Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Catatan:

[紅袖添香] ‘Wewangian yang Ditambahkan oleh Lengan Merah’ adalah sebuah ayat yang menggambarkan kemewahan pernikahan yang bahagia, “lengan merah” melambangkan seorang pengantin, dan “menambahkan wewangian” menggambarkan seorang pelajar yang belajar dengan diiringi seorang wanita cantik. MXTX menggunakan ayat itu sebagai permainan kata-kata.


Untuk pertanyaan ini, Xie Lian sebenarnya sudah tahu jawabannya. Namun, reaksi Hua Cheng sangat berbeda dari yang dia harapkan.

Setelah terdiam beberapa saat, Hua Cheng tiba-tiba berkata, “Maaf.”

“Apa?” Xie Lian bingung.

Pada awalnya dia berpikir jika ‘Kuil QianDeng’ ini bukanlah semacam lelucon, dia berpikir jika orang yang paling memiliki hubungan dengan masalah ini pastilah Hua Cheng. Tapi tidak peduli seberapa jauh dia berpikir tentang tebakannya sendiri, tidak ada alasan bagi Hua Cheng untuk meminta maaf. Hua Cheng tidak menanggapinya, dan hanya memberi isyarat agar dia terus berjalan maju bersamanya, jadi Xie Lian kemudian memutuskan untuk tetap mengikuti petunjuknya. Keduanya berjalan sebentar, dan setelah berbelok, pemandangan yang ada dan muncul di depannya adalah sebuah cakrawala yang luas; itu adalah sebuah kuil yang begitu menyilaukan, pemandangan itu muncul begitu saja di depan mata Xie Lian.

Dalam sekejap, napasnya berhenti.

Di sekelilingnya adalah sebuah pemandangan berwarna merah tua yang begitu hidup dan cerah dari alam hantu, namun dikelilingi oleh latar belakang yang tak menyenangkan, disana tampak berdiri kuil itu, keindahannya benar-benar tidak mampu dilukiskan dengan kata-kata, ribuan cahaya dari kuil itu begitu memikat seperti surga.

Terletak di tengah kekacauan tempat itu, tampak sebuah kuil yang penuh dengan kecemerlangan dan kecerahan sampai ke intinya, kekacauan itu adalah sesuatu yang berasal dari orang-orang dari Kota Hantu, keadaan yang begitu berbeda namun tetap mengagumkan. Benar-benar meninggalkan kesan yang begitu mendalam dan tidak bisa dilawan bagi Xie Lian. Butuh beberapa saat sebelum Xie Lian pada akhirnya dapat berbicara, “… Ini …”

Keduanya berdiri di depan kuil, dan Xie Lian mengangkat kepalanya untuk melihatnya. Hua Cheng juga sedikit mengangkat kepalanya dan berkata, “Festival Pertengahan Musim Gugur beberapa hari yang lalu, aku pikir gege mungkin akan bergabung dengan mereka dalam permainan membosankan tahunan mereka, jadi aku mengatur tempat ini untuk memberi gege beberapa hiburan ketika kamu menghadiri perjamuan, dan berusaha untuk membuat segalanya menjadi menarik.

“…”

Caranya untuk “membuat segalanya menjadi menarik” benar-benar terlalu mengejutkan. Demi “hiburan” yang ditujukan khusus untuk Xie Lian, ia membangun sebuah kuil dan mengangkat tiga ribu Lentera Berkah Cahaya Abadi!

Hua Cheng menundukkan kepalanya, memperbaiki lengan bajunya, lalu menambahkan, “Aku tidak ingin kamu tahu karena aku mengatur semua ini atas kemauanku. Aku sudah membangun kuil gega di tempat yang berantakan, aku harap gege tidak tersinggung.”

Xie Lian segera menggelengkan kepalanya. Hua Cheng sebenarnya mengira mungkin dirinya memberinya masalah, jadi dia tidak ingin Xie Lian tahu. Xie Lian benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Pada titik ini, untuk mengucapkan terima kasih lagi mungkin tidak berarti apa-apa, dengan demikian, Xie Lian menenangkan dirinya, menarik napas dalam, dan mulai mengagumi ‘Kuil QianDeng’ ini dengan penuh perhatian. Beberapa saat kemudian, dia mencondongkan kepalanya dan bertanya, “Kuil ini sangat megah, seni dan kerajinan yang dibangun di dalamnya benar-benar penuh dengan aura ilahi; kuil ini tidak mungkin dibangun hanya dalam beberapa hari. San Lang, kamu tidak membangun kuil ini baru-baru ini, bukan?”

Hua Cheng tersenyum, “Tentu saja tidak. Gege memiliki mata yang bagus, kuil ini dibangun sudah sejak lama. Aku tidak pernah menemukan bagaimana aku harus menggunakannya, jadi aku memutuskan untuk menyembunyikannya, dan tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk sebelumnya. Aku harus berterima kasih kepada gege karena akhirnya memberikan tujuan kepadanya, dan membuatnya melihat cahaya dari cahaya siang hari.”

Mendengar ini, Xie Lian menghela napas lega.

Jika kuil ini sudah dibangun sejak lama tetapi tidak pernah digunakan dan memiliki niat lain pada awalnya, maka kuil ini mungkin dibangun hanya untuk kenyamanan. Jika Hua Cheng benar-benar telah membangun sebuah kuil hanya untuknya, ia akan merasa lebih tidak nyaman. Tentu saja, dengan kepribadian Hua Cheng, kuil ini bisa saja dibangun hanya untuk bersenang-senang. Meskipun Xie Lian benar-benar ingin tahu mengapa Hua Cheng membangun sebuah bangunan yang sangat berbeda dari bangunan di Kota hantu lainnya, tetap saja Xie Lian menahan dorongan untuk bertanya lebih lanjut. Bukan kebiasaan yang baik untuk mengorek sesuatu terlalu banyak; siapa yang tahu kalau dia mungkin akan menginjak ranjau?

“Ingin masuk dan melihatnya?” Hua Cheng bertanya.

“Tentu saja.” Xie Lian menjawab dengan riang.

Berdampingan, keduanya memasuki kuil itu dengan santai, berjalan melalui jalan setapak yang ditaburi oleh batu-batu giok. Melihat sekeliling, bagian dalam kuil itu tampak begitu lebar dan terbuka, tetapi dia sama sekali tidak memiliki patung ilahi atau bantal yang digunakan para penyembah untuk berlutut. Hua Cheng berbicara, “Kuil ini dibangun dengan tergesa-gesa, jadi jika ada sesuatu yang salah, aku berharap gege tidak keberatan dengan ini.”

Xie Lian menyeringai, “Tidak sama sekali. Aku pikir kuil ini sangat bagus. Benar-benar sangat bagus. Sangat bagus tidak ada patung ilahi atau bantal, lebih baik jika semua itu tidak ada. Tapi, kenapa tidak ada plakat nama di depan kuil ini?”

Ini bukanlah sebuah pertanyaan yang mengkritik; hanya saja, di dalam kuil itu bahkan batu-batu giok yang ada di sepanjang jalan setapak dengan halus terukir kata-kata ‘Kuil QianDeng’, dan hanya plakat nama di atas pintu masuk yang tidak ada, jadi tentu saja itu tidak bisa hanya menjadi pemandangan sederhana, itulah sebabnya Xie Lian penasaran.

Hua Cheng tertawa, “Mau bagaimana lagi. Tidak ada seseorang di sini yang bisa menulis. Lihatlah kerumunan sebelumnya, akan sangat mengesankan jika mereka bisa mengenali huruf. Apakah gege kenal dengan seseorang yang ahli dalam kaligrafi? Aku akan mengundang mereka untuk membantu menulis untuk plakat nama kuil ini. Atau, solusi terbaik menurutku adalah jika gege sendiri mau membuat plakat nama kuil ini, kemudian menggantungnya di sini di Kuil QianDeng. Semua itu akan menjadi benar-benar luar biasa.”

Ketika dia berbicara, dia menunjuk ke arah altar di aula besar. Meja tulis yang terbuat dari batu giok itu sangat panjang dan lebar; di atasnya dihiasi berbagai persembahan yang diatur dengan rapi, pembakar dupa, dan bahkan ada kuas, tempat tinta, dan kertas; benar-benar dipenuhi dengan aura belajar yang menyegarkan. Keduanya mendekat dan Xie Lian berkata, “Lalu bagaimana jika San Lang yang membuatkan satu untukku?”

Mendengar ini, mata Hua Cheng sedikit melebar, seolah tidak mengharapkan dia mengatakan itu, “Aku?”

“Ya.” Jawab Xie Lian.

Hua Cheng menunjuk dirinya sendiri, “Kamu benar-benar ingin aku menulis?”

Xie Lian memperhatikan ketidaknyamanannya dan bertanya, “San Lang, apakah ada yang salah?”

Hua Cheng mengangkat alisnya dan menjawab, “Tidak ada yang salah, hanya saja …”

Melihat bahwa Xie Lian sedang menunggunya untuk menjawab, dia mengepalkan tinjunya dan menjawab, dengan agak tak berdaya, “Baiklah. Hanya saja, aku tidak menulis dengan baik.”

Jawabannya adalah sesuatu yang baru. Xie Lian benar-benar tidak bisa membayangkan ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan Hua Cheng dengan baik. Dia tersenyum, “Oh? Benarkah? Maukah kamu menulis sesuatu dan menunjukannya kepadaku?”

Hua Cheng bertanya lagi, “Kamu benar-benar ingin aku menulis?”

Xie Lian mengeluarkan beberapa lembar kertas kosong, meletakkannya dengan rapi di atas meja tulis batu giok itu dan dengan hati-hati meratakannya, lalu ia mengambil sebuah kuas ungu yang tampak bagus dan meletakkannya di tangannya. “Ayo.”

Melihat bahwa dia telah menyiapkan segalanya, Hua Cheng berkata, “Baiklah, baiklah. Tapi jangan tertawa.”

Xie Lian mengangguk, “Tentu saja.”

Karenanya, Hua Cheng kemudian mengambil kuas itu dan mulai menulis, dirinya benar-benar dipenuhi dengan aura yang penuh dengan keseriusan yang tinggi. Xie Lian tampak memperhatikannya dengan berdiri di sampingnya, tetapi semakin dia memperhatikannya, wajahnya semakin berubah warna.

Dia benar-benar ingin menahannya, tetapi dia tidak bisa melakukannya. Hua Cheng, yang tampak dipenuhi dengan kegilaan, tengah menulis dengan begitu asal-asalan di atas kertas itu, dia berbicara dengan setengah hati-hati dan setengah bercanda, “Gege.”

Xie Lian segera mengubah ekspresinya, “Maafkan aku.”

Dia sendiri juga tidak menginginkannya, tetapi apa yang bisa dia lakukan? Tulisan Hua Cheng terlalu lucu!!!

Bahkan dalam sejarah tulisan gila yang Xie Lian pernah lihat, mereka bahkan tidak sampai mendekati seperti tulisan pada setiap sapuan kuas liar milik Hua Cheng, dan di dalam tulisan itu seolah-olah angin puyuh jahat dan udara kejahatan memenuhinya. Jika ada ahli kaligrafi yang melihat ini, mereka mungkin akan memutar mata dan mati di tempat saat itu juga. Butuh waktu lama dan dengan kesulitan besar sebelum Xie Lian akhirnya bisa melihat setiap karakter dalam tulisan Hua Cheng, disana tampak tertulis sesuatu seperti “lautan luas”, “perairan”, “Gunung Wu”, “awan” dan karakter-karakter lainnya, dan Xie Lian menduga jika Hua Cheng pasti menulis “Di balik lautan luas, air bukan lagi air; Di balik Gunung Wu yang hilang, awan bukan lagi awan.”

Memikirkan bagaimana sosok Hua Cheng yang menguasai dunia hantu, ditakuti oleh semua surga dan neraka, benar-benar mampu mengekspresikan dirinya pada sesuatu yang lain, dan ketika Hua Cheng menulis ayat-ayat seperti itu, Xie Lian benar-benar ingin meledakkan perutnya sendiri yang sejak tadi menahan tawa. Dia mengambil dengan kedua tangannya hasil akhir yang telah ditulis Hua Cheng dengan satu ayunan tangannya, dan dengan terpaksa berpura-pura tenang, “Bagus. Tulisan ini benar-benar memiliki gaya, sesuatu seperti, rasa persatuan yang besar. Tulisan ini punya ‘gaya’.”

Hua Cheng meletakkan kuas dalam genggamannya kembali, tampak tenang dan sopan, dan dia tampak menyipitkan matanya sambil tersenyum, “Kegilaan, maksudmu.”

Xie Lian berpura-pura tidak mendengarnya, dan mulai berkomentar dengan nada serius, “Sebenarnya, tidak sulit untuk menulis dengan baik, menulis dengan ‘gaya’ itulah yang sulit. Jika itu hanya untuk terlihat bagus, tetapi terlihat sama persis dengan ribuan tulisan lainnya, maka itu masih tidak lebih dari tulisan yang biasa saja. San Lang memiliki dasar yang bagus, bakat untuk menulis, kekuatan untuk menelan gunung …” sebenarnya ada dua idiom lain yang mengikuti kalimat itu: Bentang alam yang rusak, pasukan yang hancur. Mau bagaimana lagi; mengarang pujian juga cukup sulit. Hua Cheng berdiri di sana, dan semakin dia mendengarkan apa yang dikatakan Xie Lian, alisnya semakin tinggi terangkat. Dia bertanya dengan ragu, “Benarkah?”

“Kapan aku pernah berbohong kepada San Lang?” Kata Xie Lian.

Hua Cheng dengan tenang dan malas menambahkan beberapa blok dupa ke dalam bejana emas kecil di sampingnya, dan di tengah-tengah aroma yang segar dan samar itu, dia berkata dengan nada acuh tak acuh, “Aku ingin menulis dengan baik, tapi tidak ada yang mau mengajariku, dan aku tidak tahu apakah ada trik untuk itu.”

Dia tentu bertanya kepada orang yang tepat. Xie Lian bergumam dan berkata, “Benar-benar tidak ada trik untuk itu, hanya …” Xie Lian merenung, tetapi merasa bahwa pada akhirnya dia tidak bisa memberitahunya dan memutuskan untuk tidak menunjukkannya, jadi dia kemudian berjalan mendekat, mengambil kuas kembali, dan menulis menyusuri dua ayat terakhir untuk puisi yang ditulis Hua Cheng. Dia melakukannya dalam satu tarikan napas, dan setelah menatapnya sejenak, dia tertawa sambil menghela napas, “Sangat memalukan, aku tidak punya banyak kesempatan untuk menulis dalam beberapa tahun-tahun terakhir ini, jadi ini mungkin tidak sebagus sebelumnya.”

Hua Cheng menatap empat ayat yang tampak berbeda seperti surga dan neraka, karakter dengan gaya yang asing satu sama lain, terutama dua ayat terakhir yang ditambahkan Xie Lian – “Melintasi bunga-bunga yang mekar, mata yang malas; Setengah nasib dalam kultivasi, setengah nasib dalam seseorang yang lain”. Hua Cheng menyatukan ayat-ayat itu dan membacanya beberapa kali, matanya berkedip dan tidak bergerak. Itu adalah beberapa saat sebelum akhirnya dia melihat ke atas, “Ajari aku?”

“Yah sebenarnya aku tidak mempermasalahkannya,” kata Xie Lian. Karena itu, ia mulai memberi tahu Hua Cheng semua tentang pengantar kaligrafi tanpa menahan diri, memberikan wawasan dan refleksi pribadi ketika ia berlatih kaligrafi di masa mudanya.

Udara wangi berembus lembut, lampu terang disana tampak berkilauan. Xie Lian memberi pengantar itu dengan sungguh-sungguh dan Hua Cheng mendengarkan dengan seksama. Di dalam aula besar itu, mereka mengobrol ringan dan santai, nada mereka rendah, melukis gambar kelembutan dari keduanya. Setelah beberapa saat, Xie Lian berkata, “Mengapa kamu tidak mencobanya lagi?”

Hua Cheng bergumam “Oh” dan mengambil kuas dari tangannya, dan menenangkan diri sebelum menulis beberapa karakter lagi. Xie Lian berdiri di sebelahnya dan menyaksikan cara Hua Cheng menulis, menyilangkan tangan, dan memiringkan kepalanya, “Menarik. Tapi…”

Tapi, dia masih merasa ada yang salah dengan cara Hua Cheng menulis. Dia mengamati dengan sedikit mengernyit dan tiba-tiba menyadari di mana masalahnya – Hua Cheng tidak memegang kuas itu dengan benar sejak awal!

Bahkan cara dia memegang kuas itu dengan memegangnya di semua tempat, tentu saja itu salah!

Xie Lian tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis dan dia kemudian berdiri lebih dekat, mengulurkan tangannya untuk memperbaikinya tanpa berpikir, “Kamu salah, seharusnya seperti ini …”

Hanya ketika dia meraih tangan itu barulah dia tiba-tiba menyadari bahwa mungkin tindakan yang dilakukannya benar-benar tidak pantas. Keduanya bukanlah seorang guru dan murid muda, jadi mengajarinya dengan tangan mungkin terlalu akrab. Namun, karena tangan itu sudah terlanjur terulur, tidak ada alasan baginya untuk mundur; sebaliknya, jika dia melakukannya mungkin tindakan ini akan terlihat seperti dirinya terasa terlalu sadar diri. Dengan demikian, setelah beberapa keraguan, Xie Lian tidak melepaskan tangannya. Kemudian dia berpikir, terakhir kali di Ruman Judi, bukankah Hua Cheng mengajarinya cara melempar dadu dengan memegang tangannya seperti ini juga? Meskipun Xie Lian merasa dia sama sekali tidak belajar apa pun, dan bahkan ada sedikit perasaan bahwa dia telah dibohongi, kali ini dia sangat tulus ingin mengajarkan sesuatu kepada Hua Cheng. Dengan demikian, telapak tangan hangat Xie Lian merasa begitu nyaman, menekan dengan begitu dekat tangan dingin Hua Cheng, dengan lembut memegangnya, dan membawanya untuk memandu gerakan kuas di atas kertas itu, berbisik, “Seperti ini …”

Dia bisa merasakan di bawah tangannya, gerakan kuas Hua Cheng semakin liar, jadi dia mengerahkan lebih besar kekuatannya untuk mengendalikannya, memperbaiki gerakan kuasnya. Namun, tidak butuh waktu lama sebelum gerakan itu bahkan lebih liar lagi, menolak arahannya sama sekali, jadi dia hanya bisa memegangnya lebih erat. Karakter yang ditarik melalui kekuatan keduanya digabungkan menjadi karakter yang terus bengkok dan bengkok, sangat tidak pantas dan jelek, dan semakin Xie Lian membimbingnya, semakin dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk melongo, “Ap …”

Seolah-olah lelucon konyolnya berhasil, Hua Cheng mencibir pelan. Tinta di atas kertas itu sangat liar, dan Xie Lian jengkel, “San Lang… jangan seperti ini. Belajar dengan benar. Menulislah dengan benar.”

“Oh.” Hua Cheng menyetujui.

Hanya dengan satu pandangan dan sangat terlihat jelas jika Hua Chenga hanya berpura-pura serius. Xie Lian menggelengkan kepalanya, merasa konyol.

Tangan Hua Cheng mungkin dingin, tetapi dalam genggamannya, untuk beberapa alasan, rasanya seperti bongkahan batu bara panas, dan Xie Lian tidak berani memegangnya lebih erat. Saat itu, mata Xie Lian tiba-tiba menyapu ujung altar, dan dia berhenti.

Ketika dia melihat ke atas, di sudut meja tulis batu giok itu, ada sebuah bunga kecil, dan bunga itu tampak kesepian.


Catatan:

[曾經滄海難為水,除卻巫山不是雲

取次花叢懶回顧,半緣修道半緣君]

Di balik lautan luas air bukan lagi air;

Di balik Gunung Wu yang hilang, awan bukan lagi awan;

Melintasi bunga-bunga yang mekar, mata itu tampak malas;

Setengah nasib dalam kultivasi, setengah nasib dalam seseorang yang lain.

Ini adalah sebuah puisi yang ditulis oleh penyair Tang Yuan Zhen, mengungkapkan cinta dan pengabdiannya yang tak berkesudahan kepada istrinya. Setelah melihat laut yang luas (istrinya), genangan air lainnya tidak bisa lagi dibandingkan; setelah menghilangkan awan dan kabut Gunung Wu (istrinya), tidak ada pemandangan lain yang bisa dibandingkan. Berjalan melalui bunga (wanita lain), pikirannya hanya terfokus pada kultivasi dan istrinya.

Dua ayat pertama saat ini digunakan untuk mengungkapkan nostalgia memiliki sesuatu yang baik dan indah, dan kesepian karena tidak memiliki hal lain yang dapat dibandingkan dengannya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Swarovski
Swarovski
4 months ago

Sweet banget chp ini