• Post category:Xiao Zhang
  • Reading time:24 mins read

Warna tangan yang sehat cenderung memiliki corak bercak dan bintik. Warnanya lebih terang di lekukan telapak tangan dan lebih menggelap di dekat bagian bawah telapak tangan.

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Koejirolu


Ding Ji tidak berbicara, jantungnya melompat.

Biasanya ketika dia menatap orang asing dalam satu pandangan, jantung orang asing itulah yang akan “melompat”, tapi hari ini, ketika dia tiba-tiba ditatap oleh orang asing ini dalam satu pandangan… kasarannya, Lin Wuyu adalah orang asing…

Benar.

Tapi bagaimana kau bisa tahu?

… Membuatku kehilangan wajah seperti ini!

“Aku melihat bekas penghapus pada kata ajaib,” kata Lin Wuyu.

“Tidak, itu hanya pengakuan kalau aku dulu sembrono dan terlalu tidak terkendali saat aku masih muda.” Ding Ji tidak mengakuinya.

“Oh.” Lin Wuyu tertawa dan tidak bertanya padanya lagi, hanya berbalik dan terus memandunya.

Dari senyum di sudut mulutnya, Ding Ji bisa mengatakan bahwa Lin Wuyu tidak benar-benar mempercayai penolakannya, dan sampai batas tertentu, penolakannya secara kasar membuat Lin Wuyu mengkonfirmasi jawabannya.

“Kau sudah menyimpan buku ini selama sekitar sepuluh tahun, ‘kan?” Lin Wuyu bertanya sambil berjalan.

“Mm,” Ding Ji membenarkan. “Aku berencana menjadikannya sebagai pusaka keluarga.”

“Kenapa kau begitu khawatir kehilangannya?” Lin Wuyu bertanya. “Kau mungkin sudah benar-benar menghafal isi buku ini sejak lama …”

“Aku tidak bisa menghafalnya,” kata Ding Ji. “Aku harus membacanya setiap hari.”

“Tidak mungkin seburuk itu.” Lin Wuyu tertawa. “Aku kurang lebih bisa menghafalnya setelah membacanya selama dua hari.”

“Teruslah membual, aku akan menjaga rahasiamu,” jawab Ding Ji tanpa berpikir.

“Warna tangan yang sehat cenderung memiliki corak bercak dan bintik. Warnanya lebih terang di lekukan telapak tangan dan lebih gelap di dekat bagian bawah telapak tangan.” Setelah mengatakan ini, Lin Wuyu menoleh ke belakang dan menatapnya. “Orang yang ragu-ragu biasanya merasa sulit untuk mengepalkan tangannya dengan erat, dan ketika mereka mengepalkan tangan, mereka sering menyembunyikan ibu jari di tengah telapak tangan.”

Ding Ji juga menatapnya.

“Di sebelah kalimat ini tertulis, ‘Belum tentu, mungkin juga karena kurangnya rasa aman.’”

Senyum di wajah Lin Wuyu memudar. Ekspresinya sangat tulus. “Cukup mengesankan bagi seorang anak sekolah dasar untuk mengetahui hal-hal ini. Buku apa yang biasa kau baca?”

“Persetan,” kata Ding Ji.

“Tanda horizontal pada lengkungan kuku menunjukkan semacam peristiwa yang terjadi sehubungan dengan kesehatan yang pernah menyebabkan kuku berhenti tumbuh.” Lin Wuyu tersenyum. “Ini semua adalah isi buku yang kau beri catatan.” 1Tanda horizontal pada kuku ini biasanya menjadi tanda batas saat kamu memotong kuku.

“Apa kau ingin aku bertepuk tangan untukmu?” kata Ding Ji.

“Tentu.” Lin Wuyu mengangguk.

“Tidak ada yang digarisbawahi setelah kalimat berhenti tumbuh,” kata Ding Ji.

“Kalau aku mengatakannya,” kata Lin Wuyu, “apa kau bisa segera memverifikasinya?”

“… Tidak,” kata Ding Ji. “Aku hanya mengingat gagasan umumnya saja.”

“Gagasan umumnya bukan masalah. Aku juga hanya ingat gagasan umumnya.” Lin Wuyu berdeham, berbalik dan terus berjalan di depan. “Ketika garis lengkungan mencapai ujung kukumu, penyakit akan menyerangmu. Diperlukan waktu sekitar enam bulan untuk menumbuhkan tanda guratan dari pangkal kuku hingga ujungnya, dan ketika situasi ini terjadi, kamu harus lebih memperhatikan masalah kesehatanmu…”

Lin Wuyu terus mendikte, tetapi Ding Ji tidak melanjutkan mendengarkan dengan seksama, tidak punya pilihan selain mengakui bahwa pada saat ini, dia mengagumi Lin Wuyu.

Ini bukanlah hanya gagasan umum. Meskipun dia berkata jika dia hanya mengingat gagasan umumnya saja, dia tahu bahwa isi buku yang dilafalkan Lin Wuyu adalah sesuai kata demi katanya.

Bahkan jika Lin Wuyu telah mempersiapkan sebelumnya untuk berpura-pura menjadi orang yang mengesankan dengan ingatan eidetik… mengatakan mengapa dia ingin melakukan hal yang membosankan dan berat ini di hari-hari ketika ujian masuk perguruan tinggi semakin dekat dan semua orang merasa seperti mereka tidak punya cukup waktu… mampu mengingat detail ini hingga kata demi kata adalah hal yang luar biasa.

Meskipun itu sangat membosankan.

Lagipula, Lin Wuyu belum tentu tahu bahwa dia bisa melafalkannya, dan dia juga tidak tahu bagian mana yang bisa dia lafalkan.


Ketika mereka berjalan ke pintu masuk asrama, Ding Ji memperlambat langkahnya. Manajer asrama biasanya memiliki kemampuan pengenalan yang menakjubkan, dan setidaknya mereka dapat membedakan bahwa ini bukan siswa sekolah mereka.

“Aku akan menunggu di sini…” Ding Ji belum selesai berbicara ketika Lin Wuyu sudah meraih pergelangan tangannya, lalu menariknya ke depan.

Ding Ji ditarik olehnya ke pintu masuk asrama dengan sedikit tersandung, dan dia belum mendapatkan kembali keseimbangannya ketika Lin Wuyu mendorong bagian belakang kepalanya ke depan: “Lari.”

“Brengsek.” Ding Ji mengeluarkan satu kata ini dari antara giginya, berlari bersamanya di bawah jendela ruang penjaga dan bergegas ke tangga.

“Asrama kami tidak mengizinkan orang luar masuk.” Lin Wuyu berhenti ketika mereka berlari ke lantai dua, berkata, “Maaf.”

“Da-ge! Aku sudah bilang kalau aku akan menunggu di luar.” Ding Ji sangat tercengang. “Aku tidak akan masuk!”

“Aku pikir kau ingin masuk dan melihat-lihat,” kata Lin Wuyu.

“Kenapa aku harus masuk dan melihat asrama laki-laki?” kata Ding Ji.

“Oh?” Lin Wuyu menatapnya.

“Aku juga tidak tertarik dengan asrama wanita,” Ding Ji segera menambahkan. “Aku tidak tertarik dengan asrama siswa.”


Tidak ada seorang pun di asrama. Lin Wuyu mengambil buku di dekat kepala tempat tidur, membolak-baliknya sedikit sebelum menyerahkannya kepada Ding Ji: “Kapan kau membeli buku ini?”

“Saat kelas satu.” Ding Ji mengambil buku itu dan meraba sampulnya. “Aku membelinya di kios buku.”

“Buku ini diterbitkan tahun 1988,” kata Lin Wuyu. “Seorang anak sekolah dasar benar-benar akan membeli buku ini, dan yang penting adalah buku itu ada di sana untuk dibeli.”

“Ini sangat menarik, kamu tidak mengerti.” Ding Ji memegang buku itu dan membalik-baliknya, perasaan familiar membuatnya lebih percaya diri. “Harga buku ini meningkat.”

“Hm?” Lin Wuyu tidak mengerti.

“Apa kau tahu berapa harga aslinya?” tanya Ding Ji.

“Dua yuan sembilan puluh,” kata Lin Wuyu.

“…Kau bahkan tahu hal ini?” Ding Ji menghela napas.

“Tentu saja. Aku sudah membaca sampai tanggal penerbitannya. Apa menurutmu aku tidak akan melihat harga di sebelahnya?” Lin Wuyu bersandar di meja.

“Sekarang naik sepuluh kali lipat. Harga buku bekas terendah adalah dua puluh sembilan.” Ding Ji menepuk buku itu.

Lin Wuyu tidak mengatakan apa-apa, hanya menatapnya.

Ding Ji juga balas menatapnya.

Setelah beberapa saat, dia tidak bisa menahannya dan akhirnya berkata: “Bukankah itu berarti nilai buku ini naik!”

“Itu benar.” Lin Wuyu mengacungkan ibu jarinya. “Kau memiliki otak untuk investasi.”

“Terima kasih.” Ding Ji menepuk buku itu. “Aku pergi.”

“Bagaimana kalau…” Lin Wuyu ragu-ragu. “Meminjamkanku buku ini untuk beberapa hari lagi?”

“Meminjamkannya?” Ding Ji menatapnya.

“Bukankah kau bilang kalau buku itu cukup menarik,” kata Lin Wuyu. “Biarkan aku melihat betapa menariknya buku itu?”

“Kau sudah bisa menghafalnya kata demi kata,” kata Ding Ji.

“Tidak juga. Aku hanya bertaruh kalau kau tidak bisa melafalkannya, tetapi kau pasti akan memiliki kesan pada tempat yang kamu beri catatan, jadi aku hanya membaca dua halaman di sekitar isi yang diberi catatan.” Lin Wuyu sebenarnya sangat jujur.

Tapi Ding Ji memperhatikan ungkapannya.

Dia baru saja membacanya. Tidak hanya menghafal. Dan selain itu, dia membaca dua halaman.

Ck.

Dia membuka buku itu dan membalik ke halaman di mana dia menulis namanya, menunjuk kata-kata di atasnya: “Kalau begitu, apa kau tidak ingat yang ini?”

Lin Wuyu mengangkat sudut mulutnya.

“Sudah tertulis di sini,” kata Ding Ji. “Tidak, akan, dipinjamkan.”

Ding Ji meraih buku itu, dengan anggun dan penuh semangat berjalan keluar dari asrama.

“Aku akan mengantarmu pergi.” Lin Wuyu mengikutinya keluar.

“Tidak perlu terlalu sopan,” kata Ding Ji.

Seseorang datang dari pintu masuk tangga. Ketika dia melihatnya, dia terkejut sejenak, lalu dengan cepat memiringkan kepalanya untuk melirik ke belakangnya: “Temanmu?”

“Mm,” jawab Lin Wuyu dari belakang.

Orang ini tidak mengatakan apa-apa lagi, memasuki asrama tetangga setelah tersenyum dan mengangguk pada Ding Ji.


Dia tidak tahu mengapa, tetapi kemunculan Xu Tianbo yang tiba-tiba ini membuat Lin Wuyu merasa agak malu.

Dia merasa seperti Xu Tianbo mungkin salah memahami sesuatu, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak punya alasan untuk menjelaskannya, dan dia bahkan tidak tahu apa yang ingin dia jelaskan.

Apa gunanya menjelaskannya?

Dia tidak mau melakukan hal-hal yang tidak berguna.

Tapi…

“Kenapa orang ini terlihat sedikit familiar?” Kata Ding Ji sambil menuruni tangga.

Karena kalian berdua mirip, anak ajaib. Apa kau bahkan tidak menyadarinya?

Lin Wuyu tidak mengatakan apa-apa, mengikuti di belakangnya dan menuruni tangga.

“Ah.” Ding Ji mengangkat tangan dan mengangkat jari telunjuknya. “Dia sedikit mirip dengan sepupuku.”

…Oke.

Dia tampak seperti orang yang cukup pintar, tetapi dia tidak menyangka kecepatan IQ-nya saat sedang offline begitu mencengangkan.

“Begitukah,” kata Lin Wuyu.


“Ya atau tidak. Tidak bisakah kau menjawab pertanyaan sesederhana itu?” Ayahnya saat itu tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.

“Pilihan yang kau berikan sangat sederhana.” Ding Ji sama sekali tidak menoleh ke belakang, bersandar di kursinya dan memiringkan kepalanya ke belakang. “Tapi pertanyaannya tidak selalu sederhana.”

“Apa pertanyaan ini begitu rumit? Apa kau berencana untuk menyerah pada ujian masuk perguruan tinggimu?” kata ayahnya. “Apa kau bersikeras untuk secara pribadi menurunkan level hidupmu?”

“Kenapa kau harus membagi hidup menjadi tiga, enam, sembilan tingkat?” tanya Ding Ji. “Dan itu dibagi berdasarkan standarmu? Kalau begitu bisakah aku menggunakan standarku untuk membagi tingkatan itu?”

“Jangan memberontak dariku,” kata ayahnya. “Jika bukan untuk kebaikanmu sendiri, di mana ibumu dan aku akan menemukan energi untuk berdebat denganmu seperti ini setiap hari!”

“Lalu jika itu benar-benar untuk kebaikanku sendiri, bisakah kau memikirkannya atas namaku?” Agak gelisah, Ding Ji duduk tegak, menoleh untuk menatapnya. “Seberapa besar kau benar-benar menyayangiku? Seberapa besar aku benar-benar menyayangi kalian berdua? Merupakan hal yang sangat baik bahwa kalian berdua sangat cerdas. Jika kalian tidak memahami psikologi, kalian bisa membaca buku. Aku punya banyak.”

Ayahnya menatapnya, tidak mengatakan apa-apa.

“Sebelum sekolah menengah, bagiku, Ibu dan Ayah hanyalah nama,” kata Ding Ji. “Nama yang tidak ada hubungannya denganku, dan itu hampir sama untukmu. Aku, Ding Ji, putramu, dikatakan sebagai anak ajaib. Bisa membaca saat berumur satu tahun, menulis puisi saat berumur tiga tahun, membaca Roman Tiga Kerajaan, tidak ada yang tidak bisa dia lakukan, hanya hal-hal yang dia tidak pelajari…”  

“Itu terlalu…” Ayahnya mengerutkan alisnya.

“Aku tahu itu terlalu berlebihan. Aku hanya membantumu merangkum citra dan harapan yang kau miliki terhadapku.” Ding Ji melambaikan tangan. “Tapi kapan kau kembali, huh? Anak ajaib hanya berada di peringkat lima besar di kelasnya? Terkadang hanya di sepuluh besar? Bukankah dia seharusnya selamanya menjadi tempat pertama, mengalahkan tempat kedua?”

“Diam!” Ayahnya menunjuk ke arahnya.

“Ayo kita berdua diam,” kata Ding Ji. “Aku tidak ingin berdebat, dan aku tidak menyalahkanmu karena tidak kembali, sungguh.”

Ayahnya menghela napas, sepertinya dia masih ingin mengatakan sesuatu.

Tapi Ding Ji tidak memberinya kesempatan. Ayahnya sudah dididik selama lima puluh tahun, tetapi dia tidak bisa melakukan hal-hal seperti berdebat dengan orang lain, dan dia tidak mau berdebat secara sepihak.

Jadi dia bangkit dan berjalan ke pintu, menutup pintu di depan wajahnya: “Tidak ada yang menjagaku selama sepuluh tahun dan aku sudah terbiasa bertanggung jawab atas segalanya. Kau harus mendidik anak-anak sejak usia dini. Setelah kesempatan semacam ini terlewatkan, pada dasarnya kamu tidak akan pernah memilikinya lagi.”


Setelah menunggu selama dua menit, Ding Ji membuka pintu lagi dan melihat keluar. Sudah tidak ada orang di ruang tamu. Ayah dan ibunya telah kembali ke kamar masing-masing.

Agar tidak mengganggu studinya, selama dia di rumah, TV di ruang tamu pasti tidak akan menyala.

Tekanan dan harapan tak berwujud semacam ini yang melebihi kemampuannya yang sebenarnya membuatnya merasa seperti tidak bisa bernapas.

Setelah kembali ke mejanya dan menatap kosong sebentar, Ding Ji meluruskan perasaannya dan mulai belajar.

Dia tidak bisa disebut sebagai orang yang sangat pekerja keras, tapi ini tidak seperti dia tidak tahu apa yang penting. Ketika tiba waktunya untuk belajar, dia masih bisa memaksakan diri. Dia tidak akan belajar untuk sebuah kuis, dia akan belajar untuk ujian, dan dia akan belajar sekeras yang dia bisa untuk ujian masuk perguruan tinggi.

Hanya saja dia tidak membutuhkan orang untuk mengawasinya selamanya tanpa henti. Dia mungkin sudah terbiasa dengan kebebasan, dan bahkan jika itu untuk kebaikannya sendiri, dia hanya ingin mengikuti ritmenya sendiri.

Berhenti menatap. Menatap lagi dan dia akan gagal.

Jika dia ditukar dengan Lin Wuyu, yang sekilas sangat berkepala dingin, disiplin, dan sangat percaya diri, orang tuanya mungkin akan sangat senang.

…Belum tentu. Lagi pula, dia masih menghafal Misteri Palmistri pada saat seperti ini.  

Ah, bukan menghafal. Membaca.

Ponselnya berdering dengan sebuah pesan.

Ding Ji tidak melihatnya. Begitu dia mulai belajar, dia akan berusaha untuk tidak diganggu. Bahkan jika pikirannya mengembara ke empat lautan, masih ada soal yang harus diselesaikan di bawah penanya. Selama dia berhenti, dia mungkin terlalu malas untuk memulai lagi.


— Kau bisa memastikannya? Aku bahkan tidak tahu seperti apa dia sekarang 

— Justru karena aku tidak bisa memastikannya makanya aku bertanya padamu. Mungkinkah dia tinggal di kota? Atau jika dia pergi ke luar kota, apakah ada tanggal yang relatif istimewa yang memungkinkan dia kembali? 

Lin Wuyu melihat pesan di ponselnya, jari-jarinya berhenti di atas layar. Bahkan ketika layar menjadi gelap, jemarinya tetap diam.

Dia tidak bisa memberikan jawaban untuk dua pertanyaan ini, dan dia bahkan tidak punya arah untuk menebak.

Dengan kata lain, dia selalu menghindari memikirkan konten apa pun yang terkait dengan “kakakmu.” Sering kali, orang ini hanya ada dalam ingatan yang jauh dan tertutup rapat, dan dia pasti tidak bisa menganalisisnya.

— Apa kau pikir itu karena kau akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi? 

Ponselnya menerima pesan lain dari Gong Lan.

Lin Wuyu merenung sejenak, menyentuh layar beberapa kali.

— Kami sepertinya tidak memiliki perasaan persaudaraan seperti ini 

— Kau mungkin terlalu kecil saat itu, dia sangat peduli padamu 

— Aku akan pergi tinggal di sana selama sehari besok, melihat apakah aku bisa bertemu dengannya 

— …Aku bisa pergi, apa kau tidak akan belajar? 

— Aku belajar tidak tergantung pada waktu atau tempat, tapi suasana hatiku

— Kau benar-benar layak untuk dipukuli

Lin Wuyu tersenyum, mengembalikan emoji selamat malam, dan meletakkan ponselnya ke samping.

Dalam beberapa tahun ini, Gong Lan telah memberi Lin Wuyu lusinan petunjuk. Digabungkan, tingkat dirinya bisa diandalkan adalah 0.

Bagaimanapun, petunjuknya bercampur dengan terlalu banyak perasaan pribadi.

Tapi Lin Wuyu masih berencana untuk mencoba peruntungannya. Dia perlu menemukan saklar yang membuat orang tuanya menekan harapan dan kekecewaan mereka yang saling terkait padanya secara bersamaan.

Selanjutnya, Gong Lan mengatakan bahwa tempat ini tidak terlalu jauh, di alun-alun bisnis dekat San Zhong.

Tapi ada terlalu banyak orang yang datang dan pergi. Bahkan jika itu benar, dia belum tentu bisa menemukan wajah dari sepuluh tahun yang lalu di antara begitu banyak orang.

Kenyataannya memang seperti ini.

Setelah sarapan, Lin Wuyu tiba di alun-alun bisnis dan berkeliaran selama tiga jam tanpa hasil.

Toko yang tak terhitung jumlahnya membentuk pusat perbelanjaan. Mobil, sepeda, mobil listrik, dan pejalan kaki seperti serangga yang bertebaran di tanah. Tidak ada cukup waktu untuk melihat mereka dengan jelas sebelum mereka tumpang tindih dengan apa yang ada di sebelah mereka.

Lin Wuyu merasa seperti dia mungkin bahkan tidak ingin mencari seseorang, hanya mencari alasan untuk keluar dan berjalan-jalan.

Ada kios bihun goreng di sisi jalan itu, super duper enak sampai meledak.

Dia bisa makan tiga bagian piring terbesar berturut-turut.

Jika dia datang lebih awal, dia tidak perlu mengantri.

Memegang dua piring, Lin Wuyu menemukan meja dua orang di dekat jendela dan duduk disana.

Jika dia makan sekarang, dia tidak perlu berebut kursi.

Saat dia makan, tatapannya selalu tertuju ke luar jendela.

Memperhatikan setiap orang, memperhatian setiap wajah. Otaknya akan membahas soal-soal dari kemarin malam, untuk kemudian menulis di buku catatan kecil yang dibawanya. Dia terlalu mengantuk kemarin dan dia sangat ingin sekali tidur, jadi dia hanya melihat topik pelajaran itu sekali. Dia hanya kebetulan memiliki waktu untuk melanjutkan pelajarannya sekarang.

Tetapi dari waktu ke waktu, pikirannya akan mengembara, memikirkan orang tuanya, yang telah menghabiskan sepuluh tahun mencari anak mereka yang hilang.

Cinta macam apa, seberapa dalamnya cinta itu, cinta “irasional” macam apa, yang bisa membuat orang mampu bertahan seperti itu?

Ibu dan ayahnya juga sudah mencari, tetapi pencarian mereka sangat tenang, tanpa berpegang pada harapan apa pun.

Putra tertua mereka terlalu pintar, dengan kemampuan memecahkan banyak masalah dan untuk tidak terluka. Putra tertua mereka terlalu pintar, dan jika dia tidak ingin kembali, tidak ada yang bisa menemukannya.

Lin Wuyu menghela napas.

Dengan putra tertua yang begitu pintar, mereka mungkin hanya bisa meminta bantuan demigod.

Seperti Demigod Ding.

Memikirkan Demigod Ding… Lin Wuyu mengambil ponselnya.

Ketika Ding Ji datang untuk mengambil bukunya, mereka saling menambahkan di WeChat, tetapi mereka belum saling mengobrol.

Ikon WeChat Ding Ji adalah foto dirinya sendiri, dan itu bahkan tampak depan. Orang ini cukup percaya diri dengan penampilannya.

Tapi itu benar-benar bagus, dengan semacam energi bos kucing liar.

Kakak Ayam.

…Dia tidak bisa memanggilnya Kakak Ayam. Dia akan berubah menjadi pemintal listrik paling cemerlang malam ini.

Lin Wuyu mengangkat sudut mulutnya, membuka Momen Ding Ji saat dia melakukannya.

Tiga hari sudah terlihat.

Tapi Lin Wuyu terus menggulir ke bawah beberapa kali dan belum juga mencapai akhir Momen itu. Dia tiba-tiba merasa seperti dia harus mempertimbangkan untuk memblokir kotak obrolan ini.


Momen terbarunya membuat Lin Wuyu berhenti sejenak, dikirim beberapa menit yang lalu.

— Xinjia mengadakan kompetisi bola basket, hadiah untuk tempat pertama adalah kompor induksi 

Xinjia adalah pusat perbelanjaan, tepat di sebelahnya.

Lin Wuyu mengangkat matanya dan melihat keluar.

Setelah ragu-ragu selama beberapa detik, dia mengirim pesan ke Ding Ji.

— Kau sedang di Xinjia?

Ding Ji membalas dalam hitungan detik.

— Tepat di sebelah Xinjia, ada apa, apa keluargamu kekurangan kompor induksi

— Aku sedang makan bihun goreng  

Ding Ji tidak menjawab lagi, dan Lin Wuyu terus melihat ke luar jendela.

Setelah satu menit kemudian, Ding Ji muncul di seberang jalan, mengendarai Segway.

Setelah itu dia meluncur ke arahnya, dengan gesit bermanuver di antara begitu banyak orang, keangkuhannya terlihat dengan mata telanjang. Lin Wuyu akan bertaruh sepuluh Misteri Palmistri bahwa dia biasanya tidak sesombong ini. Sekarang ini dia sedang pamer.  

Kekanak-kanakan.

Lin Wuyu melambai padanya melalui kaca.

Ding Ji berhenti di luar, menekan kaca dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Lin Wuyu.

Jumlah orang di toko mulai meningkat. Suasana mulai riuh.

Dari sudut matanya, seseorang yang memegang nampan berjalan ke mejanya. Lin Wuyu mendorong sepiring bihun goreng di depannya ke sisi lain: “Maaf, ada seseorang di sini.”

Ding Ji menangkupkan wajahnya dengan tangannya, menekan kaca dan melihat ke dalam lagi.

“Masuk.” Lin Wuyu menunjuk kursi di seberangnya. “Apa yang kau lihat?”

KONTRIBUTOR

Koejirolu

distressed syllable

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments