• Post category:Xiao Zhang
  • Reading time:24 mins read

“Aku akan pacaran dalam seminggu.” Ding Ji mengangkat alisnya.

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Koejirolu


Hari ini cerah dan berangin, tanpa adanya awan yang terlihat bermil-mil jauhnya.

Cuaca hari ini benar-benar bagus.

Lin Wuyu bersandar di pagar atap, menulis di buku catatan kecil dengan kepala menunduk.

Terdengar suara-suara keras di sekelilingnya. Ada beberapa siswa dan guru di puncak tangga, kamera video menunjuk ke seorang gadis yang berdiri di tepi atap, berteriak. Suasana di bawah bahkan lebih ramai, dengan semua orang melihat ke atas bersama.

Ini mungkin kegiatan yang paling disambut baik yang diselenggarakan oleh serikat mahasiswa tahun ini.

“Makanan di ruang makan kami sangat enak! Benar-benar yang terbaik di kota!” teriak gadis itu.

Terdengar tepuk tangan dari bawah. Lin Wuyu menundukkan kepalanya dan tersenyum.

“Apa kau masih harus membuat catatan?” Wakil menteri departemen publisitas serikat mahasiswa berjalan mendekat, sedikit terkejut saat melihatnya. “Bukankah serikat mahasiswa mengundang orang-orang untuk merekamnya? Kenapa kau masih… kalau begitu apa aku harus membuat catatan juga?”

“Hm?” Lin Wuyu mengangkat pandangan dan meliriknya. “Oh, buatlah. Lagi pula, ini pertama kalinya sekolah kita mengadakan kegiatan semacam ini. Ini cukup menarik.”

Wakil menteri baru saja menduduki posisinya dan dia menjalankan tugasnya dengan sangat serius. Ketika dia mendengar Lin Wuyu mengatakan ini, dia langsung mengangguk dan mengeluarkan buku catatan kecil yang dia bawa.

Setelah menatap halaman kosong untuk sementara waktu, dia bergerak lebih dekat ke Lin Wuyu. “Kau…”

“Jangan lihat punyaku.” Lin Wuyu mengeluarkan sepasang kacamata dari sakunya dan memakainya. “Tulisan yang ditulis dari banyak sudut pandang akan lebih komprehensif.”

“Baik!” Wakil menteri tiba-tiba mengerti. Dia melihat ke bawah dan mulai menahan napas, menggigit bibirnya.

Lin Wuyu menunduk, terus menulis di buku catatannya.

Aku ingin makan mie rebus untuk makan malam. Tambahkan lebih banyak minyak.

Lebih enak kalau itu lemak babi.

Lemak babi

Dia belum selesai menulis catatan dari sudut pandangnya ketika Lin Wuyu mendengar suara seorang gadis melayang dari depan: “Sebaiknya aku… tidak usah naik, tiba-tiba aku sedikit takut. Tidak, tidak, aku jadi sangat gugup sekarang. Aku tidak berani untuk pergi dan berbicara lagi.”

Ketika dia mendongak, dia melihat ketua serikat mahasiswa Li Ying menepuk bahu seorang gadis, tersenyum: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kalau kau tidak ingin naik, tidak apa-apa. Biarkan siswa lain yang melakukannya dulu.”

Untuk sesuatu seperti berteriak di atap, meskipun orang masih harus mengantri, perasaan itu sama sekali berbeda dari mengantri untuk membeli secangkir teh susu.

Jika seseorang memotong antrian saat membeli teh susu, bahkan jika orang di belakang mereka tidak mengatakan apapun, di dalam hati mereka masih akan mengutuk si pemotong antrian itu menjadi telur busuk, atau benda hijau berbulu. Sangat berbeda dari situasi saat ini. Jika seseorang memotong antrian di depan, orang-orang di belakang mungkin bahkan akan menghela napas lega.

Tetapi, tidak hanya ada sedikit orang saat ini, satu orang tiba-tiba pergi. Segelintir siswa yang menunggu untuk naik dan berteriak segera semua menoleh dan menatap Li Ying, benar-benar membeku.

Gadis yang saat ini berada di tepi atap yang berteriak agar para gadis di ruang makan tidak menggoyangkan sendok mereka sudah selesai menyatakan pandangannya dan dia akan menyelesaikannya. Dengan suasana yang begitu antusias, jika orang-orang di belakang terus berdiri dalam keheningan yang canggung, itu akan sedikit tidak nyaman.

“Aku akan pergi.” Lin Wuyu menutup buku catatan dan menggulungnya dengan santai, memasukkannya ke saku belakang.

“Tentu.” Li Ying mengangguk tanpa berpikir dua kali dan tidak bertanya apa yang akan dia katakan. Bagaimanapun, dia adalah dewa akademis. Dia mungkin bahkan tidak akan memiliki masalah dengan membiarkan Lin Wuyu naik dan meneriakkan esai.


Ada sekitar enam belas langkah antara tempat Lin Wuyu berdiri dan tempat berteriak di samping pagar. Pada saat dia berjalan, dia masih tidak tahu apa yang ingin dia katakan.

Apa yang harus dia katakan?

Ketika dia berdiri di tepi atap, dia melihat Xu Tianbo berdiri di samping pohon, melihat ke atas.

Lin Wuyu menyesuaikan kacamatanya, meraih pagar atap untuk menopang tubuhnya, dan tersenyum pada orang-orang di bawah.

Setelah suara teriakan gadis sebelumnya berlalu, dia membuka mulutnya: “Selamat siang, semuanya. Namaku Lin Wuyu.”

Untuk Lin Wuyu, dalam lingkup hal-hal di bawah kendalinya, seringkali, tindakan impulsif adalah salah satu jenis perasaan gembira. Seperti sekarang.

Kamera video di sampingnya hampir tepat mengarah ke wajahnya. Dia melihat ke bawah dan berdehem.

“Sebenarnya, aku tidak pernah berpikir kalau aku akan berdiri di sini suatu hari nanti, berbicara di depan begitu banyak orang.”

Suara-suara di bawah secara bertahap mulai memudar.

Meskipun berdiri di sini untuk berbicara bukanlah bagian dari rencananya, meskipun baru satu detik dia berdiri di sini, dia masih tidak yakin apa yang akan dia katakan…

“Aku sudah menyimpan kata-kata ini di hatiku untuk waktu yang lama. Aku ingin mengatakannya untuk diriku sendiri dan orang lain sepertiku.”

…Begitu dia membuka mulutnya, setiap kata yang dia ucapkan terdengar seperti dia telah melatihnya beberapa ratus kali.

“Ada seseorang yang sangat aku sukai. Mungkin dia sudah tahu, atau mungkin tidak, tapi itu tidak penting.” Dia mengangkat kepalanya, suaranya menjadi sejelas dan selembut sebelumnya. “Aku tidak akan memberitahumu aku menyukaimu, tapi aku akan memberitahu semua orang kalau aku menyukai pria.”

Lingkungan di sekitarnya menjadi sunyi seketika. Kamera video di tepi penglihatannya membeku, orang yang merekamnya memperlihatkan setengah wajahnya dari belakang kamera itu.

Untuk banyak hal, Lin Wuyu memiliki seratus persen, kadang-kadang bahkan beli-satu-gratis-satu dua ratus persen kepercayaan diri, tetapi begitu keadaan menjadi sunyi di sekelilingnya, dia masih sedikit gugup.

Dia hanya menundukkan kepalanya, bahkan tidak berani menatap wajah Xu Tianbo.

Lalu terdengar suara siulan.

Saraf tegang di tubuh Lin Wuyu tiba-tiba rileks, tanpa terasa dia menghela napas ringan.

Setelah itu, dia mengatakan beberapa kata lagi, satu atau dua kalimat. Tapi dia tidak berusaha mengingatnya. Lagi pula, dia bisa memikirkannya ketika dia membutuhkannya.

Untuk hal-hal yang ingin diingatnya, dia bisa mengingat setiap momen, tidak peduli berapa lama itu.

Setelah meninggalkan pagar atap, dia mendengar suara rendah Li Ying: “Tidak ada Ikan1No Fish: Wuyu (无隅) adalah homofon dengan “tidak ada ikan” (无鱼), sehingga memunculkan julukan ini.! Kau terlalu mengesankan.”

Di puncak tangga, dia bertemu dengan guru wali kelasnya, Lao Lin2Lao Lin: Menempatkan lao (老) sebelum nama seseorang adalah cara informal untuk merujuk pada guru yang kamu kenal atau orang yang lebih tua.. Lao Lin belum berumur empat puluh tahun ini, dan dia memiliki jenis kelamin yang sama dengannya, jadi Lin Wuyu selalu memanggilnya ge.3Ge (哥) artinya kakak laki-laki tapi juga berarti orang yang lebih tua darimu

“Apa itu sudah direncanakan?” Lao Lin menghalangi jalannya.

“Tidak,” jawab Lin Wuyu. “Apa aku perlu merencanakannya jika aku hanya pergi ke sana dan mengucapkan beberapa patah kata?”

“Apa yang kau katakan adalah bagian pentingnya.” Lao Lin tersenyum.

“Tidak.” Lin Wuyu berpikir sejenak. “Apa itu mempengaruhimu?”

“Itu tidak mempengaruhiku,” kata Lao Lin.

“Kalau begitu, bagus.” Dengan suara rendah, Lin Wuyu berkata, “Apa aku bisa pergi lebih awal? Aku lapar.”

“Pergi, pergi, pergi.” Lao Lin melambai padanya.

Lin Wuyu menghilang seperti gumpalan asap saat dia berlari menuruni tangga, kembali ke asramanya terlebih dahulu.


Di antara empat orang di asrama, dia adalah satu-satunya yang merupakan bagian dari serikat mahasiswa dan harus pergi ke atap.

Tiga lainnya tengah duduk di depan meja mereka, bahkan tidak mendongak ketika mereka mendengar seseorang masuk.

“Kegiatannya sudah selesai?” Liu Ziyi bertanya, mengangkat kepalanya.

“Secepat itu?” kepala Chen Mang tenggelam di depan bukunya. “Aku pikir sampai sekolah selesai?”

“Belum selesai.” Lin Wuyu melepas jaketnya dan mengulurkan tangan untuk melepas kacamata di wajah Liu Ziyi. “Apa resep kacamatamu jadi lebih tinggi?”

“Ya. Kau tahu?” Liu Ziyi menggosok matanya. “Dengan menghitung lingkaran?”

“Kenapa aku harus menghitung lingkaran?” Lin Wuyu mengambil kain mikrofiber yang diletakkan Liu Ziyi di sudut meja dan mungkin digunakan sekali dalam seribu tahun, mulai membersihkan kacamatanya untuknya. “Aku baru saja melihat matamu mengecil.”

“Persetan.” Liu Ziyi menghela napas.

Orang-orang di ruangan itu tertawa.

“Ikan, apa kau mau makan malam di ruang makan? atau apa kamu mau keluar?” Chen Mang meregangkan tubuhnya dan menoleh untuk menatapnya.

“Beri tahu aku apa yang ingin kau makan.” Lin Wuyu menyerahkan gelas yang sudah dibersihkan kepada Liu Ziyi, menyaksikan matanya yang cukup besar menyusut menjadi setengah ukurannya.

“Terserah padamu.” Chen Mang menggosok perutnya. “Aku akan puas selama aku bisa makan makanan gratis.”

Lin Wuyu mengganti jaketnya dengan jaket yang berbeda. Ketika dia hendak meninggalkan asrama, Chen Mang menambahkan: “Apa kau akan kembali sebelum mulai belajar malam ini?”

“Aku?” Lin Wuyu menunjuk dirinya sendiri.

“…Pura-puralah kalau aku tidak pernah bertanya.” Chen Mang memberi hormat padanya. “Yo kamu ‘kan tipe orang yang tidak perlu belajar di malam hari.”


Lin Wuyu menutup pintu asrama. Dia bahkan belum berjalan ke puncak tangga ketika ponselnya berdering dengan pemberitahuan baru.

Dia tidak terburu-buru untuk membacanya. Meskipun dia menerima banyak pemberitahuan selama sehari, dengan bunyi nada ini, dia pada dasarnya bisa menebak siapa itu.

Indra keenamnya cenderung mencuri perhatian seperti itu.

Lima belas menit telah berlalu sejak dia selesai berbicara di atap. Menurut pemahamannya tentang Xu Tianbo, dari reaksinya yang ragu-ragu hingga menguatkan hatinya dan mengirim pesan, itu sedikit banyak sesuai dugaannya.

Berdasarkan kecepatannya dalam menangani masalah ini, dia bisa dianggap sebagai seseorang yang tidak main-main.

Lin Wuyu mengakui bahwa dia tidak berani membaca pesan ini sekarang.

Dia pergi ke toko dan membeli es loli untuk dikunyah, untuk membantunya tetap tenang.

Tidak ada kios mie rebus yang enak di sekitar sekolah. Mie rebus terbaik baginya ada di rumah, dibuat oleh ayahnya.

Rumahnya tidak jauh dari sekolah. Tepatnya, itu sangat dekat, sangat dekat sampai orang tuanya bahkan tidak perlu menebak untuk mengetahui bahwa alasan dia tinggal di sekolah hanya agar dia bisa meninggalkan rumahnya.

Tapi hari ini, dia benar-benar merindukan mie rebus itu. Dia, seseorang yang biasanya tidak akan pulang kecuali dia perlu mengambil baju baru, berdiri di gerbang sekolah selama beberapa menit, lalu berbalik dan mulai berjalan menuju jalan pulang.

Setelah mengambil beberapa langkah, dia mengeluarkan ponselnya dan, dengan kepala tertunduk, membuka WeChat.

Kemudian dia dengan cepat mengklik angka “1” berwarna merah di bagian paling atas.

Kamu luar biasa, dewa akademis! Tidak peduli apakah kamu menyukai pria atau wanita, aku akan selalu menjadi sahabatmu.

Langkah kaki Lin Wuyu tidak berhenti, dia terus melihat ponselnya saat dia berjalan ke depan.

Jarinya melayang di atas layar cukup lama, dan akhirnya tidak mendarat saat dia mematikan ponselnya dengan kecepatan kilat, memasukkannya kembali ke dalam sakunya.

Saat dia mulai memasuki lingkungan rumahnya, dia tiba-tiba berhenti.

Baru saat itulah dia mulai merasa sulit bernapas.

Sebenarnya, dia seharusnya tidak merasa aneh. Jika Xu Tianbo bisa menebak siapa yang dia bicarakan, maka jawaban ini pasti akan muncul.

Ketika dia menerima pesan itu, dia sedikit banyak bisa memikirkan isi di baliknya, lembut tapi tegas, tidak menyakiti siapa pun, namun tidak meninggalkan kelonggaran.

Hanya saja ketika dia berdiri di tepi atap dan membuka mulutnya, dia sengaja tidak memikirkan mengenai “bagaimana jika” ini.

Tapi saat ini, kelalaian yang disengaja ini membuatnya merasa bahwa dia telah melebih-lebihkan tingkat toleransinya.

Itu sedikit menyakitkan.


“Kenapa kau pulang hari ini?” Suara di belakangnya menyela Lin Wuyu dari bersiap-siap untuk mengambil langkah lain dalam proses mengasihani dirinya sendiri.

“Aku ingin makan mie rebus.” Dia menoleh dan melihat ibunya di belakangnya, membawa tas belanjaan.

“Kenapa kau terlihat sangat buruk?” Begitu ibunya melihat wajahnya, dia segera maju selangkah dan menatapnya. “Apa kau sakit? Apa kau merasa tidak nyaman?”

“Tidak,” kata Lin Wuyu, “aku mungkin tidur terlalu larut tadi malam.”

“Apa ada yang membuatmu tidak nyaman? Apa kepalamu sakit? Perutmu sakit?” ibunya terus menanyainya.

“Tidak.” Lin Wuyu mengulurkan tangan dan mengambil belanjaan di tangannya, berjalan ke depan.

“Syukurlah kalau begitu.” Ibunya mengikutinya. “Kalau kau ingin makan mie rebus, kau tidak harus pulang. Kau juga tidak membawa bahan belajar. Apa kau berencana untuk tidak belajar sama sekali malam ini?”

“Mm,” Lin Wuyu menanggapi.

“Kenapa kau santai sekali?” Ibunya mengerutkan alisnya. “Apa menurutmu jika seseorang menyebutmu dewa akademis, kau benar-benar dewa akademis? Orang-orang harus menghadapi kenyataan, dan mereka juga harus menghadapi diri mereka yang sebenarnya. Kalau kau benar-benar dewa akademis, kenapa kamu tidak pernah berani bolos satu kelas? Kenapa kau tidak berani menjamin kalau kau akan mendapat nilai sempurna? Kenapa kau tidak berani…”

“Bu.” Lin Wuyu menoleh dan menekankan jari telunjuknya ke bibirnya, merendahkan suaranya. “Ssst… dengarkan.”

“Dengarkan apa?” ibunya bertanya.

“Dengarkan aku bicara,” kata Lin Wuyu.

Ibunya tidak bereaksi, mengawasinya.

“Aku tidak akan berpikir kalau aku jenius hanya karena seseorang menyebutku pintar, dan aku tidak akan merasa kalau aku tidak mampu jika seseorang menyebutku bodoh. Aku bisa menilai diriku sendiri dengan baik.” Lin Wuyu berbicara dengan sangat tenang. Dibandingkan dengan kecepatan bicara seperti senapan mesin ibunya, itu seolah-olah dia sedang berjalan-jalan. “Ada hal lain yang perlu aku perjelas. Dalam hidup, selain hal-hal yang tidak berani aku lakukan, ada banyak hal yang tidak aku harapkan.”

“Kau…” Ibunya kembali ke akal sehatnya, merajut alisnya.

“Ssst.” Lin Wuyu mengangkat jarinya lagi. “Dengarkan.”

“Dengarkan apa, lagi!” Ibunya meninggikan suaranya dengan marah.

“Jika tak ada satu pun dari kita berbicara,” kata Lin Wuyu, “suasana hati kita akan meningkat pesat.”


Ketika dia masuk rumah, ayahnya sudah mulai membuat mie rebus di dapue. Ibunya, yang sudah sampai di rumah sebelum dia, mengerutkan kening saat dia duduk di sofa. Lin Wuyu berjalan ke dapur dan menyapa ayahnya: “Ayah.”

“Berhenti terus berdebat dengan ibumu,” kata ayahnya.

“Mm,” Lin Wuyu menanggapi.

“Kau bukan anak kecil lagi. Sebentar lagi kamu kuliah,” kata ayahnya. “Kau harus belajar berempati dengan orang tuamu, memahami orang tuamu…”

“Mm,” Lin Wuyu menanggapi lagi.

Ibu dan ayahnya, pada kenyataannya, sudah mencapai titik itu. Di antara mereka berdua, mereka bisa berempati dan memahami satu sama lain. Karena mereka adalah orang tua dengan pandangan yang saling bertentangan.

Lin Wuyu berbalik dan mulai berjalan menuju kamarnya.

“Buka jendela di kamar kakakmu, biarkan udara segar masuk,” kata ibunya.

“Mm.” Langkah kaki Lin Wuyu berhenti sejenak dan dia berjalan ke kamar di sebelahnya.

Dia membuka semua jendela dan pergi dengan cepat, kembali ke kamarnya sendiri dan mengunci pintu, lalu berbaring di tempat tidur.

Mie rebus merugikan orang.

Menjadi rakus merugikan orang.

Jika dia tidak bisa makan mie rebus… apa yang harus dia makan sekarang.


“Mie saus goreng4 Mie goreng saus (炸酱面) adalah hidangan yang terdiri dari daging babi tanah direbus dengan tempe (kedelai yang difermentasi) asin yang dibalurkan pada mie gandum yang tebal.?” Wajah neneknya tiba-tiba muncul di depan mata Ding Ji.

“Ya Tuhan5Ya Tuhan: Frasa yang Ding Ji katakan di sini secara harfiah diterjemahkan menjadi, “Oh leluhurku.”!” Ding Ji sangat terkejut sampai membuatnya melangkah ke tepi meja di depannya, menjatuhkan ponselnya ke tanah dari posisi tegaknya di atas meja.

“Untuk apa itu tadi?” Dia menepuk dadanya. “Kau hampir membuat cucumu takut sampai hampir celaka. Apa kau layak menjadi leluhur keluarga Ding!”

“Bahkan jika ini bisa menakutimu, apa kau, cucuku, layak menjadi leluhur keluarga Ding?” kata neneknya. “Apa yang kau tonton? Film horor?”

“Kapan aku pernah menontonnya.” Ding Ji menghela napas dan membungkuk untuk mengambil ponselnya. Dia tidak berani untuk memulai, dan wanita tua itu terus menggunakan prinsip menyembuhkan penyakit dengan racun untuk menakut-nakuti dia setiap kali dia memiliki waktu luang. Dia merasa seperti dalam beberapa tahun lagi, keberaniannya akan benar-benar luntur.

Dia sudah menonton film dokumenter ini selama berhari-hari. Ada segala macam kejahatan dan pembunuhan di dalamnya. Film dokumenter lama tidak akan menampilkan adegan pembunuhan, jadi foto-foto mengerikan akan muncul secara tiba-tiba. Lupakan menontonnya di malam hari, bahkan menontonnya saat senja membuatnya merasa seperti ada rambut yang menyapu tulang punggungnya.

Setelah ditakuti oleh wanita tua itu, dia tidak ingin menontonnya lagi. Dia melemparkan ponselnya ke samping dan berdiri, meregangkan tubuh: “Apa aku sudah boleh makan sekarang? Mie saus goreng?”

“Kalau kau mau makan sesuatu yang lain, Nenek akan membuatkannya untukmu.” Neneknya berjalan ke jendela dan menatap keluar.

“Aku ingin pangsit,” kata Ding Ji.

“Tentu, aku akan pergi membuat pangsit untukmu sekarang.” Neneknya mengangguk, tapi dia masih berdiri di dekat jendela, tidak bergerak.

“Sedang lihat apa?” Ding Ji berjalan mendekat dan berdiri di samping neneknya, menatap keluar bersama.

“Seseorang meninggal.” Neneknya memasang ekspresi muram saat dia menjepit jarinya, kepalanya menunduk saat dia menghitung. “Apa itu…”

Ding Ji melihat ke bawah. Segalanya tampak tenang dan damai, dan dia tidak mendengar gerakan apa pun. Dia hendak bertanya bagaimana mungkin seseorang meninggal, tapi dia bahkan belum membuka mulutnya ketika beberapa lembar uang kertas kuning melayang di atas trotoar.

Embusan angin membuat pusaran kecil dan mereka melayang di sepanjang jalan.

“Persetan.” Punggung Ding Ji seolah mati rasa. Dia segera berbalik dan meninggalkan jendela, meletakkan tangannya di belakang punggung dan menggaruknya. “Bisakah kau tidak melakukan itu!”

“Nenekmu cenayang, eh?” Neneknya bertanya sambil tersenyum, menatapnya.

“Cenayang, pantatku.” Ding Ji meraih jaketnya dan memakainya. “Kita percaya pada sains sekarang, dan kau masih melakukan tindakan penyihir paranormal itu.”

“Jangan bicara omong kosong!” Neneknya menampar punggungnya. “Aku masih sangat spiritual!”

Ding Ji menoleh dan mendekati neneknya. Menurunkan suaranya dan memasang ekspresi misterius, dia bertanya: “Nyonya tua, jujurlah. Apa kau sudah melihat uang kertas melayang itu barusan?”

Neneknya juga menatapnya dengan ekspresi misterius. Setelah beberapa saat, dia berkata: “Beberapa lembar.”

Ding Ji terkesiap. Mengenakan sepatunya saat dia tertawa, dia bersiap untuk keluar: “Aku mau jalan-jalan.”

“Kau ingin makan pangsit tapi kau tidak mau menguleni adonan? Tidak mau mencubit potongan adonan? Tidak mau membungkusnya juga?” tanya neneknya secara berurutan.

“Aku tidak tahu cara mencubit potongan adonan, dan kau juga tidak akan membiarkan aku menggunakan pisau untuk melakukannya,” kata Ding Ji.

“Tidak mau membuat isiannya? Tidak mau merebus air?” kata neneknya.

“Mie saus goreng.” Ding Ji bersandar pada kusen pintu. “Aku ingin mie goreng saus sekarang.”

“Bajingan kecil. Aku tidak bisa mengharapkan apa pun darimu. Er-gu6Er-gu (二姑) artinya bibi kedua dari pihak ayahmu.mu akan datang sebentar lagi, aku akan memintanya untuk membantuku.” Neneknya menunduk dan menjepit jarinya, mulai menghitung.

“Bukankah Er-gu-ku akan datang besok?” kata Ding Ji.

“Hari ini.” Neneknya selesai mencubit jarinya dan mendongak, mengangkat alisnya. “Dia akan tiba kapan saja sekarang.”


Ding Ji menuruni tangga, berjalan menuju Hu-ayi7Ayi (阿姨) adalah cara memanggil wanita yang seumuran dengan orang tuamu, artinya bibi., yang sedang berjalan. Dia menyapanya: “Hu-ayi, apakah kau masuk angin?”

“Ah, pagi ini,” Hu-ayi membenarkan. Hanya setelah dia menuruni tangga itu, dia meraih pagar dan bertanya dengan heran, “Bagaimana kau tahu?”

Ding Ji tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.

“Kau sudah belajar banyak dari nenekmu…” Hu-ayi menghela napas. “Bagaimana kau tahu?”

Ding Ji menghela napas juga. Terlalu mudah untuk membodohinya. Dia baru saja mendengar suara Hu-ayi bersin saat dia berdiri di ambang pintu, berbicara dengan neneknya, serta desahan yang agak sengau, tidak lebih.

Tapi neneknya kadang-kadang benar-benar seperti paranormal. Ketika dia berjalan keluar dari koridor, dia bertemu dengan bibinya.

Er-gu, apa kau memberi tahu Nenek kalau kau akan datang?” Tanya Ding Ji segera.

“Tidak, aku hanya lewat untuk bekerja. Aku awalnya setuju untuk datang besok,” kata bibinya. “Tapi aku sudah di sini, jadi aku akan berkunjung hari ini, kurasa.”

“Lalu bagaimana dia tahu kau akan datang?” tanya Ding Ji.

“Mencubit jarinya dan menghitung, tentu saja,” kata bibinya. “Kau satu-satunya orang di keluarga yang paling banyak belajar darinya, dan kau bertanya padaku?”

Ding Ji tertawa, dan menundukkan kepalanya, mulai menghitung dengan tangan kirinya.

“Apa yang kau hitung?” bibinya bertanya sambil tersenyum. Dia mulai berjalan menaiki tangga.

“Aku akan pacaran8Istilah yang digunakan di sini adalah bunga persik (桃花), tetapi secara kiasan berarti hubungan cinta. dalam seminggu.” Ding Ji mengangkat alisnya.

 

 

KONTRIBUTOR

Koejirolu

distressed syllable

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments