti kehilangan akal. Setiap kali mendengar suara dari luar, dia akan refleks menoleh, selalu merasa bahwa Jiang Wang atau Xingxing mungkin akan muncul dari suatu tempat. Tapi di saat yang sama, dia juga selalu merasa cemas.

Dia sudah begitu lama dan begitu jauh dari Jiang Wang—bagaimana jika bajingan itu benar-benar menghilang begitu saja, seperti busa di lautan? Bagaimana jika dia kembali ke Yuhan dan mendapati orang itu tidak bisa ditemukan lagi?

Ji Linqiu samar-samar merasa bahwa dia perlu merencanakan cara untuk kembali, setidaknya untuk melihat Jiang Wang sekali saja—memastikan bahwa orang itu masih ada, atau setidaknya mengumpulkan sisa busa di bak mandi.

Dia memikirkan berbagai rencana untuk melarikan diri. Tapi yang aneh adalah, kedua orang tuanya tampaknya tidak berusaha menghentikannya. Justru mereka terlihat lebih seperti orang-orang yang kehilangan arah, seakan menunggunya untuk memberikan penjelasan—atau menunggu dia memberitahu mereka apa yang seharusnya mereka lakukan sekarang.

Jadi, rencana mana yang harus dia pilih? Ataukah sebaiknya dia mencoba kabur lebih dulu?

Saat Ji Linqiu masih bimbang, dia tiba-tiba melihat di luar pagar rumah, ada sebuah kepala kecil yang menyembul dari balik tembok.

Mata Peng Xingwang hitam pekat dan berbinar-binar, dipenuhi senyuman yang begitu cerah hingga seakan bersinar.

“Kak Linqiu!”

Namun, sebelum dia bisa berkata lebih banyak, seseorang dari belakang buru-buru menutup mulutnya dan menyeretnya pergi.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

San
Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply