“Hal besar itu sudah menyusut menjadi tak berarti setelah tidur dengan nyenyak.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Malam itu, Hong Jun mengalami mimpi buruk.

Di dalam mimpinya, seluruh tubuh Du Hanqing terbakar karena api. Kulitnya hangus dan pecah saat darah segar merembes keluar, menampakan daging segar yang tersembunyi di bawah bulu-bulu rubah yang sekarang tampak kabur. Rubah yang menderita itu mencoba untuk keluar dari kulit manusia, mengeluarkan darah segar dan lemak yang mendesis saat dia mengeluarkan lolongan yang menyiksa.

“Ah——!” Hong Jun tiba-tiba terduduk di tempat tidurnya.

“Hong Jun?” Suara Mo Rigen datang dari luar sebelum dia bergegas masuk ke dalam, meletakkan satu tangannya di dahi Hong Jun yang tampak kelelahan.

Hong Jun menarik napas pelas. Ini sudah kali keduanya dia mengalami mimpi buruk, dan dia sedang berusaha untuk duduk, terengah-engah, sebelum dia sedikit menenangkan dirinya, dan memperhatikan Mo Rigen dengan tenang.

“Pada malam-malam dimana rusa putih telah pergi,” kata Mo Rigen, suaranya tenang, “Kengerian malam di padang rumput semakin memekik dan menjadi liar.”

Dia menuangkan secangkir air untuk Hong Jun, sebelum dia mengumamkan mantra di atas cangkir itu. Saat Hong Jun mengambil secangkir air itu dan meminumnya, hatinya tampak sedikit tenang.

“Apa artinya itu?” Tanya Hong Jun.

“Serigala Abu-abu mengawasi hari yang cerah1, sedangkan Rusa Putih mengawasi malam yang panjang,” kata Mo Rigen. “Di kampung halamanku ada legenda; saat Rusa Putih menghilang ke dalam kegelapan malam, anak-anak yang meninggalkan rumahnya akan memiliki mimpi buruk… apa kau rindu rumah?”

“Sedikit,” Hong Jun menganggukkan kepalanya.

Mo Rigen menepuk-nepuk bahu Hong Jun dan tersenyum tipis. “Saat orang-orang tumbuh dewasa, hal itu tidak dapat dihindari saat mereka meninggalkan rumah mereka.”

“Itu benar,” kata Hong Jun pelan. Dia mengangguk pada Mo Rigen sebagai tanda terima kasih. Setelah dia meminum secangkir air itu, suasana hatinya menjadi sangat baik, dan saat dia berbaring lagi, kali ini dia bisa cepat tertidur.

Keesokan harinya, di pagi hari, Hong Jun-lah yang bangun paling awal. Saat dia berjongkok di sisi sumur, menggosok giginya, ikan mas yao, yang telah mengetahui kejadian semalam, sibuk menasehatinya, “Kenapa kau begitu khawatir dengan yaoguai itu? Dia bukanlah kerabatmu atau bahkan dari kampung halaman yang sama dengannya, dan kau juga sudah sibuk mengurusi dirimu sendiri.”

Hong Jun menyeka mulutnya sampai kering, berpikir sejenak, sebelum menjawab, “Secara teknis, aku juga seorang yao, kan? Akan ada hari dimana Zhangshi akan tahu.”

“Situasimu berbeda dari rubah-rubah itu,” kata ikan mas yao. “Zhangshi tampaknya tidak memperdulikanku. Jika ada yang bisa disalahkan, itu adalah rubah yao yang dulu tidak bersumpah setia pada ayahmu, jadi mereka hanya menuai apa yang mereka tanam. Ditambah, kau bisa makan apa saja, dan saat kau makan daging aku tidak melihat kau mengatakan bahwa semua kehidupan itu sama.”

“Itu tidak sama,” kata Hong Jun, “Tidak makan daging berarti karena rasa belas kasihan yang ku simpan di hatiku2; makan daging untuk membantu mereka melepaskan diri dari kegetiran dan masalah hidup, kata Qing Xiong begitu.”

“Pagi, Zhangshi.” Dari belakang mereka terdengar suara Qiu Yongsi yang menyapa Li Jinglong, dan Hong Jun serta ikan mas yao segera berhenti berbicara. Pada saat yang sama, Mo Rigen secara tidak sengaja datang dari luar, dan Li Jinglong bertanya padanya, “Apa sudah selesai?”

Mo Rigen menganggukkan kepalanya. Hong Jun bertanya, “Sepagi ini, apa yang kau lakukan?”

Mo Rigen tersenyum secara misterius, dan membuat suara “shh”, menunjukkan bahwa dia sebentar lagi akan mengetahuinya.

Li Jinglong berkata, “Kali ini aku hanya mendengar kalimat tentang “rasa belas kasihan yang ku simpan di hatiku”. Sarapanlah dulu, dan ganti pakaian setelah selesai makan.”

Hal besar3 itu sudah menyusut menjadi tak berarti setelah tidur dengan nyenyak. Kegelisahan hati Hong Jun yang semalam sudah menghilang, dan sekarang saat dia menghadapi Li Jinglong, dia merasa sedikit canggung karena tindakannya yang sebelumnya, tapi Li Jinglong hanya menatapnya sebelum memerintahkan mereka untuk berganti pakaian ke seragam mereka.

Seragam Departemen Exorcism terbuat dari kain yang dihadiahkan oleh Kaisar dan Yang-Gufei pada mereka. Itu adalah bahan biru tua yang berkualitas tinggi, dan jubah bela diri luar yang berlengan longgar dan dipasangkan dengan dalaman seputih salju yang menunjukkan bahu lebar mereka dan pinggang ramping mereka. Ini berbeda dengan jubah panjang yang dipakai oleh para pejabat sastra; ujung bawah hanya menutupi 90% dari panjang kaki, menampilkan sepatu bot hitam militer mereka. Jubah ini lebih cocok untuk bertempur, dan kecakapan bela diri mereka tampak bersinar di setiap langkah mereka.

Mereka berdiri di depan cermin, dan pakaian itu membuat mereka tampak seperti pria, karena mereka semua tampak tinggi dan tampan. Bahkan Qiu Yongsi yang dulunya mengenakan jubah terpelajar sekarang terlihat seperti seseorang yang pemberani saat mengenakan seragam resmi ini. Namun, dari mereka berlima, yang tampak terlihat paling baik tetaplah Hong Jun. Setelah Hong Jun tiba di Chang’an, dia terbiasa mengenakan jubah kasar dengan lengan berserut, tubuh bagian atasnya mengenakan pakaian putih pucat, dan bagian bawahnya berwarna biru pucat, seperti pemuda dari keluarga petani. Meski demikian, dia sudah sangat menarik dengan pakaiannya yang biasa karena dia diberkahi dengan wajah yang rupawan, dan dia berhasil mengeluarkan aura seorang tuan muda. Tapi sekarang dia mengenakan satu set jubah mahal, tidak ada orang yang bisa melihatnya secara langsung, dan dia memiliki aura keturunan dari Klan Wangxie4.

“Kerah lehernya agak ketat….”

Begitu Hong Jun membuka mulutnya, semua ilusi itu hancur.

Li Jinglong hanya bisa membantu menarik kerahnya sedikit lebih lebar, dan berkata, “Dan pasti aku lupa dengan kerahnya.”

Sebelumnya, Li Jinglong secara khusus meminta penjahit datang sekali dan bekerja lembur untuk membuat pakaian ini. Pada saat itu, Hong Jun sedang tidak ada, tapi jubah ini sangat pas, dan Hong Jun merasa bahwa ini sangat aneh. Dia berkata, “Tidak ada yang mengukurku.”

Li Jinglong merasa sedikit canggung, dan dia terbatuk pelan, sebelum berkata pada mereka, “Lihat, sudah kubilang pakaian itu akan pas.”

“Penglihatan Zhangshi memang sangat bagus,” Mo Rigen mengangkat ibu jarinya.

Hong Jun menatap Li Jinglong dengan heran dan bertanya, “Bagaimana kau tahu ukuranku?”

“Baiklah berhentilah bertanya…” Li Jinglong menyerahkan pakaian yang sangat kecil, yang seperti jubah mandi pada Hong Jun, sebelum menunjuk ke arah luar, dan berkata, “Kau sangat kurus, jadi dengan bahan ekstra, aku membuat jubah lain.”

“Zhao Zhilong—!” Hong Jun memegang jubah mandi kecil itu saat dia berteriak.

“Ada apa?” Zhao Zhilong segera mendekat. Dia sudah hidup selama bertahun-tahun, namun ini adalah pertama kalinya dia mengenakan pakaian. Melihat bahwa Li Jinglong tidak melupakan dirinya, dia mulai bersorak, dan mengambil jubah mandi itu. Dia berbaring di tanah dan memasukkan kakinya yang berambut ke dalamnya. Setelah mengenakan jubah mandi itu, dia mengikatkan selempang di pinggangnya, dan kain belakangnya berhasil menutupi ekornya. Li Jinglong memberikan tas bahu kecil padanya, dan membantunya memakainya; tas itu untuk membawa Serbuk Lihun.

Semua orang tidak bisa menahan tawanya yang keras, dan ikan mas yao berkata, “Coba kulihat…” sebelum melompat-lompat di cermin ukuran penuh.

Li Jinglong berkata, “Hari ini kita semua akan keluar bersama. Ini adalah hari hidup dan mati, jadi pastikan kau tidak mengunakan Serbuk Lihun jika tidak diperlukan.”

Semua orang menyuarakan persetujuan mereka dan, sambil membawa senjata mereka, mereka bersiap untuk keluar. Jantung Hong Jun mulai berdebar-debar saat dia mengingat kata-kata Li Jinglong tentang “jika Departemen Exorcism bisa selamat tanpa cidera”, dan dia mendapat petunjuk. Saat dia melihat ke arah Li Jinglong, Li Jinglong berganti memandangnya dan tampak memiliki senyuman yang dia sembunyikan; jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.

Di pagi hari, Gunung Li tertutup awan yang membasahi pakaian siapapun yang mendaki gunung. Sebuah kereta kuda berhenti di pinggir jalan, dan pasukan Shenwu dengan panik berkata, “Jenderal! Silakan masuk ke dalam kereta.”

Feng Changqing mencengkram tongkatnya, dan dengan susah payah dan tertatih-tatih dia berjalan selangkah demi selangkah mendaki Gunung Li menuju Istana Liburan Kaisar5. Pada waktu yang sama, dia melambaikan tangannya dan berkata, “Ini bukan masalah, apa kalian semua meremehkan jenderal ini?”

Para penjaga hanya bisa berhenti bertanya dan tetap diam saat Feng Changqing tertatih-tatih di sepanjang jalan yang beraspal. Orang tuanya sudah meninggal saat dia masih sangat muda, dan saat kakek dari pihak ibu diasingkan ke Anxi6 setelah dijebak oleh Li Linfu7, dia menghabiskan hidupnya untuk mengabdi sebagai prajurit. Dengan tubuhnya yang cacat, dia berhasil menampilkan bakatnya yang menakjubkan di bawah komando Gao Xianzhi, dan setelah menaklukan Bolor yang lebih kecil8 dan wilayah Bolor yang Agung9. Dalam tiga belas tahun dia sudah maju dengan pesat menjadi seorang jenderal yang garang yang bisa berdiri sejajar dengan para jenderal seperti Geshu Han10.

Feng Changqing memiliki banyak pertempuran dan kemenangan di bawah kepemimpinannya, dan dia sudah menggunakan strategi yang tak terhitung jumlahnya saat operasi militernya di Wilayah Barat. Semua orang mengejek Li Jinglong, tapi tidak ada yang berani mengejek Feng Changqing yang lemah dan kecil ini. Sebagai komandan pasukan yang terdiri dari sepuluh ribu orang, suaranya secara alami tidak membawa kemarahan, tapi ada wibawa dalam kata-kata yang dia ucapkan.

Meskipun saat ini Feng Changqing sedang cuti di ibukota, pada hari di mana dia kembali sebagai pemenang dari pengadilan, dia telah menyerahkan peringatan takhta11 yang panjangnya hampir sepuluh ribu kata pada Li Longji, dia meminta reformasi cara mengatur tanah perbatasan, jadi mereka bisa memerintah dengan damai dan para prajurit yang ditempatkan di tempat yang jauh bisa kembali ke rumah. Karena hal itu, dia memiliki reputasi yang baik di antara para pejabat militer dan pasukannya sendiri.

Seorang kasim, yang diliputi oleh kebingungan, bergegas ke Istana Huaqing12. Pada saat ini, Li Longji sedang memeluk Yang Yuhuan dan tidur dengan nyenyak, dan kasim tidak berani untuk menganggu istirahat mereka. Namun, dia juga takut bahwa Feng Changqing akan bergegas kemari sambil melambaikan tongkatnya, dan para penjaga di luar tidak akan berani menghentikannya.

Kasim itu membuka mulutnya tapi tidak berani mengeluarkan suara apapun; dia sangat cemas.

“Jika kau memiliki sesuatu, kalau begitu katakanlah, jangan menelannya apa lagi meludahkannya.”

Dari dalam kelambu terdengar suara Li Longji. Dia sudah bangun.

“Sudah berapa sichen sekarang?” Kata Yang Yuhuan dengan malas.

“Jenderal Feng Changqing sedang menunggu di luar, dia berkata bahwa ada masalah penting yang ingin dia laporkan dengan tergesa-gesa kepada Yang Mulia…”

Saat dia mendengar kata-kata itu, Li Longji langsung duduk dengan tegak, dan bergumam, “Sesuatu terjadi lagi? Seharusnya tidak ada yang terjadi, utusan belum dikirim ke Changqing, kan? Kecuali Kementerian Perang yang mengirimnya ke sini?”

“Apa ini adalah situasi militer?” Pikir Li Longji, sebelum dia bertanya, “Dimana Guocheng? Kenapa dia tidak bertemu Guocheng terlebih dulu?”

Kasim itu berkata, “Dia berkata, nasib negara… terkait erat dengan masalah ini.”

“Apa yang dia lakukan?” Li Longji melambaikan tangannya dengan tidak sabar dan berkata, “Katakan padanya bahwa Zhen mengetahuinya. Kapan dia sampai disini?”

“Semalam, saat gen kedua13, dia tiba di kaki gunung, selangkah demi selangkah, dia berjalan naik ke atas,” kata kasim itu.

Yang Yuhuan berkata, “Kaki Jenderal Feng Changqing tidak dalam kondisi baik, bagaimana dia bisa melakukannya? Yang Mulia?”

Li Longji tidak memiliki pilihan lain, jadi dia mengenakan jubah naganya, dan, dengan rambut yang tergerai dan tidak disisir dia berjalan keluar dari tempat tidur.

Di aula samping, Feng Changqing bertumpu pada tongkatnya, terengah-engah, mengamati Li Longji, yang memasang ekspresi bermartabat di wajahnya.

“Jangan terburu-buru,” Li Longji menenangkannya. “Kau duduklah terlebih dulu. Seseorang ambilkan secangkir air untung Jenderal Feng dan Anda bicaralah perlahan.”

Feng Changqing tidak bisa berhenti gemetaran bahkan saat dia mengangkat kepalanya untuk melihat Li Longji.

Li Longji semakin tua, dan meskipun dia biasanya memperhatikan penampilannya, dia sudah berumur lebih dari 60 tahun, dan dia tidak bisa menghindari tampilan umurnya. Feng Changqing belum mencapai umur di mana dia bisa mengatakan kebenaran dari seseorang dan terpisah dengan telinganya14, tapi dia tampak lebih tua dari Li Longji.

“Saat subjek ini mendaki Gunung Li…” Feng Changqing mengambil sapu tangan yang ditawarkan oleh kasim itu, menyeka keringatnya, dan terengah-engah, “Saya tidak tahu kenapa, tapi saya memikirkan masa lalu Yang Mulia… siluet seperti pahlawan pada masa lalu.”

“Siluet seperti pahlawan dari tahun berapa?” Li Longji mulai tersenyum.

Feng Changqing melihat ke arah Li Longji saat dia berkata, “Tahun pertama dari Era Tanglong15, tahun ketika pasukan berkumpul di depan Paviliun Lingyan.”

Li Longji sudah bangun sepagi ini, tapi setelah mendengar Feng Changqing mengungkit masa lalu bersamanya, dia mulai tertawa. Namun, instingnya yang sudah lama diasah selama dia menjadi penguasa mengatakan padanya bahwa hal-hal yang dimulai dengan mengenang masa lalu pasti tidak akan mudah.

“Jika kau tidak mengungkitnya, Zhen hampir akan melupakannya,” Li Longji tersenyum, dan dia mengambil sup jahe16 yang diserahkan oleh kasim, dan setelah dia menyesapnya, dia berkata, “Wu, berikan juga semangkuk untuk Changqing.”

Tahun itu Li Xianfu dan Ge Fushun17 memimpin Prajurit Yulin18 dan memulai kudeta untuk menghukum Permaisuri Wei, yang ingin mengikuti jejak Wu Zhao19, dan naik sebagai pengawas permaisuri. Li Longji dan Putri Taiping mengumpulkan pasukan mereka di Paviliun Linyan dan bersumpah pada hidup mereka untuk mempertahankan pemerintahan Klan Li, sebelum masuk ke Istana, membunuh Putri Anle, Wu Yanxiu20, Shangguan Wan’er21, dan semua orang yang terlibat dalam kejadian itu, mengambil kembali wilayah Klan Li dan hak untuk memerintah.

Masa lalu adalah dunia yang jauh, tapi mendengarkan Feng Changqing mengungkit hari-hari itu, Li Longji hanya mengingat bagaimana darah mendidih dengan gairah yang ada di dadanya bertahun-tahun yang lalu.

“Juga, pada tahun Kaiyuan yuan22,” Feng Changqing menambahkan.

Jika dia tidak salah ingat, itu adalah tahun di mana sekali lagi Li Longji memulai kudeta, di mana dia menyebabkan Putri Tainping tiada23. Sejak saat itu, Tang yang Agung telah berkembang menjadi kemegahan yang luar biasa sampai hari ini.

“Changqing, Anda harus tahu, hari ini dunia dalam kedamaian,” kata Li Longji. “Selama masyarakat biasa senang, maka tidak pelu menggunakan pisau Zhen ini adalah hal yang baik.”

Li Longji mendengar isyarat dari kata-kata Feng Changqing, dan juga dia memikirkan kembali tentang sesuatu itu — tidak peduli apa yang terjadi, dia selalu berharap hal itu tidak akan menyebabkan pergolakan besar di dalam Istana Kekaisaran.

“Yang Mulia tahu segalanya,” Feng Changqing segera menjawab. “Changqing memikirkan Yang Mulia, dan tidak bisa untuk memikirkan dirinya sendiri.”

Alis Li Longji mulai berkerut sedikit.

Feng Changqing bertanya, “Chengqing tidak mengetahuinya, tapi sejak tahun dia memasuki markas militer Jenderal Gao Xianzhi, di tahun-tahun ini, apa ada situasi dari para pasukan yang disembunyikan dari pengadilan kekaisaran?”

“Tidak ada,” jawab Li Longji. “Mengungkap kebohongan orang lain, bagaimanapun, ada banyak tentang hal itu.”

“Dalam tahun-tahun itu, apa Changqing pernah berbohong kepada Yang Mulia?” Tanya Feng Changqing lagi.

“Di bawah langit yang luas ini, hanya kau yang mengatakan kebenaran terlepas dari situasi yang kau hadapi.” Kata-kata Li Longji membawa sedikit keagungan yang tidak perlu dipertanyakan lagi. “Meskipun mungkin tidak menyenangkan untuk didengar, kau tidak pernah berbohong padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di Chang’an?”

Saat Li Longji masih muda, dia juga memiliki karakter yang tajam, dan meskipun selama bertahun-tahun ini dia sudah menikmati kelembutan, tapi saat sampai pada masalah pendirian seperti itu, otaknya masih jernih dan tajam.

Feng Changqing mengangkat tangannya, yang sedikit gemetaran saat dia menunjuk ke lehernya, dan dia menjawab, “Hari ini, jika Changqing mengucapkan setengah kalimat yang berisi kebohongan, maka dia meminta kepada Yang Mulia menyingkirkan kepala ini dari bahunya, dan Changqing tidak akan mengucapkan satu keluhan pun.”

Alis Li Longji mengkerut; dia tidak tahu ramuan apa yang dijual oleh Feng Changqing di hulunya. Akhirnya, dia berkata, “Bicaralah.”

Ketika matahari sudah terbit setinggi tiga tiang bambu, bangunan ujian di utara kota bergema dengan suara lonceng yang berbunyi berulang kali dang—dang—dang, sekitar 2500 siswa menjalani pemeriksaan tubuh, sebelum mereka menyerahkan satu dokumen seperti sekelompok ikan yang masuk ke dalam bangunan. Sejauh mata memandang, bangunan itu dipenuhi dengan kamar-kamar pribadi dengan hunian tunggal, dan kamar-kamar itu terhubung oleh deretan lorong-lorong. Setiap pintu ditandai dengan Batang Langit dan Cabang Bumi24.

Para peserta ujian digeledah di luar dan selanjutnya diberi papan plakat. Menurut setiap papan plakat, mereka menunggu di luar pintu untuk diarahkan ke kamar pribadi yang telah ditetapkan, dan para pengawas ujian, memverifikasi identitas dan papan plakat mereka sebelum peserta ujian menggantung papan plakat mereka di luar pintu dan masuk ke kamar. Setelah mereka menutup pintu kamar, para pengawas ujian menempelkan segel kertas di atas pintu. Setelah mereka disegel di dalam kamar, pusat ujian yang besar itu jatuh dalam keheningan.

Setiap kamar yang berada di sayap benar-benar sudah tertutup kecuali sebuah jendela yang memungkinkan cahaya masuk, sehingga para pelayan bisa mengantarkan makanan dan air, dan para terpelajar bisa pergi keluar untuk buang air. Jika tidak, para peserta ujian harus tinggal di kamar ini selama tiga hari penuh.

Di dalam gudang, semua orang masuk untuk menyeret para pelayan yang tertidur lelap ke sudut dinding, sebelum memakai seragam para pelayan itu di atas jubah resmi mereka. Li Jinglong berkata pelan, “Mari kita mulai.”

Ikan mas yao bersembunyi di balik kendi air dan mulai membagikan ramuannya, dan sisanya pergi secara terpisah.

Hong Jun menundukkan kepalanya, berjalan dengan langkah cepat di sepanjang lorong. Saat dia melihat kamar, dia akan memiringkan kepalanya untuk melihat, mencari tanda yang dibuat oleh Qiu Yongsi sebelumnya — di ujung lengan baju, kerah pada jubah, atau tempat serupa lainnya, dan setiap kali dia menemukannya, dia akan menggunakan pisau lemparnya untuk membuat tanda tipis di kusen pintu.

A-Tai melakukan hal yang sama, menundukkan kepalanya, dan setiap kali dia melewati pintu, dia akan berpura-pura mengintip tanpa terlihat seperti itu.

“Hei.”

Saat A-Tai melewati lorong, dia ditemukan oleh seorang pengawas ujian.

Pengawas ujian melambaikan tangannya. “Kau, sini sebentar.”

A-Tai menghampirinya, dan saat pengawas ujian akan menanyainya tentang apa yang sedang pelayan ini lakukan, menatap liar ke arah luar ruang ujian, sebuah tangan terulur dari belakang, menarik ujung jubahnya.

Pengawas ujian: “?”

Tapi saat pengawas ujian akan menoleh ke belakang untuk melihatnya, ikan mas yao tiba-tiba mengangkat tangannya dan membukanya, melemparkan sedikit Serbuk Lihun.

“Satu tatapan membawa keberuntungan—25

Pengawas itu bersin, dan A-Tai segera berbalik, menghilang seperti hembusan angin. Ikan mas yao terjun menuju ke sudut, dan melarikan diri juga.

Pengawas ujian: “??”

“Berhenti! Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya…” Penjaga yang lain menemukan Qiu Yongsi.

“Bertemu lagi membawa kegembiraan!” Sekali lagi, ikan mas yao menaburkan Serbuk Lihun dan penjaga itu bersin, wajahnya dipenuhi dengan kebingungan, saat Qiu Yongsi dan ikan mas yao pergi terpisah.

Hong Jun melewati sebuah kamar, dan saat dia melihat ke dalam, dia tiba-tiba melihat Du Hanqing.

Du Hanqing sedang duduk di belakang meja. Setelah memperhatikan sejenak dengan curiga, Hong Jun melewati kamar itu.

Tanpa membuat suara, Li Jinglong berbelok ke sudut lorong itu, alisnya mengkerut, memperhatikan sosok Hong Jun dari belakang. Dia tidak menyangka Hong Jun akan berbalik, dan Li Jinglong segera merunduk di belakang tikungan lorong itu.

Hanya untuk melihat Hong Jun, dengan pisau lempar di tangannya, dia ragu sejenak, sebelum akhirnya mengambil keputusan dan mengukir sebuah garis di kayu. Matanya merah, dia berbalik dan pergi dengan mantap.

Setelah beberapa saat, Mo Rigen bergegas dan menundukkan kepalanya untuk melihat tanda yang ada di luar pintu, sebelum mengintip ke dalam kamar lagi dan menghela napas. Dia meraba tanda itu dengan tangannya dan mengukirnya sedikit lebih dalam sebelum dia juga berbalik dan pergi.

Li Jinglong: “….”

Saat Li Jinglong akan pergi, A-Tai datang, dan seperti Mo Rigen, dia juga melakukan perjalanan khusus untuk memeriksa pintu Du Hanqing, dan tepat di belakangnya ada Qiu Yongsi.

Saat Qiu Yongsi berbelok ke sudut lorong, dia hampir menabrak Li Jinglong, dan dalam sekejap dia menjadi gugup.

“Yo, Zhangshi?” Qiu Yongsi tersenyum.

“Tampaknya, aku sudah mengkhawatirkan hal yang tidak seharusnya,” kata Li Jinglong datar. “Kalian semua sangat protektif terhadap Hong Jun, huh.”

Qiu Yongsi tersenyum dan berkata, “Kami hanya takut jika usaha kami akan gagal, Zhangshi. Ketika saat-saat terpenting datang, kami semua ada di pihakmu.” Sambil mengatakan hal ini, Qiu Yongsi menepuk-nepuk bahu Li Jinglong.

Semua tanda yang ada di pintu sudah lengkap, dan semua orang berkumpul di luar gudang untuk memastikan jumlah mereka.

“266 kamar,” kata Li Jinglong. “Itu sudah semuanya, mari tunggu suara belnya.”

Hong Jun terdiam, dan semua orang juga tidak bisa berbicara dengan baik, jadi suasananya menjadi sedikit aneh. Li Jinglong menghampirinya, dan dengan satu tangan dia menggenggam bahu Hong Jun dan berkata, “Kali ini, setelah menyelesaikan kasus ini, mari kita keluar dan bersenang-senang. Apa yang kalian ingin katakan, mau kemana kau akan pergi?”

“Benarkah?!” Hong Jun bertanya dengan heran dan bersemangat.

Sudut mulut Li Jinglong berkedut, dan dia berpikir, sekarang dimana rasa belas kasihan yang kau simpan dalam hatimu…

“Pingkang Li!” Kata Qiu Yongsi segera.

Li Jinglong: “…”

“Pingkang Li,” A-Tai tersenyum.

Hong Jun bertanya, “Apa tidak apa-apa di Pingkang Li? Aku belum pernah benar-benar pergi kesana… tapi jika Zhangshi tidak menyukainya maka…”

Mo Rigen berkata, “Maka Pingkang Li; jika kita tidak menginap, dan hanya melihat tarian dan mendengarkan musik, itu tidak masalah, kan? Pingkang Li tidak semuanya… yah, adalah tempat-tempat yang seperti itu.”

“Bahkan kau ingin pergi?” Li Jinglong tidak bisa memahami apa yang terlintas dalam pikiran bawahannya

Mo Rigen berkata, “Aku, en, kali pertamaku, aku akan menyimpannya untuk rusa… sudahlah, kita akan membicarakannya nanti, tapi minum anggur dan mendengarkan musik, tidak masalah.”

Ikan mas yao bertanya, “Bisakah kita pergi ke Pingkang Li? Aku ingin pergi untuk melihat lukisan itu.”

“Kalau begitu ayo pergi ke Pingkang Li!” Qiu Yongsi membuat keputusan26.

“Bagus—” semua orang berseru kegirangan. Pendapat dari banyak orang menghancurkan satu orang, dan Li Jinglong meletakkan satu tangannya di dahinya. Pada saat itu, bel mulai berbunyi, dang — dang — dang —, dan semua orang segera bangkit untuk melakukan persiapan.

Saat lonceng pada putaran kedua berbunyi, para pengawas membawa gulungan di tangan mereka dan bergegas menuju kamar-kamar pribadi. Setiap kali mereka melewati kamar, mereka akan memasukkan gulungan ujian dari jendela, dan segera setelah gulungan itu terlepas dari tangan mereka, mereka akan bergegas ke kamar sebelah, dan dengan cara ini, mereka bisa berkeliling ke semua kamar.

Cahaya matahari yang menyilaukan datang dari atas, dan telapak tangan Hong Jun berkeringat saat ada seseorang berteriak dari luar, “Pengiriman air disini!”

Semua orang berbaur ke dalam kerumunan dan membawa sekeranjang kendi sebelum menundukkan kepalanya. Para penjaga menggeledah keranjang-keranjang dan kendi-kendi itu, dan semua orang pergi secara terpisah untuk mengantarkan air itu. Li Jinglong menggenggam Serbuk Dinghun27 di tangan kirinya, dan mengangkat kendi dengan tangan kanannya. Saat dia sampai di sebuah pintu yang ada tandanya, dia menambahkan bubuk itu ke dalam kendi sebelum penjaga mengambil air itu dan menuangkannya, dan setelah mengisi kendi itu, dia memasukkannya melalui jendela, dan peserta ujian mengambilnya.

Lima baris dan lima lagi, dalam sepuluh baris kamar pribadi memiliki hampir seratus kamar di setiap barisnya, dan setelah ronde ini, semua orang akan sangat lelah sampai dahi mereka berkeringat. Saat mereka kembali ke gudang, Li Jinglong melihat bahwa waktunya sudah tepat, dan dia berkata, “Bubar!”

Semua orang berbalik ke dinding lagi, dan mereka tiba di jalan yang berada di seberang pusat ujian. Mereka semua mengintip ke arah pusat ujian, dan semuanya tampak gelisah. Setelah mengalami semua masalah ini, sebagian besar hari telah berlalu, dan sore di musim gugur agak dingin. Hong Jun takut mereka tidak akan meminum airnya, atau jumlah ramuannya tidak cukup, dan dia memikirkan hal itu, saat Li Jinglong menyuruhnya memasukkan lebih banyak ramuan, itu adalah langkah yang dibuat dengan pandangan yang besar untuk ke depannya.

Li Jinglong kemudian dengan sabar menunggu sedikit lebih lama sebelum dia menarik napas dalam-dalam, seolah-olah dia juga sedikit gugup. Tidak lama kemudian, kereta yang ditarik kuda bergema di jalanan, dan banyak kereta tiba. Itu adalah Gao Lishi dan berbagai macam Kementerian Adat yang datang untuk mengawasi ujian.

Li Jinglong sedang menunggu saat yang tepat, dan dia segera berkata, “Ayo pergi.”

Hong Jun berkata, “Tunggu, aku masih sedikit takut, mereka tidak akan pergi secepat ini kan? Ayo kita tunggu sebentar lagi.”

Li Jinglong menjawab, “Aku sudah menguji ramuanmu pada air yang diminum para pelayan, dan dosisnya pasti cukup.”

Hong Jun: “Aku hanya takut jika mereka tidak meminumnya.”

Li Jinglong: “Di pagi hari, aku meminta Mo Rigen pergi ke Akademi Kekaisaran dan menyuruhnya menambahkan garam empat kali lipat jumlahnya dari yang biasanya untuk sarapan semua orang di akademi, untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.”

Selain Mo Rigen, semua orang ternganga dengan takjub. Qiu Yongsi segera berkata, “Zhangshi, mulai hari ini, orang ini pasti akan mengikutimu!”

A-Tai berkata dengan tidak percaya, “Orang macam apa ini!”

Li Jinglong dengan rendah hati berkata, “Berhentilah bercanda. Sebentar lagi kalian semua harus sedikit lebih sopan, ayo pergi.”

Dan sambil mengatakan ini Li Jinglong melepaskan jubah luarnya, memperlihatkan tubuhnya yang dibalut dengan seragam resmi biru tua, Pedang Kebijaksanaan yang menggantung di pinggangnya. Dia mengenakan seragam yang dihadiahkan oleh Putra Langit, dan postur tubuhnya tegak seperti gagang kuas. Semua orang mengikutinya, memperlihatkan seragam resmi mereka, dan mereka mengikuti di belakang Li Jinglong, menuju alun-alun.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Pagi hingga petang.
  2. Ini secara khusus mengacu pada konsep karunā dari Buddhisme.
  3. Frasa aslinya adalah “hal yang seukuran langit” mengacu pada percakapan Li Jinglong dan Hong Jun pada malam sebelumnya.
  4. Keluarga Wangxie terdiri dari Keluarga Wang dan Keluarga Xie (yang berasal dari karakter Dinghai, Xie An dan Xie Daoyun), adalah dua keluarga paling makmur di sejarah Tiongkok. Mengatakan bahwa seseorang yang seperti keturunan Klan Wangxie, mengatakan bahwa mereka adalah tuan muda yang kaya, dan mereka memiliki penampilan yang terlihat cocok.
  5. Kaisar begitu kaya, sehingga mereka bisa memiliki villa atau bangunan semacamnya, atau tempat yang dia ambil alih, jadi mereka bisa menghabiskan beberapa hari untuk menikamti pemandangan di wilayah tertentu.
  6. Sekali lagi mengacu pada Protektorat Anxidi ujung barat Tiongkok, di sekitar tempat A-Tai berasal.
  7. Li Linfu adalah sosok kuat yang menjabat sebagai kanselir selama tahun-tahun Kaiyuan dan era awal Tianbao. Dia sangat ahli dalam menyingkirkan saingan-saingan politiknya, termasuk kakek Feng Changqing; tindakannya mengakibatkan kekosongan kekuasaan dan kurangnya pejabat yang kompeten di era Tianbao ini. Seorang Jenderal Dinasti Tang yang dikenang karena ekspedisinya untuk menaklukkan wilayah Barat. Dia juga adalah komandan pasukan Tang di Pertempuran Talas, dan kekalahan itu, seperti yang kalian ketahui, menandai akhir dari ekspansi Tang ke arah Barat. Ayahnya adalah seorang Jenderal Goguryeo yang dikalahkan dalam pertempuran oleh gabungan pasukan Tang dan Silla, dan akhirnya sebagai gantinya melayani pasukan Tang.
  8. Pada 747. Bolor yang lebih Kecil berpusat di sekitar kota Gilgit Modern, Pakistan.
  9. Pada 753. Ini adalah wilayah yang dikenal sebagai Baloristan.
  10. Geshu Han diperkirakan lahir pada 699, dan dia memiliki karir militer yang panjang di wilayah dataran tinggi Tibet.
  11. Komunikasi resmi dari siapapun (meskipun pejabat pemerintah mengawasi prosesnya dan rakyat jelata seringkali disingkirkan) pada kaisar sendiri, yang sering kali mengeluh tentang pejabat atau transaksi lokal yang korup.
  12. Seperti namanya, itu adalah istana sementara yang didirikan oleh Kelompok Huaqing untuk Yang Mulia.
  13. Kira-kira pukul 09.30 malam atau pukul 21.30.
  14. 60 tahun.
  15. Sebuah era yang berlangsung kurang dari dua bulan, dari 4 Juni sampai 20 Juli 710. Itu adalah masa pemerintahan Kaisar Shang dari Tang yang sangat singkat, yang digulingkan dalam sebuah kudeta.
  16. Tidak seperti teh jahe standar di Wilayah Barat, sup ini biasanya dimasak dengan daging dan perasa lainnya. Ini disebut sup jahe karena jahe mungkin adalah bagian hidangan yang paling mahal, dan juga memiliki rasa jahe yang kuat.
  17. Dua perwira di keprajuritan. Ge Fushun adalah Komandan Prajurit Yulin, dan juga Jenderal Junior dari Sepuluh Ribu Kavaleri. Aku tidak bisa menemukan sesuatu yang konkret tentang Li Xianfu, tapi dia juga seorang komandan.
  18. Prajurit Yulin, juga disebut Prajurit Chu, adalah prajurit yang bertugas untuk melindungi kaisar. Salah satu dari enam keprajuritan
  19. Permaisuri Wei adalah istri kedua dari Kaisar Zhongzhong (pada dasarnya adalah seorang penguasa boneka, pendahulu Xuanzong) yang mencoba mengambil alih kekuasaan dari suaminya seperti yang dilakukan oleh Wu Zetian (di sini disebut sebagai Wu Zhao), ibu mertuanya. Setelah Permaisuri Wei dan putrinya, Putri Anle, meracuni Kaisar Zhongzhong, permaisuri bersiap untuk naik takhta, tapi rencananya digagalkan oleh Li Longji (keponakan Kaisar Zhongzhong) dan Putri Taiping (saudara perempuan Kaisar Zhongzhong).
  20. Putri Wu Chengshi, dirinya sendiri keponakan Wu Zetian. Dia berpartisipasi dalam pengambil-alihan takhta asli dan pembentukan Dinasti Zhou, berharap untuk diangkat sebagai Putra Mahkota, tapi meninggal dalam kekecewaan tanpa pernah meraih tujuannya. Sepupu Wu Yanxiu yang lebih tua, Wu Chongxun, adalah suami dari Putri Anle.
  21. Seorang permaisuri dari Kaisar Zhongzhong yang digambarkan sebagai “perdana menteri negara wanita”. Dia juga sekretaris pribadi Wu Zetian.
  22. Era Kaiyuan datang sebelum era Tianbao, berlangsung dari 713 sampai 741, dan dinamakan Kaiyuan menandakan datangnya era baru (oleh kaisar baru, Li Longji). Tahun Yuan pada Era Kaiyuan mengacu pada tahun pertama di era baru.
  23. Setelah bantuannya dalam mengalahkan Permaisuri Wei, Li Longji menjadi curiga terhadapnya, dan karena dia berencana untuk menggulingkannya, dan memaksanya untuk bunuh diri dan membunuh banyak sekutunya.
  24. Metode penghitungan/penandaan, pertama kali diterapkan dalam penghitungan, tapi juga digunakan untuk membedakan berbagai hal. Ada sepuluh batang langit dan dua belas cabang bumi.
  25. Mengacu pada dua dewa tertentu dalam Sastra Daois. Kefanaan Putih/Wuchang yang bernama Xie Bi’an, dan dia selalu digambarkan sebagai sosok yang tersenyum dengan kata-katanya, “satu tatapan bisa menyebabkan lahirnya uang” di topi resminya; kefanaan Hitam/Wuchang adalah Fan Weiju, yang mengerutkan keningnya dan memiliki kata “kedamaian di bumi” di topinya. Frasa yang diucapkan oleh ikan mas yao di sini adalah “satu tatapan membawa keberuntungan”, yang digunakan untuk merujuk pada kedua kefanaan – tapi dengan hasil yang merupakan konteks yang berlawanan dari frasa itu. Melihat mereka bisa dianggap membawa sial.
  26. Ungkapan asli “memukul papan”.
  27. Obat yang dibuat Hong Jun, 定魂 – dinghun artinya mengatur atau membubuhkan hun.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments