Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Xie Lian mengangkat kepalanya, “Tidak.”

Dia kemudian mengulanginya dengan keras, “Jelas tidak.”

Kepala Pendeta mengangguk, “Aku sudah memikirkan tanggapan ini darimu. Jadi, kami telah mempertimbangkan pertimbangan lain yang kami pilih untuk metode kedua.”

“Tolong beri murid ini pencerahan.” Xie Lian berkata dengan sungguh-sungguh.

“Metode kedua,” kata Kepala Pendeta, “Yang Mulia harus bertobat di hadapan orang-orang Xian Le, meminta pengampunan surga, lalu menghadap tembok dan merefleksikan semua yang telah Yang Mulia lakukan selama satu bulan.”

“Tidak mungkin.” Kata Xie Lian dengan tenang.

Kepala Pendeta terkejut, “Kami tidak benar-benar memintamu menghadap dinding untuk merefleksikan perbuatanmu, kamu hanya harus terlihat seperti kamu me … ahem.” Tiba-tiba Kepala Pendeta mengingat bahwa mereka saat ini tengah berada di depan patung Dewa Bela Diri Kaisar Langit dan segera memperbaiki kalimatnya, “Selama kamu tulus itu sudah cukup.”

Namun, Xie Lian menjawab, “Tidak.”

“Dan alasannya?” Kepala Pendeta bertanya.

“Kepala Pendeta, ketika aku turun gunung hari ini, apakah kamu tahu apa yang aku lihat?” Xie Lian berkata, “Tidak hanya orang-orang di ibukota kerajaan tidak mengutuk kecelakaan yang terjadi selama Prosesi Upacara Surgawi, mereka sangat menyetujui tindakan yang aku lakukan. Hal ini membuktikan bahwa semua orang-orang di kerajaan ini percaya bahwa keputusanku untuk menyelamatkan anak itu adalah benar.”

“Jika aku melakukan apa yang kamu katakan, dan dihukum karena sesuatu yang dilakukan dengan benar, bagaimana pendapat mereka ketika mengetahui semua itu? Bukankah tindakan ini hanya memberitahu semua orang bahwa untuk menyelamatkan hidup seseorang, bukan saja kita tidak mendapatkan pahala secara kebetulan tetapi sebaliknya kita akan dihukum karena dosa? Bagaimana seharusnya mereka berpikir atau bertindak setelah melihat semua itu?”

“Apakah itu benar atau salah, semua itu tidak penting,” kata Kepala Pendeta. “Hanya itu yang harus kamu pilih di antara kedua metode ini. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Entah anak itu yang seharusnya menanggung kesalahan ini, atau kamu yang melakukannya.”

“Benar atau salah itu sangat penting. Jika aku harus memilih, maka aku akan memilih jalan ketiga.” Xie Lian menjawab.

Kepala Pendeta menggosok dahinya, “Ini … Yang Mulia, maafkan kelancanganku, tapi mengapa kamu begitu peduli bagaimana semua orang akan berpkir? Hari ini mereka memiliki pemikiran seperti itu, siapa yang tahu jika besok mereka akan memiliki pemikiran yang lain. Tidak perlu bagimu untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu, percayalah, orang akan terus melakukan apa yang perlu mereka lakukan, dan tidak akan tersentuh oleh tindakanmu atau membuat dirimu sebagai contoh. Lebih baik jika kita fokus melayani apa yang ada di atas kepala kita.”

Xie Lian terdiam beberapa saat kemudian berbicara, “Kepala Pendeta, sejak aku memasuki Paviliun Suci Kerajaan untuk menjadi murid di sini, semakin aku berlatih, semakin aku merenung, dan sebenarnya ada sesuatu yang selalu kupikirkan tetapi tidak berani membicarakan tentang masalah itu secara langsung.”

“Apa yang selalu kamu pikirkan?” Kepala Pendeta bertanya.

“Apakah benar bagi kita untuk menyembah dan bersujud di hadapan para dewa seperti ini?”

Kepala Pendeta terdiam sesaat. “Jika kita tidak menyembah para dewa, lalu apa yang harus kita lakukan? Menjadi tunawisma? Apa, Apakah Yang Mulia berpikir bahwa ribuan dan jutaan penyembah yang datang ke sini untuk beribadah memiliki kepercayaan yang salah?”

Xie Lian menggelengkan kepalanya dan mengunyah kata-katanya. “Keyakinan itu tidak salah. Hanya saja, murid ini tidak berpikir bahwa untuk bersujud adalah sesuatu yang benar.”

Xie Lian mengangkat kepalanya dan menunjuk ke arah patung Dewa Bela Diri Kaisar Langit yang tampak keemasan, gemilang, mulia, dan begitu besar, “Ketika manusia naik, mereka menjadi dewa. Bagi manusia, para dewa adalah penatua, adalah guru, adalah cahaya abadi, tetapi mereka bukan Tuan kita. Dalam hal demikian, kita harus dipenuhi dengan rasa terima kasih dan juga kekaguman, tetapi tidak benar jika kita menyembah berhala seperti itu. Seperti halnya pada Prosesi Upacara Surgawi ShangYuan, sikap yang benar harus berupa rasa terima kasih, sukacita, dan bukan rasa takut, tidak memohon untuk menyenangkan, bukan intimidasi, dan tentu saja seharusnya kita tidak menempatkan diri kita sendiri pada posisi menjadi seorang budak.”

Kepala Pendeta tampak tetap tenang dan terdiam, tetapi tiga Wakil Kepala Pendeta lainnya tampak gelisah, memalingkan kepala.

Xie Lian melanjutkan, “Kecelakaan terjadi, mau tak mau. Aku bersedia menawarkan seribu lampu untuk mencerahkan malam yang panjang; seperti ngengat terbakar, aku tidak takut. Tetapi aku menolak untuk menundukkan kepala untuk sesuatu yang aku lakukan dengan benar. Menghadap dinding dalam refleksi? Apakah yang telah aku lakukan adalah sebuah kesalahan? Apakah yang sudah dilakukan orang-orang adalah juga sebuah kesalahan? Sama seperti bagaimana Qi Rong melakukan kejahatan, tetapi kenapa Feng Xin yang menaklukkan orang yang bersalah juga harus dihukum: di mana logika untuk menjelaskan semua ini? Jika surga memiliki mata, mereka tidak akan menghukumku untuk ini.”

Kepala Pendeta memalingkan muka, “Lalu, Yang Mulia, izinkan aku bertanya kepadamu. Bagaimana jika surga benar-benar menghukum dirimu atas semua ini? Maukah kamu meminta maaf?”

“Jika itu terjadi, maka, surga sudah benar-benar salah. Aku benar. Aku akan berdiri melawan surga dan menentang sampai akhir.”

Mendengar ini, wajah Kepala Pendeta berubah sedikit dan tersenyum, “Yang Mulia, kamu cukup berani untuk mengatakan kata-kata seperti itu.”

Tiga Wakil Kepala Pendeta yang lain tampak mengawasinya, berniat berbicara tetapi kemudian menghentikan diri mereka sendiri. Tepat pada saat itu, suara peringatan besar tiba-tiba berbunyi di luar aula, suara itu terdengar seperti suara deringan beberapa bel sekaligus. Keempat Kepala Pendeta tidak bisa lagi tetap duduk di kursi mereka, dan mereka kemudian bergegas bangkit pada saat yang sama, berlari menuju bagian belakang aula.

Xie Lian mengikuti di belakang mereka. Mereka melintasi banyak bangunan di belakang Aula Bela Diri Besar, dan kemudian berhenti di depan sebuah pagoda hitam. Pintu-pintu dari pagoda hitam itu terbuka, dan gumpalan asap gelap yang tak terhitung jumlahnya keluar dari tempat itu.

Kepala Pendeta menjerit putus asa, “DI MANA ZHU AN??! KEMANA SEBENARNYA DIA PERGI! BAGAIMANA MUNGKIN SEMUA INI BISA TERJADI??!”

Sejumlah penjaga peserta pelatihan bergegas menuju tempat itu, yang memimpin kelompok itu adalah Zhu-ShiXiong. “KEPALA PENDETA!! AKU DISINI! Aku tidak tahu apa yang terjadi, pintunya terkunci tapi tiba-tiba terbuka sendiri!”

Kepala Pendeta tampak menarik rambutnya, “CEPAT! BAWAKAN AKU WADAH PENYEGEL ROH YANG BARU!”

Xie Lian bergegas masuk. Di dalam pagoda hitam, dinding-dinding tempat itu tampak ditutupi oleh panel-panel kayu cendana dari berbagai ukuran dan bentuk, benda itu tampak ditumpuk secara tidak rata di atas satu sama lain, dan di dalam setiap panel terdapat berbagai toples tanah liat, vas porselen, kotak-kotak yang terbuat dari batu giok, dan lain-lain. Masing-masing wadah tersebut awalnya ditempatkan dengan aman dengan penutup berwarna merah yang menutupi semua wadah itu, bukaannya tampak disegel dengan jimat berwarna kuning dengan tulisan mantra berwarna merah, tetapi sekarang segelnya sudah banyak yang hancur, dan ada lebih banyak lagi dari wadah-wadah itu tampak terus menjatuhkan diri mereka sendiri dari atas rak, dan wadah yang belum jatuh semuanya tampak bergoyang dan bergetar.

Wadah penyegel jiwa masing-masing memiliki iblis atau monster yang pernah menyebabkan malapetaka tersegel di dalamnya, dan pagoda hitam itu ada di setiap kuil Gunung TaiCang, mereka semua ada disana dengan memanfaatkan esensi bersih dan suci untuk menjaga mereka tetap tersegel dengan aman. Namun, sesuatu terjadi yang menyebabkan kejadian pemberontakan mendadak ini, dan para iblis dan monster itu sekarang telah melarikan diri!

“Sudah terlambat!” Teriak Xie Lian.

Dia segera menutup pintu itu. Kunci baja yang awalnya merantai pintu telah dipatahkan oleh roh-roh yang kesal, jadi Xie Lian kemudian menghunuskan pedangnya, menggunakan ujungnya dan mengeluarkan dan menggambar beberapa karakter, lalu menjatuhkannya ke bawah. Dia membawa lebih dari dua ratus pedang bersamanya ketika dia memasuki gunung, dan dia akan mengganti pedang yang dia bawa hampir setiap hari, dan masing-masing dari pedang itu adalah pedang berharga yang tak tertandingi. Pedang itu, setelah dengan perlahan-lahan ditancapkan ke tanah, menutup pintu dan kembali menyegelnya, dan hanya suara roh yang marah dalam kerusuhan dan raungan yang bisa didengar.

Begitu mereka meninggalkan pagoda hitam, mereka semua melihat ke atas, dan di atas setiap puncak, semua pagoda hitam di belakang setiap kuil dipenuhi dengan awan hitam, dan semua arwah yang marah bergegas menuju ke langit, terbang ke arah tertentu yang sekarang dipenuhi dengan dengan asap.

“Ada apa di sana? Kenapa mereka semua terbang ke sana?” Zhu An bertanya.

Kepala Pendeta berteriak, “APAKAH KAMU IDIOT?! DISANA ADA PAVILIUN XIAN LE!”

Kelompok itu berlari seperti angin, dan dalam sekejap mata, mereka akhirnya tiba di Puncak Xian Le. Di atas Gunung TaiCang, asap gelap dan tebal muncul dari kuil-kuil yang tak terhitung jumlahnya di puncak yang tak terhitung jumlahnya pula, asap-asap itu tampak bergulung-gulung dan akhirnya bertubrukan, dan membentuk sebuah pusaran besar di atas Paviliun Xian Le.

“Apa yang terjadi di Paviliun Xian Le milikmu itu?! Semua iblis dan monster sedang dipancing untuk pergi kesana, apa yang sebenarnya sudah kamu masukkan ke dalam?” Kepala Pendeta bertanya dengan begitu menggebu.

Wajah Xie Lian tampak bingung, “Tidak ada! Hanya…”

Hanya apa? Xie Lian tiba-tiba mengingat sesuatu: anak kecil itu!

Saat itu, Zhu-ShiXiong berteriak, “Kepala Pendeta, ini buruk! Tempat tinggal Yang Mulia terbakar!”

Benar saja, sudut Paviliun Xian Le tampak menyala, kobaran api menyala ke arah langit, memantulkan warna merah tua di awan hitam yang berada di atasnya. Namun, di kaki Gunung TaiCang, semua orang di ibukota kerajaan yang belum tidur sama sekali tidak tahu apa yang terjadi ketika mereka menyaksikan pemandangan semua itu dari jauh, dan dengan bersemangat menyeret orang lain untuk menonton dengan kagum: “Wow! Para dewa besar di gunung yang saleh sedang mengadakan upacara! Pertunjukan yang luar biasa!”

Dengan segera, kelompok mereka akhirnya tiba di Paviliun Xian Le. Xie Lian tidak memiliki terlalu banyak pelayan, dan akhirnya banyak kultivator dari puncak lainnya segera bergegas, mereka dengan putus asa mengambil air sumur untuk memadamkan api itu. Xie Lian tidak melihat dua pelayannya, dan segera bergegas masuk. Semua roh yang kesal dari seluruh Gunung TaiCang telah berkumpul di sana, Paviliun Xian Le benar-benar gelap di dalam, tidak ada yang bisa dilihat disana. Xie Lian merasakan dua bayangan hitam di aula utama dan berteriak, “FENG XIN! MU QING!”

Keduanya telah menarik sebuah array pelindung agar tidak membiarkan roh-roh jahat itu menyerbu dan menyerang mereka berdua, mereka memasang posisi bertahan, namun keadaan mereka begitu mengkhawatirkan. Benar saja, untuk sesaat suara Feng Xin akhirnya terdengar, “YANG MULIA, JANGAN KESINI! ANAK INI ANEH, SEMUA ROH DATANG UNTUK DIA!”

Baru saat itu Xie Lian memperhatikan bahwa di balik dua siluet itu ada bayangan kecil lain, yang tampaknya tengah berlutut di lantai, kepalanya tampak berada di kedua tangannya. Dia berteriak, “BUKAN AKU!!!”

Setelah mengamati mereka sejenak, Xie Lian berteriak, “Berhenti menahannya. Lepaskan saja!”

Mu Qing balas berseru, “Kita tidak bisa melepaskannya! Jika kita melakukannya, semua hal itu akan menjadi gila! Biarkan aku menemukan cara yang paling-“

Xie Lian memotongnya, “JANGAN TAKUT. LEPASKAN. SEKARANG!”

Mu Qing menggertakkan giginya, dan menjatuhkan tangannya dengan Feng Xin pada saat yang sama. Benar saja, dengan melepaskan array pelindung itu, roh-roh yang marah itu memekik dan mulai bergerak tidak menentu.

Namun, di detik berikutnya, Xie Lian mengulurkan tangannya, secepat kilat, dan dia tampak tersedak gumpalan asap hitam itu.

Dia bahkan tidak bisa melihat apapun, dan meraih asap hitam itu dengan tangan kosong, memegangi telapak tangannya dengan kuat. Saat dia menangkap satu roh yang penuh dendam itu, gerakan semua kawanan roh yang dipenuhi dendam yang begitu gila di dalam Paviliun Xian Le tampak melambat.

Di luar, semua orang terdiam dan mengangguk.

Dalam situasi di mana segerombolan besar roh yang penuh kebencian berkumpul di tempat yang sama, mereka biasanya akan mengikuti pimpinan yang terkuat. Begitu pemimpin mereka tertangkap, dengan tanpa adanya pemimpin, semua arwah akan kehilangan arah. Pada saat itu, Xie Lian segera mengenali arwah roh yang terkuat dan kemudian mencekiknya, tidak memberikannya kesempatan, dan hanya dengan menekannya seperti itu, satu roh yang penuh dendam itu kemudian terurai menjadi tak terbentuk di telapak tangannya.

Segera setelah itu, keempat Kepala Pendeta mengangkat lengan baju mereka dan berseru, “Kembalilah!”

Segerombolan roh yang kesal karena kehilangan pemimpinnya tampak terbang dengan sembarangan di sekitar Paviliun Xian Le seperti lalat tanpa kepala sampai akhirnya mereka tidak memiliki pilihan lain selain menyerah, dan dengan enggan kembali tersegel di dalam segel yang berada di lengan Kepala Pendeta. Para kultivator lainnya terus memadamkan api yang tersisa, dan hanya sampai asap tebal itu secara bertahap mulai menyebar dan menghilang, barulah Xie Lian melihat dengan jelas posisi dan wajah dari tiga orang lainnya yang berada di tempat itu.

Feng Xin dan Mu Qing setengah berlutut di lantai, masih tampak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Di belakang mereka, anak kecil itu masih memegangi kepalanya, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Para Kepala Pendeta kemudian masuk dan berbicara setelah melihat keadaan di dalam tempat itu, “Dari mana anak itu berasal? Feng Xin berkata bahwa semua roh yang penuh dendam mengejarnya? Apa yang sedang terjadi?”

“Dia adalah anak yang telah jatuh dari tembok kota selama Prosesi Surgawi ShangYuan.”

Para Kepala Pendeta terkejut. Kepala Pendeta bertanya dengan menuntut jawaban dari Xie Lian, “Mengapa kamu membawanya ke sini?”

Xie Lian menggelengkan kepalanya, tidak berniat menjelaskan, dan sebaliknya bertanya kepada Feng Xin, “Apa yang dia lakukan sampai bisa menarik semua roh jahat dari pagoda hitam?”

Salah satu lengan Feng Xin masih dalam gendongan, dan dia kemudian bangkit, “Aku tidak tahu apa yang dia lakukan! Tapi begitu dia memasuki gunung, dan segera setelah masuk ke dalam Paviliun Xian Le, semua benda hitam itu tiba-tiba terbang dari seluruh puncak dan menerobos masuk, mengerumuninya, berkumpul lebih banyak setiap menit, dan kami tidak bisa keluar.”

Xie Lian memandang sekeliling tempat itu, ke arah dinding dan pilar-pilar yang tampak terbakar hingga sampai tampak berubah menjadi puing-puing di dalam paviliun, “Lalu bagaimana dengan api itu?”

Mu Qing, yang wajahnya tampak begitu kotor, berkata, “Kami tidak bisa pergi sehingga kami harus menggambar susunan array untuk bertahan. Roh-roh yang marah itu menyalakan cahaya lilin dan membakar tirai, berharap untuk memaksa kami keluar.”

“Syukurlah, Yang Mulia akhirnya datang dengan cepat dan segera merebut dan menghancurkan titik vital mereka! Kalau tidak, jika tempat ini terus terbakar, kami semua akan mati bersama dengan array ini!”

Mendengar kata-katanya, Mu Qing menutup matanya dan menunduk. Di sisi lain, para Kepala Pendeta tampak mengelilingi anak kecil itu, mengamatinya dengan cermat.

“Kepala Pendeta, apakah ada masalah dengan anak itu?”

Jika ada masalah, seperti anak ini sudah dirasuki oleh Iblis, Xie Lian seharusnya bisa langsung mengenalinya. Setelah berlatih di Paviliun Suci Kerajaan selama beberapa tahun, ia telah berlatih pada penglihatan khususnya, dan sangat sedikit hal yang bisa menipu matanya. Namun dia tidak bisa melihat apapun dari anak ini. Kepala Pendeta tampak menggelengkan kepalanya, sepertinya mereka juga tidak melihat apapun, dan bertanya, “Kapan tanggal, bulan, tahun, dan waktu kelahiranmu?”

Hong Hong-Er tampak membuat beberapa pelindung pada dirinya sendiri terhadap semua orang, tampak begitu tegang karena aura permusuhan yang ditujukan kepadanya, dan hanya menatap mereka semua, tidak berbicara sama sekali. Xie Lian mendorong anak itu dengan lembut, “Katakan saja padanya. Kepala Pendeta hanya ingin memberitahu keberuntunganmu untuk kebaikanmu sendiri.”

Saat Xie Lian berbicara, Hong Hong-Er dengan patuh segera menjawab dan memberi tahu kapan dirinya lahir dengan suara rendah. Kepala Pendeta tampak merajut alisnya dan mulai menghitung dengan jari-jarinya. Orang-orang di sekitarnya tampak memperhatikannya untuk sesaat, saling berbicara dengan suara rendah, dan melihat jika ekspresi Kepala Pendeta tampak semakin redup dan menggelap. Xie Lian menyaksikan semua itu dan menjadi semakin serius.

Kepala Pendeta ini tampak tidak lebih dari seorang pemuda berusia tiga puluh yang lembut, tetapi Xie Lian tahu lebih baik daripada kebanyakan orang betapa kuat gurunya ini untuk dapat memerintah di Paviliun Suci Kerajaan. Kepala Pendeta nomor satu di Xian Le, Mei Nian Qing yang begitu terkenal di seluruh negeri karena keberuntungannya. Xie Lian belajar seni pedang dan mantra dari wakil Kepala Pendeta, tetapi tidak pernah mempelajari seni meramal dari Kepala Pendeta sendiri, hanya karena Kepala Pendeta mengatakan kepadanya bahwa itu adalah seni jalanan, status emas yang dimiliki Putra Mahkota tidak membutuhkan trik semacam itu. Ditambah lagi, Xie Lian sendiri tidak tertarik, jadi dia tidak pernah mencoba untuk melakukannya. Namun, jika Kepala Pendeta mulai melakukan dan menunjukan seninya, tidak akan ada kesalahan.

Beberapa saat kemudian, keringat dingin semakin banyak mengalir di dahi Kepala Pendeta, dan dia kemudian bergumam, “Tidak heran … tidak heran … tidak heran dia merusak Prosesi Upacara Surgawi; bahwa roh-roh pagoda hitam tumbuh bersemangat karena merasakan keberadaannya; bahwa Paviliun Xian Le juga terbakar… Ini … Ini … Ini benar-benar…”

“Benar-benar apa?” Tanya Xie Lian.

Kepala Pendeta kemudian menyeka keringatnya dan tiba-tiba mundur satu mil jauhnya, “Yang Mulia, Kamu benar-benar mengambil sesuatu yang seharusnya tidak kamu bawa ke gunung! Anak kecil ini beracun! Nasibnya ditanggung oleh bintang yang paling tidak menyenangkan, ditakdirkan untuk membawa malapetaka dan kehancuran, jenis yang paling disukai kejahatan. Siapa pun yang menyentuhnya akan mengalami nasib buruk, siapa pun yang dekat dengannya akan kehilangan nyawa mereka!”

Bahkan sebelum dia selesai, terdengar suara teriakan nyaring, dan Hong Hong-Er kemudian tampak melompat berdiri, berlari menuju Kepala Pendeta dan mondorongnya.

Suaranya terdengar begitu lembut, tetapi jeritannya dipenuhi dengan amarah, seolah-olah hatinya dipenuhi dengan rasa sakit dan kesedihan yang tak terkatakan, membuat banyak orang menggigil hanya dengan mendengarnya. Anak kecil itu diliputi dengan banyak luka-luka, namun ia menarik dan memukul seperti anjing gila bermata merah, begitu kasar dan agresif. Wakil Kepala Pendeta mencoba memblokir Hong Hong-Er dan Kepala Pendeta tampak mundur, berteriak, “BUAT DIA MENINGGALKAN GUNUNG INI, CEPAT! Jangan menyentuhnya, aku bersungguh-sungguh! Keberuntungan miliknya itu terlalu beracun, jangan sentuh dia!”

Wakil Kepala Pendeta dengan terburu-buru menyingkir, dan Mu Qing dan Feng Xin tidak tahu apakah harus bertindak. Melihat semua orang menghindarinya seperti ular berbisa, anak itu terkejut dan mulai meronta-ronta lebih keras, menggigit dan berteriak, “Aku tidak! AKU TIDAK!! AKU TIDAK!!!!”

Tiba-tiba, sepasang tangan tampak melingkar di pinggangnya, melingkari tubuh mungilnya. Sebuah suara datang dari atas kepalanya, “Kamu tidak. Aku tahu kamu tidak. Jangan menangis. Aku tahu kamu tidak.”

Anak kecil itu menempelkan bibirnya rapat-rapat, memegangi lengan baju putih salju yang melingkar di pinggangnya dengan cengkeraman maut, memaksa anak itu untuk setidaknya menenangkan dirinya untuk waktu yang lama, tetapi pada akhirnya anak itu masih tidak bisa melakukannya. Aliran air mata tiba-tiba mengalir dari mata bulat itu, mata hitam bak batu obsidian miliknya, dan dia menangis.

Xie Lian memeluknya dari belakang dan berkata dengan tegas, “Itu bukan kamu. Itu bukan salahmu.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments