• Post category:Xiao Zhang
  • Reading time:27 mins read

Lin Wuyu berpikir selama beberapa menit, lalu berdeham: “Bukannya kau… Kakak Ayam?”

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Koejirolu


Melihat bagaimana kau akan menipu orang.

Lin Wuyu tidak berbicara, hanya tersenyum. Dia melirik penipu itu lagi sebelum menoleh ke belakang.

“Lanjutkan,” kata si idiot.

Penipu itu tidak mengatakan apa-apa. Lin Wuyu bisa merasakan tatapan si penipu di punggungnya.

Ketika berniat untuk menipu orang, para penipu pasti tidak ingin ada orang lain selain korban di tempat kejadian. Tapi dia juga tidak punya niat untuk pergi. Dia benar-benar ingin mendengar apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Hei, lanjutkan,” kata si idiot. Setelah jeda, dia menambahkan dengan suara rendah, “Kenapa kau khawatir dengan orang itu? Kalau dia ingin mendengarkan, biarkan dia mendengarkan… jangan khawatir, kalau jawabanmu tidak akurat, aku tidak akan memberi tahumu.”

“Jangan!” Penipu meninggikan suaranya. “Sebaiknya kau memberitahuku.”

Lin Wuyu menundukkan kepalanya dan tertawa.

“Kau menjalin hubungan pertamamu tahun lalu, ‘kan?” tanya si penipu.

“…Benar.” Ada keterkejutan dalam suara si idiot itu.

“Kau pernah menjalin hubungan?” Asisten penipu itu juga sangat terkejut. “Ada gadis yang naif di luar sana?”

“Maksudmu apa?” Si idiot tersinggung. “Apa aku tidak boleh punya orang yang menyukaiku? Juga, bukankah tidak baik menilai orang dari penampilan mereka? Lagipula, Kakak Ayam1“ji” dalam nama Ding Ji (霁) terdengar seperti “ji” pada ayam (鸡), meskipun diucapkan dengan nada yang berbeda, sehingga memunculkan julukan ini. sangat tampan tapi tidak ada yang menyukainya juga…”

“Kalau kau tidak tahu bagaimana caranya bicara, tutup mulutmu,” kata si penipu. Dia berhenti, lalu berkata, “Kalau kau tidak mengubah nama panggilanku, aku akan memprediksi kalau semua gigimu akan rontok malam ini.”

Si asisten tertawa sangat keras sehingga dia tersedak ludahnya sendiri.

Lin Wuyu menahan tawanya sendiri.

“Kau ingin dia memprediksi apa? Cepat dan tanyakan,” kata asisten di antara tawanya.

“Aku hanya ingin bertanya kapan hubunganku selanjutnya,” kata si idiot.

“Aku tidak tahu,” kata si penipu.

“Bagaimana bisa?” si idiot bertanya. “Tidak bisakah kau mengarang sesuatu?”

“Kau pikir kau siapa, memintaku untuk mengarang sesuatu agar kau bahagia?” Penipu mengira itu di bawah harga dirinya, bahkan menambahkan lagi setelah berhenti selama dua detik. “Aku tidak tahu kapan kau akan menjalin hubungan lagi, hanya saja dalam dua tahun ke depan, kamu tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun.”

“Persetan.” Si idiot tampak kesakitan. “Itu benar atau bohong?”

“Kalau kau percaya, itu benar.” Perkataan si asisten tulus dan sungguh-sungguh. “Tunggu dua tahun untuk memastikannya… kalau kau bisa menemukan kami dua tahun kedepan.”

Lin Wuyu tertawa tanpa suara untuk sementara waktu dan tidak mendengarkan lagi percakapan di belakangnya. Penipu itu juga telah menghentikan penipuannya. Tidak ada yang menarik tentang mendengarkan si idiot menjadi depresi.

Masih ada setumpuk bahan belajar yang menunggunya di benaknya.

Dia memutuskan untuk mendorong Kakak Ayam keluar dari otaknya.


Setelah Chen-laosi2Laosi (老四) adalah cara untuk menunjukkan urutan kelahiran untuk anak-anak dalam sebuah keluarga, dalam hal ini, Chen-laosi berarti dia adalah anak keempat dalam keluarganya. pergi, Liu Jinpeng ingin segera bangkit dan pergi juga. Da-Dong3Awalan da (大) berarti besar dan dapat digunakan untuk menunjukkan rasa hormat. dan yang lainnya sedang menyalakan pengeras suara di ruang kosong di dekat beberapa petak bunga, dia ingin pergi dan bermain dengannya.

Tapi Ding Ji tidak punya niat untuk bergerak, jadi dia hanya bisa duduk di sana, menoleh dan melihat dari waktu ke waktu.

“Kau bisa pergi ke sana sendiri. Berhentilah duduk di sini dan melamun bersamaku,” Ding Ji angkat bicara. “Jangan bilang pada mereka aku datang. Aku ingin duduk sebentar.”

“Baik.” Liu Jinpeng langsung melompat, tetapi dia dengan cepat duduk kembali di sebelahnya. Melihat ke arah orang yang menatap ke luar angkasa sepanjang waktu, dia berbisik, “Tidak ada yang salah dengan orang itu, ‘kan?”

“Dia siswa kelas satu dengan perasaan terluka. Apa yang salah dengannya?” kata Ding Ji.

Liu Jinpeng menatapnya sebentar: “Kau sangat kejam.”

“Pergilah, pergi.” Ding Ji melambai padanya.

Liu Jinpeng melompat menuruni tangga dan berlari ke arah Da-Dong dan yang lainnya.

Ding Ji mengarahkan pandangannya ke belakang kepala orang di depannya. Orang ini sepertinya sudah memasuki kondisi meditasi. Dia tidak bergerak selama hampir sepuluh menit.

Dia ragu-ragu dan melihat sekelilingnya sebelum dia mengambil sepotong kecil semen yang hancur entah dari mana, mengarahkannya ke anak tangga di sebelah tangan kanan orang itu, dan menjentikkannya.

Dia sering membuang barang-barang ke tempat sampah dari kejauhan dan dia biasanya berhasil memasukkannya. Dia sangat percaya diri dengan akurasinya.

Tapi begitu potongan semen itu dijentikkan, potongan itu pecah menjadi dua bagian yang lebih kecil.

Sepotong kecil mendarat di tempat yang dimaksudkan, satu langkah di sebelah tangan orang itu.

Potongan kecil lainnya mendarat di kepala orang itu.

Selain itu, potongan itu tidak terpental.

Begitulah, benda itu dengan tenang berhenti di kepalanya.

Lin Wuyu mengangkat tangan dan meraba kepalanya.

Ketika dia melihat pecahan semen di tangannya, dia membeku, lalu berbalik.

Dia tidak tahu kapan itu terjadi, tetapi hanya ada satu orang yang tersisa dari tiga orang di belakangnya. Itu adalah penipu bernama Kakak Ayam, yang saat ini sedang menatapnya.

Lin Wuyu tidak terlalu merasakan provokasi semacam ini, hanya menjentikkan potongan semen kembali ke tangan Kakak Ayam saat dia melakukannya, lalu bertanya: “Ada apa?”

“Tidak ada.” Kakak Ayam menundukkan kepalanya dan melihat semen yang telah kembali ke tangannya. “Akurasimu tidak buruk.”

Kereta pemikiran Lin Wuyu yang sedang belajar telah terganggu, jadi dia tidak berbalik dan melanjutkan, masih menatapnya. “Apa kau menarik biaya?”

“Apa?” Kakak Ayam mengerutkan alisnya. 

“Soal… meramal,” kata Lin Wuyu. “Berapa harganya?”

Dia tidak tahu gaya apa yang dimiliki penipu jianghu Kakak Ayam ini, tetapi bagaimanapun juga, ketika dia mendengar kata “berapa harganya,” ekspresinya tiba-tiba berubah: “Apa katamu?”

Lin Wuyu menatapnya tanpa mengatakan apapun.

“Apa kau tahu siapa aku?” Dia menunjuk dirinya sendiri.

Lin Wuyu berpikir selama beberapa menit, lalu berdeham: “Bukannya kau… Kakak Ayam?”

Kakak Ayam membeku, membuka mulutnya tetapi tidak bisa membentuk kata-kata untuk waktu yang lama. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba tertawa: “Kalau kau orang lain, kau akan mati di tempatmu berdiri, kau tahu.”

Lin Wuyu mengangkat sudut mulutnya, menahan senyum.

“Yang tidak sadar tidak bersalah. Silakan dan tertawalah, tidak apa-apa.” Kakak Ayam turun selangkah, duduk di belakangnya. Dia mengulurkan tangan, nada bicaranya terdengar baik sementara isi perkataannya terdengar kasar. “Namaku Ding Ji, ji dari ‘angin sepoi-sepoi dan bulan yang cerah.’4Angin sepoi-sepoi dan bulan yang cerah (光风霁月), diucapkan guang feng ji yue, berarti masa damai dan kemakmuran, atau karakter yang mulia dan baik hati. Kau hanya bisa menggunakan namaku. Kalau kau memanggilku dengan nama yang salah lagi, aku akan langsung menghajarmu ke atas pemintalan listrik paling cemerlang malam ini.”

Ji-ge ah

Lin Wuyu tidak menjawab kata-katanya yang kasar. Dia menjabat tangannya dan kembali ke topik sebelumnya: “Jadi kau tidak mengenakan biaya, ‘kan?”

“Aku tidak mengenakan biaya!” Ding Ji tampak tidak sabar. “Apa maumu?”

“Mau buat prediksi untukku?” Lin Wuyu mengulurkan tangan kirinya di depannya.

“Tidak,” kata Ding Ji.

“Apa kau tidak memprediksi untuk orang asing?” Lin Wuyu tertawa.

Ding Ji menyipitkan mata, menatapnya diam-diam.

“Sulit untuk membodohi mereka kalau kau tidak akrab dengan mereka?” kata Lin Wuyu.

“Kau mengalami putus cinta.” Ding Ji menampar tangannya, menatapnya. “Itu terjadi sekitar minggu ini.”

Lin Wuyu menatapnya juga.

“Apa tebakanku benar?” tanya Dingji.

“Kau setengah benar,” jawab Lin Wuyu jujur.

“Hubunganmu tidak berhasil,” kata Ding Ji.

“Mm.” Lin Wuyu mengangguk. “Kau bisa menebak tanpa melihat tanganku?”

“Aku sudah bilang itu tebakan, kenapa aku harus melihat tanganmu?” Mulut Ding Ji berkedut dengan jijik. “Ingin mendengar lebih banyak?”

“Tidak,” jawab Lin Wuyu terus terang.

Dia benar-benar tidak punya apa-apa yang ingin dia tanyakan. Untuk hal-hal yang ingin dia ketahui, dia akan mencari jawabannya sendiri. Dia tidak perlu orang asing untuk memberitahunya, tanpa cara apa pun untuk memverifikasi keasliannya.

Jika dia benar-benar memiliki sesuatu untuk ditanyakan, dia akan melakukannya hanya untuk membuat percakapan kosong dan mengobrol dengan Ding Ji untuk beberapa kalimat lagi.

Tapi malam sudah tidak muda lagi. Jika dia bergegas kembali sekarang, pada saat dia kembali ke sekolah, itu adalah tentang kapan sesi belajar malam berakhir, dan dia tidak akan bisa membeli barbekyu.

Itu sedikit mengecewakan.


Ding Ji tinggal di taman kecil itu sampai sekitar jam 11. Hanya ketika sudah tidak ada banyak orang di sekitarnya, dia melompat menuruni tangga.

Hari ini bukan akhir pekan, dan nyanyian Da-Dong tidak memiliki banyak pendengar. Liu Jinpeng pergi bersama mereka saat mereka bertukar tempat.

Sangat tidak setia, dia hanya mengirim pesan itu untuk memberitahunya.

Ketika Ding Ji menoleh, mereka sudah pergi.

Dia meregangkan tubuh dengan malas. Dia harus kembali. Ayahnya mungkin masih di rumah neneknya, tetapi jika dia tidak kembali sekarang, kakek-neneknya akan khawatir.

Tetapi ketika dia pulang, dia tiba-tiba menemukan bahwa ayahnya sudah pergi.

Hanya ada kakeknya yang belum tidur di kamar, memegang teko dan menonton TV.

Ketika dia melihatnya masuk, kakeknya menuangkan teh ke cangkir teh di depannya: “Kau kembali?”

“Mm.” Ding Ji duduk di sebelahnya. Dia menerima teh dan minum seteguk, bersandar ke sofa.

“Kau tidak mengharapkan ini, ‘kan?” kata kakeknya sambil tersenyum. “Apa kau menyesal tidak pulang lebih awal?”

“Kenapa aku harus menyesalinya? Aku bersenang-senang sampai aku tidak ingin pulang,” kata Ding Ji.

“Aku membujuk ayahmu untuk pergi.” Kakeknya menepuk kakinya. “Kau tidak pergi ke sekolah selama dua hari, ‘kan? Pergilah ke kelas besok, dan langsung pulang saat sekolah selesai. Jangan bermain-main sebelum ujian. Belajarlah dengan baik.”

Ding Ji tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Orang tuamu juga tidak benar-benar ingin mengaturmu,” kata kakeknya. “Tapi bagaimanapun juga kau anak yang pintar, dan pelajaranmu…”

“Jangan bicara omong kosong.” Ding Ji memotong kata-kata kakeknya. “Kalau aku benar-benar pintar, aku tidak akan seperti ini.”

“Lagipula, kau benar-benar idiot.” Kakeknya mengubah kata-katanya tanpa berpikir. “Bagaimana kau bisa tidak fokus pada pelajaranmu?”

Ding Ji tertawa, lalu menghela napas: “Baiklah, berhenti berbicara berputar-putar. Minum tehmu. Aku akan tidur.”

Dia pasti akan pergi ke sekolah. Dia belum mengambil kertas ujian yang baru dikeluarkan minggu ini.

Keesokan harinya, dia pergi sangat awal. Ketika dia sampai di sekolah, gerbang bahkan belum dibuka.

Mengerutkan alisnya, Ding Ji mengeluarkan ponsel dan meliriknya. Rasa groginya yang setengah tertidur menghilang seketika.

“Brengsek?” katanya kaget, berdiri di dekat jendela pos keamanan.

“Ada apa, apa kau salah membaca waktu?” tanya satpam, bersandar di jendela sambil tersenyum.

“Mm.” Ding Ji sedikit putus asa, mengatur jam di layar ponselnya kembali ke angka.

Apa ini yang disebut pintar? Dia bahkan bisa salah membaca jam analog.

“Apa kau sudah sarapan?” pria itu bertanya.

“Ya,” jawab Ding Ji datar.

“Masuklah.” Pria itu membuka pintu. “Ada beberapa siswa tahun ketiga yang tinggal di sekolah yang sudah bangun sekitar waktu sekarang dan pergi ke ruang kelas.”

“Tidak buruk, Paman.” Ding Ji menatapnya. Paman ini baru saja menjabat selama dua bulan. “Bagaimana Anda tahu kalau aku tahun ketiga?”

“Aku mengenalimu, Ding Qi,” kata pria itu. “Ada fotomu di papan pengumuman publik.”

Untuk Ding Ji, dia selalu tidak tahan ketika dipanggil dengan nama yang salah. Dari sekolah dasar, dia punya banyak nama: Ding Qi, Ding Yuqi, Ding Wen, Ding terserah. Bahkan ada beberapa orang buta yang memanggilnya Ding Lin.

Dia tersenyum pada pria itu dan melewati gerbang.

Baris ketiga dari belakang kelas adalah tempat yang indah.

Bahkan jika sekolah seperti San Zhong5Sekolah di Tiongkok sering diberi nomor, dan San Zhong (三中) berarti “sekolah menengah ketiga.” yang terus-menerus bertarung dengan Fu Zhong6Fu Zhong berarti sekolah menengah yang berafiliasi, sekolah yang terhubung atau terkait dengan institusi akademik lain, seperti universitas untuk tingkat pendaftaran siswa, baris ketiga dari belakang memiliki banyak siswa yang beragam.

Misalnya, teman satu meja Ding Ji, Shi Xiangyang, saat itu dia tengah meletakkan sepotong kue di mejanya saat ini menggunakan pisau, dengan cermat memotongnya menjadi potongan-potongan kecil.

Dia memotong mereka lagi dan lagi. Sepertinya tujuannya adalah untuk terus memotong sampai lebarnya satu sentimeter.

Pada kenyataannya, ukuran ini sangat sulit untuk dicapai. Bahkan sebelum itu, kue itu sedikit banyak sudah hancur.

Perasaan cemas.

He-laoshi7Laoshi (老师) berarti guru. menyebutnya begitu.

Selalu ada beberapa orang di barisan belakang yang tidak mau berpindah tempat duduk, jadi mereka yang memiliki kecemasan cukup parah tersebar dengan padat, terlihat di kiri dan kanan.

Dia tidak ingin memikirkan orang yang menggigit kuku di sebelah kirinya untuk saat ini.

“Aku punya pertanyaan.” Ding Ji mengeluarkan buku teks fisika dari ranselnya.

“Mm.” Shi Xiangyang mengangguk.

Ding Ji memilih yang mudah: “Jelaskan masalah ini padaku.”

Shi Xiangyang mendapatkan kembali keaktifannya. Pada saat dia selesai menjelaskan masalahnya, dia telah menyelesaikan kue di mejanya.

Ding Ji tidak berusaha membantunya. Hanya saja dia mendengar bahwa ada seseorang di Ba Zhong8Sekolah menengah kedelapan. yang menjadi gila sebelum ujian dan menikam teman satu mejanya tujuh atau delapan kali.

Shi Xiangyang sendiri adalah pria kuat bertubuh persegi panjang dengan tinggi dan berat 196.

Ini dianggap menyelamatkan dirinya sendiri.

Setiap hari durasinya sama, tetapi berapa lama dalam satu hari terlewati, itu cenderung bervariasi.

Misalnya, karena dia tinggal di sekolah hari ini, waktu berlalu sangat cepat karena dia harus pergi ke “rumahnya sendiri” malam ini. Jika waktu memiliki kaki, dia hampir bisa bergegas dan menariknya untuk memberinya diskon.

Bahkan, dia masih tinggal di sekolah semester lalu, dengan kebebasan yang cukup banyak. Tetapi ayahnya merasa bahwa kebebasannya telah tumbuh terlalu banyak, memaksanya untuk meninggalkan asramanya dan pulang ke rumah.

Sebagian besar waktu, saat dia membuka pintu, dia bisa mencium aroma makanan dan melihat senyum orang tuanya. Itu cukup bagus.

Dia hanya tidak bebas.

Ding Ji telah menghabiskan terlalu sedikit waktu dengan mereka berdua. Jika dia menjelaskannya, mereka hampir tidak bisa dianggap sebagai orang asing yang akrab. Dua tahun lalu, mereka bahkan tidak akrab.

Dia kira-kira bisa bertemu mereka sekali selama tahun baru, tetapi semakin muda anak itu, semakin sulit untuk menjaga ingatan mereka tetap segar. Kali berikutnya mereka bertemu, dia sudah lama melupakan mereka.


“Kau pulang,” teriak ibunya dari ruang makan, lalu berbalik dan berseru kepada bibi yang tengah memasak, “Liu-jie9Jie (姐) berarti kakak perempuan., kamu bisa mengatur meja.”

Ding Ji melemparkan ranselnya ke sofa dan pergi untuk mencuci tangannya.

Hidangan di atas meja adalah semua makanan yang disukainya: tomat dan telur orak-arik, bebek lima rasa. Bahkan ada sup daging babi cincang dan iga. Setiap kali dia pulang, makanannya selalu sama, dengan satu atau dua piring berputar lainnya.

Menu ini tidak pernah berubah dalam dua atau tiga tahun, sejak orang tuanya kembali ke China dan bertanya kepada neneknya tentang hidangan yang disukainya.

Terkadang, Ding Ji tidak bisa benar-benar memahami cara kerja otak mereka.

Bahkan jika dia suka memakannya, setelah dua atau tiga tahun, dia mungkin muak.

Tapi saat ditanya masakan apa yang disukainya, dia tidak bisa menjawab.

Dia tidak pilih-pilih, dan dia tidak menghindari makanan tertentu.

Baginya, dia sesungguhnya tidak harus memiliki hidangan yang dia sukai dan hanya makan untuk meningkatkan hubungan mereka. Dia hanya terbiasa makan makanan yang dibuat neneknya.

“Apa rasanya enak?” ibunya bertanya. 

“Mm, enak.” Ding Ji mengangguk. 

“Apa kau pergi ke sekolah hari ini?” ayahnya bertanya.

“Ya,” jawab Ding Ji, makan dengan kepala tertunduk. Dari tepi penglihatan, dia melihat mereka berdua secara bersamaan menghela napas.

“Kau masih harus fokus,” kata ayahnya. “Aku menelepon He-laoshi-mu. Kau sudah membolos kelas terlalu banyak akhir-akhir ini, dan nilai ujianmu semuanya turun …”

“Mm,” Ding Ji menjawab dengan setuju, ingin menggunakan sikap positif semacam ini untuk memotong kata-kata mereka.

Tapi itu tidak berhasil.

“Kau selalu pintar,” lanjut ayahnya, “selalu dikenal sebagai anak yang pintar…tentu saja, nilaimu saat ini belum tentu lebih buruk jika dibandingkan dengan yang lain, tapi kau jelas bisa lebih baik, kau…”

Ding Ji menyendok beberapa sendok tomat dan telur orak-arik ke dalam mangkuknya, mencampurnya dengan nasi, menundukkan kepalanya, dan menghabiskan makanannya dalam beberapa suap. Menyingkirkan mangkuknya, dia berdiri.

“Mau pergi kemana?” Ibunya menatapnya.

“Belajar.” Ding Ji berjalan ke sofa dan meraih ranselnya.

“Kau sedang dalam mood lagi,” kata ayahnya.

“Biarkan anak itu selesai makan dulu sebelum kamu mulai berbicara,” Liu-jie mendesah. “Kami tidak pernah menceramahi anak-anak kami di meja makan. Mereka tidak akan bisa makan dengan baik.” 

“Dia hanya bisa mendengarkan kita mengatakan beberapa hal saat makan malam,” ibunya juga menghela napas. “Kakek-neneknya tidak bertele-tele seperti kita, dan lihat bagaimana anak ini pada akhirnya…”

Ding Ji tiba-tiba menambahkan kekuatan saat dia berjalan ke kamarnya dan menutup pintu. Dengan keras, pintunya terbanting menutup.

Dia berdiri dengan hampa di belakang pintu untuk sementara waktu, lalu duduk di depan mejanya.

Dia agak malas baru-baru ini. Dia mengusap perutnya. Dia baru saja makan terlalu cepat, dan perutnya sedikit kembung.

Tapi menjadi malas adalah keadaan normalnya. Setelah beberapa waktu dia akan merasa terlalu lelah. Selain bersenang-senang, dia tidak tertarik melakukan hal lain.

Jadi nilainya terus naik dan turun, seperti ombak.

Dia tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk berkonsentrasi. Dia juga tidak memiliki metode belajar yang efisien.

Dia ceroboh, tetapi tidak mau berubah.

Singkatnya, dia tidak benar-benar berpikir dia pintar, dan tidak suka ketika orang mengatakan dia pintar. Dia tidak cukup baik untuk kata pintar.

…Dia sebaiknya belajar.

Dia mengeluarkan soal latihan sains dari ranselnya, bersandar di meja, meletakkan kepalanya di atas lengannya dan mulai belajar.


“Kau tidak makan malam di ruang makan?” Chen Mang memandang Lin Wuyu. “Kau semakin liar.”

“Aku sedikit pusing.” Lin Wuyu memijat pelipisnya. “Aku akan pergi jalan-jalan dan makan sesuatu yang enak nanti.”

“Ingatlah untuk membawa pulang makanan atau sesuatu,” kata Chen Mang segera.

“Aku mungkin kembali lebih awal hari ini,” kata Lin Wuyu. “Jadi aku tidak akan membawa barbekyu.”

“Kami penyuka gratisan tidak terlalu peduli, selama kami punya sesuatu untuk dimakan,” kata Chen Mang.

Lin Wuyu tertawa.

Beberapa hari yang lalu ketika dia pergi ke taman mini, dia melihat toko yang didekorasi dengan lucu di seberang jalan yang disebut “Bahkan Anjing Datang.” Dia tidak ingin menyeberang jalan saat itu jadi dia tidak pergi.

Hari ini, dia berencana untuk melihatnya saat jalan-jalan. Mungkin akan ada makanan enak, dan kepalanya akan berhenti sakit setelah memakannya.

Mungkin bahkan akan ada anjing yang bisa dia pelihara.

Dipenuhi harapan, Lin Wuyu pergi ke taman mini.

Bahkan Anjing Datang.

Itu adalah sebuah kedai kopi kecil.

Benar-benar ada anjing, tiga di antaranya, dengan tanda-tanda kecil di leher mereka. Liuliu, Langlang, Gougou10Liu lang gou (流浪狗) berarti anjing liar..

Tapi ini bukan bagian yang penting. Bagian pentingnya adalah bahwa semua meja di toko adalah meja tunggal, dengan satu kursi.

Kata-kata yang tertulis di atas meja—sayang sekali, anjing tunggal.11 Single dog (单身狗) adalah bahasa gaul Internet untuk seseorang yang tidak sedang menjalin hubungan..

Tapi gambar tumpang tindih yang ditempel di dinding semuanya adalah pasangan mesra.

Lin Wuyu merasa seperti dia telah menderita kerusakan serius, dia dengan cepat berbalik dan pergi bahkan tanpa bermain terlebih dahulu dengan anjing-anjing disana.

Kepalanya berdenyut menyakitkan.

Lin Wuyu membeli sekotak obat penghilang rasa sakit di apotek dekat mini-plaza. Ketika dia berjalan melewati alun-alun dan ingin pergi ke supermarket di seberangnya untuk membeli minuman untuk obatnya, dia melihat Ayam… Ding Ji di tangga.

“Apa peluangnya?” Ding Ji mengangkat alis kirinya.

Hari ini, Ding Ji tidak memiliki asisten penipu di sisinya, dan si idiot yang antusias juga tidak ada di sana. Hanya ada dia.

“Apa kau tidak memprediksi apa aku akan datang?” Kepala Lin Wuyu masih terasa sakit.

“Aku tidak melakukannya.” Ding Ji menatapnya. “Jika aku memprediksi kalau kau datang, aku akan membawakan sebotol air untukmu.”

Lin Wuyu meliriknya, berhenti.

“Sakit kepala?” Ding Ji bertanya, sedikit senyum muncul di sudut mulutnya, membawa sedikit kebanggaan.

Lin Wuyu tidak berbicara, melihat kembali ke arah dia datang.

“Aku punya air di sini.” Ding Ji mengeluarkan botol kaca besar dari belakangnya. “Aku baru saja meminumnya, meskipun…”

“Biarkan kutebak,” kata Lin Wuyu.

“Hm?” Ding Ji membeku.

“Kau melihatku pergi terakhir kali, dan kebanyakan orang pulang pada waktu itu, menunjukkan bahwa arah tempat tinggalku adalah…” Dia menunjuk ke belakang Ding Ji. “…di sana.”

Ding Ji memegang botol kaca besar, tidak mengatakan apa-apa.

“Tapi hari ini aku datang dari arah yang berlawanan, dan ketika aku datang, aku menekan pelipisku kira-kira tiga kali, kemungkinan karena sakit kepala, yang cukup parah.” Lin Wuyu menggosok pelipisnya lagi. “Jadi aku mungkin pergi membeli obat untuk menghilangkan rasa sakit. Hanya ada satu apotek di sekitar mini-plaza… kalau kau tidak melihatku datang, kau mungkin tidak akan bisa menebaknya.”

Ding Ji masih tidak mengatakan apa-apa, menatapnya.

“Sebenarnya, untuk amannya, akan lebih cocok untuk menanyakan apakah aku sakit kepala. Lagi pula, aku bisa saja meminta secangkir air kepada petugas apotek untuk meminum obatku.” Lin Wuyu berpikir sejenak. “Tetapi bertanya kepadaku tentang air terlebih dahulu memiliki hasil yang lebih baik. Bagaimanapun, jika kau salah, kau masih berhasil menebak soal sakit kepalaku. Bahkan jika tebakanmu soal sakit kepalaku salah, itu tidak masalah, karena aku tidak mengenalmu.”

“Dasar keparat,” kata Ding Ji.

“Apa aku menebak dengan benar?” Lin Wuyu bertanya.

“Ya,” kata Ding Ji.

“Air.” Lin Wuyu mengulurkan tangannya.

Ding Ji menyerahkan botol kaca besar kepadanya.

KONTRIBUTOR

Koejirolu

distressed syllable

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments