Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Prajurit muda itu berbalik, “… YANG MULIA?”

Dengan satu tangan menopang tubuhnya sendiri di tanah, salah satu tangannya yang lain Xie Lian gunakan untuk menutupi mulutnya dengan keras kepala, napasnya tidak menentu, bahunya bergetar. Hanya dengan mendengarkannya dan melihat siluetnya, orang lain mungkin akan berpikir dia sedang menangis.

Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, baik itu sebelum maupun sesudah kenaikannya, Xie Lian mengalami cobaan yang sangat meletihkan. Apa yang dirasakannya sekarang jauh lebih sulit daripada uji coba terberat di Paviliun Suci Kerajaan. Kekuatan lengannya untuk menopang berat tubuhnya semakin lama semakin terkuras, dan tubuhnya terjungkal ke samping. Ketika dia berbaring di tanah, dia terus meracau dan kesadarannya hampir jatuh, dia melihat bocah itu tampak seperti ingin memasuki gua, dan Xie Lian berteriak, “JANGAN MASUK! KUBILANG JANGAN PERNAH MASUK TIDAK PEDULI SUARA APAPUN YANG KAMU DENGAR!!!”

Bocah itu menghentikan langkahnya, dan Xie Lian dengan susah payah membalik punggungnya dan berbaring, menghadap ke atas, dan entah bagaimana Ia masih mencoba untuk mengatur napasnya sendiri meskipun gelombang demi gelombang panas masih menerpa setiap bagian tubuhnya. Iblis-iblis bunga di luar gua mendengarnya terus meracau dan bergerak dengan gelisah, api itu menyala dengan kuat, dan mereka bertepuk tangan sambil tertawa, “Yang mulia, mengapa kamu bersikap begitu keras pada dirimu sendiri! Hari ini kamu menolak mendapatkan sesuatu yang bagus karena kamu takut kehilangan pengikut dan umatmu; besok kamu juga akan takut melakukan hal lain karena kamu takut kehilangan pengikut. Bagaimana mungkin pejabat surgawi bisa bertahan hidup dengan menjalani kehidupan yang membosankan seperti itu? Lebih seperti tahanan yang diikat oleh para penyembahnya! Tidak pantas menjadi dewa jika kehidupanmu seperti itu. Kamu akan kehilangan tempatmu cepat atau lambat, jadi mengapa tidak bersenang-senang saja sekarang? Banyak hal datang dan pergi, tidak perlu memikirkan detail kecil apapun!”

Pembuluh darah tampak muncul di dahi Xie Lian dan emosinya mulai kehilangan kendali. “Diam!!!” Dia berteriak, marah.

Iblis bunga itu secara alami tidak takut pada dirinya sekarang, dan mereka mulai menggoda prajurit kecil itu lagi, “Didi kecil, bukankah menurutmu kami benar? Hahahaha…”

“Hee hee hee … bukankah kamu merasa begitu menderita berdiri di sana?”

Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Merasa sangat panas dan terganggu, Xie Lian dengan kasar merobek jubahnya, bahkan menginginkan sepotong kesejukan. Ketika dia merobek jubahnya, dia tiba-tiba menyadari: bagaimana mungkin kekuatannya kembali mengalir di lengannya? Meskipun sedikit, kekuatan itu tidak bertahan lama dan kemudian pergi dengan cepat, ketika dia memeriksa dirinya sendiri, dirinya cukup yakin bahwa periode mati rasa telah berlalu, dan energi yang ada di dalam tubuhnya berangsur-angsur meningkat. Namun, jantung Xie Lian jatuh.

Efek dari Aroma Kelembutan adalah mati rasa pada awalnya diikuti oleh periode mania. Efek mati rasa telah berlalu, jadi sebentar lagi, periode kegilaan dan gairah akan mengisi nadinya. Meskipun ia menggambar dua garis penghalang di pintu masuk gua, array yang terpasang pada bagian dalamnya dibuat khusus untuk mencegah dirinya yang penuh kegilaan untuk keluar, tetapi begitu periode mania mengambil alih, ia tidak yakin apakah penghalang itu cukup untuk menghentikannya. Saat-saat ketika kesadarannya kembali dan dia mampu berpikir dengan jernih adalah suatu jenis berkah yang langka, dan Xie Lian meraihnya dengan kedua tangan, berpikir cepat tentang cara untuk menangani situasinya saat ini.

Tiba-tiba, sebuah kesadaran kecil datang kepadanya: Aroma Kelembutan bekerja dengan cepat; biasanya saat darah mengalir ke otak, semua kendali akan hilang, jadi bagaimana mungkin dia bisa bertahan sampai sekarang? Apakah tidak ada alasan lain selain kemantapan pikirannya yang luar biasa?

Memikirkan hal ini, Xie Lian menarik napas panjang dan memiringkan kepalanya, lalu dia memanggil siluet bocah di dekat pintu masuk gua, bocah itu masih tampak ragu-ragu untuk masuk. “Kamu … masuklah.”

Mendengar seruannya, prajurit muda itu tampaknya ingin segera berlari ke sisinya, tetapi setelah beberapa langkah, dia sepertinya mengingat instruksi penuh kemarahan Xie Lian tentang “Jangan masuk apapun yang kamu dengar”, dan dia kembali merasa ragu-ragu. Xie Lian juga merasa sedih karena mengubah pikirannya begitu cepat, dan dia memanggilnya lagi dengan sedih, “Masuk saja dulu.”

Bocah itu berhenti merasa ragu-ragu dan bergegas masuk.

Terowongan gua itu panjang dan sempit, bagian dalamnya hangat dan lembab. Kegelapan memenuhi ruang, bahkan jari-jari yang terangkat tidak bisa dilihatnya, dan bocah itu menggunakan napas serak Xie Lian untuk menemukan di mana dia berada. Xie Lian kemudian memberinya perintah, “Letakkan pedangmu … letakkan di tanah. Tepat di sampingku. Jangan terlalu jauh.”

“Ya, Tuan!” Prajurit muda itu menganggukan kepalanya dan menyerahkan satu-satunya senjata perlindungan dirinya dan meletakkannya di tempat yang bisa dijangkau oleh Xie Lian dengan mudah. Xie Lian kemudian menambahkan, “Tolong bantu aku.”

Bocah itu setengah berlutut di sebelahnya dan mengulurkan kedua tangannya untuk membantu menopang tubuh Xie Lian. Namun, begitu tangannya terulur untuk menyentuh tubuh Xie Lian, apa yang disentuhnya bukanlah kain, melainkan kulit yang terasa panas.

Tangan-tangan itu langsung bergerak mundur. Xie Lian sendiri merasa terbakar oleh tangan panas bocah itu, dan baru kemudian dia ingat dia telah merobek jubah atasnya di tengah-tengah kegilaannya. Seorang pria telanjang dari pinggang ke atas biasanya tidak berarti apa-apa, kecuali dalam keadaan saat ini, keadaannya saat ini membuat mereka sedikit lebih canggung. Tetapi tidak perlu menyoroti kecanggungan itu; mereka hanya perlu melakukan apa yang harus mereka lakukan. Bocah itu tampaknya juga menyadarinya, dan dia tidak menunggu Xie Lian mengatakan apa pun sebelum dia menjangkau tubuh itu lagi, melingkarkan tangannya di bahu Xie Lian yang telanjang untuk membantunya berdiri, lalu segera melepaskannya. Xie Lian bersandar di dinding terowongan, punggungnya menempel ke dinding berbatu yang dingin dan merasa lega. Menyadari bahwa bocah itu tampak mundur beberapa langkah, dia buru-buru berkata, “Tunggu, jangan pergi dulu!”

Prajurit muda itu memperhatikan setiap kata yang diucapkan Xie Lian, dan segera berhenti. “Potong rambutku. Aku membutuhkannya,” kata Xie Lian.

Bocah itu memahami perintah itu dan kemudian menjangkaunya. Namun, tidak ada yang bisa terlihat jelas dalam kegelapan yang menyerang tempat itu, dan rambut panjang Xie Lian dengan rapi telah diikat di belakang, jadi kontak pertamanya bukanlah rambut Xie Lian, tetapi sebaliknya ia secara tidak sengaja merasakan kulit dada Xie Lian, kulit itu terasa begitu lembut dan kenyal dengan keringat yang berkilau. Xie Lian merasa begitu tersiksa dengan bocah itu yang telah menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Seolah-olah sentakan listrik menyengat tubuhnya, menyebarkan kesenangan ke seluruh tubuhnya, dan dia mengerang pelan.

Kedua pemuda yang berada di gua itu langsung membeku.

Iblis bunga di luar gua berusaha mati-matian untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam, jadi bagaimana mereka bisa melewatkannya? Mereka terkikik, “Ya ampun, apa yang mereka lakukan di sana?”

“Sangat memalukan!”

“Aku tidak mendengar apapun!”

Mendengarkan mereka menggoda penderitaannya, Xie Lian menggertakkan giginya, “KAU–!”

Bocah itu segera menjatuhkan tangannya pada suara kemarahan Xie Lian, takut untuk melakukan kontak lagi dengannya. Xie Lian tidak marah padanya; di matanya, prajurit kecil itu tak lebih dari seorang anak kecil. Dia melunakkan nadanya, mengira bocah itu mungkin takut menyinggung perasaannya, dan berkata, “Jangan panik, lanjutkan. Jangan pedulikan mereka.”

Bocah itu berseru, “Ya, Tuan.” Tetapi dia memang tampak panik, merasa apapun yang disentuhnya adalah sesuatu yang salah, dan setiap kali dia menemukan dia telah menyentuh tempat yang salah, tangannya akan kembali menyusut. Pada akhirnya dia tidak bisa melakukan apapun tetapi hanya mencari jejak menggunakan tangannya sendiri menyusuri dada Xie Lian untuk menemukan rambutnya, membakar kesenangan dan penderitaan yang tak terkatakan pada tubuh Xie Lian. Kesengsaraan semacam ini, Xie Lian ingin sekali menabrakkan dirinya ke dinding terowongan disana dan pingsan untuk selamanya. Akhirnya, anak itu merasakan apel adam Xie Lian yang terasa berdenyut-denyut dan kemudian mulai menyusuri bagian belakang leher Xie Lian, dan kemudian tangannya menggenggam seikat rambut. Dengan hanya beberapa helai di genggamannya, dia dengan sangat hati-hati memotongnya dengan pedang dan berkata langsung setelahnya, “Yang Mulia, sudah selesai!”

Serangan kekuatan kecil terasa kembali mengalir di tubuh Xie Lian saat itu, dan dia mengangkat tangannya, “Beri aku tanganmu.”

Bocah itu memperhatikan, dan dari tangannya, Xie Lian mengambil untaian panjang dan tipis itu dan mengikatnya menjadi simpul di jari acak tangan bocah itu. Bocah itu tampak bingung, dan dia bertanya dengan suara bergetar, “Yang Mulia, apa ini?”

Xie Lian menghela napas, “Racun iblis bunga akan memasuki tahap kedua. Aku perlu meminjam pedangmu. Jika ada sesuatu yang ingin menyakitimu nanti, angkat saja tangan ini dan itu bisa melindungimu. Sekarang, pergilah.”

Sesaat kemudian, prajurit muda itu kembali ke pintu masuk gua. Iblis-iblis bunga itu menjadi kembali gaduh, “Keluar lagi?”

“Akhirnya.”

“Menahan kami di luar seperti ini saat kamu masuk ke dalam seorang diri. Sobat kecil, kamu tidak baik sama sekali!”

Pada saat yang sama, Xie Lian bisa merasakan lebih banyak kekuatan melonjak melalui anggota tubuhnya. Dia menarik napas dalam-dalam, meraih pedang usang yang ditinggalkan prajurit muda dengan tangan kanannya, menenangkan rohnya, mengangkat pedang, dan membuat luka di lengan kirinya.

Dalam sekejap, sesuatu seperti kabut telah terangkat, dan indranya segar kembali.

Dia tahu itu!

Darah mengalir di lengan kiri Xie Lian, tapi ini lebih seperti dia akhirnya menemukan garis kehidupannya kembali di tengah-tengah kekacauan itu.

Keharuman Dataran Kelembutan dapat memperburuk temperamen seseorang dan membangkitkan dorongan yang dalam dari seseorang yang telah lama tertidur. Biasanya semakin kuat desakan yang ditekannya, setelah menghirup aroma itu, semakin kuat pula serangan yang dikeluarkannya. Adapun apa yang berusaha ditekan oleh Xie Lian dalam lubuk hatinya adalah, membuang ‘nafsu’ itu pergi, dan yang tersisa adalah dorongan untuk membunuh.

‘Dorongan untuk membunuh’ ini tidak bisa ditujukan kepada monster atau iblis. Dia telah membunuh banyak kejahatan di masa lalu sehingga itu tidak dianggap sebagai jenis penindasan. Target untuk dibunuh haruslah manusia atau dewa untuk menimbulkan rasa pelanggaran. Sebelum memasuki gua, Xie Lian melukai dirinya sendiri untuk menggambar array dan darah tampak mengalir dari tubuhnya. Hal itu sedikit banyak efektif terhadap Aroma Kelembutan, karena melukai dirinya sendiri juga merupakan bentuk menimbulkan kerugian.

Pada akhirnya, ‘nafsu’ dan ‘pembunuhan’ adalah keinginan yang sangat agresif, dan Xie Lian bahkan mendengar bahwa beberapa orang mengira sifat kedua hal itu adalah satu hal yang sama. Kemudian, menggunakan dirinya sebagai bukti, bahwa memang ada metode alternatif untuk melewati cobaannya saat ini.

Yakin dengan alasannya sendiri, Xie Lian memotong garis lain di lengan kirinya tanpa ragu-ragu, dan setiap potongan membawa lebih banyak kejernihan di benaknya. Dia hanya bersukacita dan tidak menyadari bahwa Aroma Kelembutan sedang menggerakkan lebih banyak kejahatan di dalam tubuhnya, dan ketika keinginan untuk membunuh itu terpenuhi, secara instan, gelombang kesenangan lain mengalir melalui dirinya.

Lonjakan kenikmatan tiba-tiba mulai menjalari dirinya dari kepala sampai ke kakinya, dengan mudah menghancurkan dinding pertahanan yang dibangunnya dengan susah payah, dan pada saat Xie Lian menyadarinya, dia mulai mengerang.

Jika bukan hanya ada dirinya di dalam gua, Xie Lian tidak akan bisa percaya bahwa suara itu berasal darinya. Dia bergidik keras dan membelalakkan matanya, berpikir, ‘Metode ini seharusnya berhasil, jadi mengapa ini terjadi?’

Dia melirik ke arah pedang di genggamannya dan tiba-tiba teringat, bahwa prajurit muda itu sebelumnya telah menggunakan pedang ini untuk memotong batang bunga-bunga itu, dan telah menggores iblis bunga berbentuk manusia di depan gua. Bilahnya ditutupi getah bunga Dataran Kelembutan. Dia menggunakan dua puluh persen dari kekuatannya untuk membuat luka pertama di lengannya, dan efek penghilang yang sama hanya dapat dicapai jika dia menggunakan tiga puluh persen dari kekuatannya untuk memotong. Bukankah ini tidak berbeda dengan minum racun untuk memuaskan dahaga?

Kegilaan yang dialaminya pasti sudah mulai menyerang otaknya, kalau tidak, dia seharusnya sudah memperhatikan detail kecil ini. Xie Lian mengutuk dirinya sendiri dalam hatinya, tetapi karena tindakan itu sudah dilakukan, dia hanya bisa merobek sepotong kain pada lengan kirinya untuk mengusap bilah pedang dengan gila, lalu merobek kain pada lengan kanannya untuk memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri, menggigitnya, dan melakukan yang terbaik untuk menahan dirinya sendiri.

Erangan terkutuk yang begitu manis itu terus keluar melalui bibirnya yang kecil dan giginya bergemeretak sesekali. Namun, suara-suara itu bergema di dalam gua, dan setiap suara kecil itu berubah menjadi lebih keras dan suaranya bergema sampai ke luar. Bocah itu memperhatikan perintah Xie Lian dan menutup matanya, hanya menggunakan indera pendengarannya untuk tetap siaga, dan telinganya menjadi lebih sensitif, jadi tidak ada alasan dia tidak memperhatikan apapun. Tidak dapat menahannya lagi, dia bertanya dengan suara bergetar, “Yang Mulia?”

Berada dalam keadaan yang tak terkatakan seperti itu adalah rasa malu terbesar dalam hidupnya. Xie Lian hampir tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ada yang melihatnya sekarang, dan bahkan tenggelam dalam kegelapan seperti saat ini, ia masih tidak bisa mentolerir pikiran semacam itu. Dia berteriak, “JANGAN MENDEKAT!!!”

Namun, sepotong kain itu masih dimasukkan ke dalam mulutnya sehingga perintahnya hanya terdengar seperti merengek, sangat menyedihkan. Mendengarnya, prajurit muda itu menjadi semakin gelisah.


Catatan:
[斷 髮 / 結 髮 夫妻] Ritual pernikahan tradisional ketika pasangan memotong rambut mereka sendiri, menjalin dan mengikat mereka bersama-sama melambangkan “Till Death Do Us Part”.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments