Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Xie Lian mengeluarkan sebuah suara yang begitu kecil seolah baru saja mengingat sesuatu di dalam benaknya.

Wajah yang terbungkus lapisan perban ini tak pelak mengingatkannya pada anak yang dia temui tiga tahun lalu. Namun, dia tidak sepenuhnya yakin. Secara pesimistis, mungkinkah anak itu masih hidup tiga tahun setelah melarikan diri dari Gunung TaiCang?

Saat itu, anak muda itu tampak berjalan maju ke depan. Dia mengangkat dirinya di atas langkah kakinyayang sedikit lebih tinggi dan menukar bunga yang ada pada patung tanah liat sebelumnya dengan yang ada di tangannya. Dari atas altar, Xie Lian bisa melihatnya sejelas siang hari. Kelopak bunga yang ada pada bunga baru ini lebih penuh dan bahkan lebih halus. Kelopak-kelopak bunga itu berisi tetesan embun dua kali lebih banyak dari bunga sebelumnya dan dari aromanya yang kuat, seseorang bisa yakin bahwa bunga itu pastilah baru dipetik. Mungkinkah satu-satunya alasan bocah ini mengunjungi kuil yang tidak mencolok seperti ini setiap hari hanyalah untuk mengganti bunga pada patung miliknya dengan yang lebih segar?

Apalagi, setelah mempersembahkan bunga itu, bocah lelaki itu berdiri di depan patung pangeran yang terbuat dari tanah liat itu. Berbeda dengan kebanyakan orang lain yang dengan keras kepala ingin berlutut dan bersujud menyembahnya, dia mengunci jari-jarinya, dan diam-diam berdoa sambil berdiri. Dia benar-benar mengikuti keinginan Xie Lian.

Sudah tiga tahun berlalu. Di antara semua pengikut Xie Lian yang telah berdoa kepadanya, beberapa ada pejabat, bangsawan, nama-nama yang melakukan perjalanan melintasi tanah ini, dan bakat yang bahkan akan mengesankan surga. Namun bagi Xie Lian sendiri, anak yang kelihatannya baru berusia tiga belas tahun ini adalah seseorang yang paling tulus berdoa kepadanya. Lebih jauh lagi, itu adalah seorang anak yang mungkin telah diusir dari kuil emas mewah itu hanya karena pakaiannya yang ditambal, dan hanya bisa datang ke kuil yang tidak mencolok dan kumuh ini untuk memanjatkan doa-doanya.

Sungguh suatu sentimen yang tak terlukiskan.

Saat itu, lebih banyak suara langkah kaki basah yang datang dari luar kuil. Sekelompok anak-anak dengan payung di tangan mereka tampak berlari dengan tergesa-gesa. Awalnya, Xie Lian berpikir bahwa mereka hanya lewat, tetapi tanpa diduga, mereka berputar kembali. Bertingkah seolah mereka menemukan sesuatu yang luar biasa, seorang anak bertepuk tangan, “Wow, wow. Monster jelek itu diusir lagi!”

Meskipun kelompok anak-anak dan anak lelaki di kuil suci miliknya sepertinya memiliki usia yang hampir sama, masing-masing anak tampak lebih tinggi dari anak lelaki itu dan tampak seolah-olah orang tua mereka telah memberi mereka makan dengan sangat baik. Mungkin mereka berniat untuk pergi berlibur karena mereka semua tampak mengenakan pakaian baru dan sepatu baru. Ketika mereka berkeliaran di genangan air akibat hujan yang turun dan bermain-main di pintu masuk kuil, senyum polos mereka tampak dipenuhi dengan kehidupan dan tidak memiliki niat buruk sama sekali. Seolah-olah mereka tidak benar-benar mengerti bahwa ‘monster jelek’ adalah kata-kata yang mengerikan dan tidak berpikir bahwa kata-kata mereka sendiri akan begitu menyakitkan bagi orang lain. Mereka mungkin berpikir bahwa hal itu adalah sesuatu yang lucu. Bocah itu mengepalkan tinjunya, tetapi tinjunya sangat kecil sehingga tidak memberikan ancaman sama sekali. Kerumunan anak-anak di dekat pintu mengejek, “Hei monster jelek, kau tidur di kuil lagi malam ini? Lebih baik hati-hati, ‘ibu’mu akan mengalahkan neraka dan keluar hidup-hidup untukmu ketika kamu sampai di rumah!”

Xie Lian mengerutkan kening. Di bawah balutan perban, salah satu mata bocah itu tampak menyala dengan kemarahan, dia mengangkat tinjunya dan berteriak, “Aku tidak punya rumah!! Aku tidak punya ibu! Dia bukan ibuku! Keluar! Keluar! Teruslah berbicara dan aku akan menghancurkan omong kosong yang keluar dari mulut kalian itu!”

Namun kelompok anak-anak disana tampak tidak peduli. Mereka menjulurkan lidah mereka dan menantang, “Kamu berani? Berhati-hatilah, kita mungkin akan memberitahu ayahmu lagi dan membiarkan dia memberimu pelajaran.”

Beberapa anak-anak itu tampak mengangkat alis mereka dan mencibir, “Oh benar, kamu tidak punya ibu, karena ibumu tidak menginginkanmu. Kamu tidak punya rumah, karena keluargamu sama sekali tidak menginginkan memiliki hubungan denganmu. Karena itu kamu hanya bisa tidur di kuil yang menyedihkan ini…”

Bocah laki-laki itu tidak tahan lagi. Dengan teriakan nyaring, dia menerjang mereka.

Untuk anak yang bertubuh begitu kurus seperti itu, dia yakin bisa menghantamkan sebuah pukulan. Teriakan nyaring itu hampir membuat beberapa anak berlari ketakutan, tetapi bocah yang awalnya memulai perkelahian menahan diri, “Apa yang harus ditakuti?! Kita memiliki lebih banyak orang!” Setelah mendengar itu, anak-anak yang berniat melarikan diri berjalan kembali dan bergabung dalam pertarungan, menarik tangan dan kaki bocah itu. Xie Lian akhirnya tidak tahan lagi. Dengan lambaian tangannya, kekuatan yang tak terlihat yang entah keluar dari mana kemudian memisahkan anak-anak itu. Segera setelah itu, gelombang air dari genangan-genangan air dari jalanan tampak terbang dengan begitu kuat dari tanah dan menjatuhkan kelompok anak-anak dari kaki mereka.

Pada akhirnya, mereka hanyalah sekumpulan anak-anak. Setelah jatuh ke tanah tanpa mengetahui mengapa mereka terjatuh dan mendapatkan seteguk penuh air berlumpur, pakaian baru mereka benar-benar basah kuyup. Sekarang mereka menjadi lebih kotor dan lebih jelek dari pada anak yang sebelumnya mereka olok-olok, tawa bahagia dari mulut mereka sebelumnya digantikan dengan ratapan nyaring. Mereka merangkak naik dari tanah dan lari sambil terisak dengan payung di tangan mereka.

Xie Lian menggelengkan kepalanya karena kecewa. Sebagai dewa bela diri yang tugasnya adalah untuk mengusir iblis jahat dan membawa perlindungan dan kedamaian, ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam pertikaian remaja semacam ini. Meskipun dia telah mengusir orang-orang yang berbuat kesalahan dan kejahatan, dia tidak merasa puas sama sekali. Tatapannya kembali menuju ke arah anak muda itu.

Selama kekacauan dalam perkelahian itu, perban di kepala bocah itu tampak berantakan. Wajah setengah terbuka itu bengkak dengan memar biru dan ungu. Jelas bahwa ini bukan disebabkan oleh perkelahian tadi. Sebelum Xie Lian bisa melihat dengan lebih baik, bocah itu telah membungkus ulang perbannya tanpa sepatah kata pun. Dia duduk di dekat kaki patung tanah liat dan memeluk lututnya dengan erat.

Xie Lian pada awalnya berniat datang ke kuil Putra Mahkota ini untuk berpikir. Dia telah berencana untuk memanggil Feng Xing dan Mu Qing untuk membahas masalah penting, tetapi anak yang tiba-tiba dia temui telah menarik perhatiannya. Dia mengirim mantra pemanggilan, lalu berjongkok di samping bocah itu dan menatapnya. Tidak lama kemudian, suara gemuruh datang dari perut bocah itu. Piring persembahan masih memiliki beberapa buah dan permen. Meskipun mereka terlihat kering dan mungkin tidak enak, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Xie Lian mengambil satu dan dengan ringan melemparkannya ke tubuh bocah itu.

Setelah terkena buah itu, anak muda itu segera memeluk kepalanya dan meringkuk seolah-olah benda yang mengenainya adalah batu dan berpikir akan datang lebih banyak batu yang dilemparkan kepadanya. Setelah beberapa saat, dia akhirnya melihat sekeliling dan menyadari itu hanyalah buah dan tidak ada siapapun di dekatnya. Dengan ragu-ragu, dia mengambil buah itu, membersihkannya dua kali pada pakaiannya, dan mengembalikannya ke atas piring persembahan. Ternyata dia lebih memilih menahan rasa lapar daripada memakan persembahan di atas piring itu.

Setelah itu, dia berjalan menuju pintu, melihat hujan lebat di luar kuil seolah-olah berdebat apakah akan keluar untuk mencari makanan. Namun, hujan turun terlalu deras. Karena dia tidak ingin pakaiannya basah kuyup, dia berjalan kembali dan meringkuk di lantai dekat kaki patung tanah liat.

Saat itu, Feng Xing dan Mu Qing tiba setelah menerima panggilan yang diberikan kepada mereka. Keduanya melangkah keluar dari belakang kuil. Feng Xing dengan murung berkata, “Yang Mulia, bagaimana bisa kamu menemukan kuil Putra Mahkota yang begitu kecil seperti ini? Kenapa kamu mengirim mantra pemanggilan dari tempat ini?” Ketika dia melihat ke bawah, tiba-tiba dia melihat sosok yang tampak meringkuk di tanah yang hampir bisa dia injak tanpa sadar, dan berkata, “Apa yang dilakukan anak ini di sini!?”

Mu Qing juga melihat ke bawah, melihat dengan saksama dan segera bertanya, “Yang Mulia, apakah ini anak yang lari dari Gunung TaiCang tiga tahun yang lalu?”

Xie Lian menggelengkan kepalanya, “Aku tidak yakin. Aku tidak tahu siapa namanya atau seperti apa dirinya.”

Ketiganya mengelilingi anak yang sama sekali tidak mencurigai apapun yang masih meringkuk di tanah ini, ketiganya tampak mengobrol, anak lelaki yang masih berada di tanah itu tampak bergeser. Saat dia menyeka wajahnya, dia menyadari ada darah mengalir di hidungnya dan sudut mulutnya. Melihat ini, Xie Lian merasa dia tidak bisa melakukan apa-apa dan berkata, “Biarkan anak ini pergi dulu. Sudah mulai gelap. Kuil ini bukan tempat yang baik untuk melewatkan malam.”

“Mungkinkah dia tidak punya tempat untuk pergi? Jika itu masalahnya, maka aku khawatir tempat ini adalah satu-satunya tempat dia bisa bermalam.” kata Feng Xin.

“Dia memiliki rumah, meskipun situasinya di rumah mungkin tidak terlalu bagus.” Xie Lian berkata, “Meski begitu, kuil ini tidak lebih baik. Jika dia pergi, maka kita dapat menemukan sesuatu untuk dia makan. Anak ini juga terluka.”

Mu Qing angkat bicara, “Yang Mulia, mohon maafkan keterusterangan yang aku katakan, tapi kita tidak punya waktu untuk peduli dengan hal-hal kecil seperti ini. Apakah kamu menghubungi kami untuk mendatangi tempat ini karena kamu sudah memiliki dan memikirkan keputusan apa yang akan kamu ambil?”

Dari semua pejabat surgawi yang tinggal di Pengadilan Tinggi, tidak pernah ada yang akan menerima setiap doa dari semua bakta mereka. Dengan jumlah pengikut yang tak terhitung jumlahnya, jika seseorang memperhatikan setiap orang dari pengikut itu, itu akan sangat melelahkan. Itulah sebabnya kadang-kadang, mereka menutup mata terhadap sebuah keinginan kecil dan tidak terlalu berpengaruh besar dan berpura-pura tidak mendengar apapun untuk mengurangi beban kerja mereka. Mungkin itu karena usia muda Xie Lian, dengan tubuh yang penuh dengan energi dan gairah, ia sama sekali belum belajar tentang bagaimana memprioritaskan dan menyelesaikan hal-hal itu dengan benar. Setelah beberapa pemikiran, dia berjalan menuju pintu masuk kuil kecil itu sambil membawa payung yang diberikan kepadanya sebelumnya oleh para pejalan kaki di jalan.

Xie Lian perlahan membuka payung itu. Rintik hujan yang jatuh terasa menghantamnya, menciptakan suara ketipak derai. Di tanah, bocah lelaki itu mendengar suara itu dan mengira seseorang telah masuk dan sedikit bergeser. Tetapi setelah berpikir tidak ada yang akan benar-benar peduli dengannya, dia berbaring kembali. Xie Lian meletakkan payung yang terbuka itu di pintu masuk. Bocah laki-laki itu menunggu suara yang didengarnya menghilang, tetapi ketika suara itu tidak kunjung menghilang, dia mendudukkan dirinya dan dengan tatapan curiga dan rasa ingin tahu yang tinggi kemudian berlahan berjalan untuk melihatnya. Ketika dia melihat sebuah payung merah bersandar di tanah di bawah hujan seperti bunga berwarna merah tua yang mekar dengan sendirinya, dia membeku karena terkejut.

Melihat anak laki-laki itu berlari ke depan untuk mengambil payung itu, Mu Qing berbicara kepada Xie Lian, “Yang Mulia, kamu telah melakukan banyak hal yang lebih dari cukup di sini. Jika kamu bertindak terlalu jelas dan anak itu tahu dan menyadarinya, itu akan sangat merepotkan.”

Sebelum Xie Lian bisa menjawab, bocah laki-laki itu berlari kembali dan berteriak dari belakang mereka, “Yang Mulia!”

Tiga dewa itu hampir melompat kaget dan berbalik. Bocah itu, yang memegang payung di lengannya, memiliki mata yang merah dan penuh dengan emosi. Dia mengangkat kepalanya dan berteriak ke arah patung tanah liat Xie Lian, “Yang Mulia! Apa itu kamu?!”

Feng Xin sama sekali tidak tahu jika Xie Lian membantu bocah itu untuk mengusir kelompok anak-anak lain yang sebelumnya mengganggu anak lelaki ini dan bahkan melemparkan buah kepadanya sebelum ini. Dia merenung, “Anak ini cukup pintar, dia benar-benar menemukan jawabannya.” Mu Qing di sisi lain, merasa curiga bahwa sesuatu pasti telah terjadi sebelumnya dan menatap Xie Lian.

Bocah itu memohon, “Jika kamu benar-benar ada di sini, tolong, jawab satu

pertanyaanku!”

Dari tempatnya yang tinggi di atas altar, Xie Lian setiap saat mendengar permohonan sesuatu seperti “tolong muncul di hadapanku” yang tak terhitung jumlahnya setiap hari. Ketika suara itu terdengar berulang-ulang, itu akan sangat mematikan telinganya dan pada akhirnya memudar dan hanya akan menjadi sebuah suara yang hanya mengisi latar belakang. Meski begitu, setiap kali dia mendengar suara seperti ini, dia tidak bisa untuk tidak melakukan sesuatu seperti meletakkan semua urusan yang ada di tangannya dan kemudian mengangkat telinganya untuk mendengarkan lebih saksama. Dari sisinya, Mu Qing memperingatkan, “Yang Mulia, lupakan saja.”

Xie Lian tidak berbicara sama sekali. Bocah lelaki itu memegang erat payung berwarna merah itu dengan kedua tangannya, dia menggertakkan giginya, “Aku sungguh menderita! Setiap hari, aku berharap aku akan mati. Setiap hari, aku ingin membunuh semua orang di dunia ini, dan kemudian membunuh diriku sendiri! Aku hidup dalam penderitaan!”

Dari seorang bocah lelaki yang usianya tidak lebih dari tiga belas tahun, meneriakkan kata-kata seperti “penderitaan” dan “membunuh semua orang” terdengar begitu konyol dan menggelikan. Namun, sesuatu yang tersembunyi di dalam tubuh mungil ini adalah sesuatu yang eksplosif; sesuatu yang menyimpan ledakan kemarahan yang entah kapan dapat dengan mudah terlepas.

Feng Xing mendengus, “Ada apa dengannya? ‘Membunuh semua orang di dunia ini’, apakah itu sesuatu yang bisa dikatakan seorang anak?”

Mu Qing berkata dengan nada yang begitu datar, “Dia masih muda. Ketika dia bertambah tua nanti, dia akan tahu bahwa apa yang dia alami sekarang benar-benar bukan apa-apa.” Setelah terdiam beberapa saat Mu Qing tampak memandang ke arah Xie Lian,” Ada terlalu banyak penderitaan di dunia ini. Ambil saja contoh kekeringan yang terjadi di Yong An, sebutkan satu warga Yong An yang lebih baik darinya. Tidak perlu terlalu memikirkan masalah ini, Yang Mulia. Mari fokus pada prioritas kita.”

Xie Lian berkata dengan lembut, “Mungkin.”

Bagi kebanyakan orang, penderitaan satu orang mungkin hanya tampak seperti masalah sepele.

Bocah itu masih menatap patung itu. Matanya menjadi semakin merah, namun tidak ada air mata disana. Dengan payung di satu tangan, dia mengulurkan tangannya yang lain dan menarik jubah patung tanah liat Xie Lian, dia bersikeras, “Untuk apa aku hidup di dunia ini? Apa artinya hidup yang aku jalani?”

Namun, pertanyaannya hanya dibalas dengan kehampaan yang mengisi kuil kecil itu, pun tidak ada jiwa yang memberinya jawaban. Tampaknya bocah laki-laki itu juga berharap begitu banyak dan, perlahan-lahan, dia menundukkan kepalanya.

Yang mengejutkannya adalah, dengan begitu tiba-tiba, sebuah suara dari atas memecahkan keheningan yang begitu mati di dalam kuil itu, “Jika kamu tidak tahu bagaimana cara untuk menjalani hidupmu lagi, maka hiduplah untukku.”

Di sebelah Xie Lian, Feng Xin dan Mu Qing tidak berharap dia benar-benar akan menjawab pertanyaan anak lelaki itu, dan bahkan Xie Lian memberikan jenis jawaban seperti itu! Mata mereka tampak melebar, “… Yang Mulia?!”

Kepala bocah itu terangkat, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya suara yang terdengar begitu halus dan lembut datang dari arah patung tanah liat itu: “Aku tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan yang kamu ajukan. Namun, jika kamu tidak tahu lagi makna dari hidup yang kamu jalani, maka jadikanlah aku makna itu, dan gunakan aku sebagai alasanmu untuk hidup.”

Wajah Feng Xing dan Mu Qing tampak seolah-olah hampir meledak, dan keduanya mengulurkan tangan mereka untuk meredam suara yang keluar dari mulut Xie Lian, keduanya tampak terbata-bata berkata, “Cukup, Yang Mulia! Kamu melanggar aturan! Aturan!!”

Tapi sebelum mereka bisa sepenuhnya menutupi mulutnya, Xie Lian berhasil berteriak, “Terima kasih atas bungamu! Sangat indah, aku sangat menyukainya!”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Jeffery Liu

eijun, cove, qiu, and sal protector

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments