Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


“Dia mungkin menelannya,” kata Xie Lian.

Pedagang kaya itu bergidik, “Me-menelannya?!”

Xie Lian mengangguk. Pedagang kaya itu panik, “Lalu, DaoZhang, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku punya istri lain yang sedang hamil, bagaimana jika monster itu datang lagi?!”

Ada wanita hamil lain di rumah tangga ini?!

Xie Lian mengangkat tangannya, “Tenanglah. Izinkan aku mengajukan pertanyaan lain: Apakah Nyonya ingat di mana dia bertemu anak itu dalam mimpinya?”

Pedagang kaya itu berkata, “Dia bilang itu sedikit kabur tapi sepertinya sebuah rumah besar, tapi dia tidak begitu mengingatnya. Itu hanya mimpi, siapa yang mungkin bisa mengingat sesuatu dengan sangat jelas?” Lalu dia menggertakkan giginya, “Aku … Setelah lebih dari empat puluh tahun aku akhirnya menantikan seorang putra, kesengsaraan macam apa ini! DAOZHANG! KAMU AKAN MENANGKAP DAN MEMBUNUH MONSTER ITU, BUKAN? AKU TIDAK BISA MEMBIARKANNYA MENYAKITI SESEORANG LAGI DI DALAM KELUARGAKU!”

“Jangan panik, jangan panik,” Xie Lian mencoba menghiburnya, “Aku akan melakukan yang terbaik.”

Pedagang kaya itu gembira dan dia menggosok tangannya, “Bagus, bagus, apakah DaoZhang butuh sesuatu? Kompensasi apa pun tidak akan menjadi masalah!”

Namun Xie Lian menolak, “Aku tidak perlu kompensasi apa pun, tapi aku punya beberapa hal yang kubutuhkan dan aku membutuhkan bantuanmu. Pertama, tolong carikan aku satu set pakaian wanita kasual; pakaian ini harus cukup longgar sehingga seorang pria bisa memakainya, dan juga, aku khawatir aku akan membutuhkan seikat rambut dari Nyonya untuk menggambar mantra.”

Pedagang kaya itu memberi isyarat kepada para pelayan, “Kalian mendengarnya?”

Xie Lian melanjutkan, “Kedua, tolong beri tahu Nyonya ini untuk tidur di kamar yang berbeda, tetapi tidak peduli di mana atau kapan, jika dia mendengar suara anak aneh memanggilnya ‘ibu’, jangan dijawab. Benar-benar jangan dijawab, akan lebih baik jika dia tidak membuka mulutnya sedikitpun. Meskipun biasanya ketika seseorang yang sedang bermimpi, mereka sering tidak bisa menyadari bahwa mereka sedang bermimpi, indera dan kesadaran mereka tumpul, tetapi jika kamu berulang kali mengingatkannya di sebelah telinganya, pikiran itu akan tertanam dalam-dalam, mungkin itu akan berhasil.”

Pedagang kaya itu menerima perintah itu. Xie Lian kemudian berkata, “Ketiga, aku punya dua anak kecil bersamaku hari ini, tolong rawat mereka dan beri mereka sesuatu untuk dimakan.”

“Hal-hal kecil seperti itu, tidak peduli apakah itu dua permintaan, bahkan seratus dari mereka dan aku akan melakukannya untukmu!” Seru pedagang kaya itu.

Akhirnya, dia datang pada pokok yang paling penting. Xie Lian berkata, “Dan empat.”

Dia mengambil dari lengan bajunya jimat perlindungan yang diberkati oleh Kuil PuQi, dan menyerahkannya dengan kedua tangan, berbicara dengan nada serius, “Tolong ambil mantra perlindungan ini dan berteriaklah, ‘Yang Mulia Putra Mahkota, tolong lindungi aku!’ − dengan begitu, keseluruhan keinginan ini akan ditandai di bawah nama kuil milikku.”

“…”

Malam itu, Xie Lian sekali lagi memakai pakaian seorang wanita.

Meskipun dia merasa tidak begitu aneh hanya dengan melakukan crossdressing sekarang, tetapi ini adalah pertama kalinya dirinya berpura-pura dan menyamar menjadi wanita hamil. Tidak butuh setengah dari waktu dupa sebelum dia selesai. Dia memasukkan bantal ke dalam perutnya, lalu mengambil rambut milik Nyonya sebelumnya dan menyembunyikannya ke dalam bantal itu, dan kemudian dia berbaring. Xie Lian merasa begitu tenang dan mampu menguasai dirinya, memelankan pernapasannya, dan tidak butuh waktu lama sebelum dia akhirnya jatuh tertidur.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu sebelum Xie Lian perlahan membuka matanya. Di depan penglihatannya bukan lagi kamar tidur nyonya pedagang yang kaya itu, tetapi sebuah paviliun yang sangat indah.

Reaksi pertama Xie Lian adalah untuk merasakan apakah Fang Xin masih di sebelahnya, dan ketika dia merasakannya, dia merasa tenang. Fang Xin adalah pedang suci, jadi dia selalu diikat erat-erat dan terus menempel kepadanya. Setelah itu, dia dengan perlahan duduk tetapi merasakan bagian bawah telapak tangannya lengket, dan ketika dia mengangkat tangannya untuk melihat, dia mendapati dirinya berbaring di tempat tidur yang ditutupi oleh genangan darah besar yang menakutkan, darah itu sama sekali belum kering, menodai setengah dari tubuhnya menjadi warna merah, benar-benar peringatan yang mengejutkan .

Xie Lian terbiasa melihat pemandangan aneh, jadi dia turun kemudian dari tempat tidur, berjalan beberapa langkah, dan tiba-tiba merasakan sesuatu jatuh dari tubuhnya. Dia melihat ke bawah dan itu adalah sebuah bantal, dan dia buru-buru mengambilnya dan memasukkannya kembali ke dalam perutnya. Ketika dia mengambil beberapa langkah lagi, perutnya kembali turun, jadi Xie Lian harus terus memegangnya dengan kedua tangan ketika dia melihat sekeliling tempat itu.

Tumbuh di dalam sebuah istana, ia dipengaruhi oleh hal-hal yang ia lihat dan dengar, tanpa disadari dia mampu menyerap pemandangan sekelilingnya sekaligus. Ketika dia melihat pemandangan atau sesuatu yang mengacu pada keindahan, Xie Lian memiliki seperangkat penilaiannya sendiri. Pembukaan kecil ini, baginya, mungkin saja sangat indah, tetapi tempat itu dipenuhi dengan aroma harum yang penuh bujukan, jadi jika dia menebak, ini mungkin sebuah restoran atau tempat hiburan. Juga, dibandingkan dengan gaya arsitektur saat itu, gaya ini benar-benar sangat tua, benar-benar seperti sebuah bangunan dari ratusan tahun yang lalu, tetapi dia tidak tahu di mana.

Dengan demikian, monster yang menyerang nyonya itu tidak mungkin hantu roh janin yang digugurkan oleh saudagar kaya itu, karena ketika roh-roh jahat membuat ilusi, mereka hanya bisa menggunakan apa yang mereka ketahui. Jelas bahwa sebuah bangunan tua yang berusia berabad-abad ini hanya bisa berasal dari roh-roh jahat yang juga tua. Setelah berjalan sekali lagi, tidak ada seorang pun, dan Xie Lian kembali ke kamar tempat ia pertama kali dibaringkan.

Itu adalah kamar tidur wanita. Ada lemari tinggi berlaci, laci-laci itu bisa ditarik keluar, dan di dalamnya ada pakaian bayi dan mainan seperti boneka dan drum yang berderak. Xie Lian memeriksa setiap item dengan hati-hati dan menemukan semua benda-benda itu masih baru, menunjukkan bahwa nyonya pemilik ruangan ini begitu mencintai dan merawat benda-benda itu. Artinya, bagi ‘anak’ ini, wanita ini penuh cinta dan kasih sayang.

Dia mencari-cari lagi, dan tiba-tiba, Xie Lian terkejut. Di dalam pakaian bayi itu ada sebuah jimat perlindungan, dan jimat perlindungan itu adalah miliknya!

Tercengang, Xie Lian memeriksanya kembali tiga kali. Itu bukan kesalahan. Disana ada sangat banyak jimat perlindungan miliknya. Dan, itu bukanlah jimat perlindungan sederhana yang sama yang dia buat ketika dia pergi ke gunung untuk mengambil rempah-rempah, menjahitnya, dan menggambarnya, jimat perlindungan ini adalah jimat miliknya delapan ratus tahun yang lalu, di puncak ketenaran Pangeran Xian Le, hampir semua orang di negeri ini memilikinya. Bahan dan desain semuanya sangat rumit, dan dari mana asalnya, apakah itu telah diberkati, semua ada di sana.

Mungkinkah, wanita dari pemilik ruangan ini pernah menjadi penyembahnya?

Saat itu, dalam keheningan yang mati, Xie Lian tiba-tiba mendengar serangkaian tawa teehee.

Itu adalah suara cekikikan bayi, benar-benar sangat tiba-tiba, dan suara itu bergema di mana-mana, keberadaannya tidak jelas. Xie Lian tidak bergerak atau bereaksi, tetapi pikirannya berpacu: suara itu terdengar familier, di mana dia pernah mendengar suara ini sebelumnya? Di mana?

Lalu ia tersadar, dan dalam benaknya terdengar suara seorang anak kecil: “Pengantin baru. Pengantin baru, pengantin baru dalam tandu merah baru.”

“Air mata yang meluap, melewati celah gunung, tersenyum di bawah kerudung pengantin …”

Itu adalah suara roh anak yang dia dengar di Gunung Yu Jun ketika dia berada di tandu sebelumnya!

Ketika Xie Lian tersentak dari itu, tawa roh anak itu juga tiba-tiba berhenti. Dia berbalik dengan cepat tetapi tidak melihat bayangan siapapun.

Setelah permasalahan yang terjadi di Gunung Yu Jun berlalu, ia juga mengejar dan bertanya mengenai roh seorang anak dalam susunan komunikasi spiritual, tetapi saat itu semua orang mengatakan kepadanya bahwa tidak ada roh anak atau hal semacam itu yang ditemukan di gunung, dan hanya dia yang mendengar suara roh anak itu. Namun sekarang, ini adalah kedua kalinya roh anak ini muncul di hadapannya, jadi apakah ini kebetulan? Atau disengaja?

Roh anak itu berhenti tertawa, dan berseru, “Ibu.”

Suara panggilan “Ibu” ini datang dari suatu tempat yang dekat, tetapi Xie Lian tidak tahu dari mana asalnya. Dia berdiri di sana tanpa berbicara, menahan napas, dan mendengarkannya dengan saksama dengan kedua telinganya.

Setelah keheningan beberapa saat, suara anak itu memanggil lagi, “Ibu. Pegang aku.”

Kali ini, Xie Lian akhirnya menemukan jawabannya – suara itu datang dari perutnya!

Kedua tangan Xie Lian kembali memegang perut palsunya dan saat itu dia benar-benar heran dan tanpa dirinya sadari entah kapan semua itu terjadi, bantal yang tengah dipegangnya menjadi lebih berat. Dia memukulnya sekali, dan ada sesuatu yang jatuh keluar dari pakaiannya, kelihatannya itu adalah seorang anak kecil berkulit putih pucat, dia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya sebelum bergegas pergi menuju kegelapan dan menghilang. Xie Lian bergegas untuk melihat dan apa yang dimuntahkannya adalah beberapa gumpalan benang dan seikat rambut hitam. Tampaknya mantra ilusinya berhasil. Hantu kecil itu ingin melahap ‘anak’ Xie Lian seperti yang dilakukannya kepada wanita hamil itu, tetapi dia malah melahap kapas dalam bantal yang dimasukkan ke dalam jubah Xie Lian. Segera setelah itu, Xie Lian mendengar suara itu lagi yang terdengar menangis dengan tajam, “IBU!”

Tidak peduli bagaimana kerasnya dia memanggilnya, betapa riangnya tangisan itu, Xie Lian masih menahan dirinya, tidak pernah membuka mulutnya. Dia menganggap bahwa roh anak itu adalah roh janin, dan kamar ini adalah kamar ibunya atau di mana mereka pernah tinggal. Roh jahat akan mengambil bentuk dan usia ketika mereka mati, namun sebagian besar roh ini telah menunjukkan dirinya sebagai awan asap hitam atau bayangan putih buram, yang berarti roh itu sendiri tidak tahu seperti apa bentuknya, jadi dia tidak memiliki bentuk yang tepat. Juga, pakaian bayi di laci-laci itu jelas belum pernah digunakan, ditambah genangan darah yang sangat besar di tempat tidur, Xie Lian menyimpulkan bahwa wanita di kamar ini pasti keguguran, dan anaknya yang belum lahir sudah memiliki bentuk saat itu dan memiliki sedikit kesadaran. Setelah menjadi roh janin, ia ingin kembali ke perut ibunya tetapi akhirnya mengetuk pintu-pintu Nyonya dari saudagar kaya itu.

Ketika sosok itu memanggil “ibu” dalam mimpi wanita itu, itu adalah langkah yang salah baginya untuk membuka mulut untuk mengakuinya. Harus dikatakan bahwa ikatan antara ‘ibu’ dan ‘anak’ adalah istimewa, dan pengakuan itu adalah bentuk ‘izin’. Ketika dia membuka mulutnya, dia memberikan kesempatan kepada makhluk jahat itu untuk masuk, dan hantu kecil itu kemudian masuk, menyelinap ke dalam perutnya, dan melahap janin yang semula ada di sana, seekor burung di dalam sarang. Xie Lian memang adalah seorang pria, tetapi dia tidak terlalu yakin apakah jika dia membuka mulutnya roh anak itu juga akan mengambil kesempatan untuk menyusup ke dalam perutnya, untuk berjaga-jaga, dia lebih baik tutup mulut.

Dengan demikian, dia tetap menjaga bibirnya tertutup rapat dan mencengkeram Fang Xin di tanganmya, Xie Lian kemudian mencari jejak anak itu. Xie Lian memiliki naluri yang sangat kuat ketika dia akan menghadapi suatu bahaya, sesuatu yang disempurnakannya melalui ribuan pertempuran. Tanpa perlu melihat dengan jelas, selama dia memiliki firasat di mana dia harus menikamkan pedangnya, dia selalu berhasil memukul sasaran dengan tepat sembilan dari sepuluh kali percobaannya. Meskipun saat ini dirinya sedang berada di dalam ilusi yang diciptakan oleh roh anak itu, serangan Xie Lian melemah, tetapi setelah menyerang beberapa kali dia yakin serangannya akan berhasil. Setelah beberapa saat, Xie Lian tiba-tiba merasakan sakit yang tajam di bagian bawah kakinya. Sepertinya dia menginjak sesuatu yang sangat tajam, dan dia berhenti untuk beberapa saat.

Roh anak itu melihat dia jatuh ke dalam perangkapnya dan mengeluarkan semburan tawa pendek yang licik. Suara itu lembut tetapi seharusnya tidak berasal dari seorang anak kecil, lebih seperti seorang pria dewasa yang jahat, suaranya sangat tajam, membuat darah seseorang mengalir dan merasa begitu dingin. Namun, wajah Xie Lian bahkan tidak pernah bergerak, dan dia tidak menghentikan langkahnya; dia membalik tangannya dan menghunuskan pedangnya lagi, menusukkan tepat pada sasarannya!

Roh anak itu menjerit kesakitan, membakar dirinya sendiri, dan bersembunyi begitu jauh, dan jauh. Ketika itu, Xie Lian melihat ke bawah untuk melirik ke bawah sepatu botnya, dan ternyata dia menginjak jarum kecil tipis yang berdiri tegak. Jarum itu jelas ditempatkan oleh roh anak itu dengan sengaja, dan tampaknya berharap Xie Lian menangis kesakitan. Namun, perhitungannya salah. Xie Lian sangat pandai mentolerir rasa sakit, dan tidak peduli bahkan dia menginjak jarum, jika kakinya terperangkap oleh jerat besar ia tidak akan mengeluarkan suara jika situasinya meminta dia untuk tidak bersuara.

Jarum kecil mungil itu sudah menembus dagingnya, dan Xie Lian ingin menariknya pada awalnya, tetapi karena roh anak itu melarikan diri setelah tidak melahap apa pun, dia takut jika roh itu akan mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri dan melukai orang lain, jadi dia kemudian memutuskan untuk mengejarnya keluar dari ruangan dengan jarum yang masih menempel di kakinya. Setelah beberapa saat, dia berhenti merasakan sakit dan berlari seperti angin. Tidak ada pemandangan roh anak itu di mana pun di bangunan itu, dan Xie Lian hanya merasa bingung; ‘Apakah roh itu benar-benar menjadi takut pada seranganku?’ dan ketika dia memikirkan hal itu, sebuah jendela tidak jauh darinya terbuka dengan sendirinya tanpa adanya embusan angin disana.

Xie Lian segera bergegas berlari dan mendekat, tetapi kemudian dikejutkan oleh apa yang dilihatnya. Di luar jendela itu tidak ada pemandangan jalan, tidak ada gunung, tidak ada pejalan kaki, hanya ada sebuah danau yang dalam, tanpa dasar.

Di sisi lain danau ini ada sebuah rumah, dan di rumah itu duduk dua anak kecil. Lang Ying dan Gu Zi tampak duduk di meja makan. Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa tepat di atas kepala mereka ada pusaran asap yang tebal dan hitam, bergoyang-goyang dan terkekeh, menangis dengan renyah, “IBU! IBU!”

Jantung Xie Lian langsung turun, tangannya mencengkeram ambang jendela, hendak memanggil dan memperingatkan mereka, tetapi kemudian dia ingat untuk tidak membuka mulutnya dan memaksa suaranya kembali turun.

Meskipun ini tidak lebih dari ilusi roh anak itu, tetapi dia tidak tahu apakah jika Lang Ying dan Gu Zi benar-benar ditarik ke dalam dunia ini, dan jika demikian, maka segala kerusakan yang terjadi pada mereka di sini akan mempengaruhi tubuh mereka yang sebenarnya. Dia berniat untuk menemukan sebuah vas bunga atau sesuatu sejenis itu untuk melemparkannya sebagai sebuah peringatan tapi dia tidak bisa menemukan apapun. Meja dan kursi tidak akan muat untuk dikeluarkan melalui jendela, dan disana juga ada sebuah danau di antara dua bangunan itu, jadi apakah ini berarti dia harus berenang?

Saat itu, Gu Zi, tampak lelah, menguap. Awan asap hitam itu tampak berkumpul dan seolah-olah benda itu akan menyelinap masuk ke dalam mulutnya.

Pertahanan tubuh anak-anak sangat lemah, bahkan tanpa izin pun mungkin hal itu dapat mengganggu tubuhnya, dan Xie Lian tidak memiliki waktu untuk berpikir tentang berenang. Dalam keputusan sepersekian detik, dia berteriak, “TUTUP MULUTMU! LARI!”

Begitu kata-kata itu keluar, Lang Ying dan Gu Zi tersentak dan menutup mulut mereka dengan terkejut, melompat berdiri. Namun roh anak itu tiba-tiba menghilang, dan detik berikutnya, awan asap hitam meledak di wajah Xie Lian.

Meskipun Xie Lian menutup mulutnya saat dia berteriak, dia bisa merasakan aliran udara dingin turun ke dalam tenggorokannya, asap hitam itu masuk ke dalam perutnya, perutnya terasa membeku seolah-olah semua organnya akan membeku dalam sepersekian detik. Xie Lian menggertakkan giginya, dengan tergesa-gesa merobek beberapa jimat perlindungan, mengeluarkan ramuan herbal dan kertas-kertas jimat di dalamnya dan mengunyahnya dengan kuat, menelannya. Tidak butuh waktu lama sebelum tenggorokannya terasa begitu gatal, dan awan asap hitam itu kemudian keluar!

Xie Lian menutupi mulutnya dengan lengan bajunya, dia terbatuk tanpa henti, tersedak oleh air mata, dan pikirannya dengan cepat mencoba memikirkan cara untuk mengatasinya. Setelah awan asap hitam itu keluar, awan itu masih berputar dan melekat padanya tanpa henti, Jadi Xie Lian menekan ambang jendela, mengangkat dirinya dan beranjak, melompat ke dalam danau di luar bangunan itu.

Splash, dan tubuh Xie Lian tenggelam jauh ke jantung danau. Dia menahan napasnya, menyilangkan kaki dan lengannya, dan membentuk posisi duduk sambil merenung, membiarkan tubuhnya perlahan tenggelam di danau yang membeku. Dia mendongak dan sedikit bisa melihat kabut hitam itu berputar di atas, menyegel seluruh permukaan air. Setelah dia muncul dia harus mengambil napas dalam-dalam, dan jika dia menghirup udara disana, maka dia pasti akan mengisap roh anak itu ke dalam perutnya. Jika seorang pria dewasa memiliki perut yang besar dan bengkak, itu pasti tidak akan lucu.

Namun, keputusannya untuk melompat ke dalam air dia lakukan hanya untuk memberikan waktu pada dirinya sendiri untuk berpikir. Tidak butuh waktu lama sebelum Xie Lian mendapat sebuah ide dan berpikir, ‘Jadi bagaimana jika aku menelannya? Aku hanya perlu menelan Fang Xin juga setelahnya.’ Dia juga telah mempelajari trik itu ketika dia tampil di jalanan, dan meskipun itu mungkin menyakitkan, tetapi apa pun akan dilakukannya, selama roh anak itu dapat ditangkap.

Dia sudah memutuskan, Xie Lian melepaskan tangannya dan mulai berenang ke samping. Namun, suara cipratan air yang dalam datang dari atas, dan tiba-tiba, itu adalah sebuah warna merah, warna merah menyala, merah menyala muncul di depan matanya.

Begitu tebal, warna hitam gagak yang tebal dan berkelok-kelok memenuhi penglihatannya, percikan dan gelembung udara menggelegak, dan tidak ada yang bisa dilihatnya. Xie Lian mengerjap, berusaha mati-matian untuk menyingkirkan ribuan hingga jutaan kristal seperti gelembung itu. Tapi kemudian, dia merasakan sepasang lengan yang kuat. Salah satu tangan melingkari pinggangnya, dan yang lain memegang dagunya.

Detik berikutnya, sesuatu yang dingin dan lembut mendarat di atas bibirnya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments