Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


“Aku …” kata Xie Lian.

Sebelum Xie Lian menyelesaikan kalimatnya, dia merasa Hua Cheng meremas dengan sedikit kekuatan pada pergelangan kakinya, serangkaian serbuan rasa sakit merayapi kakinya, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memundurkan tubuhnya sedikit.

Meskipun kekuatan Hua Cheng sudah sangat terkendali dan sedikit rasa sakit ini tidak ada artinya bagi Xie Lian, tetapi untuk beberapa alasan, di depan Hua Cheng, Xie Lian tampaknya tidak dapat menyembunyikan rasa sakitnya. Mungkin itu karena apa yang dikatakan Hua Cheng sebelumnya dan dia berusaha terlalu keras untuk menahan rasa sakit miliknya dan itu menjadi bumerang baginya. Merasakan Xie Lian memundurkan tubuhnya ke belakang, Hua Cheng langsung memegangi pergelangan kakinya lebih erat dan meyakinkannya dengan suara lembut, “Jangan khawatir. Ini akan segera berakhir. Jangan takut.”

Xie Lian menggelengkan kepalanya, tetapi gerakan tangan Hua Cheng menjadi lebih lembut, tangannya mengobati lukanya dengan cepat, dan ketika dia mengangkat tangannya lagi, jarum kecil itu sudah berhasil dilepaskan dari telapak kakinya. “Baiklah, sudah selesai.”

Xie Lian memfokuskan matanya dan melihat jika ujung jarum itu tampak memunculkan kilauan racun ganas disana. Hua Cheng menutup kelima jarinya dan dengan mudah menghancurkan jarum itu menjadi segumpal kecil gas hitam, menghilang ke udara. Melihat ini, Xie Lian mengesampingkan semua ketidaknyamanannya dan berkomentar dengan tenang, “Perasaan dendamnya begitu besar. Jenis roh janin seperti ini seharusnya tidak memiliki kekuatan spiritual sekuat ini.”

Hua Cheng berdiri, “Kamu benar. Kemungkinan besar, roh janin ini tidak berasal dari keguguran normal.”

Saat itu, seorang pria bertopeng memasuki ruangan itu dengan kepala menunduk, sebuah kendi yang terbuat dari tanah liat disajikan dengan kedua tangannya, dan dia tampak menyerahkan benda itu kepada Hua Cheng. Xie Lian tanpa sadar memeriksa untuk melihat apakah pergelangan tangan pria itu masih memiliki belenggu terkutuk disana, tapi kali ini lengan baju pria itu diikat sepenuhnya dan menutupi apapun yang ada disana. Hua Cheng mengambil kendi itu dengan satu tangan dan meliriknya, lalu berbalik untuk memberikannya kepada Xie Lian yang masih duduk di atas futon hitam. Xie Lian belum menggapai kendi itu sebelum dengan tiba-tiba suara teredam seorang anak yang tengah menangis dapat terdengar dari dalam kendi itu, dan sepertinya ada sesuatu yang mengetuk dari dalam benda ini dengan begitu gila, membuat kendi tanah liat ini sedikit bergetar, pemandangan ini seperti kendi itu tidak bisa mempertahankan posisi berdirinya, melihatnya membuat Xie Lian menjadi lebih berhati-hati.

Ketika dia mengambil kendi tanah liat itu, dia sedikit merobek sudut kertas segel yang menyegel kendi itu dan mengintipnya ke dalam, dia bisa merasakan perasaan dan aura dingin yang mengerikan naik ke tulang punggungnya.

Di dalam kendi itu tampak terbaring genangan sesuatu seperti janin. Meskipun kedua lengan dan kakinya tumbuh besar, mereka tampak lemah dan tidak berdaya, dan kepalanya tetap tertutupi bayangan. Secara keseluruhan, apa yang ada di dalamnya tidak lebih dari benjolan organ yang bengkok.

Ini adalah bentuk aslinya!

Xie Lian dengan segera menutup kembali kendi itu dan berkata, “Aku mengerti.”

Dia pernah mendengar bahwa ada orang-orang yang akan mencari wanita hamil yang belum mencapai batas waktu kelahirannya, dan dengan kejam memotong anak dari rahim seorang wanita itu, mengubah mereka menjadi iblis kecil untuk kemudian memberikan mantera kepadanya, mendesak mereka untuk melukai, baik untuk melindungi seseorang yang membentuk mereka atau untuk melindungi tempat tinggal dan keberuntungan mereka. Dengan melihat ini, roh janin itu tidak diragukan lagi adalah produk dari mantra jahat, dan ibunya mungkin pernah menjadi penyembah Xie Lian, jika tidak, tidak akan mungkin ada jimat perlindungan miliknya yang terselip di pakaian anak yang belum lahir itu.

Xie Lian bergumam lalu berkata, “Roh janin ini ditangkap olehmu, tetapi apakah San Lang keberatan jika aku membawanya kembali untuk menyelidikinya? Karena sebelumnya aku sudah pernah bertemu dengannya sekali di Gunung Yu Jun, dan karena ini adalah kedua kalinya roh ini muncul di hadapanku, aku tidak tahu apakah semua ini kebetulan atau apakah ada semacam hubungan.”

“Jika kamu ingin mengambilnya, maka ambil saja.” Hua Cheng berkata, “Bahkan jika aku tidak muncul kamu akan tetap bisa menangkapnya.”

Xie Lian terkekeh, “Bagaimanapun, San Lang bisa menangkapnya dengan mudah, jauh lebih baik daripada aku yang mencoba menangkapnya.”

Itu adalah komentar yang terucap begitu saja dari mulutnya, tetapi Hua Cheng kemudian berkomentar, “Apakah itu benar? Dan jika aku tidak muncul, bagaimana caramu untuk menangkapnya? Memakan roh itu ke dalam perutmu, lalu menelan pedang milikmu juga untuk selanjutnya?”

“…”

Dia benar-benar memukulnya tepat sasaran.

Tidak ada jejak ketidaksenangan di wajah Hua Cheng, tapi Xie Lian entah bagaimana merasa mungkin Hua Cheng sedikit marah.

Insting miliknya memberitahunya bahwa jika dia tidak menjawab dengan benar, Hua Cheng akan menjadi lebih marah. Saat dia memikirkan tanggapannya, dia tiba-tiba merasa perutnya sedikit menyusut, dan tanpa berpikir, Xie Lian berkata, “… Aku sedikit lapar.”

“…”

Baru setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, Xie Lian menyadari apa yang dia katakan. Terlalu malu untuk melihat reaksi di wajah Hua Cheng, Xie Lian mencoba menjelaskannya dengan jujur, “Kali ini benar …”

Beberapa saat kemudian Hua Cheng akhirnya mengeluarkan suara “pfft” dan tertawa terbahak-bahak.

Begitu dia tertawa, seolah-olah semua awan suram di dalam diri Xie Lian tersebar, dan dia menghela napas lega. Hua Cheng di sisi lain, setengah tertawa, setengah mendesah, menganggukkan kepalanya, “Baiklah.”

Hua Cheng ingin membuat dan menahan Xie Lian terus berada disana dan mengadakan pesta di Manor Surga, tetapi ketika Xie Lian mendengar kalimat “memulai perjamuan dan pesta”, dia tahu semua itu akan menjadi masalah besar, dan sebaliknya, dia menyarankan agar keduanya pergi berjalan-jalan dan menemukan sesuatu untuk dimakan bersama. Hua Cheng menyetujuinya.

Cukup hangat di dalam Manor Surga, dan sementara keduanya basah kuyup sebelumnya, entah mengapa tubuh mereka berdua segera mengering. Namun, Xie Lian yang saat itu masih mengenakan pakaian wanita, dan pakaiannya benar-benar sangat mencolok, dia memutuskan untuk meminjam satu set pakaian dari Hua Cheng, dan dia kembali berpakaian dengan mengenakan jubah putih bersih. Setelah itu keduanya kemudian berangkat, dan bahkan setelah berjalan cukup jauh, ratapan roh janin itu masih bisa terdengar, teriakan “ibu” masih terdengar berdering di udara, menunjukkan keuletannya yang kuat. Namun, sudah begitu banyak lolongan dan ratapan dari para iblis dan hantu yang berasal dari seluruh Kota Hantu, sehingga tangisannya tenggelam di dalam suara-suara itu, membuat suaranya tidak sedikit pun terdengar.

Jalan utama Kota Hantu ramai seperti biasanya, dan di kedua sisi jalan itu ada begitu banyak kios yang menjual makanan-makanan khas. Meskipun kelompok iblis dan hantu ini tetap sama seperti sebelumnya, sikap mereka terhadap Xie Lian benar-benar berbeda dari terakhir kali ia berkeliaran disana. Hua Cheng berjalan di sebelahnya, berdekatan satu sama lain, dan semua pemilik kios yang memiliki tampilan yang begitu aneh tampak keluar untuk menyambut mereka dengan senyum, saling berebut untuk menyambut mereka di tempat mereka berada, membungkuk hampir di tengah jalan, mengingatkan Xie Lian tentang idiom acak: Rubah dengan asumsi kekuatan harimau1.

Selain memberi hormat kepada Hua Cheng, ada ratusan dan ribuan pasang mata yang menyaksikan dan mengawasi Xie Lian dengan mata panas, seolah menghakimi dan menduga sosok dirinya. Siapa dia sampai bisa berjalan bersebelahan dan begitu dekat dengan Penguasa Kota Hantu? Semua ini membuat Xie Lian bertanya-tanya apakah mungkin dia membuat keputusan yang salah lagi. Berada dalam posisi yang terus diawasi dan disambut oleh sekelompok monster dan iblis di sepanjang jalan, di depan jutaan orang itu, Hua Cheng tampaknya cukup betah berada disana, dan dia bertanya, “Apa yang ingin kamu makan?”

Pada akhirnya setelah melihat sebuah kios yang menjual sesuatu yang tidak aneh, Xie Lian ingin mengakhiri semuanya dengan cepat dan berkata, “Disini tidak apa-apa.”

Namun, Hua Cheng berkata, “Jangan disini.”

“Kenapa?” Xie Lian bertanya penasaran.

Hua Cheng tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi dia memberi isyarat kepadanya untuk melihat ke dalam. Xie Lian melihatnya, dan ketika pemilik kios itu melihat mereka berhenti di depan kios miliknya, dia menggosok tangannya dengan gembira seolah menunggu untuk menyambut mereka, dengan gugup menyeka meja, kursi, dan bangku dengan penuh semangat. Namun, apa yang dia gunakan untuk membersihkan semua perabotan itu adalah lidahnya.

“…”

Semua mangkuk dan alat pemotong di dalam kios itu meneteskan butiran air yang berkilauan setelah dijilat oleh lidah yang lebar dan panjang itu, mencerminkan kilauan yang membuat mereka tampak baru, tetap Xie Lian memutuskan untuk meninggalkan kios itu dengan tegas, dan bergegas pergi. Setelah beberapa langkah, ia melihat kios lain; sebuah kios yang menjual sup ayam yang tampak rapi, tanda di depan pintu mengatakan, “Ayam rumahan, kaldu yang dimasak sangat hati-hati. Dibuat segar, dijamin bersih”. Xie Lian berhenti, “Oh, sup ayam. Bagaimana dengan satu mangkuk?”

Namun Hua Cheng berkata lagi, “Jangan yang ini juga.”

Xie Lian berkedip, “Apakah ada masalah dengan piring atau dengan ayamnya?”

Hua Cheng membawanya ke dalam toko, menarik seperangkat tirai, dan memberi isyarat agar Xie Lian mencarinya. Penasaran, Xie Lian menjulurkan kepalanya ke dalam, dan segera terdiam. Di dalam dapur itu ada sebuah kendi yang besar, api menderu di bawahnya, dan uap tampak keluar dari sana. Di dalam kendi itu ada seorang lelaki besar dengan kepala ayam di atas kepalanya dan dia seperti sedang mandi di dalam air mendidih itu dengan gembira. Di sebelah kendi itu ada banyak ember yang berisi garam, merica, bumbu, dan bumbu-bumbu lain seperti itu. Di depan toko itu, seorang pelanggan berteriak, “BOSS, TAMBAHKAN LEBIH BANYAK GARAM KE DALAM SUPNYA! SUP INI MASIH TERLALU HAMBAR!”

Saat dia tengah mandi, pria itu meraih segenggam besar bumbu dan mengoleskannya pada dirinya sendiri, menggosoknya dengan keras ke seluruh permukaan tubuhnya dengan handuk, menambahkan cita rasa ke dalam supnya. Lalu, dia mengeluarkan teriakan yang panjang: “KUKURUYUK!”

Xie Lian kemudian menjatuhkan tirai dan berjalan ke luar toko itu diam-diam.

Setelah melakukan putaran besar, keduanya akhirnya menemukan sebuah toko, spesialisasinya adalah “Makanan Lezat Asli dari Alam Fana”. Meskipun Xie Lian sedikit curiga akan seberapa ‘otentiknya’ makanan disana, misalnya, sejauh yang dia tahu, koki dari dunia fana tidak akan menggunakan daging monster besar yang sulit diburu untuk membuat kebab Shish2, tetapi sebagai perbandingan, ini adalah toko yang paling normal di antara semua toko yang dilalui mereka berdua.

Saat keduanya duduk, kerumunan hantu yang telah mengikuti di belakang mereka segera mendekat dan mengelilingi mereka, dengan penuh perhatian menawarkan dan tampak menambahkan lebih banyak hidangan ke dalam makanan mereka. Tukang daging itu membawa kaki manusia yang putih dan tebal, menamparnya dengan keras, dan berseru dengan suara kasar, “TUANKU! APAKAH KAMU INGIN MEMAKAN KAKI YANG SEGAR?! BARANG INI BARU DATANG HARI INI!”

Kerumunan disana kemudian berteriak kepadanya, “PERGILAH! APAKAH KAU PIKIR TEMAN TUAN INI AKAN MEMAKAN SAMPAH SEPERTI ITU? KAU PIKIR INI UNTUK HANTU HIJAU? MUNGKIN KAKIMU SENDIRI YANG LEBIH ENAK DIMAKAN!”

“BENAR-BENAR BAU DARAH YANG BEGITU BUSUK! BENAR-BENAR MENJIJIKKAN!”

Babi itu benar-benar mengangkat salah satu kaki babinya dan berteriak, “JIKA TUANKU DAN TEMAN TUANKU AKAN MENYUKAINYA, KAKI MILIKKU BUKANLAH APA-APA, AKU AKAN MEMOTONGNYA!! BIAR KUBERITAHU, DAGING KAKIKU INI BENAR-BENAR PENUH CITA RASA!”

Xie Lian tidak bisa menahan senyum dan memakan buburnya dengan kepala tertunduk. Hua Cheng sendiri benar-benar mengabaikan mereka, sehingga kerumunan hantu dan iblis disana dengan sungguh-sungguh mencoba untuk mendorong barang-barang mereka kepada Xie Lian, masih tetap mengoceh.

“Spesialisasi makanan jalanan: jus otak! Ini adalah otak monster yang dipilih secara khusus, masing-masing dari semua ini sudah dibudidaya lebih dari lima puluh tahun! Ciumlah aroma yang sedap ini, Tuanku!”

“Puding darah bebek ini benar-benar bagus, kwek! Lihatlah, kwek! Darah ini baru saja dipotong dari dagingku sendiri, kwek! Maukah kamu mencobanya, kwek!”

“Buah-buahan milik kami adalah buah kuburan asli yang otentik, kami tidak memilih yang tumbuh pada mayat, itu benar, bukan kata-kata dusta …”

Gunungan demi gunungan makanan diberikan dan didorong kepadanya, semua ini begitu banyak sehingga Xie Lian mengalami kesulitan untuk melihat semua makanan ini, dan berterima kasih kepada mereka tanpa henti. Dia tidak ingin menyia-nyiakan gelombang kasih sayang yang kuat ini, tetapi pada saat yang sama, ada begitu banyak makanan jalanan yang khas yang sangat sulit diterimanya, dan dalam kekacauan ini, dia melihat ke arah Hua Cheng yang masih tampak duduk di sana, tangannya menopang pipinya, mengawasi Xie Lian dengan senyum lebar. Xie Lian melihat sekelilingnya, berdeham, lalu berbisik, “… San Lang …”

Baru saat itulah Hua Cheng akhirnya berbicara, “Tidak perlu memikirkan mereka, gege. Mereka hanya terlalu bersemangat karena ada tamu.”

Seorang hantu segera berkata, “TUANKU, JANGAN MENGATAKAN ITU! INI BUKAN SEPERTI KITA HANYA BERSEMANGAT HANYA KARENA SESEORANG YANG BIASA! JIKA TUAN ADALAH AYAH LELUHUR KAMI, LALU KAKAK TUAN INI ADALAH PAMAN LELUHUR KAMI…”

“YA! TENTU SAJA KITA HARUS BERSEMANGAT KETIKA PAMAN LELUHUR KAMI DATANG BERKUNJUNG!”

Xie Lian tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis, bertanya-tanya mengenai apa pun yang mereka katakan, dan Hua Cheng kemudian berteriak, “Hentikan omong kosong itu! Diamlah!” Dan kerumunan hantu disana buru-buru berseru, “YA TUAN! TUANKU SELALU BENAR. KAMI AKAN MENUTUP MULUT KAMI. DIA BUKAN PAMAN LELUHUR!”

Saat itu, tanpa diduga, beberapa hantu wanita yang terkikik di samping mereka akhirnya tidak bisa menahan diri mereka lagi, dan berseru, “Hei! Kamu … bukankah kamu adalah Daozhang gege yang mengatakan pada Lan Chang bahwa kamu tidak bisa bangun?”

“…”

Xie Lian hampir meludahkan seteguk buburnya di tempat saat itu juga.

Hal ini seperti kerumunan hantu disana telah menemukan sebuah rahasia besar dan mereka meledak, “SIALAN! KAMU BENAR!”

“INI ADALAH DIA, INI DIA, INI DIA! LAN CHANG SUDAH BERJALAN KE SELURUH KOTA HANTU DAN MENGATAKANNYA KEPADA SEMUA ORANG!”

Iblis-iblis yang lebih pintar dengan tergesa-gesa membekap mulut hantu yang terus mengoceh itu, bagaimanapun, Hua Cheng pasti mendengarnya. Xie Lian mengintip dan melihat Hua Cheng yang pada saat itu tampak tengah mengernyitkan alisnya, mengawasinya dengan mata yang tidak bisa dibaca, seolah mencoba memahami apa yang dimaksud dengan “bangun” yang ditujukan kepada Xie Lian. Pada awalnya, itu adalah alasan yang digunakan Xie Lian ketika hantu perempuan itu terus menempel padanya, dan meskipun dia masih bisa mengatasinya seolah itu bukan apa-apa ketika dirinya terus diolok-olok oleh kerumunan hantu sebelumnya. Namun sekarang setelah dikatakan tepat di depan Hua Cheng, Xie Lian benar-benar tidak bisa menahannya, berharap mati-matian jika dia bisa mencekik dirinya sendiri sampai mati dengan tegukan bubur di depannya.

“Aku …” Xie Lian memulai.

Hua Cheng tampaknya menunggu dengan sabar untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Xie Lian, tetapi bagaimana mungkin hal seperti ini bisa dijelaskan? Apakah dia benar-benar akan berdebat dengan wajah lurus bahwa dia sebenarnya tidak impoten?

Xie Lian berkata dengan lemah, “… Aku kenyang.”

Itu bukanlah kebohongan, dia benar-benar sudah kenyang, jadi dia segera berdiri dan bergegas keluar dari kios itu. Di belakangnya, kerumunan hantu itu membawa gunungan makanan lezat dan hidangan khas yang mereka bawa sebelumnya dan melolong tanpa henti, “TU-TUANKU KAMU TIDAK INGIN MAKAN LAGI?!”

Hua Cheng bergegas mengejarnya tetapi kemudian berhenti sejenak dan melihat ke belakang kemudian memberi perintah lagi kepada kerumunan hantu di belakangnya, “ENYAHLAH!”

Kerumunan hantu itu bergegas pergi. Di depannya, Xie Lian berjalan secara acak, tetapi melihat bahwa hantu dan iblis itu tidak lagi mengikutinya, ia memperlambat langkahnya untuk menunggu Hua Cheng. Tidak butuh waktu lama sebelum Hua Cheng akhirnya berhasil menyusulnya dan berdiri di depannya dengan kedua tangan di sampingnya, berbicara dengan suara serius, “Aku tidak tahu mungkinkah gege memiliki kesengsaraan yang tak terkatakan?”

Xie Lian segera berteriak, “AKU TIDAK!”

Kemudian dia menyesali kata-katanya dan dengan sedih berkata, “… San Lang.”

Hua Cheng mengangguk, “Baiklah. San Lang mengerti. Aku tidak akan berbicara sepatah kata pun lagi tentang masalah ini.”

Dia memasang wajah yang sangat baik dan patuh, tetapi dia jelas-jelas berpura-pura. Xie Lian berkomentar, “Kamu sangat tidak tulus.”

Hua Cheng tertawa, “Aku janji, kamu tidak akan pernah bisa menemukan orang lain yang lebih tulus daripada aku di dunia ini.”

Mendengar jawaban yang begitu akrab ini, Xie Lian juga tertawa.

Beberapa saat kemudian, dia bertanya dengan suara serius, “San Lang, apakah kamu tahu di mana Kuil QianDeng?”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Footnotes

  1. [ 狐假虎威 ] ‘Rubah dengan Asumsi Kekuatan Harimau’ – orang yang lemah tampaknya kuat hanya karena mereka berada di sebelah seseorang yang kuat.
  2. Makanan populer berupa potongan daging yang ditusuk dan dibakar.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments