Penerjemah : Chu


Saat Qin Zheng melihat Chu Yu pingsan, dia secara naluriah berlari ke depan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti.

Para pelayan sudah membantu Chu Yu berdiri. Dari jauh, Qin Zheng bisa melihat wajah Chu Yu menjadi pucat dan tak berdarah. Dengan mata tertutup dan benar-benar tidak bergerak, dia tampaknya tidak memiliki sedikit pun sikapnya yang agung dan mengesankan.

“Marquis!” Panggilan pelayan rumah menarik Qin Zheng kembali ke akal sehatnya.

Qin Zheng berhenti sejenak sebelum tersenyum menghina, “Ambil tablet Tuan Kedua Chu dan pergilah mencari tabib kekaisaran. Tuan Kedua Chu memiliki kesehatan yang buruk, tidak ada waktu untuk disia-siakan.”

Pelayan rumah tidak bisa menangani nada mengejek dalam kata-kata Marquis pada saat itu dan bergegas untuk menyampaikan perintah.  Kemudian, dia memanggil beberapa prajurit pribadi Tuan Kedua untuk membawanya kembali ke vila selatan.  Hanya setelah semua pengaturan ini dibuat dengan benar, pelayan itu punya waktu untuk menemukan Marquis-nya lagi.

Qin Zheng baru saja selesai menenangkan Madam Sun. Melihat pelayan rumah membuntutinya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat alis, “Apakah paman yang setia ini tidak akan pergi membantu di vila selatan?”

Pelayan rumah tersedak. Dia tahu bahwa Marquis tidak puas dengannya, bahwa mungkin dia sudah lama melihatnya menjadi budak anjing lari Tuan Kedua. Itu membuat pelayan rumah merasa sedikit tidak nyaman, tetapi setelah mengatupkan giginya sejenak dia berkata, “Marquis, mungkin kata-kataku akan jatuh di telinga tuli, tetapi jika aku tidak mengatakan ini, aku takut hatiku tidak akan bisa tenang….”

Ekspresi Qin Zheng tetap tidak berubah, tapi tetap saja, orang di depannya adalah sosok tua yang telah bekerja di manor selama bertahun-tahun. Meskipun dia berbicara terlalu blak-blakan, Qin Zheng tidak menegurnya.

Alis pelayan rumah itu berkerut membentuk sungai yang dalam, mengencang untuk waktu yang lama sebelum akhirnya dia menghela nafas pelan, “Marquis, beberapa tahun terakhir ini benar-benar sulit bagi Tuan Kedua …”

_ _

Vila selatan memiliki petak taman yang terbaik di manor Marquis.

Vila itu dipenuhi dengan paviliun — yang akan menampilkan pemandangan indah untuk setiap langkah kaki yang diambil, dengan atap terbalik dan atap ubin hijaunya, tempat itu halus namun mengesankan.

Ini adalah tempat tinggal utama dari manor Marquis. Chu Yu dengan berani pindah ke sini pada hari dia menikah dengan keluarga Marquis, seolah-olah menyatakan kepada semua orang terkait kedaulatannya dengan menduduki posisi tertinggi.

Sementara itu tuan sejati dari rumah bangsawan ini — Qin Zheng tersingkir, diasingkan untuk tinggal di halaman samping yang kecil.

Terkadang, Qin Zheng berpikir bahwa Chu Yu menyerupai bunga peony, mewah dan sangat cantik. Dia menuntut tempat tinggal paling mewah yang tiada taranya, pakaian yang paling mahal, kereta dan kuda yang paling menarik perhatian, fitur yang paling luar biasa yang diberikan Tuhan, dan posisi yang paling agung. Dengan demikian, dia seperti sapuan kuas paling tebal dan paling mencolok dalam sebuah lukisan. Bahkan tinggal di Ibukota yang megah, dia tetaplah orang yang paling bersinar.

Sebagai perbandingan, Meng Hanyi adalah pakis renda yang rapuh, menolak musim kemarau dan tidak tahan dingin dan panas. Dia adalah cipratan cahaya hijau kebiruan yang tidak mencolok atau menarik perhatian, tetapi memberikan perasaan keanggunan yang ekstrim, membuat seseorang ingin merawatnya.

Mereka benar-benar berbeda.

Namun tanpa diduga, Qin Zheng menyadari bahwa dia sebenarnya kesulitan mengingat penampilan Meng Hanyi. Senyumnya menjadi semakin kabur, seperti lukisan tua yang secara bertahap memudarkan warna-warna halus yang elegan. Adapun peony itu, masih harum dan berwarna cerah seperti sebelumnya. Itu telah mengakar kuat di benaknya, senyum indah namun berbisa itu seperti mimpi buruk yang tidak mungkin untuk dilupakan.

Mungkin itu karena pikirannya yang berantakan, tetapi ketika Qin Zheng merenungkan apa yang dikatakan pelayan rumah kepadanya, dia mendapati dirinya berjalan tanpa sadar ke vila selatan.

“Marquis.” Tabib Kekaisaran Chen baru saja keluar dari vila selatan hanya untuk bertemu dengan Marquis Zhenbei. Dia menganggukkan kepalanya sedikit untuk memberi salam.

Qin Zheng membalas salam dengan bingung dan, setelah beberapa saat, berkata dengan terbata-bata, “Apakah dia … Apakah dia baik-baik saja?”

Tabib Kekaisaran Chen menatapnya dengan heran, mengingat desas-desus yang dia dengar tentang Marquis Zhenbei dan Tuan Kedua keluarga Chu berselisih satu sama lain. Dia sedikit ragu-ragu untuk berbicara, dan setelah beberapa saat Tabib berbicara dengan jujur ​​dan mengatakan yang sebenarnya.

_ _

Pada saat Chu Yu bangun, hari sudah larut.

Namun, lampu di ruangan itu terang benderang. Dia menggerakkan jari-jarinya sedikit, penglihatannya masih kabur dan tidak jelas. Butuh waktu lama sebelum dia akhirnya bisa melihat semuanya dengan jelas.

“Ayah!”

Sepasang tangan hangat yang lembut menggenggam erat jari-jari Chu Yu.  Memalingkan wajahnya sedikit, dia melihat Zhen’er duduk di samping tempat tidurnya, matanya bengkak seperti kenari kecil.

Chu Yu mengulurkan tangan dan dengan ringan membelai hidung kecil Zhen’er saat dia mengeluarkan suara serak dari tenggorokannya yang kering, “Mengapa Zhen’er kami berubah menjadi kelinci kecil?”

Mulut kecil Zhen’er sedikit melengkung ke bawah, karena tidak dapat menahan diri, dia membenamkan wajahnya di pelukan ayahnya dan mulai menangis.

Chu Yu mengulurkan salah satu tangannya dan menepuk gadis itu, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa, jangan menangis. Ini semua salah ayah karena menakuti Zhen’er kecil kami.”

“Ayah … jangan tinggalkan Zhen’er.”  Gadis itu terengah-engah, dia menangis begitu keras.

Chu Yu menopang dirinya untuk duduk dengan susah payah, lalu menempatkan Zhen’er di pangkuannya.  Dia dengan hati-hati menyeka air mata di wajah kecil itu, dia (Chu Yu) merasa agak tertekan. Hati anak itu sangat rapuh. Qin Zheng secara terbuka bentrok dengannya di depan Zhen’er, tidak dapat dihindari bahwa itu akan membuatnya takut.

Melihat kecemasan dan ketakutan di mata Zhen’er, Chu Yu menggesernya sehingga tubuh kecilnya menghadap dirinya. Dia menatap matanya dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Ayah tidak akan pernah meninggalkan Zhen’er. Zhen’er adalah anak yang paling dicintai ayah. Tidak peduli apa yang terjadi, ayah tidak akan pernah meninggalkan Zhen’er.”

“Tapi…” Zhen’er menatap dengan mata berkaca-kaca pada sidik jari di wajah ayahnya yang belum pudar.

Sudut mulut Chu Yu sedikit berkedut saat dia memaksakan senyum kecil, “Zhen’er, papamu dan aku hanya memiliki beberapa kesalahpahaman kecil. Ingatlah bahwa orang yang paling dicintai papamu juga kamu. Itu yang terpenting.”

Tiba-tiba, Zhen’er mengangkat kepala kecilnya, “Apakah papa … benar-benar menyukai Zhen’er?”

Hati anak itu sangat sensitif. Siapa yang baik padanya, siapa yang jahat padanya, dia selalu bisa merasakannya. Inilah yang dia rasakan dengan hatinya yang muda dan lembut, itu tidak ada hubungannya dengan usia.

Chu Yu mengusapkan jarinya dengan ringan ke leher Zhen’er, pada gambar kunci giok mutiara umur panjang1 dari bawah pakaiannya. Giok berkualitas tinggi dipoles dengan cermat, berpola dengan awan keberuntungan2 di bagian depan dan diukir dengan nama Zhen’er di bagian belakang.

“Papamu secara pribadi memakaikan ini pada Zhen’er di hari ulang tahun Zhen’er yang satu bulan. Papamu berharap Zhen’er aman dan sehat, dan panjang umur.” Chu Yu dengan hati-hati menyelipkan kunci umur panjang kembali di bawah kerah Zhen’er dan melanjutkan, “Jadi, apapun gosip yang Zhen’er dengar dan orang lain katakan, jangan percaya. Papa sama seperti ayah, kami berdua mencintaimu.”

Zhen’er berkedip, lalu dengan serius menganggukkan kepalanya.

Chu Yu mengelus kepala kecil putrinya, “Sama dengan nenek dan bibimu, mereka semua menyukaimu. Hanya saja terkadang mereka menjadi kesal karena hal lain dan mungkin dalam suasana hati yang buruk, tetapi tidak ada yang ditujukan pada Zhen’er.”

Seorang putri bangsawan — yang terdengar seperti latar belakang keluarga yang patut ditiru, tapi siapa yang tahu perselisihan yang terjadi di kedalaman rumah? Berapa banyak rumah tangga yang ditempa dengan perselisihan terbuka dan perjuangan terselubung? Berapa banyak wanita muda yang belum menikah dari keluarga bangsawan yang tumbuh di tengah penipuan dan intrik? Jika mungkin, Chu Yu berharap Zhen’er tidak akan pernah ternoda oleh hal-hal semacam ini.

Dia ingin putrinya untuk sepenuhnya mengingat bahkan kebaikan terkecil yang ditunjukkan kepadanya oleh orang lain — bukan untuk hal lain, tetapi untuk harapan bahwa, di mata Zhen’er, dunia akan selalu baik dan berbelas kasih kepadanya sebagai balasannya, sehingga bahkan dinginnya akan lebih lembut dari yang bisa dia bayangkan.

Dan untuk aspek kehidupan yang gelap dan tak tertahankan, sebagai seorang ayah, bukankah punggungnya dimaksudkan untuk melinyelamatkan dan melindungi putrinya dari hal-hal seperti itu?

_ _

Qin Zheng tidak tahu berapa lama dia berdiri di luar, tapi dia masih bisa mendengar Chu Yu dengan lembut menghibur Zhen’er dengan kata-kata lembut melalui pintu.

“Oh? Apa yang Marquis lakukan berdiri di luar seperti ini selama ini?” Qiu Yue, kepala pelayan kediaman Chu Yu telah membawa obatnya dan, setelah melihat Qin Zheng berdiri di luar pintu, dengan sengaja meninggikan suaranya.

Suara di dalam terdiam.

Jantung Qin Zheng berdetak kencang.  Dia ingin pergi, tetapi pada saat yang sama, dia merasa bahwa menutup-nutupi hanya akan memperburuk keadaan, jadi dia hanya bisa menguatkan diri dan memasuki rumah. Melewati ruang luar, dia memasuki ruang dalam yang hangat, segera melihat Chu Yu duduk di tempat tidur.

Dilucuti dari pakaian mewahnya yang biasa, Chu Yu ternyata sangat lemah. Jubah sutra bersalju yang dia kenakan memperlihatkan sedikit bagian dadanya, rambut panjangnya yang longgar jatuh dengan lembut di sepanjang punggungnya yang kurus dan mengendap di tempat tidur seperti tumpukan bulu burung gagak. Namun terlepas dari betapa pucatnya dia, wajahnya tetap mempesona dan seperti batu giok seperti biasanya.

Chu Yu perlahan mengangkat alisnya, sikapnya yang biasa kembali lagi. Melihat ini, Qin Zheng menghela nafas lega; ini adalah Chu Yu yang dia kenali.

Adapun mengapa dia menghela nafas lega, bahkan dia tidak tahu.

“Qiu Yue, bawa gadis itu kembali ke kamarnya untuk beristirahat.” Chu Yu tidak pernah takut menghadapi Qin Zheng dalam pertarungan yang kejam, tapi dia tidak ingin Zhen’er terlibat.

Mendengar perintah itu, Qiu Yue mundur bersama Zhen’er, yang masih enggan berpisah dengan ayahnya.

Chu Yu berpikir bahwa apa pun yang terjadi, dia tidak bisa kalah dari yang lain dalam kekuatan. Namun, dia berbaring saat Qin Zheng berdiri, membuatnya jelas tidak menguntungkan. Ini sangat tidak menyenangkan baginya, jadi dia menunjuk ke bangku bersulam di sampingnya dan berkata, “Duduk.”

Qin Zheng menatap, sedikit kewalahan oleh pertunjukan kemurahan hati yang mengejutkan sebelum segera ingin menampar dirinya sendiri. Ini adalah rumahnya! Mengapa dia harus merasa terbebani oleh kebaikan orang lain…

Chu Yu mendapati banyak sekali ekspresi yang berkedip-kedip tak menentu di wajah Qin Zheng serta cara dia duduk di sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan merasa ada sesuatu yang salah. Dia berpikir, Qin Zheng tidak akan terombang-ambing seperti ini kecuali dia membutuhkan bantuannya untuk sesuatu. Tapi apa yang bisa memaksanya untuk menundukkan kepalanya dan mencari seseorang yang dia anggap sebagai musuh?

“Apakah kamu… Apakah kamu membunuh seseorang?” Sambil mengerutkan kening, Chu Yu mencoba mengeluarkannya.

Qin Zheng menatapnya, bingung, “Apa?”

Dengan reaksi seperti itu, mungkin bukan itu, tetapi Chu Yu tidak dapat memahami mengapa lagi dia berada di sini jika tidak ada yang mati.

Saat pemahaman muncul pada Qin Zheng, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasakan gelombang kemarahan, “Tuan Kedua tidak perlu menyusahkan dirinya sendiri. Jika memang ada tubuh yang mati, Marquis ini lebih suka membusuk di penjara daripada meminta Tuan Kedua bertindak atas namaku.”

Chu Yu tertawa sinis, “Sayang sekali, aku tidak bisa melihat Marquis membusuk di penjara.”

Wajah Qin Zheng goyah antara gelap dan terang. Setelah waktu yang lama, dia tiba-tiba berkata, “Bagaimanapun … aku ingin kamu berargumen karena ini menyangkut nyawa—”

Tangan Chu Yu yang memegang obat membeku, hatinya tiba-tiba dicekam rasa khawatir. Ada mayat? Seseorang benar-benar mati? Siapa korbannya?  Orang biasa atau bangsawan? Jika itu adalah orang biasa, pertama-tama tenangkan keluarga, lalu tangani dengan baik secara pribadi. Jika itu adalah seorang bangsawan, dia harus menyogok koneksinya, tetapi siapa yang tahu bagaimana keadaan di sana yang sehubungan dengan kasus ini.

Dalam sekejap, Chu Yu sudah mempertimbangkan sejumlah solusi.  Dia mengangkat kepalanya dan menatap Qin Zheng dengan serius.

Qin Zheng mengangkat dagunya, “Nyawa yang dimaksud tidak diambil oleh Marquis ini, melainkan Tuan Kedua.”

Chu Yu menatapnya dengan tatapan kosong, tidak mengerti.

Qin Zheng berkata, dingin dan tenang, “Jenis obat apa yang dipegang Tuan Kedua sekarang?”

Untuk pertama kalinya, Chu Yu menundukkan kepalanya, agak bingung. Secangkir obat terasa hangat, aroma kaldu hitamnya sangat pahit, permukaan cairan yang sedikit bergetar memantulkan matanya.

Qin Zheng membuka mulutnya dan berkata, dengan hati-hati melafalkan setiap kata, “Tuan Kedua yang terkasih, ini adalah semangkuk obat pencegahan keguguran.”

Pupil mata yang tercermin dalam ramuan hitam pekat itu tiba-tiba mengecil saat suara mendengung bersenandung melalui kepala Chu Yu. Tangannya yang gemetar tidak bisa lagi menahan berat cangkir obat dan jatuh ke lantai dengan benturan, pecah berkeping-keping dan menumpahkan obat ke seluruh tempat tidur.

Qin Zheng tidak tahu bagaimana menggambarkan apa yang dia rasakan.  Ini adalah pertama kalinya dia melihat Chu Yu mengungkapkan ekspresi ketidakberdayaan yang kosong di hadapannya, dan meskipun dia menemukan tindakannya sendiri tercela, ia juga tidak bisa menahan perasaan sedikit senang.

Chu Yu terlalu kuat, jadi Qin Zheng selalu dikuasai olehnya dalam segala aspek kehidupan. Hanya ada satu tempat di mana Qin Zheng bisa mengalahkan Chu Yu dan itu adalah di tempat tidur.

Keheningan yang mematikan memenuhi ruangan. Entah berapa lama waktu telah berlalu – mungkin untuk menghabiskan secangkir teh3 atau membakar sebatang dupa4 — Chu Yu bergumam pada dirinya sendiri, jari-jarinya yang pucat menggali ke dalam tempat tidur, “Itu tidak mungkin, waktu itu aku sudah meminum rebusan untuk mencegah kehamilan.”5

Qin Zheng sedikit mengernyit.  Kemudian, setelah beberapa saat, dia tertawa pelan saat dia dengan malas duduk kembali ke bangku bersulam.  Namun, bangku bersulam itu terlalu pendek dan tanpa tempat untuk meletakkan kakinya yang panjang, dia hanya bisa merentangkannya di depan. Dia berkata, “Aku ingat orang yang telah bersama Tuan Kedua pada saat itu adalah Pangeran Ning. Keluarga Ning mengatur rute garam Jiangsu dan Zhejiang, dan berharap untuk mendapatkan rute garam tambahan dari Tuan Kedua di lelang akhir tahun, tapi sayangnya, ini tidak mudah. ​​Tapi bagaimana jika Tuan Kedua tidak memiliki energi untuk mengawasi Lelang Departemen Rumah Tangga Kekaisaran tahun ini? Tidak akan sulit untuk menyuap Manajer Chu, pemilik rumah bordil itu, tapi siapa yang akan diuntungkan dari ini?”

Wajah Chu Yu pucat pasi saat jari-jarinya mengepal tanpa sadar.

Sekarang setelah dia bebas dari pengaruh alkohol dalam jumlah berlebihan, seolah-olah Qin Zheng telah menumbuhkan kembali otaknya, alasannya jelas dan tanpa cacat.

Qin Zheng melirik Chu Yu dan berkata, “Tabib Kekaisaran Chen mendiagnosisnya secara pribadi: kamu sedang hamil dua bulan. Jadi, seharusnya waktu itu saat Tuan Kedua telah memunggungi suaminya6 dan menemukan kekasih baru.”

Dua bulan lalu…

Saat dia memikirkan malam itu, wajah Chu Yu tampak membentuk lapisan tipis es.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Chu

Footnotes

  1. 长命锁 – chàng mìng suô – jimat numismatik Cina berbentuk seperti kunci yang diberikan kepada anak-anak sebagai jimat pelindung.
  2. 吉祥云 – jí xiáng yún – Simbol keberuntungan; 云 yún (“awan”) memiliki pengucapan yang mirip dengan 运 yùn (“keberuntungan”).
  3. Sekitar 10-15 menit.
  4. Sekitar setengah jam.
  5. 避子汤 – bì zi tāng – Secara harfiah “sup pencegah anak.”
  6. 琵琶別抱 pípa bié bào – Secara harfiah “untuk membawa pipa ke yang lain”;  awalnya dimaksudkan untuk menggambarkan seorang wanita yang memilih untuk menikah lagi (dan dengan demikian mengkhianati suami pertamanya); berasal dari puisi dinasti Tang (琵琶行) pipa xỉng (“Balada Pipa”) oleh Bai Juyi.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments