Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Departemen Exorcism sekarang sudah memiliki kebiasaan, yaitu tidur di siang hari sampai senja hari, dan melakukan tugas mereka di malam hari, atau yang biasa disebut, membalik siang dan malam dan hidup selamanya1; semua orang tidak bisa berhenti menguap di siang hari, termasuk juga Hong Jun, tapi ketika waktu menunjukkan sekitar jam sembilan tiga puluh malam2, semua orang berada dalam semangat tinggi3.

Qiu Yongsi dan Hong Jun sekarang sedang duduk di atap, karena dari tempat ini mereka bisa melihat keseluruhan Prajurit Longwu tersebar di bawah mata mereka. A-Tai sedang duduk di luar ruangan Hu Sheng, berjaga-jaga, sementara Mo Rigen berjongkok di dinding halaman belakang di samping ruangan Hu Sheng.

Di malam hari, ruangan Hu Sheng masih diterangi oleh cahaya lampu. Barak Prajurit Longwu menampung banyak prajurit, dan meskipun Hu Sheng memiliki sebuah perkebunan di kota itu, dia masih mempertahankan tradisi hidup dan makan bersama dengan bawahannya. Malam ini tidak seperti biasanya, dan sepertinya dia tidak nyaman akan sesuatu. Dia mondar-mandir di ruangannya saat dia melihat sesekali ke kandang yang ditutupi oleh jimat.

“Dari mana kau berasal?” Meskipun Hu Sheng tidak percaya bahwa rubah kecil itu adalah Jin Yun, dia melihat bahwa lukanya sangat dalam, dan itu sungguh menyedihkan.

Rubah kecil itu menjawab, “Komandan Hu, biarkan aku pergi.”

Hu Sheng mengeluarkan teriakan “wah” yang dipenuhi dengan ketakutan.

Di luar ruangan, Mo Rigen dan A-Tai, mereka berdua mendengar teriakannya, tapi saat mereka akan masuk ke dalam, Li Jinglong yang berdiri di halaman, mengisyaratkan mereka untuk tidak masuk ke dalam dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Tunggu disini,” kata Li Jinglong pelan. “Kecuali jika dia kabur, jangan membuat gerakan yang gegabah.”

Setalah mengatakan hal itu, dengan lompatan terbang, Li Jinglong melompat ke atas dinding sebelum berlari ke tempat yang lebih tinggi.

“Kau-kau-kau.. kau bisa berbicara?” Hu Sheng seperti berada di dalam mimpi. Di luar, petugas Longwu mengetuk pintunya, bertanya, “Komandan Hu?”

Hu Sheng segera memberi kepastian padanya bahwa semua baik-baik saja, sebelum mengirim penjaga itu kembali dan dia kembali menatap rubah kecil itu. Mata rubah kecil itu berkaca-kaca saat dia berkata dengan pelan, “Komandan Hu, aku tahu kamu memperlakukanku dengan baik, Aku juga berpikir… jika aku bukan yao…”

“Kau-kau-kau…” Hu Sheng terus mundur ke belakang, matanya dipenuhi oleh ketakutan.

“Kami, tiga bersaudara awalnya berkultivasi di Xingyang,” rubah kecil itu sedikit mendekat ke sisi kandang saat dia dengan pelan melanjutkan. “Aku hanya ingin melihat lebih banyak tentang kehidupan manusia, jadi kakak tertua dan kakak kedua membawaku ke Chang’an. Kami tidak pernah menyakiti manusia, dan kami tidak punya siapapun yang bisa diandalkan, jadi kami hanya bisa tinggal di Pingkang Li, tapi kami tidak pernah menyangka bahkan sampai saat ini, Li Jinglong tetap tidak akan membiarkan kami pergi…”

“Budak4 itu tidak berbohong padaku,” kata Hu Sheng, ketakutan. “Kau benar-benar seekor yao.”

“Komandan Hu!” Rubah Yao berkata. “Ajaran Budha mengajarkan pada kami bahwa manusia yang berbudi luhur akan menerima karma yang baik. Jika kamu membiarkanku pergi, bahkan jika itu membutuhkan waktu seumur hidup, aku akan membayar hutang pada penyelamat hidupku.”

Hu Sheng menghirup napas dalam-dalam, dan akhirnya menjadi lebih tenang. Saat si rubah mengatakan hal itu, dia mengingat di malam festival hantu5 tiga tahun yang lalu, ketika dia pertama kali bertemu dengan Jin Yun saat dia sedang melepaskan lentera6 di Jembatan Qushui7. Malam itu, Jin Yun bercerita tentang seekor rubah yao dan seorang terpelajar; terlepas dari kecocokan mereka, karena jalan hidup mereka yang berbeda, mereka secara tragis terpisah.

Mata Hu Sheng dipenuhi dengan rasa kasihan. Sejak dia kecil, dia telah mendengar cerita pedih seperti ini sebelumnya, tapi kejadian yang terjadi tepat di depan matanya masih sedikit mencurigakan untuknya.

Li Jinglong melompat ke atas atap, dimana Hong Jun dan Qiu Yongsi diam-diam saling berbisik, tapi segera setelah melihatnya, mereka langsung berhenti.

Li Jinglong memandangi mereka berdua dengan penuh kecurigaan karena mereka berdua tampak bertingkah secara misterius, tetapi kenyataannya sekarang, Hong Jun berkonsultasi dengan Qiu Yongsi tentang hal-hal yang biasanya terjadi di Pingkang Li — sebagai pemuda berusia enam belas tahun, dia saat ini ada di fase berdarah panas, dan dia dipenuhi dengan keingintahuan yang besar. Semakin sering Li Jinglong menyuruh Hong Jun untuk tidak bertanya lagi, semakin Hong Jun ingin mengetahuinya secara detail, jadi Qiu Yongsi sangat merendahkan suaranya dan memberitahu Hong Jun tentang semua itu secara detail. Saat Hong Jun mendengarkan, wajahnya menjadi merah cerah.

“Apa ada yang aneh?” Tanya Li Jinglong.

“Tidak, tidak ada,” Qiu Yongsi dengan cepat menjawabnya.

Hong Jun, dengan mukanya yang merah, juga menjawab, “Tidak ada.”

Cara mereka berdua terlihat, tampak seperti mereka sedang menunggu Li Jinglong untuk pergi dari sini, tapi Li Jinglong justru duduk di sebelah mereka. Hong Jun memiliki perasaan aneh, dia takut jika tertangkap basah dan tidak bisa berhenti gelisah.

“Terima kasih atas kerja keras kalian. Setelah kasus ini ditutup,” Li Jinglong berkata, “kita semua harus beristirahat dan kita akan mencari tempat untuk kalian bersenang-senang.”

Li Jinglong melihat ke arah Hong Jun dan Qiu Yongsi, dan Hong Jun tiba-tiba mendapat sebuah ide dan berkata, “Kami baru saja…”

Tapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Qiu Yongsi tiba-tiba menginterupsi, “…. melayani negara adalah tugas kita. Bagaimana kita dapat mengatakan itu adalah kerja keras?”

Pada saat itu, di kegelapan, tanah membengkak, dan melengkung seperti tulang belakang dan terus mendekati lapangan latihan Prajurit Longwu. Ketika mencapai di depan aula utama, dia menabrak fondasi disertai suara “du“, sebelum dia mundur sedikit, dan mencari jalan lain. Saat dia meringkuk, dia menyelinap dari bawah dinding yang mengelilingi halaman.

Li Jinglong tiba-tiba memperhatikan bahwa ada sesuatu yang salah dan dia bertanya, “Suara apa itu?”

Ekspresi Hong Jun dan Qiu Yongsi menandakan ketidaktahuan, tapi Qiu Yongsi merasa bahwa itu hanyalah guncangan kecil, dan berkata, “Tadi rasanya di bawah…ada sesuatu yang bergetar sedikit.”

Semua orang hanya tahu bahwa memang masih ada rubah yao, jadi mereka memusatkan perhatiannya pada dinding, atap, dan sejenisnya, tapi mereka tidak menyangka ada pergerakan di bawah tanah mereka.

“Apa ada yaoguai yang bisa bergerak di bawah tanah?” tanya Li Jinglong.

Hong Jun tiba-tiba terpikirkan akan satu hal — ikan Ao8 yang dia kejar sejauh dua pulih li9 pada hari itu!

Setelah Li Jinglong diberitahu tentang hal ini, dia segera melompat ke bawah, dan berkata, “Semua berkumpul ke halaman!”

Tanahnya membengkak lagi, dan kabut asap hitam naik, lalu membentuk tubuh seorang pria tinggi dan kurus. Pria itu mengenakan setelan pakaian berwarna hitam, dan ada luka berkeropeng di keningnya. Dia mendorong pintu terbuka dan masuk ke dalam.

Dengan suara “zhi ya“*, pintu ruangan Hu Sheng terbuka. Pintu kandangnya terbuka lebar dan berdiri seorang wanita dengan luka di tubuhnya, wajahnya putih pucat. Itu adalah Jin Yun, dan dengan berkaca-kaca dia membaringkan Hu Sheng di tempat tidur, menutupinya dengan selimut, sebelum dengan pelan berkata, “Komandan Hu, aku benar-benar minta maaf… aku juga tidak ingin melakukannya…”

“Kau masih memiliki perasaan persahabatan dengannya.” Pria berpakaian hitam itu berkata dengan dingin.

Jin Yun memalingkan kepalanya, terkejut setengah mati, dan mengerutkan keningnya, “Fei Ao10?”

Fei Ao menjawab, “Petinggi telah berbicara, aku akan segera membawamu pergi dari Chang’an.”

Jin Yun menghela napas, dan dia meratap, “Kakak tertua dan kakak kedua, mereka berdua telah dibunuh oleh mereka. Apa lukamu sudah membaik?”

Fei Ao berjalan ke depan dan memiringkan dagu Jin Yun ke atas, berkata, “Itu adalah hal yang tak terduga, kali ini Departemen Exorcist telah menjadi tulang yang keras (tangguh). Kau tunggu saja, aku akan membalaskan dendam mereka. Ayo pergi.”

Jin Yun melangkah ke depan, tapi dia terhuyung-huyung, dan ketika Fei Ao melihat bahwa dia terluka, dia menggulung lengan bajunya dan memeluknya di lengannya. Energi yao mengalir dari tangan kirinya, dan terus menerus dialirkan ke bagian atas kepalanya, menyembuhkan lukanya. Wajah Jin Yun perlahan berubah ke wajah semula.

Lima anggota Departemen Exorcism tersebar di luar halaman; Mo Rigen berdiri di atas tembok, perlahan-lahan menarik busurnya, membidik langsung ke dua sosok yang ada di ruangan itu.

Qiu Yongsi dan Li Jinglong berjongkok di luar pintu, mendengarkan percakapan yang ada di dalam ruangan.

A-Tai dan Hong Jun bersembunyi dalam kegelapan, salah satu dari mereka memegang kipas di tangannya, dan yang satu memegang tiga pisau lempar.

“Musuh utama masih ada di depan kita, kau seharusnya tidak menghabiskan energi kultivasimu untukku,” Jin Yun memprotes dengan pelan.

“Setelah malam ini kita akan pergi jauh, dan tidak akan pernah kembali lagi ke Chang’an,” Fei Ao menjawabnya dengan santai. “Di hari yang akan datang, setelah kau dan aku sudah cukup berkultivasi, kita bisa kembali dan membalaskan dendam saudari-saudarimu.”

Jin Yun tiba-tiba merasa ada maksud yang tak terduga dari kata-katanya, dan dia berkata, “Mereka memintamu datang untuk membunuhku?”

“Selama aku disini, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuhmu,” jawab Fei Ao.

“Lalu bagaimana dengan saudariku yang lain?” kata Jin Yun. “Aku takut kalau Li Jinglong akan terus menyelidikinya.”

“Karena pengorbanan kakak keduamu, semua mayat lainnya telah disembunyikan tanpa jejak, “Fei Ao menjawab. “Bagaimana dia akan terus menyelidikinya? Apa dia akan menangkap mereka satu per satu dan membawa mereka kembali untuk diinterogasi? Setelah ujian tahun depan, kita akan mendapatkan kesempatan untuk mengajari Li Jinglong pelajaran yang bagus dan memastikan bahwa dia tidak akan memiliki kuburan untuk berbaring ketika dia mati! Jika dia benar-benar mati seperti ini, itu akan lebih mudah.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Qiu Yongsi dan Li Jinglong tertegun. Mata Li Jinglong dipenuhi oleh keterkejutan, bahkan saat dia mengangkat tangan untuk memberi isyarat kepada mereka, tapi tidak menurunkannya tepat waktu.

Saat itu Fei Ao, masih memeluk Jin Yun. Dia sudah membuka pintu, mengambil satu langkah keluar —

Li Jinglong bahkan tidak berteriak agar mereka bergerak, tetapi Mo Rigen sudah dengan sangat cepat, melepaskan anak panahnya. Namun pada saat itu, Jin Yun sudah merasakan akan adanya bahaya dan dia mendorong Fei Ao ke samping, tertancap panah itu dan jatuh ke tanah dengan tangisan kesakitan.

“Tahan dia di sini!” teriak Li Jinglong.

Fei Ao bereaksi dalam sekejap; saat dimana Jin Yun tertancap panah, dia tahu bahwa itu adalah jebakan, dengan satu tangan membawa Jin Yun, dia bergegas keluar dari pintu! Li Jinglong menarik pedangnya, dan tiba-tiba Fei Ao berbalik dan melompat ke arahnya, kemudian berteriak dengan keras, “Matilah!”

Semua orang khawatir, takut jika Li Jinglong tidak dapat bertahan dari serangannya. Dalam sekejap, panah dan pisau lempar, semuanya bergegas menuju ke arah Fei Ao, yang meraung dengan marah dan melepaskan ledakan uap air di sekitarnya, yang menyebar ke segala arah.

Jarak Li Jinglong dengan musuhnya sangat dekat, dan dia terlempar ke belakang karena kekuatan ledakan itu. Hongjun mengeluarkan Cahaya Suci Lima Warnanya untuk memblokir serangan itu, melindungi dirinya sendiri dan A-Tai, tapi saat dia akan bergegas untuk menyelamatkannya, Li Jinglong mendorong dirinya dari pilar. Mengangkat pedangnya ke atas kepalanya dengan kedua tangan, dan dia berteriak dengan marah, “Orang yang harus mati adalah kau! Iblis yao!”

Tubuh dan pedang Li Jinglong terbang bersama menuju ke arah Fei Ao. Saat dia mengayunkan pedang ke bawah, Fei Ao mengangkat tangannya, dan disertai suara “dang“, dia menangkap pedang Li Jinglong. Dia menarik pedang itu dan memutarnya, dan sekali lagi dia melempar Li Jinglong seperti boneka kain.

“Fei Ao, cepat pergi… jangan pikirkan aku…” kata Jin Yun, terengah-engah.

“Aku akan membunuh mereka!” Fei Ao kehilangan kendali, dan dia terus menerus bernapas dengan berat.

“Dengan keahlianmu?” A-Tai tertawa dengan dingin.

Pada saat ini, Hong Jun menarik kembali Cahaya Sucinya. A-Tai membuka kipas lipat birunya dan tepat ketika Hong Jun selesai menarik kembali Cahaya Sucinya, dia melambaikan kipasnya.

Dari tanah yang datar, sebuah tornado naik dan menyerap semua uap air yang diledakkan oleh Fei Ao, berbalik menjadi badai yang menghantam tubuhnya dengan ledakan besar. Pintu dan jendela di ruangan Hu Sheng semuanya hancur karena kekuatan serangan itu, tapi Mo Rigen berdiri dengan tenang dan menembakkan tiga anak panah, yang semuanya dengan kuat menghantam tubuh Fei Ao, sebagai balasannya.

Hongjun melemparkan pisaunya lagi, dan dengan suara “shua shua shua” yang berturut-turut, panah dan pisau lempar, semua itu tertancap di tubuh Fei Ao.

Ikan Ao raksasa itu menabrak dinding belakang dari ruangan itu, kemudian menggali ke dalam tanah, membawa serta pisau lempar kedua Hong Jun saat dia bergegas keluar dari barak Prajurit Longwu.

Dalam waktu singkat, seluruh Prajurit Longwu mendengar keributan itu, dan mereka semua menyalakan obor mereka sendiri. Li Jinglong berteriak, “Kejar dia! Kita tidak bisa membiarkannya lepas dari kita lagi!”

Semua orang mengejarnya melalui lubang yang dia buat di dinding halaman, dan di belakang mereka barak-barak Prajurit Longwu menjadi gempar. Hongjun berteriak, “Gunakan pisau lemparku sebagai petunjuk jalan!”

Segera setelah itu, sama seperti malam itu, tanah membengkak, dan ikan Ao membawa serta pisau lempar Hong Jun bersamanya saat dia bergegas ke bagian utara kota.

“Tolong jangan pergi ke istana…” kata Li Jinglong. “Kejar!”

Para anggota Departemen Exorcism meningkatkan kecepatan mereka, mengejar ikan Ao itu. Hong Jun belum mendapatkan kembali satu pisau lemparnya, dan kali ini dia bersumpah untuk tidak membiarkannya lolos lagi. Dia melemparkan pengaitnya, dan dengan mudah melompat ke atap, lalu Mo Rigen melompat juga dan menyusul di belakangnya.

“Kalian semua…. tunggu aku!” teriak Qiu Yongsi.

Li Jinglong: “…..”

Qiu Yongsi masih memanjat tembok, tapi dia tidak dapat melakukannya setelah beberapa kali mencoba, jadi Li Jinglong hanya bisa berbalik dan menariknya ke atas. Pada saat itu tiga orang di depan telah menghilang entah ke arah mana, dan Li Jinglong berteriak dengan tidak sabar, “Cepat!”, saat dia berlari ke depan.

Untungnya, ikan Ao itu menghindari istana, dan menuju lebih jauh ke bagian utara kota dengan pisau lempar yang masih menancap di dagingnya. Hongjun dengan keras berteriak, “Dia ingin meninggalkan kota! Dia keluar dari tanah!”

“Hong Jun! Lempar aku ke atas!” teriak A-Tai.

Hong Jun; “…..”

Ikan Ao bergerak dengan sangat cepat; dia sudah sampai di depan gerbang barat laut, dan Hong Jun tidak punya waktu untuk berpikir. Dia melemparkan kaitnya, dan saat dia berayun —

— A-Tai melompat dari atap, berbalik di udara, dan mengulurkan tangannya yang Hong Jun pegang dengan erat. Dengan seluruh kekuatan dari tubuhnya, Hong Jun menggenggam pergelangan tangan A-Tai dan dengan lemparan yang kuat, dia mengirim A-Tai terbang ke udara.

Mo Rigen juga mengikuti A-Tai dan melompat, lalu meraih pergelangan tangan Hongjun dan berteriak, “Maaf karena menyusahkanmu.”

Dengan guncangan yang lain, Hong Jun juga melemparkan Mo Rigen ke atas tembok kota.

Malam semakin larut, namun para penjaga kota masih menikmati pemandangan menyenangkan yang terjadi di sekitar Chang’an hari ini.

“Aku dengar, hari ini Li Jinglong menangkap rubah dan mengirimnya ke Prajurit Longwu, dan mengatakan bahwa dia menangkap yao, ha ha ha—”

“Dia menjadi gila karena ingin mendapatkan pengakuan! Besok aku juga akan membawa anjing…”

“Suara apa itu?”

Beberapa penjaga kota mendengar suara gemuruh di dekat tanah dan teriakan dari A-Tai dan Hong Jun di depan gerbang, lalu mereka bergegas ke sisi menara untuk melihat ke bawah.

Li Jinglong dan Qiu Yongsi bergegas.

Ikan Ao menerobos tanah, dan terbang ke atas.

Tubuh A-Tai terbang di udara saat ikan Ao itu mengeluarkan teriakan parau, ikan Ao itu terbang ke arahnya saat dia membuka mulutnya yang berdarah-darah. Tepat saat dia akan dikunyah menjadi pasta daging, A-Tai mengeluarkan kecapi yang dia bawa di punggungnya dan berkata, “Pergi—sana!!”

Sambil mengatakan itu, A-Tai mengangkat kecapi barbatnya dan memukulkannya ke ikan Ao itu.

Semua orang: “….”

Pukulan itu benar-benar bisa menghancurkan bumi, dan menciptakan ledakan besar; pada saat kecapi itu dipukulkan ke ikan Ao, seolah-olah ada ledakan gelombang suara, dan ikan Ao yang panjangnya hampir tiga zhang terlempar ke tembok kota. Debu dan pecahan batu terbang ke mana-mana, dan dengan suara gemuruh, batu itu jatuh ke arah luar kota!

“Tidak mungkin!” teriak Hong Jun. “Kau benar-benar menggunakannya untuk memukulnya!”

A-Tai: “Uh-huh?”

Mo Rigen tertawa dengan keras ketika dia mendarat di atas batu bata terbang itu, dia menarik busurnya dan secara berurutan menembakkan tiga anak panah ke tiga mata utama11 di dahi ikan Ao itu. Ikan Ao meraung kesakitan, dan ketika anak panah terbang kembali dengan sendirinya ke tangan Mo Rigen, bola matanya robek dari rongga matanya.

Segera setelah itu, ikan Ao membenamkan diri ke dalam tanah di luar tembok kota. Saat Li Jinglong dan Qiu Yongsi bergegas menuju gerbang, Li Jinglong berteriak, “Cepat buka gerbangnya!”

Dalam sekejap, para penjaga gerbang tercerai-berai.

Li Jinglong berteriak, “Ini adalah urusan Departemen Exorcism! Jika kau tidak membuka gerbangnya, kau yang akan menjadi orang yang menjawabnya nanti!”

Penjaga gerbang bergegas membuka gerbangnya, tetapi Li Jinglong tidak punya waktu untuk mengobrol, sambil menyeret Qiu Yongsi yang terengah-engah, dia menyeretnya bersamanya ke luar dinding.

“Di mana kuda-kudanya?” Li Jinglong melihat ke segala arah.

“Di mana yaoguainya?” Mo Rigen juga melihat ke segala arah dalam kegelapan.

Li Jinglong menunjuk ke arah utara, yang mengisyaratkan bahwa ikan Ao itu melarikan diri ke sana.

“A-Tai, kau sangat kuat!” kata Hong Jun sambil terengah-engah.

A-Tai berkata dengan rendah hati, “Tidak, tidak, aku tidak sekuat dirimu, adik kecil.”

“Tidak, tidak, sihirmu sangat kuat!” Hong Jun sekarang dengan sepenuh hati mengagumi A-Tai, terutama tentang gerakan kecapi itu.

“A-Tai kami adalah Penyihir dari Wilayah Timur…” Qiu Yongsi menambahkan.

“Cukup!” A-Tai berkata, “Qiu Yongsi, selain melihat kami bermain monyet hari ini, apa lagi yang telah kau lakukan? Sudah waktunya bagimu untuk memamerkan sedikit keahlianmu!”

Qiu Yongsi berkata, “Aku benar-benar tidak bisa…”

“Berhentilah mengobrol!” Li Jinglong berkata dengan tidak sabar. “Cepat kesini! Kami sudah menemukan kuda!”

Mo Rigen dan Li Jinglong membawa beberapa kuda. Hong Jun awalnya kecewa karena yaoguai itu akan melarikan diri lagi dengan pisau lempar keduanya, tapi dia tidak menyangka ada kuda yang disiapkan di luar kota?

Semua orang menaiki kudanya, mengejar yaoguai di sepanjang jalan. Li Jinglong mencabut pedangnya dan mengarahkannya ke utara, dan pedang itu mulai bercahaya.

“Kenapa ada kuda di luar?” tanya Hong Jun ingin tahu.

“Kuda-kuda itu sudah disiapkan di sore hari,” jawab Li Jinglong. “Masing-masing dari empat gerbang, di utara, selatan, timur, dan barat, pasti ada kuda yang sudah disiapkan.”

Kuda-kuda itu berlari dengan kencang di kegelapan malam di sepanjang jalan menuju ke utara, dan cahaya pedang itu semakin terang. Ikan Ao itu terluka parah, jadi kecepatannya menurun drastis saat dia melewati ladang gandum yang sudah dipanen, dan bergegas menuju pegunungan utara.

“Pedang ini benar-benar bisa merasakan energi pisau lemparmu.” Dengan satu tangan Li Jinglong memegang tali kekang kuda, dan tangan yang satu menggenggam pedangnya, cahayanya berkilauan dan menerangi jalan di depan mereka.

Qiu Yongsi berkata, “Mungkin mereka terbuat dari jenis bahan yang sama. Artefak yang dibuat dengan jenis bahan yang sama akan sering terjadi efek resonansi.”

Semua orang menunggang kudanya sampai berhenti di depan Istana Daming, dan Li Jinglong cukup tertekan akan hal ini. Keningnya mengerut, tetapi cahaya dari bilah pedang itu tetap stabil — yaoguai itu telah memasuki Istana Daming.

“Kita serang?” tanya Mo Rigen.

“Serang,” kata Li Jinglong.

Hong Jun melempar pengaitnya, memanjat dinding yang mengelilingi istana yang tingginya beberapa zhang, dan semua orang mengikutinya untuk menyelinap masuk.

Meskipun Istana Daming adalah salah satu kediaman Istana Li Longji12, istana itu jauh lebih dia sukai daripada Istana Xingqing. Li Longji biasanya jarang datang ke sini, karena istana ini berada di luar batas kota Chang’an, jadi hanya ada beberapa ratus pelayan yang menjaganya. Li Jinglong mengisyaratkan bahwa bawahannya harus mengikutinya, dan mereka dengan cepat menyelinap ke aula.

Orang-orang di istana telah tertidur, dan kilauan cahaya bulan menyapu tempat itu, mengubahnya menjadi pemandangan yang murni dan melankolis.

Cahaya di bilah pedangnya semakin terang, dan angin musim gugur bertiup melalui tirai tipis saat suara tangisan pecah dari halaman aula belakang.

Fei Ao memeluk seekor rubah kecil yang sudah mati saat dia berlutut di halaman, hatinya berduka dan dia mengeluarkan isak tangis parau.

“Kenapa kau… mati seperti ini…” Fei Ao terisak-isak.

Ketika Hong Jun mendengar tangisan itu, hidungnya terbakar oleh emosi13. Mo Rigen tampaknya telah menebak emosinya, dan dengan satu tangan dia menepuk bahu Hong Jun dengan lembut.

Li Jinglong berkata dengan pelan, “Sebentar lagi, kalian semua, tolong gunakan teknik terbaik kalian, jangan menyembunyikan kekuatan kalian lagi. Terutama kau, Qiu Yongsi.”

Qiu Yongsi hanya bisa sedikit tersenyum .

“Dan,” Li Jinglong menambahkan, “biarkan dia tetap hidup. Kita harus membawanya kembali untuk diinterogasi jadi kita bisa mengalahkan musuh sesegera mungkin. Jangan menghancurkan terlalu banyak.”

Semua orang mengeluarkan suara “en” sebagai bentuk persetujuan saat Li Jinglong memikirkan semuanya lagi. Dia, pada akhirnya, bukanlah seorang manusia, dan jika dia menyakiti manusia itu akan menjadi lebih buruk, jadi dia mengubah perkataannya, “Baiklah, lakukan apapun yang perlu kau lakukan, dan lupakan kata-kata yang baru saja ku ucapkan.”

Setelah itu, Li Jinglong membuat isyarat dengan tangannya, dan semua orang berpencar, menyebar keempat sudut di halaman aula belakang.

Li Jinglong mengangkat pedangnya dan berjalan ke halaman.

Hongjun, Mo Rigen, dan yang lainnya dengan cemas memperhatikan Li Jinglong. Hong Jun mengerutkan alisnya; setiap kali melaksanakan tugas, Li Jinglong-lah yang pergi untuk memancing musuh, yang mana itu sangatlah berbahaya.

Pisau lempar Hong Jun mencuat dari punggung Fei Ao, dan masih mengeluarkan kilauan cahaya terang.

Li Jinglong berhenti sepuluh langkah dari Fei Ao, berdiri di hadapannya di halaman yang luas itu.

“Lakukanlah,” kata Li Jinglong. “Dengan keadaan yang sekarang ini, tidak ada yang perlu lagi untuk dibicarakan.”

Fei Ao menjawab dengan suara seraknya, “Li Jinglong, biar kutebak, apa kau memiliki seseorang yang kau cintai? Siapa seseorang yang kau cintai?”

Li Jinglong terdiam, matanya mengamati setiap gerakan Fei Ao.

Fei Ao berkata dengan suara seraknya lagi, “Selama kalian semua tidak membunuhku sekarang, dimasa depan aku akan mengoyak semua daging dari orang yang kalian cintai, satu per satu. Aku akan menguliti kulitnya, sedikit demi sedikit, dan merobek sarafnya satu per satu.”

“Akan ada hari di mana aku menggunakan tendonnya untuk mencekik lehermu.” Fei Ao mengangkat kepalanya, dan ketika dia melihat Li Jinglong, Hong Jun, yang memperhatikannya dari jauh, sedikit bergidik ngeri. Ini adalah pertama kalinya dia melihat kemarahan dan permusuhan yang begitu dalam di mata seorang yao, dan itu hampir terlihat seperti dia akan mengeluarkan energi hitam.

Fei Ao membuka mulutnya, dan struktur wajahnya tiba-tiba berubah, menampakkan gigi-giginya yang tajam! Li Jinglong dengan erat menggenggam pedangnya dan membalas, “Sayang sekali, aku pikir kau tidak akan hidup untuk melihat hari yang seperti itu.”

“Bahkan jika aku mati hari ini di tanganmu,” Fei Ao bersumpah serapah dengan suaranya yang serak, “masih akan ada seseorang yang membantuku membalaskan dendam yang berdarah ini!”

“Cepat!” Qiu Yongsi tiba-tiba berteriak.

Tidak ada yang menyangka bahwa sebelum Li Jinglong bahkan mengeluarkan perintah, Qiu Yongsi akan menjadi orang pertama yang membuka mulutnya!

Hong Jun juga takut Li Jinglong tidak akan mampu menangkis serangan putus asa dari Fei Ao, jadi dia melontarkan pisau lempar diikuti dengan suara shua! Benar saja, gigi yang berkilauan yang tak terhitung jumlahnya keluar dari tenggorokan Fei Ao, dan Li Jinglong melompat mundur. Pisau lempar itu menyapu secara horizontal, menghalangi gigi tajam yang terbang seperti badai kelopak bunga di musim semi!

Pisau lempar itu menepis gigi-gigi tajam itu ke samping, ke empat arah dengan serangkaian suara dentingan.

Hong Jun berteriak, “Li Jinglong!”

Kali ini, Li Jinglong sudah mempersiapkan semuanya; dia melompat kembali sehingga dia tidak akan ditangkap lagi oleh Fei Ao ketika semua orang melepaskan serangan mereka — tapi Fei Ao benar-benar berhasil menipunya, dia berbalik dan bergegas ke aula belakang Istana Daming!

Mo Rigen dalam sekejap melontarkan tujuh panah pakunya14 dalam sekali tarik, dan berbalik arah di udara, mengikuti Fei Ao ke istana. Hong Jun dan A-Tai juga sudah mengejarnya.

“Tunggu!” Li Jinglong ingin berteriak, tapi Qiu Yongsi sudah berteriak lebih dulu, “Artefak magis Hong Jun adalah yang paling cocok untuk bertarung, jadi tidak perlu mengkhawatirkannya. Zhangshi, ayo pergi!”

Li Jinglong, Qiu Yongsi, dan Mo Rigen segera mengikutinya. Pintu kayu yang pertama kali dihancurkan oleh ikan Ao, kemudian dipukul oleh sesuatu yang tidak diketahui dan mengeluarkan suara ledakan besar. Tak lama kemudian, A-Tai, dengan kipas di tangannya dan cincin di jarinya yang bercahaya dengan kilauan yang berwarna merah, biru, kuning, dan hijau, dan pada saat yang bersamaan, dia menghantamkan telapak tangannya ke tanah.

Dengan suara “hong15, tanah mulai bergetar, dan seluruh aula belakang istana melonjak karena sihir A-Tai!

Ikan Ao tidak punya cara untuk menyusup kembali ke tanah, jadi dia berbalik menuju ke arah A-Tai untuk menggigitnya, tapi kemudian, Hong Jun sudah berdiri di depan A-Tai untuk memblokir serangannya. Dengan guncangan, Cahaya Suci Lima Warna itu seperti perisai kuat yang tidak bisa ditembus, menangkis serangan itu! Dalam sekejap, pukulan itu menghantam perisainya, Hong Jun berteriak marah, “Persetan—!”

Saat ikan Ao menghantam Cahaya Suci Lima Warnanya ada ledakan energi, dan membuatnya terlempar ke belakang!

Ikan Ao yang besar itu jatuh di sekitar tengah aula, menghantam banyak perabotan dan keramik. Keributan itu membuat para penjaga yang ada di luar berlari ke dalam untuk menyelidikinya, dan tempat itu langsung di penuhi dengan teriakan.

“Kalian semua..” Li Jinglong bergegas menuju ke aula dan melihat kekacauan yang ada di lantai, bertanya-tanya berapa banyak uang yang harus mereka keluarkan untuk biaya kompensasi. Dia dengan cepat berteriak, “Pancing dia keluar untuk bertarung!”

“Aku akan lakukan yang terbaik!” teriak Hong Jun, dan dia bergegas mengejarnya, Mo Rigen mengikuti di belakangnya. Saat Mo Rigen berlari, dia memanggil kembali ketujuh anak panah pakunya. Mengumpulkan kesemua anak panahnya dan dia menarik mereka semua di busurnya, lalu kesemua anak panah itu mengeluarkan ribuan kilauan cahaya.

Dengan satu tangan, Hong Jun memegang giok bulu meraknya saat dia mengeluarkan Cahaya Suci Lima Warnanya, dan dengan tangannya yang lain, dia mengayun-ayunkan jarinya seperti pedang. Pisau lempar itu terbang seperti meteor menuju ke arah ikan Ao itu, tepat saat A-Tai melambaikan kipasnya tiga kali, tiga tornado yang disertai dengan kekuatan petir, embun beku, dan pasir, beterbangan.

Bagian dalam dari aula belakang telah di hancurkan oleh ikan Ao, dan saat dia akan menghancurkan dinding untuk melarikan diri ke istana samping, panah Mo Rigen akhirnya meninggalkan busurnya saat dia berteriak, “Mundur!”

Hong Jun berada di depan untuk memblokir amukan ikan Ao, dan ketika dia mendengar teriakan itu dia mundur selangkah ke belakang, Li Jinglong berhasil menarik kerahnya dan menariknya kembali. Ketujuh anak panah pakunya berkumpul menjadi satu dan mengeluarkan kilauan cahaya, lalu melesat saat mereka ditembakkan dari pilar, mengenai ikan Ao dan menusuk perutnya.

Tiga tornado menyusul setelahnya, dan dengan runtuhnya dinding yang lain, menabrak ikan Ao sampai menembus dinding dan terlempar sampai ke alun-alun di aula belakang Istana Daming.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Ini adalah sebuah parodi yang bermakna: Orang tua di Asia akan berteriak karena kebalikan ini.
  2. Secara teknis, gelombang ke-2 dimulai pada 21:36, karena sistem gelombang dibagi dua puluh empat jam sehari menjadi sepuluh kenaikan.
  3. Aslinya adalah “semangat 100x lebih kuat”.
  4. Umpatan kuno.
  5. Juga disebut “Festival Hantu yang Lapar”, di hari ke 15 bulan ke 7 menurut kalender bulan. Ini adalah hari dimana hantu dan roh mengunjungi yang hidup.
  6. Mereka dianggap dapat menangkal bencana jika kau melepaskannya di air mengalir (yaitu sungai).
  7. Tidak ada jembatan khusus yang disebut itu sekarang, tapi tampaknya dulu ada sungai yang disebut Sungai Qu yang mengalir melalui Taman Kerajaan. Kemudian jembatan itu, bisa menjadi salah satu yang melintasinya di titik tertentu. Bisa juga merujuk ke jembatan di atas sungai.
  8. Ikan Ao yg dikejar Hong Jun waktu pertama kali.
  9. 1 li setara dengan 360 langkah, atau sekitar 530 meter. Rupanya orang-orang saat itu mengambil langkah untuk mengukir jarak.
  10. Karakter pertama artinya terbang, karakter kedua artinya mastiff (ras anjing), jadi seekor anjing terbang yang akan melaksanakan perintah tuannya.
  11. Pikirkan mata serangga.
  12. Kaisar Xuanzong, kaisar yang sekarang. Nama aslinya adalah Li Longji.
  13. Perasaan tepat sebelum kalian menangis.
  14. Ini adalah senjata mistis, yang hubungannya dengan Buku Tujuh Panah Paku, dapat digunakan sebagai kutukan jarak jauh, seperti boneka voodoo. Cukup tulis nama orang yang ingin kalian bunuh di buku, dan mereka akan mengalami banyak kemalangan; jika, pada akhir di hari ke 21, mereka belum mati, tusuk anak panah itu ke dalam boneka jerami dengan nama mereka tertulis di atasnya, dan boneka itu akan seperti tubuh manusia yang sebenarnya dan mati. Namun, di sini lain, panah ini hanya tampak seperti artefak dengan kemampuan dapat dipanggil kembali atas keinginan pemiliknya.
  15. Suara gemuruh.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments