• Post category:Xiao Zhang
  • Reading time:24 mins read

Tidak akan dipinjamkan. Jangan mencuri. Jika ditemukan harus mengembalikannya kepadaku.

Penerjemah: Koejirolu
Editor: Jeffery Liu


Lin Wuyu tertawa: “Pertanyaan yang kau ajukan ini cukup lancang.”

“Ini tidak selancang seperti yang baru saja kau katakan,” kata Ding Ji.

“Kalau begitu, apa kau tidak mengetahuinya saat membaca telapak tanganku?” Lin Wuyu melihat telapak tangan kirinya.

“Aku tidak melihatnya, dan aku tidak berpikir ke arah itu.” Ding Ji berpikir sejenak, lalu merendahkan suaranya. “Apa orang tuamu bukan orang tua kandungmu?”

“Mereka orang tua kandungku,” kata Lin Wuyu.

“Oh,” jawab Ding Ji.

Mereka berdua tidak mengatakan apa-apa lagi, menatap kereta bayi bersama.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil polisi melaju. Ding Ji melompat dan melambai ke arah mobil polisi: “Disini—”

Sebuah buku di saku belakangnya jatuh ke tanah.

Lin Wuyu sering menaruh barang-barang seperti kertas ujian dan buku di tas punggungnya. Dia tidak suka membawa barang-barang di tangannya.

Tapi Ding Ji berbeda.

Lin Wuyu mengambil buku yang terjatuh di tanah. Buku itu sangat tua. Halaman-halamannya sudah menguning dan mulai kecoklatan, tetapi sepertinya telah dijaga dengan sangat hati-hati karena halaman-halamannya mulus tanpa sudut yang melengkung.

Ada gambar tangan di sampulnya, serta berbagai garis tangan. Tanpa melihat judulnya, dia tahu bahwa ini adalah buku panduan seni ramal telapak tangan.

Dia tidak menyangka penipu jianghu membawa bahan referensinya bersamanya… betapa berdedikasinya.

“Bukumu…” Ketika Lin Wuyu menyerahkan buku itu kepada Ding Ji, dia sudah pergi menemui petugas polisi.


“Aku yang melaporkan.” Ding Ji menunjuk ke kereta bayi. “Anak itu masih sangat kecil. Dia sudah tidur sepanjang waktu.”

“Umur anak ini paling tidak dua bulan, ‘kan?” Seorang perwira tua mengerutkan kening ketika dia melihatnya. “Bagaimana kereta ini bisa didorong ke sini? Apa kau melihat siapa yang melakukannya?”

Ding Ji dan Da-Dong menoleh untuk melihat Lin Wuyu bersama.

“Aku hanya berdiri di sini.” Lin Wuyu berjalan ke tempat dia sebelumnya berdiri. “Aku sedang memegang ponsel dan melihat kesana. Aku tidak tahu sejak kapan kereta ini berakhir di sebelahku, tetapi ketika aku menoleh, aku mendapatinya.”

“Aku harus menghubungi beberapa rekan wanita di stasiun terlebih dahulu, dan juga rumah sakit.” Petugas tua itu berbalik untuk berkata kepada rekan kerja di belakangnya. “Anak ini terlalu muda, dan aku tidak tahu sudah berapa lama dia kelaparan…”

“Kalau begitu bisakah kita… pergi?” Ding Ji bertanya dari samping.

“Bekerjasamalah sebentar,” kata perwira tua itu. “Kita harus merekam ini, dan begitu kita menemukan tempat untuk anak ini, kita masih harus melakukan penyelidikan.”

“Sekarang?” kata Lin Wuyu.

“Ya.” Petugas itu mengangguk.

“Apa ada yang salah?” Ding Ji bertanya pelan. “Apa ada sesuatu yang harus kamu lakukan?”

“Aku belum makan,” jawab Lin Wuyu, juga dengan suara pelan.

Ding Ji tidak memperhatikannya lagi.

Dari saat mereka menyerahkan anak itu kepada petugas, kemudian dengan kooperatif pergi ke kantor polisi untuk ditanyai, lalu akhirnya diizinkan untuk pergi setelah menjawab banyak pertanyaan, Ding Ji tidak memperhatikannya. 

Dia bahkan tidak terlalu memandangnya.

Ketika mereka melewati pintu kantor polisi, Ding Ji meraih temannya, melompat ke sepedanya, dan pergi tanpa menoleh ke belakang. Lin Wuyu bahkan tidak dapat menemukan kesempatan untuk mengembalikan bukunya yang terjatuh kepadanya.

Dia tidak akan bisa pergi ke Bahkan Anjing Datang and Pergi.

Lin Wuyu makan semangkuk mie di toko kecil di sebelah kantor polisi, lalu menaiki bus untuk kembali ke sekolah. 

Dia tahu mengapa Ding Ji tiba-tiba berhenti memperhatikannya.

Mungkin karena Ding Ji merasa dia begitu dingin dan menyendiri. Terhadap anak sekecil itu, yang mungkin terlantar, dia hanya berpikir tentang makan malam.

Dia bahkan tidak memiliki sedikit pun simpati dasar.


Dia sudah makan mie untuk makan malam ini, jadi dia membawakan mie untuk orang-orang di asramanya.

Ketika Lin Wuyu memasuki asrama, membawa empat porsi mie, butuh sedikit usaha untuk melakukannya. Volume keempat kotak itu hampir sama dengan dua kantong barbekyu, tetapi ada sup di dalamnya. 

Saat dia berlari melewati pintu paman manajer kediaman, dia membutuhkan kecepatan dan tangannya harus stabil pada saat yang sama.

“Jangan kira aku tidak tahu siapa kamu!” Suara paman datang dari jauh.

Kau benar-benar tidak tahu.

Lin Wuyu sudah berlari ke lantai tiga. Dia masih cukup percaya diri pada kecepatannya. 

Ada cermin di lantai pertama. Setiap kali dia berlari melewati cermin ketika dia membawa makanan, dia akan meliriknya, dan dia tidak pernah mengenali dirinya sendiri.

Sama seperti kilat.

Teman sekamarnya masih belajar di bawah lampu belajar mereka, tetapi ketika Lin Wuyu masuk, mereka semua menghadap pintu.

“Aku mendengar Paman berteriak di bawah,” kata Chen Mang sambil tertawa.

“Dia bilang dia tahu siapa aku,” kata Lin Wuyu.

“Itu tidak mungkin. Jika dia tahu, dia pasti sudah menangkapmu sejak lama.” Luo Chuan bangkit dan mengambil sebuah kotak. “Kau berlari melewatinya setidaknya tiga kali seminggu.”

“Kau makan mie untuk makan malam hari ini?” kata Liu Ziyi. “Ini bukan gayamu. Kau pergi keluar dan sebenarnya tidak mengadakan pesta?”

“Aku mengalami beberapa hal.” Lin Wuyu memasukkan buku bahan referensi Ding Ji ke bawah bantalnya. “Aku tidak bisa mengadakan pesta.”

Dia tidak benar-benar ingin berbicara tentang bagaimana dia menemukan seorang anak malam ini, dan manfaat terbesar dari teman sekamarnya yang membuat orang dalam suasana hati yang baik muncul pada saat ini. 

Tidak ada yang bertanya padanya.

Waktu yang dia miliki dengan teman sekamar yang sangat baik itu perlahan-lahan berkurang seiring dengan angka-angka di hitung mundur kelas. Terkadang ketika dia memikirkannya, dia tiba-tiba merasa sangat emosional.

“Apa kotak terakhir milikmu?” Chen Mang bertanya.

“Empat kotak lebih mudah dibawa,” kata Lin Wuyu. “Kamu bisa membaginya, aku baru saja selesai makan. Aku akan membaca sebentar.”


Misteri Palmistri.1Palmistri, atau kiromansi, adalah klaim dari karakterisasi dan ramalan masa depan dengan cara mempelajari garis tangan, yang juga dikenal sebagai membaca garis tangan atau kirologi. Praktik tersebut ditemukan di seluruh dunia, dengan sejumlah variasi kebudayaan.

Lin Wuyu menyalakan lampu di samping tempat tidurnya dan memakai kacamatanya.

Buku ini sepertinya milik koleksi bajakan dari buku-buku omong kosong yang diletakkan di jalan. Judulnya tidak seperti Cara Mudah: Belajar Palmistri Dalam Waktu Lima Menit, Mengenal Orang dengan Tangan Mereka, atau Dari Garis Tangan ke Kehidupan Manusia, tampaknya mengambil jalan yang menegangkan.

Unik.

Huh. Penulisnya adalah orang asing. 

Karena kebiasaan, Lin Wuyu menjalani proses belajar regulernya dan pertama-tama mengajukan pertanyaan di kepalanya.

Misalnya, dari mana seni ramal tapak tangan berasal, latar belakang budaya seni ramal tapak tangan mana yang paling populer, hal-hal yang terkait dengan garis telapak tangan yang berbeda didasarkan pada…

Kemudian dia membuka buku itu. 

Pada daftar isi halaman pertama, ada dua baris kata-kata besar yang ditulis dengan hati-hati dengan bolpoin. 

Koleksi buku pribadi Ding Ji yang ajaib.

Tidak akan dipinjamkan. Jangan mencuri. Jika ditemukan harus mengembalikannya kepadaku.

Diameter setiap kata sekitar dua sentimeter. Lin Wuyu menatapnya hingga sepuluh detik sebelum dia mulai tertawa tanpa suara.

Ada tanggal di bawahnya. Berdasarkan tanggal, tulisan ini seharusnya ditulis ketika Ding Ji masih di kelas satu atau lebih awal…

Lin Wuyu berhenti, lalu sedikit banyak membolak-balik buku itu. 

Ada beberapa tempat di dalamnya dengan anotasi, dan gaya tulisan tangannya sama, jadi mungkin ditulis pada periode yang sama. 

Tampaknya Ding Ji mengenali beberapa kata ketika dia berusia lima atau enam tahun, dan keterampilan pemahamannya juga tampak cukup bagus. Dia juga memiliki cara berpikirnya sendiri, tidak merasa buku memiliki otoritas seperti anak-anak lain. Bahkan ada halaman dengan tempat yang dia tandai—”Omong kosong!!”

Menarik.

Lin Wuyu menyesuaikan kacamatanya.


Ding Ji duduk di depan mejanya. Ada kertas ujian yang sudah selesai dan buku latihan yang berantakan di atas meja, dan saat ini dia memegang ponselnya dengan satu tangan, berulang kali membalik-balik laci dengan tangan lainnya.

Dia tahu bahwa sekarang sudah agak larut dan Da-Dong pasti sudah tidur, tapi dia masih tidak bisa menunggu sampai besok.

“Ambil ambil ambil…” Dia berdiri dan mondar-mandir dua putaran lagi di sekitar kamarnya, menarik selimutnya untuk melihat ke bawah tempat tidurnya.

“Persetan…” Da-Dong akhirnya mengangkat telepon. 

“Apa kau tidak waras? Apa kamu tahu jam berapa sekarang?”

“Aku tahu ini sedikit larut…” kata Ding Ji.

“Ini tidak sedikit, hampir jam empat, Nak,” desah Da-Dong. 

“Ada apa?”

“Buku yang dimasukkan ke saku belakangku.” Ding Ji mengerutkan alisnya. 

“Apakah kau melihatnya?”

“Kantong belakang? Buku apa?” Da-Dong bingung. “Kau membawa buku ke luar?”

“Tidak apa-apa, kau bisa tidur.” Ding Ji menutup telepon. Agak putus asa, dia duduk di tepi tempat tidurnya. Dia awalnya sangat mengantuk, tapi sekarang dia sama sekali tidak mengantuk.

Dia merasa murung.

Dia harus tinggal di rumah selama periode ini, jadi dia pergi ke rumah neneknya kemarin untuk mengambil buku itu dan membawanya. Tapi Lin Wuyu akhirnya menemukan seorang anak dan juga sangat menyebalkan. Ketika dia selesai, dia pulang ke rumah dalam suasana hati yang sangat buruk untuk mengerjakan latihan soal, dan dia baru menyadari sekarang bahwa bukunya hilang.

Buku ini telah mengikutinya selama bertahun-tahun, dari kelas satu hingga sekarang. 

Dia sudah selesai membacanya sejak lama, dan tidak ada konten yang mencolok. Biasanya ketika dia membawanya, itu hanya untuk dibawa saja, dan dia jarang membukanya.

Tapi buku ini telah menemaninya selama bertahun-tahun. Sama seperti boneka gadis kecil, itu bisa dianggap sebagai objek kenyamanan.

Terkadang itu adalah cara penting baginya untuk merasakan rasa aman.

Ketika dia masih kecil, ini bahkan metodenya untuk meningkatkan hubungannya dengan teman-teman sekelasnya dan membebaskan dirinya dari intimidasi. 

Buku ini tidak terlalu penting.

Buku ini juga terlalu penting.

Tapi dia masih harus tidur, karena dia harus pergi ke kelas besok.

Ketika dia tinggal di rumah orang tuanya, dia tidak bisa meninggalkan kelas. Di rumah nenek dan kakeknya, dia bisa melakukan apa saja. 

Neneknya dulu berpikir bahwa dia keluar dari sekolah sebelum jam empat setiap hari seperti di sekolah dasar, dan dia baru kembali pada jam enam atau tujuh karena dia bekerja terlalu keras di sekolah. 

Dia harus tidur.

Seperti pencuri, dia meraba-raba jalan ke kamar mandi dan selesai membersihkan diri, dan ketika dia kembali ke kamarnya, dia mengambil sebuah buku dari kepala tempat tidurnya secara acak. Buku itu adalah salah satu dari banyak buku yang dibeli ayahnya menurut daftar bacaannya sendiri. Dia tidak melihat apa itu sebelum memasukkannya ke bawah bantal dan menutup matanya.


Hari pertama buku berharganya meninggalkan rumah.

Dia merindukannya.

Hari kedua.

Dia merindukannya. Dia mencarinya di situs web buku bekas.

Mereka benar-benar memilikinya.

Dua puluh tujuh? Itu terlalu jahat!

Hari ke tiga.

Dia merindukannya. Dia mencarinya di situs buku bekas.

Tiga puluh enam? Pengiriman sepuluh yuan? 

Sebelum guru berjalan, Ding Ji memasukkan ponselnya ke dalam sakunya, mempertahankan posisi aslinya dan tidak bergerak.

Hanya ketika guru dengan ringan menepuk bahunya, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya, menggosok matanya pada saat yang bersamaan.

“Tidak beristirahat dengan baik?” tanya guru itu dengan lembut.

“Aku tidur terlalu larut,” jawab Ding Ji.

“Jika kau mengantuk, berbaringlah selama beberapa menit,” kata guru itu. 

“Kita harus memperhatikan keseimbangan antara kerja dan istirahat.”

“Mm.” Ding Ji mengangguk.

Setelah guru pergi, dia melihat ke samping. Shi Xiangyang saat ini menatapnya dengan jijik: “Bagaimana kau begitu pandai berakting?”

“Apa kau ingin aku mengajarimu?” tanya Dingji.

“Tidak,” Shi Xiangyang menolak dengan benar.

“Aku akan keluar sebentar lagi,” bisik Ding Ji. “Jika He-laoshi datang dan bertanya tentang aku, katakan saja bahwa aku pergi ke lapangan olahraga untuk menghafal pelajaranku.”

Shi Xiangyang tidak langsung setuju, merenung sejenak dan bertanya: “Kau sudah hafal pelajarannya? Bukankah kau seseorang dengan ingatan eidetik2Ingatan eidetik adalah kemampuan untuk mengingat kembali gambar dari memori dengan presisi tinggi untuk waktu yang singkat setelah melihatnya hanya sekali, dan tanpa menggunakan alat mnemoni. seperti dalam legenda?”

“Omong kosong,” Ding Ji membantah tanpa berpikir dua kali. 

“Kapan aku pernah punya ingatan eidetik dalam legenda?”

“Lalu bagaimana biasanya kau mengikuti tes? Juga menghafal pelajaran?” Shi Xiangyang bertanya.

“Aku tidak menghafal. Omong-omong… Aku memilih sains supaya aku tidak perlu menghafal pelajaran,” Ding Ji menghela napas. “Aku tidak menyangka masih banyak hal yang harus dihafal.”

“Lalu bagaimana kau mengikuti tes dan bagaimana kau bisa masuk lima besar?” Shi Xiangyang bertanya lagi.

“Aku mendengarkan di kelas, da-ge3Secara harfiah berarti kakak laki-laki tetapi itu adalah panggilan yang bisa kamu gunakan ke temanmu. Ini seperti saudara. ,” Ding Ji menghela napas lagi. “Aku bisa menghafal semua yang perlu aku hafal, dan aku juga bisa mengada-ada.”

Shi Xiangyang tidak berbicara, hanya menatapnya.

Ding Ji meliriknya dan menemukan bahwa ekspresi wajah Shi Xiangyang sangat sedih dan kecewa.

Dia tiba-tiba kembali ke akal sehatnya, dan untuk mencegah Shi Xiangyang mulai memotong kue lagi, dia dengan cepat menambahkan kalimat: “Kadang-kadang aku harus berbuat curang juga.”

“… Oh.” Shi Xiangyang mengangguk.


Selama periode kedua di sore hari, Ding Ji tidak pergi ke kelasnya, menyelinap keluar dari sekolahnya dan pergi ke taman mini. 

Meskipun dia sudah mengambil jalan memutar ke sini beberapa kali dalam dua hari terakhir, dengan tekadnya untuk tidak meninggalkannya dan tidak menyerah, dia melakukan perjalanan lagi di sore hari.

Dengan tangan kosong. 

Dia tahu bahwa dia bisa membeli buku-buku lama secara online, tetapi sejauh yang dia ketahui, itu tidak ada artinya. 

Dia hanya menginginkan buku yang menemaninya dan menegur dunia bersamanya di bawah bantalnya selama sepuluh tahun atau lebih. Tanda tangan pribadinya dan anotasi pribadinya ada di sana, didekorasi dengan rapi dan… 

Jalan terakhir yang bisa dia ambil untuk menemukan bukunya adalah bertanya pada Lin Wuyu, makhluk berdarah dingin itu.

Dia awalnya ingin menunggu sampai lain kali Lin Wuyu datang ke taman mini untuk bertanya padanya, tetapi dengan buku usang seperti itu, apa yang akan dia lakukan jika Lin Wuyu membuangnya begitu saja? 

Lagi pula, ketika dia menghadapi seorang anak terlantar, Lin Berdarah Dingin hanya memikirkan makan malamnya.

Jadi Ding Ji berbalik dan pergi ke Fu Zhong.


Lin Wuyu duduk di tepi lapangan olahraga. Di depannya ada beberapa kelas yang saat ini sedang berlangsung kelas olahraga.

Dari siang hingga sekarang, dia berada di lapangan olahraga, berjalan-jalan dan duduk. Saat ini, jumlah siswa di sebelahnya mulai bertambah dan dia berniat untuk kembali ke ruang kelas atau asramanya.

Saat dia mengambil buku itu dengan tangannya dan bersiap untuk bangun dan pergi, dia berhenti. 

Seseorang memanjat tembok di dekat tribun di seberang lapangan olahraga di kejauhan.

Orang-orang yang suka memanjat tembok di sini adalah orang-orang dari kelas dua sastra tahun pertama, dipimpin oleh Kou Chen4Kou Chen (寇忱) adalah karakter dari novel Wu Zhe lainnya, Qing Kuang/Reckless (轻狂) yang juga bersekolah di Fu Zhong. Lin Wuyu muncul di buku itu juga. Banyak novel Wu Zhe berbagi dunia yang sama, terutama Saye/Run Freely (撒野), Qing Kuang, dan Unbridled., seolah-olah mereka tidak akan dianggap sebagai siswa Fu Zhong jika mereka tidak memanjatnya beberapa kali dalam sebulan.

Tetapi orang yang naik hari ini bukanlah siswa Fu Zhong. 

Itu… Ding Ji? 

Lin Wuyu menyesuaikan kacamatanya, ingin memastikan apakah dia salah lihat.

Tapi satu detik kemudian dia memastikan bahwa dia tidak salah lihat.


Setelah Ding Ji mendarat, dia mengucapkan beberapa patah kata kepada seorang gadis yang duduk di tribun, dan gadis itu menunjuk ke arahnya.

Kemudian Ding Ji berguling seolah-olah dia telah menyimpan dendam selama bertahun-tahun dan akhirnya menemukan di mana musuhnya berada. 

Kecepatan ini membuat Lin Wuyu tidak punya pilihan selain berdiri, khawatir.

“Jangan pergi!” teriak Ding Ji, menunjuk ke arahnya dari jarak sekitar sepuluh meter. “Lin Wuyu!”

“… Aku tidak akan pergi,” jawab Lin Wuyu. Suaranya mungkin tidak cukup keras. Ding Ji tidak mendengarnya, terus mengeluarkan serangkaian teriakan: “Jangan pergi jangan pergi jangan pergi… Aku punya sesuatu untuk ditanyakan padamu…”

“Kau tahu dimana harus memanjat tembok?” Lin Wuyu menunggu sampai dia berada di depannya untuk membuka mulutnya dan bertanya.

“Tidak ada tembok sekolah yang tidak bisa dipanjat,” Ding Ji terkesiap beberapa kali, “dan tidak ada tembok sekolah yang tidak bisa aku panjat.”

“Kenapa kau mencariku?” Lin Wuyu bertanya.

“Pada hari kita menemukan anak itu, apakah kau melihat sebuah buku?” tanya Dingji.

“Misteri Palmistri?” Lin Wuyu merasa ini sedikit tidak terduga. 

Dia awalnya ingin pergi ke taman mini pada akhir pekan untuk melihat apakah dia bisa bertemu Ding Ji, tetapi dia tidak berpikir bahwa orang ini akan memanjat tembok ke sekolahnya untuk menemukannya untuk buku ini.

Balasan ini membuat Ding Ji tiba-tiba merasa lega. Dia bahkan tidak ingin mengatakan apa-apa, menangkupkan tinjunya ke arah Lin Wuyu, duduk di bangku batu di samping dan menghela napas panjang.

“Hanya untuk itu?” Lin Wuyu bertanya.

“Ya, hanya untuk itu.” Ding Ji sedang dalam suasana hati yang baik. 

“Kapan kau mengambilnya?”

“Aku memungutnya,” Lin Wuyu mengoreksinya.

“Kapan kau memungutnya?” Ding Ji bertanya lagi.

“Ketika kau berlari ke arah petugas polisi dengan gembira,” kata Lin Wuyu.

“… Aku menjatuhkannya kalau begitu? Aku tidak merasakannya sama sekali.” Ding Ji mengulurkan tangannya. “Berikan padaku. Aku bahkan belum tidur nyenyak beberapa malam terakhir ini. ”

“Bukunya di asramaku,” kata Lin Wuyu. “Aku akan mengambilkannya untukmu.”

“Aku akan ikut denganmu jadi kau tidak perlu lari kembali,” kata Ding Ji.

“Tidakkah kau harus memanjat keluar sebentar lagi?” Lin Wuyu menunjuk ke dinding di sisi lain.

“Aku akan keluar sebentar.” Ding Ji melihat ke sana, mengikuti di belakang Lin Wuyu. “Aku ingin berjalan melalui pintu masuk utama sekarang tetapi penjagamu terlalu tidak masuk akal, membiarkan orang keluar tetapi tidak masuk.”

“Beruntung aku berada di lapangan olahraga. Seandainya aku berada di ruang kelas, kau mungkin akan diusir sebelum kau bisa bertanya di mana aku berada.” Lin Wuyu balas menatapnya.

“Tidak sepertinya.” Ding Ji melambaikan tangannya. “Aku bertanya kepada seorang siswa yang baru saja keluar di gerbang, yang mengatakan kalau kau tidak berada di lapangan olahraga, kau berada di ruang makan.”

“Oh.” Lin Wuyu tertawa.

“Dewa akademis,” kata Ding Ji.

Lin Wuyu mengangkat alisnya.

“Apa?” Ding Ji mengangkat alisnya juga. 

“Itulah yang dikatakan seseorang dari sekolahmu. Ah, dewa akademis, jika dia tidak di lapangan olahraga, dia ada di ruang makan. Begitu kata-kata aslinya.”

“Cukup benar, aku tidak suka tinggal di ruang kelas,” kata Lin Wuyu. “Anak ajaib.” 

Ding Ji tiba-tiba berhenti, suaranya sedikit berubah: “… Kau membaca bukuku?”

“Aku membacanya, bukan seperti yang kamu tulis sehingga aku tidak bisa membacanya,” kata Lin Wuyu. “Kau hanya menulis, tidak akan dipinjamkan, jangan mencuri, jika ditemukan harus dikembalikan kepadamu…”

“Jangan katakan lagi.” Ding Ji menghela napas.

“Apakah kau,” Lin Wuyu tiba-tiba mundur selangkah, bertanya dengan tenang di telinganya, “tidak suka disebut anak ajaib oleh orang lain?”

KONTRIBUTOR

Koejirolu

distressed syllable

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments