Penerjemah: Keiyuki17

“Tidak perlu terburu-buru, aku akan segera membebaskanmu dari rasa sakit ini.”


Bahkan dengan datangnya hari yang cerah, tanah Guanzhong yang luas tampak seolah-olah masih berada di bawah selubung malam yang panjang.

A-Tai berlutut di depan rumah, terisak. Lu Xu dan Ashina Qiong sedang duduk di sisi Li Jinglong, dan Li Jinglong, bagian atasnya telanjang, tubuh berototnya berlumuran darah, masih bersandar di dinding.

“Apakah sedang hujan?” Mata Li Jinglong terpejam.

“Iya,” jawab Lu Xu.

Li Jinglong berkata, “Aku mungkin tidak… bisa bertahan lebih lama lagi.”

Lu Xu berkata sebagai jawaban, “Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan pada Hongjun, kau harus mengatakannya sendiri padanya. Aku tidak akan menyampaikan pesan untukmu.”

“Aku juga tidak akan,” kata Ashina Qiong dengan dingin.

Li Jinglong melanjutkan, “Dalam perjalanan ini, kalian semua sangat baik… teman seperjuangan yang sangat baik.”

Isak tangis A-Tai sesekali menghampiri mereka. Dia menangis begitu keras sehingga dia hampir pingsan. Kesedihan dalam suara itu begitu besar sehingga yang tersisa hanyalah ratapan yang pecah dan tertahan.

“Tapi aku… juga.. melihatnya. Taibai-xiong benar… Yang hidup adalah pengelana yang lewat, sedangkan yang mati kembali ke bumi di bawah. Langit dan bumi hanyalah sebuah penginapan, dan untuk semua kesedihan kita… kita kembali menjadi debu. Di Tanah Suci yang luas ini, dengan banyak bentuk kehidupannya yang tak terbatas, manusia dilahirkan semata-mata demi penderitaan…”

Lu Xu dan Ashina Qiong mengangkat kepala mereka, melihat ke langit.

“Satu-satunya penyesalanku adalah bahwa aku tidak bisa menderita atas nama makhluk hidup… untuk membantu mereka mengakhiri hidup dan mati, untuk menjadi acuh tak acuh terhadap obsesi yang mereka miliki saat mereka masih hidup dan kebencian yang mereka rasakan tepat sebelum kematian mereka…”

Lu Xu kebetulan melirik Li Jinglong, hanya untuk menemukan bahwa di dada telanjang Li Jinglong, tato merak bersinar redup.

“Qiong, lihat,” kata Lu Xu segera.

Ashina Qiong berbalik untuk melihat, hanya untuk melihat Cahaya Hati Li Jinglong tiba-tiba muncul kembali. Cahayanya sangat redup, dan disertai dengan isak tangis A-Tai, ia menghilang. Wajah kotor Li Jinglong tampak bersinar dengan cahaya redup dan bergelombang juga. Seolah-olah, di ambang kematian, dia bersinar dengan keilahian Dipankara.

“Dorong dorong-“

“Kepalanya sudah keluar! Saozi! Tarik napas dalam-dalam!”

“Saozi!” Teriak Hongjun, sambil mengenggam tangan Turandokht. “Dorong! Pikirkan A-Tai! Semua orang masih menunggumu!”

“AH-” Turandokht berteriak sambil menangis. “AHH-“

Disertai dengan cahaya redup di langit dari sinar matahari yang tersembunyi di balik awan. A-Tai memeluk cambuk panjang Turandokht, matanya berlinang air mata, saat dia melihat dengan kaku ke arah langit yang gelap itu.

Diiringi oleh teriakan kesakitan Turandokht yang tak henti-hentinya, tangisan keras seorang bayi terdengar, seterang seolah memanggil kembali cahaya ke dunia ini.

“Dia… dia sudah lahir …”

Mo Rigen hampir pingsan di tempat.

Hongjun berkata, “Di mana guntingnya, di mana guntingnya?! Zhao Zilong!”

Ikan mas yao mengacak-acak, berteriak, “Di sini!”

“Panaskan sebentar,” kata Mo Rigen. Dia kelelahan. “Di mana obatnya?”

“Ini, ini.”

Hongjun sudah menggunakan obat tambahan yang dibuat oleh ahli obat desa untuk menghentikan kehilangan darah. Setelah memotong tali ari-ari, penebang kayu masuk, membawa air panas untuk memandikan bayi itu. Turandokht mengerang, “Biarkan aku melihat iblis pengganggu itu…”

Ikan mas yao mengambil anak itu, dan membawanya mendekat untuk dilihat oleh Turandokht, sambil berkata, “Ini jantan.”

Semua orang: “…”

Turandokht: “Aku menyukainya…”

Hongjun berpikir, bayi tampak sangat jelek, apakah mereka semua seburuk ini saat pertama kali mereka lahir? Dia keriput seperti monyet. Tapi dia mengekang hati nuraninya dan berkata, “Dia benar-benar seperti A-Tai, betapa manisnya.”

“Kau berbohong dengan mata terbuka,” kata Turandokht. “Sama sekali tidak tampan! Bagaimana dia begitu jelek! Surga! Bagaimana bisa aku melahirkan monyet seperti itu?!”

Mo Rigen: “…”

Hongjun segera menghiburnya. “Setelah dia dewasa, dia akan terlihat sangat cantik.”

Semua orang bergegas untuk setuju, sebelum kemudian menanyakan apakah dia sudah menemukan sebuah nama. Ekspresi Turandokht terlihat kebingungan; ternyata, dia belum memutuskan nama sebelum dia buru-buru melahirkan putranya ini, yang kemudian diabaikan karena keburukannya.

Bayi itu tidak berhenti menangis, dan Hongjun menggendongnya, merasakan gelombang kebahagiaan yang tak terlukiskan. Semua orang berkeringat, dan mereka berbaring di sudut ruangan. Setelah Turandokht selesai melahirkan, dia berbaring tak berdaya. Akhirnya, Hongjun membaringkan bayi itu di tempat tidur dan meminta ikan mas yao menemaninya.

“Kau mungkin juga seperti ini saat kau masih kecil,” kata ikan mas yao pada Hongjun.

Hongjun dan Mo Rigen terpuruk di sudut bersebelahan, dan dia berkata dengan lelah, “Aku mungkin bahkan lebih jelek darinya.”

Ikan mas yao mengulurkan tangan dan membiarkan bayi itu meraihnya, dan setelah bayi itu menangis sebentar, dia berhenti. Mo Rigen bertanya pada Turandokht, “Apa ada susu?”

“Mungkin…” kata Turandokht. “Abaikan saja dia, biarkan paman besar dan kecil ini istirahat sejenak terlebih dulu.”

Hongjun benar-benar kelelahan, dan begitu kepalanya menyentuh tanah, dia tertidur.

Mimpi itu muncul lagi, membawanya ke dalam kegelapan. Dalam mimpinya, dia bersinar dengan cahaya hijau cemerlang, dan ribuan rambut di pelipisnya berkibar tertiup angin. Dia mengenakan jubah panjang dan zirah, mengikuti rangkaian bulu merak yang berkilauan. Tangannya menggenggam sigil Acalanatha, tangan kirinya bertengger di atas telapak tangan kanannya, empat Pisau Lempar Pembunuh Abadi berputar perlahan di atas telapak tangan kirinya. Sinar dari Cahaya Suci Lima Warna berkilauan keluar dari tangan kanannya, bersinar ke dalam kegelapan pekat itu.

Tubuh Li Jinglong dibalut zirah emas – dia sudah menjadi Acala, dan dia memegang Pedang Kebijaksanaan emas di tangannya, menatap matanya tanpa berkedip.

“Hongjun!”

Sebuah teriakan keras tiba-tiba mengejutkannya hingga terbangun. Hongjun tertidur lelap, dan terbangun pada saat itu seolah-olah udaranya sudah terputus; ada rasa sakit samar dari kedalaman kesadarannya. Sebelum dia memiliki kesempatan untuk melihat-lihat, Mo Rigen menarik bagian belakang kerahnya dan mengangkatnya berdiri.

“Ada musuh! Hongjun, bangun!!” ikan mas yao berteriak kaget. Hongjun bereaksi dengan cepat, dan bahkan sebelum dia melihat situasinya dengan jelas, dia segera berbalik dan memanggil Cahaya Suci Lima Warna, hanya untuk mendengar ledakan besar saat rumah-rumah itu runtuh. Untungnya, dia berhasil memblokir batu bata yang jatuh menimpa mereka. Turandokht berlari keluar, menggendong bayi yang baru lahir itu, dan dia berteriak, “Lari, cepat!”

Dan begitu saja, tanpa peringatan apa pun, seluruh desa runtuh. Isak tangis dan ratapan segera memenuhi udara. Serigala Abu-abu memimpin Turandokht, sambil berteriak, “Aku serahkan ini padamu!”

Saat itulah awan hitam bergolak, dan puluhan ribu monster, seperti lumpur yang terlempar dari tanah, berteriak saat menyerbu ke arah mereka!

“Apa ini?” gumam Hongjun.

Awan hitam mengepul, dan di bawah tudung qi iblis itu, lebih banyak qi hitam muncul, membentuk pasukan besar. Mereka menginjak-injak tanah dengan kejam, dan ke mana pun mereka pergi, seolah-olah kavaleri yang tak terhitung jumlahnya menyerbu pada saat yang sama; mereka segera meratakan semua yang mereka lewati!

Karena kelompok itu memiliki Turandokht bersama mereka, Hongjun tidak berani secara sembarangan terlibat dalam pertempuran. Dia memanggil Cahaya Suci Lima Warna di kedua tangannya, yang menyelimuti rumah-rumah di sekitar mereka. Dia kemudian menarik mereka dengan kuat ke tengah, dan kayu serta batu datang menyapu, membentuk dinding bata, menghalangi muatan maju dari awan iblis itu. Tapi raungan yang lebih keras datang dari bagian belakang pasukan, dan qi iblis mendorong lumpur di tanah seolah-olah itu adalah tsunami bumi, mengubah jalur sungai saat itu bergerak untuk menelan semua yang ada di depannya.


Hari kedua bulan keempat tahun ke-14 era Tianbao. An Lushan dan Shi Siming bergabung dengan pasukan mereka dan menaklukkan Jalur Tong, mengirim pasukan mereka ke Chang’an. Saat mereka menuju ke timur, tidak ada yang bisa menghalangi jalan mereka.

Yang Guozhong berjalan mendaki pegunungan di depan Istana Daming, memandang ke tanah luas di luar kota Chang’an. Jauh di cakrawala, sepasukan besar pasukan tampak menyerbu keluar dari awan hitam, menuju Chang’an. Chang’an, di kaki Gunung Li, tiba-tiba bergema dengan gemuruh lonceng besar. Di kota, prajurit kekaisaran akhirnya keluar dengan kekuatan penuh. Enam Keprajuritan, yang terdiri dari empat puluh ribu orang, meninggalkan Chang’an, membariskan pasukan mereka di dataran di luar kota dalam formasi pertempuran.

“Waktunya akhirnya tiba,” kata Yang Guozhong pelan, sebelum dia dengan lembut mengangkat satu alisnya. “Aku tidak akan mengantarmu pergi, Yang Mulia Li Longji.”

Di sisinya masih ada sekelompok bawahan yang rusak. Kulit tapir mimpi sudah pecah dan mulai mengelupas, dan ia terengah-engah. Tubuhnya sudah hampir tidak mampu menangani qi iblis ini.

“Yang Mulia… ” tapir mimpi berkata, “Saya tidak mengerti… saya… tidak mengerti.”

Yang Guozhong melihat dengan tenang ke arah mana awan hitam itu berasal saat dia menjawab. “Karena beberapa hal, tidak ada gunanya memaksa mereka. Hanya dengan ketulusan, maka dapat mencapai yang terbaik. Katakanlah, jika aku mempersembahkan nyawa semua warga di Chang’an dan para exorcist sebagai gantinya, apakah dia akan menerima tawaran itu?”

“Dia tidak memiliki pilihan selain menerimanya,” Yang Guozhong berkata pelan, menoleh untuk melirik tapir mimpi. “Tidak perlu terburu-buru, aku akan segera membebaskanmu dari rasa sakit ini. Tunggulah sebentar lagi…”

Dan mengatakan itu, Yang Guozhong dengan lembut mengangkat dagunya, dengan sungguh-sungguh mempelajari ekspresinya.

Di luar kota Chang’an, di dataran, Serigala Abu-abu membawa Turandokht saat berlari dengan liar. Dari waktu ke waktu, pasukan besar akan muncul dari awan hitam, dan akan menyapu ke arah Chang’an seperti tsunami. Hampir semua penduduk desa tempat mereka tinggal untuk sementara sudah berhasil melarikan diri sebelumnya, bahkan penebang kayu yang sudah menyelamatkan nyawa Turandokht, meskipun mereka tidak tahu kemana dia pergi.

Dataran tampak sangat kacau, dan mereka dikelilingi di semua sisi oleh warga yang melarikan diri dari kehancuran.

Hongjun menemukan penduduk desa yang melarikan diri, tapi awan hitam hampir mengejar mereka. Hongjun berbalik menghadap awan tebal yang menyapu tanah ke arah mereka, berseru pelan, “Apa ini?!”

Para prajurit yang awalnya di bawah komando An Lushan sebenarnya sudah dirusak oleh qi iblis, dan mereka sudah diubah menjadi pasukan iblis. Masing-masing dari mereka dililit oleh qi hitam dan dibalut dengan zirah prajurit pemberontak.

Serigala Abu-abu merenung, “Dia mengubah bawahannya sendiri menjadi pasukan iblis?!”

Hongjun melambat, dan warga berlari melewatinya. Dia kemudian memanggil Cahaya Suci Lima Warna di tangan kirinya, mengubahnya menjadi perisai besar, sementara pisau lempar digabungkan menjadi sebuah glaive di tangan kanannya.

Serigala Abu-abu berteriak, “Cepat pergi! Hongjun! Apa yang kau coba lakukan?”

“Kau duluan!” Kata Hongjun. “Bawa Saozi kembali ke Chang’an!”

Ikan mas yao berteriak, “Hongjun! Hongjun!”

Serigala Abu-abu tahu bahwa jika Hongjun benar-benar ingin melarikan diri, dia pasti bisa melakukannya. Sebaliknya, Turandokht masih lemah karena baru saja melahirkan, dan dia juga menggendong bayi, jadi mereka harus membawanya secepat mungkin ke tempat yang aman. Dengan itu, ia berbalik dan berteriak, “Aku akan segera kembali untuk menjemputmu!”

Awan hitam tiba-tiba berhamburan dan mundur, menampakkan ribuan kuda yang berlari kencang. Warga meratap dan berteriak saat mereka berlari dengan panik. Hongjun menarik napas dalam-dalam, dan dia menempelkan bahunya ke Cahaya Suci Lima Warna, menghantam mereka! Dia kemudian menggambar lengkungan dengan itu, dan pasukan iblis yang menabraknya segera terbalik seperti air pasang. Dia adalah sebuah pulau di tengah sungai yang bergolak, batu karang yang berdiri kokoh menghadapi tsunami yang dahsyat, dan garda depan pasukan pemberontak beriak dari kekuatan yang kuat itu!

“Siapa itu?” Hu Sheng memimpin Enam Keprajuritan, dan dia berdiri di atas tembok kota Chang’an. Saat dia melihat apa yang terbentang di depannya, dia langsung terpana!

“Mereka ingin menyerang kota!” teriak seorang kapten Pasukan Shenwu.

“Jangan tinggalkan kota!” putra mahkota Li
Heng bergegas ke menara pengawas. Pengadilan sudah berubah menjadi kekacauan, meskipun tidak lebih dari tiga hari sejak An Lushan menerobos Jalur Tong dan langsung berbaris ke wilayah Guanzhong. Geshu Han saat ini sedang mengirim bala bantuan mendesak dari Liangzhou, sementara Guo Ziyi memimpin pasukannya ke Hebei untuk menyergap pasukan sekutu Anshi dari belakang, khususnya divisi Shi Siming. Saat ini, selama Enam Pasukan menguasai Chang’an, yang harus mereka lakukan hanyalah menunggu bala bantuan tiba.

“Siapa itu?” Li Heng melihat ke kejauhan, di mana kekuatan seorang prajurit bertahan melawan ribuan pasukan yang menimpanya seperti gelombang.

Hu Sheng berteriak, “Kita harus pergi dan mendukungnya!”

“Komandan Hu!” Li Heng berteriak. “Tidak peduli siapa itu, dia tidak akan bisa bertahan!”

Pemberontak itu seperti gelombang hitam yang membengkak di tenggara Chang’an dan tanah subur di barat laut, setiap divisi dengan cepat terbentuk. Serigala Abu-abu berlari dengan gila-gilaan untuk hidupnya di depan garis depan, berlari lebih cepat dan semakin lebih cepat. Ikan mas yao menoleh ke belakang dan berteriak, “Kita sudah meninggalkan mereka!”

“Apa yang mereka coba lakukan?!” Serigala Abu-abu memamerkan giginya. “Apa mereka berencana untuk membanting tepat ke gerbang kota?! Apa An Lushan gila?!”

Hongjun mendorong mundur ribuan kuda dan pria, hanya untuk merasa bahwa jumlah mereka terus bertambah. Mereka menekannya seperti Gunung Tai, ribuan jin kekuatan penghancur bumi menimpanya.

“Aku tidak bisa bertahan lagi!” Teriak Hongjun. “Aku harus pergi!”

Dia juga tidak yakin kepada siapa dia berteriak. Dia benar-benar bertarung sendirian. Warga sudah lama melarikan diri, dan mereka yang tidak berhasil melarikan diri semuanya sudah diinjak-injak sampai mati di bawah kuku besi itu. Awan hitam yang bergolak itu benar-benar berhenti sejenak, jelas mengumpulkan kekuatannya, dan pada saat ini, itu tampaknya menyerang dengan seluruh kekuatannya, mengepul ke depan dengan cepat!

“Aku melihatmu sekarang… benih iblis…”

Hongjun menyentakkan kepalanya, terengah-engah. Separuh tubuh muncul dari dalam awan hitam itu, dan melesat ke arahnya.

Tapi sebelum serangan telapak tangan iblis itu mengenainya, Hongjun sudah mengelak, merentangkan tangannya saat dia berjungkir balik di atas pasukan iblis yang menyerang. Dia kemudian mengarahkan kakinya ke bawah dan mulai jatuh, sekali lagi mendarat di atas kuda perang yang tercemar itu, dan dia bergabung dengan barisan pasukan besar saat mereka maju!

Daerah di luar kota Chang’an tenggelam dalam kegelapan. Rusa Putih datang melompat di udara, meninggalkan ribuan titik cahaya yang bersinar. Serigala Abu-abu mendongak dan melolong, dan Rusa Putih segera menoleh untuk melihat ke bumi di bawah, berseru dengan kejutan bahagia, “Serigala besar!”

Di dataran, Serigala Abu-abu berhenti. Rusa Putih turun ke atas bukit, dan keduanya berubah kembali menjadi Mo Rigen dan Lu Xu pada saat bersamaan. Mata mereka bertemu, namun mereka tidak bisa memaksa diri untuk mengatakan sepatah kata pun.

Lu Xu setengah menggendong Li Jinglong yang terluka parah, dan dia terengah-engah, “Di mana Hongjun?”

Mo Rigen mengambil tubuh Li Jinglong, bertanya, “Apa yang terjadi padanya?”

Masing-masing dari mereka mengajukan pertanyaan satu sama lain, dan sebelum mereka bisa menjawab, A-Tai dan Ashina Qiong berlari ke atas bukit itu. Jika mereka berhasil melintasi lereng di depan mereka, mereka akan tiba di dataran yang mengelilingi Chang’an, dan setelah melintasinya, mereka akan mencapai parit! Tapi hampir seratus ribu prajurit iblis yang kuat sepertinya tidak berencana untuk melambat sama sekali. Mereka semakin dekat, dan awan hitam bersiul dan meraung. Sekitar setengah li jauhnya, mereka mulai menyerbu ke arah bukit!

Mo Rigen dan Lu Xu tidak mengatakan apa-apa lagi, justru berbalik menghadap barisan depan yang melaju ke arah mereka seperti gelombang. Ashina Qiong dan A-Tai menyerbu ke arah mereka, dan begitu A-Tai melihat Turandokht, dia hampir pingsan.

“Turandokht!”

“Berhentilah bicara! Bertarunglah dalam pertempuran ini!” Teriak Turandokht.

A-Tai segera berbalik, dan dia serta Ashina Qiong berbalik untuk menghadapi pasukan besar yang menyerang mereka. Pada saat itu, Hongjun menyambar seekor kuda yang berlari kencang dan menaiki lereng, berteriak, “Maaf! Aku tidak bisa menahan mereka lagi-!”

Dalam sekejap mata, Mo Rigen dan Lu Xu berubah menjadi Serigala Abu-abu dan Rusa Putih, dan mereka menyerbu menuruni lereng. Pasukan tercemar yang tak terhitung jumlahnya berlomba di belakang Hongjun, menginjak-injak tanah yang luas, gunung dan sungai. Mereka bergemuruh saat mereka menyerbu menuju kota Chang’an!

“Di mana bala bantuan kita?” Ashina Qiong meraung marah, menoleh ke belakang untuk melihat. “Kenapa kau tidak mengirim pasukan untuk membantu-!”

Tembok kota sudah samar-samar terlihat di kejauhan, dan bagian atasnya penuh dengan penjaga. Bagian luar kota dipenuhi oleh penduduk yang melarikan diri dari bencana ini, namun penjaga kota sepertinya sama sekali tidak memiliki rencana untuk membuka gerbang. Li Jinglong menopang dirinya, Suaranya bergetar. “Hongjun? Dimana Hongjun? Aku dengar…”

“Turandokht! Masuk ke kota terlebih dulu!” Teriak A-Tai.

“Jika kita akan mati, maka kita akan mati bersama!” Turandokht balas berteriak dengan marah. “A-Tai! Tahan benteng ini untukku!”

A-Tai: “…

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply