• Post category:Yingnu
  • Reading time:22 mins read

Subjek ini rela mati untuk Yang Mulia.

Penerjemah: Rusma
Editor: Jeffery Liu


Di senja hari, bintang Hongluan1Bintang berwarna merah, dianggap sebagai bagian dari metode Astrologi Bintang Ungu, dianggap bisa mangatur pernikahan dan kemakmuran. Luan yang sama yang muncul pada bab 1. tergantung di atas Aula Yanhe seperti bola api besar yang menyala.

Teh yang digenggam oleh tangan Sekretariat Agung sudah mendingin. Dia bangkit dan bertanya, “Kaisar?”

Li Xiao tenggelam dalam pemikiran yang berkepanjangan, dan Sekretariat Agung lanjut berkata, “Tulang subjek ini telah lama tidak baik-baik saja dalam beberapa tahun terakhir ….”

Li Xiao berbicara, “Pelayan, datang dan bawa Guru kembali untuk beristirahat. Besok, ketika kamu punya waktu, kamu dapat kembali ke aula dan memberi tahu raja ini tentang apa yang terjadi selanjutnya.”

Sekretariat Agung tersenyum dan membungkuk, tetapi sebelum dia pergi, dia melihat ke arah penjaga. Dia tiba-tiba berkata, “Maafkan subjek ini karena cukup berani untuk menanyakan lebih lanjut, tetapi kejahatan apa yang telah dilakukan anak ini?”

Li Xiao masih memikirkan cerita yang telah dirinci Sekretariat Agung kepadanya, dan dia menjawab tanpa berpikir, “Itu tidak penting. Awalnya dia akan digantung malam ini, tetapi shichen yang benar telah berlalu, jadi kunci saja dia ke dalam penjara kekaisaran, ba.”

Sekretariat Agung mengangguk, “Subjek ini akan pergi sekarang.”

Sekretariat Agung keluar, begitu pula Yingnu telah dikawal pergi, meninggalkan penguasa negara Li Xiao duduk di atas takhta naga, menatap ke angkasa.

Li Xiao memanggil kereta dan melewati taman kerajaan. Tetapi ketika dia akan kembali ke kamar tidur kekaisarannya, dia berubah pikiran, menuju ke Aula Yangxin untuk melihat Janda Permaisuri.

Janda Permaisuri duduk di kursi rendah, dengan sedih menonton pertunjukan Permainan Boneka Bayangan. Cahaya lampu bersinar dengan anggun di papan kulit sapi, memamerkan warna-warna cerah, seolah-olah itu adalah kenangan indah masa lalunya.

Para pejabat itu mengumumkan bahwa Yang Mulia telah tiba. Janda Permaisuri tidak pernah menyangka Li Xiao akan datang pada saat ini, jadi ia bergegas menyuruh pelayannya membersihkan Boneka Bayangan dan menyajikan teh panas.

Li Xiao berkata dengan lembut. “Tidak perlu, Permaisuri bisa terus menonton, Huang’er punya waktu luang dan datang untuk duduk sebentar.”

Janda Permaisuri berkata dengan ekspresi dingin, “Kaisar juga punya waktu luang?”

Harem kekaisaran memiliki janda permaisuri sebagai pemimpin mereka. Janda permaisuri juga adalah ibu kandung Li Xiao, jadi tentu saja tidak ada yang akan berani meremehkan Aula Yangxin. Dan dengan keadaan yang seperti itu, dengan istana belakang yang cukup besar ini hanya diisi oleh seorang nyonya — Janda Permaisuri — tampaknya sedikit kosong.

Janda permaisuri semakin tua. Li Xiao mengamati wajahnya. Kerutan di sekitar bibir nyonya tua membentang ke lipatan mulutnya, dan bibirnya dicat merah tua yang menarik perhatian. Dia memiliki aura ketegasan sehingga orang lain tidak berani menyinggung perasaannya; sejak Li Xiao bisa mengingatnya, dia selalu memakai ekspresi ini, enggan untuk membiarkannya rileks bahkan untuk sesaat.

Tidak peduli bagaimana Li Xiao muda mencoba mengungkapkan kedekatan dengannya, ia selalu memasang wajah dingin, tidak menunjukan kegembiraan ataupun pujian.

Kaisar sebelumnya telah meninggal lebih awal, dan putra mahkota memiliki tubuh yang lemah, jadi saat perebutan kekuasaan politik antara berbagai kasim, dia juga meninggal. Dia adalah orang yang mengangkat Li Xiao ke takhta yang awalnya bukan milik ibu dan anak ini, jadi karena kerajaan keluarga Li akan menjadi milik putranya untuk dilanjutkan, dia memiliki tugas untuk mengajar dirinya dengan ketat.

“Boneka bayangan,” Li Xiao lama termenung, sebelum mengeluarkan dua kata ini.

“Boneka bayangan,” kata janda permaisuri dengan tenang, menyeruput teh yang diberikan oleh kasim.

“Bertahun-tahun yang lalu, ayah kaisar-mu membawanya kembali ketika dia pergi ke Huaixi.”2Nama tempat ini secara harfiah adalah ‘sebelah barat Sungai Huai’ meskipun wilayah ini berbatasan dengan Sungai Huai di sisi selatan. Itu akan berlokasi di Provinsi Anhui saat ini.

Li Xiao memperhatikan dari samping. Janda permaisuri menghadapi kulit yang telah dipasang di depan, dan kaisar baru saja akan meminta para kasim untuk sedikit mengarahkan orang-orang kecil yang terus bergerak ke arahnya, ketika tiba-tiba permaisuri berkata, “Dalam sepuluh hari lagi, Huang’er akan menikah. Apakah kamu mengetahui pertunjukan ini secara keseluruhan?”

Li Xiao menggelengkan kepalanya, dan permaisuri berkata, “Lakon ini adalah tentang hal-hal yang terjadi di era Tongli, ketika keluarga Fang merebut takhta, dan putra keempat kaisar, orang yang disebut Raja Keempat. Yang Mulia, Li Wei, menikahkan putrinya, Putri Tai’an, dengan anggota keluarga ibu permaisuri, Fang Qingyu. Dalam catatan pengadilan kekaisaran, Fang Qingyu dipromosikan menjadi Asisten Menteri Angkatan Darat.”

Li Xiao mengangguk, “Perpaduan yang baik antara suami dan istri.”

Permaisuri melanjutkan, ekspresinya tak berubah sedikit pun, “Perpaduan yang baik antara suami dan istri? Yang Mulia sepertinya belum banyak membaca sejarah sejak kamu masih muda, dan karenanya tidak terbiasa dengen seluk-beluknya.”

Li Xiao, “Raja ini belum membaca banyak sejarah, itu benar. Dan untuk bagian-bagian tertentu, ada terlalu banyak sejarawan istana yang menyukainya, tentu saja raja ini terlalu malas untuk membaca detailnya dan karena itu hanya membaca sekilas. Fang Qingyu adalah seorang pengkhianat, raja ini tahu sebanyak itu.”

Janda permaisuri tiba-tiba menghela napas. “Ketika seorang wanita menikah, dia harus bercita-cita tinggi; ketika seorang pria mencari seorang istri, dia harus bercita-cita rendah.3Pepatah mengatakan, seorang wanita harus menemukan seseorang yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi seorang pria tidak dapat menemukan wanita yang posisinya terlalu di atas atau dia akan menghancurkannya. Atau begitulah, tampaknya. Yang Mulia, Li Wei melakukannya dengan baik untuk melindungi keluarga besarnya, dan bahkan kemudian, tiga bulan setelah Fang Qingyu menikahi sang putri, dia berkuda untuk menekan Xiongnu, hanya untuk menghilang dalam pertempuran.”

“Putri Tai’an telah dilatih dalam seni bela diri sejak dia masih muda. Setelah menjaga kamar tidur mereka yang kosong sendirian selama bertahun-tahun, dia dengan tegas berhasil pergi, menyamar sebagai seorang pria untuk masuk dalam keprajuritan dan menuju ke garis depan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada suaminya. Akhirnya, di tepi Sungai Xiaogu, dia berhasil menemukan tulang Fang Qingyu, dan dia menangis selama tiga hari tiga malam. Air matanya yang berdarah menodai Sungai Xiaogu menjadi merah, sebelum akhirnya dia menceburkan diri ke sungai dan mengakhiri hidupnya.”

Li Xiao tiba-tiba berkata, “Dengan perkataan dari Ibu Permaisuri ini, raja ini tiba-tiba teringat bahwa dia pernah menonton lakon ini di masa mudanya.”

Janda permaisuri berkata dengan tenang, “Pertunjukan berakhir ketika dia melemparkan dirinya ke sungai. Apakah kamu tahu apa yang terjadi setelahnya?”

Li Xiao menggelengkan kepalanya, dan dia menghela napas panjang. “Fang Qingyu ini, dia tidak mati. Bukankah itu aneh?”

Li Xiao mengerutkan alisnya. “Ini memang aneh.”

Janda permaisuri mengubah topik pembicaraan. “Adapun alasan dia melakukannya, tidak ada yang tahu. Jika kaisar punya waktu luang, kamu bisa membaca naskahnya.”

Li Xiao menjawab singkat, “Raja ini akan menuruti keinginan Ibu Permaisuri.”

Janda permaisuri, “Huang’er, jangan meremehkan emosi. Kamu akan segera menikah, dan kamu bahkan belum melihat wanita dari keluarga Lin, bagaimana pernikahan ini? Dari saat kamu muda hingga sekarang, Ibu Permaisuri paling khawatir tentang masalah ini.”

Li Xiao berkata dengan tajam, “Raja ini belum menyukai seseorang, jadi tentu saja dia tidak bisa mengerti.”

Perlahan, janda permaisuri berkata, “Rakyat Da Yu kami, mereka semua menghormatimu sebagai penguasa mereka, dan kamu membawa rasa hormat jutaan orang. Apa yang telah diajarkan oleh Guru Agung kepadamu?”

Li Xiao, “Cintai rakyat seperti anak-anakku sendiri.”

Janda permaisuri, “Tepat. Cinta pribadi ada di dalam hati, dan cinta itu pasti besar. Jika kamu tidak mengerti bagaimana menahan emosi lembut untuk istri dan anak-anakmu, bagaimana kamu akan mencintai rakyatmu?”

Li Xiao mengangguk dan bangkit. “Apa yang dikatakan Ibu Permaisuri benar.”

Permaisuri awalnya ingin melanjutkan, tetapi melihat bahwa kaisar sedikit tidak sabar, dia hanya bisa berhenti dengan topik ini. Dengan ekspresi dinginnya yang biasa, dia berkata, “Kaisar harus kembali dan memikirkannya lagi.”

Setelah Li Xiao pamit kepada janda permaisuri, dia kembali ke istananya dan makan malam. Buku akun masih terbuka di atas meja dan para kasim masuk untuk menyalakan lampu, tetapi kaisar tidak tega memeriksa kertas-kertas itu.4Di sini merujuk pada praktik khusus meninjau pengajuan pejabat pengadilan dan (di beberapa dinasti) rakyat jelata, saran dan keluhan mereka tentang keadaan saat ini. Kata “eksekusi” dan lingkaran merah di buku akun dari tadi malam itu masih ada di sana.

Pemohon, Lin Yi — memiliki hubungan keluarga dengan calon permaisuri, Menteri Dalam Negeri.

Isinya tentang mereduksi berbagai institusi istana kekaisaran; posisi Yingnu bisa disingkirkan seluruhnya.

Di akhir, nama Yingnu saat ini disebutkan: Xu Lingyun.

Li Xiao membiarkan buku akun itu tidak tersentuh selama hampir sebulan. Awalnya dia ingin memeriksa bagaimana Yingnu bernama Xu Lingyun ini telah menyinggung keluarga Lin di pengadilan saat ini, tetapi kemarin dia secara kebetulan mendengar beberapa penjaga mendiskusikan satu hal — Yingnu bergosip tentang kaisar, dan ketika dia berbicara, deskripsinya sangat jelas, lengkap dengan mata dan hidung.5Saat menambahkan deskripsi pada sesuatu.

Saat Li Xiao mendengarkan, dia merasakan kemarahan muncul dalam dirinya, dan karena itu dia terlalu malas untuk memeriksanya lagi. Sebaliknya, dia memerintahkan agar para penjaga itu diseret keluar dan dieksekusi, sebelum mengirim orang untuk membawa Yingnu ke aula — sebaliknya, Yingnu tetap diam, dan Li Xiao dengan serius mempertimbangkan kematiannya dengan hukuman lingchi.6Kematian klasik dengan seribu luka.

Bergosip tentang kaisar adalah satu hal, tetapi topik diskusi mereka adalah hal-hal cabul, yang membuat Li Xiao sangat marah.

“Apa yang dikatakan Xu Lingyun?” Li Xiao berkata.

Di satu sisi kepala penjaga gemetar dan terkejut, dan Li Xiao berkata lagi, “Ulangi lagi dari awal, dan kamu akan selamat.”

Kepala penjaga merenung untuk waktu yang lama, sebelum menjawab, “Xu Lingyun ini memiliki masalah di kepalanya, dan subjek ini percaya bahwa kata-kata yang diucapkan orang ini … benar-benar tidak dapat dibiarkan begitu saja.”

Li Xiao berkata, “Biarkan. Bawa dia masuk, aku ingin menanyainya.”

Xu Lingyun dibawa ke ruang belajar kekaisaran, wajahnya berlumuran darah segar. Mahkota berbulu yang dia kenakan telah dilepas, dan seluruh tubuhnya dipenuhi luka. Para penjaga sangat kejam; serangan keras dari cambuk menyelimuti tubuhnya, dan darah segar merembes dari tempat kulit terbelah untuk memperlihatkan daging mentah di bawahnya.

Li Xiao berkata dengan dingin, “Kapan raja ini memerintahkan kalian untuk menyiksanya?”

Para penjaga yang menahan tahanan bukannya tanpa rasa takut, dan dengan suara gemetar, mereka menjawab, “Menjawab Yang Mulia, orang ini… tidak mau berganti seragam tahanan.”

Li Xiao melihat seragam Xu Lingyun menempel di kulitnya karena darah. Meskipun dia memiliki beberapa otot di tubuhnya yang masih muda, warna wajahnya menjadi pucat setelah dipukuli dengan kejam. Jelas, dia tidak jauh dari kematian.

Xu Lingyun dipaksa berlutut di tanah, kepalanya terkulai.

Li Xiao berkata, “Penjaga tahanan mana yang melakukan ini? Bawa dia ke sini.”

Ruang belajar kekaisaran dipenuhi dengan keheningan, dan saat ini sipir dibawa ke luar ruangan.

Li Xiao bahkan tidak meliriknya. “Bawa dia keluar dan eksekusi.”

Kepala tahanan memohon dengan keras untuk pengampunan, tetapi diseret oleh penjaga di dekat pintu.

“Xu Lingyun,”‘ Li Xiao berkata dengan dingin.

“Subjek ini … ada di sini …” Kesadaran Xu Lingyun kabur, dan dia berbicara pelan.

Li Xiao, “Angkat kepalamu dan jawab.”

Kepala penjaga memaksa kepalanya sedikit. Tatapan Xu Lingyun kendur, pupil matanya tumpul.

Li Xiao, “Ulangi apa yang kamu katakan sebelumnya kata demi kata, tanpa menyembunyikan apa pun.”

Xu Lingyun bergumam, “Subjek ini … bersedia … mati … untuk Yang Mulia …”

Li Xiao memperhatikan Xu Lingyun, dan rasa jijik yang tak terkatakan muncul di hatinya. Mengetahui bahwa orang ini adalah seorang pengkhianat, seorang homoseksual, dia memikirkan bagaimana ketika kaisar melakukan perjalanan, Xu Lingyun sering menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya.

Dan orang ini juga telah membicarakan masalah pernikahan agung kaisar secara pribadi dengan orang lain, tidak senang dengan bagaimana raja berkeliling dengan suasana yang bermartabat itu …

Itu semua adalah pikiran yang kotor dan menyedihkan.

Li Xiao, “Kamu bahkan berani bergosip tentang pernikahan raja ini?!”

Xu Lingyun sudah benar-benar kehilangan kesadaran. Dia terus mengulangi “subyek ini bersedia mati untuk Yang Mulia, atau sebaliknya “bersedia mengikuti Yang Mulia”. Melihat bahwa lantai ruang belajar sekarang ditutupi dengan sepetak besar darah, Li Xiao hanya bisa berkata, “Bawa dia pergi, pastikan dia sembuh, raja ini akan menanyainya lagi.”

Mendampingi seorang master seperti menemani seekor harimau; kegembiraan dan kemarahan Li Xiao sulit dibaca, tetapi dengan kalimat biasa dari mulutnya, dia secara tidak sengaja menyelamatkan hidup Xu Lingyun.

Tidak ada yang tahu apakah Li Xiao merasakan kegembiraan atau kemarahan di hatinya, dan mereka hanya bisa membawa Xu Lingyun ke istana samping, di mana kepala penjaga sendiri mengundang tabib kerajaan untuk memberikan diagnosis kepada pasiennya. Yingnu harus disembuhkan dengan benar.

Xu Lingyun berada di ambang kematian ketika tabib kerajaan datang, dan tabib itu menjelaskan bahwa dia perlu menerima nutrisi yang cukup, juga menghentikan pendarahan. Kepala kasim kemudian mengirim dua orang kasim untuk melayaninya.

Keesokan harinya, Sekretariat Agung memasuki istana.

Li Xiao belum selesai meninjau memorialnya untuk takhta ketika Sekretariat Agung memasuki aula. Li Xiao memperhatikan orang tua ini. Sejak dia masih muda, dia menyukai cendekiawan ini karena dia tidak pernah berbicara tentang prinsip-prinsip umum yang tidak berarti, dan jarang memilih kata-katanya dengan cermat seperti yang lain, takut memberi makan pangeran terlalu banyak informasi yang bias.

Sekretariat Agung percaya bahwa putra mahkota memiliki kemampuannya sendiri untuk membedakan sesuatu. Li Xiao juga percaya, jadi Sekretariat Agung tidak banyak mengajarinya.

Setidaknya lelaki tua itu belum mencoba dan mengarahkan putra mahkota ke arah yang Sekretariat Agung inginkan.

“Kamu dipersilakan duduk.”

“Terima kasih banyak, Yang Mulia!”

Li Xiao berkata, “Lin Yi dan Menteri Pendapatan bersama-sama mencatat nama mereka di pembukuan, meminta perbendaharaan untuk melepaskan tiga puluh ribu liang perak sebagai bantuan bencana untuk wilayah Jiangnan. Apa pendapat Guru tentang ini?”

Sekretariat Agung terdiam sejenak, sebelum dia mengelus jenggotnya. “Keluarga paman ibu Lin Yi adalah keluarga berpengaruh di Yangzhou.”

Li Xiao mengangguk. Dengan kalimat Sekretariat Agung ini, kaisar mengambil keputusan. Dia meletakkan kuas dengan tintavermillion terang7Khusus untuk mereview dokumen. Tinta yang di gunakan adalah vermilion., sebelum bertanya, “Kemarin, Guru menceritakan titik di mana Chengzu terserang penyakit panas, lalu apa yang terjadi?”

Seolah sedang memikirkan sesuatu, Sekretariat Agung menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain. “Apakah Yang Mulia tahu pepatah yang mengatakan, ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’?”

Li Xiao tidak bisa menahan sedikit sudut mulutnya, dan dia menegur, “Keyakinan yang tidak berdasar.”

Sekretariat Agung mengangguk sedikit. “Beberapa orang mempercayainya, beberapa lainnya tidak, tetapi bagaimanapun bukan tugas subjek lama ini untuk memutuskan. Setelah Chengzu terbangun, dia tidak dapat mengingat apa pun, dan di matanya hanya ada satu orang: pengawal itu.”


Setelah terkena demam, setiap rumor yang didengar Li Qingcheng seolah membawa perasaan deja vu. Negara Da Yu, Putra Mahkota, Permaisuri, Jenderal Tang…

Saat terbangun malam itu di aula pengobatan E’niang, dia sebenarnya telah melupakan segala peristiwa dari sebelumnya. Di sisinya hanya “Ying-ge” yang tidak berbicara. Dia samar-samar mengingat beberapa hal yang kabur. Dia ingat kebiasaan dan praktik Negara Yu, dia ingat etiket dasar, dia ingat Dataran Barat, dia ingat Beiliang … tapi jika dia memikirkannya dengan cermat, semuanya berubah menjadi kabut.

Li Qingcheng ingat bahwa dia sendiri datang ke sini dari ibukota, tetapi di mana ibukota tepatnya berada, dia tidak dapat mengingat dengan jelas. Selain itu, dia juga lupa siapa baginya pelayan di sisinya ini.

Satu per satu, Zhang Mu mengeluarkan barang-barang yang dia bawa di sisinya untuk membantunya mengidentifikasi statusnya sendiri. Li Qingcheng melihat semua barang-barang itu tetapi tidak dapat mengingat asal-usulnya.

Akhirnya E’niang memberitahunya, seseorang telah melakukan makar di ibukota. Keluarga para Asisten Menteri dari Enam Kementerian dan jenderal besar telah dipisahkan.8Bagian dari proses yang disebut (抄家), yang melibatkan pencarian properti lalu mengambilnya serta tabungan keluarga dan dalam beberapa kasus memecah keluarga. Dia adalah tuan termuda dari Jenderal Agung pengadilan saat ini, yang disebut Tang Hong. Keluarga Tang setia pada takhta, dan mereka nyaris tidak lolos dari hasil penyitaan properti mereka dan sembilan ikatan keluarga mereka dimusnahkan9Melibatkan eksekusi tidak hanya individu, tetapi juga anggota keluarga mereka yang termasuk dalam sembilan kategori terdekat: empat kategori di pihak ayah, tiga di pihak ibu, dan dua di pihak istri. karena Yingnu telah melindunginya saat mereka melarikan diri. Nama ini bukanlah nama yang bisa dia gunakan di luar, karena sisa-sisa dari mereka yang telah melakukan pengkhianatan saat ini sedang melacak keberadaan mereka.

Li Qingcheng menerima penjelasan ini dengan ragu. Adapun bagaimana mereka harus hidup di masa depan, E’niang dan Yingnu tidak memiliki apapun untuk dikatakan. Ini adalah sesuatu yang terlalu jauh di luar jangkauan dari apa yang dapat mereka rencanakan, dan awalnya tugas itu jatuh pada Li Qingcheng sendiri.

Aku dipanggil Tang Hong, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?

Setelah beberapa saat kebingungan, rencana pertama yang dibuat Li Qingcheng adalah untuk mengalahkan para pemberontak dan mengambil kembali semua yang menjadi haknya.

Di sisinya hanya ada seorang pengawal bisu yang tidak bisa memberikan masukan. Li Qingcheng membalikkan masalah ini berulang kali di kepalanya untuk waktu yang lama, tetapi masih tidak memiliki petunjuk, jadi dia hanya bisa menghitung satu langkah ketika dia mengambilnya.

Jika itu adalah orang normal, mereka secara logis akan memilih opsi terbaik: menghindari hembusan angin langsung10Jauhi pusat keramaian, hindari mendapatkan perhatian yang kemudian akan sulit untuk disembunyikan., melarikan diri jauh ke pegunungan dan hutan, dan akhirnya menyapa akhir hidupnya dengan pelayan bisu ini.

Tapi Li Qingcheng samar-samar merasa bahwa segalanya tidak sesederhana ini. Di lubuk hatinya, sebuah suara berkata, aku tidak boleh menyerah. Dia dan Yingnu memanggil satu sama lain seperti saudara yang baik, dan di luar dia akan memanggilnya “Ying-ge”. Mereka mendapat sedikit modal dari E’niang, dan mendengar bahwa Xiongnu telah menyerbu dan membawa malapetaka perang dengan mereka, dia memutuskan bahwa mereka harus terlebih dahulu menuju ke utara untuk melihat-lihat.

Bagaimana mereka menginvestasikan sedikit modal ini dalam pertahanan untuk garis depan, dengan demikian menyelesaikan langkah pertama untuk akumulasi pasukan yang diperlukan untuk memulihkan tanah mereka, Li Qingcheng masih sedikit ragu. Lagi pula, tidak peduli seberapa keras dia mencoba mengingat, dia tidak punya pengalaman melakukan bisnis apa pun. Tetapi sekarang setelah semuanya berjalan sebagaimana adanya, jika mereka tidak pergi sekarang, maka mereka tidak perlu melakukannya selama sisa hidup mereka.

Jadi dia mengemasi beberapa barang bawaan, dan ketika berita gelombang kedua datang tentang Dataran Barat yang jatuh ke tangan musuh, dia membawa Yingnu-nya bersamanya menuju Gunung Feng.

Dia beruntung bahwa pelayannya yang bisu ini sangat terampil dalam pertempuran. Sebenarnya dia tidak bisu, dia hanya jarang membuka mulutnya. Dari luar terlihat terlalu pendiam, dari hal-hal besar hingga kecil, dia tak pernah menentang keputusan Li Qingcheng.


Bab SebelumnyaBab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments