“Li Jinglong, kau pergilah mengambil zirah yang ditinggalkan Zhen di Istana Huaqing.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Cahaya meredup saat senja tiba, dan mereka dikelilingi oleh pasukan Shenwu. Li Jinglong harus berurusan dengan rubah yao dan melindungi Li Longji pada waktu yang bersamaan, jadi dia menarik panah demi panah dan menembak ke arah pasukan Shenwu yang sejenak sudah tersihir oleh rubah 5, sebelum membidik ke arah rubah yao dan menembaknya sedikit lebih lama. Pada saat itu, dia berharap memiliki tiga kepala dan enam lengan1.

“Yang Mulia!” Li Jinglong menoleh ke belakang dan berteriak. “Jangan ke sini! Kembalilah!”

“Jangan mengkhawatirkan Zhen!” Li Longji balas berteriak. Dengan pedang Putera Langit di tangan, tidak mengenakan apapun kecuali jubah naga, dia bertemu dengan pasukan yang bergegas ke arahnya, menyerang prajuritnya sendiri dengan satu tendangan ke koridor.

Bagaimana mungkin dia tidak khawatir? Jika Kaisar meninggal, maka seluruh Tang yang Agung akan tamat! Dimana-mana lebih banyak pasukan yang kehilangan akal sehat bergegas untuk bertarung sampai mati, dan Li Jinglong berpikir, Dewa mana pun itu! Beri aku bantuan!

Hai mei hou bi — teman seperjuanganku!”

Angin puyuh naik dari tanah yang datar, menghisap ubin kaca di atap Istana Huaqing, sebelum menyapu bumi dengan gemuruh, membersihkan seluruh alun-alun di depan istana!

“A-Tai!” Semua orang meraung marah pada saat yang bersamaan.

“Memakan waktu cukup lama!” Teriak Li Jinglong.

A-Tai melambaikan kipasnya ke kiri dan ke kanan, angin yang kencang meniup genteng dan terbang ke segala arah, bercampur dengan salju yang sedingin es saat mengeluarkan ledakan besar, dan badai salju segera menyapu aula utama Istana Huaqing. Tepat setelah itu, Mo Rigen bersiul dan berteriak, “Zhangshi!”

Mereka berdua bergegas keluar dari koridor yang panjang pada saat yang bersamaan. Mo Rigen membalikkan badannya, melepaskan ketujuh anak panahnya secara berurutan, yang berdesing menuju ke arah mereka. Li Jinglong akhirnya berhasil menyelamatkan anak panahnya, dan dengan beberapa langkah, dia melangkah ke atas pilar kayu yang roboh, mengamati dengan cermat pergerakan rubah yao.

A-Tai dan Qiu Yongsi memblokir jalan depan Nyonya Guoguo yang berubah menjadi rubah berekor delapan, dan empat panah Mo Rigen memblokir jalan mundur rubah yao. Rubah yao mengeluarkan raungan liar, memuntahkan bola api saat dia mundur pada saat yang bersamaan, tapi tiga anak panahnya melesat ke arah lehernya!

Pada saat itu langit dan bumi runtuh, dan satu-satunya yang ada dalam pandangan Li Jinglong adalah bulu merak yang bersinar saat dia menembakkan anak panah! Dia kemudian menarik busurnya dan memasang anak panah lainnya!

Anak panah pertama melesat ke arah rubah yao besar, dan tepat pada saat rubah yao menghindari anak panah Mo Rigen, tembakan ilahi milik Li Jinglong melewati lehernya. Dengan suara yang ringan, senarnya terputus.

Rubah yao meraung, dan Giok Bulu Merak Azure jatuh ke tanah. Pada saat yang sama, panah kedua Li Jinglong terbang!

Kecepatan panah itu sangat luar biasa, mengenai pucuk dari bulu merak, dan dengan suara ding yang ringan, membuatnya memantul dan terbang ke atas, berputar cepat di udara, melaju ke atas atap. Hongjun berteriak dengan keras, “Terimakasih!”

Tepat setelah itu, Hongjun meluncur dari ubin, menyapu seperti hawk terbang, yang langsung menangkap bulu merak yang berputar di udara ke dalam genggamannya! Rubah yao memuntahkan api hitam, tapi Hongjun mengunakan Cahaya Suci Lima Warnanya untuk memblokirnya, sebelum melemparkan pengait. Dia sekali lagi terbang ke atas, kali ini ke atap tepat di seberang jalan.

Rubah yao melengkungkan tubuhnya, bergegas menuju ke atap, menendang banyak genteng ke udara. Saat membalikkan tubuhnya, Hongjun melihat rubah yao bergegas, dan dia dengan cepat menyusuri atap Istana Huaqing.

“Hongjun! Sekarang giliranmu!” Teriak ikan mas yao.

“Kapan kalian sampai ke sini! Buat orang-orang menghirup Serbuk Lihun!” Li Jinglong menemukan bahwa ikan mas yao berada di satu sisi, dan dia segera berteriak padanya.

“Ini sangat mahal…”

“Sebarkan!” Teriak Li Jinglong.

Ikan mas yao, “Kalau begitu aku akan menyebarkannya…”

“Jangan mengobrol!” Semua orang berteriak pada saat yang bersamaan.

Melihat pasukan Shenwu bergegas sekali lagi, anggota Departemen Exorcism mundur tepat di depan Li Longji, dan ikan mas yao melompat dari punggung A-Tai.

“Ini… Apa ini?” Tanya Li Longji dengan kaget.

Ikan mas yao berbalik, dan dengan “ikan mas yang melambaikan ekornya2” yang anggun, menyebarkan Serbuk Lihun. Semua orang bergegas untuk menahan napas, dan prajurit Shenwu mulai bersin. Saat rubah yao pergi, para penjaga yang memegang senjata di tangan mereka saat menyerang Li Longji segera kebingungan, dan di bawah pengaruh Serbuk Lihun, mereka terlepas dari kendali rubah yao.

“Jangan sebarkan ke arah Yang Mulia!” Li Jinglong takut bahwa segera setelah Li Longji menghirup Serbuk Lihun, dia akan melupakan kata-kata yang dia ucapkan sebelumnya, dan Li Jinglong takut harus membawa keluarganya ke dalam kehancuran untuk membayar kerusakan.

Dengan Cahaya Suci Lima Warnanya di tangan kirinya dan pisau lempar di tangan kanannya, Hongjun dengan cepat melompat ke atas atap aula.

Ubin yang diinjak oleh rubah yao pada dasarnya semua hancur setelah pengejaran. Hongjun tiba-tiba berbalik dan berhenti, tangan kanannya merentangkan keempat pisau lemparnya, dengan waspada mengamati mata rubah yao.

Rubah yao tidak bisa berhenti gemetaran. Hongjun terengah-engah saat berkata dengan suara pelan, “Rubah berekor delapan? Kau bukan raja yao.”

Rubah yao tertawa dingin dan berkata dengan kasar, “Kau tahu siapa yang menghancurkan salah satu ekorku?”

Hongjun terkejut, dan rubah yao tiba-tiba membuka mulutnya, api hitam mengepul ke langit-langit, menciptakan angin puyuh yang tiba-tiba menelan Hongjun, tapi Hongjun menjentikkan Cahaya Suci Lima Warnanya, yang membuka penghalang untuk melindungi aula utama Istana Huaqing! Api hitam itu padam, dan Hongjun yang ada di belakang penghalang sama sekali tidak tersentuh olehnya.

Rubah yao menatap kosong ke arah Hongjun, tapi Hongjun berkata, “Rubah yao, izinkan aku menanyakan sesuatu. Bagaimana bisa kau mengenal ayahku?”

Rubah yao tertawa dingin. “Apa kau pikir kau pantas menanyakan sesuatu padaku?! Bajingan dari bajingan3 Chong Ming!”

Hongjun berteriak marah, “Kau tidak diizinkan untuk mengutuk ayahku!”

Hongjun sangat marah, dan dia mengumpulkan Pisau Lempar Pembunuh Abadi di tangan kanannya, menggabungkannya menjadi satu. Kekuatan angin, kilat, tanah, dan api meledak keluar, dan bilah mereka memanjang tanpa henti, berubah menjadi glaive4 sepanjang enam chi5! Dalam sekejap, glaive itu bercahaya, dan rubah yao terbang ke dalam kemarahan saat dia berteriak, “Pedang itu lagi—!”

Rubah yao menerkam ke arah Hongjun, dan Giok Bulu Merak Azure di tangan kirinya langsung berubah menjadi perisai cahaya, menghalangi sapuan cakar yang tajam rubah yao. Diikuti dengan suara weng yang kencang, energi meledak keluar, menyebabkan tubuh besar rubah yao yang tingginya hampir tiga zhang melompat keluar, sebelum tangan kanan Hongjun mengarahkan glaive-nya ke bawah dan menjentikannya ke atas —

Rubah yao meraung kesakitan, dan dengan tubuhnya yang berada di udara, dia melepaskan semburan api hitam. Tapi glaive itu tampaknya mengoyak ruang, dan udara bersinar dengan riak saat api hitam terkoyak seperti selembar kertas pada saat berikutnya. Di bawah kekuatan dari glaive, ruang itu hancur berkeping-keping, dan bilahnya memotong lapisan demi lapisan. Ekor delapan rubah yao yang paling dekat dengan sisi, terpisah dari pangkalnya di bawah kekuatan yang tidak terkendali seperti pasta kertas, dan darah ungu kehitaman menyembur keluar!

Hongjun berteriak dengan keras lagi, melambaikan glaivenya untuk kedua kalinya. Kengerian muncul di mata rubah yao, dan dengan putaran, dia mendarat di tanah. Serangan kedua meleset dari targetnya, tapi momentumnya masih ada, dan dislokasi ruangan menyebabkan Istana Huaqing bergeser. Dengan ledakan besar, istana itu runtuh dengan sendirinya, sebelum pedang qi itu memotong melewati sisi istana, terbang menuju hutan di luar istana. Pepohonan di area itu tumbang, dan batu-batu besar bergeser, membawa serta salah satu puncak gunung yang lebih kecil saat longsor dimulai. Ledakan keras tidak berhenti saat sebagian besar tebing runtuh sekaligus, meluncur ke dalam ngarai yang dalam di bawah gunung Li!

Saat yang lain menyusul, mereka hanya bisa melihat sisi istana dan tebing yang runtuh, dan mereka semua tercengang.

“Kau… ini…” kata Li Jinglong. “Hongjun? Sihir apa yang kau gunakan?”

Hongjun memegang erat pisaunya saat dia terengah-engah tanpa henti, berkata, “Pertama dia… pertama dia mengutuk ayahku.”

“Cepat, kejar dia!” Teriak A-Tai saat dia kembali tersadar.

Selain Li Jinglong dan A-Tai, yang relatif segar, yang lainnya sudah menghabiskan semua energi mereka. Melihat rubah berekor delapan sudah menjadi rubah berekor tujuh, bercucuran darah saat tersandung ke aula belakang, mereka berdua bergegas untuk mengejarnya.

“Tunggu,” Hongjun berteriak. “Kita harus menghancurkan setiap ekornya, kalau tidak kita tidak akan bisa menyingkirkannya… tunggu! Zhangshi!”

Jika itu seperti biasanya, maka setelah menggabungkan Pisau Lempar Pembunuh Abadi menjadi satu, Hongjun masih bisa bertahan sebentar, tapi karena dia sudah terluka sebab qi-nya dihisap oleh yaoguai, dia sekarang sudah sepenuhnya kelelahan, dan hampir tidak bisa untuk berdiri tegak.

“Ayo pergi!” Mo Rigen memegangnya dan mengejar mereka dengan langkah cepat.

Di dalam istana belakang, angin meniup tirai kain kasa. Saat ini Yang Yuhuan sedang menunggu dengan cemas di dalam istana, tapi yang datang adalah rubah besar berwarna abu-abu yang terluka.

Yang Yuhuan terkejut, dan dia bertanya dengan gemetaran, “Kakak?!”

Sebelumnya, di Kolam Huaqing, dia tidak memiliki kesempatan untuk melihatnya dari dekat sebelum dia diseret oleh Li Longji untuk pergi ke istana belakang dan bersembunyi, dan diperintahkan bahwa tidak peduli apapun yang terjadi, dia tidak boleh keluar. Saat dia mendengar suara pertempuran dan ledakan keras di luar, Yang Yuhuan merasa bahwa ada yang salah, tapi dia tidak menyangka bahwa yang akan bergegas masuk sebenarnya adalah rubah besar.

Baru saja, dia melihat Li Jinglong dan mereka menyerang Nyonya Guoguo bersama-sama, dan pada saat itu Yang Yuhuan sudah samar-samar menebaknya, tapi tidak peduli apapun itu dia tidak bisa mempercayainya. Rubah besar yang ada di depannya sekarang sebenarnya adalah kakak peremupuan yang berinteraksi dengannya setiap hari.

Rubah yao itu perlahan berjalan menuju ke Yang Yuhuan, matanya berkaca-kaca.

Yamg Yuhuan tidak bisa berhenti terengah-engah saat dia mengangkat tangannya, gemetaran saat dia menyentuhnya. Rubah yao menundukkan kepalanya, menekan ujung hidungnya dengan lembut ke tangan Yang Yuhuan.

“Adik kecil…” Dari matanya, air mata mengalir deras, dan suaranya menahan sedikit isakan. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi…”

Semua orang datang untuk mengejarnya, dan Li Longji keluar dari kerumunan. Yang Yuhuan berbalik dan melihat Li Longji, yang matanya dipenuhi dengan keterkejutan.

Hongjun behasil untuk berdiri tegak, memegang glaive ditangannya, tapi rubah yao mengeluarkan raungan rendah, matanya bersinar merah.

Tatapan Yang Yuhuan berkedip-kedip, dan Li Jinglong berteriak, “Tidak bagus!”

Saat ikan mas yao baru akan bergegas dan menyebarkan Serbuk Lihun, rubah yao bergerak lebih cepat daripada mereka. Dengan satu gigitan, dia mengambil Yang Yuhuan yang linglung di mulutnya, dan Li Longji meratap sedih:

“Selir tercinta —”

Yang Yuhuan bertindak seolah-olah dia tidak mendengarnya saat dia tergantung di mulut rubah yao. Rubah yao menabrak dinding belakang istana, berlari keluar.

Semua orang berlari ke depan dan belakang istana, hanya untuk melihat rubah yao bergegas keluar dari pepohonan. Bulu abu-abunya bercampur dengan hutan di pegunungan, dan menghilang di kedalaman malam.

Li Jinglong: “…”

Li Longji menekan tangannya ke dinding untuk mendapatkan dukungan saat dia menarik napas dengan kasar. Tiba-tiba lututnya menyerah, dan dia hampir berlutut. Li Jinglong buru-buru mengangkatnya dan menariknya kembali. Semua orang saling memandang satu sama lain. Hongjun sudah menghabiskan seluruh energinya, jadi dia duduk di tanah dan bertanya, “Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

Mata air panas istana6, istana samping, aula utama, dan istana belakang, semuanya tampak seolah-olah tornado sudah menyapu melewati mereka. Mereka dihancurkan sampai pada titik keruntuhan, dan dengan ini, Departemen Exorcism juga dengan mengagumkan menjadi divisi penghancur bangunan nomer satu di seluruh Tang yang Agung. Kemanapun mereka pergi, mereka akan menghancurkan bangunan, dan melihat bahwa ini adalah masalah yang disebabkan oleh pasukannya sendiri, Li Jinglong sama sekali tidak marah. Satu-satunya harapannya adalah bahwa kaisar tidak melupakan “hancurkan sesukamu” yang dia katakan sebelumnya.

“Kalian semua, katakan pada Zhen, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Li Longji. Rambutnya acak-acakan, dan kakinya telanjang saat dia duduk di tengah tumpukan puing yang hancur.

“Yang Mulia…” pasukan Shenwu datang untuk menerima perintah, dan wajah kekaisaran Li Longji dipenuhi dengan amarah saat dia berteriak, “Kalian semua, menyingkirlah dari penglihatan Zhen! Sampah! Apa gunanya kalian di sini?!”

“Yang Mulia, tolong mengertilah,” Li Jinglong menangkupkan tangannya dan membungkuk saat dia menjawabnya, “Ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Kekuatan rubah yao sebenarnya yang menyihir mereka.”

Hongjun bersandar pada sebuah pilar, hanya merasa bahwa dia lapar dan juga haus, dan dia berkata, “Manusia bahkan tidak mulai untuk membunuh satu sama lain adalah hasil yang cukup bagus, jadi Anda seharusnya tidak berpikiran negatif.”

Li Longji menjawab, “Karena kau sudah mengetahui bahwa Nyonya Guoguo adalah yao, kenapa kau tidak mengatakannya?”

Li Jinglong menjawab tanpa daya, “Jika saya memiliki pilihan lain, maka saya tidak ingin mengambil resiko sebesar itu pada saat seperti ini.”

Dan mengatakan ini, Li Jinglong melaporkan semua temuan yang mereka dapatkan dari penyelidikan mereka beberapa hari ini pada Li Longji, dan dalam pandangan Li Longji muncul rasa ngeri.

Semua orang terdiam saat melihat Li Longji. Terakhir kali saat Hongjun melihat Li Longji, dia tidak menyadarinya, tapi saat ini ketika dia melihatnya lagi, dia hanya merasa bahwa kaisar sudah sangat tua. Li Longji sudah berusia enam puluh enam tahun; tanda-tanda usia di wajahnya sangat terlihat, dan dia tampak tua dan murung.

“Seluruh pasukan dari Departemen Exorcism,” Li Longji menjawab, “akan kembali ke Chang’an bersama dengan Zhen. Seluruh utusan pergi dan sampaikan perintah pada Enam Keprajuritan agar mereka pergi ke luar kota untuk menemukan di mana selir kekaisaran sudah dibawa, dan tidak akan ada yang berhenti sampai dia ditemukan. Li Jinglong, kau pergilah mengambil zirah yang ditinggalkan Zhen di Istana Huaqing.”

Setengah sichen kemudian, di tengah dentingan zirah, malam tiba saat hutan menyala dengan api obor.

Semua orang sedang istirahat. Hongjun lapar dan juga haus, tapi untungnya Istana Huaqing tidak kekurangan makanan yang sudah disiapkan oleh kaisar. Di bawah kegelapan malam, dia makan entah apa pun itu, dan setelah memakan semuanya, dia akhirnya merasa lebih baik.

“Kembalilah ba,” kata Li Jinglong saat melewati Hongjun. “Saat kita kembali ke Chang’an, kau bisa makan lagi.”

Li Longji mengenakan zirah naga kaisar, yang megah dengan kilau keemasan. Li Jinglong mengikuti di belakang, mengenakan satu set zirah hitam, menaikan topi bajanya sedikit, memperlihatkan wajah tampannya.

Seorang utusan menunganggi kudanya yang berlari dengan kencang, ke Istana Huaqing, berteriak, “Lapor—!”

Li Longji berkata dengan muram, “Bicaralah.”

Utusan itu melirik ke arah Li Jinglong dan orang-orang di belakangnya, tapi Li Longji meraung marah, “Bicaralah! Kalau tidak, kepalamu akan terpenggal!”

Hongjun terkejut, dan berpikir, meskipun kaisar manusia sudah tua, kekuatan itu masih ada. Seperti yang diharapkan, Bintang Ziwei memiliki kemampuan untuk menekan orang lain.

“Chang’an… diselimuti oleh qi hitam,” utusan itu terengah-engah. “Gerbang kota tidak dapat dibuka, mereka7 semua… telah tersihir.”

Saat mereka mendengar hal ini, semua orang merasakan hawa dingin menjalar ke tulang belakang mereka. Apa Nyonya Guoguo seberani ini, untuk benar-benar melarikan diri ke Chang’an?!

Li Longji menoleh dan melihat ke arah Li Jinglong, yang hanya bisa melanjutkan dengan berani, “Mungkin ini persis seperti yang dicurigai oleh Yang Mulia.”

Dalam ketakutan yang menyelimuti mereka di keheningan yang mematikan, suara Li Longji bergetar, “Dia benar-benar berani, apa rubah yao itu berpikir bahwa Zhen tidak memiliki cara untuk menghadapinya?”

Hati semua orang menjadi gelisah, dan tidak ada yang berani menanggapi pernyataan itu. Setelah beberapa saat, Li Longji berjalan, selangkah demi selangkah, keluar dari Istana Huaqing, masih sedikit terengah-engah.

Anglo sudah dinyalakan di luar aula, dan masih ada beberapa prajurit linglung yang belum terbangun karena efek Serbuk Lihun. Segera setelah kekuatan dari rubah yao menghilang, semua orang mulai mendiskusikan banyak hal, dan mereka samar-samar menebak apa yang terjadi pada Istana Huaqing sampai menjadi hancur seperti ini. Karena prajurit Shenwu sudah menyebabkan keributan seperti ini, mereka tidak berani untuk bersuara, mereka semua berlutut di tanah, menunggu kaisar untuk berurusan dengan mereka.

Li Longji berdiri di depan Istana Huaqing dan terdiam untuk waktu yang lama. Setelah itu, dia berkata, “Di mana para utusannya?”

“Di sini!” Semua utusan keluar.

“Pergilah dengan kecepatan tinggi ke Luoyang pada Guo Ziyi8,” kata Li Longji. “Dan menuju ke Jalur Tong9 pada Gushu Han10. Suruh mereka mengumpulkan pasukan mereka dan datang ke luar Chang’an untuk memenuhi kewajiban mereka kepada tuan mereka.”

Ekspresi Li Jinglong berubah, “Yang Mulia!”

“Dapatkah kami hanya mengandalkan kalian untuk menerobos Chang’an sendiri?” Kata Li Longji dengan dingin.

“Yang Mulia,” Li Jinglong berkata, “segera setelah pasukan dipanggil kembali dari Luoyang dan Jalur Tong, maka mungkin situasi pertempuran di sana akan berubah. Hamba ini… bersedia untuk mencobanya.”

Li Longji menoleh untuk melihat Li Jinglong, dan setelah sekilas saling bertukar pandangan, Li Jinglong mengangguk.

Saat sekali lagi Li Longji melihat ke arah anggota dari Departemen Exorcism, tidak ada dari mereka yang berani untuk bersuara. Li Jinglong melambaikan tangannya, mengisyaratkan bahwa mereka harus pergi, dan setelah diskusi singkat, Hongjun mendongakkan kepalanya untuk melihat Li Longji.

“Kami dapat membantu Anda untuk menyelamatkan istri Anda,” Hongjun berkata, “Kaisar.”

“Shh.” Mo Rigen segera memberi isyarat agar Hongjun diam.

Hongjun selalu merasa bahwa Yang-guifei adalah orang yang baik, dan karena dia bukan rubah yao, sebuah batu yang berat di hatinya jatuh ke tanah11.

“Lalu, apa kalian semua membutuhkan istirahat?” Kata Li Longji.

Li Jinglong menjawab, “Tidak perlu terlalu cepat, selama kita tiba di Chang’an sebelum fajar, maka itu akan berhasil.”

Li Longji berteriak, “Prajurit Shenwu, dengarkan perintahku! Bergerak!”

Pada geng ke-312, dua ribu pasukan Shenwu meninggalkan Gunung Li, berbalik ke arah Chang’an.

Anggota dari Departemen Exorcism menendang kuda mereka untuk berpacu dengan kencang, membuat jalan mereka sendiri. Hongjun memacu kudanya ke depan dan menyusul, bertanya pada Li Jinglong, “Zhangshi, apa kau ingin masuk dari jalur air di luar parit kota?”

Li Jinglong mengangguk, sebelum bertanya pada Hongjun, “Hongjun, apa kau yakin bahwa Cahaya Hati bisa menghancurkan sihir rubah yao?”

“Mungkin,” Hongjun tidak berani untuk terlalu yakin saat dia menjawab, “Kau mungkin tidak bisa untuk menahannya.”

Sebelumnya, kelompok itu sudah secara pribadi melihat kekuatan Cahaya Hati Li Jinglong di gua — bahkan putera naga itu terbunuh saat cahaya itu menyinari mereka. Energi yao mereka hampir sepenuhnya dihilangkan, sebelum mereka terbakar seluruhnya, dan kekuatan yang meledak itu hampir bisa menghancurkan bahkan yang tidak berwujud. Jika itu tentang sihir exorcism, hal-hal yang paling ditakuti oleh para exorcist, adalah hal-hal yang tidak berwujud, karena sihir rubah yao dan kebencian yang dikumpulkan oleh jiwa-jiwa pendendam bukanlah sesuatu yang bisa diblokir oleh Cahaya Suci Lima Warna, bukanlah sesuatu yang bisa disegel oleh Kuas Pemandangan, bukan sesuatu yang bisa ditembus oleh Tujuh Anak Panah Paku, bukan sesuatu yang bisa di sapu oleh Kipas Tangan Badai Illahi…

… tapi Cahaya Hati mungkin bekerja.

Tapi mereka tidak memiliki waktu lagi untuk mencoba lebih jauh. Qiu Yongsi adalah orang pertama yang mengemukakan ide ini saat mereka sedang berdiskusi, dan semua orang setuju bahwa mereka akan mencobanya terlebih dulu, dan jika itu tidak berhasil, maka mereka akan mundur ke luar kota untuk mencoba dan memikirkan cara lain.

Mo Rigen bahkan mengemukakan ide bahwa tidak peduli seberapa kuat rubah yao, menyebabkan orang-orang mereka untuk berpindah sisi pastinya akan menggunakan energi vitalnya. Sekali atau dua kali mungkin berhasil, tapi apa dia mampu untuk mengendalikan ribuan orang, bahkan enam ratus ribu keluarga di Chang’an, selamanya?

Itu selalu pantas untuk dicoba.

“Berganti kuda ba,” kata Li Jinglong. “Hongjun, kau kemarilah.”

Kedua tunggangan mereka saling mendekat, dan dengan memutar tubuhnya, Hongjun berbalik di atas punggung kuda, duduk di belakang Li Jinglong.

“Meskipun pisau lemparmu agak kuat,” Li Jinglong mengangkat topi bajanya, menoleh, “pisau itu menghabiskan banyak energi dan menyebabkan banyak kerusakan, jadi kau tidak bisa menggunakannya dengan gegabah.”

“Kaisar berkata bahwa kita bisa menghancurkan sesuka kita,” Hongjun cemberut.

Li Jinglong berkata, “Kau masih harus sedikit lebih berhati-hati, jika tidak dengan tebasan itu, bahkan jika itu adalah orang-orang kita sendiri, mereka akan bisa terbagi menjadi dua, yang itu terlalu mengerikan.”

Hongjun bersuara ‘en‘. Malam itu, saat dia mengejar Fei Ao di luar kota, dia tidak berani menggunakannya secara sembarangan, karena dia takut bahwa satu tebasan akan membelah kota Chang’an menjadi dua.

“Ajari aku, bagaimana seharusnya Cahaya Hati digunakan?”

“Biarkan aku mencobanya dulu,” jawab Hongjun.

Dia menggenggam Giok Bulu Merak Azure di tangannya, mengaktifkan Cahaya Suci Lima Warnanya. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Li Jinglong yang kuat, tangannya tumpang tindih satu sama lain, saat dia menekannya di dadanya. Pada saat itu, di bawah zirah sedingin es yang dikenakan oleh Li Jinglong, jantungnya berdetak kencang di tubuhnya yang hangat.

Cahaya Suci Lima Warna melewati dada Li Jinglong, memasuki meridiannya, dan Li Jinglong merasakan darah dan qi-nya langsung mulai bergejolak, dan sangat sulit untuk menahannya. Tapi begitu cahaya illahi memasukinya, itu kembali lagi — Hongjun sudah merasakan cahaya yang menyala dipancarkan dari dekat jantung Li Jinglong, memblokir masuknya Cahaya Suci Lima Warna. Cahaya itu sangat lambat saat berkelok-kelok melewati meridian di seluruh tubuhnya.

“Itu ada di sana!” Kata Hongjun. “Apa kau merasakannya?”

Li Jinglong bersuara ‘en‘. Sejak mereka melarikan diri dari kolam darah, dia sedikit banyak bisa merasakan bahwa Cahaya Hati sudah mulai melindunginya, tapi kejadian yang tidak terduga itu terjadi terlalu cepat, dan dia tidak memiliki kesempatan untuk berlatih dan menjadi terbiasa akan hal itu.

Hongjun memeluk Li Jinglong dari belakang, menekan satu tangannya ke dadanya saat berkata, “Pertama adalah mengumpulkan mana di dalam tubuh, mengarahkan kekuatan Cahaya Hati di sepanjang aliran Shaoyin dari lengan ke atas13, melewati yan dan yuanquan, berjalan ke tangan kanan.”

Saat Hongjun menjelaskan, dia menggunakan jarinya, di luar zirah, mulai dari sisi kiri dadanya, untuk menelusuri bagian kanan tubuhnya. Saat Li Jinglong mempelajari seni bela diri, dia secara umum sudah mempelajari lokasi aliran, tapi tetap, untuk memastikan, dia membuka zirahnya dan menarik tangan kiri Hongjun, menggunakannya untuk menelusuri aliran meridian di tubuhnya, bertanya, “Apa yang ini?”

“Iya.” Hongjun menggenggam tangan kanan Li Jinglong, dan Li Jinglong melonggarkan cengkeramannya pada kendali saat telapak tangannya yang besar menekan tangan kanan Hongjun, menjalin jari-jari mereka.

Jantung Hongjun mulai berdetak cepat, dan dia tiba-tiba merasakan cahaya hangat di tangannya berkedip.

“Aku mengerti,” Li Jinglong tersenyum. “Terimakasih, Shifu Kecil.”

Hongjun, “Ah…”

Jari-jari Li Jinglong menggenggam sedikit lebih erat di tangannya, sebelum melepaskannya. Dia berkata, “Di hari-hari yang akan datang aku pasti akan berlatih dengan baik.”

Ini adalah pertama kalinya Hongjun menjalin jari-jarinya dengan seseorang seperti ini, dan wajahnya langsung memerah. Apa yang barusan dilakukan Li Jinglong membuatnya tiba-tiba merasa bahwa di antara mereka berdua, beberapa emosi rumit yang diam-diam mereka pahami sudah muncul.

“Pegang… pegang pedangmu dan cobalah?” Hongjun kemudian berkata.

“Ada di pelana,” jawab Li Jinglong. “Serahkan padaku.”

Saat kudanya berlari kencang, Hongjun mencabut Pedang Kebijaksanaan dari pelana, dan Li Jinglong mengirim kekuatan Cahaya Hati ke tangannya. Hongjun berkata, “Lepaskan dan salurkan ke pedangnya! Kau bisa melakukannya!”

Di malam yang gelap, lebih dari dua ribu kuda berlari. Li Jinglong mengalirkan kekuatan Cahaya Hati ke dalam Pedang Kebijaksanaan, dan seketika, pedang di tangannya mengeluarkan cahaya terang benderang, yang segera membelah langit dan bumi, seolah-olah itu adalah mercusuar di malam yang gelap, langsung bersinar terang.

Pasukan Shenwu mengeluarkan teriakan terkejut, dan anggota lain dari Departemen Exorcism berteriak, “Zhangshi, kerja bagus!”

“Wow! Zhanghsi melebihi penampilannya!”

Zhangshi bersinar!” Kata Hongjun, tersenyum ke arah yang lainnya.

Li Jinglong: “…”

Kata-kata Hongjun menimbulkan gelombang tawa, dan Li Jinglong tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis. Dia menoleh dan bertanya, “Hanya ini?”

Hongjun menjawab, “Aku hanya tahu satu gerakan ini, Chong Ming hanya mengajariku yang ini. Selebihnya, kita harus memikirkan secara perlahan nantinya.”

Li Jinglong berkata, “Itu akan berhasil! Saudaraku, ayo pergi!”

Kuda-kuda meringkik saat mereka bergegas menuju kota Chang’an yang diselimuti malam. Saat ini adalah geng ke-514, tepat sebelum fajar menyingsing, dan dataran Guanzhong tenggelam ke dalam kegelapan yang pekat.


 

Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Seperti Nezha, salah satu dewa pelindung agama rakyat tiongkok. Legenda mengatakan bahwa ia lahir dari bunga teratai dan memiliki tiga kepala dan enam lengan, dan dengan semua itu ia menggunakan tiga senjatanya: Cincin Semesta, Selempang Gudang Senjata Merah, dan Tombak Berujung Api.
  2. Sebuah jurus bela diri yang awalnya dibuat untuk pedang dan rantai. Ini adalah gambar terbaik yang bisa Moon temukan:"Jangan sebarkan ke arah Yang Mulia!" Li Jinglong takut bahwa segera setelah Li Longji menghirup Serbuk Lihun, dia akan melupakan kata-kata yang dia ucapkan sebelumnya, dan Li Jinglong takut harus membawa keluarganya ke dalam kehancuran untuk memb...
  3. “Bajingan” pertama berarti “Anak haram”, dan “bajingan” kedua sebagai kutukan zaman modern yang lebih konvensional.
  4. Glaive adalah polearm Eropa, terdiri dari bilah di kedua ujungnya. Ini mirip dengan naginata Jepang, guandao dan pudao Cina, woldo Korea, sovnya Rusia, dan palma Siberia.* Satu chi sama dengan sepuluh cun, satu cun sekitar 3cm, jadi enam chi sekitar 1
  5. Satu chi sama dengan sepuluh cun, satu cun sekitar 3cm, jadi enam chi sekitar 1.8m.
  6. Dalam hal ini, mengacu pada aula yang terdekat dengan mata air panas.
  7. Mengacu pada penjaga kota, yang bertanggung jawab untuk membuka gerbang, dan juga keselamatan dan kesejahteraan penduduk lainnya.
  8. Guo Ziyi, jenderal dari Dinasti Tang, yang nantinya akan memainkan peran dalam narasi tersebut. Dia dianggap salah satu jenderal terkuat di era ini.
  9. Memisahkan Dataran Tiongkok Utara dari wilayah Guanzhong.
  10. Jenderal lain yang nantinya akan muncul di dalam cerita.
  11. Dia dibebaskan dari beban mental yang membebaninya.
  12. 11 PM sampa 1 AM (jam sebelas malam sampai satu dini hari.)
  13. Salah satu dari dua belas aliran meridian tubuh, yang menghubungkan jantung dan jari kelingking.
  14. 3-5 AM (jam 3 sampai 5 pagi).
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments