Penerjemah: Chu

Editor: Vaniasajati


Li Shuo kembali ke meja makan. Ibunya tiba-tiba berkata, “Kembali begitu cepat? Bagaimana dengan Jinxin?”

“Di luar agak dingin jadi aku kembali. Dia pergi ke kamar mandi.”

“Memang sedikit dingin di malam hari. Saat cuaca bagus, kita akan makan di tepi danau.” Nyonya Zhao berkata sambil tersenyum. “Li Shuo, aku harap kamu akan sering berjalan-jalan dengan JinXin di masa depan. Aku tidak suka dia pergi sepanjang hari dengan beberapa teman seusianya. Mereka sering memainkan olahraga ekstrim yang berbahaya. Olahraga seperti yang kamu mainkan itu sehat dan aman. Kamu juga stabil. Jika JinXin terus berhubungan denganmu, dia mungkin bisa belajar banyak.”

“Terima kasih bibi. Aku hanya beberapa tahun lebih tua dari Jinxin. Aku mungkin tidak bisa mengajarinya apa pun. Tapi jika pengalaman hidupku bisa membantunya, tentu aku dengan senang hati membantu.”

Li Shuo mengenakan setelan jas dan sepatu kulit, membuat penampilannya luar biasa dan tampan. Setiap gerakannya benar-benar elegan. Nyonya Zhao hanya bisa menghela nafas: “Anak ini, Li Shuo benar-benar sempurna. Seharusnya banyak gadis yang menyukainya. Kamu sudah punya pacar?”

“Ah… belum.” Nyonya Li tanpa sadar menyisir rambutnya ke belakang dengan tidak nyaman. Meskipun mereka menerima orientasi seksual putranya, tapi kebanyakan orang Cina konservatif. Lagipula ini bukan hal yang baik, dan mereka tidak ingin terlalu banyak orang tahu.

Li Shuo berkata sambil tersenyum, “Aku punya pacar1Pacar laki-aki..”

Begitu kata-kata itu keluar. Semua orang membeku.

Kata-kata dan perbuatan Li Shuo selalu baik. Dia tidak berniat menunjukkan orientasinya di mana-mana. Dia hanya ingin mengambil kesempatan untuk menyampaikan pesan ke keluarga Zhao: beri tahu anakmu untuk menjauh dariku.

Tuan Li menatap Li Shuo dengan tidak percaya. Dia tidak bisa mengerti apa yang dia pikirkan.

Zhao Rongtian kembali ke akal sehatnya lebih dulu: “… oh, oh, ini. Anak muda punya pilihan sendiri.”

Nyonya Zhao tersenyum canggung. Dia hanya menganggukan kepalanya.

Li Shuo bersulang untuk mereka. Dia menyesap anggur dengan tenang. Setelah beberapa saat, Zhao Jinxin kembali. Begitu dia duduk, dia berkata, “Da-ge bebas besok? Ayo bermain tenis.”

Li Shuo merentangkan tangannya sambil tersenyum: “Aku baru saja bermain dengan ayahku pagi ini. Karena sudah lama tidak bermain, otot-ototku tegang. Lain waktu saja.” Li Shuo melihat ekspresi pasangan Zhao.

Zhao Rongtian terbatuk ringan: “Apa maksudmu kamu ingin bermain tenis? Besok kita akan pergi ke perusahaan untuk mendiskusikan berbagai hal.”

“Oh.” Zhao Jinxin sepertinya mengingatnya. “Kalau begitu aku akan pergi ke perusahaan besok.” Dia mengeluarkan ponselnya. “Da-ge, berikan aku nomor teleponmu.” Ketika dia mengucapkan kata “nomor telepon”, dia menyadari bahwa dia (Li shuo) telah memblokir nomornya. Dia menunjukkan senyum ambigu yang hanya bisa dipahami Li Shuo.

Li Shuo mengeluarkan ponselnya diam-diam, menekannya beberapa kali. Dia kemudian dengan lembut mendorong ponsel dan menyelipkannya di atas meja makan. Dia menatap Zhao Jinxin sambil tersenyum.

Begitu Zhao Jinxin mengangkat ponsel, dia melihat halaman daftar hitam. Dia tersenyum dan membebaskan nomornya dari daftar hitam. Kemudian dia mendorong ponsel kembali: “Tolong jaga aku di masa depan.”

“…”

“Terima kasih.”

Setelah makan, keluarga tiga orang itu berpamitan. Segera setelah dia kembali ke mobil, Tuan Li tidak terlalu senang dan berkata, “Katakan, apa yang kamu coba lakukan untuk memberi tahu mereka?”

Li Shuo berkata dengan tenang, “Zhao Jinxin tidak cocok untuk bekerja sama. Itu akan membuatku kesulitan. Yang terbaik adalah orang tuanya membiarkan dia menjauh dariku.”

Tuan Li tidak berbicara. Dia hanya menghela nafas berat.

Nyonya Li membujuk: “Putranya bukan orang sembarangan. Bocah JinXin itu telah dimanjakan sejak dia masih kecil. Mungkin memang tidak cocok untuk bekerja sama.”

Tuan Li kemudian menambahkan: “Hei, Ya. Aku juga mendengar bahwa anak itu playboy. Aku tidak tahu apakah dia memiliki keterampilan yang nyata. Xiao-Shuo, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apapun. Semua terserah padamu.”

Li Shuo menepuk bahu ayahnya. Dia dengan lembut tersenyum dan berkata, “Terima kasih Ayah.”

Keesokan paginya, ayah dan anak dari keluarga Li pergi ke kantor pusat Ennan Group. Resepsionis mengundang mereka ke ruang konferensi. Selain Zhao Rongtian dan Zhao Jinxin, ada juga dua eksekutif dan sekretaris.

Keduanya memasuki ruang konferensi. Kecuali Zhao Rongtian sebagai ketua, yang lain berdiri dengan hormat.

Untuk pertama kalinya, Li Shuo melihat Zhao Jinxin mengenakan setelan formal. Dia setengah kepala lebih tinggi dari orang asing dengan perut besar. Dia mengenakan setelan jas tiga potong2Bab 4 – Itu Sakit! berwarna abu-abu besi dan memakai dasi dengan warna yang sama. Melalui penampilannya, pemuda ini bisa menjadi seorang model atau aktor dalam film besar. Li Shuo tidak bisa berhenti memikirkan betapa sempurnanya tubuh yang terbungkus dalam setelan itu—bagaimanapun juga, dia telah melihatnya.

Beberapa orang bertukar beberapa kata. Zhao Jinxin berinisiatif membuka kursi untuk ayah dan anak keluarga Li: “Paman Li, silakan duduk. Da-ge, silakan duduk.”

Li Shuo berpikir dalam hati. Dengan tatapan serius Zhao Jinxin seperti ini, siapa yang bisa membayangkan bahwa dia akan mengejar pria yang baru saja dia temui. Dia juga mengirim foto setengah telanjang ke orang asing. Jika bukan karena dia sudah memiliki Li Chengxiu, dia pasti ingin “melihat” apartemen yang dibicarakan Zhao Jinxin.

Pembawaan Zhao Rongtian berubah – itu tidak seperti kemarin. Seluruh tubuhnya memancarkan aura bos besar. Pertama-tama dia memperkenalkan dua eksekutif. Salah satunya adalah direktur pengembangan strategisnya. Yang lainnya adalah direktur keuangan yang akan dikirim ke China. Kemudian dia secara singkat menyampaikan pemikirannya tentang pengembangan perdagangan utara. Dia berharap Li Shuo akan melakukannya — mulai dari konsultasi kebijakan dan perpajakan hingga kerjasama audit.

Setelah selesai berbicara, Zhao Jinxin membuka presentasi PowerPoint. Mereka mulai menguraikan rencana mereka. Perusahaan masih dalam tahap rekrutmen. Bahkan kerangka organisasi belum selesai. Namun perkembangan jangka panjang perusahaan selama bertahun-tahun kemudian tampaknya telah sepenuhnya dilihat oleh ayah dan anak dari keluarga Zhao.

Jika ini adalah perusahaan kecil, Li Shuo akan berpikir mereka sedang membual. Tapi dengan gedung perkantoran yang besar ini. Evaluasinya, seperti yang dikatakan ayahnya, Zhao Rongtian adalah orang yang visioner.

Dan kemampuan Zhao Jinxin juga membuat ayah dan anak keluarga Li terkesan. Beberapa pertanyaan telah ditanggapi dengan sangat dalam — ini jelas bukan pengalaman yang dapat dimiliki oleh seorang mahasiswa yang baru lulus.

Faktanya, dalam beberapa jam mereka mengobrol di pesawat, Li Shuo tahu bahwa orang ini sama sekali bukan generasi kedua dari bos besar3Fuerdai (Hanzi: 富二代; Pinyin: Fù’èrdài; harfiah: ‘orang kaya generasi kedua’) adalah sebuah istilah Tionghoa yang merujuk kepada anak-anak dari orang kaya baru di Tiongkok. Sebutan ini juga digunakan untuk Tuan muda yang hanya bergantung dengan harta orang tuanya. Mereka memang berbicara sepanjang pagi di pesawat. Li Shuo sebenarnya sangat tertarik dengan kerja sama ini. Tidak hanya dia dapat membawa manfaat yang cukup besar untuk perusahaannya, tetapi bermanfaat baik untuknya secara pribadi atau untuk reputasi industri perusahaan. Ini adalah lompatan ke depan. Akan terlalu sia-sia jika kesempatan seperti itu dibuang begitu saja karena masalah pribadi.

Selain itu, dia tidak punya alasan untuk takut akan “pelecehan” Zhao Jinxin. Dia harus percaya pada prinsip dan tekadnya sendiri.

Setelah pertemuan, Zhao Rongtian harus melakukan hal lain sehingga dia membiarkan Zhao Jinxin membawa Li Shuo berkeliling perusahaan. Pada siang hari, dia juga menyuruh Zhao Jinxin untuk mengajak Li Shuo makan siang.

Berjalan keluar dari kantor, Zhao Jinxin membawa Li Shuo mengunjungi berbagai area fungsional kantor pusat Ennan Group. Gedung perkantoran ini terletak di tengah kota Manhattan. Hanya dua jalan dari Rockefeller Center. Harga tanahnya sangat mengerikan. Ennan Group menempati empat lantai. Lantai lainnya disewakan.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa betapapun menjengkelkannya Zhao Jinxin, selama dia memiliki kekayaan bersih seperti itu, akan ada banyak orang yang akan mengejarnya. Sangat disayangkan bahwa kekayaan tidak begitu menarik bagi Li Shuo. Lagipula, dia tidak kekurangan apa-apa. Dia bekerja karena dia menikmati rasa pencapaian yang dibawa oleh pekerjaan itu, bukan karena uang.

Kantor penuh dengan karyawan. Zhao Jinxin berperilaku sopan. Tetapi ketika mereka berjalan ke kafe di mana tidak ada seorang pun di sana, dia menampakkan sifat aslinya. Dia tiba-tiba mendekat ke telinga Li Shuo dan berbisik, “Apakah menurutmu aku terlihat bagus dalam setelan jas? Katakan padaku.”

Li Shuo mundur selangkah. Dia tersenyum dan berkata: “Menghargai kecantikan adalah kemampuan bawaan setiap orang.”

“Itu masuk akal.” Zhao Jinxin mengulurkan tangannya dan dengan lembut mengusap dasi Li Shou. Memperlihatkan senyum yang penuh arti.

Li Shuo melihat arlojinya: “Aku tidak akan menghabiskan waktumu di siang hari. Kebetulan aku ingin bertemu dengan seorang teman.”

“Sebuah janji dengan seorang teman? Kenapa kamu tidak meneleponnya untuk makan malam bersama? Aku yang traktir.”

“Tidak perlu merepotkanmu. Mungkin lain kali.”

Zhao Jinxin mengangkat bahu: “Oke. Aku akan mengantarmu ke bawah.”

Keduanya pergi ke tempat parkir bawah tanah. Li Shuo mengulurkan tangannya: “Terima kasih hari ini. Hubungi aku setelah kembali ke China. Jika kamu memiliki pertanyaan, mari kita bicara melalui telepon.”

Zhao Jinxin memegang tangannya. Dia tersenyum dan berkata: “Oke. Kita akan memiliki kerja sama yang mendalam.” Dia sengaja menekankan kata “mendalam”.

Li Shuo langsung mengabaikan penekanannya yang penuh arti. Dia menarik kembali tangannya dan membuka pintu mobil.

“Apakah dia Li Chengxiu?” Zhao Jinxin memasukkan tangannya ke dalam saku. Dia menatap Li Shuo dengan malas.

Tubuh Li Shuo menegang. Dia membalikkan wajahnya dan ekspresinya menjadi gelap: “Kamu menyelidikiku?”

“Abad ke-21 adalah era informasi. Hanya untuk sedikit memahamimu. Jangan terlalu serius.”

Li Shuo menyipitkan matanya: “Zhao Jinxin. Aku telah sangat menoleransimu. Jangan melewati batas.”

“Apakah kamu marah? Bolehkah aku meminta maaf?” Zhao Jinxin bertanya sambil tersenyum. “Maaf, aku hanya… penasaran. Dia sangat kurus. Bisakah dia memuaskanmu?”

Li Shuo meraih kemeja Zhao Jinxin dan membalikkan posisi mereka — dia menekannya dengan kuat di pintu.

Zhao Jinxin mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Senyum santai di wajahnya tetap sama: “Kamu sepertinya tidak berprinsip seperti yang kamu katakan. Kamu adalah pihak ketiga dalam hubungan orang lain. Kenapa kamu harus begitu menentangku?”

Li Shuo berkata: “Sialan! Jadi, kamu tahu.” Dia benar-benar marah. Cara Zhao Jinxin memprovokasi dia sebelumnya, dia hanya merasa lebih tidak berdaya daripada tidak senang — Zhao Jinxin tidak menyinggung perasaannya. Tapi apa yang dia katakan barusan hanya menunjukkan satu hal yang paling tidak ingin dia ungkit. Dan juga fakta bahwa Zhao Jinxin melihat ke dalam dirinya!

“Aku tidak tahu banyak. Tapi aku sangat setuju denganmu.” Zhao Jinxin berkedip. “Ambil dan dapatkan apa pun yang kamu inginkan. Jika kamu tidak bisa mendapatkannya, rebut dia. Bukankah itu sifat pria? Kamu melakukannya dengan cukup baik.”

“Hal-hal tidak seperti yang kamu pikirkan. Li Chengxiu disakiti oleh bajingan itu….” Li Shuo menutup matanya. Mengapa dia mengatakan ini kepada orang luar? Dia membuka matanya. Matanya tajam dan jernih. “Lupakan saja. Jika kamu menyinggungku lagi, aku tidak akan mempertimbangkan sentimen apa pun.”

Zhao Jinxin tertawa: “Kamu benar-benar menarik. Aku menyukaimu. Aku hanya melakukan hal yang sama sepertimu. Kenapa kamu begitu takut? Apakah kamu takut bahwa kamu tidak bisa melawanku. Atau apakah kamu takut karena melihat dirimu sendiri dalam diriku?”

Li Shuo meremas kemejanya erat-erat. Tinjunya mengepal keras. Tatapan matanya tajam. Keduanya saling menatap untuk waktu yang lama. Zhao Jinxin bahkan tidak merasakan ketegangan sedikit pun. Sepasang mata genit tersenyum dari awal hingga akhir.

Li Shuo menghela nafas. Akhirnya, dia melepaskan Zhao Jinxin. Dia tidak suka kekerasan. Dia tidak suka kesalahan. Dia meluruskan kemejanya dan mendorong Zhao Jinxin menjauh. Dia kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.

Zhao Jinxin meraih pintu mobil. Dia tersenyum dan berkata, “Sayang, jika kamu menyukai tipe itu, aku yakin kamu belum pernah merasakan klimaks yang sesungguhnya.”

Li Shuo mengabaikannya. Dia menarik tangan Zhao Jinxin dan menutup pintu.

Tiba-tiba, Zhao Jinxin menjerit kesakitan.

Li Shuo terkejut. Mendongak, dia melihat pintu mobil menjepit tangan kanan Zhao Jinxin!

Dia buru-buru membuka pintu mobil. Melihat kulit pucat Zhao Jinxin – itu jelas bukan pura-pura. Dia dengan gugup bertanya: “Kamu, kenapa kamu tidak menarik tanganmu?! … apa kamu baik baik saja?”

“Itu sakit, sakit, sakit!” Zhao Jinxin membungkuk dan menutupi tangannya. Rasa sakitnya tak tertahankan. “Kamu terlalu berpikiran sempit.”

Li Shuo menarik napas dalam-dalam: “Aku bersumpah aku tidak melakukannya dengan sengaja. Masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke rumah sakit.”

Zhao Jinxin masuk dan duduk di kursi depan. Wajahnya mulai berkeringat. Dia menggeliat di kursinya: “Sakit, sakit, sakit.” Li Shuo menarik sabuk pengamannya dan memasangkannya padanya: “Kamu sudah dewasa. Bertahanlah. Siapa yang menyuruhmu untuk menarik pintu…”

Zhao Jinxin menatap Li Shuo. Sudut matanya terkulai. Mulutnya sedikit mengerucut. Dia terlihat sangat menyedihkan. Li Shuo menghela nafas, merasa agak bersalah: “Maaf. Itu tidak disengaja.” Meskipun kamu layak mendapatkannya .

“Cium aku dan aku akan percaya padamu.” Zhao Jinxin mengedipkan matanya.

Li Shuo mendorong kepalanya menjauh: “Duduklah dengan benar.”

Ketika keduanya tiba di rumah sakit, keempat jari Zhao Jinxin sudah bengkak – terdapat warna hitam-keunguan di tempat yang terjepit. Dokter memperbannya, dan untungnya tulangnya baik-baik saja dan kulitnya tidak robek. Dokter meletakkan kompres es pada tangannya. Dia meresepkan obat untuk diminum dan salep sebagai obat luar. Dan dia hanya perlu istirahat setelah ini.

Li Shuo memandang Zhao Jinxin, yang tangan kanannya untuk sementara tidak berguna. Dia mengalami sakit kepala yang mengerikan. Dia merasa bahwa Zhao Jinxin akan menggunakan ini untuk melawannya. Benar saja, Zhao Jinxin melambaikan tangannya: “Antar aku pulang. Aku tidak bisa menyetir.”

Li Shuo menggosok pelipisnya, berpikir. Lalu dia mengambil obat dan kopernya. Dia menghela nafas, “Ayo pergi.”

Li Shuo mengira dia tidak akan pernah datang ke apartemen yang telah berulang kali dibicarakan Zhao Jinxin. Sayangnya, hal-hal tidak terduga terjadi begitu saja – dan pada akhirnya dia benar-benar datang ke apartemen ini.

Begitu dia melangkah di pintu, beberapa gambar tidak senonoh praktis muncul di benaknya. Dia menyalahkan semuanya pada Zhao Jinxin — bocah itu. Tapi dia tidak berani mengatakan apa-apa.

Zhao Jinxin jatuh di sofa. Dia berkata dengan menyedihkan: “Aku sangat sakit.”

Li Shuo berkata: “Lalu apa yang harus aku lakukan? Sekarang hanya bisa dikompres dengan es. Ini tidak terlalu serius. Itu akan mereda dalam beberapa hari.”

“Itu sakit, sakit, sakit!” Zhao Jinxin menunjukkan ekspresi menyedihkan yang seperti anak anjing. Li Shuo menghela nafas. Dia melepas kantong es lalu dia mengambil tangannya dengan hati-hati untuk memeriksanya. Jari-jarinya yang panjang dan indah membengkak dan terlihat seperti wortel.

Dia benar-benar merasa bersalah. Dia menyentuhnya dengan lembut. Kemudian dia meletakkan kembali kantong es di tangannya: “Pakai dulu. Kompres dengan es selama satu hari, lalu dengan air hangat. Untuk obat, aku akan membantumu membagi porsi harian. Setel pengingat di ponselmu. Ingatlah untuk makan tepat waktu.”

“Lalu? Kamu akan meninggalkan aku sendiri?”

“Aku … apa lagi yang kamu ingin aku lakukan?”

Zhao Jinxin cemberut: “Aku lapar. Apakah kamu bisa memasak?”

“Ya, apa yang ingin kamu makan?”

“Lihat apa yang ada di lemari es. Buat apa saja.”

Li Shuo mengambil bantal di sofa dan meletakkannya di bawah kepala Zhao Jinxin. “Kamu istirahat sebentar. Jika sakit, tahan saja. Meskipun dokter meresepkan obat penghilang rasa sakit, yang terbaik adalah tidak meminumnya.”

Zhao Jinxin menatapnya dengan tenang dan mengangguk. Dia menunjukkan jenis kepatuhan yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Li Shuo berpikir sejenak, lalu mengulurkan tangan dan menggosok kepalanya untuk menghiburnya. Kemudian dia bangkit dan pergi memasak.

Zhao Jinxin melihat punggungnya menghilang di dapur dan bersiul pada dirinya sendiri.


 

KONTRIBUTOR

Chu
Vaniasajati
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
SANGHEERA
6 months ago

Aku uda sakit kepala liat kelakuannya jinxin dan ini baru chapter 4