Penerjemah: Chu

Editor: Vaniasajati


Li Shuo tidak tidur dengan nyenyak. Dalam keadaan linglung, dia mendengar siaran di kabin, bahwa pesawat hendak mendarat.

Dia meraba-raba untuk meraih penutup matanya. Dia ingin melepasnya. Tapi sebelum dia bisa meraihnya, sebuah tangan besar memegang tangannya dengan lembut. Suara bak magnet terdengar di telinganya: “Lampu baru saja menyala di kabin dan sangat terang.”

Li Shuo tersadar dari kebingungan. Dia tiba-tiba teringat bahwa ini adalah suara Zhao Jinxin.

Dia menutup mata saat melepas penutup matanya. Dia menunggu sampai matanya hampir bisa beradaptasi dengan cahaya. Kemudian dia membukanya perlahan.

Yang menarik perhatiannya adalah wajah tampan dengan senyum cerah. Wajah itu benar-benar cantik. Terutama sepasang mata bunga persik yang penuh dengan air musim gugur. Ketika Li Shuo menatapnya (mata Jinxin) dengan penuh kasih sayang, itu membuat hatinya bergetar. Tidak ada konsentrasi. Senyum ini bisa membuat orang membuang pelindung kepala mereka dan meninggalkan armor mereka.

Meskipun pria ini masih muda, dia adalah seorang veteran cinta. Dia tidak boleh diremehkan. Tapi dia lebih muda dari dirinya. Li Shuo berpikir bahwa dia ingin mengabaikannya. Dia dengan pelan mendorong Zhao Jinxin dan berkata dengan lembut, “Terima kasih.”

“Kamu baru saja tidur dan belum makan apapun. Aku menyisakan beberapa untukmu.” Zhao Jinxin menunjuk ke makanan di mejanya: “Kita akan mendarat sebentar lagi. Ayo makan sesuatu. Salad udang manis rasanya enak.”

“Aku tidak lapar.”

“Kalau begitu minumlah air.” Zhao Jinxin memberinya air mineral. “Atau secangkir kopi?”

Li Shuo mengambil airnya: “Air saja.”

Zhao Jinxin menatapnya dengan senyum di wajahnya. Seolah-olah memandang sepotong porselen, dia perlu tenang dan mencoba mencari tahu dengan hati-hati.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Li Shuo telah menyadari seksualitasnya sejak remaja. Banyak orang yang mengejarnya di masa lalu dan mereka yang telah menunjukkan niat baik atau pengejaran yang jelas kepadanya dapat mengisi Boeing 747 ini. Ada ras hitam, putih, kuning, coklat dan lainnya. Di antara mereka, ada banyak yang lebih berani dari Zhao Jinxin. Tetapi hanya sedikit orang yang percaya diri seperti Zhao Jinxin.

Itu benar-benar membuatnya tidak nyaman. Tapi itu juga benar-benar hal baru baginya.

Setelah meminum airnya, Li Shuo berencana pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ketika dia menutup pintu, dia tanpa sadar melihat ke belakangnya, jangan sampai Zhao Jinxin masuk lagi. Melihat wajah yang tampak lelah di cermin, dia memastikan kondisinya selama beberapa detik. Dia tidak bisa menahan tawa. Dalam perjalanan ini, ia mendapat kejutan yang penuh kesegaran. Itu membuat penerbangan yang awalnya panjang tidak membosankan sama sekali. Jadi, seharusnya tidak ada yang perlu dimarahi. Dia membuka pintu kamar mandi. Sekilas, dia melihat Zhao Jinxin duduk di kursinya. Dia (Jinxin) menatapnya dengan dagu terangkat. Sepertinya dia sedang menunggu saat dia membuka pintu. Dia (Jinxin) tersenyum padanya.

Li Shuo juga tersenyum. Ia lalu kembali duduk di kursinya. Dia sudah memutuskan bahwa jika Zhao Jinxin bersikeras meminta nomor teleponnya, dia akan menolak dengan sopan dan tegas. Tapi setelah kembali duduk di kursinya Zhao Jinxin hanya mengobrol dengannya tentang cuaca.

Pesawat mendarat.

Hingga mereka berdua akhirnya berjalan keluar dari pintu kabin, Zhao Jinxin tidak berbicara hal yang menjengkelkan lagi.

Di aula kedatangan, Zhao Jinxin mengulurkan tangan kepadanya: “Pertemuan adalah takdir. Selamat tinggal.”

Li Shuo juga berjabat tangan dengannya dengan murah hati: “Ini merupakan perjalanan yang terbaik.”

Zhao Jinxin berjalan mundur dua langkah. Kemudian dia menyeringai: “Sampai jumpa lagi.” Senyum itu licik dan keras kepala. Itu tampak seolah-olah bisa menerangi udara di sekitarnya.

Li Shuo tersenyum ringan. Dia tidak menganggapnya serius.

Sopir rumahnya telah menunggu di bandara lebih awal. Li Shuo melihat lelaki tua yang selalu terlihat bersih dan rapi dengan kepribadian yang baik hati. Dia merasakan kehangatan di hatinya: “Paman Guang.”

“Lambert.” Wajah Paman Guang penuh dengan senyuman. “Pesawatnya benar-benar mendarat tepat waktu….”

Li Shuo memeluknya. Dia tersenyum dan berkata, “Kenapa kamu masih terkejut? Apakah kamu sangat suka menungguku?”

“Siapa yang suka menunggumu…” Paman Guang berpura-pura marah. “Hanya kembali sekali atau dua kali setahun. Siapa yang mau menunggumu?”

Li Shuo tertawa terbahak-bahak: “Baiklah, aku salah. Aku pasti akan kembali lebih sering. Mari kita pulang.”

Dalam perjalanan. Li Shuo menelepon ke rumah untuk melaporkan keselamatan.

Paman Guang meliriknya dari kaca spion: “Kamu benar-benar harus sering kembali di masa depan. Tuan dan Nyonya selalu membicarakanmu. Mereka sudah tua. Aku takut mereka kesepian.”

“Tentu.” Li Shuo ingat alasan ayahnya menyuruhnya kembali. Agak misterius. Tidak jelas di telepon. Dia mengatakan bahwa itu terkait dengan Ennan Group.

Ayahnya pernah menjadi salah satu direktur kantor akuntan terbesar ketiga di Amerika Serikat. Kemudian dia pensiun dini karena masalah jantung. Dia dipekerjakan kembali sebagai penasihat keuangan oleh temannya, ketua Ennan Group. Ennan Group adalah perusahaan besar yang bergerak di bidang perdagangan impor dan ekspor AS-China. Pemiliknya adalah orang Cina. Dia dan ayahnya telah berteman selama bertahun-tahun. Tubuh ayahnya tidak bisa menangani pekerjaan tekanan tinggi lagi. Jadi dia menjalani kehidupan setengah pensiun dan setengah bekerja.

Pikirkan tentang itu. Apakah kamu ingin dia mengambil alih lagi?

Dia jelas menolak memasuki kantor ayahnya ketika dia masih kuliah. Sekarang dia memiliki bisnis sendiri di Cina, bahkan lebih tidak mungkin untuk kembali. Li Shuo tidak bisa menebak. Jadi dia tidak lagi mencoba menebak.

Dia melihat pemandangan di luar jendela saat mobil lewat. Dia merasa familiar tapi juga asing. Dia meninggalkan Amerika Serikat setelah lulus dari perguruan tinggi. Dia hanya kembali dua atau tiga kali setahun. Dia menyukai angka sejak dia masih kecil. Jadi dia belajar akuntansi. Tapi dia merasa kota ini terlalu jenuh. Semua perusahaan besar memiliki hubungan dekat dengan perusahaan besar. Dia ingin memulai bisnis tapi dia tidak ingin bergantung dari jaringan yang dimiliki ayahnya, kota ini membuatnya merasa bosan. Jadi dia kembali ke Cina. Dia juga sangat bersyukur atas keputusan awalnya. Dia sekarang memiliki dunianya sendiri. Li Shuo melihat ke ponselnya. Ini masih tengah malam di Cina. Orang itu biasanya bangun jam tujuh. Sangat tepat waktu. Dia tersenyum. Dia mengirim pesan teks: Xiao Chengxiu. Aku telah tiba di rumah. Ketika kamu bangun, kirimi aku pesan. Aku ingin kamu mengobrol dengan ibuku.

Jika kedua orang ini berbicara, yang satu akan bersemangat dan yang lain akan tergagap. Li Shuo terkekeh hanya karena memikirkan gambaran itu. Dia tidak bisa menahan tawa.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi dua kali. Li Shuo cukup terkejut. Bukankah Li Chengxiu masih tertidur saat ini? Mungkinkah dia menunggunya mendarat? Dia menyalakan ponselnya dengan penuh harap.

Dia menemukan pesan dari nomor yang tidak dikenalnya. Dia membuka pesan teks dengan rasa ingin tahu.

Sebuah dada telanjang muncul di layar. Foto itu diambil dari bawah leher dan berakhir di atas pinggang. Pria itu sepertinya baru saja selesai mandi. Tetesan air jernih tersebar di seluruh kulit yang terlihat halus. Sosok itu benar-benar menakjubkan. Otot-otot dada yang kokoh dan penuh elastisitas. Perutnya seperti batu bata dengan delapan otot perut yang terlihat keras. Garis putri duyung membentang ke bagian bawah gambar dengan pinggang tipis sebelum menghilang. Ini sangat menarik.

Di luar imajinasi. Apel Adam Li Shuo bergerak. Dia menatap foto itu selama beberapa detik.

Dia memikirkan teman-temannya yang akrab. Semua orang tahu bahwa dia menyukai tipe kelinci kecil. Ramping dan lemah. Tipe ini membuatnya memiliki keinginan yang kuat untuk melindungi mereka. Tapi itu harus laki-laki. Meskipun dia menyukai tipe yang lembut dan imut, penisnya masih berfungsi. Siapa yang tidak suka tubuh yang seksi dan menggoda. Misalnya, foto di depannya ini memberinya dampak visual yang kuat. Dia tersenyum. Dia menyimpan foto itu ke dalam album. Tapi dia tidak membalas pesan itu. Dia berpikir bahwa mungkin seseorang mendapat nomor yang salah.

Setelah beberapa saat, ponsel nya berdering lagi. Itu nomor yang sama seperti sebelumnya. Dia mengirim pesan teks: tidak suka?

Li Shuo mengangkat alisnya. Dia membalas: siapa?

Nomor tidak dikenal: Aku akan menunjukkan sesuatu yang lebih keren.

Li Shuo berpikir sejenak. Orang ini mungkin adalah teman yang tahu bahwa dia telah kembali ke Amerika Serikat dan hanya ingin menggodanya. Dia dengan santai membalas xxxxxxxxxxxx.

Tak lama kemudian, pesan masuk lagi. Li Shuo dengan cepat membukanya. Pihak lain benar-benar mengirim foto yang lebih menarik. Kali ini di bawah pinggang. Hanya sepasang foto pakaian dalam. Otot-otot paha kencang. Boxer hitam murni dengan bukit kecil yang menggembung ke bawah sedikit. Jari-jari ramping masih menarik ujung celana dalam ke bawah. Dia samar-samar bisa melihat beberapa rambut kemaluan yang basah. Sedemikian rupa sehingga Li Shuo sedikit kurang tenang. Dia batuk sedikit. Dia menggerakkan tangannya dengan tidak nyaman dan menarik kerah pakaiannya sedikit, mengipasi dirinya sendiri.

Paman Guang memandangnya dari kaca spion: “Ada apa? Apakah panas?”

“Oh tidak.” Jari-jari Li Shuo dengan cepat mengetik di layar. “Siapa sih kamu?!” Dia ingin tahu teman sialan mana yang mengirim foto model untuk menggodanya. Tapi warna kulitnya Asia dan pihak lain benar-benar memahami estetikanya.

Setelah mengirim pesan teks, dia memikirkannya sebentar. Dia lalu memutar nomor telepon. Telepon berdering dan ditutup oleh pihak lain.

Segera. Pesan teks datang lagi: “suka atau tidak? Sayang, aku bisa melakukannya dengan lebih baik.”

Li Shuo terkekeh. Dia tidak peduli dengan teman nakal yang membuat lelucon misterius ini. Mari kita lihat siapa yang tidak bisa menahan napas lebih dulu. Dia menunggu sekitar sepuluh menit.

Li Shuo melihat kedua foto itu beberapa kali. Itu benar-benar imajinatif. Manusia adalah binatang yang sangat aneh. Bahkan jika kalian tidak mengeluarkan uang sepeser pun sekarang, kalian dapat melihat semua jenis foto telanjang di Internet. Namun yang setengah tertutup bisa membangkitkan rasa penasaran orang. Dia penasaran sekarang. Bagaimana dengan wajah orang yang memiliki sosok seperti itu? Dengan sosok yang begitu baik, menurutnya tidak akan mengecewakan. Dia terus memikirkan siapa orang yang mengiriminya foto hingga mobil sampai di rumah.

Kakinya baru saja menyentuh tanah ketika orang tuanya datang untuk menyambutnya. Ponselnya berdering. Dia akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia menyapa orang tuanya dan menyalakan ponselnya hampir bersamaan. Wajah tampan dan senyum cerah di layar membuatnya hampir muntah darah. Zhao Jinxin?!

“Xiao Shuo.” Nyonya Li sudah memeluknya dengan gembira. “Apa kamu lelah?”

“Tidak lelah. Mama… Gaya rambut barumu sangat indah…” Ekspresi wajah Li Shuo terlalu terlambat untuk disesuaikan. Itu sedikit memalukan. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Nyonya Li tersenyum dan merapikan rambutnya. “Apa yang salah? Kenapa kamu terburu-buru?” Dia menatap putranya, yang biasanya selalu tenang.

“Tidak ada apa-apa”, Jawabnya. “Ayah.” Li Shuo merangkul bahu Tuan Li dan tertawa keras. “Ayah kamu gemuk.”

Tuan Li tertawa dan berkata, “Aku tidak gemuk. Aku sedang berolahraga baru-baru ini. Aku lebih kuat.”

“Bagus. Ayo masuk ke dalam rumah.” Li Shuo diam-diam memikirkan bagaimana anak ini Zhao Jinxin mendapatkan nomornya? Dia juga mengirim foto-foto yang sangat menggugah untuk menggodanya. Dia benar-benar telah tertipu dan itu sungguh menjengkelkan.

Setelah memasuki rumah, Li Shuo masih sedikit linglung. Dia memikirkan betapa arogan dan lucunya anak itu memanfaatkan obrolan misterius. Dia memasukkan nomor itu ke dalam daftar hitam.

Dia tidak suka orang kuat, terutama dalam hal semacam ini. Begitu dia menjadi pasif, dia akan merasa tidak nyaman. Dia selalu merencanakan hidupnya secara teratur, maju dan mundur. Semuanya terkendali. Sama seperti dia menyukai kejelasan angka dan logika yang ketat.

Kali ini dia sedang terburu-buru untuk pulang sehingga dia tidak membawa banyak barang. Namun ia juga meminta asistennya untuk mengambil hadiah untuk sementara, terutama untuk orang tuanya.

Nyonya Li telah dimanjakan sejak kecil. Dia menikah dengan Tuan Li, seorang pria miskin. Tidak seorang pun mendukungnya. Tapi pada akhirnya dia dimanjakan oleh suaminya. Dia melahirkan putranya dan dimanjakan oleh putranya.

Li Shuo dengan senang hati memberinya sepotong perhiasan untuk wanita berharga ini dalam hidupnya. Dia juga memberinya sekeranjang buah-buahan. Selalu ada senyum di wajahnya. Dia melihat hadiah yang dibawa oleh Li Shuo satu per satu. Kemudian dia berkata dengan harapan: “Xiao Shuo. Bagaimana dengan foto pacarmu? Cepatlah, tunjukkan pada kami!”

Li Shuo tersenyum. Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka album. Dia ingin menemukan foto Li Chengxiu. Tapi foto pertama yang muncul adalah foto setengah telanjang Zhao Jinxin yang baru saja dia simpan!

Tangannya tiba-tiba terkepal karena terkejut. Sudah terlambat untuk mundur. Mata Nyonya Li tajam. Dia meraih pergelangan tangannya dan berkata, “Wow. Tubuh itu sangat menarik!”

“Tidak, tidak. Ini bukan.” Wajah Li Shuo sedikit panas. Dia dengan cepat menyingkirkan foto itu. “Ini dari internet, wallpaper.” Dia tidak bisa tidak mengumpati Zhao Jinxin. Sebagai anak teladan dari kecil hingga dewasa, dia tidak ingat kapan terakhir kali dia dipermalukan di depan orang tuanya sendiri. Ini sungguh memalukan.

Tuan Li duduk di seberang sofa. Dia mungkin bisa menebak apa yang terjadi. Dia tersenyum tipis.

Nyonya Li segera menyadari rasa malu Li Shuo dan tidak bisa menahan tawa. Dia menyodok wajah Li Shuo dengan jarinya: “Aduh. Jarang melihatmu menjadi pemalu.”

Li Shuo terbatuk ringan. Dia dengan cepat menemukan foto Li Chengxiu dan menyerahkannya kepada ibunya.

Wajah cantik dan lembut muncul di layar ponsel. Mata itu hitam dan jernih. Hidungnya agak bulat. Garis rahangnya sangat halus. Rambut yang terlihat sangat lembut itu menempel di pipinya dan senyum menyegarkan di wajah. Wajah ini tidak terlalu menakjubkan. Tapi sangat nyaman untuk dilihat dan menarik. Kesan pertama yang diberikannya adalah kelembutan dan tidak berbahaya.

Mata Nyonya Li berbinar: “Pada pandangan pertama, dia adalah orang dengan tempramen yang baik.”

“Ya. Sangat lembut. Masakan nya enak dan dia sangat baik dalam merawat orang.” Li Shuo sangat senang. Sejak pertama kali bertemu dengannya, dia tahu bahwa Li Chengxiu memenuhi harapannya setidaknya 80% dari separuh lainnya. Dan itu terjadi pada usia di mana dia ingin menetap. Itu adalah apa yang disebut “waktu yang tepat dan orang yang tepat”. Jadi dia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya—dia merebut Li Chengxiu dari orang lain. Meskipun ini menyebabkan beberapa masalah, dia telah menyeimbangkan keuntungan dan kerugian. Dia tidak menyesalinya. Dia menyukai Li Chengxiu. Dia tidak hanya memenangkan orang yang dia sukai untuk dirinya sendiri, tetapi juga menyelamatkan Li Chengxiu dari orang itu.

“Kenapa kamu tidak membawanya kembali untuk kunjungan kali ini?” Tuan Li bertanya.

“Dia sedang bekerja. Dan ayah menyuruhku untuk segera kembali. Di mana dia bisa menemukan waktu untuk mendapatkan visa….” Berbicara tentang ini, Li Shuo bertanya-tanya. “Ayah. Apa yang menyebabkan kamu menyuruhku terburu-buru untuk kembali. Apakah itu ada hubungannya
dengan Ennan Group?”


Catatan Penerjemah: Di dalam bahasa Mandarin, seseorang akan memanggil orang yang mereka sayangi menggunakan gelar ‘Xiao’ yang secara harfiah berarti ‘kecil’. Itu hanya cara untuk memanggil seseorang yang mereka sayangi.


KONTRIBUTOR

Chu
Vaniasajati
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments