Penerjemah: Vaniasajati
Editor: Chu


“Oh, bukan apa-apa. Hanya saja Paman Zhao-mu ingin bertemu denganmu.”

“Bertemu denganku? Kenapa?” Li Shuo cukup terkejut.

Dia dan Zhao Rongtian, ketua dari Ennan Group, hanya bertemu dua kali. Suatu waktu adalah ketika perjamuan satu tahunan (ulang tahun yang ke-1 tahun) putra satu-satunya Zhao Rongtian. Saat itu usianya masih sangat muda. Ayahnya dan Zhao Rongtian hanyalah kenalan biasa.

Waktu lainnya adalah ketika dia menulis makalah. Itu tentang para pemimpin bisnis Cina di New York. Dia tidak membuat janji melalui koneksi ayahnya. Jadi cukup sulit untuk membuat janji dengannya. Dia hanya berbicara sepuluh menit. Zhao Rongtian tidak tahu siapa dia. Diperkirakan dia sudah melupakan itu.

“Bisnis Paman Zhao-mu sebelumnya sebagian besar terkonsentrasi di daerah Sungai Yangtze. Sekarang dia ingin memperluas perdagangannya di utara. Kamu perlu mendirikan cabang di Beijing. Temukan firma akuntansi jangka panjang. Bukankah kamu ditempatkan di Beijing?”

“Oh.” Li Shuo tertawa. “Bagus, kalau begitu kamu bisa membicarakannya.” Tetapi tidak perlu memanggilnya kembali ke Amerika Serikat hanya untuk membicarakannya. Dia berpikir bahwa mungkin sebagian besar karena orang tuanya merindukannya. Meskipun dia lebih dari bersedia untuk menemani orang tuanya, dia sekarang benar-benar tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan Li Chengxiu. Dia berencana untuk segera kembali setelah melihat Zhao Rongtian. Dia akan membawa Li Chengxiu kembali saat Natal.

“Apakah kamu tidak pernah bertemu paman Zhao-mu?”

“Aku pernah bertemu dengannya. Aku masih seorang anak kecil waktu itu. Tetapi ketika kalian mulai bekerja sama, aku sudah meninggalkan Amerika Serikat.”

“Yah. Dia adalah orang yang sangat visioner dan bijaksana. Kamu akan lebih banyak berbincang dengannya segera. Kamu juga akan berterima kasih kepada Nyonya Zhao. Dia yang mengusulkan untuk bekerja sama denganmu. Sangat langka baginya untuk bisa mengingatmu.”

“Oke.”

“Apakah kamu ingat bahwa dia memiliki seorang putra?” Tuan Li bertanya. “Aku terkesan. Aku sangat tua. Bocah Jin itu sangat baik.”

Li Shuo juga terkesan dengan perjamuan satu tahunan yang dia hadiri ketika dia berusia dua belas tahun. Zhao Rongtian adalah presiden Kamar Dagang China dan seorang selebriti di Manhattan. Itu adalah upacara sosial. Dia sedikit munafik ketika dia masih kecil. Dia selalu berpikir secara berbeda dibandingkan dengan orang lain. Dia tidak menghargai kombinasi gaya Cina dan Barat keluarga Zhao, dan fakta bahwa dia bukan penggemar berat soal itu.

Dia ingat bahwa beberapa anak pada usia yang sama ingin memeluk bayi yang seperti boneka itu. Salah satu anak juga berbicara tentang keinginan untuk menggendong bayi dalam bahasa Cina dan pengasuh keluarga Zhao pura-pura tidak mengerti bahasa Cina dan memutar matanya ke atas. Lagipula, dia sedang menggendong putra satu-satunya bos besar yang berharga. Dia bisa melihat dengan jelas semua keributan dari samping.

Meskipun dia juga penasaran dengan bayi seperti boneka yang seolah diukir dengan batu giok — yang hanya akan tertawa pada semua orang itu, dia tidak melangkah maju untuk bergabung dengan kerumunan.

“Paman Zhao-mu mengirim putranya ke cabang manajemen kota Beijing. Kamu juga akan melihatnya kali ini. Di masa depan, kalian akan menjadi teman dan mitra.”

Li Shuo tersenyum ringan: “Oke.”

Zhao Rongtian dan istrinya terkenal memanjakan putra mereka. Dia (Li Shuo) benar-benar meragukan kemampuan pria itu. Semoga bukan peran yang sulit. Jika tidak, dia akan terjebak di antara Zhao Rongtian dan ayahnya. Bukankah itu merepotkan?

“Apa yang kamu bicarakan? Anakmu baru saja pulang. Dia bahkan belum makan.” Nyonya Li meraih tangan putranya. “Sebentar lagi makan malam. Aku akan menunjukkan kubis kecil yang kutanam. Ini sangat berair.”

Li Shuo mengikuti ibunya sambil tersenyum.

Setelah makan, Li Shuo sudah begitu lelah. Setelah mandi, dia tertidur di tempat tidur.

Ketika dia bangun. Itu sudah gelap. Dia melihat jam tangannya. Meskipun Li Chengxiu bangun saat ini, orang tuanya sudah siap untuk tidur.

Li Shuo mengambil foto dirinya tanpa bercukur dan mengirimkannya ke Li Chengxiu. Dalam foto itu, dia tampak kelelahan secara mental. Jet lag memang merepotkan.

Li Chengxiu dengan cepat membalas pesan teks: Kamu terlihat lelah. Istirahatlah dengan baik.

Li Shuo memutar telepon. Telepon berdering untuk waktu yang lama sebelum terhubung. Suara lembut dan hati-hati terdengar: “Panggilan jarak jauh internasional… sangat mahal. Ayo kirim pesan saja.”

Li Shuo terkekeh: “Tidak apa-apa. Aku ingin mendengar suaramu.”

Li Chengxiu juga terkekeh: “Di mana kamu sekarang?”

“Sudah jam sepuluh malam. Aku ingin kamu dan ibuku melakukan obrolan video. Tapi dia sudah tidur.”

“Obrolan video …” kata Li Chengxiu dengan takut-takut. “Tidak, tidak terlalu bagus.”

“Itu tidak masalah. Bukankah aku sudah memberitahumu? Orang tuaku telah mengetahui orientasi seksualku. Dan mereka sangat menghormatiku.”

“Tapi …” nada di telepon terdengar ragu-ragu.

“Jika kamu merasa tidak nyaman, maka tidak perlu obrolan video. Bagaimana kalau hanya mengatakan beberapa kata? Orang tuaku sangat ingin tahu tentangmu.”

“Oke.”

“Aku akan kembali untuk menemanimu segera setelah aku menyelesaikan semuanya di sini. Jika kamu bosan, pergi saja dengan Xiaohui. Jangan sampai kebosanan. Oke?”

“Oke.”

“Cheng Xiu.” Li Shuo berkata dengan lembut. “Kamu akan menyukai orang tuaku. Orang tuaku juga akan menyukaimu. Di sisiku, kamu tidak perlu menanggung beban apa pun.”

Suara mendesah lembut datang dari telepon. Li Chengxiu berbisik, “Li-gege, aku tahu.”

Keesokan paginya. Li Shuo pergi bermain tenis dengan ayahnya. Ini adalah olahraga ibu dan ayahnya dari kecil hingga dewasa. Ketika dia masih kuliah, dia berpartisipasi dalam National College Tennis League1Liga Tenis Perguruan Tinggi Nasional.. Dia juga mencapai perempat final. Dia berolahraga sepanjang pagi. Dia kemudian membawa orang tuanya ke restoran Prancis di mana mereka sering pergi makan malam.

Di sore hari, dia pergi berbelanja dengan ibunya. Dia adalah anak tunggal dan dia telah berada di seberang lautan sepanjang tahun. Jadi dia selalu merasa berhutang sesuatu kepada orang tuanya. Setiap kali dia kembali ke rumah, dia akan menghabiskan sebagian besar waktunya dengan keluarganya.

Saat senja, dia kembali ke rumah. Dia mengganti pakaian dengan jasnya. Paman Guang mengirim keluarga yang terdiri dari tiga orang itu ke tempat makan malam keluarga Zhao Rongtian.

Tuan Li baru-baru ini dibawa ke Kunqu oleh Paman Guang. Mereka berdua bernyanyi di dalam mobil dengan musik Kunqu. Li Shuo dan ibunya menertawakan mereka.

Zhao Rongtian tinggal di tengah Upper East Side2Upper East Side adalah sebuah permukiman di borough Manhattan di New York City, antara Central Park dan Sungai East yang bersebelahan dengan Central Park. Pemukiman ini terkenal mewah dan hanya ditempati orang-orang kaya.. Dia telah membangun sebuah danau buatan kecil di kediamannya. Ini adalah satu-satunya rumah Cina di Upper East Side. Li Shuo ingat bahwa rumah besar ini juga telah ditampilkan oleh media domestik.

Paman Guang menghentikan mobil di pintu mansion di bawah bimbingan keamanan.

Li Shuo berkata: “Paman Guang. Jangan tertidur saat mendengarkan musik. Ingatlah untuk meninggalkan sedikiit ruang (udara) di jendela.”

Paman Guang melambaikan tangannya: “Tentu saja.”

“Tunggu kami. Oke?” Li Shuo menepuk bahu Paman Guang sambil tersenyum.

Nyonya Li melangkah keluar dari mobil. Li Shuo membungkuk dan meluruskan roknya (Nyonya Li) yang sedikit kusut. Di sela-sela aksinya, dia mendengar suara bariton serak yang memanggil nama ayahnya. Begitu dia melihat ke atas, Zhao Rongtian membawa istrinya keluar untuk menemui mereka. Di belakangnya ada seorang pria muda yang tinggi. Saat Li Shuo melihat wajahnya dengan jelas, otaknya meledak. Zhao, Zhao Jinxin?!

Zhao Jinxin tidak menatapnya dengan dalam. Kemudian dia tersenyum dengan baik dan ramah: “Paman Li dan Bibi Li, halo. Aku sudah lama tidak melihat kalian. Kenapa Bibi semakin muda dan cantik?”

Nyonya Li tersenyum hingga matanya tertekuk: “Jin Xin telah dewasa tetapi mulutnya masih sangat manis.”

Mata Zhao Jinxin tertuju pada Li Shuo. Dia membuat ekspresi terkejut yang sok: “Apakah ini Li-Dage? Sangat tampan.”

“Halo.” Li Shuo mengangguk pada Zhao Jinxin. Mereka berdua berlagak seolah tidak pernah bertemu satu sama lain. Dia tersenyum dengan murah hati: “Halo, Paman Zhao, Halo, Bibi.”

“Aduh. Pemuda yang sangat berbakat.” Zhao Rongtian menatap Li Shuo dari atas ke bawah. Dia kemudian tertawa terbahak-bahak. “Terakhir kali aku melihatmu, kamu masih kecil.”

Tuan Li berkata dengan emosi: “Bukan itu. Terakhir kali kamu melihatnya, Jin Xin hanya bisa merangkak. Dalam sekejap mata, anak-anak sudah dewasa dan kita semua sudah tua.”

Nyonya Zhao tersenyum dan berkata: “Baik Jinxin yang ada di sini sebelumnya atau Li Shuo yang tidak ada di sini. Ini adalah pertama kalinya kita berenam di sini. Masuk ke dalam rumah. Mari kita bicara.” Keempat tetua berjalan di depan. Zhao Jinxin dan Li Shuo mengikuti.

Zhao Jinxin melirik Li Shuo ke samping. Dia berbisik: “Kubilang kita akan bertemu lagi.” Nada suaranya terdengar seperti dia geli. Itu sedikit bercampur dengan sedikit hasrat.

Li Shuo menatap punggung ayahnya tanpa melihat ke samping. Dia pura-pura tidak mendengarnya. Ia segera masuk ke dalam rumah.

Dihadapkan dengan kebetulan yang konyol ini, Li Shuo berubah dari terkejut menjadi tenang. Tetapi ketika dia memikirkan hubungan antara orang tuanya ini, dia merasa khawatir secara tidak jelas dengan orang ini. Dia tidak suka urusan pribadi dan urusan pekerjaan dicampur bersama. Menghindari masalah jauh lebih penting daripada menghasilkan uang. Dia takut dia harus mempertimbangkan kembali kerja sama itu.

Selama makan malam, kedua kepala rumah tangga mengobrol tentang pasar saham. Kedua wanita itu dengan sopan memamerkan putra mereka. Zhao Jinxin dan Li Shuo duduk berhadap-hadapan. Li Shuo selalu menatap ibunya sambil tersenyum, menghindari kontak mata yang tidak perlu dengan Zhao Jinxin. Zhao Jinxin mengangkat gelasnya: “Dage, ayo. Mari minum.”

Li Shuo bersulang dengan anggun, mengibaskan gelas bersamanya.

Nyonya Zhao menutup mulutnya dan tersenyum, “Kalian berdua memiliki perbedaan usia yang sangat jauh. Kalau tidak, kalian pasti akan tumbuh bersama.”

“Sayang sekali. Akan lebih baik jika aku mengenal Dage ini lebih awal. ” Zhao Jinxin berkata dengan sangat tulus.

Li Shuo tertawa: “Tidak juga.”

“Dage biasanya punya hobi apa? Kegiatan seperti apa yang kamu sukai?”

“Tenis, ski, menyelam. Bagaimana denganmu?”

“Kebetulan aku juga menyukai itu. Ayo pergi bersama lain kali.”

Li Shuo tersenyum sedikit: “Oke.”

“Xiao-Shuo, segera ketika Jinxin pergi ke China, kamu harus merawat didi ini dengan baik.” Nyonya Li meminta.

“Tentu saja aku akan melakukannya.” Li Shuo setuju sambil tersenyum. Dia menoleh ke Zhao Rongtian. “Paman Zhao. Aku dengar dari ayahku bahwa kamu berencana untuk membuka perdagangan di Utara.”

“Ya. Aku mendengar bahwa kamu sedang berada di Beijing. Mari kita bekerja sama dengan dua keluarga kita. Itu akan sangat bisa diandalkan.” Zhao Rongtian melambaikan tangannya. “Namun, hari ini kita hanya akan makan dan mengobrol. Kita akan berbicara tentang bisnis di perusahaan kita besok.”

Li Shuo mengangguk sambil tersenyum.

Zhao Jinxin berkata: “Dage, apakah kamu ingin daging sapi lagi?”

“Oh. Tidak, aku kenyang. Terima kasih.”

“Jika kamu kenyang, aku akan membawamu ke danau? Kamu bisa melihat-lihat.” Li Shuo baru saja akan menolak tetapi ayahnya berkata: “Pergi. Kalian anak muda mengobrolah dengan baik. ”

Li Shuo menyeka sudut mulutnya perlahan. Matanya menatap Zhao Jinxin dengan tajam. Zhao Jinxin tersenyum polos. Li Shuo berdiri. Dia membuat gerakan “silahkan” dengan senyum ringan. Dia ingin melihat trik apa yang bisa digunakan Zhao Jinxin.

Danau buatan yang digali oleh keluarga Zhao berada di tepi Central Park. Desainnya sangat unik. Kamu dapat melihat pemandangan Central Park yang indah di taman belakang keluarga Zhao. Namun saat memasuki malam hari atau saat berkabut, bangunan di sekitarnya tidak terlihat jelas. Li Shuo menyipitkan matanya dan melihat ke danau di bawah malam. Angin malam bertiup pelan. Itu dingin dan menyenangkan.

“Pemandangan di sini cukup bagus.” Zhao Jinxin meletakkan tangannya di belakang kepalanya. Dia menghela napas dengan nyaman.

“Ini cantik.” Li Shuo berkata dengan sungguh-sungguh.

Zhao Jinxin terkekeh: “Aku lupa berapa umurku ketika aku pindah ke sini. Ketika aku masih kecil, setiap kali aku mendekati danau, semua orang mengikuti. Mereka takut aku akan jatuh seolah aku ini sangat bodoh.”

Li Shuo berpikir. Zhao Jinxin adalah anak tunggal dari keluarga Zhao. Dan mereka baru memilikinya pada usia 40 untuk Zhao Rongtian. Dia benar-benar darah kehidupan mereka. Tidak mengherankan untuk mempekerjakan delapan orang untuk mengawasinya 24 jam. Li Shuo tidak menjawab. Dia menunggu apa yang akan dikatakan atau dilakukan Zhao Jinxin.

Dia tidak mau mengakuinya tetapi dia sedikit penasaran dengan apa yang mungkin berani dilakukan Zhao Jinxin. Zhao Jinxin membungkuk untuk mengambil batu dari rumput. Dia melemparkannya dengan keras ke tengah danau. Ada suara “Boom”. Batu kecil itu jatuh ke danau, menciptakan lingkaran kecil riak yang tenang di bawah sinar bulan.

Li Shuo masih diam. Tapi dia dalam keadaan waspada. Bagaimanapun, Zhao Jinxin “menyelinap dan menyerang”nya di pesawat.

“Meskipun tempat ini bagus. Tapi aku masih lebih suka apartemenku.” Zhao Jinxin tersenyum rendah. “Di lantai tertinggi. Jaraknya hampir dua ratus meter dari tanah. Tidak ada gedung yang lebih tinggi di sekitarnya.”

Li Shuo ingat apa yang dikatakan Zhao Jinxin di pesawat. Ada gambaran aktivitas seksual yang tak terkendali di benaknya. Zhao Jinxin mengikuti pikirannya dengan cara yang menggoda: “Telanjang di kolam renang. Terekspos di bawah langit dan sinar matahari. Tampaknya seluruh dunia kosong. Tapi melihat ke bawah. Kamu juga bisa melihat mobil-mobil berjalan di jalan dan layang-layang terbang di taman tepi sungai. Anak-anak bermain. Tapi tidak ada yang akan melihatmu. Melihat apa yang kamu lakukan. Kamu akan malu pada awalnya. Tapi kamu akan segera…”

“Baiklah.” Li Shuo segera memotongnya. Dia tiba-tiba menemukan bahwa pikirannya diambil alih oleh Zhao Jinxin. Itu adalah apakah Zhao Jinxin telah menebak apa yang dia pikirkan atau Zhao Jinxin yang mencoba memaksakan gambar erotis itu ke dalam pikirannya.

Dia “diserbu” oleh ide orang ini. Ini jelas bukan hal yang baik. Dia berhenti dan tersenyum sedikit tak berdaya. “Jin Xin. Pengejaranmu tidak berhasil untukku. Tidak masalah apakah kamu memiliki pesona atau tidak. Demi wajah ayah kita. Mari kita berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi di pesawat. Kita akan berteman. Tidak ada yang lain selain itu.”

Zhao Jinxin meliriknya ke samping. Lalu dia menyeringai: “Benarkah? Kita tidak bisa lebih? Aku telah mengirimimu fotonya. Apakah kamu menyukainya?”

“Aku suka itu. Kamu dalam kondisi yang baik.” Li Shuo mengakui dengan jujur.

Zhao Jinxin mengedipkan matanya: “Aku memiliki sesuatu yang ‘lebih baik’. Apakah kamu ingin melihat?”

Li Shuo meletakkan tangannya di sakunya. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya: “Jika kamu tidak bisa berkomunikasi denganku secara normal, maka sebaiknya kita tidak melakukan kontak sama sekali.”

Zhao Jinxin menatapnya selama dua detik. Dia tertawa: “Oke. Aku tidak akan menggodamu.”

Li Shuo mengangkat pergelangan tangannya dan melihat arlojinya: “Aku akan kembali dulu.”

Dia akan pergi. Zhao Jinxin meraih lengannya: “Kenapa buru-buru? Aku akan mengajakmu bermain di sekitar danau?”

“Tidak. Sudah gelap sekali…”

“Akan lebih menyenangkan ketika hari sudah gelap. Kita bisa menyalakan kembang api di danau. Itu akan sangat indah.”

Li Shuo melepaskan tangannya dengan sopan tapi tegas: “Tidak perlu. Aku memiliki waktu terbatas untuk kembali ke sini. Aku ingin tinggal bersama orang tuaku.” Dia mengangguk pada Zhao Jinxin. Dia berbalik dan berjalan kembali.

Zhao Jinxin melihat ke belakang. Sudut bibirnya selalu tersenyum. Baru setelah punggung Li Shuo menghilang, dia mengeluarkan ponselnya. Dia membuat sebuah panggilan (telepon). Dia berkata dengan malas, “Hei, Gege. Aku melihatnya.”

….

“Yah. Kamu memiliki mata yang bagus. Sangat cocok dengan seleraku.”

…..

“Mata kakak ipar juga bagus …”

Zhao Jinxin menjauhkan ponsel dari telinganya ketika orang di seberang teleponnya berteriak. Setelah auman selesai, dia berkata sambil tersenyum. “Jangan terlalu galak. Cuma bercanda. Jika kamu memiliki temperamen yang buruk, kamu akan mati. ”

….

“Jangan khawatir, Gege. Meskipun agak sulit. Tapi …” Zhao Jinxin sedikit menyipitkan matanya. “…Ini menyenangkan.”


Catatan Penerjemah Inggris: perhatikan bahwa orang Cina memanggil orang lain ‘paman’, ‘bibi’, ‘kakak (lelaki)’, ‘kakak (perempuan)’ bahkan ketika mereka tidak memiliki hubungan darah. Itu hanya tanda hormat. Juga, ‘Kunqu’ adalah opera Tiongkok kuno jika saya tidak salah.

Oke, saya pikir saya harus menjelaskan ini. Terlepas dari jenis kelaminnya, untuk orang Cina, mereka akan menggunakan ‘istri’, ‘kakak ipar’, atau ‘ibu mertua’ untuk hubungan bahkan di antara pria. Di bagian ini di mana Zhao Jinxin menganggap Li Chengxiu sebagai ‘kakak iparnya’ adalah karena dia ingin pria itu bersama ‘saudaranya’. Anda akan tahu siapa ‘saudara’ ini di bab selanjutnya. Dan di antara orang Cina, jika seseorang berada dalam hubungan pria x pria, wajar untuk menganggap orang lain sebagai ‘istri’ atau ‘suami’ sesuka mereka. Ini mungkin tidak asing bagi orang barat jadi saya pikir saya harus menjelaskannya. Ini diceritakan kepada saya oleh teman Cina saya yang tentu saja gay.


KONTRIBUTOR

Chu
Vaniasajati
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments