• Post category:Xiao Zhang
  • Reading time:23 mins read

Kata-kata ini diucapkan dengan sangat tenang. Ding Ji tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening: “Ada apa denganmu?”

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Koejirolu


Setelah Ding Ji memperkenalkan dirinya hari itu, orang ini tidak membalas kesopanannya dengan memberitahu namanya. Tapi dia sendiri tidak ingin bertanya sekarang, dia hanya melihat Si Tanpa Nama mengeluarkan obat penghilang rasa sakit dari sakunya dan memasukkannya ke dalam mulutnya, lalu mengambil botol kaca Ding Ji dan mengangkat kepalanya untuk minum beberapa teguk.

“Kau tidak asing.” Dia mengambil botol yang telah diserahkan kembali oleh Si Tanpa Nama.

“Ini bukan botol minum, ‘kan?” Si Tanpa Nama mengusap mulutnya.

“Bukan.” Ding Ji membuka tutupnya dan menyeka tepinya dengan serbet. “Ini botol Nestlé Coffee-mate kuno. Mungkin umurnya lebih tua dariku.”

Si Tanpa Nama tidak mengatakan apa-apa.

Ding Ji mengangkat kepalanya dan melihat ke atas. Ekspresi Si Tanpa Nama sedikit tidak enak dilihat.

“Ada apa?” tanyanya.

“Kalau kau bersikap begitu, kenapa kau membiarkan orang lain meminum air dari botol minummu?” Si Tanpa Nama tidak tahu harus berkata apa. “Kalau kau memang mau membersihkannya, jangan lakukan di depanku.”

“Aku tidak tahu kau akan benar-benar meminumnya,” kata Ding Ji.

Si Tanpa Nama mengulurkan tangan kirinya.

“Aku tidak mau meramal.” Ding Ji menepis tangannya, tapi dia masih meliriknya.

“Botolnya,” kata Si Tanpa Nama.

Ding Ji membeku sejenak, lalu memasang tutupnya ke botol dan menyerahkannya kembali padanya.

Si Tanpa Nama membuka tutupnya dan memiringkan kepalanya ke belakang untuk mengambil dua tegukan lagi, lalu meletakkan botol itu di anak tangga di sebelahnya: “Apa kau bisa memberi tahuku bagaimana kau tahu kalau aku ditolak?”

“Apa, kau tidak bisa menebaknya?” Ding Ji menatap botol itu dengan curiga.

“Yang tadi mudah ditebak,” kata Si Tanpa Nama. “Jika aku bisa menebak semuanya, bagaimana kau bisa terus melakukan ini?”

“Tepat.” Ding Ji mengangkat kepalanya. “Bagaimana aku bisa memberi tahumu kalau aku sendiri tidak tahu namamu?”

“Lin Wuyu,” kata Si Tanpa Nama.

“Apa?” Ding Ji tidak mendengarnya dengan jelas.

“Lin Wuyu,” ulang Si Tanpa Nama, menekan pelipisnya.

“Wuyu?”1The largest square has no corners/persegi terbesar tidak memiliki sudut (大方无隅), atau da fang wu yu, artinya hati besar orang yang dermawan tidak memiliki sudut gelap yang tersembunyi. Itu berasal dari kutipan oleh Laozi, pendiri Taoisme. Btw aku agak bingung square disini harus diartikan persegi atau apa. kata Ding Ji. “Ah, persegi terbesar tidak memiliki sudut.”

Tangan Lin Wuyu yang menekan pelipisnya berhenti.

Dia bisa membiarkan angin sepoi-sepoi berembus dan bulan yang cerah meluncur, karena bagaimanapun, namanya memiliki kata itu di dalamnya. Tapi mengatakan kotak terbesar tidak memiliki sudut sedikit tidak konsisten dengan gaya penipu jianghu cerobohnya.

Stereotip itu tidak dapat diterima. Lin Wuyu melakukan refleksi diri selama satu detik, lalu mengangguk: “Mm.”

Ding Ji bersandar di tangga di belakangnya dan tidak berbicara lagi.

Kepala Lin Wuyu masih sakit. Saat ini, tidak peduli apakah itu kembali ke sekolah atau mencari sesuatu untuk dimakan, dia tidak dapat menemukan energinya.

Terlebih lagi… mungkin karena Ding Ji sedikit mirip dengan Xu Tianbo, dia tidak benar-benar ingin segera pergi.

Oleh karena itu, dia duduk di sebelah Ding Ji, melihat papan ring bola basket yang dipasang tidak terlalu jauh dengannya.

Saat itu masih belum terlalu malam. Hanya ada dua anak laki-laki yang tengah bermain basket.


Setelah mereka terdiam beberapa saat, Lin Wuyu berbicara lebih dulu: “Apa kau sering datang ke sini?”

“Aku datang sesekali,” kata Ding Ji. “Rumah nenekku dekat.”

“Oh,” jawab Lin Wuyu.

“Kau dari Fu Zhong, ‘kan?” tanya Ding Ji.

Lin Wuyu dengan cepat menatap dirinya sendiri. Kemeja, celana, dan sepatunya adalah miliknya, tanpa simbol Fu Zhong.

“Saat aku bertemu denganmu terakhir kali, aku tahu.” Sambil tersenyum, Ding Ji menggeliat.

“Terakhir kali?” Lin Wuyu berpikir kembali sejenak, tidak menemukan detail apa pun yang akan membuat orang bisa menebak sekolahnya.

“Berikan tanganmu,” kata Ding Ji.

Lin Wuyu meliriknya, lalu mengulurkan tangan kirinya di depannya.

“Jarimu cukup panjang.” Ding Ji menelusuri ujung jarinya di telapak tangannya. “Kau…”

Lin Wuyu menekuk jari telunjuknya dan mendorong ujung jarinya menjauh.

“Mm?” Ding Ji menoleh.

“Rasanya gatal,” kata Lin Wuyu.

“Ambisius.” Ding Ji melengkungkan bibirnya sedikit, meremehkan, jari-jarinya menelusuri telapak tangannya di udara.

“Apa yang akan kau lihat?” Lin Wuyu agak tertarik.

“Aku akan melihat apa pun,” kata Ding Ji. “Kau bisa mendengarkan apa saja.”

“Mm.” Lin Wuyu mengangguk.

“Kau tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang tuamu, ‘kan?” tanya Ding Ji.

Lin Wuyu tidak mengatakan apa-apa.

Sepertinya Ding Ji tidak membutuhkannya untuk menjawab, terus menatap tangannya. Setelah melihatnya sebentar, dia bersandar di tangga: “Sepuluh tahun terakhirmu tidak terlalu menarik. Sebagian besar segalanya berjalan lancar.”

“Apa begitu?” Lin Wuyu menarik tangannya, melihatnya dengan kepala menunduk.

“Kau punya saudara kandung,” lanjut Ding Ji. “Apakah itu saudara laki-laki atau perempuan, atau ada berapa banyak, aku tidak tahu.”

Lin Wuyu masih menatap tangannya. Mendengar ini, dia mulai sedikit tidak bisa memahaminya.

Kemampuan Ding Ji untuk mengamati detail dan pemahaman tentang sifat manusia semuanya cukup kuat. Ini adalah poin penting baginya untuk menipu orang. Tetapi bagaimana dia menyimpulkan situasi keluarga orang asing, untuk sementara, dia tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya.

Terutama mengenai saudara kandung.

“Aku akan memberitahumu hal-hal yang tidak kau ketahui.” Ding Ji menoleh dan menatap wajahnya. “Mungkin akan ada beberapa tikungan dan belokan di masa depan, tetapi sulit untuk mengatakannya. Untuk masalah itu kira-kira datang dari hal perasaan.”

“Apa kau melihat tiga garis ini?” Lin Wuyu menunjuk garis di telapak tangannya. “Garis bisnis, garis cinta, dan garis kehidupan?”

“Itu terlalu mendasar.” Ding Ji menggelengkan kepalanya. “Ada lebih banyak garis dan gundukan, dan saat kau melihatnya, kau harus…”

“Mengobrol denganku seperti yang kau tebak, ‘kan?” kata Lin Wuyu.

“…Betapa bosannya kau.” Ding Ji mendecakkan lidahnya.

“Ini cukup mengesankan.” Lin Wuyu tersenyum. “Apa kau mempelajarinya?”

“Di mana aku akan mempelajarinya? Dengan siapa? Itu semua hanya penipuan.” Ding Ji melambai dengan jijik. “Jangan percaya pada mereka yang mengatakan kalau mereka akan mengajarimu juga.”

“Mm.” Lin Wuyu menggosok tangannya.

“Kau punya kakak laki-laki atau perempuan?” tanya Dingji.

Lin Wuyu berhenti, dan hanya setelah beberapa saat dia berkata: “Kenapa kau tidak bertanya apakah itu adik laki-laki atau perempuan?”

“Temperamenmu yang memberitahuku kalau kau tidak punya adik,” kata Ding Ji. “Aku tahu banyak orang yang punya adik laki-laki dan perempuan, dan mereka tidak sepertimu.”

“Sepertinya meramal juga membutuhkan banyak dedikasi,” kata Lin Wuyu. “Kau harus selalu berhati-hati dan memperhatikan.”


Ding Ji tidak bertanya tentang saudara-saudaranya lagi, dan Lin Wuyu dengan santai mengubah topik pembicaraan. Dia mengubahnya dengan sangat alami. Jika dia tidak memikirkan bagaimana membuktikannya, dia mungkin bahkan tidak akan menemukan bahwa subjeknya telah berlalu.

Sepertinya Lin Wuyu tidak benar-benar ingin berbicara dengan orang-orang tentang ini. Jika dia tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya, itu mungkin ada hubungannya dengan saudaranya ini, dan Ding Ji tidak memiliki kebiasaan untuk menanyakan rahasia orang asing.

Jika Lin Wuyu tidak dengan santai meminum lebih dari setengah airnya dan duduk tanpa beranjak, dia tidak akan mengambil inisiatif untuk membicarakan masalah sepele ini dengan orang ini.

“Apa ada tempat makan yang enak di dekat sini?” Lin Wuyu bertanya. “Dengan rasa yang enak.”

“Tidak perlu terlalu sopan,” kata Ding Ji tanpa berpikir dua kali. “Aku sudah makan.”

Lin Wuyu melihat ke depan dan tertawa: “Aku ingin mencari tempat makan.”

“Oh.” Ding Ji sama sekali tidak merasa canggung dan berpikir sejenak. “Kalau tidak mau yang jauh, ada satu di seberang jalan. Bahkan Anjing Pergi.”

“Bahkan Anjing Pergi?” Lin Wuyu terkejut.

“Aku tidak sedang mengutukmu.” Ding Ji berdeham. “Itu nama kiosnya. Kopi, pizza, kue kering, sesuatu seperti itu. Rasanya tidak buruk.”

“Bukankah namanya Bahkan Anjing Datang?” Lin Wuyu bertanya.

“Yah, kalau kau pergi dari sini, kau akan pergi, ‘kan? Ketika anjing pergi dari sini, itu disebut Bahkan Anjing Pergi,” Ding Ji. “Namanya akan menjadi Bahkan Anjing Datang saat kau sedang duduk di kiosnya.”

“…Oke.” Lin Wuyu mengangguk. “Kau pernah makan di sana?”

“Aku pernah makan di sana sekali. Itu kios tempat para anjing lajang bisa menemukan pasangan. Gambar-gambar yang menempel di dindingnya adalah orang-orang yang bertemu di sana.” Ding Ji mengulurkan tangan di depannya dan menghitung dengan jarinya. “Suatu hari aku meramalkan kalau aku akan memiliki pacar, jadi aku pergi ke sana untuk mencoba keberuntunganku…”

Dia belum selesai berbicara sebelum Lin Wuyu menoleh dan tertawa terbahak-bahak.

“Jangan tertawa.” Ding Ji sangat serius. “Hal-hal ini terkadang akurat.”

“Apa itu akurat?” Lin Wuyu bertanya sambil tersenyum.

“Tidak.” Ding Ji mengerutkan kening. “Aku perkirakan kalau itu akan terjadi dalam tujuh hari pada saat itu, tetapi tujuh hari telah berlalu. Aku pikir mungkin setengah bulan.”

“Sudah setengah bulan?” Lin Wuyu menahan tawa.

“Besok tepat setengah bulan.” Ding Ji menjentikkan jarinya.

“Satu-satunya orang asing yang kau ajak bicara dalam setengah bulan ini adalah aku, ‘kan?” kata Lin Wuyu.

“Mm.” Ding Ji meliriknya. “Kau? Bunga persik? Kau paling banyak semangka.”


Lin Wuyu memutuskan untuk pergi ke Bahkan Anjing Datang untuk makan.

Ketika dia bangkit, dia ragu-ragu. Dia tidak mengundang Ding Ji.

Lagipula, mereka tidak akrab. Selain itu, Ding Ji sudah makan dan dia sudah menolak sebelumnya.

“Es krim mereka cukup enak,” kata Ding Ji. “Kamu bisa mencobanya, jenis vanilla. Cangkirnya besar.”

“Baik.” Lin Wuyu mengangguk dan melompat menuruni tangga, berjalan ke sana.

Ketika dia akan berjalan keluar dari taman mini, dia melihat ke belakang dan menemukan bahwa Ding Ji tidak lagi duduk di sana. Ada seorang pengendara sepeda di tangga itu sekarang, saat ini sedang melompat-lompat.

Dia terus berjalan ke depan, dan berhenti setelah beberapa langkah. Menengok ke belakang lagi, dia menatap pengendara sepeda itu sebentar, lalu agak terkejut, dia menemukan bahwa seseorang yang bertelanjang dada ternyata adalah Ding Ji. Dia dengan santai melepas kaos yang dia kenakan dan memasukkannya ke ikat pinggangnya, membiarkan tergantung di sana.

Betapa tidak sopan. Dia bisa melepas pakaiannya seperti ini di tempat umum?

Lin Wuyu mengeluarkan ponselnya, membuka kamera, dan memfokuskan lensa padanya.


Ding Ji sangat terlatih. Ada beberapa gerakan di mana sepertinya dia akan membalik di atas, tetapi dia berputar di detik berikutnya dan mendarat di tempat aslinya.

Lin Wuyu sangat menyukai hal-hal semacam ini. Di sekolah menengah, dia terobsesi bermain skateboard dengan beberapa teman sekelas untuk sementara waktu, tetapi dia tidak bermain lama ketika ibunya berpikir bahwa itu membuang-buang waktu, mengganggu studinya, mengganggu segalanya, dan dia juga akan terluka. Yang paling penting adalah dia pikir Lin Wuyu tidak bisa melakukannya dengan baik.

“Kau bukan kakakmu.”

Lin Wuyu tidak terlalu peduli dengan kata-kata seperti ini. Dia merasa mungkin dia benar-benar tidak peduli, karena dia bisa menilai dirinya sendiri. Bisa juga karena dia sudah terbiasa. Lagi pula, sejak kecil, dia telah mendengar terlalu banyak hal seperti itu.

Tetapi harus dikatakan bahwa terkadang, kata-kata ini benar-benar sedikit mengecewakan.

Mereka akan membuat orang secara tidak sadar mulai meragukan diri mereka sendiri.

Setelah sekolah menengah dimulai, dia tidak terlalu banyak bermain.

Saat dia sedang menonton Ding Ji sekarang, dia memiliki sedikit dorongan untuk pergi dan meminjam sepeda untuk bermain dengannya sebentar.

Meskipun dia tidak tahu bagaimana caranya.

Dia hanya ragu-ragu ketika Ding Ji berhenti, mengangkat kepalanya dan dengan santai melirik.

Dia mungkin melihatnya, dan dia melambai padanya.

Penglihatannya cukup bagus.

Lin Wuyu balas melambai.

Ding Ji melambai lagi.

Lin Wuyu terus menanggapi, merasa ada yang salah dengan Ding Ji.

Setelah tiga putaran, dia memperhatikan bahwa gerakan Ding Ji tidak melambai, melainkan menunjuk ke sisinya.

“Hm?” Lin Wuyu menurunkan lengannya yang terangkat dan melihat ke sampingnya, lalu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata tidak beradab pertamanya tahun ini dengan takjub. “Persetan!”

Dia tidak tahu sudah berapa lama di sana, tapi ada kereta bayi di sebelah kanannya.

Bagian yang paling menakutkan adalah bahwa ada bayi mungil yang tidur di dalamnya, sepertinya bayi itu tidak sepanjang lengannya.

Dia dengan cepat melihat sekeliling dan tidak dapat menemukan siapa pun.

Jam sibuk orang-orang yang pulang kerja dan pulang sekolah telah berlalu, tapi ini belum jam makan malam, dan hanya ada beberapa orang yang berjalan di jalanan. Dalam jarak dua puluh meter darinya, lupakan orang-orang, bahkan tidak ada satu sepatu pun.

Bagaimana kereta ini berakhir di sisinya, dia sama sekali tidak tahu.

Di sekelilingnya, tidak ada orang yang bisa dia tanyai juga.

“Aku akan pergi melihat-lihat.” Ding Ji menaiki sepedanya, mengangkat stang, dan menggunakan roda belakang untuk langsung melompat turun tiga anak tangga.

“Apa kau yakin itu bukan kereta yang dia dorong?” Da-Dong melompat turun juga, mengikuti di belakangnya dan mengayuhnya. “Akhir-akhir ini, ada banyak bibi yang menggunakan kereta ini untuk membeli bahan makanan…”

“Memangnya dia bibi!” Ding Ji mengayuh dengan keras. Ketika dia berada dua puluh atau tiga puluh meter dari Lin Wuyu, dia mengerem dan berteriak kepada Lin Wuyu saat dia mengenakan kembali kausnya, “Apa ada anak di dalamnya-“

Lin Wuyu mengangguk.

“Dari mana asalnya?” Ding Ji bergegas ke kereta bayi itu. Ketika dia melihat bayi mungil itu, dia tanpa sadar merendahkan suaranya. “Anak ini baru berumur beberapa bulan, ‘kan?”

“Bahkan belum sampai beberapa bulan.” Da-Dong pindah dan melihatnya. “Keponakanku tidak sekecil ini saat usianya tiga bulan.”

“Dari mana asalnya?” Ding Ji memandang Lin Wuyu.

“Aku tidak tahu,” kata Lin Wuyu. “Kau melihat keretanya lebih dulu daripada aku.”

Ding Ji menatap anak di kereta itu untuk sementara waktu, lalu mengangkat kepalanya: “Jadi apa ini… kasus pembuangan anak?”

“Mungkin.” Jari-jari Lin Wuyu dengan lembut menjentikkan pegangan kereta bayi. “Lebih baik telepon polisi.”

“Sepertinya tidak ada yang salah dengan anak ini.” Da-Dong dengan hati-hati mengangkat selimut yang menutupi tubuh bayi itu. “Brengsek, dia laki-laki. Dia jelas tidak ditinggalkan karena orang tuanya lebih suka anak laki-laki daripada perempuan…”

“Jangan bangunkan anak itu! Jika dia mulai menangis sebentar lagi, bagaimana kita akan menenangkannya? Hubungi polisi dulu.” Ding Ji mengeluarkan ponselnya. “Biarkan petugas menenangkannya.”

“Aku tidak punya masalah dengan menenangkan anak-anak.” Da-Dong sangat percaya diri, tetapi dia masih menarik tangannya.


Lin Wuyu berjalan beberapa langkah dan duduk di sebelah petak bunga, menyaksikan Ding Ji menelepon polisi.

Setelah selesai menelepon polisi, sepasang wanita paruh baya melihat situasi ini dan berjalan mendekat.

“Oh, ada apa dengan anak ini?” Seorang wanita melihat kereta bayi itu, membungkuk dan mengulurkan tangan untuk mengangkat bayi itu. “Ini bukan anakmu, ‘kan!”

Lin Wuyu awalnya berpikir bahwa ini mungkin adalah penonton yang ramah, tetapi gerakan wanita itu membuatnya berdiri dalam sekejap. Orang-orang yang ingin membawa anak mereka pulang untuk membesarkan mereka tidak akan begitu bersemangat. Mereka harus bertanya apa yang terjadi terlebih dahulu, kemudian melihat apakah anak itu baik-baik saja.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Ding Ji menahan tangannya. “Itu adikku.”

“Adikmu?” Wanita itu menatapnya dan tidak menyerah, ingin mendorongnya ke samping. “Apa kau bisa mengatakan berapa umur adikmu?”

“Lima puluh tujuh hari.” Lin Wuyu berjalan mendekat dan meraih tangan wanita itu.

“Kau membawa anak sekecil itu?” tanya wanita itu, menarik tangannya ke belakang dan mundur selangkah.

“Apa hubungannya denganmu?” kata Ding Ji.

“Kamu…” Wanita itu masih agak tidak mau menyerah. “Jangan-jangan kau pedagang manusia!”

“Kalau begitu aku akan memberimu saran,” kata Lin Wuyu. “Cepat dan panggil polisi.”

Wanita itu tidak melanjutkan pembicaraan. Setelah menatap mereka sebentar, dia berbalik dan berjalan pergi, mengutuk.

“Apa yang ingin dilakukan orang itu?” Wajah Da-Dong bingung. “Merebut anak itu? Situasi tadi mencurigakan.”

“Dia mungkin ingin menculik seorang anak dan menjualnya.” Ding Ji memelototi punggung wanita itu dengan kejam untuk sementara waktu. Ketika dia melihat ke belakang, dia menemukan bahwa Lin Wuyu telah kembali duduk di dekat petak bunga.

Da-Dong dengan terampil mendorong kereta bayi di sebelahnya. Mereka berdua memeriksanya lagi, bahkan memeriksa napas anak itu.

Di kereta bayi itu, tidak ada tanda hari ulang tahun anak itu atau secarik kertas yang tertulis ratapan bagaimana orang yang meninggalkannya benar-benar tidak bisa membesarkan anak ini. Selain selimut kecil, bahkan tidak ada botol susu.

Orang tua anak ini tidak peduli apa yang akan dia hadapi di masa depan, bahkan tidak peduli tentang masa lalunya yang singkat yang telah dihapus oleh mereka.

“Jika anak ini bangun dan mulai menangis sekarang, kita hanya bisa memasukkan satu jari ke mulutnya untuk dihisapnya.” Ding Ji menghela napas dan duduk di sebelah Lin Wuyu.

Lin Wuyu tidak menjawab.

“Menurutmu apa yang terjadi dengan anak ini?” Ding Ji bertanya sambil melihat sekeliling.

“Orang tuanya tidak menginginkannya dan meninggalkannya, tentu saja,” kata Lin Wuyu. “Apa lagi yang bisa terjadi.”

“Kenapa mereka tidak menginginkannya…” Ding Ji berpikir sejenak. “Mungkin ada penyakit yang tidak terlihat dari luar, yang mereka pikir tidak bisa disembuhkan? Persetan.”

“Ada beberapa anak yang tidak diinginkan orang tua mereka,” kata Lin Wuyu. “Itu tidak ada hubungannya dengan penyakit.”

Ding Ji meliriknya: “Kata-katamu…”

Lin Wuyu tidak menatapnya, hanya menatap ke depan, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Atau mungkin itu akibat dari kehamilan yang tidak disengaja atau semacamnya…” kata Ding Ji.

“Dari mana kau menemukan begitu banyak alasan,” kata Lin Wuyu.

Kata-kata ini diucapkan dengan sangat tenang, tetapi nadanya membawa sedikit intensitas. Mendengarnya, Ding Ji tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening: “Ada apa denganmu?”

“Tidak ada yang salah denganku,” Lin Wuyu. “Bahkan kalau kau menemukan sepuluh ribu alasan untuk orang tua anak itu, itu tidak penting lagi bagi anak itu.”

“Aku hanya melakukan beberapa analisis acak. Polisi belum datang, jadi aku bisa apa, duduk di sini berbicara omong kosong denganmu?” Ding Ji sedang dalam suasana hati yang buruk. “Siapa yang mencari alasan untuk orang tuanya? Bahkan sampai sepuluh ribu. Bagaimana kalau bantu aku menemukan sepuluh ribu alasan itu?”

“Tidak, terima kasih,” kata Lin Wuyu.

“Apa kau lapar? Melewatkan makan akan membuatmu tidak bisa berpikir jernih,” kata Ding Ji. “Ini pertama kali aku melihatnya.”

Lin Wuyu tidak mengatakan apa-apa. Setelah beberapa detik, dia kembali ke dirinya sendiri dan menatapnya: “Maaf.”

“Hah?” Ding Ji membeku.

“Apa polisi mengatakan mereka akan segera datang?” Lin Wuyu bertanya.

“Mm, untuk hal-hal semacam ini, tentu saja mereka akan langsung datang.” Setelah Ding Ji selesai mengatakan ini, dia menatapnya. Setelah terdiam cukup lama, dia bertanya, “Apa orang tuamu itu, orang tua biologismu?”

KONTRIBUTOR

Koejirolu

distressed syllable

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments