Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: naza_ye


Xie Lian menoleh dan bertanya, “Apa maksudmu?”

“Anak-anak jalanan dari ibukota kerajaan semuanya berkumpul dalam sebuah kelompok, dan mereka sering datang ke lingkungan tempat tinggalku untuk meminta makanan. Aku sangat mengenal mereka semua tetapi aku belum pernah melihat anak ini sebelumnya.”

Anak kecil itu menatap Mu Qing dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Feng Xin bertanya ragu, “Kepada siapa mereka meminta makanan? Kepadamu? Dan kamu memberikannya kepada mereka?”

Mu Qing memelototinya, “Jika mereka terus menggangguku tanpa henti, tidak ada cara lain.”
Feng Xin masih menganggap jika gagasan itu agak sulit dipercaya tetapi tidak membuat komentar lebih lanjut. “Oh.”

Xie Lian ingin tertawa melihat mereka berbicara. Mu Qing melanjutkan, “Selain itu, ada beberapa tambalan jahitan di pakaiannya; Dilihat dari sulamannya, jahitan itu pasti dilakukan oleh orang dewasa baru-baru ini, jadi setidaknya ada seseorang yang sudah cukup dewasa di keluarganya. Situasi keluarganya mungkin tidak bisa dikatakan baik, tapi dia jelas bukan pengemis.”

Secara alami Xie Lian tidak begitu memperhatikan bagaimana tambalan di pakaian anak kecil ini dijahit, atau apakah jika jahitan itu dilakukan oleh orang dewasa, tetapi Mu Qing dulunya adalah seorang pesuruh di Paviliun Suci Kerajaan, dan telah melakukan semua jenis pekerjaan rumah, jadi ketika Xie Lian memperhatikannya lebih detail lagi, memang itu seperti yang sudah dikatakan Mu Qing, jadi dia memutuskan untuk bertanya. “Apakah di rumahmu ada orang dewasa?”

Anak kecil itu menggelengkan kepalanya, tetapi Mu Qing kemudian berkata, “Pasti ada. Jika dia tidak kembali, keluarganya pasti cemas dan sedang mencarinya sekarang.”

“Tidak, itu tidak mungkin! Tidak ada siapapun!” Anak kecil itu berteriak, terdengar seperti dia takut jika dirinya akan dikirimkan kembali, dan dia membuka tangannya dan mencoba meraih Xie Lian. Tubuh anak itu masih tertutup lumpur dan darah, dan Feng Xin tidak tahan lagi melihat apa yang tengah terjadi di depannya dan berkata, “Nak, apa yang kamu lakukan? Segalanya memang tampak begitu mendesak dan penuh kekacauan sebelumnya, jadi terserahlah, tapi bukankah seharusnya sekarang kamu sudah menjadi sedikit mengerti? Dia ini adalah Putra Mahkota. Seorang Putra Mahkota, apakah kamu mengerti?”

Lengan anak kecil itu langsung menyusut ke belakang, tetapi arah pandangannya masih menatap Xie Lian, “Ada pertengkaran di rumah dan aku diusir. Aku sudah berjalan untuk waktu yang lama tapi aku tidak tahu lagi harus pergi ke mana.”

Tiga orang lainnya tampak saling memandang satu sama lain. Setelah beberapa saat, Feng Xin berkata, “Jadi bagaimana sekarang?”

Salah satu dokter kekaisaran menyarankan, “Jika Yang Mulia sedang mengalami masalah dan bermasalah dengan itu, dia bisa ditempatkan di istana, di sini, dan meminta beberapa pelayan merawatnya.”

Xie Lian bergumam tetapi setelah beberapa pemikiran, dia tampak menggelengkan kepalanya perlahan.

Pada akhirnya, dia takut jika Qi Rong tidak akan melepaskan semua masalah ini begitu saja, dan Xie Lian juga khawatir jika Qi Rong akan menyelinap keluar untuk kembali menyebabkan masalah terutama dengan anak ini. “Setelah aku memikirkannya kembali, akan lebih baik jika aku mengawasinya sampai lukanya sembuh. Sangat disayangkan, sepertinya keluarganya tidak akan bisa menjaganya. Feng Xin, ketika kamu pergi untuk mengurus masalah mengenai kios-kios yang terkena dampak dari perbuatan Qi Rong, coba lihatlah apakah kamu bisa mengetahui di mana orang tuanya berada dan beri tahu mereka agar mereka tidak perlu khawatir.”

“Baik.” Feng Xin mengangguk.

Salah satu lengannya masih dalam gendongan, tetapi dia mengulurkan salah satu lengannya yang baik-baik saja untuk meraih anak itu, berniat untuk menggendongnya. Xie Lian tertawa, “Kamu sedang terluka. Jangan memaksakan diri, dan jangan khawatir tentang itu.”

Namun, Feng Xin mengangkat bahu, “Hanya satu lengan yang patah, yang lain masih baik-baik saja. Jika kedua tanganku patah, aku masih bisa menggunakan gigiku untuk membawanya dengan menggigit kerah bajunya dan membawanya ke atas gunung untukmu.”

Mu Qing memutar matanya dari belakang, lalu dia kemudian berbicara, “Lupakan saja. Biarkan aku yang menggendongnya.” Tetapi ketika Mu Qing mencoba melangkah maju untuk meraih tubuh anak itu, anak kecil itu melompat dari tempat tidurnya sendiri dan berkata, “Aku bisa berjalan sendiri.”

Ekspresinya yang dipenuhi dengan penolakan berbicara lebih keras daripada kata-katanya sendiri, dan itu membuat langkah kedua Mu Qing sangat canggung, tidak yakin apakah akan melanjutkan atau tidak. Anak kecil itu memiliki lima tulang rusuk dan satu kaki yang patah, tetapi dia masih tampak begitu bersemangat seperti naga, Xie Lian benar-benar tidak tahu apakah harus tertawa atau merasa khawatir, dan berkata, “Berhenti berlarian!” Lalu dia kemudian membungkuk dan mengangkatnya.

Mereka bertiga, dengan seorang anak yang ikut terseret bersama mereka tampak berjalan meninggalkan istana. Sejak Qi Rong menyebabkan kekacauan di jalanan sebelumnya dan mengganggu warga kota, merobohkan sejumlah kios, Xie Lian merasa sangat bersalah, tidak memiliki wajah untuk bertemu dengan warga kotanya sendiri, sehingga kelompok itu berjalan dengan sembunyi-sembunyi, takut untuk menunjukkan wajah mereka, mereka lebih memilih menggunakan lorong belakang untuk pergi. Sepanjang jalan, anak kecil itu sangat jinak di lengan Xie Lian; mereka menyuruhnya diam dan dia tidak mengucapkan satu suara pun. Feng Xin melotot, “Bocah ini menendangku kemarin, tetapi lihatlah dia sekarang. Dia benar-benar tahu cara memilih siapa orang yang benar-benar baik.”

“Dia adalah Yang Mulia Putra Mahkota. Tentu saja dia lebih disukai daripada kebanyakan orang.” Kata Mu Qing.

Untuk beberapa alasan, bahkan jika dia mengatakan sesuatu yang bermaksud baik, kata-kata yang dia gunakan masih membuat orang merasa tidak nyaman. Feng Xin menolak untuk mengakui apa yang dia katakan. Setelah berjalan sebentar, Feng Xin kemudian kembali angkat bicara, “Tidak. Aku masih merasa bahwa Yang Mulia seharusnya tidak membiarkan orang lain melihatmu menggendong anak aneh ini.”

“Memangnya apa masalahnya?” Xie Lian bertanya.

“Kamu adalah seorang Putra Mahkota!” seru Feng Xin .

Sementara dia berbicara, dia melihat sebuah kereta yang tampak sudah usang jauh di atas gang dan berkata, “Masukkan anak itu ke dalam kereta itu dan kita akan menariknya untuk pergi.”

Mu Qing segera menimpali, “Biarkan aku memperjelas, aku tidak akan menarik benda itu ke atas gunung.”

“Tidak ada yang memintamu melakukannya.” Kata Feng Xin. Dia kemudian meraih dan menarik anak itu dari lengan Xie Lian, dan anak itu mulai kembali memberontak.

“Lupakan, lupakan. Mungkin akan ada orang lain yang lebih membutuhkan kereta itu!” kata Xie Lian.

Saat itu, dari suatu tempat di dekatnya, seseorang tiba-tiba berteriak, “Apakah kamu … Putra Mahkota?”

Seseorang yang lain juga terdengar berteriak menimpali, “YA, YA, YA! DIA ADALAH PUTRA MAHKOTA! TOPENGNYA JATUH KEMARIN DAN AKU MELIHAT WAJAHNYA DENGAN MATA KEPALAKU SENDIRI! ITU ADALAH DIA!!!”

“TANGKAP DIA!!!”

Mereka bertiga membeku, hati mereka jatuh seketika. Meskipun Xie Lian tidak berpikir bahwa dia telah melakukan kesalahan di Prosesi Upacara Surgawi sehari sebelumnya, dia juga tahu bahwa orang lain mungkin tidak mempercayai hal yang sama dengannya. Singkatnya, Upacara Bela Diri yang Menyenangkan Dewa adalah sebuah tanda kemalangan yang tidak menyenangkan; itu adalah sesuatu yang tak terkatakan di antara kaum bangsawan, dan ketika semua kegembiraan mereda, semua orang akan segera mengetahui kenyataan yang ada dan apa yang sebenarnya telah terjadi. Bahkan, ketika orang-orang mulai bertanya-tanya apa arti semua itu, mereka mungkin tidak akan memaafkannya. Ditambah lagi kekacauan di jalanan yang disebabkan oleh Qi Rong, keluhan semua orang pasti tidak akan ada habisnya. Jika mereka dikepung sekarang, semua ini mungkin akan berakhir buruk. Tanpa berpikir lebih jauh, Mu Qing meraihnya dan berteriak, “Yang Mulia, lari!”

Feng Xin juga meraihnya dan mendesaknya, “Yang Mulia, salah satu lenganku patah, aku tidak akan bisa menghentikan siapa pun yang melakukan semua kerusuhan ini. Pergilah!”

Namun, di luar gang tempat mereka berada sudah ada sejumlah besar orang yang berdatangan, wajah mereka penuh kegembiraan, menghalangi semua jalan keluar tempat itu. Mereka berempat tidak punya tempat untuk lari, dan menyaksikan dengan mata terbelalak saat mereka dikelilingi semua orang-orang itu. Xie Lian berpikir dengan berani, ‘Jika bisa, aku akan lebih memilih untuk membiarkan mereka mengalahkan dan memukuli kami tanpa melawan mereka kembali.’

Namun, tanpa disangka-sangka, meskipun kerumunan orang itu mulai mendatangi mereka berempat, semua orang itu tidak tampak melumat mereka atau bahkan memukuli mereka, tetapi sebaliknya, sejumlah tangan tampak terulur untuk meraih Xie Lian dan melemparkan tubuhnya ke udara, bersorak, “YANG MULIA!”

Xie Lian terlempar ke udara berkali-kali tetapi dirinya masih mempertahankan pikirannya untuk tetap tenang dan mantap. Kerumunan orang-orang itu berteriak, “YANG MULIA, LOMPATAN ANDA DI JALAN DEWA BELA DIRI KEMARIN BENAR-BENAR LUAR BIASA!”

Seseorang berseru, “Itu benar-benar seperti sebuah lompatan yang sangat menakjubkan! Sungguh, sungguh, aku benar-benar berpikir bahwa Dewa Bela Diri Kaisar Langit sendiri telah turun! Aku sampai merinding!”

Seorang lainnya menimpali, “Yang Mulia benar-benar menyelamatkan anak itu! Kehidupan adalah kehidupan, apakah mereka pikir anak-anak dari orang-orang miskin seperti kami tidak sama? Jika itu adalah aku, aku akan melakukan hal yang sama!”

Seorang lainnya mengamuk, “Itu benar! Pembicaraan hari ini benar-benar dipenuhi dengan tentang bagaimana Yang Mulia merusak acara itu dan aku benar-benar tidak tahan lagi mendengarnya! Jika itu adalah kerajaan atau bangsawan yang telah jatuh, mereka tidak akan mengatakan hal yang sama! Yang Mulia, jangan pedulikan orang-orang itu!”

“Yang Mulia adalah orang yang benar-benar peduli pada kita….”

Ekspresi Xie Lian tampak berubah dari ekspresi perasaan bersalah, kemudian berubah menjadi ekspresi bingung di tengah jalan, sampai akhirnya, dirinya tampak terpengaruh oleh wajah-wajah yang tampak begitu bersemangat dan ceria di sekitarnya. Kerumunan orang-orang tampak mengelilingi Xie Lian dan ketika mereka muncul di jalan utama, semakin banyak yang bergabung dengan mereka. Feng Xin, Mu Qing, dan anak kecil itu didorong pergi dan terpisah jauh ke belakang tanpa ada cara untuk mendorong mereka kembali, dan hanya bisa mengikuti di belakang pawai itu. Kelompok besar orang ini secara mengejutkan tidak lebih kecil daripada orang banyak dari hari sebelumnya. Setiap saat Xie Lian bergerak untuk pergi, dia akan secara paksa diseret masuk dan dilempar ke udara tanpa ada kemungkinan untuk diturunkan kembali.

Xie Lian tidak bisa melakukan apapun dan hanya menganggapnya lucu dan merasa lebih tenang ketika dia berpikir, ‘Orang-orang ini dan Kepala Pendeta memiliki sentimen yang sepenuhnya berlawanan. Sepertinya aku sudah melakukan hal yang benar.’

Ketika akhirnya mereka sampai di Gunung TaiCang, matahari terbenam tampak bersinar begitu terang dan cerah.

Melewati gerbang gunung besar, di jalan berbatu yang berliku panjang, ada sejumlah murid pelatihan dan kultivator yang terlihat tengah membawa ember air dan kayu bakar naik dan turun di sepanjang jalan, menyapa Xie Lian dan teman- temannya, tetapi banyak dari mereka yang menatap orang keempat dalam kelompok itu ditambah dengan sebuah kereta dengan pandangan heran. Feng Xin menarik kereta tangan itu dengan satu tangan seperti banteng hitam muda yang begitu pekerja keras dan serius. Xie Lian dan Mu Qing balas tersenyum pada awalnya, tetapi setelah beberapa saat mereka berhenti memperdulikan mereka.

Pohon-pohon maple terbentang di sepanjang jalan tidak ada habisnya, dan roda kereta itu berputar dengan tenang. Saat mereka mendaki, Xie Lian membantu mendorong gerobak tangan itu dari belakang. Dia merasa sangat baik saat ini, dan menanyakan kepada anak itu pertanyaan lain dengan santai, “Anak kecil, siapa namamu? Hong apa?”

Anak kecil itu masih menatapnya dan berkata dengan suara kecil, “Aku … aku tidak punya nama.”

Xie Lian terkejut, “Ibumu tidak memberimu nama?”

Anak kecil itu menggelengkan kepalanya, “Ibuku sudah meninggal.”

Xie Lian merasa sedih untuknya, “Lalu bagaimana ibumu biasa memanggilmu?”

Anak kecil itu tampak ragu-ragu untuk sesaat, lalu menjawab, “Hong Hong-Er1.”

Xie Lian tersenyum, “Itu nama panggilan yang lucu. Aku akan memanggilmu seperti itu mulai sekarang.”

Hong Hong-Er tampak malu setiap kali mereka berbicara, dan anak itu tampak selalu menundukkan kepalanya. Saat itu matahari akan segera terbenam, dan lampu-lampu di sepanjang jalan yang mereka lewati mulai dinyalakan dari masing-masing paviliun di seluruh gunung. Di antara lampu-lampu itu, nyala lampu yang paling terang tentu saja adalah lampu di puncak tertinggi, Puncak Dewa Bela Diri Besar.

Di atas Puncak Dewa Bela Diri Besar, di dalam Aula Bela Diri Besar, lampu disana seterang siang hari, lampu-lampu itu tampak berkumpul seperti bintang. Xie Lian menghela napas saat dia menatap pemandangan itu.

Desahan itu tidak bercampur oleh kesedihan, tetapi pemandangan itu begitu memancarkan keindahan dan kemuliaan yang luar biasa. Setiap nyala cahaya adalah Lampu Abadi yang ada di aula. Setiap lampu berisi doa dan harapan dari setiap penyembah yang saleh. Semakin banyak Lampu Abadi yang ada di dalam kuil dewa, semakin kuatlah dewa itu. Kesempatan untuk menawar lampu di dalam Aula Bela Diri Besar dari Paviliun Suci Kerajaan sulit untuk dibeli bahkan dengan seribu keping emas sekali pun. Kekayaan, kekuatan, kemampuan, gairah, afinitas, harus ada satu dari lima kondisi yang dipenuhi untuk memasuki aula untuk menawarkan cahaya itu. Namun, ada lebih banyak di dunia yang tidak memiliki satupun dari lima kondisi itu.

Mereka berempat berhenti, memandangi Aula Bela Diri Besar yang bersinar seperti matahari, ekspresi mereka berbeda. Saat itu, terdengar sebuah suara yang akrab memanggil mereka, “Yang Mulia!”

Xie Lian menoleh dan melihat seorang pria muda berwajah polos bergegas berjalan ke arahnya. Sosok itu tampak seperti murid pelatihan yang menjaga pintu masuk Paviliun SiXiang, dan Xie Lian menatap ekspresinya, “Zhu-ShiXiong, ada apa sampai terburu-buru seperti itu?”

Zhu-ShiXiong memperhatikan Mu Qing yang saat itu tampak berdiri di belakang, sedikit merasa canggung dan kemudian berbicara, berpura-pura tidak melihatnya, “Kepala Pendeta sejak tadi ingin bertemu denganmu. Kepala Pendeta saat ini berada di Aula Bela Diri Besar, sedang menunggumu.”

Xie Lian terkejut mendengar ini, tetapi dia berpikir jika pertemuan ini pasti berhubungan dengan insiden selama Prosesi Upacara Surgawi sehari sebelumnya. “Baiklah. Terima kasih, ShiXiong.”

Xie Lian meminta Feng Xin dan Mu Qing untuk membawa Hong Hong-Er kembali ke Paviliun Xian Le terlebih dahulu sebelum dirinya segera berjalan menuju ke Puncak Bela Diri Besar.

Di luar aula besar, awan yang berasal dari wadah dupa yang tampak melayang dan melilit Aula Bela Diri Besar, membentuk suatu keadaan seperti mimpi. Di kedua sisi wadah itu terdapat sebuah deretan panjang Lampu Abadi yang begitu cerah tergantung di udara, berjajar rapi di dinding lentera. Setiap Lampu Abadi memiliki nama dan doa dari penyembah yang ditulis dalam tulisan yang elegan dan indah. Begitu sampai di aula, di kedua sisi dinding di tempat itu juga ada barisan demi barisan Lampu Abadi yang menggantung. Lampu yang ditawarkan di dalam Aula Bela Diri Besar tentu saja, lebih berharga daripada yang ada di luar.

Di kuil raksasa dan luas itu, Kepala Pendeta tampak tengah mempersembahkan dupa di depan patung Dewa Bela Diri Kaisar Langit, dan tiga Wakil Kepala Pendeta tampak berada di belakangnya, bersujud secara seragam di hadapan dewa besar.

Xie Lian memiringkan kepalanya ketika dia masuk, “Kepala Pendeta.”

Para Kepala Pendeta menyelesaikan ritual mereka sebelum mereka menoleh ke belakang dan memberi isyarat agar Xie Lian maju. Jadi, Xie Lian mendekat, mengambil dupa dan juga memberi hormat dengan tulus.

Xie Lian melakukan ritual itu beberapa saat sebelum Kepala Pendeta akhirnya berbicara, “Yang Mulia, kami berempat telah mempertimbangkannya. Sehubungan dengan Prosesi Upacara Surgawi, ada dua cara untuk menyelesaikannya.”

“Tolong berikan aku pencerahan, Kepala Pendeta.” Kata Xie Lian .

“Metode pertama,” kata Kepala Pendeta, “adalah menemukan anak yang mengganggu prosesi itu, dan kami akan mengadakan upacara. Paling tidak, salah satu dari kelima indranya harus disegel sebagai penebusan dosa.”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. “Hong Hong-Er” berarti ‘Putraku, si merah’ atau hanya ‘Si merah kecil’.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments