Angin sore bertiup sepoi-sepoi membuat dedaunan dari pohon  menutupi gunung. Membentuk bayang-bayang dengan cahaya senja yang seolah menarik ke sebuah mimpi yang sangat panjang namun indah.

Penerjemah: Keiyuki17
Editor: _yunda


Ketika seseorang ingin melewati Sungai Kuning1, sungai itu sudah membeku karena es. Ketika seseorang ingin mendaki Gunung Taihang, jalanan itu sudah lama tertutup oleh salju.

Langit biru terbentang luas sejauh mata memandang. Puncak Gunung Taihang tertutup salju sepanjang tahun, menyatu dengan awan yang melayang di langit. Tempat ini berada diluar jangkauan burung-burung pada umumnya, hanya beberapa falcon putih yang terbang tinggi di langit, menghadapi angin kencang yang agak dingin ketika mereka berubah menjadi beberapa titik hitam yang menghiasi langit biru yang gelap.

Seekor burung raksasa mencengkeram seikat kain dicakarnya. Burung itu terbang melewati awan, melebarkan sayap selebar yang dia bisa. Saat senja, sinar cahaya keemasan memantul dari bulunya ketika menukik ke bawah dan terbang ke awan yang menyelimuti puncak gunung. Setelah menembus awan, istana yang memukau muncul ditengah-tengah Gunung Taihang, dan dikelilingi oleh beberapa puncak gunung. Dinding luar istana tampak dilapisi oleh api merah karena senja.

Salju tidak pernah turun di dalam istana, sebaliknya tanah di dalam istana malah tertutupi oleh pohon-pohon wutong. Rasanya seperti pertengahan musim panas dibawah sinar matahari yang indah. Angin sore bertiup sepoi-sepoi membuat dedaunan dari pohon  menutupi gunung. Membentuk bayang-bayang dengan cahaya senja yang seolah menarik ke sebuah mimpi yang sangat panjang namun indah.

Burung raksasa mendarat di pelataran di luar istana utama. Ditemani teriakan panjang yang menggema melalui pegunungan itu. Burung itu membuka sayapnya yang berkilauan diikuti oleh suara whooshh yang seperti menutupi bumi. Kemudian menangkupkan kembali sayapnya ke tubuhnya. Ketika sayap-sayapnya memenuhi langit sepenuhnya, seorang pemuda muncul ditengah-tengahnya.

Pemuda itu tingginya hampir 9 chi2. Dia memiliki fitur wajah yang jelas, dan kilauan emas dimatanya yang hitam pekat. Tubuh bagian atasnya berotot □□ , otot bagian perutnya terlihat bagus, kulitnya yang berwarna coklat perunggu dari kepala sampai kaki. Dia mengenakan rok hitam raja yang berhias sulam emas dan berkibar oleh angin. Dia memegang buntelan kain di tangannya dan berjalan perlahan menuju istana utama.

Istana itu dipenuhi oleh pria dan wanita yang berlalu lalang. Ketika melihat pemuda tadi, semua orang langsung berlutut.

“Raja Qing Xiong.”

Rok yang dikenakan oleh orang bernama “Qing Xiong” berkibar dibelakangnya ketika dia melewati atrium yang dipenuhi oleh pohon-pohon wutong, membuat jalanannya semakin dalam menuju istana utama. Malam perlahan datang. Belum terlihat cahaya menyala di istana utama. Ditengah cahaya alami yang menyinari, ada tiga singgasana yang letaknya tinggi di dalam istana, dua singgasana kosong, dan pria berambut merah yang sama-sama mengenakan pakaian berwarna merah duduk di singgasana bagian tengah.

Rambut merahnya seperti api yang menyala-nyala. Jubah kerajaannya tampak seperti emas kemerahan yang menyilaukan bahkan saat berada di ruangan yang gelap, seolah langit pagi mengalir melalui jubah mewahnya. Bulu-bulu panjang yang membentang dari ikat pinggangnya, terjuntai di tanah. Jubah kerajaan bagian atasnya tergantung di bahunya, menampakkan kulitnya yang putih dan otot-ototnya yang kuat.

Ketika dia mendengar suara langkah kaki, dia mendongak, dan kemudian matanya bertatapan dengan Qing Xiong.

Dia adalah raja dari istana ini dan penguasa dari wilayah bersalju dan cakrawala ini. Hanya sedikit orang di dunia ini yang tahu tentang nama yang dihormati “Chong Ming”. Sekarang, hampir 200 tahun berlalu, Dinasti Tanah Suci3 telah berubah, dan ketenarannya yang dulu telah hilang tanpa jejak dalam sejarah sejak lama.

Dia memiliki wajah yang tampan, alis seperti pedang, dan secara alami memancarkan aura yang bermartabat dan mewah. Bekas luka bakar dapat dilihat di lehernya, kulit yang terlihat bengkak menjulur panjang sampai ke bawah salah satu telinganya.

Setelah keheningan yang panjang, Qing Xiong akhirnya berbicara.

“Ketika Kong Xuan mati, dia meninggalkanmu seorang anak yatim untuk dibesarkan.”

“Bagaimana dia mati?” tanya Chong Ming dengan dingin.

Qing Xiong menggelengkan kepalanya dengan lambat dan istana menjadi sunyi senyap.

“Aku tidak mau membesarkan keturunannya dengan manusia,” kata Chong Ming acuh tak acuh.” Pergi ke Tebing Pengorbanan4 di belakang gunung dan temukan tempat untuk membuangnya.”

Qing Xiong menumpukan dirinya dengan satu lutut kemudian meletakkan buntelan kain tadi. Ketika buntelan tadi berada diatas lantai, secara bertahap buntelan itu tumbuh besar dan terbuka. Ke empat sisinya disulam pola bunga lotus yang memancarkan cahaya kusam. Dan ketika buntelan itu sepenuhnya terbuka seorang bocah laki-laki muncul.

Bocah itu meringkuk. Dia memiliki postur yang indah, tapi menggunakan jubah compang-camping ditubuh mungilnya. Dadanya kembang kempis setiap kali dia bernapas. Dia menggenggam sesuatu ditangannya dan posturnya yang melengkung seolah melindungi sesuatu yang penting ditangannya.

“Jika dihitung menurut umur manusia, umurnya 4 tahun sekarang,” lanjut Qing Xiong.

Chong Ming mengamatinya dengan tenang.

Qing Xiong mengangkat bocah itu. Ketika menggendongnya di lengannya, anak itu menggeliat tidak nyaman.

“Dia terlihat seperti ayahnya ketika kecil,” kata Qing Xiong.

Dengan bocah itu di lengannya. Qing Xiong berjalan maju dan berhenti di depan Chong Ming. Dia berbisik, “Lihat—matanya, alisnya.”

Chong Ming tidak merubah jawabannya “Kubilang, Bunuh saja.”

Qing Xiong menyerahkan bocah itu ke Chong Ming. Chong Ming tidak menerimanya, jadi Qing Xiong menaruh bocah itu dipangkuannya. Bocah itu menggeliat lagi, seperti dibangunkan dari tidur nyenyaknya. Bocah itu merasakan dada Chong Ming yang telanjang namun hangat dan tidak sengaja meraih jubah kerajaannya. Di saat yang sama, benda digenggaman tangannya tergelincir keluar — dan itu adalah bulu merak hijau.

“Beri dia nama. Aku pergi.” Qing Xiong menjauh dari singgasana.

“Mau pergi kemana kau?” Tanya Chong Ming dingin. “Kau meninggalkannya disampingku, tapi ketika aku berfikir tentang wanita itu aku akan membunuh bocah ini.”

“Terserah kau” Qing Xiong berbalik menghadap Chong Ming saat melangkah mundur. “Waktu Di Renjie5 telah habis. Dunia manusia perlahan-lahan menjadi tanah yao6. Waktu kebangkitan Mara7 sudah dekat. Aku harus menemukan kebenaran dibalik kematian Kong Xuan”

“Dan aku akan pergi sekarang.”

Setelah dia mengatakan itu, Qing Xiong melompat, membentangkan sayapnya di udara dan berubah menjadi burung hitam raksasa. Dengan kepakan sayapnya, dia memekik panjang saat keluar dari istana dan terbang ke langit malam.

Ketika bocah itu mendengar pekikan Qing Xiong, dia tiba-tiba terbangun.

Bulu merak yang terbuat dari batu jasper itu tergelincir dari jubah kerajaan Chong Ming dan mendarat di lantai, membuat suara ‘ding, ding‘ saat memantul di lantai dan menggelinding di tangga.

Mata bocah itu beralih ke tangannya. Dia menyadari bahwa tangannya menggenggam jubah kerajaan Chong Ming. Dan ketika dia mendongak, dia melihat tatapan Chong Ming.

Tetesan air mata jatuh ke wajah bocah itu. Dengan ekspresi bingung, dia mengulurkan tangan dan membelai wajah Chong Ming, membantunya menghapus air mata.

“Siapa kamu?” Tanya bocah itu malu malu.


Hebei, pelantaran Youzhou. Daun maple berwarna merah darah berputar-putar di langit. Seorang pria dan wanita berdiri di depan sebuah bangunan. Pria itu mengenakan pakaian berwarna biru sedangkan wanita itu terlihat cantik dan memikat. Mereka bersandar pada tembok dan menghadap gunung serta sungai yang megah.

“Ohh, Langit dan Bumi, tak terbatas dan tanpa akhir. Aku sendirian. Air mata mengalir di kedua pipiku,”  Pria berpakain biru itu mengatakannya dengan santai. “Bo Yu benar benar seorang jenius yang tidak lazim.”

“Kenapa suasana hatimu berubah tiba-tiba?” Wanita yang berdiri dibelakangnya berkata dengan santai. “Setelah kematian Di Renjie dunia manusia secara bertahap akan berubah menjadi tanah yao.”

“Tidak perlu terlalu cemas,” gumam pria berpakaian biru. “Kita masih belum tau apakah si tua itu masih memiliki rencana lain. Bagaimana persiapan untuk penyambutan Mara?”

Wanita cantik itu menjawab, “Tuan rumah kali ini sangat sempurna sehingga penyatuannya berjalan lancar, tetapi kita masih perlu mengamati beberapa saat. Ngomong ngomong, apa kau tidak takut mendapatkan masalah setelah membunuh Kong Xuan? Bagaimana jika pria gunung Taihang itu kembali…”

“Jika dia ingin datang, dia pasti sudah melakukannya sejak lama.” Pria itu terkekeh. “Keberuntungan ada ditepi timur tiga puluh tahun yang lalu, tetapi sudah kembali ke barat setelah tiga puluh tahun berlalu8. Zaman keemasan istana Zaojin sudah berakhir. Chong Ming terperangkap oleh racun api, kalau tidak dia tidak harus pensiun dari 200 tahun yang lalu. Sekarang Chang’an telah menjadi milik kita berdua.”

Aluran musik Shizu9 terdengar dari jauh. Pria itu mendekati wanita cantik itu, merapikan rambut yang berada dipelipisnya dan menatap wajahnya. Pria itu berbisik, “Ayo pergi, Yang Mulia menunggu.”


12 tahun kemudian, di Istana Yaojin di puncak gunung Taihang, matahari bersinar terang di pertengahan musim panas dan bayangan pohon-pohon payung berhembus seperti meteor.

Seorang pemuda mengenakan gaun pendek tanpa lengan berwarna merah gelap. Jubah yang bersulamkan pola warna hijau diikatkan di pinggangnya, seperti sepasang batu giok yang indah. Pemuda itu duduk di cabang pohon payung, dia mencampurkan semangkuk serbuk sari putih ditangannya. Dari waktu ke waktu, matanya yang cerah memandang ke istana utama melalui jendela-jendela yang terbuka.

Di dalam istana utama tirai-tirai berkibar karena tertiup angin. Chong Ming berbaring di kursi kerajaan sambil memandang pegunungan yang bermandikan sinar matahari.

“Hongjun!”

“Shh..” Pemuda yang dipanggil Hong Jun mengangkat jarinya sembari dia melihat kebawah.

Orang yang tadi memanggil Hong Jun sebenarnya adalah ikan mas yao10 yang memiliki sepasang tangan dan kaki. Yao itu terlihat sangat aneh, badannya adalah tubuh seekor ikan emas yang panjangnya hampir 2 chi, dengan dua kaki manusia yang ditutupi oleh rambut yang tumbuh dari badannya, sehingga bisa berdiri. Sepasang tangan muncul dari belakang siripnya, dan saat ini dia sedang memeluk batang pohon itu sambil berteriak.

“Turun kebawah, cepat.” Mulut ikan mas yao itu membuka dan menutup sambil mengeluarkan gelembung. Ekor ikannya begoyang-goyang saat terdesak. “Kau tidak tahu bagaimana caranya terbang. Jika kau jatuh dan terluka Yang Mulia Kaisar akan memukul orang.”

Setelah mecampurkan serbuk sari itu, Hongjun berbisik kebawah, “Ayah sudah duduk di dalam selama seharian tanpa ingin melihat siapapun. Dia akan marah jika ada orang yang masuk.”

“Dia masih menunggu seseorang,” jawab si ikan mas yao. “Yang Mulia Kaisar sedang tidak dalam suasana hati yang baik hari ini.”

Hongjun selesai mencampurkan serbuk sari ditangannya dan bertanya, “Siapa yang dia tunggu?”

Ikan mas yao itu berdehem sambil komat-kamit. Hongjun melompat dari pohon lalu dengan cepat berjalan di sekitar istana utama. Sepanjang jalan, kemanapun pemuda itu melewati istana Yaojin semua orang akan membungkuk dan memanggilnya “Yang Mulia Pangeran.” Hongjun akan mengangguk sebagai balasan dari panggilan itu. Setelah tiba di bagian belakang istana utama, Hongjun mengeluarkan kail, terbang keatas, dan mendarat di atas atap.

Dia berjongkok rendah, lalu perlahan bergerak diatas atap Chong Ming. Dia pelan-pelan mengangkat genteng kaca itu, dan dengan mangkuk obat ditangannya dia meniupnya dengan lembut.

Serbuk obat itu terbang keluar dari mangkuk seperti hidup dan bersinar seperti cahaya putih saat terbang di dalam ruangan. Ikan mas yao berbalik ke samping dan menyaksikan itu dari kejauhan istana utama.

Chong Ming menghadap ke gunung Taihang yang tinggi saat tidur di kursi kerajaannya. Tanda merah dilehernya terlihat. Serbuk itu terbang, mengelilingi Chong Ming seperti partikel galaksi yang secara bertahap menempel pada tanda merah itu dan membentuk lapisan es diatasnya.

Ikan mas yao itu membuka mulutnya sedikit lebih lebar.

Seiring dengan bernapasnya Chong Ming, sedikit serbuk itu tiba tiba terhirup. Chong Ming tiba tiba membuka matanya dan ekspresinya berubah menjadi sangat aneh.

Aku berhasil!’ pikir Hongjun. Dia melompat turun dari istana utama dan mengamati Chong Ming bersama ikan mas yao, hanya untuk melihat Chong Ming berdiri dengan tergesa-gesa dan mengamati sekelilingnya. Wajahnya berkedut saat dia melihat keluar istana.

“Ayah…” Hongjun senang, tepat ketika dia memanggil ayahnya, Chong Ming tiba tiba berbalik.

“AH…CHOO!” bersamaan dengan bersin Chong Ming yang menguncang bumi, bola api seukuran dengan kereta kuda langsung meledak dari dalam istana utama dan melesat lurus ke arah pegunungan di luar dengan kekuatan penghancur yang sangat besar. Bola api itu menghantam sisi gunung dengan dentuman keras.

Gunung berguncang, di dalam istana Yaojin para pelayan berteriak karena panik.

“Gempa bumi!”

“AH….CHOO!”

Bola api yang lain keluar dan menghancurkan salah satu dari pilar batu giok putih di istana utama. Hongjun berteriak, lalu meraih ikan mas yao dan berlari menuju atrium untuk bersembunyi di kolam.

“Ah choo! Ah choo! Ah choo!”

Chong Ming bersin tiga kali berturut-turut. Bola api itu meledak dan membakar pohon-pohon payung di atrium. Dan dalam sekejap istana Yaojin berubah menjadi lautan api.

“Ada api! Padamkan padamkan!”

Sebuah bola api jatuh ke kolam di atrium. Ikan mas yao meratap dengan sedih, “ah, sangat panas!”. Sebelum seseorang bisa melakukan sesuatu, Hongjun mencengkram ikan mas yao dan memanjat keluar kolam. Dia bergegas menuju bawah pohon-pohon payung yang hancur terbakar, lalu melemparkannya ke dinding sebelum dia berbalik dan berlari menuju Chong Ming.

“Ayah!” Hongjun berlari ke dalam istana utama. Api sudah menyala di ruangan itu.  Chong Ming menutup mulut dan hidungnya, melirik Hongjun, lalu Hongjun dengan cepat berkata, “Ayah! Aku ingin menolongmu … “

Chong Ming segera berbalik dan secara tak sengaja menghirup udara. Dia tidak bisa menahannya lagi kali ini— api yang bisa menghancurkam langit meledak dan mengubah seluruh istana utama menjadi lautan api. Mengepung Hongjun di semua sisi, Chong Min melesat dan menarik bocah itu ke dekapan dadanya untuk melindunginya.

Pekikan burung phoenix menembus langit. Sebelum seorang pun bisa bereaksi, sayap beraneka warna membentang dari punggung Chong Ming untuk melindungi Hongjun dan dirinya dari api. Sayap itu memancarkan cahaya warna kuning, dibawah perlindungan suci phoenix orang tersebut tidak akan kehilangan sehelai rambut pun bahkan jika mereka terendam dalam lava sekalipun. Kedua pakaian mereka terbakar sampai tidak ada satu benang pun tersisa, menunjukkan tubuh telanjang mereka.

Hongjun berbalik untuk melihat sekelilingnya, istana utama Yaojin sudah terbakar oleh Api Suci Samadhi.

Burung-burung terbang dari segala arah, membawa tumpukan salju ke dalam pegunungan Taihang. Dari bawah ke atas, mereka bergegas menuju puncak seperti air terjun terbalik dan bersiul di udara saat mereka memenuhi bagian dalam Istana Yaojin. Salju mengubur api dalam sekejap sebelum salju itu meleleh.

Dua jam kemudian, noda hitam masih terlihat di wajah Hongjun, saat dia berdiri di luar ruang belajarnya.

“Aiya!”

Penggaris kayu memukul telapak tangannya dan Hongjun berteriak kesakitan.

“Berapa kali kau membuat masalah?!” Chong Ming sudah berganti ke pakaian biasa dan memegang penggaris kayu ditangannya. Dia berbicara dengan dingin, “katakan padaku!”

Hongjun berdecak. Chong Ming memukulnya dengan penggaris kayu lagi dan Hong Jun berteriak kesakitan.

“Apa kau ingin membakar dirimu sampai mati?” Chong Ming mencaci maki. “Berdiri di halaman depan sampai malam, kalau tidak kau tidak boleh makan!”

Chong Ming memukulnya untuk ketiga kalinya, dan kali ini dia memukulnya dengan sangat keras, bahkan membuat air mata Hongjun menetes.

“Pergi kesana dan menghadap tembok!” Chong Min berteriak marah.

Jadi Hongjun hanya bisa menundukkan kepalanya ketika dia berjalan melewati halaman untuk menghadap ke tembok. Ikan mas yao menggaruk sisik-sisik di tubuhnya dan mengikutinya. Dia berjongkok di samping Hongjun, lalu memutar kepalanya ke samping untuk menyendok beberapa salju yang meleleh di halaman untuk meminumnya.

Chong Ming benar-benar marah. Dia harus menderita karena hal yang tidak terduga meskipun dia baru saja berbaring di rumah. Ketika dia berjalan keluar ke halaman, dia bersiul dan burung-burung mulai terbang ke segala arah, membawa ranting-ranting terbakar dan puing-puing dengan paruh mereka.

“Aku sudah bilang untuk tidak membuat masalah,” Ikan mas yao berucap disampingnya. “Berapa kali kau membuat masalah? Ayahmu benar benar dalam suasana hati yang buruk hari ini.”

“Bagaimana aku tahu kalau dia akan bersin?” protes Hongjun. “Aku sudah susah payah selama 3 tahun untuk mencari bubuk teratai salju ini!”

“Mereka semua sudah bilangkan,” jawab si ikan mas yao“Racun api ayahmu tidak bisa disembuhkan. Berhenti menyiksa dirimu sendiri!”

Hongjun berhenti berbicara. Dia berdiri di depan dinding sebagai bentuk hukumannya, dan setelah berdiri beberapa saat, dia menopang beratnya ke salah satu kakinya dan melakukannya berulang-ulang sampai dia bosan. Jadi dia mulai mengamati bekas dinding yang terbakar di halaman itu. Itu tampak seperti lukisan pemandangan, jadi Hongjun mengulurkan tangan dan mengelapnya sedikit untuk melihat garis-garis gunung. Dia sangat puas dan berpikir itu tampak seperti lukisan dari percikan tinta.

“Ayahmu akan memarahimu lagi jika tanganmu kotor!” Ikan mas yao mengingatkan.

Hongjun dengan cepat menjawab, “Aku akan mencuci tanganku sebelum makan.”

Pada sore hari, asap hitam masih mengepul di sekitar istana utama. Bara api masih hangat, salju mencair di mana-mana dan tanah terlihat berantakan. Ketika Chong Ming melihat pemandangan ini, dia benar-benar merasa seperti ingin menangis tapi tidak bisa menitikkan air mata.

Pekikan seekor burung yang melintas terdengar. Seekor burung hitam raksasa yang diselimuti oleh cahaya keemasan terbang menuju puncak gunung Taihang, ketika burung itu mendarat, dia berubah menjadi Qing Xiong, yang mempesona ketika dia berjalan melewati atrium.

“Mengapa tempat ini menjadi kacau seperti ini?” Qing Xiong bertanya dengan heran. Dia memanggil seorang pelayan muda dan bertanya, “Apakah ada musuh yang datang?”

Pelayan itu tidak berani untuk menjawabnya dan hanya berkata bahwa Yang Mulia Chong Ming sudah menunggu di Istana samping. Jadi Qing Xiong berbalik dan masuk menuju halaman samping.

“Qing Xiong!” Sebuah teriakan terdengar.

Bahkan, sebelum dia dapat mengambil beberapa langkah, Hongjun sudah menerkam dan memeluk leher Qing Xiong, seluruh tubuhnya menggantung di punggung pria itu.


Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Sungai Kuning, Yellow River atau Huang He adalah sungai terpanjang kedua di Cina, setelah Sungai Yangtze, dan sistem sungai terpanjang keenam di dunia dengan perkiraan panjang 5.464 km.
  2. 1 chi=33,33 cm
  3. Dynasty of Divine Land
  4. Sacrificial Cliff
  5. Di Renjie: seorang pejabat dinasti Tang dan Zhou
  6. Yao: tanah/daratan yang dikuasai oleh iblis
  7. Mara: iblis/ aliran iblis, berkoalisi dengan kematian, kelahiran kembali, dan nafsu dalam ajaran budha
  8. Sebuah pepatah yang berarti bahwa dunia berubah begitu cepat yang selalu di luar ekpektasi kita, sehingga kita tidak dapat memprediksi apa yang terjadi di masa depan (三十年河东三十年河西).
  9. Shizu: alat musik petik tradisonal.
  10. Yao: seperti ‘yokai’ dalam bahasa jepang.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments