Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Saat itu juga, mata Xie Lian melotot.

Tidak pernah dalam hidupnya ada seseorang yang memperlakukannya seperti ini sebelumnya.

Pertama, tidak ada yang berani melakukannya; kedua, tidak ada yang bisa untuk melakukannya. Namun, orang ini sangat cepat seperti iblis dan kemunculannya begitu tiba-tiba sehingga sebelum dia bahkan memiliki kesempatan untuk membela dirinya sendiri, dia telah jatuh ke dalam keadaan seperti itu. Karena ketakutan, Xie Lian begitu gugup dan anggota badannya meronta-ronta, berusaha mati-matian untuk mendorong seseorang di depannya, tetapi dia malah tersedak air dalam tegukan besar yang masuk dalam tenggorokannya, berdeguk ketika deretan manik-manik air kristal itu menyembur keluar dari mulutnya. Ini adalah keadaan yang benar-benar buruk di kedalaman air. Dengan demikian, tangan di pinggangnya memegangnya lebih erat, tubuh mereka saling berdekatan, dan tangan Xie Lian yang berjuang dengan kuat dilipat dan dihempaskan ke dadanya sendiri, tidak bisa bergerak. Bibirnya masih tertutup rapat, ciuman itu semakin dalam, dan aliran udara dingin yang lembut perlahan melewatinya. Tercengang dan tak berdaya, ketika ia mulai menerima nasibnya, Xie Lian akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah orang yang berada di hadapannya ini. Itu adalah Hua Cheng.

Saat dia menyadari itu adalah Hua Cheng, dia berhenti memberontak, dan pikiran acak yang tak terhitung jumlahnya mulai muncul di dalam benaknya, semua pikiran-pikiran itu benar-benar tidak sesuai untuk waktu dan tempat saat ini, seperti: Jadi itu adalah Hua Cheng! Tidak heran dirinya begitu dingin. Iblis tidak perlu bernapas tetapi dia masih bisa memberikan udara kepadaku?! Apakah iblis bisa tenggelam di dalam air?

Saat itu, Hua Cheng tiba-tiba membuka matanya.

Ketika dia menatap mata gelap itu dalam jarak yang begitu dekat, Xie Lian langsung membeku, dan segera setelah itu, dia mulai kembali memberontak, lengannya menggapai-gapai sesuatu, seperti bebek yang begitu bodoh dan canggung hingga menenggelamkan dirinya sendiri lebih dalam. Lengannya yang terus memberontak itu dengan mudah dihentikan oleh Hua Cheng, dan lengannya yang lain masih memegang dengan begitu kuat di pinggang Xie Lian, dia membawanya dan berenang ke permukaan dengan cepat. Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya keduanya menembus permukaan danau.

Air dalam danau ini terasa membeku dan udara di atas permukaan juga terasa begitu dingin, namun, seluruh tubuh Xie Lian terbakar. Saat mereka mengambang di atas permukaan air danau, Xie Lian ingin berbalik, tetapi awan asap hitam itu masih berkerumun di atas air, mengawasi mereka dengan mata predatornya, dan ketika melihat seseorang muncul, ia segera melaju ke depan untuk meraihnya. Xie Lian hanya memalingkan kepalanya sedikit sebelum Hua Cheng menariknya kembali dengan tangan di belakang kepalanya. Bibir mereka belum terpisah bahkan satu detik pun sebelum sekali lagi kedua bibir itu saling menempel erat. Bibir Xie Lian terasa sakit dan mati rasa karena ciuman itu, merasa seolah-olah dirinya akan kehilangan akal sehatnya. Jika ini adalah orang lain, tidak perlu waktu lama sebelum dia memutuskan untuk menikam orang itu dengan pedangnya, tapi ini adalah Hua Cheng, jadi dia benar-benar bingung harus berbuat apa, air matanya siap jatuh karena kesusahan. Saat itu, di balik wajah Hua Cheng, dia melihat ribuan kupu-kupu perak menerobos air di sebelah mereka.

Bersamaan dengan guncangan yang tajam, hujan tebal kupu-kupu itu keluar dari permukaan air seperti peluru, sayap mereka memantulkan tatapan dingin, begitu tajam seperti bilah pedang, dan dalam beberapa saat roh anak itu berteriak karena tebasan sayap-sayap itu, asap hitam di atas mereka kemudian menyebar, dan mencoba melarikan diri ke segala arah. Namun, jaring kupu-kupu itu sudah membungkus dan menutupi wilayah itu dari tanah ke atas langit, menyegel awan hitam itu di dalamnya, dan tidak peduli berapa banyak awan itu mencoba menabrak dan menumbuk jaring itu, ia tidak dapat menerobosnya. Mata Hua Cheng tidak pernah terangkat sekalipun, dan dengan Xie Lian dalam pelukannya, mereka sekali lagi terjun ke dalam air. Setelah beberapa saat, kedua bibir itu akhirnya terlepas.

Setelah terpisah, aliran gelembung udara lainnya keluar dari mulut Xie Lian, dan Hua Cheng membebaskan tangannya, melemparkan sepasang dadu. Dadu itu benar-benar berputar di dalam air, putarannya begitu cepat, dan dari putaran itu menimbulkan aliran arus yang kuat dan berputar sebelum akhirnya berhenti. Setelah itu, keduanya sekali lagi menembus permukaan air.

Kali ini, ketika mereka menembus permukaan air, mereka melihat pantai tidak jauh dari mereka, dan hanya pada saat itulah Hua Cheng kemudian membawa Xie Lian untuk berenang. Siapa yang tahu apakah itu benar-benar pantai, disana ada beberapa lampu dan suara-suara kerumunan orang banyak, yang tampaknya dekat namun jauh. Di belakang mereka di atas permukaan air, pasukan kupu-kupu itu melesat ke arah langit dengan awan asap hitam di dalam jaring yang mereka buat, mereka terbang menuju cahaya redup di kejauhan, meninggalkan jejak ratapan panjang dari roh anak itu, “IBUUUUUU − !!! … “

Mereka berdua naik ke darat, duduk dengan berat di tanah, dan saling memandang satu sama lain, Xie Lian akhirnya bisa melihat Hua Cheng dengan baik.

Pada kenyataannya, mereka berdua baru berpisah selama beberapa hari, tetapi Xie Lian merasa sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu. Setiap kali mereka bertemu, Hua Cheng terlihat begitu tampan dengan cara yang berbeda. Hua Cheng kali ini tampaknya lebih tua beberapa tahun dibandingkan dengan yang terakhir kali. Wajahnya selalu tampan, berkilauan dan kilauannya lebih terang dari air. Rambutnya sangat hitam, kulitnya sangat putih, dan di sisi kanan pipinya ada kepangan rambut kecil yang sangat tipis, sebuah benang merah tampak melewatinya dengan rumit. Ini adalah pertama kalinya Xie Lian menyadari bahwa di atas dahi Hua Cheng di sekitar garis rambutnya tampak membentuk huruf V, dan itu membuat wajahnya terlihat lebih indah dan memikat. Penutup mata hitam yang menutupi mata kanannya memancarkan jejak aura membunuh, melembutkan pesona halus dalam dirinya, membuat ketampanannya mencapai keseimbangan yang hampir sempurna.

Alis Hua Cheng tampak menyatu, seolah berusaha menahan sesuatu yang lain, dan setelah terengah-engah beberapa kali, dia membuka mulut untuk berbicara, suaranya jelas lebih rendah dari sebelumnya, “Yang Mulia, aku …”

Dari rambut di kepalanya ke seluruh tubuhnya, seluruh tubuh Xie Lian meneteskan air. Bibirnya bengkak, matanya kosong, dan hanya setelah beberapa saat, dia merasa begitu bingung dan dalam kebingungannya dia bergumam, “Aku … aku … aku …”

Dia terus menggumamkan kata “Aku” dan sedikit terbata-bata sebelum dengan tiba-tiba melanjutkan, dia secara acak berkata, “Aku sedikit lapar.”

Mendengar ini, Hua Cheng terkejut.

Xie Lian sama sekali belum pulih dari keterkejutannya, dan berkata dalam keadaan kacau, “Tidak. Aku … aku … aku sedikit mengantuk … “

Dia membalikkan badannya, punggungnya menghadap Hua Cheng, dan tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya menyentuh tanah, meraba-raba seolah mencari sesuatu. Di belakangnya, Hua Cheng bertanya, “Apa yang kamu cari?”

Xie Lian secara tidak sadar tidak berani menatapnya, dan berkata dengan tidak jelas, “Aku mencari sesuatu. Aku mencari topi bambuku. Di mana topi bambu milikku?”

Jika orang lain tengah menonton adegan ini, mereka pasti akan berteriak, “Dia sudah berakhir! Dia menjadi bodoh!” Tetapi dalam kenyataannya, dia bersikap seperti ini hanya karena Xie Lian belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, dan kejutan itu terlalu hebat, membuatnya kehilangan sedikit dirinya sendiri. Xie Lian merangkak dengan tangan dan lututnya, berjalan dengan punggung masih menghadap Hua Cheng, bergumam, “… Aku, aku tidak bisa menemukannya. Aku akan pergi sekarang. Aku akan pulang untuk makan … Aku harus mengumpulkan barang bekas sekarang …”

“…”

“Maaf.” Kata Hua Cheng.

Merasa bahwa suara di belakangnya semakin dekat, Xie Lian melompat berdiri dan berteriak, “AKU AKAN PERGI SEKARANG!”

Teriakan ini terdengar seperti teriakan meminta tolong. Hua Cheng buru-buru berkata, “Tidak!”

Xie Lian bergegas mencoba melarikan diri, tetapi dalam beberapa langkah kakinya seperti tidak mampu menahan beban tubuhnya, dan dia jatuh kembali ke tanah. Melihat ke belakang, ada jejak darah di belakangnya, jarum yang tertanam begitu dalam di bagian bawah kakinya benar-benar masih berada disana. Hua Cheng segera meraih pergelangan kakinya, suaranya benar-benar begitu khawatir, “Ada apa?”

Xie Lian segera mencoba menarik kakinya ke belakang, “Tidak ada apa-apa, tidak sakit sama sekali, tidak apa-apa!”

Hua Cheng sedikit marah, “Bagaimana mungkin tidak sakit!” Lalu tangannya bergerak – dia benar-benar akan melepaskan sepatu botnya! Ketakutan, Xie Lian merangkak ke depan lagi, menangis ketika dia merangkak, “TIDAK, TIDAK TIDAK TIDAK, TIDAK ADA APA-APA!”

Dia terus merangkak, mencoba lari dengan begitu cepat dan Hua Cheng akhirnya berhasil menahannya, menghentikannya. Itu adalah kekacauan total dan akhirnya membuat semua orang di pantai memperhatikan mereka berdua. Kerumunan itu kemudian meraung, berceloteh dan mengoceh, sekelompok besar orang aneh yang entah siapa itu mulai datang mengelilingi mereka, berteriak, “APA YANG TERJADI DISINI! BETAPA BERANINYA! TIDAKKAH KALIAN TAHU TEMPAT APA INI? APAKAH KALIAN SUDAH BOSAN HIDUP ATAU INGIN MATI? AKU …. ASTAGA, BUKANKAH INI TUANKU?”

Kerumunan hantu itu dengan serempak segera berteriak, “SEMOGA HARIMU MENYENANGKAN TUANKU!”

Xie Lian mengeluarkan ratapan di dalam kepalanya, berharap mati-matian dia bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ini adalah Kota Hantu!

Ada cukup banyak hantu di antara kerumunan itu yang dia ingat sepertinya pernah bertemu dengannya dari terakhir kali dia datang, Xie Lian bahkan melihat sesosok kepala babi yang akrab. Mereka berdua basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki, dikelilingi oleh manusia dan hantu yang tak terhitung jumlahnya yang masih mengawasi mereka, dan Hua Cheng masih memegang pergelangan kakinya tanpa keinginan untuk melepaskannya. Ini adalah adegan yang mengejutkan dan benar-benar memukul telak wajah Xie Lian. Tetapi siapa yang tahu bahwa begitu kerumunan hantu ini mengenali Hua Cheng, mereka menjadi lebih bersemangat lagi, berteriak, “TUANKU! APAKAH KAMU MENCOBA UNTUK MEMERKOSA SESEORANG?! APAKAH KAMU MEMERLUKAN BANTUAN?! KAMI AKAN MEMBANTUMU MEMEGANGINYA!”

“ENYAHLAH!” Perintah Hua Cheng.

Kerumunan hantu itu buru-buru pergi. Tetapi bahkan ada banyak dari mereka yang masih menonton kedua orang ini dari jauh, tidak berani mendekat, Xie Lian benar-benar ingin pingsan dan mengakhiri semuanya, karena setelah itu Hua Cheng tampak bangkit, membungkuk dan mengangkat tubuhnya dengan lembut, mengangkatnya ke dalam gendongannya, dan dia kemudian berjalan dengan langkah berat meninggalkan pantai.

Xie Lian masih mengenakan pakaian wanita, dan hanya bisa bersyukur bahwa bantal yang sebelumnya sudah tidak lagi ada di dalam perutnya, kalau tidak, sosoknya yang masih menyamar menjadi wanita hamil akan melukiskan gambar yang bahkan lebih mengerikan. Namun, pikiran menakutkan itu akhirnya berhasil membawanya kembali ke masa kini. Dia sedikit memberontak di dalam pelukan Hua Cheng tetapi tidak berhasil, jadi dia berdeham pelan, “… San Lang, maafkan aku. Aku benar-benar menyedihkan sekarang, betapa memalukannya.”

Apa yang terjadi saat itu benar-benar pukulan mengejutkan yang begitu hebat bagi dirinya. Kata ‘pukulan’ itu tentatif, tetapi ini adalah kali pertamanya mengalami hal-hal seperti ini. Namun, itu bukan hanya karena ini adalah pertama kali baginya. Dalam berabad-abad yang lalu, ini tidak seperti tidak ada iblis wanita penggoda yang mencoba menggodanya dengan tubuh telanjang mereka, tetapi Xie Lian belum pernah bereaksi dengan begitu memalukan seperti ini sebelumnya. Jadi mengapa dia berubah menjadi kondisi seperti sekarang? Dia hanya bisa menebak bahwa itu pasti karena Kepala Pendeta hanya mengajarinya cara mempertahankan diri terhadap godaan wanita tetapi tidak mengajarinya cara mempertahankan diri dari godaan seorang pria, dan dia tidak memiliki pengalaman apapun, itulah sebabnya dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi ketika menghadapi hal-hal seperti ini.

Memikirkan kembali sikapnya sebelumnya, Xie Lian sedikit malu, dan merasa mungkin dia sudah bereaksi terlalu berlebihan, berpikir jika San Lang mungkin bermaksud baik padanya, tetapi berakhir dengan menakut-nakuti Xie Lian sampai pada titik ini, dia benar-benar tidak sopan. Hua Cheng menjawab, “Tidak ada yang seperti itu. Aku adalah orang yang melewati batas dan menyinggung gege. San Lang salah dan meminta maaf.”

Melihat bahwa sepertinya Hua Cheng tidak mengambil apa pun dari sikap yang ditujukan Xie Lian ke dalam hatinya, Xie Lian diam-diam menghembuskan napas lega. “Aku dalam kesulitan dan kamu hanya berusaha untuk membantu, itu sebenarnya bukan masalah besar. Oh itu benar,” Dia tiba-tiba mengingat apa yang tengah dia lakukan sebelumnya, “San Lang, mengapa kamu tiba-tiba muncul lagi? Di mana roh anak itu?”

Namun Hua Cheng menjawab dengan nada berwibawa, “Mengobati lukamu adalah yang utama.”

Di sela-sela percakapan mereka, keduanya akhirnya tiba di depan sebuah bangunan megah, dan ketika Xie Lian mendongak, pintu masuk bangunan itu bertuliskan ‘Manor Surga’.

Xie Lian benar-benar heran. Apakah Manor Surga yang terbakar itu benar-benar telah dibangun kembali secepat ini? Dan juga bangunan ini terlihat sama persis dengan yang lama. Namun dengan hati nurani yang bersalah, Xie Lian terlalu malu untuk bertanya tentang hal itu. Hua Cheng masuk, menggendongnya, dan menaiki futon hitam disana. Xie Lian duduk di atas futon, dan Hua Cheng sendiri setengah berlutut di bawah, memegang kaki Xie Lian yang terluka, memeriksa tusukan kecil yang kini telah tampak diwarnai oleh darah di bawahnya.

Posisi itu membuat Xie Lian merasa tidak nyaman, dan dia berteriak, “Tidak!” Dan dia membuat gerakan untuk turun, tetapi Hua Cheng mendorongnya kembali, dengan cepat melepaskan sepatu bot dan kaus kakinya dengan tangannya.

Pada kaki Xie Lian ini kebetulan disana ada belenggu terkutuk, sebuah rantai hitam pekat tampak terkunci di pergelangan kaki yang bersih dan putih itu, memberikan kesan yang begitu kontras bagi siapapun yang melihatnya. Mata Hua Cheng hanya tertahan sejenak di pergelangan kaki yang lembut itu sebelum telapak tangannya menempel pada cedera Xie Lian.

“Ini mungkin sedikit sakit,” Hua Cheng berkata, “Jangan menahan diri, gege. Menangislah jika itu menyakitkan.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments