Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Di tangannya, Hong Jun memegang tumpukan kertas, dan di punggungnya ada ikan yang dia gendong; (dengan keadaan) seperti ini, dia memasuki Jinchang Fang. Karena ini masih terlalu pagi, Zhao Zhilong yang ada di punggungnya masih setengah mengantuk, mulut ikannya terbuka saat dia menguap.

“Apa kau pikir hal ini akan berguna jika aku memasang selebaran kucing hilang?”

“Dengan coretan ceker ayam1 seperti itu siapa yang bahkan bisa mengatakan bahwa itu adalah kucing?” kata ikan mas yao menanggapi.

Hong Jun melihat sekelilingnya, karena masih terlalu pagi dan tidak banyak orang disana jadi dia mengambil kesempatan untuk melempar pengaitnya, terbang ke atap sebelum menaiki Pagoda Angsa Liar2. Dia melompati atapnya satu persatu, dan ketika sampai di puncak Pagoda, dia duduk dan memeluk lututnya.

Di bawah langit biru dengan beberapa awan putih yang melayang-layang, ribuan atap rumah di Chang’an bermandikan cahaya pagi dan angin sepoi-sepoi. Di Tanah Suci3, manusia benar-benar berhasil membuat bangunan yang begitu megah, dan di dalam hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan saat dia memandanginya.

Hong Jun menundukkan kepalanya untuk melihat tumpukan selebaran tentang kucing yang hilang yang ia gambar sebelum dia pergi, di dalam hatinya dia membatin tentang betapa mudahnya menyelesaikan hal itu jika dia kembali ke Istana Yaojin. Qing Xiong dan Chong Ming, keduanya dapat berbicara dengan burung-burung, yang mereka harus lakukan hanyalah mengirim dua ekor falcon untuk mencarinya, itu akan sangat cepat dibanding apa yang dia lakukan sekarang.

“Setelah menikmati angin sepoi-sepoi, kita harus kembali,” kata ikan mas yao. “Saat musim gugur, di luar sangat kering, itu sangat tidak nyaman.”

“Aku pikir dia sangat menyedihkan,” kata Hong Jun. “Semua orang sedang berusaha. Aku harus sedikit membantu mencarinya.”

Ikan mas yao menanggapi, “Kau tidak boleh bersimpati kepada semua orang.”

Hong Jun bertanya, ” Jika kita menemukan kucing itu, mungkin para pejabat yang lain akan sedikit lebih baik kepadanya di masa yang akan datang?”

Semalam, berkat ikan mas yao, Hong Jun kurang lebih memahami tentang tingkatan umum para pejabat yang secara kaku dipisahkan, dan juga alasan kenapa Li Jinglong mendapatkan sedikit keberhasilan. Meskipun dia tidak memahami sepenuhnya, dia memahami dasarnya; hal itu disebabkan karena Kaisar dan pejabat tinggi lainnya tidak memandangnya dengan baik.

“Jangan menjadi naif,” kata ikan mas yao. “Prasangka manusia itu sulit untuk dihilangkan, segera setelah beberapa manusia mengeluarkan tabiat (watak) aslinya, sesama manusia akan melakukan hal yang lebih jahat dan kejam daripada yang dilakukan oleh suku yao. Siapa yang akan mengakui bahwa Li Jinglong memiliki kemampuan, jika itu berarti bahwa mereka hanya akan merusak reputasi mereka sendiri? Dari apa yang kulihat, mereka hanya akan membiarkannya untuk mencari anjing atau kucing hilang.”

Hong Jun terpikirkan oleh suatu hal, dan bertanya-tanya tentang hal itu, “Kenapa kucing ini melarikan diri? Apa karena dia takut sesuatu?”

“Sama seperti yang aku pikirkan. Aku juga menduga bahwa kucing itu melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.” Suara Li Jinglong tiba-tiba terdengar dari balkon paling atas Pagoda Angsa Liar. Hong Jun sangat terkejut hingga dia hampir tergelincir dari atap.

Dia dan Li Jinglong sebenarnya memikirkan hal yang sama — keduanya berpikir untuk menaiki titik tertinggi di Chang’an, untuk melihat pemandangan disekitarnya sebelum mereka merenungkannya. Hong Jun menurunkan kaitnya untuk membiarkan Li Jinglong naik juga, dan keduanya duduk di atas Pagoda.

“Kapan kau berada di sini?” Hong Jun merasa bersalah, jadi dia hanya dapat menatap Li Jinglong.

Li Jinglong menjawab, “Ketika kau berkata  ‘Aku pikir dia sangat menyedihkan.'”

Hong Jun merasa sangat canggung, tapi Li Jinglong hanya mengerutkan alisnya dan berkata, “Aku baru saja pergi ke kediaman utama Nyonya Qinguo. Pada malam itu, kucing itu melihat sesuatu dan ketakutan. Kucing sangat sensitif dengan hal yang berkaitan dengan kejahatan, tapi sekali mereka menemukan persediaan makanan, mereka akan tinggal. Dimana seekor kucing dapat menemukan makanan yang lebih baik dari pada di kediaman Nyonya Qinguo? Jadi aku menduga hal itu terjadi pada kucing ini, kejadian itu sangat menakutkan, sampai menyebabkan kucing ini tidak ingin kembali.”

“Mungkin kucing itu tersesat?” tanya Hong Jun.

“Itu tidak mungkin,” jawab Li Jinglong, menggelengkan kepalanya.

“Seseorang menyembunyikannya?” tebak Hong Jun.

“Siapa yang cukup berani untuk pergi dan mencuri kucing Nyonya Qinguo4?” kata Li Jinglong. “Enam keprajuritan telah mencari selama sepuluh hari, dan mereka telah menawarkan tentang imbalannya dimana-mana, jadi keberadaannya seharusnya sudah diketahui beberapa hari yang lalu… Jika tidak ada kecelakaan, maka kucing itu seharusnya bersembunyi di suatu tempat di kota, dan aku menebak bahwa kucing itu berada di lokasi yang dekat dengan kediaman utama Qinguo. Ayo pergi.”

Hong Jun tiba-tiba menyadari bahwa Li Jinglong sangat pintar.

Li Jinglong melompat dari atap, tetapi Hong Jun berbalik dan melemparkan kaitnya, melompat dari Pagoda Angsa Liar ke atap terdekat, menarik Li Jinglong bersamanya. Mereka berdua bergerak di sepanjang atap, dan ketika mereka mencapai ujungnya, mereka melompat melewati celah.

“Apa kau pikir di Chang’an ada banyak yaoguai?” Hong Jun tiba-tiba merasa ingin tahu, menanyakan kepada Li Jinglong yang berjalan di depannya.

Li Jinglong menjawab, “Aura iblis di sekitar kota sangat berat dan setelah sekian lama hampir tidak mungkin untuk dibersihkan. Setiap malam, sekelompok yao akan keluar dan berkeliaran; itu tidak seperti Chang’an yang kau lihat di depan matamu.”

“Bagaimana kau merasakannya?” Hong Jun juga agak sadar akan hal itu, tapi itu tidak sekuat kesadaran Li Jinglong. Setiap malam, setelah tiga ribu genderang selesai dibunyikan, seluruh Chang’an tampaknya telah berubah. Jelas, ada hal yang terjadi di suatu tempat yang tidak dia ketahui.

Li Jinglong menepuk-nepuk pedang yang ada di pinggangnya dan tidak menjawab.

“Apa pedang itu memberitahumu? Kau pikir ada berapa banyak yaoguai di Chang’an?” tanya Hong Jun lagi.

“Puluhan ribu.” Li Jinglong menatap kembali Hong Jun.

Hong Jun mengingat apa yang Chong Ming katakan ketika dia pergi: kota Chang’an dikuasai oleh suku yao, tapi dia sudah lama berada disini tanpa melihat adanya yaoguai. Apa mereka menyembunyikan diri mereka dengan baik, atau Hong Jun terlalu tumpul untuk merasakannya?

“Monyet.” Hong Jun tiba-tiba berkata kepada ikan mas yao yang ada di punggungnya.

“Apa?”

Li Jinglong dan Hong Jun, keduanya merasa bahwa kepala mereka telah tertutupi kabut5 saat mereka berdiri di atas atap di luar Pasar Timur. Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang dari samping mereka, memukul wajah Li Jinglong. Keduanya terkejut dan pada saat yang sama dan dengan cepat berbalik untuk melihatnya, tapi yang mereka dengar adalah suara ji ji ji6 dari seekor monyet kecil berjongkok di atap aula Jade Flower yang terletak tepat di luar Pasar Timur, dan melihat mereka berdua.

“Itu…” Saat Li Jinglong akan mengusirnya, Hong Jun tiba-tiba teringat akan monyet malang yang dia bebaskan pada hari itu di pasar, dan dia tersenyum. “Oh! Itu kau!”

Hong Jun melambaikan tangannya ke arah si monyet, dan si monyet yang menyeret rantai di belakangnya, berlari ke arahnya. Setelah terbebas dari pawangnya, monyet itu tampak lebih sehat dari sebelumnya; dia memperoleh beberapa makanan dari pejalan kaki yang baik hati, dan ditangannya mencengkeram roti kukus yang buluk, menawarkannya berulang kali ke Hong Jun untuk dimakan.

Hong Jun hanya dapat menerima sedikit roti buluk itu sebagai rasa terimakasih, dan membaginya sebagian dan memberikannya kepada ikan mas yao. Ikan mas yao merasa tidak senang dan protes, “Roti kukus ini…”

“Makan saja itu.” Hong Jun mencuil roti itu menjadi bagian yang lebih kecil dan memasukkannya sedikit demi sedikit ke mulut ikan mas yao, sebelum mengeluarkan salah satu pisau lemparnya dan melepaskan rantai disekitar leher si monyet kecil.

Li Jinglong berkata, “Monyet yang dipelihara oleh pawang monyet dapat memahami perkataan manusia. Karena dia telah terbebas beberapa hari yang lalu di wilayah ini, kau seharusnya bertanya padanya jika dia pernah melihat kucing itu.”

Hong Jun membatin di hatinya, benar! dan dia dengan cepat mengeluarkan lukisan kucing yang digambarnya dan menunjukkannya ke si monyet. Li Jinglong menyela, “Kucing yang kau gambar… Apa ini adalah kucing?!”

Ekspresi Li Jinglong berubah menjadi jelek lagi, dan dia hampir terjatuh dari atap. Di selembar kertas, Hong Jun menggambar tiga lingkaran yang saling terhubung, goyah, bengkok, ekor seperti ulat, dan dua telinga yang lancip. Itu tampak seperti yaoguai.

Si monyet memiringkan kepalanya dan bersuara ji beberapa kali, sebelum menunjukkan bahwa Hong Jun harus mengikutinya, lalu berlari.

“Tidak mungkin!” kata ikan mas yao. “Dia benar-benar mengerti gambarnya.”

Hong Jun buru-buru mengikutinya, dan dengan Li Jinglong di belakangnya, mereka mengikuti monyet itu sampai ke pinggiran Pingkang Li. Pasar Timur sudah lama dibuka, dan di bawah mereka orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri. Li Jinglong masih agak trauma setelah kejadian waktu itu, jadi dia menghindari kerumunan, membungkuk agar tidak terlihat oleh mereka.

Ketika monyet itu berhenti, Hong Jun melihat target mereka dan berkata “ah.”

Diantara dua menara biru Nightingale of the Spring Dawn dan Yishi Lan7 di Pingkang Li, di ujung atapnya, ada suatu gumpalan yang tampak seperti lap berbulu putih. Dia berbaring di sana dan tidak bergerak, menikmati cahaya matahari.

“Apakah itu?” Hong Jun segera berbalik untuk melihat.

“Jangan buru-buru! Jangan buru-buru!” Li Jinglong tidak dapat mempercayainya, mereka akhirnya menemukannya! Jelas, bahwa keberuntungan Hong Jun sangatlah bagus, sebegitunya sampai tidak dapat dilampaui. Menangkap seekor kucing tidak cukup untuk memulihkan reputasinya, tapi paling tidak dapat menjadi tamparan untuk enam keprajuritan… mereka telah mencari di seluruh kota tapi tidak mendapatkan hasil apapun, bagaimana bisa masalah ini diselesaikan dengan mudah olehnya?! Baginya, hal ini tidak dapat dipercaya!

“Haruskah kita memanggil Mo Rigen dan yang lainnya kesini?” Hong Jun bertanya, “Bagaimana jika itu bukan kucing yang kita cari?”

Baru saja Li Jinglong mengatakannya sendiri: jika itu benar-benar karena keberuntungan mereka, maka seharusnya mereka tidak boleh bertindak gegabah. Pertama-tama, mereka harus memberitahu yang lain; siapa tahu bahwa itu benar-benar adalah kucing yang mereka cari.

Tapi beberapa saat yang lalu, mereka diberitahu oleh kediaman utama Qinguo bahwa ras kucing ini sangat langka. Jika mereka mencarinya di seluruh kota, mereka mungkin tidak dapat menemukan yang kedua.

“Tidak perlu.” Li Jinglong berkata dengan pelan sambil mengawasinya. “Mereka mungkin bermalas-malasan di suatu tempat. Pertama, ayo tangkap kucing itu dulu, itu bukan masalah jika kucing itu yang kita cari atau bukan. Aku akan menyelinap dari belakang, dan kau dari depan. Apa kau membawa jaring?”

“Ya, ya.” Hong Jun menjadi gugup karena nada bicaranya sendiri.

“Apapun yang kau lakukan, jangan mengejutkan orang-orang yang ada dibawah,” perintah Li Jinglong. “Kita tidak ingin dia melarikan diri lagi.”

Hong Jun dengan segera menganggukkan kepalanya, melihat Li Jinglong membuat gerakan yang sedikit menekan ke bawah, sebelum dia membungkuk dan menyelinap.

“Dia tidak akan pergi jauh, kan,” ikan mas yao mengomentari. “Itu hanya seekor kucing.”

Hong Jun: “Tunggu sebentar, kau…”

Ikan mas yao: “Jangan bicarakan itu! Aku tidak akan membantu kalian untuk menangkap itu. Apa kau lupa siapa aku?!”

Hong Jun ingat bahwa ikan mas yao juga ikan, dan karena itu dia memendam ketakutan mendalam terhadap kucing dan beruang, jadi dia harus melupakan ide itu. Dalam rentang waktu itu, Li Jinglong telah mengambil jalan memutar, sampai Hong Jun tidak dapat melihatnya lagi, sebelum mendekati hampir lima puluh langkah jauhnya dan terlihat seperti titik hitam kecil yang semakin mendekat.

Hong Jun memegang jaringnya, perlahan-lahan mendekat, dan melakukan yang terbaik agar tidak membuat suara. Kucing itu masih dalam posisi malas dan santai, berjemur di atas atap. Lebih dekat, lebih dekat, dan ketika mereka semakin dekat, kucing yang berada di tengah tidak bergerak sedikitpun. Tubunya naik turun ketika dia bernapas, seolah-olah dia tampak tertidur.

Ketika jaraknya kurang dari satu zhang8 dari si kucing, Li Jinglong berhenti dan memberi isyarat kepada Hong Jun. Hongjun membungkukkan badannya, kedua tangannya menggenggam jaring, dan dia terus melangkah, lalu melangkah mendekati si kucing…

Pada saat itu juga si kucing membuka matanya, dan setelah menatap Li Jinglong, keduanya saling tercengang sekejap. Li Jinglong berteriak, “Cepat!”

Tepat setelah itu, Li Jinglong melompat ke sana, dan Hongjun bergegas membuka jaring.

Di dalam skenario Li Jinglong, kucing itu akan takut padanya dan melompat ke arah Hong Jun, sehingga akan terjerat dengan sempurna di jaring. Namun, kucing itu tiba-tiba berubah menjadi bayangan yang cepat, meluncur melalui ruang di antara kaki Li Jinglong dan turun ke bawah.

Li Jinglong: “!!!”

Hong Jun mengikutinya saat dia berbalik ke samping dan meluncur, mengikuti si kucing yang turun ke bawah.

“Jangan lari!” Hong Jun menggenggam jaring, dan saat dia akan menangkap kucing itu, kakinya tergelincir ketika menginjak ubin yang longgar, dan pada saat itu sebuah ide terlintas dibenaknya—

Kucing ini terlalu cerdik! Dia telah mengalahkan mereka berdua dengan mudah!

Pada detik berikutnya, Hong Jun terjatuh dari atap Nightingale of the Spring Dawn ke tingkat yang lebih rendah dari Yishi Lan. Di bawahnya adalah hamparan hidangan yang baru saja tersusun rapi, tapi dalam waktu singkat, Li Jinglong meraih tangannya dan menariknya kembali.

Hong Jun melihat lubang di bawahnya. Tepat di bawahnya ada panci sup besar, dan di dalam hatinya dia membatin, itu benar-benar terlalu dekat, terlalu dekat. Jika dia jatuh seperti itu, dia mungkin akan baik-baik saja, tapi Zhao Zhilong selamanya akan tinggal di panci sup itu.

Shh.” Li Jinglong membawa Hong Jun bersamanya saat mereka mundur selangkah ke belakang, hanya untuk melihat kucing itu melompat ke lantai tiga Yishi Lan, meluncur melalui celah pintu yang sedikit terbuka, dan menghilang begitu saja.

Hong Jun terengah-engah dan berkata, “Aku sudah mencoba yang terbaik…”

“Tidak masalah,” Li Jinglong meyakinkannya. “Kita tahu dimana dia berada, jadi sekarang akan menjadi lebih mudah. Ayo pergi!”

Mereka berdua melompat, menjatuhkan diri dengan ringan dari atap. Hong Jun dengan pelan berkata, “Biar aku saja, jadi kau tidak…”

“Aku tidak akan sesial itu,” Li Jinglong menjawab dengan tenang.

Yishi Lan adalah rumah bordil paling populer di kalangan para terpelajar di Kota Chang’an, dan bahkan halaman samping di dekorasi dengan sangat elegan. Setelah masuk melalui jendela, mereka mendarat di lorong sempit yang memiliki banyak kamar di depannya, masing-masing dengan nama seperti, “Qiang Jin Jiu9, “Spring Dawn10, “Yu Tai Chun11, dan banyak lagi.

“Berpencar dan mulai mencari,” kata Li Jinglong. “Suruh Zhao Zhilong datang untuk membantu, dan juga si monyet. Hong Jun, pergi katakan pada mereka.”

Ikan mas yao awalnya menolak, tapi Hong Jun sudah membawanya, jadi meskipun dia gemetaran, dia harus menjulurkan kepalanya untuk mengintip ke pintu yang sedikit terbuka. Setelah menerima arahan dari Hong Jun, si monyet dalam sekejap mengerti dan mulai memeriksa kamar yang lain.

“Setelah menemukannya, kembali dengan cepat dan jangan membuat kebisingan,” kata Hong Jun. “Kau tidak perlu menangkapnya.” Kemudian dia mendorong ikan mas yao masuk ke dalam kamar.

“Kau pergi ke bagian kiri, aku akan ambil yang bagian kanan,” kata Li Jinglong dengan pelan.

Matahari telah terbit setinggi tiga ruas bamboo12. Wanita-wanita di Yishi Lan pergi entah kemana saat Hong Jun memasuki sebuah kamar dan melihat sekeliling. Aroma kosmetik menumpulkan indra penciumannya; setiap kamar di dekorasi dengan mewah, dan dia menebak bahwa wanita di area ini adalah kartu merah13. Li Jinglong telah menebak secara akurat, kucing ini telah menemukan tempat yang dekat dengan kediaman utama Qinguo untuk tinggal.

Ikan mas yao memasuki sebuah kamar, dan masih merasa sedikit seret dari roti kukus yang dicekokan secara paksa oleh Hong Jun, jadi dia berlari ke baskom air untuk minum. Saat dia meminumnya, dia merasa bahwa rasa dari air itu sedikit aneh dan berkata, “Air untuk mencuci kaki, ugh, sial,” dan berhenti meminumnya. Setelah melihat sekelilingnya, dia tiba-tiba melihat lukisan di dinding. Itu adalah salah satu karya Zhang Xuan14 yang berjudul “Ikan Mas di Sungai pada Musim Semi.” Ikan mas di lukisan itu sangat hidup dan tampak nyata, seperti cabang pohon willow yang berayun, dan Zhao Zhilong membuka mulutnya dan menatapnya dalam diam.15

“Gadis cantik! Gadis cantik!” ikan mas yao mendekat, dan air liurnya hampir menetes dari mulutnya.

Tepat pada saat itu, suara cakar yang menggaruk-garuk kayu datang dari belakangnya. Ikan mas yao membeku ketakutan, semua sisik dan bulu kakinya berdiri saat suara keluar dari mulutnya. Dia perlahan-lahan menoleh ke belakang.

Chausie itu berjongkok di atas lemari, matanya, yang satu berwarna biru, yang satu berwarna kuning, menatap fokus ke arahnya, tanpa niat baik di dalamnya.

Ikan mas yao sesaat kehilangan kesadarannya dan berteriak dengan keras, “Ah, seseorang tolong aku—!”

Di kamar samping, Li Jinglong dan Hong Jun mendengar teriakan dari kamar tengah pada saat yang bersamaan, dan segera berlari seperti hembusan angin.

Chausie itu sudah melompat dari atas lemari dan langsung menuju ke arah ikan mas yao! Ikan mas yao sangat terkejut sampai bersembunyi di bawah tempat tidur.

Ketika Hong Jun dan Li Jinglong mendorong untuk membuka pintu dan bergegas masuk, kucing itu mengeong dari bawah tempat tidur. Ikan mas yao berteriak-teriak, menggeliat keluar dari ujung tempat tidur saat dia berlari seperti ini adalah akhir hidupnya, dan dia menggoyangkan ekornya dengan gelisah ketika bersembunyi di dalam lemari.

“Aku menemukannya!” Li Jinglong berbalik dan menutup pintunya. Saat ini, kucing itu tidak dapat melarikan diri.

Hong Jun merangkak di bawah tempat tidur untuk menangkap kucing itu, tapi tempat tidur kayu ini berbeda dari yang biasa dia pakai. Tempat tidur ini terbuat dari kayu mahoni yang mahal dan itu menempel pada dinding. Tiga sisi yang menghadap keluar semuanya tertutup, hanya menyisakan ruang kosong di antara pagar sebagai bukaan kecil. Hong Jun melihat kucing itu bersembunyi dalam kegelapan, mata yin dan yang-nya menatap padanya.

*Yin dan Yang karena matanya yang satu gelap dan yang satunya terang.

Li Jinglong memasukkan lengannya untuk menangkap kucing itu, tapi kucing itu masuk lebih dalam. Di sampingnya Hong Jun bertanya, “Apa yang harus kulakukan?”

Siku Li Jinglong terlalu kekar, dan sikunya tersangkut di pagar.

Hong Jun: “…”

Li Jinglong: “…”

Tangan Hong Jun tersangkut di dalam, tapi si kucing dengan santai menjilati cakarnya, dan mengabaikan dua orang di depannya.

“Aku akan mengangkat tempat tidurnya.”

“Segera setelah kau mengangkatnya, aku akan masuk,” tebak Hong Jun. “Angkat sedikit saja, aku akan merangkak ke bawah untuk menangkapnya.”

Jadi Li Jinglong menggunakan kekuatannya, dan dengan teriakan “angkat”, mengangkat tempat tidur yang beratnya empat ratus dan beberapa jin16, memberikan sedikit celah kecil yang dapat dimasuki satu orang. Hong Jun dengan segera mengambil kesempatan itu untuk masuk ke dalam.

Tidak banyak ruang kosong di bawah tempat tidur, dan itu tampak seperti tumpukan pilar kayu, gulungan-gulungan, dan beberapa hal lain. Dalam sekejap, kucing itu mengangkat tubuhnya dan bersiap untuk melarikan diri, tapi Hong Jun mengulurkan tangannya dan menangkap kakinya, berkata, “Tertangkap!”

Li Jinglong berkata, “Pegang dengan erat! Jangan sampai dia melarikan diri lagi!”

Tepat pada saat yang bersamaan, sebuah suara datang dari luar.

“Aku tidak dapat datang saat malam hari, jadi aku hanya dapat mengunjungimu pada siang hari…”

Li Jinglong segera memalingkan kepalanya. Suara pria itu sangat tidak asing baginya, dan dengan cepat pupilnya berkontraksi. Dia berusaha keras untuk menarik lengannya keluar, dan dengan kekuatan yang tiba-tiba muncul dia berhasil mengeluarkannya.

Hong Jun memeluk kucing itu, menggunakan lututnya untuk menahan bawah tempat tidur, melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk menjaga tempat tidur kayu itu sedikit terangkat.

Zhangshi, tolong angkat tempat tidur ini lagi agar aku bisa keluar…”

Tapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Li Jinglong berguling kesampingnya, dan pada saat yang sama dia mengangkat tempat itu sebelum menurunkannya dengan hati-hati.

Hong Jun ingin mengatakan sesuatu, tapi Li Jinglong dengan erat memeluknya dari belakang, dengan cepat menutup mulutnya dengan satu tangan jadi dia tidak akan berani untuk berkata sepatah katapun. Ketika tempat tidur kayu itu diletakkan, pintunya terbuka, terdengar suara langkah kaki seorang pria yang tegas dan stabil, ditemani dengan suara tawa seorang wanita ke dalam kamar.

Mereka berdua duduk di atas tempat tidur, dan si pria berkata, “Pada saat itu, Li Jinglong pergi ke Nightingale of the Spring Dawn yang menyebabkan seluruh penyelidikan Prajurit Longwu tercatat di Censorate17, itulah kenapa beberapa hari ini aku tidak dapat mengunjungimu. Tapi kau selalu ada dipikiranku.”

Hong Jun membuka matanya lebar-lebar, memiringkan kepalanya ke samping, dan melirik ke arah Li Jinglong. Li Jinglong perlahan melonggarkan tangannya, meletakkan jarinya di bibirnya sebagai isyarat agar tetap diam, dan Hong Jun melanjutkan menutup mulut kucing itu yang ada di pelukannya. Hong Jun memeluk kucing itu dan Li Jinglong memeluk Hong Jun dari belakang. Sementara mereka terperangkap dalam ruangan sempit, Hong Jun merasakan detak jantung Li Jinglong sangat cepat. Dada itu lebar dan kokoh, dan dari tubuhnya mengeluarkan banyak kehangatan.

Wajah Li Jinglong penuh dengan amarah, hanya karena orang yang datang ke Yishi Lan sebenarnya adalah atasannya sendiri dari Prajurit Longwu: Hu Sheng, Komandan Prajurit Longwu. Awalnya, justru karena Hu Sheng tidak percaya dengan Li Jinglong sampai dia tanpa henti diolok-olok oleh temannya, dan kemudian di olok-olok oleh Yang Guozhong.

Pada saat itu mereka hanya mendengar Hu Sheng memeluk dan mencium wanita itu di atas tempat tidur, dengan liar memanggil-manggil “Jin Yun” saat mereka melakukannya. Jin Yun mulai terengah-engah, dan mereka bergulung bersama di atas tempat tidur, kata-kata mereka langsung sepuluh kali menjadi lebih intim.

Jantung Hong Jun juga mulai berdetak kencang. Dia berusia enam belas tahun namun menyadari banyak kenyataan dari sebuah kehidupan, dan sekarang dia disini, dipeluk dari belakang oleh Li Jinglong dengan posisi yang sangat intim saat mereka memdengarkan suara yang datang dari atas. Kata-kata itu sangat mengejutkannya, dan dalam pikirannya Hu Sheng adalah seorang yang dapat memunculkan berbagai macam kata yang tiada akhirnya. Wajah dan telinga Hong Jun terbakar saat mendengarnya.

Yang lebih aneh lagi adalah bahwa dia merasa napas Li Jinglong menjadi lebih berat, dan merasakan ada sesuatu yang keras dibelakangnya.

Hong Jun menelan ludahnya. Lengan yang memeluknya secara tidak sadar semakin erat, dan lengan Hong Jun yang memeluk kucing itu juga semakin erat. Kucing itu setengah dicekik dan merasa sangat tidak nyaman, jadi dia menggaruk-garukan cakarnya sambil terus berusaha melepaskan diri.

Hong Jun takut jika kucing itu akan membuat suara dan mengagetkan dua orang di tempat tidur, jadi dia menangkap kaki-kakinya, dan menahannya. Tak terduga, cakar kucing itu tersangkut pada terpal kasar yang menutupi beberapa benda acak di bawah tempat tidur, menariknya ke arah mereka.

Ketika kain kasar itu bergeser ke samping, kepala seorang mayat muncul dalam sekejap, dan Hong Jun bersandar ke belakang saat dia mengeluarkan suara yang yang tak disengaja.

Hong Jun: “Ah—”

Li Jinglong: “…”

Dalam gerakan yang secepat kilat, pertama-tama Li Jinglong menutup mulut Hong Jun kemudian matanya, melindunginya dengar erat dalam genggamannya

Beruntungnya, pada saat yang bersamaan, Jin Yun berteriak kencang di atas tempat tidur, dan suaranya menutupi teriakan Hong Jun. Hu Sheng masih meluapkan kata-katanya yang manis, jadi dia juga tidak sadar akan teriakan Hong Jun.

Bulu kuduk di tengkuk leher Hong Jun berdiri, dan dia merasa kedinginan yang menusuk sampai ke tulang; ini adalah pertama kalinya dia menatap wajah orang mati dengan jarak yang begitu dekat, dan dia hampir ketakutan. Setelah dia sedikit pulih, dia hanya dapat terengah-engah. Wajah Li Jinglong sendiri tampak ketakutan dan tidak percaya saat dia meremas lengannya, menunjukkan bahwa Hong Jun tidak perlu takut.

Di atas tempat tidur, Hu Sheng juga terengah-engah, itu jelas menandakan bahwa mereka telah selesai, dan sekarang dia sedang berbicara dengan Jin Yun.

Hong Jun melihat ke wajah mayat itu dan menyadari bahwa mayat itu telah berada disini cukup lama. Mulutnya terbuka, tapi kulit di wajahnya sudah mulai menghitam, dan tempat dimana seharusnya kedua matanya berada telah menjadi dua wadah kosong. Li Jinglong dengan lembut mengulurkan tangannya untuk membuka ikatan pakaian dari mayat itu, menampakkan bahwa tubuh mayat itu masih menggunakan jubah putih, tubuhnya masih dalam keadaan ketakutan saat meremas dirinya sendiri ketika masuk ke bagian terdalam di bawah tempat tidur.

Hong Jun dengan ragu sedikit menyentuh lengan Li Jinglong, dan menyadari bahwa dia juga merinding.

Hu Sheng tersenyum, “Aku pergi.”

“Kau pergi begitu saja?” Jin Yun tidak ingin berpisah.

“Aku akan datang mengunjungimu lagi di lain hari,” Hu Sheng memeluk Jin Yun dan “bo“, menciumnya di wajah. Dia mengenakan pakaiannya, mendorong untuk membuka pintu, dan Jin Yun keluar bersamanya untuk mengantarnya pergi.

Tidak lama setelah itu, mereka berdua akhirnya keluar dari bawah tempat tidur. Li Jinglong tidak bisa berhenti terengah-engah, dan ketika dia bertemu dengan tatapan Hong Jun, mata mereka dipenuhi dengan kebingungan.

Hong Jun berkata, “Apa yang harus kita lakukan?”

Li Jinglong berpikir sejenak, dan berkata, “Kita tidak boleh berlama-lama berada di sini. Masalah ini sangat penting, pertama-tama kita tidak boleh mengagetkan mereka.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Kalimat aslinya adalah hantu yang menggambar jimat, yang berarti gambarnya benar-benar sangat jelek.
  2. Pagoda Dayan
  3. Orang-orang kuno tiongkok saat menyebut negara Tiongkok.
  4. Ingat bahwa gelar ini merujuk secara khusus pada saudara perempuan ke delapan (lebih tua) dari Yang-guifei.
  5. Kepala mereka tertutupi kabut: sudah salah dari awal.
  6. Ji ji ji: suara monyet.
  7. Yishi Lan: Rumah bordil yang lain, yang ini seharusnya lebih “terpelajar” dan “bermartabat”, terjemahan yang lebih literal akan seperti “Taman Penyair yang Melenceng”.
  8. 1 zhang: 10 chi, 1 chi setara dengan 30 cm, artinya jaraknya 3 m.
  9. Qiang Jin Jiu: puisi yang terkenal dan bercerita tentang meminum anggur yang ditulis oleh Li Bai. Ada LN nya dengan judul yang sama.
  10. Spring Dawn: puisi tentang pemandangan di musim Semi yang ditulis oleh Meng Haoran.
  11. Yu Tai Chun: Ini tampaknya bukan sebuah puisi, tapi tampaknya kesalahan ketik yang dilakukan Feitian; ada bunga yang disebut Yu Tang Chun, dan itu mengacu pada magnolia pink; ada beberapa puisi yang menceritakan tentang hal itu.
  12. Tiga ruas bambu berarti sekitar jam.10 pagi.
  13. Kartu merah berarti dia adalah wanita cantik dan paling mahal di rumah bordil.
  14. Zhang Xuan: pelukis terkenal pada era Dinasti Tang. Biasanya dia melukis para wanita dan bayi. Sayangnya, tak satupun dari karyanya dapat diselamatkan.
  15. Salah satu karyanya yang sayangnya tidak terselamatkan, tetapi kalian mungkin dapat membayangkan lukisannya dari judul yang ada, dan Feitian memilih yang ini untuk Zhao Zhilong.
  16. Jin: kati, 1 jin/kati sekitar 600 gr, jadi berat tempat tidurnya sekitar 240 kg.
  17. Censorate: Departemen lain pada Dinasti Tang, yang bertanggung jawab atas penyelidikan internal.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments