Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Di belakangnya, Feng Xin dan Mu Qing tampak terkejut, dan mereka berteriak, “Yang Mulia!” kemudian segera bergegas keluar untuk menjaga di sebelahnya.

Namun, semua warga di seluruh Jalan Utama Dewa Bela Diri Besar telah melihat sesosok pemuda berkulit putih yang muncul tepat di tengah jalan utama. Para demonstran yang berdemonstrasi di sekitar jalan utama telah dibubarkan tetapi mereka dengan segera mengatur diri mereka sendiri ketika mereka melihat sosok itu, dan ribuan orang segera mengepung Xie Lian. Orang pertama dalam kerumunan berbicara, tidak yakin, “Tuanku … apakah tuanku adalah Yang Mulia?”

Orang kedua tampak ragu, “Bukankah Yang Mulia Putra Mahkota naik? Dia tidak lagi fana jadi mengapa dia muncul di sini?”

Orang ketiga berteriak, “ITU ADALAH DIA! TIGA TAHUN YANG LALU DI PROSESI UPACARA SURGAWI AKU MELIHATNYA DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI, SUDAH TIDAK PERLU DIPASTIKAN LAGI, ITU MEMANG DIA!”

Semakin banyak orang-orang dalam kerumunan itu yang mulai mengenali wajah dewa bela diri yang mereka sembah siang dan malam, dan Xie Lian berbicara perlahan, “Ini adalah aku. Aku telah kembali.”

Orang-orang dalam kerumunan dengan seketika berubah menjadi liar.

“DEWA SUDAH KEMBALI! DEWA BENAR-BENAR SUDAH KEMBALI!”

“SESOSOK MAKHLUK ILAHI YANG KEMBALI KE DUNIA FANA!”

“-Yang Mulia pasti telah kembali karena Yang Mulia tidak bisa lagi hanya melihat kami menderita begitu banyak pelecehan dari para pencuri itu!”

Dengan segera ada beberapa orang yang mendesak kerumunan itu dan memaksa masuk, ekspresi mereka penuh harapan, “Yang Mulia, akankah Tuanku menuntun kami untuk mengalahkan para pengungsi Yong An itu? Sudah pasti, bukan? Pasti begitu!”

Setelah beberapa saat, Xie Lian menjawab dengan tenang, “Aku kembali demi melindungi Kerajaan Xian Le, untuk melindungi rakyatku.”

Feng Xin dan Mu Qing yang berada di sebelahnya mendengarkan dengan saksama, tetapi mereka tidak bisa memastikan apa sebenarnya makna dari kata-kata itu, namun warga yang kepalanya terguncang oleh darah panas semua menerimanya dan memahami apa yang mereka inginkan. Adapun Xie Lian, dia memiliki pertimbangan sendiri; jantungnya berdetak lebih cepat dan lebih cepat, dan dia menggertakkan giginya, “… Percayalah padaku!”

Dia mengepalkan tinjunya, dan berseru, “KEYAKINAN KALIAN AKAN MEMBERIKU KEKUATAN YANG LEBIH BESAR. DENGAN KEKUATAN INI, AKU BERJANJI AKAN MELINDUNGI XIAN LE, MELINDUNGI SEMUA ORANG. TOLONG PERCAYALAH PADAKU!”

Orang-orang telah menunggu saat-saat itu; yang mereka inginkan hanyalah janji-Nya, dan dengan segera mereka bersorak-sorai, lalu kerumunan itu membentuk lingkaran demi lingkaran untuk berlutut dan bersujud kepada Xie Lian, “KAMI AKAN MENGIKUTI TUANKU SAMPAI KE UJUNG DUNIA SEKALIPUN! KAMI AKAN TERUS MENGIKUTI YANG MULIA!”

“LINDUNGI XIAN LE!”

Ketika semua penghuni ibukota kerajaan mendengar seorang dewa turun ke atas mereka, mereka semua kemudian turun ke jalan, hanya untuk menyaksikan mukjizat ini yang bahkan mungkin tidak akan datang dalam seribu tahun. Bahkan para penjaga kerajaan yang mendapat informasi mengenai hal itu, datang dengan tergesa-gesa dan tidak berani melakukan atau mengatakan hal-hal yang ceroboh, lalu bergabung dengan kerumunan di jalan utama untuk bersujud. Mereka bertiga terjebak di tengah jalan utama, tidak bisa bergerak, Feng Xin dan Mu Qing harus tetap menjaga ketertiban disana, berteriak, “BERHENTI MENDORONG! BERHENTI SALING MENDORONG SATU SAMA LAIN!”

Namun, teriakan mereka tidak terlalu efektif. Semua orang ingin mendorong dan berada lebih dekat dengan Yang Mulia Putra Mahkota, ingin menyentuh bahkan hanya sudut lengan dewa ilahi dari surga ini, berharap beberapa keilahian-Nya akan menular pada mereka. Beberapa jenderal dan prajurit yang sepenuhnya mengenakan jubah pelindung berlapis baja dikirim sebelum kerumunan liar itu akhirnya dibubarkan.

Ketika semua orang pergi, yang tertinggal hanyalah udara yang penuh debu dan jejak kaki yang berantakan mengotori tanah. Xie Lian memperhatikan sesuatu dan dia berjalan dan membungkuk untuk mengambilnya.

Itu adalah sekuntum bunga. Setelah diinjak-injak oleh banyak orang, warna bunga itu hampir menyerupai tanah. Hanya beberapa kelopak yang robek yang masih memiliki warna kemurnian aslinya yang tampak mengintip.

Aroma samar itu tidak bertahan lama, dan dengan segera memudar.

Setelah sedikit memahami beberapa hal, kali ini Xie Lian kembali ke istana, amarahnya kini telah memudar dan jauh lebih lembut terhadap Raja. Dengan demikian, Raja juga menjadi lebih ramah terhadapnya. Setelah keduanya mundur satu langkah, ayah dan anak itu membuat perdamaian tentatif di antara mereka. Adapun Kepala Pendeta, dia sepertinya sudah berpikir jika Xie Lian akan turun, jadi dia tidak banyak bicara tentang masalah ini.

Di masa lalu, Xie Lian selalu percaya bahwa suatu bangsa memiliki satu hati yang sama, dan sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius, semua orang pasti akan mengikuti arahan Raja. Hanya ketika dia akhirnya duduk untuk berpartisipasi untuk menyelesaikan masalah kerajaannya, dia benar-benar mengerti betapa menjengkelkan posisi seorang Raja. Di dalam parlemen, para pejabat sebenarnya dipecah menjadi partai-partai kecil, dan masing-masing partai memiliki rencana mereka sendiri. Berkenaan dengan pembentukan kesepakatan tentang satu hal bisa memakan waktu hingga satu minggu perdebatan tanpa akhir. Setiap orang, semua pihak menyatakan bahwa mereka bekerja untuk rakyat, tetapi dalam kenyataannya, itu mungkin tidak benar.

Adapun untuk berurusan dengan pemberontak Yong An yang memutuskan memberontak dengan membuat kamp sementara di luar benteng kota, para pejabat ini lamban dalam mencapai kesepakatan. Beberapa menganjurkan untuk melakukan pemusnahan langsung, dan jika tidak ada cukup alasan untuk melakukannya, maka mereka hanya perlu melakukannya. Beberapa tidak setuju dengan itu.

Pemberontakan dari rakyat Yong An dimulai oleh bencana alam tetapi kemudian meletus oleh tindakan manusia. Keluarga tiga orang yang sekarat hingga tewas di gerbang kota adalah pemicu terburuk yang bisa dibayangkan; jika leher pejabat militer yang memotong tali yang digunakan memanjat oleh pria yang memiliki anak yang sekarat di gendongannya tidak dihancurkan oleh Lang Ying, dia akan dihukum berat saat kembali. Dengan kata lain, tidak peduli betapa berbelit-belitnya keadaan yang terjadi, tidak peduli alasannya, di permukaan, semuanya hanya tampak seperti orang biasa yang memberontak melawan otoritas yang menindas.

Dengan hal-hal yang berkembang pada titik ini, kekacauan total benar-benar telah terjadi, membuat lebih banyak kejahatan dengan hukuman hanya akan semakin memicu rasa jijik, dan alasan apa pun yang bisa mereka kemukakan tidak akan bisa menipu rakyat. Jika mereka mengerahkan pasukan untuk memusnahkan pemberontak Yong An, tindakan itu tidak memiliki alasan yang cukup baik untuk dilakukan dan sulit untuk meredakan semua ini. Mencegah orang berbicara sama pentingnya dengan mencegah banjir; begitu reputasi kekejaman yang tidak masuk akal ditegakkan dan dinyatakan, tidak hanya pemerintah tidak akan lagi bisa memerintah rakyat, kerajaan-kerajaan yang terletak di dekat kerajaan Xian Le bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik untuk menyerang di bawah panji-panji memberantas kejahatan.

Jika mereka memikirkannya dari sudut yang berbeda, apa yang harus ditakutkan? Para pengungsi Yong An itu terjebak di hutan liar tanpa makanan dan senjata, jadi berapa lama pemberontakan ini bisa bertahan? Jadi, usulan yang paling disukai dan kemudian disetujui pada akhirnya adalah: Jika para pengungsi Yong An berani menyerang, mereka akan terbunuh dengan setiap serangan yang mereka lakukan; jika tidak, maka mereka akan dibiarkan untuk bertahan hidup atau mati, dan Xian Le tidak perlu membuang satu sumber daya maupun penghasilan apa pun. Tidak mungkin bagi Yong An bisa melanjutkan pertempuran.

Sebagai dewa bela diri, turunnya Xie Lian secara alami berarti dia harus efektif di medan perang. Demikianlah, para prajurit dengan giat berkampanye: Sisi yang sama dengan Yang Mulia Putra Mahkota adalah sisi Keadilan; prajurit kerajaan dan Yang Mulia Putra Mahkota adalah pasukan dewa!

Tidak butuh waktu lama sebelum sejumlah besar pria muda di kerajaan mendaftar dengan penuh semangat. Hal itu menyebabkan begitu banyak kehebohan yang bahkan berita itu sepertinya telah mencapai kamp dari pemberontak Yong An. Awalnya mereka masih agak aktif dalam pengepungan yang mereka lakukan, tetapi tiba-tiba semuanya berhenti, seolah-olah mereka takut dan secara diam – diam menyimpan kekuatan yang mereka miliki. Hal ini membuat para prajurit di Xian Le gugup, dan mereka tanpa henti menggambarkan betapa sosok Xie Lian membawa ketakutan terbesar kepada Lang Ying yang selalu berlari di garis depan. Mendengar nama itu dan mengingat mayat bayi yang terkubur di hutan pada hari itu selalu membuat Xie Lian merasa sedikit rumit.

Dua bulan kemudian, setelah menahan napas dalam waktu yang lama, para pengungsi Yong An akhirnya kembali menyerang.

Dalam pertempuran ini, Xie Lian hanya membawa sebilah pedang ringan dan bahkan tidak memakai baju besi. Tidak butuh waktu hingga dua jam sebelum pertempuran berakhir.

Darah menutupi tanah sampai ke langit, dan di udara yang dipenuhi bau busuk itu, para prajurit Yong An yang tersisa meninggalkan persenjataan mereka dan dengan panik melarikan diri. Sebelum para prajurit Xian Le bisa bereaksi, mereka sudah dikelilingi oleh mayat yang tak terhitung jumlahnya, dan tidak ada musuh yang berdiri disana. Adapun Yang Mulia Putra Mahkota, dia perlahan-lahan menyarungkan kembali pedangnya, dan sama sekali tidak peduli dengan noda di lengan bajunya.

Itu adalah saat ketika mereka menyadari kemenangan luar biasa mereka dan kemudian melompat, mengangkat pedang ke langit, berteriak kegirangan.

Malam itu, para prajurit Xian Le mengadakan pesta kemenangan di atas menara.

Sudah begitu lama sejak para prajurit Xian Le merasa begitu lega seperti ini; sorak-sorai itu tak ada habisnya saat mereka mengangkat cangkir mereka untuk memuji Yang Mulia Putra Mahkota. Namun, Xie Lian menolak semua anggur yang ditawarkan kepadanya, dan meninggalkan pesta untuk pergi ke tepi sudut menara sendirian untuk merasakan angin sepoi-sepoi yang menyapa wajahnya dan menyadari akan sesuatu.

Meskipun dia tidak minum satu cangkir anggur pun, dia masih bisa merasakan jantungnya terbakar, wajahnya panas dan memerah, dan ujung jarinya sedikit bergetar.

Ini adalah pertama kalinya bagi Xie Lian di kehidupannya bahwa dia telah membunuh. Ini adalah pertama kali baginya, dan dia telah membunuh ribuan manusia.

Hanya semut.

Dua kata itu muncul di benaknya. Di hadapan orang-orangnya yang fana tidak ada apa-apanya, dan tidak ada orang yang dapat menahan ketukan cahayanya. Sangat mudah untuk merampok kehidupan orang lain, seperti bagaimana pelayan istana itu menginjak semut-semut itu, sehingga di sela tiap ayunan pedangnya, ia nyaris kehilangan hatinya sendiri.

Xie Lian bersandar pada tembok pembatas dan menarik napas dalam-dalam, menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan kebisingan, tanpa sadar memperhatikan kerlip percikan api di pegunungan yang jauh. Segera setelah itu, suara dua langkah kaki mendekat.

Bahkan tanpa menoleh, dia tahu siapa mereka. Xie Lian bertanya, “Apakah kalian berdua tidak ingin pergi minum dan merayakannya sedikit?”

Mu Qing bergumam, “Apa yang harus dirayakan? Ini bukan situasi yang optimis.”

Mendengar ini, Xie Lian berbalik, “Kalian menyadarinya?”

Itu benar-benar bukan situasi yang optimis. Meskipun mereka memenangkan pertempuran kali ini, tetapi pada kenyataannya, serangan ini lebih kuat dari serangan Yong An sebelumnya.

Tidak hanya jumlah pasukan mereka yang meningkat, pun baik formasi mereka, senjata, manajemen, semua telah meningkat secara signifikan. Bahkan, sudah ada banyak prajurit yang mengenakan baju besi. Meski masih tampak begitu sederhana dan menyedihkan, mereka sudah memiliki bentuk pasukan formal. Hal itu akan sulit untuk dipercaya bahwa mereka benar-benar orang luar dan bukan siapa-siapa.

Mu Qing menyilangkan tangannya dan mengerutkan kening, “Lingkungan yang ekstrem tentu akan membuat seseorang berubah dan membaik dengan cepat, tetapi tidak peduli seberapa sulit situasinya, kamu tidak dapat menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Ada yang tidak beres.”

Feng Xin bahkan lebih berterus terang, dan berkata dengan jelas, “Mereka pasti mendapatkan bala bantuan.”

Xie Lian mengangguk. Mu Qing menambahkan, “Aku tidak percaya tidak ada prajurit yang memperhatikan. Tetapi mereka masih merayakan hanya karena mereka memiliki dirimu di pihak mereka dan mereka yakin mereka pasti akan menang.”

Xie Lian tidak terlalu memikirkan hal itu dan berkata, “Ini adalah pertempuran pertama mereka bersamaku dan kami menang. Tidak apa-apa membiarkan mereka bersukacita sedikit. Anggap saja ini sebagai dorongan.”

Feng Xin ragu-ragu tetapi masih bertanya, “Yang Mulia, kamu tidak terlihat begitu baik. Apakah kamu, masih membuat hujan di Yong An?”

“Ya.” Xie Lian menjawab

Ekspresi ketidaksetujuan yang sudah diduga tampak muncul di wajah Mu Qing. “Maafkan keterusteranganku, tapi tidak ada gunanya untuk menciptakan hujan sekarang. Itu adalah lubang tanpa dasar yang nyata. Yang Mulia, bahkan jika kekeringan di Yong An bisa sepenuhnya diatasi, kerumunan di luar tembok kota mungkin masih tidak akan mundur.”

“Aku tahu.” Xie Lian berkata, “Tapi hujan ciptaanku tidak dimaksudkan untuk membuat orang-orang mundur. Ini untuk mereka yang memutuskan tetap berada di Yong An agar tidak mati kehausan. Ini adalah tujuan awalku, dan itu tidak akan berubah untuk apa pun.”

Feng Xin masih khawatir, “Apakah kamu baik-baik saja dan mampu bertahan dengan kondisi seperti ini?”

Xie Lian menepuk pundaknya, “Jangan khawatir. Aku memiliki delapan ribu kuil! Ada cukup bakta jadi tentu saja aku baik-baik saja. Tapi,”

Tangannya yang lain melingkari bahu Mu Qing dan Xie Lian menghela napas, “Syukurlah kalian berdua membantuku hari ini. Terima kasih telah tinggal di sisiku.”

Hari ini di medan perang, kedua pelayannya menderita lebih banyak daripada yang dia alami, tubuh mereka berdua dipenuhi darah dan debu dari semua pembunuhan sebelumnya.

“Tidak perlu mengatakan hal-hal itu.” Kata Feng Xin. Mu Qing samar-samar mengeluarkan suara “Oh”.

Xie Lian memeluk erat, menarik dua lainnya untuk mendekat, dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Tidak hanya untuk hari ini, tetapi untuk selalu, terima kasih banyak. Aku harap, pemandangan kita bertiga yang berdiri bersama dan bertarung akan menjadi kisah yang tidak akan hilang oleh waktu.”

“…”

“…”

Sesaat kemudian, Feng Xin tertawa terbahak-bahak, dan Mu Qing berkata dengan tidak percaya, “Aku menyadari bahwa kamu selalu berhasil mengatakan hal-hal semacam itu … dengan kepercayaan yang tak tahu malu seperti ini. Kamu benar-benar …” Dia menggelengkan kepalanya, “Lupakan saja.”

Bibir Xie Lian tampak melengkung mendengarnya. Tapi senyumnya tidak bertahan lama ketika dia tiba-tiba membeku, “SIAPA DISANA?!”

SCHWING, dan pedang Xie Lian terhunus. Dia menghentakkan pedangnya dan mengeluarkan sesosok bayangan dari sudut tembok pembatas.

Orang itu telah bersembunyi di sudut tembok pembatas untuk waktu yang lama, menahan napas, dan tidak juga diperhatikan. Awalnya, Xie Lian hanya ingin menggantungnya di ujung pedangnya untuk menakut-nakuti dia, tetapi dia telah membunuh terlalu agresif di medan perang hari ini, lengannya masih bergetar, dan tangannya kehilangan kendali. Hentakkan pedangnya yang sederhana itu terlalu kuat, dan dia melemparkan orang itu langsung ke dinding.

Di bawah sinar rembulan, di udara malam itu, mereka bertiga dapat melihat dengan jelas bahwa seragam dan perlengkapan orang itu termasuk dalam pasukan mereka, dan orang itu tampak seperti bocah berumur sekitar lima belas atau enam belas tahun. Napasnya tercekat dan kemudian dia jatuh ke bawah, wujudnya menghilang di bawah. Melihat orang itu akan jatuh dari atas dinding, Xie Lian berteriak “Oh tidak!” dalam hatinya, dan melompat keluar.

Kakinya terhubung ke tepi tembok pembatas, tubuhnya condong ke bawah, dan dengan cepat dia mengulurkan tangan untuk menariknya, dan dia berhasil meraih lengan milik orang itu. Tubuh prajurit muda itu tergantung di udara dan bergoyang beberapa kali sebelum dia melihat ke atas. Meminjam sinar bulan yang begitu pucat malam itu, Xie Lian melihat wajahnya, dan matanya sedikit melebar.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments