“Bahkan jika aku membunuh orang yang tidak berdosa hari ini, aku harus mengakhiri hidupmu…”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Peringatan Konten: penggambaran gore.


“Li Jinglong!” suara kasar seorang pria berteriak marah. “Pergi ke mana kau sekarang?” Dan setelah itu diikuti dengan serangkaian suara batuk yang berat.

“Di sini, di sini, di sini!” Kata Li Jinglong dengan tergesa-gesa.

Dua pemuda yang setengah dewasa duduk berdampingan di bawah atap koridor, ditemani cuaca lembab yang tidak bisa dipercaya.

“Aku harus pergi,” jawab Hongjun.

“Pergi?” Li Jinglong belum sepenuhnya kembali ke dirinya sendiri.

“Aku pindah,” kata Hongjun sedih.

“Tapi aku belum belajar sihir!” Li Jinglong menjadi marah dan berkata, “Kau berjanji bahwa kau akan mengajariku!”

Tatapan Hongjun menahan rasa bersalah saat dia mendongak untuk melihat Li Jinglong. Sejak dia bisa mengingat, orang tuanya selalu pindah setiap tahun, dan mereka tidak pernah tinggal lama di satu tempat. Saat dia berusia empat tahun, mereka sudah meninggalkan Huayin untuk pergi ke Luoyang, dan kemudian pergi dari Luoyang ke Xiangyang saat dia berusia lima tahun. Mereka pindah ke Shandong saat dia berusia enam tahun, dan saat dia berusia tujuh tahun, mereka pindah ke sini, ke Chang’an…

… Setiap kali mereka pergi ke tempat yang baru, ibunya selalu mengatakan peringatan ke telinganya bahwa dia tidak boleh bermain dengan anak-anak dari keluarga lain. Jadi Hongjun hanya bisa tinggal di rumah setiap harinya, melamun sambil menatap buku medis ayahnya.

Li Jinglong yang berusia sembilan tahun adalah teman pertama yang dia dapatkan tahun lalu, dan juga satu-satunya temannya.

“Kau akan pindah ke mana?” Li Jinglong bertanya. “Aku akan meminta ayahku untuk pindah juga, kita akan pergi bersama!”

“Di tubuhku, ada yaoguai,” jawab Hongjun, tidak berani menatap Li Jinglong, salah satu kakinya menendang kayu ji kecil itu dengan lembut.

Li Jinglong langsung berhenti membuat kebisingan.

Hongjun menoleh. “Mereka ingin membunuhku.”

“Siapa?” Tanya Li Jinglong.

Hongjun menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu siapa musuhnya; dia hanya tahu bahwa ayahnya selalu terluka parah, dan ibunya selalu memeluknya, sambil menangis. Karena dirinya, keluarga mereka harus menderita entah berapa banyak malam tanpa tidur.

“Aku adalah orang yang tidak beruntung,” jawab Hongjun. “Jika yaoguai di tubuhku memperoleh kehidupan, kau juga akan mati.”

Li Jinglong memperhatikannya, benar-benar terdiam. Hongjun merasa sangat dingin dan dengan tenang dia berkata, “Aku akan mengingatmu, Li Jinglong.”

Dia bangkit untuk pergi, tapi Li Jinglong memanggilnya agar berhenti.

“Besok malam, aku akan menunggumu di luar Bangsal Jincheng,” kata Li Jinglong. “Sebelum kau pergi, ayo kita bertemu sekali lagi.”

Hongjun merasa itu agak aneh, dan dia menoleh ke belakang untuk melihat Li Jinglong. Setelah berpikir sejenak, dia menjawab, “Aku akan mengembalikan buku itu padamu.”

Dia kemudian melompati dinding, hanya untuk mendengar orang di sisi lain berteriak.

“Hongjun!”

Hongjun berdiri di sana dengan bodoh untuk sementara waktu, dan untuk beberapa alasan yang tidak diketahui, dia mulai merasa cemas. Dia berjalan menuju kamarnya sendiri, tapi tiba-tiba sambaran petir melintas di langit, dan guntur menggelegar. Kilatan cahaya itu membutakannya sampai pada titik di mana dia tidak bisa membuka matanya.


“Hongjun!”

Hongjun melihat sekelilingnya; pemandangan sudah berubah, dan dia sekarang berdiri di sebuah gang kecil. Adegan dari yang sebelumnya ketika dia memasuki alam mimpi saat ini kembali padanya.

Di tangannya, dia memegang buku yang dipinjamkan Li Jinglong padanya, hanya untuk mendengar teriakan dari sekelilingnya, “Hongjun!” “Hongjun!”

Di malam yang panjang, kilat menyambar lagi dan lagi, dan suara Li Jinglong berteriak keras di depannya, “Hongjun—!”

Hongjun mulai berlari, tapi Li Jinglong menunggunya tepat di pintu masuk gang.

“Li Jinglong?” tanya Hongjun. Li Jinglong mengulurkan tangan untuk meraihnya, tapi Hongjun tiba-tiba merasakan tusukan yang mengerikan, dan dia menghindari tangan itu.

“Percaya padaku! Hongjun! Kapan aku pernah berbohong padamu?!” Li Jinglong berkata dengan cemas. “Ikut denganku!”

Li Jinglong meraih tangannya, menyeretnya saat mereka berlari di sepanjang gang. Di ujung gang ada pintu kayu yang tidak terkunci, dan dia mendorongnya hingga terbuka, membawa Hongjun ke halaman depan yang sepi, yang ditumbuhi rumput liar!

“Ini…” kata Hongjun, bingung. “Li Jinglong! Apa yang sedang kau lakukan?”

Petir menyambar di atas kepala, dan Hongjun memperlambat langkahnya, menemukan bahwa dia sudah berjalan ke halaman Departemen Eksorsisme. Di halaman, ada sebuah patung emas yang bersinar dengan cahaya, dan pada saat itu, cahaya itu meledak ke luar, menjebaknya di tengah-tengahnya dengan bunyi weng.

“Biarkan aku pergi!” Hongjun berteriak, melemparkan buku itu ke samping.

Li Jinglong dari masa kecil mereka berdiri di aula depan, dan di belakangnya adalah seorang prajurit yang mengenakan zirah emas yang memancarkan cahaya keemasan.

“Aku sudah membawanya,” kata Li Jinglong, terengah-engah. “Itu dia!”

Hongjun meraung, marah, “Kau berbohong padaku!”

Prajurit itu berbicara dengan suara tua yang dalam. “Benih Mara, dalam beberapa hari mendatang, bencana besar akan muncul karenamu. Bahkan jika aku membunuh orang yang tidak berdosa hari ini, aku harus mengakhiri hidupmu…”

Prajurit itu memegang pedang emas di tangannya, dan array magis tiba-tiba meledak, memuntahkan api putih!

Di dalam array, Hongjun terus menghantamkan dirinya, berteriak keras, “Li Jinglong—!”

Pada saat itu, waktu terasa cepat dalam sekejap, dan tubuh Li Jinglong perlahan-lahan tumbuh besar, tapi Hongjun terus menyusut semakin kecil. Dia melihat tangannya sendiri, terkejut, saat tangannya kembali ke ukuran semula ketika dia berusia empat tahun, sebelum dia tiba-tiba mulai tumbuh besar juga, kembali ke tubuhnya yang berusia enam belas tahun.

“Li Jinglong!” Hongjun berteriak.

Api dari array tercermin di mata Li Jinglong, sementara seluruh tubuh Hongjun memancarkan qi hitam saat dia berteriak dengan menyakitkan dan liar. Api keemasan membakar kulitnya, menyebabkan darah segar merembes ke seluruh tubuhnya, dan pada titik ini, rambutnya sudah tergerai dan berantakan saat dia terbakar sampai menjadi sosok yang berlumuran darah!

“Li Jinglong…” Dari tenggorokan Hongjun terdengar jeritan yang teredam. Saat ini, hatinya sedang memuntahkan api hitam yang seolah-olah bisa menutupi langit, tapi prajurit emas itu menyarungkan pedang panjang di tangannya, enam senjata sihir bercahaya muncul di sekelilingnya. Pada saat berikutnya, artefak berputar, bergabung menjadi satu, berubah menjadi busur besar.

Tepat setelah prajurit emas itu melayang ke arah Li Jinglong, dan dengan bunyi weng, keduanya bergabung menjadi satu!

“Ayah… Ibu…” Hongjun berlutut di dalam array, fitur wajahnya sudah terbakar dan tak bisa dikenali, suara mengerikan keluar dari tenggorokannya, memohon, “Selamatkan aku… itu… sakit sekali… ah…”

Gemetar, Li Jinglong menarik busur panjangnya, membidik langsung ke Hongjun kecil yang ada di tengah array.


Pada detik berikutnya, pintu besar Departemen Eksorsisme runtuh ke dalam, pintu kayu terjatuh seolah-olah sudah diratakan oleh banjir. Kong Xuan melintas begitu cepat sehingga dia tampak menjadi kabur, bergegas ke array, bertemu langsung dengan panah yang meninggalkan tali busur prajurit emas itu—

Kong Xuan membentangkan Cahaya Suci Lima Warnanya, menghadap ke poros panah yang sudah ditembakkan dari enam artefak yang menyatu, menyerbu ke depan. Tapi pada saat berikutnya, panah cahaya dengan mudah menghancurkan Cahaya Suci Lima Warna-nya, menancap di dada Kong Xuan!

Jia Yuze bergegas ke array, rambutnya berantakan, memeluk Hongjun yang sudah hangus oleh api, mengeluarkan ratapan yang menyayat hati!

Kong Xuan meraung, “Di Renjie—!”

Kong Xuan sudah bergegas di depan Di Renjie, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menundukkan kepalanya, melihat ke bawah, ke panah yang setengah terkubur di dadanya.

Air mata Jia Yuze mengalir saat dia memeluk Hongjun, satu tangannya membelai sisi wajahnya, bergumam, “Xing’er… jangan takut, tidak apa-apa… tidak apa-apa…”

“Ibu… sakit…” kata Hongjun, suaranya bergetar. Segera, sudut mulutnya pecah, dan buih berdarah keluar dari mulutnya. Tenggorokannya sudah tersumbat oleh darah.

“Tidak akan sakit lagi, segera, tidak akan sakit lagi,” gumam Jia Yuze, seluruh wajahnya basah oleh air mata. “Bakar rohku, sebarkan jiwaku…”

Tubuh Hongjun menyusut tanpa henti. Jia Yuze memejamkan matanya, air mata mengalir dari sudut matanya saat dia mengucapkan mantra. Satu tangannya bersinar dengan cahaya hijau saat dia menekankannya ke wajah Hongjun. Kulit di seluruh tubuh Hongjun dengan cepat sembuh, memulihkan tubuhnya lagi dan lagi. Seolah-olah dia sedang meluruhkan kulit, setelah kulit luarnya yang hangus terpecah dan terkelupas, kulit itu diganti dengan kulit utuh yang tidak rusak.

Saat mantra itu mulai memperlihatkan efeknya, rambut hitam panjang Jia Yuze langsung berubah menjadi salju, menjadi berwarna putih seutuhnya. Wajahnya menjadi seperti wanita tua.

“Di Renjie,” Jia Yuze terisak. “Lepaskan Xing’er-ku ba, apa yang sudah dia lakukan?!”

Kong Xuan sudah ditembak oleh panah emas itu sampai menembus dadanya, tapi dia tetap saja berjuang untuk bangkit, hanya untuk hampir jatuh berlutut di halaman. Jia Yuze maju untuk mendukungnya, berlutut bersama dengannya di depan Li Jinglong.

Kong Xuan berkata, suaranya bergetar, “Di Renjie, aku hanya memiliki anak ini seorang….”

Hongjun menyeret pakaian kebesaran yang dia kenakan saat tubuhnya menyusut menjadi ukuran anak-anak. Kengerian muncul di matanya, dia mengangkat pandangannya untuk melihat ke arah prajurit emas yang memegang Pedang Kebijaksanaan di satu tangan.

“Ayah… Ibu…” Hongjun duduk berlutut di tanah, suaranya bergetar saat dia berbicara.


Dia perlahan mengangkat kepalanya, saat dia bertemu dengan mata Li Jinglong, tampak seperti abu kremasi yang muncul di tatapannya.

Li Jinglong gemetar saat dia mengangkat lengannya, cahaya putih bersinar dari telapak tangannya.

Hongjun menjerit marah. “Ayah—!”

Energi hitam di tubuhnya sekali lagi meledak, banyak siluet iblis naik dari tanah! Gelombang hitam bergegas keluar ke segala arah, langsung menyelimuti seluruh Kota Chang’an!

Departemen Eksorsisme, Bangsal Jincheng, Chang’an, dan bahkan seluruh Dataran Tengah runtuh di bawah deru gelombang ini. Warganya, dan semua makhluk hidup, tersapu oleh qi hitam ini, seolah-olah angin puyuh yang kuat sudah muncul!

Li Jinglong menghadapi angin puyuh itu, berteriak dengan marah, “Hongjun!”

Angin puyuh hitam tampaknya sudah menelan segalanya. Dengan Pedang Kebijaksanaan di tangan kanannya dan cahaya putih bersinar dari tangan kirinya, Li Jinglong membelah langit di atas dan bumi di bawah.

“Bangunlah—!” Li Jinglong meraung, sebelum dia menarik Hongjun ke pangkuannya. Cahaya putih meledak keluar, memenuhi wujud Hongjun seluruhnya.

Cahaya terang itu seperti memancar melalui jiwanya, dan mulai menyala. Rasa sakit itu kembali lagi, dan dia mulai berjuang sekuat tenaga, berteriak, “Lepaskan aku.”


“Dia sudah bangun!” Mo Rigen meraung. “Zhangshi! Dia sudah bangun!”

Cahaya putih langsung memudar, dan dunia kembali ke kegelapan abu-abunya. Kesadaran Hongjun benar-benar terguncang, seolah-olah sudah menjadi sasaran guntur yang memekakkan telinga, dan Li Jinglong memeluknya dengan erat. Hongjun memegang sepasang pisau lempar di masing-masing tangannya, berjuang sekuat tenaga untuk mengangkat wajahnya ke atas dan melihat ke arah langit di atas.

Cahaya sungai perak musim dingin di atas terpantul di matanya saat dia menjulurkan lehernya ke belakang. Mo Rigen berdiri di tanah bersalju, tubuhnya dipenuhi dengan luka, terengah-engah. Rambut Li Jinglong tergerai dan tidak terikat, dan ada darah segar di seluruh wajahnya. Dia memeluk Hongjun dengan erat, menolak untuk melonggarkan cengkeramannya.

Di sekeliling mereka ada hantu mayat yang jatuh dalam pertempuran. Liu Fei berbaring di tanah, dan gubuk kecil itu sudah hancur total. Kuda perang yang tak terhitung jumlahnya tergeletak di tanah. Mayat berserakan di mana-mana, di seluruh tanah yang tertutup es dan di kuburan. Li Jinglong berdiri di atas salju, memeluk Hongjun, sepetak besar salju di bawah kaki mereka sudah diwarnai dengan darah ungu kehitaman.

“Kau berbohong padaku,” gumam Hongjun, sebelum dia kehilangan kesadaran, jatuh ke pelukan Li Jinglong.

Serigala Abu-abu membawa Li Jinglong dan Liu Fei, sementara Li Jinglong memeluk Hongjun yang tidak sadarkan diri di pelukannya, saat mereka berlari menuju ujung lembah.

Dalam kelelahannya, Hongjun memiliki mimpi yang sangat, sangat panjang. Dalam mimpinya, Li Jinglong mengejar kereta kuda untuk mengantar kepergiannya, mendorong buku itu ke tangannya.

“Kau tidak bisa menunggu sampai buah delima matang!” Li Jinglong berteriak. “Tanam di rumah barumu ba!”

Hongjun menjulurkan kepalanya keluar, air matanya mengalir di pipinya saat dia berkata, “Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti, Li Jinglong!”

Li Jinglong berdiri di ujung gang, menyeka air matanya sesekali sambil berteriak, “Tunggu aku belajar sihir! Aku akan pergi mencarimu!”


“Chouxing?” Suara seorang pria terdengar di telinganya.

Hongjun perlahan terbangun, hanya untuk menemukan bahwa dia sepertinya sudah kembali ke rumah dalam mimpinya. Dia melihat dengan bingung ke arah orang yang duduk di samping tempat tidurnya, tanpa sadar mengulurkan tangan untuk meraba-raba tubuhnya, di mana dia merasakan selimut yang hangat dan lembut.

“Kau sudah bangun?” kata pria yang duduk di samping tempat tidurnya. “Dia sudah bangun! Cepat, bawa Li-zhangshi ke sini!”

“Di mana ini?” tanya Hongjun. Dia mengangkat lengannya, hanya untuk melihat bahwa tubuhnya tidak berubah sama sekali, dan ini masih tubuhnya. “Apa aku masih bermimpi?”

Wajah pria itu tampak sedikit familiar saat dia menatap tajam ke arah Hongjun.

“Aku pamanmu1, Chouxing,” kata pria itu.

Pintu terbuka dengan sangat keras, dan Li Jinglong bergegas masuk seperti embusan angin, bertanya, “Hongjun?”

Mo Rigen juga masuk. Ikan mas yao mengikuti di akhir, berteriak, “Hongjun! Apa kau baik-baik saja?!”

“Apa yang terjadi?” Kepala Hongjun mulai terasa sakit lagi saat dia terus bertanya. “Di mana ini?”

Mo Rigen mengusap dahi Hongjun dan diam-diam mengucapkan mantra, dan sakit kepala Hongjun perlahan menghilang. Li Jinglong juga maju untuk mengelus dahinya, tapi Hongjun masih ingat kejadian dalam mimpi itu, dan dengan ketakutan di matanya, dia menghindari tangan itu.

“Chouxing,” kata pria yang duduk di samping tempat tidurnya. “Apa kau masih mengingatku? Aku Jia Zhou.”

Hongjun mengarahkan tatapannya pada pria itu. Dia tidak memiliki ingatan apa pun tentang orang ini, tapi wajahnya sangat mirip dengan ibu yang ada dalam mimpinya.

“Apa kau mengingatku?” Tanya Li Jinglong.

Hongjun mengangguk, sebelum melihat Mo Rigen dan juga mengangguk. Ikan mas yao juga meremas kepalanya, bertanya, “Bagaimana denganku, bagaimana denganku?”

Setelah memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi, Hongjun menggunakan jari telunjuknya untuk menyodok ikan mas yao beberapa kali dengan lembut. Ikan itu melompat ke tempat tidur, dan Hongjun terus menatap pria aneh di samping tempat tidurnya.

“Apa kau mengingatnya?” Li Jinglong bertanya dengan sungguh-sungguh. “Dia adalah Pejabat Guazhou, Jia Zhou, kakak ibumu, Jia Yuze.”

“Ini tidak benar,” kata Jia Zhou. “Xing’er, bukankah tahun ini seharusnya kau berumur sembilan belas tahun? Dan penampilan ini, kau terlihat seolah-olah kau dan Kong Xuan muncul dari cetakan yang sama, sungguh kejadian yang aneh…” Dan mengatakan ini, dia benar-benar mulai tertawa.

Dengan ini, Hongjun akhirnya ingat. Hari itu di kereta, Yang Yuhuan memberitahunya bahwa ibunya memiliki saudara laki-laki, dan kakek dari pihak ibu-nya pernah memegang peran sebagai wakil Jiedushi, dan sejak itu, pihak keluarga ibunya tinggal di Hexi.

“Ya, kau dan ibuku… terlihat sangat mirip.” Hongjun mengamati wajah Jia Zhou. Jia Zhou sudah berusia lebih dari empat puluh tahun, dan saat dia mendengar kata-kata ini, dia mulai tersenyum. Dia menyeka air matanya dan memegang tangan Hongjun dengan tangannya sendiri, tangannya tertutup dengan kapalan karena bertahun-tahun di keprajuritan.

“Kenapa lama sekali kau datang?” Jia Zhou bertanya. “Setelah ibu dan ayahmu meninggal, siapa yang membesarkanmu? Saat itu, ketika aku mendengar bahwa orang tuamu sudah tiada, aku mengirim orang ke mana-mana untuk mencari…”

Seketika itu juga, warna wajah Hongjun berubah, dan dia duduk di sana, menatap ke ruang kosong sejenak. Dia mengangkat matanya untuk melihat Li Jinglong, yang menyadari bahwa ada yang salah dengan ekspresinya dan bertanya, “Ada apa?”

Saat itu, Hongjun sedikit bingung harus berkata apa. Mo Rigen menjawab, “Aku pikir dia lelah, biarkan dia beristirahat sebentar.”

Ikan mas yao mengamati Hongjun, berkata, “Warna wajahnya terlalu buruk.”

“Biarkan paman dan keponakan mengenang masa lalu terlebih dulu,” kata Li Jinglong, mengerti. “Hongjun, istirahatlah dengan baik. Jika ada apa-apa, panggil aku kapan saja, aku tinggal di sayap timur.”

Hongjun tidak mengatakan apa-apa, jadi Li Jinglong melirik Jia Zhou. Jia Zhou mengangguk, mengerti, Li Jinglong dan Mo Rigen kemudian pergi.

Ikan mas yao berkata, “Aku tidak akan mengganggumu, Hongjun, kau bisa berpura-pura bahwa aku tidak ada di sini.”

Setelah mengatakan ini, ikan mas yao menuju ke sudut ruangan, menyelinap ke baskom kayu kecil.


Hanya Hongjun dan Jia Zhou yang tersisa di ruangan itu. Hongjun berpikir sebentar, sebelum dia pindah untuk bangkit dari tempat tidur, hanya untuk membuat Jia Zhou berkata, “Jangan terburu-buru untuk bergerak, kau belum makan apa pun selama beberapa hari sampai sekarang.”

Jia Zhou pergi ke luar dan memberikan beberapa perintah, dan dengan itu, seorang pelayan membawa bubur nasi kental.

“Nama ini yang diberikan Paman padamu,” kata Jia Zhou, mengangkat nasi rebus2 dan menyuapi Hongjun.

Hongjun menjawab, “Aku akan melakukannya sendiri.”

“Hati-hati, ini panas,” kata Jia Zhou.

Hongjun mengambil mangkuk itu, pikirannya masih dipenuhi dengan apa yang terjadi di alam mimpi. Menghadapi Jia Zhou, dia tidak memiliki cara untuk menghindari memikirkan tentang mimpi itu, dan setelah melihat pamannya yang sangat mirip dengan ibunya, dia terus memikirkan ibunya yang sudah memeluknya dalam mimpinya.

Dia menenggak nasi rebus dalam tegukan besar, merasakan sedikit kekuatannya kembali padanya. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke Jia Zhou, berkata, “Ibuku adalah Jia Yuze.”

“Ayahmu adalah Kong Xuan,” jawab Jia Zhou sambil tersenyum. “Seorang tabib ilahi yang bisa menghidupkan kembali orang mati, yang mempraktekkan pengobatan untuk membantu orang-orang.”

Hongjun menarik napas ringan, mengulurkan tangan untuk meraba-raba di tempat tidur. Melihat itu, Jia Zhou mengeluarkan Giok Bulu Merak dari bawah bantal, berkata, “Teman-temanmu, Zhangshi, membawamu ke sini ke Yumen, sebelum meminta bantuan setelah…”

“Kita sudah sampai di Yumen?” Hongjun bertanya, heran. “Kami berlari sejauh ini? Saat aku mengejar Lu Xu selama satu malam, kami belum mencapai Zhangye…”

“Kalian semua sepertinya mengalami banyak hal dalam perjalanan ke sini,” jawab Jia Zhou. “Jangan terburu-buru, bicarakan tentang semua itu perlahan, satu demi satu.” Tapi pada saat ini, sebuah laporan militer tiba, jadi Jia Zhou bangkit untuk pergi, memberi tahunya bahwa begitu dia memiliki waktu, dia akan datang menemuinya. Dengan itu, dia meninggalkannya sejenak.

Di kamar sebelah, Li Jinglong ingin berbaring, tapi begitu dia membalikkan tubuhnya, mulutnya melebar karena meringis kesakitan.

Mo Rigen duduk di belakang meja, menyaksikan salju melayang di halaman.

“Aku terus merasa bahwa Hongjun tidak seperti biasanya,” kata Li Jinglong. “Tatapan yang dia gunakan untuk menatapku seperti dia baru saja terbangun dari mimpi buruk.”

“Aku sudah memanggilnya kembali dari dalam mimpi. Kau setidaknya bisa menemukannya,” kata Mo Rigen dengan cemas. “Kita masih tidak tahu di mana Lu Xu berada.”

Li Jinglong menjawab dengan tenang, “Mata-mata Jia Zhou sudah dikirim untuk mencarinya, dan Liu Fei juga sedang mencari. Dia akan baik-baik saja.”

Mo Rigen bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu? Zhao Zilong tidak menjelaskannya dengan jelas.”

Li Jinglong menjawab, “Hanya dengan bertanya pada Hongjun, kita akan tahu.”

Mo Rigen berkata, “Tapi kau tidak membiarkanku untuk bertanya.”

“Apa kau gila?!” Li Jinglong meraung keras.

Mo Rigen hanya bisa berhenti berbicara. Hongjun baru saja sembuh dari penyakitnya, dan melihat bahwa dia masih sedikit linglung, tidak mungkin mereka bisa menanyainya sekarang. Tapi keberadaan Lu Xu tidak pasti, dan Mo Rigen tidak bisa duduk diam.

Li Jinglong bertanya, “Kenapa kau tidak bertindak tanpa izin dan pergi mencarinya? Bisakah kau menambahkan lebih banyak masalah untukku tangani?”

Li Jinglong seperti orang tua dari Departemen Eksorsisme. Meskipun Mo Rigen lebih tua darinya dua tahun, dia masih harus mendengarkannya.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Hongjun?” Tanya Li Jinglong, mengerutkan alisnya.

“Dia setengah yao,” jawab Mo Rigen. “Ada gerombolan energi jahat dalam dirinya, aku tidak tahu apakah itu sudah ditekan sebelumnya oleh segel ayah angkatnya.” Mengatakan ini, dia bangkit, mondar-mandir di dalam ruangan sambil melanjutkan, “Dia tidak bisa membedakan antara musuh dan teman, menyerang secara acak, seperti dia tenggelam dalam mimpi buruk.”

“Kau bisa melihat mimpinya?” Tanya Li Jinglong.

Mo Rigen menggelengkan kepalanya. “Aku hanya bisa membangunkannya. Hanya Rusa Putih yang bisa membuatnya tertidur dan memasuki alam mimpinya.”


Di ruang tamu, Hongjun duduk di belakang meja, meletakkan baskom yang menampung ikan mas yao di atasnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan ini?”

Ikan mas yao berkata, “Hongjun, kau benar-benar tidak bisa mengingat apa pun?”

“Bicaralah, cepat sekarang,” kata Hongjun, mengerutkan alisnya saat dia melihat ikan mas yao.

Ikan mas yao sedikit ragu saat dia berkata, “Baiklah baZhangshi menyuruhku untuk tidak memberitahumu, dia takut saat kau mendengarnya…”

Hongjun menjawab, “Aku tidak akan mengatakan sepatah kata pun.”

Ekspresi ikan mas yao secretive3, tangannya tersampir di sisi baskom saat kepalanya menjulur, menatap Hongjun. Akhirnya, dia mulai menjelaskan.

Ternyata, malam itu, Hongjun mengejar Lu Xu dan Liu Fei ke kuburan. Setelah memasuki rumah kecil, mereka beristirahat sejenak dan memutuskan untuk bermalam di sana, ikan mas yao pun tidak merasakan sesuatu yang aneh.

Tapi di tengah malam, Hongjun terbangun, dan seolah-olah dia sedang berjalan dalam tidurnya, dia perlahan berjalan ke tengah kuburan. Saat Li Jinglong dan Mo Rigen menyusul, Hongjun, seperti boneka dengan tali yang putus dan seluruh tubuhnya memancarkan qi hitam, benar-benar menyerang Li Jinglong dan Mo Rigen!

Lu Xu mengenakan satu set jubah hitam, dia melayang ke udara di belakang Hongjun, jutaan benang tumbuh dari tangannya, mengendalikan setiap gerakan Hongjun. Dan “Liu Fei” di luar gubuk kayu berubah bentuk dengan desir di “tubuhnya”, menjadi seorang wanita berpakaian serba hitam, seluruh wajahnya berwarna hitam pekat.

Li Jinglong dan Mo Rigen secara alami bergegas maju untuk menyelamatkannya, tapi wanita berjubah hitam itu memanggil angin yang sedingin es dan salju tebal, yang menyelimuti kuburan dan dataran.

Yaoguai yang lain itu, Xuannü?” tanya Hongjun.

Ikan mas yao menjawab, “Aku… aku tidak tahu.”

Mo Rigen dan Li Jinglong menutupi kelemahan satu sama lain saat mereka berjuang bersama melawan bahaya ini, tapi angin dingin Xuannü terlalu kuat. Mereka sama sekali tidak bisa mendekat saat paku es dan salju tebal terbang ke arah mereka dari segala arah, sementara Hongjun, berdiri di atas salju dan es, memulai serangannya yang seperti raja iblis.

Untungnya, Liu Fei yang asli secara kebetulan kembali pada saat itu, dan dengan Pedang Angin-nya, dia memanggil para prajurit yang sudah tertidur lama di kuburan itu. Mo Rigen mengabaikan hawa dingin dan melawan Xuannü, yang terluka dalam bentrokan itu dan melarikan diri. Tepat setelah itu, Li Jinglong menggunakan Cahaya Hati untuk memutuskan kendali yang dimiliki Lu Xu atas Hongjun…

Hongjun tiba-tiba teringat bahwa dalam mimpinya, dia hanya melihat kilatan cahaya, tapi tidak mendengar guntur. Mungkin yang sering berkedip itu adalah Cahaya Hati.

“Lalu?”

“Dan kemudian Lu Xu menghilang,” kata ikan mas yao. “Sebelum dia pergi, dia mengucapkan kata-kata kasar saat perpisahan.”

Hongjun melebarkan matanya.

“Sudah tertulis dalam takdirmu bahwa suatu hari, kau akan mati di bawah tangannya.”

“Karena benih iblis sudah ditemukan, dalam beberapa hari mendatang, tunggu saja sampai badai datang.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Secara spesifik, saudara laki-laki ibu.
  2. Rice stew china.
    Nia: Mungkin bentuknya kek sego (nasi) godog jogja, kalo orang Jogja atau yg kuliah di Jogja pasti tahu.
    Astagaa kangen.
  3. Cenderung menyembunyikan perasaan dan niat atau tidak mengungkapkan informasi.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments