Penerjemah: Vaniasajati

Editor: Chu


“Tuan Li, Anda sudah bisa melakukan check-in untuk penerbangannya, Anda bisa pergi kapan saja.” 

Li Shuo, yang sedang tidur, membuka matanya dan tersenyum pada si pelayan di ruang tunggu: “Terima kasih.” Dia mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar, melihat bahwa semuanya adalah pesan teks dari kantor, tanpa sebuah pesan dari satu nama yang ingin dia lihat. 

Dia membawa tas kerja, dengan sebuah jas tergantung di lengannya, melangkahkan kaki panjangnya menuju gerbang boarding, dan menundukkan kepalanya untuk mengirim pesan teks kepada seseorang: “Cheng Xiu, bagaimana pekerjaannya?” 

“Hei, Li-Da ge, kamu belum naik pesawat? Apa yang kamu lakukan saat boarding?” 

“Aku sedang menyelesaikan laporan. Dalam beberapa saat akan lepas landas. Aku tidak bisa menghidupkan ponselku selama lebih dari sepuluh jam. Apa kamu akan merindukanku?” Li Shuo pikir orang di seberang telepon sana pasti akan merasa malu, mungkin dia akan tersipu dan tidak bisa menahan senyumnya. 

Setelah beberapa saat, pesannya dibalas: “Aku akan memikirkanmu.” 

Melalui telepon, Li Shuo dapat membayangkan gambaran wajah dari pihak lain yang berhati-hati, serius, dan pemalu saat dia sedang mengetik kata-kata itu. Dia (Li Shuo) sedang dalam suasana hati yang baik, naik ke pesawatnya, dan akhirnya mengirimkan beberapa pesan teks sebelum mematikan ponselnya. 

Pramugari membawanya ke kursi baris pertama dan bertanya dengan senyum manis: “Tuan Li, silakan duduk. Biar saya bawakan barang-barang bawaan Anda.” 

“Terima kasih atas tawarannya. Tak apa, aku bisa membawanya sendiri.” Li Shuo mengeluarkan buku catatan dan memasukkan tas kerjanya ke rak bagasi. Desain rak bagasi bengkok dan sangat dalam. Kopernya meluncur ke bagian paling dalam, dan dia tiba-tiba teringat bahwa dia lupa mengeluarkan headset-nya jadi dia mulai mencarinya. Bahkan dengan tubuh tingginya saja, dia perlu meluruskan tubuhnya dan memanjangkan tangannya untuk menjangkau mezzanine1Mezzanine adalah sebuah ruangan terpisah yang terhubung dengan ruangan utama. Dalam tas, itu merupakan saku-saku tas. kecil di belakang tas kerja. 

Segera setelah Zhao Jinxin naik ke pesawat, dia melihat sebuah pemandangan dari seorang pria tinggi berotot mengenakan celana panjang hitam dan kemeja biru tua yang sedang memasukkan setengah dari kepalanya di tengah rak, mencari sesuatu. Postur ini membuat pria itu tampak meregang. Dadanya, tubuh bagian atasnya bersandar ke belakang, membuat otot-otot dadanya tampak kencang, pelat pinggang tampak tipis dan rata, dan lekukan yang dengan sengaja dipertegaskan di pinggul dan pinggangnya yang cekung, garis yang menghubungkan dari pinggul ke pahanya dipertontonkan, dan kaki yang diregangkan menempel pada celana pesanan khusus2Celana pesanan khusus atau Tailored Trousers, celana yang dipesan dan dibeli langsung dari penjahitnya, yang dibuatkan khusus untuknya. Di balik pakaian tersebut, Zhao Jinxin dapat meyakini bahwa pria ini sama sempurnanya dengan pahatan patung, yang mana itu melahirkan imajinasi liarnya yang tak terhitung jumlahnya. 

Zhao Jinxin mengangkat alisnya. Dia merasa semakin terprovokasi. Mau tak mau dia jadi menantikan wajah dari pria yang memiliki sosok menarik ini…. 

Li Shuo akhirnya mendapatkan headset yang dia cari-cari, menjulurkan kepalanya keluar, dan ketika dia melihat ke belakang, dia melihat seorang pria muda yang sangat tinggi tengah berdiri di pintu kabin. Dia sedikit tercengang, tetapi dengan cepat memulihkan keheranannya: “Maafkan aku karena telah menghalangimu.” Saat dia mengatakannya, dia menertawakan dirinya sendiri secara diam-diam. Mau tak mau dia jadi memikirkan betapa konyol baginya untuk terkejut saat melihat pria tampan seperti itu, sedangkan di sepanjang hidupnya saja dia telah melihat pria dan wanita berpenampilan menarik lainnya sebelumnya. Namun, penampilan pria ini benar-benar … Jika itu cuma kilauan biasa, itu tidak akan membuatnya terpana. Sebagai tambahan dari postur tubuh dan fitur wajah yang mengesankan milik pria itu, ada sepasang mata menggoda yang sedikit menyipit, dan tidak ada penempatan yang salah padanya. Cara pria itu memandangnya begitu genit dan penuh kasih sayang sehingga tampaknya dapat menembus orang hanya dengan melihat, itu benar-benar seperti iblis itu sendiri. 

Zhao Jinxin tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa.” Dia sangat bersemangat sekarang, sangat bersemangat sehingga dia hampir tidak bisa menyembunyikannya di permukaan. Seolah-olah dia telah menemukan peti harta karun dengan kemewahan yang tak tertandingi. Sebelum membukanya, dia telah menghitung berkali-kali dalam antisipasi dan imajinasi untuk jenis harta apa yang tersembunyi di dalamnya, tetapi setelah membukanya, apa yang ada di dalamnya bahkan beberapa kali lebih baik dari apa yang dia bayangkan. Pria aneh itu memberinya pengalaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dan fantasi indah hanya dalam sepuluh detik, dan dia bahkan tidak menyadarinya (dia telah melakukan itu). 

Banyak orang mengatakan bahwa Zhao Jinxin memiliki selera yang aneh. Dia jelas merupakan seorang pemikat yang mengumpulkan semua jenis ketertarikan, namun dia tidak suka anak laki-laki yang lebih muda. Faktanya, dia menyukai pria yang lebih tua. Dia berpendapat bahwa ada banyak orang muda dan cantik di semua tempat sehingga itu tidak lagi menarik baginya. Tetapi pria yang lebih tua seperti anggur yang baik setelah bertahun-tahun ditempa dan diasah, mereka tidak dihujat oleh perubahan di dunia, tetapi sebaliknya mereka memiliki pesona dewasa dan gaya yang mellow. Setiap senyum memancarkan stabilitas dan kepercayaan diri yang diberikan oleh pengalaman, dan dapat menahan siksaan waktu yang keras. Untuk menunjukkan nilai hartanya, pria seusia ini, ditambah dengan penampilan seperti pria yang baru saja dia temui tadi, sederhananya mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik. 

Setelah Li Shuo duduk, dia menemukan bahwa pemuda itu masih mengawasinya, matanya terasa agak mencolok. Karena Li Shuo adalah pria yang bijaksana, dia sudah sadar bahwa ada terlalu banyak orang yang akan tertarik padanya, jadi dia sudah terbiasa. 

Zhao Jinxin berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah Li Shuo sambil tersenyum: “Halo, namaku Zhao Jinxin, singkatan dari karakter ‘Megah’, ‘pekerja keras’, ‘tabah’.” 

Li Shuo mengangkat tangannya dan membalas jabat tangan: “Halo, Li Shuo, Li singkatan dari ‘Fajar’, dan Shuo untuk ‘bulan’.” 

Zhao Jinxin menjabat tangan Li Shuo dengan ringan. Dia memasukkan barang bawaannya ke rak bagasi dan duduk dengan murah hati di sebelah Li Shuo. 

Li Shuo mau tidak mau merasa sedikit bahagia, ini tidak seperti setiap hari dia bisa duduk di sebelah objek yang menyenangkan saat dia naik pesawat. Dia telah terbang di langit beberapa kali dalam hidupnya, tetapi ini adalah pertama kalinya dia memiliki keberuntungan seperti itu. Kebetulan yang indah bisa membuat orang merasa sedikit lebih baik saat menghadapi penerbangan jarak jauh. 

Zhao Jinxin tersenyum dan berkata, “Apakah kamu akan pergi ke Amerika untuk bekerja? “

“Tidak, aku akan kembali untuk menemui orang tuaku.” 

“Kamu tinggal di New York?” 

“Orangtuaku tinggal di New York tetapi aku tinggal di China sekarang.” Li Shuo berkata, “Bagaimana denganmu?” 

“Orangtuaku juga tinggal di New York. Kalau aku, aku cuma berlarian kesana-kemari untuk bekerja.” Zhao Jinxin menyeringai, matanya yang cerah menatap Li Shuo tanpa berkedip, matanya sedikit terangkat, matanya tengah bergerak, dan tidak ada kata yang tepat untuk dapat menggambarkan betapa magnetiknya itu. 

Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya datang dan berdiri di samping Zhao Jinxin dengan ragu: “Tuan, apakah kamu duduk di kursi yang salah?” 

Zhao Jinxin mendongak dan tersenyum padanya dengan menawan: “Maaf, ini memang tempat dudukmu. Aku kebetulan baru naik ke pesawat dan bertemu dengan temanku.” Dia menunjuk ke Li Shuo, “Tak apa kah jika kita bertukar tempat?” 

Mata wanita itu sedikit mengelak, dan dia sepertinya tidak berani menatap mata Zhao Jinxin yang menawan. Dia setuju: “Tentu, oke, oke.” Lalu dia pergi dengan wajah memerah. 

Zhao Jinxin berbalik dan tersenyum pada Li Shuo. 

Li Shuo mengangkat alis, dan di hadapan niat baik yang tidak terselubung ini, dia tersenyum sedikit dan memanggil pramugari: “Bisakah kamu memberiku segelas soda, Tuan Zhao, apakah kamu ingin minum sesuatu?” 

“Sama seperti yang kamu pesan.” Zhao Jinxin tidak melihat kearah pramugari ketika dia menjawab. Dia selalu memperhatikan Li Shuo dengan senyum di wajahnya.

Li Shuo terkekeh: “Tuan. Zhao, jika kamu melihatiku seperti itu, aku akan salah paham.”

“Kamu tidak salah paham, aku sangat tertarik padamu.” Zhao Jinxin mengangkat bahu, “Aku tidak suka berputar-putar dan membuang-buang waktu satu sama lain, kuharap aku tidak menakutimu.”

Li Shuo dengan tulus berkata: “Aku merasa tersanjung. Tapi aku sudah punya pacar3Pacar Laki-laki.”

Zhao Jinxin mengeluarkan suara “Oh” yang penuh arti, “Sayang sekali.” Tapi tidak ada penyesalan dalam nada itu. Dia mengambil soda yang diantarkan oleh pramugari dan memberikannya ke Li Shuo secara langsung.

Li Shuo mengguncang gelas kristal yang berat dan mengangkatnya untuk bersulang. “Untuk keberuntungan.”

“Untuk keberuntungan.”

Zhao Jinxin menghindari topik ini dan mulai bertanya tentang pekerjaan Li Shuo. Mereka berbicara tentang harga emas, nilai tukar, dan indeks Nasdaq4Nasdaq adalah sebuah bursa saham yang berfokus pada teknologi sebagai pasar elektronik global.. Pesawat lepas landas tanpa mereka sadari. Tidak ada yang salah dalam obrolan mereka dan mereka memiliki percakapan yang baik.

Tanpa disadari, setelah makan malam, jendelanya benar-benar gelap, kursi kelas satu yang terisi kurang dari setengahnya, dan suasananya sangat sunyi. Keduanya berbicara dan sedikit lelah.

Li Shuo menyandarkan punggungnya dan menutupinya dengan selimut, siap membaca buku dalam posisi yang nyaman.

Zhao Jinxin berbaring miring dan menatapnya, matanya sedikit kabur dalam cahaya redup: “Aku tidak bisa tidur.”

Li Shuo berkata: “Apakah itu karena Airplane Ear5Atau Ear Barotrauma, trauma pada gendang telinga yang terjadi akibat perubahan tekanan udara secara mendadak. Umumnya terjadi pada perenang dan orang yang rutin bepergian dengan pesawat?”

“Tidak, itu sudah berlalu.”

“Kamu bisa menonton film.”

“Aku tidak ingin menonton film.”

“Lalu, apa yang kamu ……”

“Bagaimana kalau kamu ceritakan tentang pacarmu?” Mata Zhao Jinxin berbinar penasaran.

Li Shuo berpikir sejenak: “Oke.”

“Orang seperti apa dia?”

Li Shuo memikirkan orang itu, bibirnya tersenyum tanpa sadar: “Sangat pendiam, lembut, baik hati, sederhana, dan sangat perhatian.”

Zhao Jinxin sedikit menyipitkan matanya dan berbisik, “Apakah dia tampan?”

“Tidak terlalu tampan, tapi sangat menarik dan nyaman untuk dilihat.”

“Kenapa kamu tidak membawanya kali ini?”

“Dia punya pekerjaan yang harus dilakukan.”

“Bagaimana kalian bertemu?”

“Dia dulu magang di kantorku.”

“Oh, dia seorang pelajar.”

“Tidak lagi, itu beberapa waktu yang lalu.”

Zhao Jinxin mengajukan beberapa pertanyaan secara berurutan dengan sangat cepat. Meskipun Zhao Jinxin tidak menunjukkan rasa superioritas, Li Shuo bisa menebak apa yang dipikirkan orang lain. Mereka seperti sedang bermain catur. “Pion” kecil di tangannya dan “pasukan” besar dari pihak lain berada dalam tekanan, dan mereka tahu mereka akan kalah bahkan sebelum mereka bertemu. Perlahan, dia mulai merasa enggan untuk menjawab. Orang yang dia sukai, dia merasa baik tentangnya, dan ketika orang itu digunakan oleh orang lain untuk membuat perbandingan yang tidak berarti, itu membuatnya merasa sedikit jijik.

Zhao Jinxin mencondongkan wajahnya sedikit ke atas, menatap bibir Li Shuo, dan berkata dengan ambigu, “Apakah dia tidak khawatir membiarkan orang sepertimu pergi ke mana pun sendirian?”

Li Shuo bersandar tanpa terlihat dan tersenyum sopan: “Dia mempercayaiku karena dia tahu bahwa aku bisa menangani diriku sendiri dengan baik.”

Zhao Jinxin cemberut dan meratap: “Mengapa aku tidak mengenalmu lebih dulu.”

“Tuan Zhao, terima kasih atas minatmu, tapi aku…”

“Aku tidak akan mendengarkan kata-kata sopan seperti itu.” Zhao Jinxin tersenyum ringan, “Kita akan mendarat dalam beberapa jam lagi. Aku punya apartemen bertingkat tinggi dengan kolam renang pribadi di Brooklyn. Kita bisa berhubungan seks di dalam air sambil mengagumi keindahan taman tepi sungai.” Selama pidatonya, sepasang matanya yang menggoda sangat sentimental dan menatap jauh ke dalam mata Li Shuo, “tidak ada yang akan tahu.”

Li Shuo harus mengakui bahwa ketika Zhao Jinxin menggodanya di telinganya, dia tergerak. Dia telah bertemu banyak pria luar biasa, tetapi untuk seseorang seperti Zhao Jinxin, yang masih muda dan memiliki keindahan, kemampuan, dan kekayaan tingkat atas, dia itu langka, dan mereka secara kebetulan bertemu di pesawat. Kebetulan pihak lain juga sangat aktif mengejarnya. Jika situasinya berbeda, hal-hal mungkin akan terjadi ke arah sebaliknya. Dia ragu-ragu pada awalnya tetapi dia adalah orang dengan prinsipnya sendiri, terutama dalam hal perasaan, dia tidak ingin secara tidak bermoral berutang budi pada seseorang.

Dia dengan lembut mendorong Zhao Jinxin pergi dan berkata sambil tersenyum: “Ini menggoda, tapi sayangnya, aku sudah memiliki seseorang.” Dia berdiri, “Aku akan ke kamar mandi.” Dia harus menjauh dari Zhao Jinxin ini untuk sementara waktu, anak ini adalah goblin, sangat membingungkan.

Zhao Jinxin melihat ke belakang dan tersenyum dengan cara yang menyenangkan: “Menarik.” Setelah berpikir sebentar, dia bangkit dan mengikuti.

Li Shuo baru saja memasuki kamar mandi dan hendak menutup pintu. Dari sudut matanya dia tiba-tiba melihat sesosok melintas di belakangnya. Dia terkejut. Sebelum dia bisa berbalik, dia telah didorong ke kamar mandi dan pintu di belakangnya terbanting menutup.

Li Shuo berbalik dan menatap Zhao Jinxin dengan marah: “Tuan Zhao, ini tidak lucu.”

Toilet di pesawat itu kecil, dan dua pria besar dengan tinggi 1,8 meter terjepit di dalamnya. Punggungnya terdesak. Li Shuo tidak senang dan terkejut dengan keberanian Zhao Jinxin.

Zhao Jinxin memiliki senyum sinis di wajahnya: “Ck, aku sedikit impulsif, dan sekarang aku terlalu malu untuk keluar, apa yang harus aku lakukan?” Dia berkedip polos.

Li Shuo mengerutkan kening: “Yah kalau begitu aku merasa bersalah padamu… tapi aku akan keluar dari sini.”

Zhao Jinxin tiba-tiba menekan dada Li Shuo dan menekannya ke sekat dinding pemisah, wajahnya berjarak beberapa inci darinya, matanya yang dalam dan menawan menyapu wajahnya (Li Shuo), dan akhirnya jatuh di bibirnya.

Li Shuo menghela nafas: “Tuan. Zhao, kita semua sudah dewasa. Apakah kamu perlu melakukan hal-hal kekanakan seperti ini untuk menggantikan interaksi kita yang memalukan dalam beberapa jam kedepan. ” Zhao Jinxin lebih tinggi darinya dan dadanya dekat dengan dadanya. Dia bisa merasakan otot-otot dada kuat menekannya yang membuat napasnya sulit, yang membuatnya merasa tertekan, dan pada saat yang sama dia tidak bisa menahan diri.

Zhao Jinxin tersenyum rendah: “Hal kekanak-kanakan? Maksud kamu apa?”

“Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Apa yang ingin aku lakukan jelas bukan ‘seperti-anak kecil’, bagaimana menurutmu?” Dia menghela nafas pelan di wajah Li Shuo dan tersenyum elegan.

Li Shuo mengerutkan kening saat dia merasa bahwa adegan saat ini tidak mudah untuk dihadapi. Pihak lain tidak melakukan apa-apa, jadi dia memutuskan untuk tidak terlalu mempermasalahkannya, terutama jika mereka ada di pesawat, dia tidak ingin dibawa pergi oleh polisi begitu dia mendarat.

Tetapi jika pihak lain memang melakukan sesuatu …

Di ruangan yang sempit, keindahan yang begitu luar biasa ditekan dekat dengannya, terutama di kabin pesawat terbang yang tidak pernah dibayangkan banyak pria sebelumnya… Ini semua menarik. Li Shuo menggunakan tekad yang sangat kuat untuk menekan jantungnya yang berdebar kencang.

Zhao Jinxin menjilat bibirnya: “Jujur saja, apakah kamu sedang memikirkan sesuatu yang tidak cocok untuk anak-anak?” Dia juga sengaja melengkungkan tubuhnya ke depan.

Li Shuo merasa kedua paha mereka berada tepat di tengah celana masing-masing. Dia memperbaiki hatinya. Li Shuo berkata sambil tersenyum: “Tuan Zhao, kata-kata dan perbuatanmu saat ini membuatku merasa sangat tidak nyaman. Kamu yang melepaskan. Atau aku yang akan melakukannya sendiri. “

Zhao Jinxin tidak terkejut atau merasa terancam. Dia malah geli. Dia bersandar di bahu Li Shuo dan tertawa: “Cuma bercanda. Kenapa kamu harus begitu galak? Aku sangat takut.”

Li Shuo kemudian berseru: “Bisakah kamu melepaskanku?”

Zhao Jinxin tersenyum dan menundukkan matanya: “Reaksimu benar-benar menyakitkan. Apa aku tidak cukup menawan?”

“Pertama-tama, kamu bukan tipe yang aku suka. Kedua, aku tidak suka dipaksa.” Li Shuo tanpa ekspresi ketika dia mengucapkan kata-kata itu ke depan wajahnya.

“Betulkah? Apakah kamu tidak tertarik sama sekali padaku? Tapi … jantungmu berdetak sangat cepat.”

Li Shuo menyipitkan matanya. Dia adalah orang yang lembut dan pemaaf. Tapi bukan berarti dia tidak punya tabiat pemarah.

Zhao Jinxin mengangkat bahu. Dia mundur selangkah. Sulit untuk menyembunyikan kekecewaannya dan berkata, “Aku sedikit sedih. Sepertinya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu.”

Pembicaraan semacam ini tidak bisa dianggap serius. Tangan Li Shuo bergerak di belakang punggungnya (ZJX), membuka pintu kamar mandi, lalu mendorongnya keluar. Lalu diikuti oleh dirinya sendiri.

Pramugari yang membawa nampan berdiri di samping toilet, menatap keduanya dengan kaget. Ekspresi itu adalah ekspresi yang luar biasa.

Li Shuo memperbaiki kemejanya yang dibuat kusut oleh Zhao Jinxin. Dia tersenyum pada pramugari dan kembali ke tempat duduknya.

Zhao Jinxin juga duduk dengan murah hati, seolah-olah tidak ada yang terjadi barusan. Dia dengan tenang meminta segelas air kepada pramugari.

Selama dua detik Li Shuo memikirkan apakah dia akan berpindah tempat duduk atau tidak. Setelah berpikir, dia menentang gagasan itu. Jika dia pindah tempat duduk, bukankah itu akan terlihat seolah dia takut?

Zhao Jinxin terdiam selama beberapa saat sebelum dia tiba-tiba berkata dengan penyesalan: “Seharusnya aku meminta nomormu terlebih dahulu tadi. Apakah kamu tidak akan memberikannya padaku sekarang? ”

“Huh.” Li Shuo menolaknya. Nadanya penuh amarah.

Zhao Jinxin meliriknya dari samping. Matanya penuh dengan senyum romantis. Tapi ekspresinya agak polos: “Aku hanya menggodamu dan kamu benar-benar marah. Orang yang begitu dewasa tetapi terlalu pelit. ”

Li Shuo dikejutkan oleh keberanian dan ketidaktahumaluan Zhao Jinxin. Dia mengeluarkan penutup matanya dari tas cuci. Dia meletakkannya di matanya dan menutupi dirinya dengan selimut. Dia sudah siap untuk tidur hingga sampai ke tempat tujuannya.

Zhao Jinxin dengan bebas mengamati garis profil indah Li Shuo dengan matanya. Senyum di wajahnya masih tetap sama. Tapi di matanya, dia sudah membungkus keinginan untuk menakhlukkan layaknya serigala.


Penulis Ingin Mengatakan Sesuatu:

 

Perasaan Li Shuhu juga merupakan hal yang sudah lama dinanti-nantikan semua orang, dan akhirnya memutuskan untuk menuliskannya, berharap bisa memberi semua orang cerita yang memuaskan!

Timelime dan plot harus didasarkan pada novel ini. Jangan bandingkan timeline dan plot Sissy dan Additional Inheritance, akan ada beberapa perbedaan~~
Selain itu, berikut ini adalah catatan yang tulus sebelum membaca, aku mohon semua orang untuk melihatnya:

Ini adalah danmei modern darah anjing yang penuh dengan bajingan yang busuk dan cerita melodramatis. Jika kalian tidak suka darah anjing serta bajingan dan kalian bosan menonton plot pelecehan yang mengesalkan, harap berhati-hati.


 

KONTRIBUTOR

Vaniasajati
Chu
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments